Home >Documents >m a l a r i A

m a l a r i A

Date post:23-Dec-2015
Category:
View:13 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Description:
penjelasan malaria
Transcript:
  • M A L A R I A

    *

  • DEFINISI MALARIAPenyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi ataupun mengalami komplikasi sistemik yang dikenal sebagai malaria berat. Sejenis infeksi parasit yang menyerupai malaria adalah infeksi babesiosa yang menyebabkan babesiosis.

    *

  • E T I O L O G IPenyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selain menginfeksi manusia juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptil dan mamalia.

    Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina.

    *

  • Parasit Malaria yang terdapat di IndonesiaPlasmodium malaria yang sering dijumpai adalah plasmodium vivax yang menyebabkan malaria tertiana (Benign Malaria).

    Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika (Malignan Malaria).

    Plasmodium malariae yang kasusnya pernah dijumpai tetapi sangat jarang.

    Plasmodium ovale dijumpai di Irian Jaya, Pulau Timor, Pulau Owi (utara Irian Jaya)

    *

  • S E J A R A H M A L A R I AMalaria berasal dari bahasa Italia (mala + aria) yang berarti udara yang jelek/salah.Pada tahun 1880 Charles Louis Alphonse Laveran dapat membuktikan bahwa malaria disebabkan oleh adanya parasit di dalam sel darah merah, kemudian Ronald Ross membuktikan siklus hidup plasmodium dan transmisi penularannya pada nyamuk.Kina merupakan obat pertama yang digunakan untuk mengobati demam (diduga oleh malaria). Baru pada tahun 1820 oleh Pelletier dan Caventou, obat untuk malaria baru dapat disintesa secara kimiawi yaitu primakuin (1924), quinacrine (1930), klorokuin (1934), amodiaquinel (1946), primakuin (1951) dan pirimetamin (1951).

    *

  • S E J A R A H M A L A R I A

    Dengan meluasnya resistensi terhadap pengobatan kloroquin, sulfadoksin pirimetamin serta obat-obat lainnya, WHO dan RBM (Roll Back Malaria) telah mencanangkan perubahan pemakaian obat baru yaitu kombinasi artemisinin (Artemisinin-base Combination Therapy = ACT) untuk mengatasi masalah resistensi pengobatan dan menurunkan morbiditas dan mortalitas.

    *

  • DAUR HIDUP PARASIT MALARIAInfeksi parasit malaria pada manusia dimulai bila nyamuk anopheles betina menggigit manusia. Nyamuk akan melepaskan sporozoit ke dalam pembuluh darah yang dalam waktu 45 menit akan menuju hati.

    Di dalam sel parenkim hati dimulailah perkembangan aseksual.

    Setelah sel parenkim hati terinfeksi, terbentuk sizont hati yang apabila pecah akan mengeluarkan banyak merozoit ke sirkulasi darah.

    *

  • DAUR HIDUP PARASIT MALARIASetelah berada dalam sirkulasi darah, merozoit akan menyerang eritrosit dan masuk melalui reseptor permukaan eritrosit. Kurang dari 12 jam parasit berubah menjadi bentuk ring.

    Parasit tumbuh setelah memakan hemoglobin dan dalam metabolismenya membentuk pigmen yang disebut hemozoin.

    Eritrosit yang berparasit menjadi lebih elastik dan dinding berubah lonjong.

    *

  • DAUR HIDUP PARASIT MALARIASetelah 36 jam invasi ke dalam eritrosit, parasit berubah menjadi sizont. Bila sizont pecah akan mengeluarkan 6-36 merozoit yang siap menginfeksi eritrosit yang lain.

    Di dalam darah sebagian parasit akan membentuk gamet jantan dan betina. Bila nyamuk menghisap darah manusia yang sakit akan terjadi siklus seksual dalam tubuh nyamuk.

    Setelah perkawinan akan terbentuk zygote yang bergerak menjadi ookinet yang menembus dinding perut nyamuk dan akhirnya menjadi bentuk oocyst yang akan menjadi masak dan mengeluarkan sporozoit yang akan bermigrasi ke kelenjar ludah nyamuk dan siap menginfeksi manusia.

    *

  • PATOGENESIS DAN PATOLOGIBentuk aseksual parasit dalam eritrosit (EP) ini bertanggung jawab dalam patogenesa terjadinya malaria pada manusia.Patogenesis malaria falsiparum dipengaruhi oleh faktor parasit dan faktor penjamu (host).Yang termasuk dalam faktor parasit adalah intensitas transmisi, densitas parasit dan virulensi parasit.Yang termasuk dalam faktor penjamu (host) adalah tingkat endemisitas daerah tempat tinggal, genetik, usia, status nutrisi dan status imunologi. Parasit dalam eritrosit (EP) secara garis besar mengalami 2 stadium, yaitu stadium cincin pada 24 jam pertama dan stadium matur pada 24 jam kedua.

    *

  • PATOGENESIS DAN PATOLOGIFaktor parasit EP :SitoadherensiPerlekatan antara EP stadium matur pada permukaan endotel vaskular.SekuestrasiParasit dalam eritrosit matur yang tinggal dalam jaringan mikrovaskular.RosettingBerkelompoknya EP matur yang diselubungi 10 atau lebih eritrosit non-parasit.SitokinNitrit oksida

    *

  • P A T O L O G ISelain perubahan jaringan dalam patologi malaria yang penting adalah keadaan mikrovaskular dimana parasit malaria berada.Beberapa organ yang terlibat antara lain otak, jantung-paru, hati-limpa, ginjal, usus dan sumsum tulang.Pada otopsi dijumpai otak yang membengkak dengan perdarahan petikie yang multiple pada jaringan putih (white matter)Tidak dijumpai herniasiHampir seluruh pembuluh kapiler dan vena penuh dengan parasit.Pada jantung dan paru selain sekuetrasi, jantung relatif normal, bila anemia tampak pucat dan dilatasi.

    *

  • P A T O L O G IPada paru dijumpai gambaran edema paru , pembentukan membran hialin, adanya agregasi leukosit.Pada ginjal tampak bengkak, tubulus mengalami iskemia, sekuetrasi pada kapiler glomerulus, poliferasi sel mesangial dan endotel. Pada pemeriksaan imunofluorensen dijumpai deposisi imunoglobulin pada membran basal kapiler glomerulus.Pada saluran cerna bagian atas dapat terjadi perdarahan karena erosi, selain sekuetrasi juga dijumpai iskemia yang menyebabkan nyeri perut.Pada sumsum tulang dijumpai dyserythropoises, makrofag mengandung banyak pigmen dan erythrophagocytosis.

    *

  • I M U N O L O G IBentuk imunitas terhadap malaria dapat dibedakan atas :Imunitas alamiah non-imunologisBerupa kelainan-kelainan genetik polimorfisme yang dikaitkan dengan resistensi terhadap malaria.Imunitas didapat nonspesifik(nonadaptive/innate)Sporozoit yang masuk darah segera dihadapi oleh respon imun non-spesifik yang terutama dilakukan oleh makrofag dan monosit, yang menghasilkan sitokin-sitokin, secara langsung menghambat pertumbuhan parasit (sitostatik), membunuh parasit (sitotoksik).Imunitas didapat spesifiktanggapan sistem imun terhadap infeksi malaria mempunyai sifat spesies spesifik, strain spesifik dan stage spesifik.

    *

  • I M U N O L O G IImunitas terhadap stadium siklus hidup parasit (stage spesific) dibagi menjadi :

    Imunitas pada stadium eksoeritrositer

    Imunitas pada stadium aseksual eksoeritrositer

    Imunitas pada stadium seksual

    *

  • G E J A L A K L I N I S

    Manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita, tingginya transmisi infeksi malaria.

    Berat/ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis plasmodium, daerah asal infeksi (pola resistensi terhadap pengobatan), umur (usia lanjut dan bayi sering lebih berat), ada dugaan konstitusi genetik, keadaan kesehatan dan nutrisi, kemoprofilaktis dan pengobatan sebelumnya.

    *

  • MANIFESTASI UMUM MALARIABeberapa keadaan klinik dalam perjalanan infeksi malaria adalah :Serangan primerKeadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan paroksismal yang terdiri dari dingin/menggigil, panas dan berkeringat.

    Periode latentPeriode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya infeksi malaria. Biasanya terjadi diantara dua keadaan paroksismal.

    *

  • D I A G N O S I S M A L A R I A

    Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesa yang tepat dari penderita tentang asal penderita apakah dari daerah endemik malaria, riwayat bepergian ke daerah malaria, riwayat pengobatan kuratip maupun preventip.

    *

  • PEMERIKSAAN TETES DARAH MALARIAPemeriksaan mikroskopik darak tepi untuk menemukan adanya parasit malaria.

    Pemeriksaan darah tepi 3 kali dan hasil negatif maka diagnosa malaria dapat dikesampingkan.

    Pemeriksaan pada saat penderita demam atau panas dapat meningkatkan kemungkinan ditemukannya parasit.

    Adapun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui :

    *

  • PEMERIKSAAN TETES DARAH MALARIATetesan Preparat Darah TebalPemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang pandangan dengan pembesaran kuat)

    Preparat dinyatakan negatif bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan pembesaran kuat 700-1000 kali tidak ditemukan parasit.

    Hitung parasit dapat dilakukan pada tetes tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200 leukosit.

    Bila leukosit 10.000/ul maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50 merupakan jumlah parasit per mikro-liter darah.

    *

  • PEMERIKSAAN TETES DARAH MALARIATetesan Darah TipisDigunakan untuk identifikasi jenis plasmodium, bila dengan preparat darah tebal sulit ditentukan.Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite count), dapat dilakukan berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah merah.Bila jumlah parasit >100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat.

    Tes Antigen : P-F TestMendeteksi antigen dari p.falciparum (Histidine Rich Protein II)

    *

  • PEMERIKSAAN TETES DARAH MALARIATes SerelogiTes ini berguna mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada keadaan dimana parasit sangat minimal.Manfaatnya terutama untuk penelitian epidemiologi atau alat uji saring donor darah.Titer > 1:200 dianggap sebagai infeksi baru ; dan test 1:20 dinyatakan positif.Metode-metode tes serologi antara lain:indirect haemagglutinatio

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended