Home >Documents >Lestari Songketku Lestari Devisaku 2

Lestari Songketku Lestari Devisaku 2

Date post:12-Jan-2017
Category:
View:230 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 13

    Lestari Songketku Lestari Devisaku

    Krisis ekonomi 1997/1998 membawa berkah sekaligus pela-jaran bagi Eka dalam menjalankan usaha kain songket Pa-lembang. Peristiwa itu membawa hikmah untuk selalu me-miliki persediaan bahan baku. Selain itu, peristiwa tersebut juga mengantarnya untuk lebih mengenal kredit perbankan.

    Lestari SongketkuLestari Devisaku2

    02_PALEMsoNgket_OKE.indd 13 12/3/08 10:07:29 AM

  • 14

    Bagi kota Palembang, kain songket menjadi salah satu ikon yang terkenal. Kain penutup bagian bawah tubuh wanita dan dipadankan dengan selendang itu biasanya memiliki nilai seja-rah. Kain yang biasanya dipakai saat perayaan pernikahan itu bisa jadi merupakan peninggalan nenek moyang pemilik yang ditenun hingga bertahun-tahun, bisa merupakan mahar, atau sebagai benda koleksi keluarga yang berharga. Hj. Eka Rachman merupakan sosok ibu muda yang pantang menyerah dalam melestarikan kain songket, salah satu peninggalan sejarah tak ternilai dari kerajaan Sriwijaya. Ia mengembangkan usaha kain songket melalui Pesona Bari, perusahaan milik keluarganya, yang diwariskan turun-temurun. Anak kedua dari empat bersaudara ini mengelolanya dengan serius hingga bisa dikenal di manca negara.

    Riwayat Usaha Pesona Bari terletak di Jalan Kapten Cek Syeh, Kelurahan 24 Ilir Pa-lembang. Perusahaan ini dikelola secara turun-temurun dari tahun 1952 di daerah Kertapati. Generasi pertama yang mengelolanya adalah Muhammad, yang kemudian dilanjutkan oleh puteranya ber-nama Arsyad. Pada saat itu, keluarga hanya membuat satu songket dengan alat yang dibuat sendiri. Mereka pun menjual kain songket buatannya dari rumah ke rumah dengan modal sendiri. Setelah Ar-syad meninggal, industri kerajinan tersebut diteruskan oleh istrinya. Pada generasi ketigalah, usaha kerajinan songket Pesona Bari mulai berkembang. Pada saat itu dikelola oleh Hajah Nuttefah dan saat ini sudah dikelola oleh generasi keempat, yaitu Hajah Eka Rachman.

    Nama Pesona Bari pun baru muncul pada tahun 1991. Pada tahun itu, kerajinan songket keluarga Eka mendapat juara I Gugus Kenda-li Mutu (GKM) se-Sumatera. Sejak itu, Eka memberi nama industri kerajinan tenun songket keluarganya dengan nama Pesona. Dengan nama tersebut, Eka berharap kain tenun buatan keluarganya dapat terus menarik perhatian dan mengagumkan. Tidak lama berselang, Eka menambahkan nama industri songketnya dengan kata Bari. Kata tersebut merupakan bahasa Palembang yang berarti kuno, antik, dan

    02_PALEMsoNgket_OKE.indd 14 12/3/08 10:07:29 AM

  • 15

    Lestari Songketku Lestari Devisaku

    mewah. Dengan nama Pesona Bari, Eka berharap kerajinan tenun songket keluarganya tidak hanya bersifat mengagumkan, tetapi juga memiliki nilai seni yang antik dan mewah.

    Sebagaimana bisnis pada umumnya, usaha kerajinan songket milik keluarga Eka juga tidak lepas dari berbagai kendala. Kesulit-an yang dihadapi, di antaranya adalah pengadaan bahan baku lokal. Menurutnya, kualitas bahan baku dalam negeri terkadang berubah jika ada permintaan yang cukup banyak. Oleh karena itu, bahan baku songket Pesona Bari banyak menggunakan bahan impor, baik berupa bahan dan benang sutera maupun benang emas. Namun, karena ber-asal dari bahan baku impor, harganya pun otomatis terpengaruh oleh fluktuasi dolar.

    Saya pernah mencoba menggunakan bahan baku dalam negeri. Saat saya membuat satu contoh, bahannya bagus. Tetapi, ketika saya mendapat pesanan dari luar negeri dalam jumlah banyak, ternyata bahan yang saya pesan itu berubah kualitasnya. Saya merasa kece-

    Hj. Eka Rachman mencoba melestarikan kain songket, salah satu peninggalan sejarah tak ternilai dari kerajaan Sriwijaya. Ia menama-kan Pesona Bari untuk kain songketnya.

    02_PALEMsoNgket_OKE.indd 15 12/3/08 10:07:31 AM

  • 16

    wa sekali. Sejak itu, saya sangat berhati-hati dalam memilih bahan baku, paparnya.

    Ia menuturkan, tantangan terberat bagi Pesona Bari adalah saat krisis ekonomi pada 1997/1998. Pada waktu itu, industri songket keluar ganya baru mendapat pesanan dari Amerika Serikat. Saat pe-aat pe-sanan baru selesai 25%, harga bahan baku sudah melonjak hingga 200%. Kenaikan harga itu membuat keluarganya harus merelakan barang-barang yang ada di rumah untuk dijual agar pesanan dapat selesai tepat waktu. Kami bukan lagi rugi, tetapi sudah habis-habis-

    Gemerlap dan kilauan emas yang terpancar dari kain tenun songket Palembang memberikan kesan mewah tak tertandingi. Eka juga men-jual suvenir khas Palembang.

    an, karena semua barang di rumah harus kami jual untuk membeli bahan baku dan biaya produksi agar kualitasnya tetap bagus. Kelu-arga saya sudah berkomitmen pesanan ini harus terpenuhi dan sele-sai tepat waktu. Satu hal yang kami pegang saat itu adalah menjaga kepercayaan konsumen, ungkap Eka.

    Pengorbanan yang dilakukan keluarga Eka tidaklah sia-sia. Mes-kipun harga bahan baku melonjak sangat tajam, hasil yang diperoleh dari pesanan tersebut ternyata mampu menutupi biaya-biaya yang dikeluarkan karena dibayar dalam mata uang dolar. Alhamdu lillah,

    02_PALEMsoNgket_OKE.indd 16 12/3/08 10:07:34 AM

  • 17

    Lestari Songketku Lestari Devisaku

    Allah Mahatahu. Jadi, semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan bisa kembali, tambahnya.

    Dari pengalaman krisis ekonomi tersebut, Eka memutuskan akan lebih baik jika bahan baku dibeli dalam jumlah besar di awal sebelum ada order. Ia mencontohkan, saat Pesona Bari mendapat pesanan 1000 potong songket dari Jepang dan London, ia harus menyimpan perse-diaan bahan baku paling tidak untuk 2000 potong. Dengan demikian jika sewaktu-waktu ada pesanan lain, pesanan yang pertama berjalan dan pesanan berikutnya juga bisa dikerjakan. Menurut Eka, konsu-men dari luar negeri sangat memperhatikan kualitas sehingga bahan baku yang digunakan tidak bisa berbeda-beda. Mutu bahannya ha-rus sama dan hasilnya juga harus sama. Selain itu, harga juga tidak akan berubah-ubah. Tiga hal ini yang terus dijaga. Jadi, saya berpikir bagaimana memenuhi seluruh pesanan tersebut, papar Eka.

    Peran Serta Kredit Bank Pada tahun 2007 akhirnya Eka memberanikan diri melirik kredit per-bankan untuk UMKM dari Bank BNI. Namun sebelumnya, ia telah mensurvei berbagai bank untuk membandingkan suku bunga yang ditawarkan. Ternyata suku bunga dari BNI-lah yang lebih menarik, sekitar 0,8%-0,9% per bulan. Dengan kucuran kredit sebesar Rp 500 juta, Eka dapat memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Kredit ter-sebut seluruhnya digunakan Eka untuk membeli bahan baku impor. Dengan bertambahnya pesanan, terutama dari luar negeri, omset Pe-sona Bari meningkat sekitar 25%.

    Setelah mendapatkan kredit bank, selain dapat menyimpan ba-han baku dalam jumlah banyak, Eka juga dapat memperluas cakup-an usahanya. Di toko yang sekaligus rumahnya, Eka tidak hanya menjual kain tenun songket. Ia mencoba untuk menjual sepatu, mukena, guci antik, tas pesta, pakaian, perhiasan untuk pernikahan adat Palembang, kain jumput, dan suvenir. Tambahan barang-ba-rang yang ada seiring waktu saja. Saya tidak pernah menargetkan. Pada awalnya terpikirkan karena ketika ada orang membeli songket, mereka mengeluh sulit untuk mencari tas atau sepatu yang senada.

    02_PALEMsoNgket_OKE.indd 17 12/3/08 10:07:34 AM

  • 18

    Dari keluhan tersebut, saya melihat adanya peluang bisnis, ujar Eka dengan ramah.

    Kredit Bank BNI yang diterima Eka adalah untuk modal ker-ja dengan jangka waktu 2 tahun terhitung sejak 2007 s/d 2009. Ia memutuskan menerima kredit tersebut karena ia yakin dan masih bisa menyisihkan pendapatannya untuk perluasan usaha. Pada awalnya, saya memilih kredit yang sistem angsurannya bisa langsung bayar saat ada uang, karena saya tidak mau kepikiran. Tapi, dalam perjalanan waktu saya berubah pikiran. Akhirnya, saya ubah sistem kreditnya yang flat dengan pertimbangan besarnya angsuran pokok dan bunga setiap bulannya dapat diketahui dengan jelas. Selain itu, de ngan sistem ini uang dari hasil pesanan masih bisa dimanfaatkan lebih dulu. Toh, bank tidak mempersoalkan itu asalkan kita tidak menunggak. Tidak hanya dengan konsumen, untuk urusan bank saya juga berpedoman menjaga kepercayaan, jelasnya.

    Di lain pihak, BNI sebagai bank yang telah menyalurkan kredit kepada Eka pun merasa bangga karena binaannya dapat berkembang dengan cepat. Pihak bank juga banyak membantu kemajuan Pesona Bari, seperti dari pemberian informasi mengenai penyedia bahan baku yang murah dan berkualitas, membantu mengajarkan manaje-men keuangan sederhana, bahkan sampai ke tingkat pemasaran de-ngan mengikutsertakan Pesona Bari dalam pameran kerajinan tenun dan pameran produksi ekspor yang diselenggarakan baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Pihak bank juga membantu meng-informasikan produk-produk Pesona Bari kepada calon pembeli po-tensial yang berasal dari debitur (nasabah) bank. Dengan demikian, produkproduk buatan Eka perlahan dan pasti dikenal masyarakat luas.

    Namun, di luar itu, pihak bank sebenarnya merasa kesulitan da-lam menyalurkan kredit UMKM di wilayah Palembang karena tidak adanya klaster/kelompok usaha. Akibatnya, kredit harus dikucurkan secara perorangan. Selain itu, modal untuk industri songket sangat besar, sekitar Rp 500 jutaRp 1 miliar, sehingga kredit Rp 5 juta atau Rp 10 juta tidak akan mencukupi. Pihak bank sendiri telah mem-

    02_PALEMsoNgket_OKE.indd 18 12/3/08 10:07:35 AM

  • 19

    Lestari Songketku Lestari Devisaku

    bantu kemajuan UMKM, seperti dari pemberian informasi mengenai penye dia bahan baku, membantu mengajarkan manajemen keuangan UMKM, bahkan sampai ke tingkat pemasaran dengan mengikutser-takan Pesona Bari pada pameran kerajinan tenun, pameran produksi ekspor yang diselenggarakan baik pada tingkat daerah maupun tingkat nasional dan pihak bank juga membantu meng informasikan kepada calon pembeli potensial yang berasal dari debitur (nasabah) bank. Sa

Embed Size (px)
Recommended