Home >Self Improvement >Lentera News edisi April 2015

Lentera News edisi April 2015

Date post:22-Jul-2015
Category:
View:118 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1EDISI #13 APRIL 2015

    TAK AKAN HABIS INSPIRASI DIBAGI

  • 2DUKUNG MAJALAH LENTERA NEWSDENGAN DOA DAN DANA

    Kunjungi kami di sini:

    Bank Rakyat Indonesia Rek.No. 0336-01-068622-50-6 a.n. Hubertus Agustus Lidy | Bank Nasional IndonesiaRek.No. 0307532799 a.n. Hubertus Agustus Lidy

    /LENTERA-NEWS MAJALAHLENTERA.COM

    daft

    ar is

    i Tajuk Redaksi3Telisik6

    8 Lentera khusus

    14 Embun katekese

    18 Kolom Rumah Joss

    20 Ilham sehat

    23 The Herald

    Bagi Saya,Berbagi Inspirasi Adalah InvestasiAkhirat

    24 Opini

    26 Sastra

    RP Hubertus Lidi, OSC [Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi], Ananta Bangun [Redaktur Tulis], Jansudin Saragih [Redaktur Foto], Sr. Ursula Gultom, KSSY [Keuangan]

    Penerbit: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Medan (KOMSOS-KAM) Jalan S.Parman No. 107 Telp. +62614572457 , mp. 085361618545| www.majalahlentera.com | [email protected] , [email protected] | Facebook Fan Page: facebook.com/lentera-news

    REDAKSI

    Litani Para Relawan: Apakah Masih Ada Sepotong Hati?

    Apakah Arti Paskah?Kematian atau Kebangkitan

    Paranoid dan Keahlian Memanah (bag. II)

    Jesus is Son of God

    Misionaris Methodist, Komunitas Tionghoa dan Kosmopolitanisme Medan

    Tenang Dan Jangan Hisap Ibu Jari Kamu

    28 Lapo AksaraMATI

  • 3Redaksi

    3

    TAJUK REDAKSI | BERBAGI INSPIRASI

    Praktisi dan Blogger Pendidikan, Agus Sampurno pernah mengatakan petuah Ilham Percik. Setetes air yang jatuh ke permukaan sungai dapat melahirkan riak seluas kumpulan air tersebut. Perumpamaan percik inilah kiranya menggambarkan secara kentara bertumbuhnya semangat para relawan berbagi inspirasi. Memang benar, semangat tersebut kadangkala mati di beberapa insan. Namun, seperti karakter spora, lebih banyak insan lainnya yang tergugah dan menyebarkannya seperti infeksi virus. Momentum ini menggulirkan efek bola salju dan menjadi fenomena.

    Relung hati kita bertanya: Bagaimana bisa semangat saling berbagi ini hadir dan bertahan di tengah menjulangnya sisi individualisme dan materialisme? Telinga kita telah padat disumpal perkataan memangnya bisa makan batu dan kok jadi urusan saya serta seluruh turunannnya.

    Di ruang tanya itulah Lentera News edisi April ini hendak hadir. Dan mendapati salah seorang sosok yang bisa kita beri pertanyaan tersebut. Agoez Perdana, jurnalis dan trainer, mengutarakan pan-dangan serta jejak pengalaman selama menjalani peran yang sebenarnya dapat diperankankan oleh semua kita. Pengabdian yang diakuinya memang tidak selalu mendapat apresiasi. Namun, ia hanya ingin sebagian dari waktunya dapat diberdayakan untuk berbagi ilham dan pengetahuan. Investasi akhirat, ujarnya menyimpulkan.

    Pater Hubert juga turut menuangkan refleksinya tentang sosok para relawan ini. Tidak main-main, ia merajut aksaranya sebagai sebuah litani. Perenungan yang ia akui sebagai keprihatinan dan pengharapan. Prihatin atas semakin dalamnya pusaran masalah sosial. Dan adanya pengharapan, karena adanya insan-insan yang berkenan setulusnya menjadi relawan. Berkorban.

    Sahabat pembaca Lentera News. Dalam edisi ini, Pater Harold kembali mengisi kolomnya The Harold. Ia mengajak kita untuk kembali mengimani Yesus sebagai Putra Allah Bapa. Dan jangan lewatkan lanjutan artikel Yoseph Tien atawa Bung Joss perihal Paranoid.

    Dalam kolom opini, Dian Purba -- Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) -- berbagi pengetahuan dari risetnya tentang eksistensi etnis Tionghoa di Sumatera Utara, khususnya Medan. Sementara Vinny Barus -- Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) -- tetap setia memercikkan wawasan kesehatan bagi para pembaca sekalian, dalam kolom Ilham Sehat.

    Di akhir kata, kami redaksi dan seluruh staf Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Medan menghaturkan Selamat Paskah 2015! Dan tak hentinya kami memohon kritik, saran dan sumbangsih gagasan serta tulisan yang membangun majalah online kesayangan kita ini.

    Syalom,

  • 4

  • 55

  • 6RP Hubertus Lidi, OSC [email protected]

    Kawan.......... Pertanyaan kemanusiaan: Apakah masih ada sepotong hati? Pertanyaan ini kami dengar kala manusia itu berhadapan dengan problem kemanusiaan. Bencana-bencana kehidupan. Pertanyaan yang kental dengan aroma memohon uluran tangan dari sesamanya. Dalam dunia yang penuh dengan dinamika dan persaingan kehidupan apakah masih saja ada manusia yang aktif membantu orang tanpa pamrih. Ada kawan! Orang menyapa kami dengan relawan-relawati.

    Status yang kami sandang, mengindikasikan bahwa yang kami baktikan itu semata kerelaan, tanpa tedeng aling-aling. Say no to uang, Say no to kepentingan politik, dll. Seragam yang kami kenakan adalah kemanusiaan. Bukan

    lambang organisasi, agama, partai dll. Fokus kami adalah kemanuisaan yang saat itu lagi sekarat. Darurat dan cepat-tanggap.

    Kawan........ kami mengingatkan, hai para manu-sia yang dibantu. Ga perlu menggerlipkan mata kepada yang datang, apalagi ke kantongnya celananya atau seragam, suku, agama. Inti kemanusiaanmu yang kami bantu. Disparitas-disparitas kepentingan yang sifatnya subyektivitas, pada saat itu sebaiknya nihil, alias jangan ada. Kami yang membantu, memberikan hati. Hati untuk bersua. Hati untuk merana, dan hati untuk bersyukur dalam kepedihan hidup ini.

    Kawan...... dalam konsep Kristiani relawan-relawati itu sejajar banget dengan kisah Samaritan dalam Alkitab perjanjian baru (bdk Lukas 10:25 -33). Kami mirip si Samaritan. Ia merelakan waktu, tenaga dan uang. Ia tidak peduli dengan siapa yang

    LITANI PARA RELAWAN-RELAWATI: APAKAH MASIH ADA SEPOTONG HATI?

    TELISIK | RELAWAN

  • 7petuah

    terkapar dan terhempas di jalan dari Jerico menuju Jerusalem. Apakah dia orang Jahudi? Apakah dia orang dari suku-suku sekitarnya? Apakah dia pejabat? Apakah dia koalisi atau oposisi? Tokoh lain yang yang dipentaskan dalam kisah Alkitab itu, syarat dengan takut mendapatkan resiko dan akibat karena ulah baiknya itu. Mereka tidak berani mendekat dan membantu, bahkan memilih jalan lain. Mereka memilih: RASA AMAN.

    Kawan......... Sangat luhur dari kami, para relawan-wati yang patut anda catat dalam buku kehidupanmu. Kami tidak takut menghadapi resiko, bahkan yang menjadi taruhan adalah nyawa kami. Aspek ini pula yang membedakan antara kami, para relawan-relawati yang asli dan sejati dengan relawan-relawati kesiangan yang orientasinya kepentingan. Modal utama kami pengabdiaan kemanusiaan. Adalah wajar kami membutuhkan fasilitas, pengetahuan, dan ketrampilan agar pengabdiaan kami efektif. Pengabdiaan tulus kami berkoheren secara tepat dengan fasilitas, pengetahuan dan ketrampilan, sehingga tidak disalah gunakan.

    Kawan........ mental kami adalah sebagaimana yang ditegaskan Presiden Joko Widodo diha-

    dapan para anggota MPR usai beliau dilantik menjadi Presiden, tanggal 20 Oktober 2014. Kata kunci adalah Kerja, Kerja, dan Kerja. Aktif, dinamis, terarah dan bergerak cepat. Tentu masih sejajar dengan prinsip kerja dari Wakil presiden kita, Jusuf Kalla. Lebih Cepat Lebih Baik. Arah dan oreintasinya demi kebaikan bagi yang lain.

    Kawan.......ingat! Kalau mau jadi relawan-relawati itu tidak ada gajinya. Kawan...... relawan-relawan memang musiman, karena bencana datang tak menentu. Lucu.... kawan, kalau baru mau berelawan-relawati saat musim pecarian kursi. Aneh... kawan, kalau kau berelawan-relawati dengan membawa iklanmu hanya untuk mempengaruhi opini publik. Ganjil....... kawan kalau mau berelawan-relawati dengan memperhitungan pahala. Toh pahala bukan urusanmu! Gila..... kawan, kalau kau berelawan-relawati dengan ujung-ujungnya membunuh orang lain. Seyogianya relawan-relawati membuat orang dari setengah hidup menjadi sepenuhnya hidup.

    Proficiat untuk para relawan-relawati..... doaku untuk kamu-kamu.......

  • 88

    LENTERA KHUSUS | AGOEZ PERDANA

  • 99

    Foto: Dok. PribadiIlustrasi : www.2020space.com

    Agoez Perdana mengawali karir sebagai Jurnalis

    di Radio. Dari media elektronik ini, ia merintis pemahaman jurnalistik, khususnya

    broadcasting. Sebagai jurnalis, ia melabuhkan pemahaman jurnalistiknya di Aliansi Jurnalis

    Independen (AJI). Saat ini ia menjalankan amanah sebagai Koordinator Divisi Advokasi AJI Medan. Tidak hanya untuk menanamkan etika jurnalistik yang benar. Ia juga sering diundang menghadiri sejumlah pelatihan.

    Baik di ranah jurnalistik, hingga melebar ke masalah hukum jurnalistik dan sosial. Pengalaman tersebut menyalakan lampu gagasannya. Mengapa tak

    saya coba berbagi pengetahuan ini dengan orang lain? Dimulai dari sahabat-sahabat

    terdekat, ujarnya.

    BAGI SAYA,BERBAGI INSPIRASI ADALAH INVESTASI AKHIRAT

  • 10

    Berbekal pengalaman meliput dan sejumlah pelatihan, Agoez Perdana memberanikan diri berbagi pengetahuannya dengan sesama. Kala pertama, saya ditawari salah satu yayasan milik perusahaan kelapa sawit Labuhanbatu. Tanpa linglung, saya terima. Sebab toh saya telah mengetahui materi pelatihannya terlebih dahulu. Apalagi, saat itu Teknik Presentasi yang menjadi tema pelatihannya termasuk hobi saya juga, kata pria yang kini disibukkan dengan media online KabarMedan.com (http://www.kabarmedan.com).

    Pengalaman tersebut menyulut semangatnya. Menurut Agoez, kepiawaian sebagai trainer akan terasah bila sering bergelut di dalamnya. Saya tidak memperdulikan kompensasi materil yang saya terima sebagai trainer. Bagi saya, setiap tawaran pelatihan dan berdiskusi bersama adalah momentum baik. Sebab ada peluang bagi saya mengasah kemampuan public speaking dan sering juga mendapat pengetahuan dan pengalaman baru dengan orang-orang yang baru juga, katanya.

    Hobi travelling (be