Home >Documents >Lentera News edisi #11 bulan Februari 2015

Lentera News edisi #11 bulan Februari 2015

Date post:07-Apr-2016
Category:
View:217 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
Lentera News, Keuskupan Agung Medan, majalah, online, Bersahabat dengan Tantangan Hidup, Gilbert Tuhabonye, Hubertus Lidi, Ananta Bangun, Sr. Ursula Gultom, Komsos KAM, Jansudin Saragih, Vinny Barus, Sr. Angela FCJM, Ester Pandiangan, Ilham Sehat, Refleksi Iman, Rabu Abu
Transcript:
  • 1EDISI #11 FEBRUARI 2015

    bersah

    abat

    denga

    n tant

    angang

    an

    hidup

    inspiratif | smart | beriman

  • 2DUKUNG MAJALAH LENTERA NEWSDENGAN DOA DAN DANA

    Kunjungi kami di sini:

    Bank Rakyat Indonesia Rek.No. 0336-01-068622-50-6 a.n. Hubertus Agustus Lidy | Bank Nasional IndonesiaRek.No. 0307532799 a.n. Hubertus Agustus Lidy

    /Lentera-news majaLahLentera.com

    daft

    ar is

    i Catatan Redaksi3Telisik6

    8 Lentera khusus

    14 Embun katekese

    16 Refleksi Iman

    18 Ilham sehat

    20 Opini

    Gilbert Tuhabonye:Berlari Menghidupkan Hidupku

    22 Sastra

    23 Infografika

    Mereguk KesegeranJus Buah

    Berpuasa & BerpantangMenurut Gereja Katolik

    Rabu AbuPermenungan menjelang masa pra Paskah

    Menyambut Era Jurnalisme Warga

    Mata Mamak(bag. Terakhir)

    Top 10 Benefitsof Running

    Kegagalan:Siapa Takut?

  • 3catatan redaksi

    Ketika majalah Lentera News edisi ini terpampang di layar Anda, tentu tergurat tanya yang mengandung keheranan: Mengapa begitu lama terbit? Satu maupun seribu alasan tak akan mampu membasuh rasa kecewa karena penantian para pembaca budiman sekalian. Tentunya sejumlah dinamika dan transformasi lah yang menjadi undak-undak baru dalam perjalanan Lentera News. Tidak hanya dalam ruang redaksi, namun juga di luar khasanah tersebut.

    Pada edisi Februari ini, kami tergugah merangkul ihwal yang lazimnya amat dihindari banyak insan. Yakni kegagalan dalam kehidupan. Sebuah tantangan hidup yang kerap melahirkan rasa putus asa. Beberapa insan bahkan sampai memilih jalan mengakhiri hidupnya sendiri. Sedemikian beratnya kah kegagalan itu? Lalu, untuk apa ia musti ada dalam skenario hidup ini?

    Ada dua insan yang cukup laik kita jadikan pedoman untuk memperoleh pandangan baru tentang kegagalan hidup ini. Keduanya kini sudah tiada lagi dalam kehidupan kita. Namun, apa yang mereka wariskan justru memberi kaca mata baru bagi kita dalam memahami kegagalan dalam hidup. Mereka adalah Thomas Alva Edison dan Bob Sadino.

    Edison memandang kegagalan sebagai anak tangga menuju keberhasilan. Karenanya setiap kegagalan ialah buah pemahaman yang baru. Semakin banyak kegagalan justru menambah pengetahuan yang tak terkira nilainya. Hal senada juga menjadi nafas inspirasi Bob Sadino. Ia tak minder mengambil sikap berseberangan dengan insan yang takut dengan kegagalan. Bagi kamu yang mau berhasil, justru cari kegagalan sebanyak-banyaknya. Sebab keberhasilan itu hanyalah sebuah titik di puncak gunung kegagalan, ucap pria yang terkenal kerap memakai celana pendek semasa hidupnya.

    Dua rubrik dalam edisi Bersahabat Dengan Tantangan Hidup ini mengupas ihwal tersebut. Pater Hubertus menga-jak kita untuk menarik pembelajaran dalam tiap kegagalan. Sebuah inspirasi hidup sebagaimana diterapkan dengan baik oleh Edison dan Sadino. Sungguh pas kiranya Pater Hubertus memotivasi kita, bahkan telah tersemat dalam

    judul tulisannya sendiri Kegagalan: Siapa Takut?. Sementara pada Lentera Khusus, redaksi mengangkat kisah keberhasilan Gilbert Tuhabonye yang berhasil bangkit usai mengalami tragedi paling mengerikan dalam hidupnya.

    Dalam rubrik Sastra, pembaca dapat menikmati kepingan terakhir dari cerita pendek karya jurnalis Ester Pandiangan. Sementara kontributor Lentera News dari Universitas Diponegoro, Vinny Barus coba menggamit perhatian kita dalam artikel tentang jus buah di rubrik Ilham Sehat. Satu rubrik baru, Refleksi Iman, merupakan sumbangsih Sr. Angela Siallagan, FCJM di sela-sela aktivitasnya mengabdi di Yayasan Pendidikan ASSISI di Pematangsiantar.

    Laiknya semangat Edison dan Sadion, setiap aral dalam napaktilas penerbitan Lentera News merupakan buah ilham baru bagi redaksi. Kami sungguh bangga dan terdorong untuk menghadirkan yang terbaik bagi pembaca sekalian. Sebagaimana terpatri dalam tagline baru majalah kesayangan kita ini: Inspiratif | Smart | Beriman

    Shalom,

    Redaksi

    Memetik Buah Kegagalan

  • 4petuah

    RP Hubertus Lidi, OSC [Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi], Ananta Bangun [Redaktur Tulis], Jansudin Saragih [Redaktur Foto], Sr. Ursula Gultom, KSSY [Keuangan]

    Penerbit: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Medan (KOMSOS-KAM) Jalan S.Parman No. 107 Telp. +62614572457 , mp. 085361618545| www.majalahlentera.com | [email protected] , [email protected] | Facebook Fan Page: facebook.com/lentera-news

    REDAKSI

  • 5advertorial

  • 6RP Hubertus Lidi, OSC [email protected]

    telisik

    KEGAGALAN: SIAPA TAKUT?

    Setiap insan manusia, pada dasarnya secara sadar, tidak memilih kegagalan dalam men-gelola dan menata kehidupannya. Manusia selalu menghindar dari kegagalan. Esensi dari kegagagalan itu bak virus mematikan terutama kepada kaum yang cenderung sempurna (kaum perfeksionis) dalam mengelola kehidupannya. Berbagai strategi dikedepankan agar kegagalan jangan nongol.

    Perencanaan dan pemikiran yang matang merupakan salah satu cara antisipatif agar menjauh dari kegagalan; apalagi kalau pekerjaan itu berskala besar. Kalau toh terpaksa gagal kalkulasinya alias margin errornya sangat kecil, mendekati nihil. Para perfeksionis, atau sempurnawan-sempurnawati itu akan stres dan terganggu jiwanya kalau kegagalan ber-tamu kepada kehidupannya. Kegagagalan itu seakan-akan musibah yang memporak-porandakan kesempurnaannya. Ia bagaikan kutuk yang datang dan menimpa kesempur-naan mereka. Pertanyaan mendasar untuk manusia adalah apakah manusia adalah mahkluk yang sempurna?

    Dalam pemahaman bahwa segala sesuatu yang telah diren-canakan dan dikerjakan sudah pasti akan berhasil. Dengan kata lain sama sekali tak ada kemungkinan gagal. Tidak ada yang menjamin hal itu. Adagium seperti: Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, membentangkan bahwa kegagalan selalu ada setiap upaya manusia, seraya menga-jak manusia untuk mendekati kegagalan dalam perspektif

    yang lebih bersahabat. Kegagalan dalam perspektif ini, sebagai wahana yang memberdayakan manusia agar lebih berkualitas lagi. Lebih dari itu kegagalan membangkitkan optimisme manusia untuk tetap menjajaki hari esok agar menjadi lebih baik. Toh: Life must go on.

    Kuncinya adalah manusia mau belajar dari kegagalan. Menusia menempatkan kegagalan itu menjadi bagian dari kehidupannya. Bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini. Ibaratnya roda yang selalu berputar dan menyentuh setiap tataran kehidupan. Pada bagian lain manusia menyadari bahwa dirinya adalah mahkluk yang dari dirinya membu-tuhkan sesamanya manusia, alam kehidupannya, dan Tuhan yang meremas dan menciptakan kehidupan. Kegagalan membuat manusia secara legowo lebih menerima realitas hidupnya. Chairil Anwar, sang pujangga angkatan 45 dalam sajaknya Aku, tetap optimis akan kehidupan dan masa depanya. Toh dalam raganya yang semakin layu karena penyakit yang dideritanya saat itu. Ia berteriak dan berteriak: Aku mau hidup seribuh tahun lagi. Optimismenya membakar semangat generasi-generasi sastrawan/wati sesudahnya, agar tetap menghidangkan karya-karya sastra yang khas Indonesia, ga kebarat-baratan. Chairil Anwar menempatkan kegagalan mengelola kehidupannya sebagai sahabat untuk berteriak lebih lantang lagi bahwa ide dan gagasannya tak selamanya dipenjara oleh raga yang fana ini. Bersahabat dengannya justru melahirkan generasi-generasi baru yang lebih brilian. Kegagalan, siapa takut?

  • advertorial

  • 8lentera khusus

  • 9GILBERT TUHABONYE

    Gilbert Tuhabonye merupakan satu dari sedikit atlet yang berhasil meretas keberhasilan seusai tragedi. Kisahnya tidak hanya bertumpu pada minat tinggi

    dan kerja keras, namun juga upaya mengubah pola fikir atas pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya.

    Setelah mencapai puncak prestasi, Gilbert kemudian menggalang program amal bagi keluarga lama di kampung halamannya. Alih-alih melupakan mereka. Sepenggal artikel di Lentera News edisi Februari ini, hendak mengurai riwayat

    ringkas sang atlet sejati tersebut.

  • 10

    Glentera khusus

    Gilbert Tuhabonye dilahirkan pada tanggal 22 November 1974, di Selatan Songa, di Burundi (satu negara kecil di Afrika Tengah/ Timur). Gilbert adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Keluarganya berasal dari suku Tutsi yang pada umumnya mencari nafkah sebagai petani. Orangtua Gilbert memelihara sapi perah dan juga me-nanam kentang, kacang polong, jag-ung dan kacang hijau.

    Semenjak belia, Gilbert merupakan anak lasak yang gemar berlari-lari. Dia bahkan ker-ap berlari-lari di sekitar kampung halamannya. Disamping itu, ia juga sering berlari-lari ke ujung lembah untuk mengambil air keperluan keluarga. Ia juga menempuh jalan ke sekolahn-ya, sejauh 5 mil, sembari berlomba lari dengan teman-teman satu sekolah. Bahkan, salah satu hobinya adalah mengejar sapi-sapi milik kelu-arganya.

    Gilbert dibaptis sebagai Katolik saat menduduki kelas 6 Sekolah Dasar. Tak lama berselang, ia pun mengenyam pendidikan di salah satu sekolah Protestan di Kibimba.

    Di tengah masa pendidikannya di sekolah Kibimba, Gilbert melibatkan diri dalam perlombaan lari. Walaupun lari dengan nyeker (telanjang kaki), sang murid baru tersebu ber-hasil menang dalam lomba lari 8 Km.

    Memasuki tingkat kedua, Gilbert berkenalan dengan seorang pria yang mengubah teknik berlarinya dengan mengangkat lututnya lebih tinggi dan menahan lengannya dengan benar. Pelatih barunya itu juga memotivasinya tekun berlatih dan berusaha meretas jalan menuju Olimpiade.

    Nasihat itu ia serap, hingga ia menjadi juara lomba lari nasional untuk cabang 400 m dan 800 m.

    Menjelang masa akhir pendidikan menengah tingginya, Tuhabonye telah menjadi atlet terk-enal di negaranya. Ia pun berambisi memper-oleh beasiswa ke kampus di Amerika Serikat dari olahrg

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended