Home >Documents >LENTERA NEWS #14

LENTERA NEWS #14

Date post:22-Jul-2016
Category:
View:221 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
Keheningan, Lentera news, Anton Lelaona, SVD, Toba, Pollung, Tabula Rasa, Mantilla, Sry Lestari Samosir, Langit, Bunuh Diri, Maria, Tuhan, Yesus, Hubertus Lidi, OSC
Transcript:
  • 1EDISI #14 MEI 2015

    KEHENINGANSesuatu Yang Hilang Atau Terlupakan?

  • 2DUKUNG MAJALAH LENTERA NEWSDENGAN DOA DAN DANA

    Kunjungi kami di sini:

    Bank Nasional IndonesiaRek.No. 0307532799 a.n. Hubertus Agustus Lidy

    /LENTERA-NEWS MAJALAHLENTERA.COM

    daft

    ar is

    i Tajuk Redaksi3Telisik6

    8 Lentera khusus

    12 Embun katekese

    14 Opini

    20 Ilham sehat

    KEHENINGANSesuatu Yang Hilang atau Terlupakan?

    18 Rumah Joss

    16 Sastra

    RP Hubertus Lidi, OSC [Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi], Ananta Bangun [Redaktur Tulis], Jansudin Saragih [Redaktur Foto], Sr. Ursula Gultom, KSSY [Keuangan]

    Penerbit: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Medan (KOMSOS-KAM) Jalan S.Parman No. 107 Telp. +62614572457 , mp. 085361618545| www.majalahlentera.com | [email protected] , [email protected] | Facebook Fan Page: facebook.com/lentera-news

    REDAKSI

    Mencari TuhanLaksana Bunda Maria

    Mengenal Tradisi Keru-dung Misa Mantilla

    Menghitung Potensi Bank Tanpa Cabang

    Tabula Rasa

    Rambutan dan Semut

    22 PollungMimpi Toba

    27 Lapo AksaraLangit Itu Biru

  • 3Redaksi

    3

    TAJUK REDAKSI | KEHENINGAN

    Menjauhkan Yang Dekat, dan Mendekatkan Yang Jauh

    Adagium di atas sepertinya tidak asing bagi kita. Sebuah penggambaran, atau tepatnya sindiran terhadap kemajuan teknologi. Khususnya Teknologi Komunikasi dan Informasi.

    Kesalahan tidak terletak pada perangkat teknologi tersebut. Namun bagaimana manusia memberdayakannya bak koin bersisi dua. Untuk kebaikan atau niat buruk. Nah, pada bagian kedua tersebut lah sosok dalam halaman Lentera Khusus edisi Mei ini menyatakan keprihatinannya. Pater Anton Yohanes Lelaona, SVD mendapati gaya hidup hening kian pupus dalam kebiasaan manusia.

    Setiap orang seperti hidup serba cepat. Tidak hanya dalam wujud makanan instant, bahkan sampai pada cara kita berdialog dan menghadapi masalah. Apakah kecepatan tersebut melulu bersifat baik? Tidak juga. Malah semakin banyak yang terabaikan.

    Seolah seia sekata, pengabaian tersebut juga menjadi ilham bagi Dian Purba, kolumnis baru untuk majalah kesayangan kita ini. Bung Dian menyorot bagaimana arus zaman juga berimbas

    menurunnya minat pemuda Batak untuk kembali ke kampung halaman. Tidak hanya untuk membangun kampungnya semasing, namun juga bagaimana mengangkat kembali citra Danau Toba. Simbol kebanggaan Pemuda Batak.

    Lentera News edisi ini juga kembali menghadirkan ilham baru dari kolumnis Rumah Joss, Yoseph Tien yang kerap disapa Bung Joss. Perihal kaidah belajar anak yang baik kita terapkan kepada para generasi muda. Dan jangan lewatkan kiat sehat dari kontributor Vinny Avilla Barus. Kiat kali ini dikhususkan bagi penderita asam urat.

    Setiap ilham yang hendak disebar dalam majalah online ini, diutamakan untuk mendorong semangat hidup yang lebih baik. Tentu tidak hanya para kolumnis dan kontributor Lentera News yang memiliki inspirasi tersebut. Para sahabat pembaca juga dapat mengirim karya tulis dan foto nya untuk Redaksi.

    Sekecil apapun makna dalam karya tersebut. Jika kita sebar untuk banyak insan dan membantu mereka, adalah bagian dari kebaikan. Jangan lah kiranya arus zaman justru menyeret kita pada egoisme yang memecah belah.

  • 4

  • 55

  • 6RP Hubertus Lidi, OSC [email protected]

    MENCARI TUHANLAKSANA BUNDA MARIA

    TELISIK | RELAWAN

    Ibu muda, gaun panjang berikatkan biru, itu mencarimencari, dan mencari. Dari raut wajahnya , tampaknya ia men-cari sesuatu yang amat penting. Ada kegelisahan dan kecemasan yang mendalam, yang terpancar dari raut wajahnya Lae, apakah melihat anakku? Ia bertanya. Ito, apakah melihat anakku? Lagi-lagi ia bertan-ya: Bang. apakah melihat anakku? De. apakah melihat anaku? Ia bertanya, satu persatu. Semuanya menjawab: Maaf bu, kami tak melihat anakmu.

    Dalam suasana batin yang galau, wanita itu toh masih tetap berpikir positif. Bahwa ia akan menemukan anaknya. Ia menyangka anaknya yang sudah lincah berjalan itu, berada seperjalanan dengan sanak saudara, famili serta kenalannya.

    Sesudah beberapa hari, tak melihat-Nya, ada kerinduan yang mencuat dari kedalaman batinnya. Ingin bertemu, melihat wajah, dan jalan bersamaNya. Saat itu ia mencari. Ia dan suaminya memutuskan kembali ke Yerusalem. Ada sebuah keyakinan bahwa anaknya itu masih berada di sana. Di rumah Bapa. Ia yakin karena gelagat dan orientasi anaknya itu selalu terarah kepada Allah.

    Benar yang diperkirakan wanita itu. Dari kejauhan wanita itu menyaksikan anaknya sedang bersoal jawab dengan para tetua di rumah Ibadat. Antara heran dan kagum, wanita itu tengah menyaksikan sebuah pemandangan yang langkah. Pelan dan pasti, ia merangsek masuk, menerobos orang-orang yang mengelilingi anaknya itu. Orang-orang yang sedang mengagumi kearifan anak itu. Ia menjumpai dan dengan kata-kata

  • 7keibuan, wanita itu berujar: Nak aku dan bapaMu Yoseph dengan cemas mencariMu. Keluhan yang wajar dari seorang ibu. Jawaban Anak itu sungguh meyakinkan ibu itu, bahwa keputusannya untuk kembali ke Yerusalem adalah sebuah keputusan yang tepat. Aku harus berada di rumah Bapaku. Ibu itu dan suaminya tak kecewa dengan jawaban anaknya itu. Penting bagi mereka adalah men-emukan dan sama sama kembali.

    Teladan yang paling berharga dari wanita itu, untuk kita renugan dan dalami bersama adalah: Berpikir Positif dan mencari serta menemukan Tuhan. Wanita itu tidak lain adalah bunda Maria. Berpikir Positif menginspirasi kita untuk bertemu, bertanya, berdialog dan mengungkapkan seraya mengundang kita untuk mengkomunikasikan kebaikan. Berpikir positif memunculkan penghargaan tulus akan kepribadiannya, seraya menciptakan perdamaian dan merekat keretakan. Berpikir positif adalah cermin jiwa kita yang damai dan bahagia dengan segala keterbatasan kemanusiaan kita.

    Mencari dan menemukan Tuhan merupakan tindakan iman. Dalam arti kita sedang menanggapi, mengapresiasi dan menghayati cinta dan kasih Tuhan. Kita mencari dan menegaskan bahwa Tuhan telah, sedang dan akan mencintai serta mengasihi kita. Proses mencari pada dasarnya merupakan akselerasi untuk cepat dan terus menemukan serta mengalami ci ntah Tuhan.

    Mengapa kita Perlu Berpikir Positif dan Mencari serta menemukan Tuhan?

    Harus kita akui bersama bahwa kadang-kadang egoisme dan kesombongan masih merupakan biang utama, kita menjahui cinta Tuhan. Kita hanya mau berurusan dengan diri kita masing-masing. Kita mengedepankan, baik secara tersurat maupun tersirat, bahwa yang penting adalah: aku.. aku dan aku. Kita menjadi buncit loba dan tamak. Kita tak mau tahu dengan sesama.

    Kesombongan membuat kita merasa tidak membutuhkan orang lain. Seakan-akan kita adalah paling utama dan penting. Kita menempatkan diri pada gradasi superlative. Kita tampil di panggung kehidupan ini, seakan-akan tidak ada relasi dan korelasi dengan ciptaan yang lain. Kala itu kalau kita jujur mengungkapkan diri, Kita bak segepok bulir hampa yang mendongak pongah, ke atas tapi ko-song. Bahkan pada tingkat fatal kita tak merasa membutuhkan Tuhan.

    Dua aspek yang ditunjukkan bunda Maria, melalui peritiwa perjalanan pulang dari Yerusalem mengundang kita menjadi lebih rendah hati dan mengandalkan Tuhan. Mari kita sejenak bertanya dan berefleksi: Adakah si egoisme berpikir positif tentang sesama manusia? Yang ada padanya hanya bagaimana meraup habis bagian orang lain. Kepusingan si egoisme adalah: menimbun Kepuasan. Adakah si sombong mengandalkan sesama untuk sebuah kebaikan? Yang ada padanya adalah menumpuk kuasa untuk mengokohkan dirinya bahwa dialah yang paling hebat. Kepusingan si sombong adalah : sebuah status quo.

    Mari kita membina dalam diri kebiasaan untuk berpikir Positif dan kerinduan untuk mencari serta menemukan Tuhan. Tuhan ada bersama kita, penting untuk kita adalah berupaya meruntuhkan secara pelan dan pasti egoism dan kesombong diri, membiar diri Tuhan menguasai diri kita. Bunda Maria Ratu Rosari, doakanlah kami!

    Teladan yang paling berharga dari

    wanita itu, untuk kita renugan dan dalami bersama

    adalah: Berpikir Positif

    dan mencari serta menemukan Tuhan.

    Wanita itu tidak lain adalah bunda

    Maria.

  • 88

    LENTERA KHUSUS | RP ANTON LELAONA, SVD

  • 99

    KEHENINGANSesuatu Yang Hilang atau Terlupakan?

    Bergulirnya era kehidupan itu bak arus sungai. Dan jika metamorfosis tersebut menggambarkan masa

    terkini, maka ia sungguh mengalir amat deras. Keadaan tersebut tak lepas dari temuan dan pembaharuan pada teknologi informasi dan komunikasi. Secara terus menerus.

    Perkembangan tersebut nyatanya turut menyeret imbas. Dimana setiap insan dapat memandangnya buruk atau baik. Namun, tak ada yang menyangkal teknologi canggih semakin mengkerdilkan relasi sosial kita dengan sesama. Sebab seluruh peristiwa dan fakta di dunia bisa kita genggam dalam bentuk gawai maupun perangkat keras komputer. Sehingga ke depannya, manusia melek teknologi hanya butuh ruang seukuran peti mayat, toilet mini, koneksi internet dan makanan instan.

    Laksana batu-batu cadas, ternyata tidak semua insan hendak turut terbuai arus zaman. Pater Antonius Yohanes Lelaona, SVD termasuk diantara sosok tersebut. Di sela aktivitasnya sebagai Pastor Rekan di Paroki Santo Kristoforus Sibo-rongborong, Pater Anton berbagi kiat perihal esensi keheningan dalam hidup.

    Ilham tentang pentingnya keheningan dalam hidup berawal dua buku yang

    pernah saya rujuk, terang Imam kelahiran 11 Desember 1985 tersebut. Yakni buku Minum Dari Sumber Sendiri dari buku studi STFT Widya Sasana Malang. Serta tulisan Prof. DR. Berthold Anton Pareira, O.