Home >Documents >Laporan Tutorial 2 Imunologi

Laporan Tutorial 2 Imunologi

Date post:10-Dec-2015
Category:
View:53 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
laporan tutorial blok imonu skenario 2
Transcript:

BAB IIDISKUSI DAN TINJAUAN PUSTIDAKAA. Seven Jumpa. Antigen : substansi yang dapat menginduksi suatu respons imun.b. Imunogen : Setiap substansi yang dapat menimbulkan respons imun.c. Hapten : Bahan kimia kecil yang diikat antibodi, tetapi harus diikat oleh makromolekul sebagai pembawa untuk dapat merangsang respons imun spesifik.d. Pseudo-alergi : reaksi sistemik umum yang melibatkan pelepasan mediator oleh sel mast yang terjadi tanpa melalui IgEe. Hipersensitivitas : Peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen.f. Allergen : substansi antigenik yang dapat menyebabkan hipersensitivitas yang cepat.g. Atopi : suatu kecenderungan genetik untuk perkembangan reaksi hipersensitivitas cepat terhadap antigen lingkungan umum.1. Langkah II : a. Mengapa pasien mengalami gatal-gatal hebat dan bentol-bentol di seluruh tubuh dan wajah ?b. Apa hubungan antara gejala yang ada dengan zat yang dikonsumsi pasien ?c. Mengapa dokter memberikan injeksi anti-histamin ?d. Mengapa setelah dilakukan injeksi anti-histamin pasien mengalami pusing, keringat dingin, penurunan kesadaran dan sesak nafas ?e. Mengapa pasien diletakkan dengan posisi kaki lebih tinggi daaripada kepala ?f. Apa dasar pasien diberikan bantuan oksigen dan memeriksa jalan nafas?g. Apa dasar dokter melakukan injeksi adrenalin pada pasien ?h. Mengapa dalam pemerikasaan fisik pasca injeksi anti-histamin terjadi wheezing saat auskultasi paru-paru, kesadaran sopor, hipotensi, takiradi, dan tachypnea ?

2. Analisis : Alergi terjadi setelah mengonsumsi substansi tertentu. Substansi zat yang dapat menimbulkan alergi. Mekanisme terjadinya alergi dan pseudoalergi. Penatalaksanaan kejadian alergi. Tes diagnostik alergi terhadap suatu substansi zat. Kriteria alergi. Faktor resiko serta faktor pencetus alergi. Reaksi inflamasi.a. Hipersensitivitas terhadap suatu substansi zat. Klasifikasi serta definisi hipersensitivitas. Patogenesis serta patofisiologis hipersensitivitas. Penatalaksanaan kejadian hipersensitivitas.b. Sistem Imun yang bekerja dalam tubuh kita. Definisi hapten, antigen, immunogen serta perbedaannya. Definisi MHC. Mekanisme aktivasi sel B dan sel T. Mekanisme pembentukan sel memori. Definisi komplemen.

Sistem ImunRespon ImunFisiologisPatologisHipersensitivitasAtopi

3. LOa. Memahami kronologi serta mekanisme kerja sistem imunb. Memahami atopi beserta pemeriksaan atopic. Memahami hipersensitivitas serta penatalaksanaannya

4. Langkah VI : Mekanisme Sistem ImunMekanisme Pertahanan Lini Pertama dalam Sistem Imun1) Pertahanan fisika) Kulit Kulit yang normal dan utuh berupa keratinosit serta lapisan epidermis yang sehat menjadi salah satu garis pertahanan karena syarat yang permeabel terhadap infeksi berbagai organisme.b) Asam LaktatDalam keringat dan sekresi sebasea dalam pertahanan tubuh PH kulit tetap rendah, sehingga sebagian besar mikroorganisme tidak mampu bertahan hidup dalam kondisi ini.c) SiliaMikroorganisme yang masuk melalui saluran nafas akan diangkut keluar oleh gerakan cillia yang melekat pada sel epitel.d) Mukus Membran mukosa mensekresiakan mukus untuk menjebak mikroba dan partikel asing lainnya serta menutup masuk jaringan virus/bakteri.2) Pertahanan Mekanika) Bersin Bersin adalah reaksi tubuh karena adanya benda asing seperti bakteri, virus, dan benda lainnya yang masuk ke hidung, maka reaksi tubuh untuk mengeluarkannya dengan cara bersin.b) Bilasan Air MataDimana saat benda asing memproduksi air mata berlebihan untuk mengeluarkan benda tsb.c) Bilasan SalivaJika ada zat berbahaya maka produksi saliva bertujuan untuk menetralkan.d) Urine dan FesesJika berlebihan maka respon tubuh untuk segera mengeluarkannya sehingga patogen yang berada pada saluran ekskresi juga akan ikut terdorong untuk keluar secara mekanik.3) Pertahanan Kimiawia) EksresiDi kulit, pH asam keringat dan sekresi sebasea serta berbagai asam lemak yang dilepas kulit mempunyai efek denaturasi terhadap protein membran sel sehingga dapat mencegah infeksi dari patogen. Selain itu juga disekresikann lisozim yang melindungi tubuh dengan cara menghancurkan dinding peptidoglikan dinding bakteri. Dalam ekskresi urin, urin juga menjaga lingkungan biologis dengan pH yang rendah.b) MataIgA dan lisozim merupakan pertahanan biokima yang terdapat pada mata. IgA mampu mempertahankan bentuk permukaan mukosa serta memusnahkan banyak bakteri dengan merusak dinding selnya, begitu juga dengan Lisozim.c) Telinga Terdapat serumen yang dikeluarkan guna membuat kondisi pH yang rendah serta memperangkap patogen dengan cara perlengketan.d) PernafasanTerdapat mukus yang melindungi permukaan epitel mukosa dari bakteri yang akan dikeluarkan oleh gerakan silia dalam saluran pernafasan.e) PencernaanLisozim seperti pada fisiologisnya juga ditemukan pada air ludah. Selain itu, dalam saliva juga ditemukan enzim laktooksidase yang dapat merusak dinding sel serta terdapat juga antibodi dan komplemen yang berfungsi dalam opsonisasi. Dalam Lambung terdapat HCl yang menjaga lambung dalam pH yang rendah serta terdapat enzim proteolitik, antibodi, dan empedu dalam usus halus guna menciptakan lingkungan yang dapat mencegah infeksi banyak mikroba.f) Air Susu IbuLaktooksidase seperti pada fisiologisnya juga ditemukan pada air susu ibu.g) ReproduksiAssiditas vagina dan spermin dalam semen dapat mencegah bertumbuhnya bakteri gram positif.

Respon Imun Respon imun merupakan reaksi dair sel-sel dan molekul-molekul tubuh yang terlibat dalam system imun dan dikoordinir oleh sistem imun terhadap mikroba infeksius. Respon imun ada 2 bagian yaitu :1) Respon Imun Non-SpesifikImunitas bawaan adalah imunitas non-spesifik. Imunitas ini diperoleh sejak lahir. Imunitas ini dipengaruhi oleh usia, hormonal, dan aktivitas metabolik. Imunitas didapat terdiri atas kulit, membran mukosa, sel sel fagosit, mediator inflamasi, komplemen, interferon, dan sel natural killer.Sel sel fagositSel sel fagosit mononuklear terdapat di dalam darah , jaringan limfoid, hati, lien, paru paru , dan di jaringan jaringan lain. Fungsi dari lien adalah memfiltrasi mikroorganisme dari aliran darah. Mekanisme fagositosis berawal ketika makrofag menempel pada unsur unsur mikroba , mereka akan menstimulasi untuk pelepasan sitokin yang menyebabkan datangnya lebih banyak sel sel fagositik di daerah infeksi. KomplemenKomplemen merupakan system yang terdiri atas sejumlah protein yang berperan dalam pertahanan pejamu, baik dalam system imun non-spesifik maupun spesifik. Komplemen merupakan salah satu system enzim serum yang berfungsi dalam inflamasi, oponisasi, dan kerusakan (lisis) membrane pathogen. Dewasa ini diketahui sekitar 20 jenis protein yang berperan dalam system komplemen.Komplemen merupakan molekul larut system imun nonspesifik dalam keadaan tidak aktif yang dapat diaktifkan berbagai bahan seperti LPS bakteri. Komplemen dapat juga berperan dalam system imun spesifik yang setiap waktu dapat diaktifkan kompleks imun. Hasil aktivasi tersebut menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai sifat biologic aktif dan beberapa diantaranya merupakan enzim untuk reaksi berikutnya. Produk lainnya berupa protein pengontrol dan beberapa lainnya tidak mempunyai aktivitas enzim. Aktivasi komplemen merupakan usaha tubuh untuk menghancurkan antigen asing, namun sering pula menimbulkan kerusakan jaringan sehingga merugikan tubuh sendiri.Ada 9 komponen dasar komplemen yaitu C1 sampai C9 yang bila diaktifkan, dipecah menjadi bagian-bagian yang besar dan kecil (C3a, C4b, dan sebagainya). Fragmen yang besar dapat berupa enzim tersendiri dan mengikat serta mengaktifkan molekul lain. Fragmen tersebut dapat juga berinteraksi dengan inhibitor yang menghentikan reaksi selanjutnya. Komplemen sangat sensitive terhadap sinyal kecil, misalnya jumlah bakteri yang sangat sedikit sudah dapat menimbulkan reaksi beruntun yang biasanya menimbulkan respons lokal.Aktivasi KomplemenSistem komplemen yang semula diketahui diaktifkan melalui 2 jalur, yaitu jalur klasik an alternative, sekarang diketahui juga dapat terjadi melalui jalur lektin. Jalur klasik diaktifkan oleh kompleks imun sedang jalur alternative dan jalur lektin tidak.Perbandingan aktivasi komplemen jalur klasik dan alternatif

Jalur klasikJalur alternative

Imunitas spesifikDimulai oleh antibodyBiasanya diikat antigenMemerlukan interaksi dengan C2Semua komponen majorTiga fase : Fase inisiasi Fase amplifikasi Fase membrane attack akhir jalur umumImunitas nonspesifikDimulai oleh dinding sel bakteri

Tidak memerlukan komponen C1, C4

Tiga fase : Fase inisiasi Fase amplifikasi Fase membrane attack

Jalur lektin diawali dengan pengenalan manosa dari karbohidrat membrane pathogen oleh lektin dan jalur alternative diawali oleh pengenalan permukaan se lasing. Meskipun aktivasi system komplemen diawali oleh tiga jalur yang berbeda, namun semua jalur berakhir dalam produksi C3b.

Aktivasi Komplemen Jalur Klasik Penggunaan istilah klasik berdasarkan penemuannya yang pertama kali, meskipun aktivasi jalur klasik terjadi sesudah jalur lainnya. Aktivasi komplemen melalui jalur klasik dimulai dengan dibentuknya kompleks antigen-antibodi larut atau dengan ikatan antibody dan antigen pada sasaran yang cocok, seperti sel bakteri. Aktivasi jalur klasik dimulai dengan C1 yang dicetuskan oleh kompleks imun antibody dan antigen.IgM yang memiliki lima Fc mudah diikat oleh C1. Meskipun C1 tidak mempunyai sifat enzim, namun setelah berikatan dengan Fc, dapat mengaktifkan C4 dan C2 yang selanjutnya mengaktifkan C3. IgM dan IgG1, IgG2, IgG3 (IgM lebih kuat disbanding dengan IgG) yang membentuk kompleks imun dengan antigen., dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik. Jalur klasik melibatkan 9 komplemen protein utama yaitu C1-C9. Selama aktivasi, protein-protein tersebut diaktifkan secara berurutan. Produk yang dihasilkan menjadi katalisator dalam reaksi berikutnya. Jadi stimulus kecil dapat menimbulkan reaksi aktivasi komplemen berurutan. Lipid A dari endotoksin, pr

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended