Home >Documents >laporan pengukuran

laporan pengukuran

Date post:20-Jul-2015
Category:
View:1,665 times
Download:8 times
Share this document with a friend
Transcript:

LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI PEMESINAN MODUL 2 (PENGUKURAN)Kelompok Nama (NRP) Rifky Dwi Setiadi S. Russel Novando Berman Soneka Asisten Tanggal Pengumpulan : (6110021) (6110130) (6110206) : Adi Nugroho : 20 April 2012 : 41

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2012

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................................

i ii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN................................................................................. I-1

I.1 Tujuan Praktikum.............................................................................. .. I-1 I.2 Prosedur Pelaksanaan... I-1 I.3 Dasar Teori ........................ .............. I-2 BAB II DATA DAN PENGOLAHAN DATA............................................... II-1 BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................. III-1 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .... IV-1 LAMPIRAN ................................................. iv

i

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Tujuan Praktikum Tujuan pratikum pada modul pengukuran ialah agar para pratikan dapat: 1. Mengetahui kegunaan pengukuran dalam proses produksi. 2. Mengetahui berbagai macam alat ukur baik alat ukur langsung maupun tidak langsung. 3. Mampu melakukan proses pengukuran dengan menggunakan alat ukur langsung dan tidak langsung. 4. Dapat menganalisa dan melakukan evaluasi dari hasil pengukuran benda kerja yang telah dilakukan.

I.2 Pendahuluan Mengukur pada hakekatnya membandingkan suatu besaran yang

belumdiketahui besarannya dengan besaran lain yang diketahui besarnya. Untuk keperluan tersebut diperlukan alat ukur. Pekerjaan pengukuran, memerlukan alat ukur yang baik. Alat ukur yang baik setidak-tidaknya mengandung informasi besaranbesaran yang diukur yang sesuai dengan kondisi nyatanya. Akan tetapi didalam proses pengukuran terdapat kekeliruan-kekeliruan. Ada 2 kelompok kekeliruan, yaitu kekeliruan sistematik (berkaitan denganalat ukur, metode pengukuran, dan faktor manusia) dan kekeliruan acak (berkaitan dengan faktor non teknis atau sistematik). Proses pengukuran amat penting dalam proses produksi. Dengan pengukuran dapat diketahui dimensi dari benda kerja yang dihasilkan melalui proses produksi. Selain itu, dengan melakukan pengukuran juga dapat diketahui apakah benda kerja

I-1

BAB I PENDAHULUAN

yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi atau tidak. Selain itu, dengan melakukan proses pengukuran dapat: Membuat gambaran melalui karakteristik suatu obyek atau prosesnya. Mengadakan komunikasi antar perancang, pelaksana pembuatan, penguji mutu dan berbagai pihak yang terkait lainnya. Memperkirakan halhal yang akan terjadi Melakukan pengendalian agar sesuatu yang akan terjadi dapat sesuai dengan harapan perancang.

I.3 Dasar Teori Pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran standar. Besaran standar sendiri dapat berupa gabungan dari besaran-besaran dasar yang meliputi 7 besaran yaitu:Tabel I.1 Besaran menurut Standar Internasional

Terdapat empat cara pengukuran yaitu: 1. Pengukuran langsung Hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada skala yang telah dikalibrasi yang terdapat pada alat ukur tersebut. Contoh pengukuran langsung adalah pengukuran dengan menggunakan mikrometer dan jangka sorong.

I-2

BAB I PENDAHULUAN

2. Pengukuran tidak langsung Pengukuran dengan menggunakan alat ukur standar, pembandung dan pembantu. Perbedaan nilai yang ditunjukkan oleh skala alat ukur pembanding (sewaktu mengukur objek ukur/bagian benda yang diukur) dengan ukuran standar dapat digunakan untuk menentukan dimensi dari objek ukur. Contoh pengukuran tidak langsung adalah pengukuran dengan menggunakan blok ukur dan batang ukur. 3. Pengukuran dengan kaliber batas Pengukuran dengan kaliber batas tidak menunjukkan atau menghasilkan suatu nilai ukuran/dimensi. Pengukuran dengan metode ini hanya menunjukkan apakah dimensi yang diukur tersebut terletak di dalam atau diluar daerah toleransinya. Umumnya pengukuran dengan kaliber batas dipakai untuk proses pemeriksaan yang cepat atas produk yang dibuat dalam jumlah besar. Contoh pengukuran dengan metode ini adalah pengukuran dengan menggunakan Go No Gogauge. 4. Pengukuran dengan bentuk standar Bentuk suatu produk dapat dibandingkan dengan suatu bentuk standar pada layar dari alat ukur proyeksi (profil proyektor). Pengukuran semacam ini juga tidak menentukan dimensi dari suatu objek ukur secara tidak langsung. Proses pengukuran identik dengan proses produksi disuatu industri. Produk proses pengukuran adalah berupa angkaangka. Karakteristik yang menonjol dari proses pengu kuran adalah pengukuran yang dilakukan berkalikali terhadap suatu besaran yang konstan harganya menghasilkan yang tidak sama. Selain itu, untuk melakukan kegiatan pengukuran, diperlukan suatu perangkat yang dinamakan instrumen (alat ukur). Jadi instrumen adalah sesuatu yang digunakan untuk membantu kerja indera untuk melakukan proses pengukuran. Instrument atau alat ukur terdiri dari banyak jenis yang dapat juga dikelompokkan melalui disiplin kerja atau besaran fisiknya. diantaranya: alat ukur dimensi: mistar, jangka sorong, mikrometer, bilah sudut, balok ukur, profile proyector, universal measurung machine dst.

I-3

BAB I PENDAHULUAN

alat ukur massa : timbangan,comparator elektronik,weight set dst alat ukur mekanik; tachometer, torquemeter, stroboscope dll alat ukur fisik : gelas ukur, densitometer, visosimeter, flowmeter . alat ukur listrik: voltmeter, amperemeter, jembatan Wheatstone alat ukur suhu: termometer gelas, PRT alat ukur optik: luxmeter,fotometer, spectrometer dan lainlain

Sifat umum dari alat ukur yaitu: 1. Rantai kalibrasi/mampu usut 2. Kemudahan baca 3. Kepekaan 4. Histerisis 5. Kepasifan 6. Pergeseran 7. Kestabilan nol 8. Pengambangan Contoh alat ukur: 1. Alat ukur linier langsung a. Mistar ukur Mistar adalah alat ukur panjang yang memiliki skala terkecil 1 mm. Mistar ini memiliki ketelitian 0,5 mm yaitu setengah skala terkecil. Ketelitian adalah nilai terkecil yang masih dapat diukur oleh alat ukur. Mistar banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari, misal digunakan untuk mengukur panjang suatu meja, kain, buku, ruangan kelas dan lain lain. Untuk mengukur besaran yang nilainya lebih besar lagi digunakan rol meter. Rol meter dapat digunakan untuk mengukur panjang suatu bidang tanah,

I-4

BAB I PENDAHULUAN

ataupun panjang suatu jalan. Skala terkecil dari rol meter adalah centimeter ( cm ).

Gambar I.1 Mistar ukur b. Mikrometer sekrup Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur panjang, lebar ataupun diameter benda yang relatif kecil. Mikrometer sering digunakan untuk mengukur tebal plat logam ataupun diameter silinder kawat. Mikrometer sekrup terdiri dari silinder tetap dan silinder yang dapat diputar (bidal). Pada silinder tetap terdapat skala utama, sedangan pada bidal terdapat skala nonius. Apabila bidal diputar kanan maka bidal akan maju mendekati nol skala utama atau sebaliknya. Skala utama mikrometer skrup ditera sehingga skala terkecilnya adalah 0,5 mm. Sedangkan skala nonius dibagi menjadi 50 yaitu dari 0 sampai 49.

Gambar I.2 Mikrometer sekrup c. Jangka sorong (vernier caliper) Jangka sorong sering digunakan untuk mengukur diameter baut ataupun mur. Secara umum, jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter dalam

I-5

BAB I PENDAHULUAN

maupun diameter luar suatu benda berbentuk tabung. Jangka sorong juga digunakan untuk mengukur kedalam suatu tabung.

Gambar I.3 Jangka sorong Jangka sorong terdiri dari bagian yang tetap yang dihubungkan dengan rahang tetap dan bagian yang dapat digeser yang dihubungkan dengan rahang geser. Pada bagian yang tetap terdapat skala utama dengan skala terkecil 1mm. Sedang pada rahang sorong terdapat skala nonius dari 1sampai 10. Panjang 10 skala nonius sama dengan 9mm, sehingga 1 skala nonius sama dengan 0,9mm. Ketelitian jangka sorong adalah 0,1 mm yaitu selisih antara 1 skala utama dengan 1 skala nonius. 2. Alat ukur linier tidak langsung a. Alat ukur standar o Blok ukur (gauge block metric) o Batang ukur o Kaliber induk tinggi (height gauge) Merupakan sebuah alat pengukuran yang berfungsi mengukur tinggi benda terhadap suatu bidang acuan atau bisa juga untuk memberikan tanda

I-6

BAB I PENDAHULUAN

goresan secara berulang terhadap benda kerja sebagai acuan dalam proses permesinan. b. Alat ukur pembanding 1. Dial indicator Dial indicator adalah alat ukur yang dipergunakan untuk memeriksa penyimpangan yang sangat kecil dari bidang datar, bidang silinder atau permukaan bulat dan kesejajaran. 2. Pembanding (Compator) 3. Alat ukur sudut a. Alat ukur standar o Busur derajat b. Alat ukur pembanding o Batang baja dengan 2 rpl yang diletakkan pada kedua ujung sisinya.

Saat melakukan pengukuran besaran listrik tidak ada yang menghasilkan ketelitian dengan sempurna. Perlu diketahui ketelitian yang sebenarnya dan sebab terjadinya kesalahan pengukuran. Kesalahan - kesalahan dalam pengukuran dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu : Kesalahan-kesalahan Umum (gross-errors) Kesalahan ini kebanyakan disebabkan oleh kesalahan manusia.

Diantaranya adalah kesalahan pembacaan alat ukur, penyetelan yang tidak tepat dan pemakaian instrumen yang tidak sesuai dan kesalahan penaksiran. Kesalahan ini tidak dapat dihindari, tetapi harus dicegah dan perlu perbaikkan Kesalahan-kesalahan sistematis (systematic errors) Kesalahan ini disebabkan oleh kekurangan-kekurangan pada instrumen sendiri. Seperti k

Embed Size (px)
Recommended