Home >Documents >Laporan Gtl Aan

Laporan Gtl Aan

Date post:23-Dec-2015
Category:
View:864 times
Download:53 times
Share this document with a friend
Description:
GIGI TIRUAN LENGKAP
Transcript:

LAPORAN KEPANITERAAN PROSTODONSIA

GIGI TIRUAN LENGKAP

Disusun Oleh :

Wahyu Septian A. A.09/280097/KG/08381Dosen Pembimbing :

drg. Suparyono Saleh, Sp.Pros (K)BAGIAN PROSTODONSIA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2013I. PENDAHULUAN

Prostodonsia adalah salah satu cabang ilmu kedokteran gigi yang mencakup tentang restorasi dan pemeliharaan fungsi mulut dengan mengganti gigi dan struktur yang hilang dengan suatu gigi pengganti atau gigi tiruan. Protesa gigi berdasarkan jumlah gigi yang hilang dan diganti dengan gigi palsu (artificial teeth) ada dua bagian yaitu : Full denture (gigi tiruan lengkap) dan Partial denture (gigi tiruan sebagian). Gigi tiruan lengkap (GTL) adalah gigi tiruan yang dibuat untuk mengganti semua gigi asli beserta bagian jaringan gusi yang hilang, karena apabila seseorang telah hilang semua gigi geliginya, dapat menghambat fungsi fonetik, estetik dan fungsi penguyahan. Tujuan pembuatan GTL adalah:

1. Merehabilitasi seluruh gigi yang hilang sehingga dapat memperbaiki atau mengembalikan fungsi bicara, penguyahan, estetis dan psikis.

2. Merehabilitasi seluruh gigi yang hilang, serta jaringannya sehingga dapat memperbaiki kelainan, gangguan dan penyakit yang disebabkan oleh keadaan edentulous.

Indikasi pembuatan GTL adalah sebagai berikut :

1. Individu yang seluruh giginya telah tanggal atau dicabut.

2. Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kerusakan gigi yang masih ada tidak mungkin diperbaiki.

3. Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu keberhasilannya.

4. Keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat.

5. Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosa yang akan diperoleh.

Seseorang yang telah kehilangan gigi-geliginya, prosesus alveolarisnya akan mengalami penyusutan, disebut residual ridge. Bentuk dan kompresibilitas ridge dan jaringan di bawahnya bervariasi. Penyusutan alveolaris biasanya berjalan 2-3 minggu, tetapi ada yang sampai berbulan-bulan.

Pembuatan GTL akan mencegah pengerutan/atropi processus alveolaris (residual ridge), berkurangnya vertikal dimensi yang disebabkan turunnya otot-otot pipi karena tidak ada penyangga dan hilangnya oklusi sentrik. Selama berfungsi rahang bawah berusaha berkontak dengan rahang atas sehingga dengan tidak adanya gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah akan menyebabkan hilangnya oklusi sentrik sehingga mandibula menjadi protusi dan hal ini menyebabkan malposisi sendi temporomandibular.Perawatan pada pengguna GTL dapat dikatakan berhasil apabila:1. Enak dipakai (nyaman dan menyenangkan).

2. Dapat berfungsi untuk mengunyah dan bicara.

3. Tampak cukup estetis (pemakai tampak lebih muda, cantik dan bagus).

4. Tidak menimbulkan gangguan, rasa sakit, kelainan dan penyakit.

5. Cukup kuat.

Keberhasilan pembuatan GTL tergantung dari retensi yang dapat menimbulkan efek psikologis dan dukungan jaringan sekitarnya, sehingga dapat mempertahankan keadaan jaringan normal. Hal ini mencakup :

1. Kondisi edentulous berupa : processus alveolaris, saliva, batas mukosa bergerak dan tidak bergerak, kompesibilitas jaringan mukosa, bentuk dan gerakan otot-otot muka, bentuk dan gerakan lidah.

2. Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok

3. Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut

4. Penetapan/pengaturan gigi yang benar, meliputi :

a) Posisi dan bentuk lengkung deretan gigi

b) Posisi individual gigi

c) Relasi gigi dalam satu lengkung dan antara gigi-gigi RA dan RBII. TINJAUAN PUSTAKA

Gigi tiruan lengkap adalah suatu penggantian gigi-gigi asli dalam suatu lengkung dan menggabungkan bagian-bagiannya dengan penggantian artifisial (The Academy of Prosthodontic, 1994). Soelarko dan Wachijati memakai istilah Full Denture atau Complete Denture yang artinya suatu gigi tiruan yang menggantikan seluruh gigi pada suatu lengkung rahang, sehingga ada istilah :

a) Upper Full Denture yaitu geligi tiruan penuh rahang atas

b) Lower Full Denture yaitu geligi tiruan penuh rahang bawah.

Pasien yang tidak bergigi mempunyai kecenderungan untuk memajukan mandibulanya secara tidak sengaja dan berusaha untuk berkontak dengan rahang atas. Hal ini dikarenakan adanya perubahan (pengurangan) vertikal dimensi dan tidak adanya sentrik posisi. Sehingga jika pasien dibuatkan gigi tiruan lengkap maka vertikal dimensinya akan kembali dan physiological rest posisinya seperti pada saat gigi asli masih ada.

Retensi dapat didefinisikan sebagai ketahanan gigi tiruan terhadap pelepasannya dari mulut. Pemeriksaan retensi dilakukan dengan memasangkan gigi tiruan kuat-kuat dalam mulut dan mencoba melepaskannya dengan gaya tegak lurus terhadap bidang oklusal. Bila gigi tiruan dapat bertahan terhadap gaya-gaya tersebut, berarti gigi tiruan mempunyai retensi yang cukup.

Gaya-gaya fisik yang berhubungan dengan retensi GTL adalah :

1. Tekanan permukaan : meliputi adhesi antara saliva dengan gigi tiruan serta saliva dengan mukosa.

2. Gaya-gaya dalam cairan : seperti tegangan permukaan saliva, gaya-gaya kohesi dalam cairan saliva (viskositas saliva) semua mempengaruhi retensi gigi tiruan dan berhubungan erat dengan ketepatan kontak basis terhadap jaringan.

3. Tekanan atmosfer : tekanan atmosfer menahan gaya-gaya yang akan melepaskan gigi tiruan asalkan ada peripheral seal yang utuh.

Sedangkan faktor stabilisasi GTL didapat dari pemasangan gigi-gigi pada processus alveolaris, tekanan yang merata, balanced occlution, relief area, sliding, over jet dan over bite. Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam keberhasilan gigi tiruan lengkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL, terutama GTL rahang atas:

1. Faktor fisis:

a. Peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efek retensi dari tekanan atmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalah di sekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigi tiruan atas, pada permukaan bukal gigi tiruan bawah. Peripherial seal bersambung dengan Postdam pada rahang atas menjadi sirkular seal. Sirkular seal ini berfungsi membendung agar udara dari luar tidak dapat masuk ke dalam basis gigi tiruan (fitting surface) dan mukosa sehingga tekanan atmosfer di dalamnya tetap terjaga. Apabila pada sirkular seal terdapat kebocoran (seal tidak utuh/terputus) maka protesa akan mudah lepas. Hal inilah yang harus dihindari dan menjadi penyebab utama terjadinya kegagalan dalam pembuatan protesa gigi tiruan lengkap.b. Postdam, diletakkan tepat disebelah anterior garis getar dari palatum molle dekat fovea palatina.2. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut, tergantung dari efektivitas gaya-gaya fisik dari adhesi dan kohesi, yang bersama-sama dikenal sebagai adhesi selektif.

3. Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh basis gigi tiruan.

4. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai sebagai pegangan terutama pada rahang atas.

5. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya untuk menghindari rasa sakit dan terlepasnya gigi tiruan saat berfungsi

Tahap awal dari perawatan adalah anamnese dan indikasi, kemudian baru dilakukan pencetakan. Pencetakan dilakukan untuk mendapatkan bentuk negatif jaringan mulut yang akan dipakai sebagai basal seal gigi tiruan. Setelah hasil pencetakan tadi diisi dengan stone gips, maka akan didapatkan replikasi positif jaringan mulut.

Record jaringan mulut diperoleh dengan melakukan cetakan, yaitu :

1) Cetakan anatomis (dalam keadaan tidak berfungsi)

Sendok cetak yang dipakai adalah sendok cetak biasa (stock tray). Saat mencetak tidak dihiraukan tertekan atau tidaknya mukosa mulut. Bahan yang dipakai adalah alginat.

2) Cetakan fisiologis (dalam keadaan berfungsi)

Disini diperhatikan batas jaringan yang bergerak dan tidak bergerak dan mukosa tidak boleh tertekan. Sendok cetak yang digunakan dalah sendok cetak individual dari sellac. Bahan cetak yang digunakan adalah alginat untuk rahang atas dan rahang bawah. Hasil cetakannya digunakan sebagai work model. Kedua jenis cetakan tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil cetakan seakurat mungkin, dikenal sebagai double impression.Cara membuat sendok cetak individual (Itjiningsih, 1993):

Sellac dipanaskan pada model studi sambil ditekan. Lakukan pemotongan sesuai dengan batas jaringan bergerak dan tidak bergerak. Bila dikehendaki dapat 1-2 mm lebih rendah untuk memberi tempat pada bahan cetak asal jangan mudah lepas dari rahang pasien. Buatlah pegangan sendok individual dan buat pula lubang dengan bur bulat no. 3 pada daerah palatum, berjarak 4-5 mm. Kegunaan lubang ini adalah untuk mengalirkan bahan cetak yang berlebih karena bila tertahan akan menyebabkan tekanan yang berlebih dari geligi tiruan pada jaringan pendukungnya.

Base plate adalah suatu bentuk sementara yang mewakili dasar gigi tiruan dan digunakan untuk membuat Maxillo-Mandibular Record, menempatkan gigi-gigi dan untuk insersi ke dalam mulut. Sedangkan bite rim yang disebut juga tanggul gigitan dibuat diatas base plate yang telah dihaluskan dengan menggunakan modelling wax (Swenson, 1964). Guna bite rim adalah untuk meletakkan gigi sebelum diganti dengan akrilik dan mencatat maxillo-mandibular relation pada pasien. Bite rim atas harus sejajar dengan garis pupil dan bite rim harus kelihatan kira-kira 2 mm di bawah garis bibir atas dan lehernya harus mengikuti general out line processus alveolaris (Soelarko dan Wachijati, 1980).Vertikal dimensi disebut juga tinggi gig

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended