Home >Documents >Laporan Emulsi oleum Cocos Novia

Laporan Emulsi oleum Cocos Novia

Date post:09-Jan-2016
Category:
View:1,073 times
Download:114 times
Share this document with a friend
Transcript:

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMISOLIDASediaan Emulsi Oleum Cocos

Disusun oleh:

Novia AndrianiP17335114024Kelas IAKelompok 2Dosen Pembimbing : Hanifa Rahma, M.Si., Apt.

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG JURUSAN FARMASI 2015SEDIAAN EMULSI OLEUM COCOS 2 g/ 5 ml

I. TUJUAN PERCOBAAN

Menentukan formula yang tepat dan mengevaluasi hasil sediaan emulsi dengan bahan aktif Oleum cocos.

II. LATAR BELAKANG

Pada praktikum ini membuat sediaan emulsi dengan bahan aktif Oleum Cocos. Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi minyak dalam air. Sebaliknya, jika air atau larutan air yang merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi air dalam minyak (Kemenkes RI, 2014). Bahan aktif yang digunakan dalam sediaan ini yaitu oleum cocos yang ditujukan untuk menurunkan berat badan untuk penderita obesitas. Seiring dengan perkembangannya zaman, pengidap Obesitas saat ini meningkat. Obesitas secara fisiologik didefinisikan sebagai suatu kondisi akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adipose sampai kadar tertentu sehingga dapat mengganggu kesehatan. Selain faktor genetik, penyebab utama obesitas adalah peningkatan konsumsi makanan padat energi, terutama kandungan karbohidrat sederhana, serta kurangnya aktifitas fisik. (Ni Nyoman Kristina, 2013)Oleum cocos adalah minyak kelapa yang mengandung lemak jenuh yang dikenal sebagai MCT (Medium Chain Triglycerid). MCT di metabolisme dalam tubuh berbeda dengan lemak jenuh lainnya. MCT jarang disimpan sebagai lemak dalam tubuh, namun lebih digunakan untuk sumber energi hampir sama seperti Karbohidrat, namun tidak menaikkan gula darah seperti karbohidrat. Selain itu MCT yang terkandung dapat meningkatkan pembakaran lemak dan pengeluaran kalori pada pasien obesitas dan juga menyebabkan penyimpanan lemak berkurang. Alasan bahan obat diformulasikan dalam bentuk sediaan Emulsi karena Oleum cocos merupakan minyak, dapat diketahui bahwa minyak tidak dapat larut dengan air oleh karena itu dibuat sediaan emulsi dengan tipe minyak dalam air ( m/a) disamping jumlah minyak yang digunakan lebih sedikit daripada air, tipe minyak dalam air ini lebih acceptable secara penggunaan oral karena rasa minyak (fase internal) dapat tertutupi oleh air (fase eksternal). Penggunaan emulsi minyak dalam air sebagai pembawa obat lipofilik dapat meningkatkan ketersediaan hayati secara oral dan efikasi obat. Minyak dalam air dapat meningkatkan abrospsi obat di salur cerna dibandingkan dengan bentuk sediaan suspensi, tablet atau kapsul (Agoes,2009)Sediaan berbentuk emulsi merupakan pendekatan yang efektif untuk mengatasi banyak masalah dalam sistem penghantaran obat. Sediaan berbentuk emulsi sering menunjukkan manfaat dan keuntungan yang berbeda dari bentuk sediaan lain melalui peningkatan ketersediaan hayati dan/atau mengurangi efek samping yang merugikan. Selain keuntungan dibuat sediaan emulsi, bentuk emulsi tidak digunakan secara luas untuk sediaan oral atau parenteral karena masalah yang sangat mendasar, yaitu ketidakstabilan emulsi yang dapat menimbulkan masalah profil pelepasan obat dan masalah terkait toksisitas. Oleh karena itu kestabilan sediaan emulsi ini perlu diperhatikan atau dipertimbangkan sampai diperoleh sediaan yang stabil secara fisik dan kimia (Agoes,2009)Emulsi distabilkan dengan penambahan bahan penstabil (pengemulsi) yang mencegah penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah (Kemenkes RI, 2014). Untuk mencegah penggabungan kembali globul globul digunakan emulgator golongan surfaktan nonionik yaitu Tween 80 dan Span 80, maka cara pembuatannya menggunakan metode emulgator surfaktan ( fase minyak dan fase air, masing-masing dilebur, kemudian dicampurkan). Minyak merupakan zat yang mudah teroksidasi oleh karena itu dalam sediaan ini diperlukan Antioksidan karena jika oleum cocos teroksidasi akan menjadi tengik (Rowe, 2009). Sediaan digunakan untuk multiple dose dan mengandung sukrosa sebagai pemanis, sukrosa merupakan nutrisi bagi mikroorganisme maka dari itu perlu ditambahkan bahan pengawet kombinasi yaitu Metilparaben dan Propil paraben agar kerja pengawet dapat lebih efektif sehingga sediaan dapat terjaga kestabilannya. Manfaat untuk praktikan melakukan praktikum ini ialah agar praktikan dapat mengetahui permasalahan berikut penyelesaiannya terhadap bahan aktif Oleum cocos lalu dapat menentukan bahan-bahan tambahan yang cocok untuk sediaan dan juga agar praktikan dapat mensimulasikan bagaimana membuat sediaan di dunia industri walaupun dalam skala kecil.

III. TINJAUAN PUSTAKA

1. Bahan AktifZat AktifOleum Cocos (HOPE 6th Ed 2009, p 184).

Struktur-

Rumus molekul-

Titik lebur -

PemerianMassa putih kekuningan atau tidak berwarna, atau minyak bening kekuningan, dengan karakteristik bau kelapa dan sedikit berasa (HOPE 6th Ed 2009, p 184).

KelarutanPraktis tidak larut dalam air, mudah larut dala dikloroetana dan sedikit larut di petroleum, larut dalam eter, karbon disulfide dan kloroform. Larut dalam suhu 600C dalam 2 bagian etanol 95%, namun tidak larut dalam temperature yang rendah (HOPE 6th Ed 2009, p 184).

Stabilitas Panas :

Cahaya : Air dan pH :

Pada temperatur 50%). Larutan stabil pada pH 2-10, endapan dapat terjadi pada pH dibawah 2 dan kekentalan larutan menurun dengan cepat di atas pH 10. Umumnya, larutan menunjukan kekentalan maksimum dan stabil pada pH 7-9. (HOPE 6th Ed 2009, p.118 - 121)

Inkompatibilitas Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan dengan garam besi dan beberapa metal lainnya, seperti alumunium, merkuri, dan zink. Inkompatibel juga dengan xanthan gum. Endapan dapat terjadi pada pH

Embed Size (px)
Recommended