Home >Documents >Lap Fisio Mata

Lap Fisio Mata

Date post:17-Oct-2015
Category:
View:106 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Transcript:

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGIBLOK NEUROLOGY AND SPECIFIC SENSE SYSTEM

PEMERIKSAAN REFRAKSI, LAPANG PANDANG, DAN BUTA WARNA

Asisten :Indah Permata Sari G1A009092

Disusun oleh :Dessriya Ambar R.G1A010086Vici Muhammad AkbarG1A010091Ulfah IzdiharG1A010092Tiara Gian PuspiG1A010096Pradani Eva A.G1A010097Hayin Naila N.G1A010102Intan Puspita H.G1A010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANUNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATANJURUSAN KEDOKTERANPURWOKERTO

2013

BAB IPENDAHULUAN

A. Judul PraktikumPemeriksaan Mata.

B. Waktu dan Tanggal PraktikumSelasa, 26 Maret 2013

C. Tujuan Praktikum1. Tujuan instruksional umumSetelah praktikum ini mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fungsi refraksi pada seseorang serta mengoreksi kelainan yang ditemukan, memeriksa luas lapang pandang, beberapa macam warna dengan menggunakan kampimeter serta melakukan pemeriksaan tes buta warna. 2. Tujuan instruksional khusus Setelah menyelesaikan praktikum ini mahasiswa dapat:a. Menetapkan visus seseorang dengan menggunakan optotipe snellenb. Mengetahui kelainan refraksic. Mengoreksi kelainan refraksi yang ditemukand. Memeriksa kemungkinan adanya astigmatis pada seseorang dengan menggunakan gambar kipas lancasater regan dan keratoscop placido.e. Mengetahui fungsi retina sebagai reseptor cahaya mempunyai kepekaan terhadap warna tertentu.f. Dapat melakukan pemeriksaan tes buta warna

D. Dasar Teori1. Fisiologi PenglihatanFungsi utama mata adalah untuk memfokuskan berkas cahar dari lingkungan ke sel-sel abang dan kerucut, sel fotoreseptor retina. Fotoreseptor kemudian mengubah energi cahaya menjadi sinyal listrik untuk disalurkan ke Susunan Saraf Pusat (SSP). Fotoreseptor terdiri dari tiga bagian (Sherwood, 2011) :a. Sebuah segmen luar, yang terletak paling dekat dengan eksterior mata, menghadap ke koroid, dan mendeteksi rangsangan cahaya,b. Buah segmen dalam, yang terletak di pertengahan panjang fotoreseptor dan mengandung perangkat metabolik sel, danc. Sebuah terminal sinaps yang terletak paling dekat dengan interior mata, menghadap ke neuron bipolar, dan menyalurkan sinyal yang dihasilkan di fotoreseptor setelah mendapatkan rangsangan cahaya ke sel-sel berikutnya ada jalur penglihatan.Segmen luar, yang berbentuk seperti batang pada sel-sel batang dan seperti kerucut pada sel-sel kerucut, terdiri dari tumpukan lempeng-lempeng membranosa pipih yang banyak mengandung molekul-molekul fotopigmen. Lebih dari sejuta molekul fotopigmen mungkin terdapat di bagian luar setiap fotoreseptor. Foto pigmen mengalami perubahan kimiawi apabila diaktifkan oleh cahaya. Suatu fotopigmen terdiri dari protein enzimatik yang disebut opsin yang berkaitan dengan retinen, suatu turunan vitamin A. Rodopsin, foto pigmen sel batang, tidak dapat membedakan berbagai panjang gelombang spektrum cahaya tampak, pigmen ini menyerap semua panjang gelombang cahaya tampak. Fotopigmen di tiga jenis sel kerucut, sel kerucut merah, hijau, dan biru, berespons secara selektif terhadap berbagai panjang gelombang, sehingga penglihatan warna dapat terjadi (Sherwood, 2011).Pemutihan rodopsin dari ungu menjadi merah muda terjadi saat cahaya masuk ke retina. Cahaya menyebabkan 11-cis-retinal yang berikatan dengan opsi berubah bentuk menjadi bentuk all-trans, sehingga bentuk tersebut terlepas dari opsin. Pemisahan opsi dan retina memicu potensial saraf dalam sel batang (reseptor), yang menyebabkan stimulasi sel-sel bipolar dan ganglion retina. Stimulasi ini ditransmisi ke otak melalui saraf optik (Ethel, 2004).Tidak seperti membran sel saraf lainnya, saluran Na+ pada membran sel batang akan terbuka jika tidak ada stimulasi (cahaya). Dengan demikian, dalam gelap, aliran masuk Na+ akan mengakibatkan depolarisasi dan pelepasan transmiter inhibitorik. Neuron bipolar dan sel ganglion tidak terstimulasi. Jika sel batang distimulasi cahaya, pelepasan Ca++ dari dalam sel batang menyebabkan saluran Na+menutup. Aren konduksi Na+ menurun, maka bagian dalam sel menjadi semakin negatif, atau hiperpolarisasi. Pelepasan transmiter inhibitorik berkurang dan sel-sel bipolar berdepolarisasi. Potensial aksi terjadi akibat hiperpolarisasi membran bukan akibat depolarisasi membran (Ethel, 2004).Resintesis rodopsin terjadi dalam gelap yaitu saat semua alk-trans retina diubah kembali menjadi 11-cis-retinal dan berikatan dengan opsi. Reaksi ini membutuhkan energi dari enzim. Sel batang berfungsi dalam intensitas cahaya rendah karena pemutihan hanya membutuhkan sedikit cahaya (Ethel, 2004).Adaptasi terhadap gelap dan terang adalah penyesuaian penglihatan secara otomatis terhadap intensitas cahaya yang memasuki retina saat bergerak dari tempat gelap ke tempat terang atau sebaliknya. Waktu yang dibutuhkan untuk adaptasi terhadap kegelapan (kemampuan melihat dalam cahaya redup) sebagian ditentukan dari waktu yang dibutuhkan untuk meresintesis dan mengumpulkan cadangan rodopsin (Ethel, 2004).Dalam cahaya terang, semua rodopsin Yana da akan terurai dengan cepat dan hanya tersisa sedikit untuk membentuk potensial aksi dalam sel batang, mata disebut beradaptasi terhadap terang. Waktu yang dibutuhkan untuk adaptasi terang dari cahaya remang adalah sekitar 20 menit (Ethel, 2004). Sintesis rodopsin dan iodopsin (pigmen pada sel kerucut) membutuhkan vitamin A, suatu prekursor untuk retina. Kekurangan asupan vitamin A, dapat menyebabkan abnormalitas penglihatan akibat regenerasi sel batang dan kerucut. Adaptasi terhadap gelap dan erang juga melibatkan refleks pupilaris, untuk menentukan banyak sedikitnya cahaya yang masuk bagian interior mata (Ethel, 2004).Setiap mata mengandung 6 sampai 7 juta sel kerucut bipolar yang bertanggung jawab untuk kejelasan pandangan dan penglihatan warna. Sel kerucut mengandung iodopsin, yaitu retina yang terikat pada opsin yang berbeda dengan opsin dalam sel batang. Iodopsin ini bisa saja bersifat sensitif-biru, sensitif-merah, atau sensitif-hijau, sehingga setiap sel kerucut memiliki sensitivitas selektif untuk membedakan warna. Proses dekomposisi pigmen dalam sel batang untuk membentuk potensial aksi juga terjadi salam sel kerucut. Karena pigmen iodopsin tidak merespons dalam cahaya yang redup, maka sel kerucut hanya dapat berfungsi dalam cahaya yang terang (Ethel, 2004).

Gambar 1. Bagan Fisiologi Penglihatan (Sherwood, 2011)2. Pemeriksaan VisusVisus atau ketajaman penglihatan ialah kemampuan mata untuk melihat dengan jelas dan tegas. Secara fisiologis hal ini ditentukan oleh daya pembiasan mata. Mata normal dapat melihat secara jelas dan tegas dua garis atau titik dengan sudut penglihatan 1 menit. Titik jauh dasar bervariasi diantara mata individu normal tergantung bentuk bola mata dan korneanya. Mata emetrop secara alami memiliki fokus yang optimal untuk penglihatan jauh, sedangkan untuk mata ametrop (miopia, hiperopia atau stigmat) memerlukan lensa koreksi agar terfokus dengan baik untuk melihat jauh. Secara praktis sangat sulit untuk mengukur sudut penglihatan suatu mata. Tahun 1876, Van Snellen menciptakan cara sederhana untuk membandingkan visus seseorang dengan visus orang normal, berdasarkan sudut penglihatan 1 menit. Kartu uji snellen menggunakkan huruf-huruf kapital dengan jenis huruf sans serif. Seiring bertambah baiknya model optotype penguji, dikembangkan kartu-kartu yang paling cocok untuk menguji ketajaman penglihatan jauh, misalnya kartu ETDRS. Menggunakkan 10 huruf kapital dengan tingkat kesulitan sama (D, K,R, H, V, C,N,Z, S dan O) yang ditemukan oleh Louise L. Sloan (Whitcher, 2010).Penurunan ketajaman penglihatan dapat dibagi menjadi dua yaitu penurunan ketajaman visual sentral dan perifer. Penurunan ketajaman penglihatan sentral dan perifer seringkali disebabkan oleh perubahan sirkulasi pada suatu lokasi di sepanjang jaras visual neurologik mulai dari retina hingga korteks oksipital. Pemeriksaan untuk penurunan ketajaman bisa digunakkan tes optotype snelen, jarak yang digunakan untuk mengetes ketajaman penglihatan dapat diukur pada jarak jauh yaitu 6 m atau 20 kaki dan jarak dekat 14 inci. Ketajaman penglihatan diberi skor dengan dua angka, angka normal untuk ketaman penglihatan adalah 6/6. Angka pembilang adalah jarak kartu dengan pasien, sedangkan angka penyebut adalah jarak yang dapat dibaca oleh orang normal (Whitcher, 2010).Pasien yang tidak dapat membaca huruf terbesar pada kartu (mis., huruf pada 20/200), harus lebih mendekati kartu sampai huruf itu dapat dibaca. Jarak ke kartu kemudian dicatat sebagai angka pertama. Ketajaman visual 5/200 artinya pasien baru dapat mengenali huruf yang paling besar pada jarak 5 kaki. Mata yang tidak dapat membaca satu huruf pun, diuji dengan cara menghitung jari. Jika tidak bisa menghitung jari, mata tersebut mungkin masih dapat mendeteksi tangan yang digerakkan secara vertical atau horizontal. Tingkat penglihatan yang lebih rendah lagi adalah kesanggupan mempersepsi cahaya. Mata yang tidak dapat mempersepsi cahaya dianggap buta total (Whitcher, 2010).Refraksi adalah pembelokan berkas cahaya dari satu medium ke medium yang lain yang berbeda. Cahaya melewati dua medium dengan densitas berbeda. Kelainan pembiasan adalah suatu keadaan dimana pada mata yang melihat jauh tak terhingga, berkas cahaya sejajar masuk ke mata, dibiaskan tidak tepat jatuh di retina, sehingga tidak dapat melihat secara jelas. Hal ini dapat disebabkan oleh karena indeks bias sistem lensa mata atau sumbu mata dari lensa. Kelainan ini bisa timbul disepanjang jaras optik dan jaras visual neurologik (Whitcher, 2010). Refraksi adalah prosedur untuk menentukan dan mengukur setiap kelainan optik. Pemeriksaan refraksi sering diperlukan untuk membedakan pandangan kabur akibat kelainan refraksi dari pandangan kabur akibat kelainan medis pada system penglihatan. Jadi, selain menjadi dasar untuk penulisan resep kacamata atau lensa kontak koreksi, prosedur ini juga memiliki fungsi diagnostic (Whitcher, 2010).

3. Pemeriksaan Lapang PandangPemeriksaan lapang pandang bertujuan untuk memeriksa batas perifer penglihatan, yaitu batas dimana benda dapat dilihat bila mata difiksasi pada satu titik. Lapang pandang yang normal mempunyai bentuk tertentu dan tidak sama ke semua jurusan, misalnya ke lateral kita dapat melihat 90100 dari titik fiksasi, ke medial 60, ke atas 50 60 dan ke bawah 60 75 (Rohmah, 2011).Area yang terlihat pada sisi nasal disebut lapang pandang nasalis, sedangkan area yang terlihat di daerah lateral disebut lapang pandang temporalis. Bentuk lapang pandang adalah sirkular, namun terpotong di medial oleh adanya nasal dan di superior oleh adanya atap orbita (Barret et al, 2010).

Gambar 1. Lapang Pandang (Barret et al., 2010)

Terdapat dua jenis pemeriksaan lapang pandang yaitu pemeriksaan secara kasar (tes konfrontasi) dan pemeriksaan yang lebih teliti dengan menggunakan kampimeter atau perimeter. Pemeriksaan lapang pandang dilakukan dengan perimeter, merupakan alat yang digunakan untuk menetukan luas lapang pandang. Alat ini berbentuk setengah bola dengan jari jari 30cm, dan pada pusat parabola inimata penderita diletakkan untukdiperiksa.Batas lapang pandang perifer adalah 90 temporal, 75 inferior, 60 nasal dan 60 superior. Dapat dilakukan dengan pemeriksaan statik maupun kinetik. Pemeriksaan ini berguna untuk membantu diagnosis pada keluhan penglihatan, melihat progresivitas turunnya lapang pandang, merupakan pemeriksaan rutin pada kelainan susunan saraf pusat, serta untuk memeriksa adanya histeria atau malingering (Rohmah, 2011).Dikenal 2 cara pemeriksaan perimetri, yaitu: Perimetri kinetik yang disebut juga perimeter isotropik dan topografik, dimana pemeriksaan dilakukan dengan objek digerakkan dari daerah tidak terlihat menjadi terlihat oleh pasien. Perimetri statik atau perimetri profil dimana pemeriksaan dengan tidak menggerakkan objek akan tetapi dengan menaikkan intensitas objek sehingga terlihat oleh pasien (Rohmah, 2011).Uji perimeter atau kampimeter, ini merupakan uji lapang pandang dengan memakai bidang parabola yang terletak 30 cm di depan pasien. Pasien diminta untuk terus menatap titik pusat alat dan kemudian benda digerakkan dari perifer ke sentral. Bila ia melihat benda atau sumber cahaya tersebut, maka dapat ditentukan setiap batas luar lapang pandangnya serta dapat ditentukan letak bintik buta pada lapang pandang (Rohmah, 2011).Uji konfrontasi, merupakan uji pemeriksaan lapang pandang yang paling sederhana. Karena tidak memerlukan alat tambahan. Lapang pandang pasien dibandingkan dengan lapang pandang pemeriksa. Pasien dan pemeriksa berdiri berhadapan dengan bertatap mata pada jarak 60 cm. Mata kanan pemeriksa dan mata kiri pasien ditutup. Mata kiri pemeriksa menatap mata kanan pasien. Pemeriksa menggerakkan jari dari arah temporalnya dengan jarak yang sama dengan mata pasien kearah sentral. Bila pemeriksa telah melihat benda atau jari di dalam lapang pandangnya, maka bila lapang pandang pasien normal, pasien juga dapat melihat benda tersebut. Bila lapang pandang pasien menyempit, pasien akan melihat benda atau jari tersebut bila benda telah berada lebih ke tengah dalam lapang pandang pemeriksa. Dengan cara ini dapat dibandingkan lapang pandang pemeriksa dengan lapang pandang pasien pada semua arah (Rohmah, 2011).Berdasarkan lokasi defek anatomisnya, gangguan lapang pandang dibedakan menjadi (Ginsberg, 2007) :a. Lesi pada nervus optikus menyebabkan hilangnya penglihatan monocularb. Lesi pada kiasma optikus umumnya merusak serabut saraf yang menyilang dari separuh retina bagian nasal, yang menyebabkan hemianopsia bitemporal (cahaya dari setengah lapang pandang bagian temporal diterima dan diproses oleh bagian nasal retina)c. Lesi pada traktus optikus menyebabkan hemianopsia homonim. Serabut serabut dari retina pada bagian temporal akan rusak, bersamaan dengan serabut dari bagian nasal retina mata yang lain yang bersilangand. Lesi lobus parietal akan merusak serabut superior dari radiasio optikus yang menyebabkan kuadroanopsia homonim inferior, sebaliknya bila lesi lobus temporal akan menyebabkan kuadroanopsia homonim superior

Gambar 2. Lesi pada Gangguan Lapang Pandang (Ginsberg, 2007).

Gangguan lapang pandang lain, seperti (Ginsberg, 2007) :a. Skotoma sentral yaitu hilangnya penglihatan sentral yang umumnya berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan dan merupakan karakteristik penyakit nervus optikus dan penyakit makula retinab. Perluasan bintik buta fisiologis yang terlihat dengan pembengkakan diskus optikus (edema papil) yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intracranial dan umumnya terjadi dengan ketajaman penglihatan yang masih baikc. Macular sparing yaitu daerah makula yang masih baik pada pasien dengan hemianopsia homonim dapat disebabkan oleh lesi korteks visual yang tidak mengenai kutub oksipital yang merupakan representasi daerah makulad. Penglihatan seperti terowongan (tunnel vision) yaitu hilangnya lapang pandang perifer denggan dipertahankannya daerah sentral yang disebabkan oleh penyakit oftalmologi (glaukoma kronik sederhana), penyakit retina (retinitis pigmentosa) serta penyakit korteks (hemianopsia homonim bilateral dengan makula yang masih baik atau macula sparing)

E. Alat dan Bahan1. Fungsi Penglihatana. Optotipe van Snelenb. Gambar Kipas Lancasater reganc. Sejumlah lensa sferis dan silindris dengan bermacam macam kemampuan daya bias.d. Mistare. Ruangan dengan pencayahaan cukup tapi tidak menyilaukan.2. Buta WarnaBuku Pseudo Isokhromatik dan Ishihara

F. Cara Kerja1. Fungsi Penglihatana. Probandus berdiri / duduk pada jarak 6 meter dari Optotipe van snelenb. Tinggi mata horizontal dengan Optotipe van snelenc. Mata diperiksa satu persatu, dengan memasang bingkai kacamata khusus pada orang percobaan dan tutup mata kirinya dengan penutup hitam khusus yang tersedia dalam kotak lensa.d. Periksa visus mata kanan orang percobaan dengan menyuruhnya membaca huruf yang saudara tunjuk. Dimulai dari baris huruf yang terbesar ( seluruh huruf ) sampai baris huruf yang terkecil ( seluruh huruf ) yang masih dapat dibaca OP dengan lancar tanpa kesalahan.e. Catat visus mata kanan orang percobaanf. Ulangi pemeriksaan ini pada mata kirig. Catat hasil pemeriksaan

2. Tes Buta Warnaa. Pada ruangan dengan penerangan cukup, probandus diminta membaca nomor atau huruf di dalam buku ishihara.b. Setiap gambar harus dapat dibaca dalam waktu maksimal 10 detik.c. Catat hasilnya dan tentukan kelainan yang ditemukan menurut petunjuk yang terdapat dalam buku tersebut.d. Bila tidak ada yang buta warna, maka keadaan itu dapat distimulasi dengan memakai kacamata merah, hijau, dan biru dengan melihat langit selama 1 menit, kemudian segera diminta membaca gambar- gambar dalam buku.

BAB IIISI DAN PEMBAHASAN

A. Hasil1. Pemeriksaan VisusIdentitas probandusNama: Eka Wijaya W Usia: 21 tahunProbandus dapat melihat huruf pada papan Optotype Snellen di batas 20 sehingga didapatkan hasil :20 x = 6 maka hasilnya adalah 6/6.Interpretasi : probandus dapat melihat huruf pda optotype Snellen pada jarak 6 mter, sedangkan orang normal dapat melihat pada jarak 6 meter. Hal ini berarti bahwa probandus memiliki visus normal.2. Pemeriksaan Buta WarnaTidak ditemukan kelainan buta warna.3. Pemeriksaan Lapang PandangNama: Vici Muhammad Akbar Usia: 21 tahun

21 cm32 cm50 cm39 cmMata kanan

Gambar 2.1. Hasil Pemeriksaan Lapang Pandang Mata KananMata kiri

24 cm50 cm29,5 cm28 cm

Gambar 2.2. Hasil Pemeriksaan Lapang Pandang Mata Kiri

Rumus :

Keterangan :x : jarak yang di dapat dari probandusJarak : jarak mata probandus ke titik pusat perimetri (25 cm)

Tabel 2.1 Lapang pandang pada tes perimetri :CakupanNilai normalPemeriksaan Mata KananPemeriksaan Mata KiriInterpretasi

Superior50-6021 cm = 40, 03o24 cm = 43,83 oTidak normal

Inferior60-7039 cm = 57, 34o28 cm = 48,24oTidak normal

Medial6032 cm = 52o29,5 cm = 49,72 oTidak normal

Lateral90-10050 cm = 63,43o50 cm = 63,43oNormal

B. Pembahasan1. Pemeriksaan VisusPada pemeriksaan visus biasanya menggunakan kemampuan mata dalam membaca huruf-huruf berbagai ukuran pada jarak baku untuk kartu. Hasilnya dinyatakan dengan angka pecahan misalnya 20/20 untuk penglihatan normal. Tajam penglihatan nomal rata-rata bervariasi antara 6/4 hingga 6/6. Tajam penglihatan maksimum berada di daerah fovea. Faktor-faktor seperti kontras, berbagai uji warna, penerangan umum, kelainan refraksi mata dan waktu papar dapat merubah tajam penglihatan (Ilyas, 2009). Papan Optotype Snellen yang setiap hurufnya membentuk sudut 5 menit pada jarak tertentu sehingga huruf pada baris tanda 60, berarti huruf tersebut membentuk sudut 5 menit pada jarak 60 meter dan pada baris tanda 30, berarti huruf tersebut membentuk sudut 5 menit pada jarak 30 meter. Huruf pada baris tanda 6 adalah huruf yang membentuk sudut 5 menit pada jarak 6 meter, sehingga huruf ini pada orang normal akan dapat dilihat dengan jelas (Ilyas, 2009).Pada praktikum kali ini, didapatkan hasil visus 6/6 yang artinya probandus dapat melihat huruf pda optotype Snellen pada jarak 6 mter, sedangkan orang normal dapat melihat pada jarak 6 meter. Hal ini berarti bahwa probandus memiliki visus normal.2. Pemeriksaan Buta WarnaPada praktikum ini, probandus dapat membaca semua halaman di buku pseudokromatik Ishihara yang berarti probandus tidak buta warna.3. Pemeriksaan Lapang PandangHasil tes perimetri menunjukkan lapang pandang yang tidak normal pada cakupan lapang pandang superior, inferior, dan medial. Hal ini dimungkinkan dapat diakibatkan oleh beberapa hal berikut:a. Kesalahan praktikan dalam mengukur luas lapang pandang.b. Kurangnya koordinasi antara praktikan dan probandus dalam menentukan luas lapang pandang.c. Probandus memang memiliki kelainan lapang pandang (menyempit).C. Aplikasi Klinis1. Miopi (Rabun Dekat)Berkas cahaya pada myopia sinar sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibiaskan dan membentuk bayangan di depan retina (Taib, 2010).Patofisiologi (Taib, 2010) :a. Miopia Aksial: terjadi karena sumbu aksial mata yang lebih panjang daripada normalb. Miopia Kurvatura: terjadi karena kurvatura kornea atau lensa yang lebuh kuat daripada normal.c. Miopia indeks:terjadi karena indeksbias kornea ataupun lensa yang lebih tinggi daripada normal.d. Miopia Refraktif: bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesensi, dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan menadi lebih kuat.

Gejala Klinis (Taib, 2010):a. Gejala utamanya adalah kabur bila melihat benda jauh.b. Sakit kepala, namun jarang terjadi, kecuali disertai dengan astigmatisma. Kondisi sakit kepala ini jarang terjadi karena pada penderita myopia murni, penderita tidak pernah berakomodasi, karena dengan berakomodasi, penglihatan akan semakin kabur.c. Cenderung memicingkan mata bila melihat jauh, Hal ini sesuai dengan efek pin hole, dimana sinar yang dating hanya yang melalui visual aksis sehingga tidak dibiaskan.d. Suka membaca, terutama pada anak-anak, karena dengan membaca dia menjadi tidak ada yang mengusik.

Berdasarkan besar kelainan refraksi, dibagi menjadi (Taib, 2010) : a. Miopia Ringan : -0.25 s/d -3.00b. Miopia Sedang : -3.25 s/d -6.00c. Miopia Berat : -6.25 atau lebihDiagnosis/ Cara Pemeriksaan: Refraksi Subjektif Metode trial and error (Nurwasis, 2006; Taib, 2010) :a. Jarak pemeriksaan 6 meter/5 meter/20feetb. Digunakan kartu snellen yang diletakkan setinggi mata penderitac. Mata diperiksa satu persatud. Ditentukan visus/ tajam penglihatan masing-masing matae. Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan kaca mata sferis negativeCara pemeriksaan refraksi objektif (Nurwasis, 2006; Taib, 2010) :a. Retinoskopi: dengan lensa kerja +2.00, pemeriksa mengamati reflex fundus yang bergerak berlawanan dengan arah gerakan retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negative sampai tercapai netralisasi.b. Autorefraktometer (computer)

Penatalaksanaan miopi adalah dengan kacamata yang dikoreksi dengan lensa sferis negatif terlemah yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik. Bisa juga menggunakan lensa kontak untuk anisometria atau myopia tinggi, atau terapi bedah refraktif. Bedah refraktif kornea adalah tindakan untuk mengubah kurvatura permukaan anterior kornea (excimer laser, operasi lasik), sedangkan bedah refraktif lensa adalah tindakan ekstraksi lensa jernih, biasanya diikuti dengan implantasi lensa intraokuler (Nurwasis, 2006; Taib, 2010)2. Hipermetropia (Rabun Jauh)Hipermetropia merupakan kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mara dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibiaskan membentuk bayangan di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan karena berkurangnya panjang sumbu (hipermetropia aksial), seperti yang terjadi pada kelainan congenital tertentu , hipermetropia kurvatura karena kurvatura kornea atau lensa yang lebih lemah daripada normal, dan hipermetropia indeks yang terjadi karena menurunnya indeks bias refraksi, seperti yang terjadi pada afaksia (Taib, 2010).Gejala klinis hipermetropia meliputi (Taib, 2010) :a. Penglihatan jauh kabur, terutama pada hipermetropia 3D atau lebih, hipermetropia pada orang tua dimana amplitude akomodasinya menurun.b. Penglihatan dekat kabur lebih awal, terutama bila lelah, bahan cetakan kurang terang atau penerangan kurang.c. Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat pada penggunaan mata yang lama dan membaca dekat.d. Penglihatan tidak enak (astenopia akomodatif=eye strain) terutama bila melihat pada jarak yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas pada jangka waktu yang lama, misalnya menonton tv dll, terjadi astenopia akomodatifa yaitu keluhan nyeri sekitar mata, mata panas, nrocoh, yang disebabkan karena mata terus berakomodasi.e. Mata sensitive terhadap sinar (karena mata dalam kondisi lelah)f. Spame akomodatif yang menimbulkan pseudomiopia (setelah melihat dekat kemudian melihat jauh, akomodasi mata tidak menghilang, sehingga penglihatan jauh menjadi kabur, seolah-olah terjadi myopia). Jadi pada penderita dengan keluhan penglihatan jauh kabur, namun dari anamnesis keluhan astenopia/ perasaan penglihatan yang tidak enak dirasakan lebih dominan, perlu dicurigai sebagai pseudomiopia. Cara pemeriksaannya adalah dengan obat siklopegik.g. Perasaan mata juling karena akomodasi yang berlebihan akan diikuti konvergensi yang berlebihan pula. Esoforia, terjasi gejala trias parasimpatis n.II, yaitu akomodasi, miosis, dan konvergensi.

Klasifikasi hipermetropia berdasarkan besar kelainan refraksi dibagi menjadi (Taib, 2010)a. Hipermetropia ringan : +0.25 s/d +3.00b. Hipermetropia sedang : +3.25 s/d + 6.00c. Hipermetropia Berat : +6.25 atau lebih

Diagnosis / Cara pemeriksaan: Refraksi Subjektif Metode trial and error (Nurwasis, 2006) :a. Jarak pemeriksaan 6 meter/5 meter/20feetb. Digunakan kartu snellen yang diletakkan setinggi mata penderitac. Mata diperiksa satu persatud. Ditentukan visus/ tajam penglihatan masing-masing matae. Pada Dewasa bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan kaca mata sferis positiff. Pada anak-anak dan remaja dengan visus 6/6 dan keluhan astenopia akomodatifs dilakukan tes siklopegik, kemudian ditentukan koreksinya.Refraksi Objektif (Nurwasis, 2006) : a. Retinoskopi: dengan lensa kerja +2.00, pemeriksa mengamati reflex fundus yang bergerak searah dengan arah gerakan retinoskop (with movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis positif sampai tercapai netralisasi.b. Autorefraktometer (computer)

Penatalaksanaan hipermetropi yaitu dengan kacamata yang dikoreksi dengan lensa sferis positif terkuat yang menghasilakan tajam penglihatan terbaik. Lensa kontak digunakan untuk anisometria atau hipermetropia tinggi (Nurwasis, 2006; Taib, 2010).

3. PresbiopiPresbiopi merupakan suatu keadaan dimana kemampuan akomodasi mata berkurang karena proses sklerosis. Presbiopia bukan merupakan bagian dari kelainan refraksi, tetapi dia membutuhkan bantuan kacamata. Patofisiologi yang terjadi pada prespbiopia adalah, pada mekanisme akomodasi yang normal, terjadi peningkatan daya refraksi mata karena perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur meka lensa menjadi lebih keras (sklerosis) dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung, dengan demikian kemampuan melihat dekat makin kurang (Donahue, 2008).Gejala klinisnya adalah terjadi karena daya akomodasi yang berkurang sehingga titik dekat mata makin menjauh dan pada awalnya kesulitan membaca dekat huruf cetakan kecil. Dalam upaya melihat jelas, maka penderita cenderung menegakkan punggungnya atau menjauhkan objek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekatnya , dengan demikian objek yang dibaca dapat menjadi lebih jelas. Presbiopia timbul pada usia 45 th untuk ras Kaukasian dan 35 tahun untuk ras lainnya. Gejala klinis lainnya adalah kelelahan mata dan nyeri kepala.Untuk cara pemeriksaan, penderita terlebih dahulu dikoreksi penglihatan jauhnya dengan metode trial and error hingga visus mencapai 6/6. Dengan menggunakan koreksi jauhnya kemudiansecara binokuler ditambahkan lensa sferis positif dan diperiksa menggunkan kartu Jaeger pada jarak 33cm (Nurwasis, 2006).Penatalaksanaanya adalah dengan diberikan lensa sferis positif sesuai pedoman umur, yaitu pada umur 40 tahun ditambahkan sferis +1.00 dan setiap 5 th di atasnya ditambahkan lagi sferis +0.50. Lensa sferis positif yang ditambahkan dapat diberikan berbagai cara:a. Kacamata baca saja untuk melihat dekat sajab. Kacamata bifikal unutk melihat jauh dan dekatc. Kacamata progresif di mana tidak ada batas bagian lensa untuk melihat jauh dan dekat.Jika koreksi jauhnya tidak dapat mencapai 6/6 maka penambahan lensa sferis positif tidak terikat umur, tetapi boleh diberikan seberapapun sampai membaca cukup memuaskan (Nurwasis, 2006).Prognosis dari presbiopi ini adalah baik karena presbiobi dapat dikoreksi menggunakan kaca mata maupun lensa kontak. Komplikasi presbiopi bila tidak dikoreksi dapat makin parah dan mengakibatkan kualitas hidup menurun. Belum ada bukti ilmiah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya presbiopi (Donahue, 2008).

BAB IIIKESIMPULAN

1. Pemeriksaan visus yang dilakukan dengan optotype Snellen mendapatkan hasil normal apabila visus 6/62. Contoh dari kelainan refraksi antara lain miopi, hipermetropi, dan presbiopi.3. Kelainan refraksi dapat dikoreksi dengan pemakaian kacamata, lensa kontak, dan operatif.4. Buta warna dapat dideteksi dengan melakukan tes buta warna menggunakan buku pseudokromatik Ishihara.

DAFTAR PUSTAKA

Barret K, Barman M, Boitano S, Brooks H. 2010. Ganongs Review of Medical Physiology. US: The McGraw-Hill Companies.Donahue SP, 2008. Presbyopia And Loss Of Accommodation. In Yanoff M, Duker JS, Eds. Ophthalmology 3rd ed. St. Louis, Mo: Mosby Elsevier.Ginsberg, Lionel. 2007. Lecture Notes: Neurologi. Jakarta: Erlangga.Ilyas, S. 2009. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta : FKUI.Nurwasi. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata Edisi III. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dr. SoetomoRohmah, Yuyun Mawaddatur. 2011. Pemeriksaan Lapang Pandang. Jember: FK Universitas Jember Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem Edisi 6. EGC: Jakarta.Sloane, Ethel. 2004. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. EGC: Jakarta.Taib, Trisnowati, 2010. Handout Kuliah Ilmu Penyakit Mata, dr. Trisnowati Taib, Sp. M (K). Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga RSUD Dr. SoetomoWhitcher, John P and Eva, Paul Riordan. 2010. Oftalmologi Umum. Jakarta : EGC.

Embed Size (px)
Recommended