Home >Documents >KuliahTHT FK UWK Surabaya

KuliahTHT FK UWK Surabaya

Date post:14-Jul-2015
Category:
View:449 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Transcript:

CURICULUM

V ITAE

Nama Alamat

: dr.Rini Ardiana Rahayu, Sp THT : Taman Surya Agung G2/8 Wage Sidoarjo 031-7882197 Riwayat Pendidikan: Dokter Umum FK UNDIP Semarang 1984 Dokter Spesialis THT FK UNAIR Surabaya 1998 Riwayat Pekerjaan: 1984-1986 RS Siti Khodijah Kudus 1986-1986 Ka Puskesmas Keling II Kab Jepara

1986-1993 KA puskesmas Jepara II Pengajar SPK Muhammadiyah Kudus 1993-1998 PPDS THT FK UNAIR Surabaya 1998-1999 SMF THT RSUD Soetomo Surabaya 1999-sekarang Ka SMF THT RSD Sidoarjo Dosen Akper Depkes Sidoarjo 2006-sekarang Ka SMF THT RSD Sidoarjo Dosen Akper Depkes Sidoarjo Dosen UWK Surabaya

HIDUNG

Kekhususan pada hidung - Pintu gerbang pernafasan - Menentukan profil muka - Paling menojol shg mudah trauma

ANATOMI: I Nasus ExternusII Kavum Nasi III Sinus Paranasalis I . NASUS EXTERNUS 1. Apex nasi 2. Dorsum nasi

3. Radix nasi 4. Nares anterior 5. Columela 6. Basis nasi 7. Ala nasi Kerangka: 1. os nasalis 2. cartilago lateralis 3. cartilago alaris mayor 4. cartilago alaris minor 5. cartilago sesamoidea

PENYANGGA NASUS EKSTERNUS 1. septum nasi 2. proc nasalis os frontalis 3. proc frontalis, proc alveolaris os maxillaris, Tepinya membentuk lubang pd tengkorak seperti buah peer, disebut apertura piriformis, dengan spina nasalis anterior terdapat dibagian bawah median. OTOT OTOT NASUS EXTERNUS: A.otot dilator 1. m. procerus: dr bag bawah os nasalis + cart. Laterais nasi ke kulit radix nasi. 2. Caput angulare m. quadratus labii superior: dr proc frontalis + margo infra orbitalis maksila ke kulit pd ala nasi dan sulcus nasolabialis

B. Otot Konstriktor: 3. m.nasalis: a. pars transversa b. pars alaris 4. m. depresor septi Aliran darah nasus eksternus: a. dorsalis nasi, cab a ophthalmica/ carotis interna, menembus m. orbicularis oculi diatas ligamentum palpebra medialis, turun ke bawah beranastomose dengan a. angulare b. a. angularis, cab a. maksilaris eksternus/ carotis eksterna, dengan cabang ramus lateralis nasi + ramus alaris nasi,

berjalan vertikal keatasditepi lateral hidung, beranastomose dengan a. dorsalis nasi Pembuluh darah vena berjalan sejajar dengan arteri, dan ujung vena angularis masuk ke vena ophthalmic, yang selanjutnya masuk ke sinus cavernosus Saraf pada nasus eksternus - Otot: inervasi dari cab buccal dr n.fasialis (VII) - Kulit: inervasi dr cabang n. trigeminus (V)

1. n. Supra trochealis (cab. N. frontalis n. ophthalmic), ke kulit Radiks nasi + dahi 2. Ramus nasalis eksterna ( n. ethmoidalis- n. nasociliaris- n.oph thalmi), ke kulit aper + ala nasi. 3. Ramus palpebralis inferior (n. infratrochlearis- n. naso ciliaren. ophthalmic), ke kulit radix nasi 4. N. infra orbitalis: cabang n.maksilaris: - rami nslis eksternus : ke ala nasi - rami nasalis internus: ke septum mobile

Getah bening nasus eksternus: Kulit kaya anyaman kapiler limfatik terutama apek nasi, alirannya: - bersama v. facialis anterior ke limfonodi sub maksila - sebagian dari radiks nasi dan lateral hidung, melalui saluran di palpebra superior dan inferior, ke limfonodi parotis. - juga anastomose dengan saluran limfe di mukosa kavum nasi.

II. KAVUM NASIDibagi 2 kanan dan kiri oleh septum nasi, masing2 rongga t.d: Dinding : - dinding dasar (lantai) - atap - dinding lateral - dinding medial Lubang: depan: nares belakang: koane

Dasar kavum nasi:Dibentuk oleh: - depan: procesus palatinus os maksila -1/4 belakang: procesus horizontalis os palatina

Posisinya:- datar horizontal, dapat turun kebawah di bag belakang - ke lateral + medial melengkung ke atas Tebalnya: ke belakang makin tipis

Atap kavum nasiMelengkung seperti busur, lebarnya 4-5 mm Dibentuk oleh: - bag depan: os frontalis - bag belakang:os sfenoid - bag tengah: lamina cribosa os ethmoidalis (paling besar). Melalui foramina lamina cribo sa keluar ujung saraf n.olfaktorius ke mukosa septum + konka sup. atas

Dinding lateral kavum nasiDibentuk oleh dinding medial sinus maksilaris, terdapat: 3 tonjolan memanjang dari muka ke belakang, disebut konka, dengan lorong dibawahnya disebut meatus a. Konka inferior (terpanjang) - mukosanya tebal - mengandung plexus cavernosus konkarum - rangka tulangnya melekat pada: + krista konkalis os palatina, maksila,lacrimalis + procesus uncinatus os ethmoidalis

- lorong dibawahnya adalah meatus nasi inferior, dibagian depan terdapat muara ductus nasolacrimalis, yang dilindungi lipatan mukosa = katup dari Hasner = plica lacrimalis dari Hasner. b. Konka media( terbesar kedua) - mukosanya = mukosa pada konka inferior - rangka tulangnya bagian dari os ethmoidalis - lorong dibawahnya adalah meatus medius, terdapat: + bagian depan pd ddng lateral terdapat lekuk dsbt infundibulum ethmoid dg penonjolan membulat

dari posterior- superior disebut Bulla ethmoid. pintu masuk infundibulum disebut Hiatus semilunaris. Infundibulum ke anterosuperior berakhir pada ductus na so frontalis, atau kadang2 di celulae ethmoidalis anterior - dibagian tengah meatus medius terdapat osteum dari sinus maksilaris c. Konka nasi superior (terkecil) - mukosa tipis - rangka tulang merupakan bagian dari os ethmoid

- Lubang dibawahnya: meatus superior: + bermuara selule ethmoidalis posterior + diantara atap cavum nasi dan konka superior ada reses sus sfeno etmoidalis + osteum sinus sfenoidalis terdapat di ddng posteriornya d. Konka suprema: hanya kadang2 saja ada, kecil, kadang2 sebagai bagian konka superior yang mem belah jadi dua

Dinding medial cavum nasiDibentuk oleh: 1. bag superior lamina perpendikularis os etmoid 2. bag anterior kartilago kwadrangularis septum 3. bag posterior os vomer 4. bag antero inferior, disebut septum mobile, yang dibentuk oleh krus medialis cartilgo alaris

Mukosa kavum nasi:- Semua dilapisi mukosa, kecuali bagian nares dan vestibulum yang dilapisi kulit dengan rambut (vibricaea)

- Mukosa dilapisi epitel pseudo kompleks kolumner bersilia Diantara selnya terdapat sel goblet yang menghasilkan lendir dengan pH 6,5 dan mengandung lysosim sebagai antiseptik. - Mukosa di regio olfaktoria dilapisi epitel skuamus komplek yang mengandung banyak sel olfaktori - Mukosa di bagian anterior septum nasi di pars kartilagenus terdapat daerah yang mukosanya mengandung banyak anyam an pembuluh darah, disebut Pleksus Kiesselbach, sedangkan daerahnya disebut Area Little

Aliran darah kavum nasi1. A. Etmoidalis anterior (cab a. optalmika a. carotis eksterna), ke : - atap kavum nasi - septum nasi - dinding lateral kavum nasi bagian antero superior 2. A. Etmiodalis posterior (cab a. optalmika) ke: - septum nasi bagian posterior - dinding lateral kavum nasi bagian superior 3. A. Sfenopalatina (cab a.maksilaris interna a.carotis eksterna) ke dinding lateral kavum nasi

4. A. Nasopalatina (lanjutan a. Sfenopalatina) ke: - atap kavum nasi - sebagian besar septum nasi - dasar kavum nasi, beranastomose dengan a. palatina desenden, ke : - dasar kavum nasi - dd lateral kavum nasi bagian posterior 5. A. Lateralis nasi ( cab. Maksilaris eksterna), ke dinding lateral kavum nasi dekat nares 6 A. Faringea( cabang a. Maksilaris interna), ke bag posterior radiks nasi

7. A.Nasalis posterior septi (cabang a. Maksilaris Eksterna), ke bagian bawah septum nasi sepanjang dasar kavum nasi

Saraf di kavum nasiKavum nasi mendapat inervasi dari n. Trigeminus, yaitu: 1. N. Optalmikus n. etmoidalis anterior ramus nasalis interna: - rami nasalis interna medialis: ke mukosa septum nasi bagian anterior - rami nasalis interna lateralis, ke dinding lateral kavum nasi menerus sebagai ramus nasalis eksterna

2. N. Maksilaris: pada ganglion sfenopalatina: - rami nasalis posterosuperior: ri lateralis- ke konka sup+media ri medialis- ke septum nasi - rami nasalis posteroinferior(lateralis) ke konka inferior - n. alveolaris superior, menjadi ri alveolaris superior, anterior ke meatus inferior - n. infra orbitalis, menjadi ri nasalis internus, ke septum mobile dan vestibulum nasi

Aliran limfe: - Area olfaktori terpisah dengan regio respiratori- 2/3 - dialirkan ke belakang 1. Jaringan limfatik anterior: dari bag anterior kavum nasi, vesti bulum dan pre konka bermuara di sepanjang pemb darah fasialis yang menuju ke leher, kemudian beranastomose dengan saluran limfe nasus eksternus ke l.n. submaksilaris 2. Jaringan limfatik posterior: ada 3 sal limfe ke belakang: - Kelompok superior: dari konka media+superior + sebagian dinding hidung, berjalan diatas tuba eustskhius, bermuara di kelenjar limfe retro faringeal

- Kelompok media: dari konka inferior, meatus inferior dan dasar kavum nasi, berjalan di bawah tuba eustakhius, bermuara di kelenjar limfe jugularis. - Kelompok inferior: dari septum nasi dan dasar hidung -- ke kelenjar limfe sepanjang pembuluh darah jugularis interna.

III. SINUS PARANASALISAda 4 pasang: - Sinus maksilaris - Sinus frontalis - Sinus etmoidalis - Sinus sfenoidalis Masing-masing sinus ada keistimewaannya tentang: - letak sinus terhadap sekitarnya - letak osteumnya - masa pembentukannya

SINUS MAKSILARIS - Terletak di korpus os maksila, berada di kn kr rongga hidung - Pembentukan: waktu lahir belum ada(sebesar kedelai), berkem bang menjadi proporsional pada umur 3 th - Berbentuk piramid terbalik:- atap: dasar orbita - dd medial: dd lateral rongga hidung - dasar: berhadapan dengan akar gigi PM2 M3 atas - Osteumnya tinggi , lebih dekat dengan atap sinus, terletak di me atus medius, pd daerah hiatus semilunaris tertutup bulla etmoid

SINUS FRONTALIS - Terletak di tl dahi: dd depan tebal dd blk tipis, berbatasan dg fosa kranii anterior - Terbentuk sempurna pd umur 6 th, berasal dr selule etmoid ant, besarnya tidak selalu sama, kd2 tdk terbentuk/ hanya sebelah - Osteumnya: di meatus medius (ductus nasofrontalis) SINUS ETMOIDALIS ( SELULE ETMOIDALIS) - Terletak didalam labirin etmoidalis - Terbentuk waktu lahir - Bentuk selulae kecil2, jumlah banyak (3-15) dan saling berhub:

+ ke lateral: berbatasan dengan orbita, dinding tipis (lamina pariracea) + ke atas : fosa kranii anterior + ke medial: berhubungan dg rongga hidung melalui konka media dan superior - Dibagi menjadi 2 kelompok: + anterior: osteumnya di meatus medius + posterior: osteumnya di meatu superior, berhadapan dg osteum sinus sfenoidalis

- Tindakan operasi tidak boleh masuk ke fisura olfaktoria, karena dapat merusak lamina cribosa, akan menyebabkan rusaknya fila okfaktori terjadi liquorrhea (rhinore serebro spinal) meningitis.

SINUS SFENOIDALIS - Terletak didalam korpus os sfenoidalis + keatas : berbatasan dengan fosa kranii + kel pituitaria + ke belakang : berbatasan dg fosa kranii posterior + ke samping : berbatasan dg sinus kavernosus, N III, N IV, N VI - Osteumnya terletak di dinding anterior, bermuara di resesus etmoidalis, di meatus superior, belakang konka superior

FISIOLOGI HIDUNGSebagai pintu gerbang saluran nafas, mempunyai fungsi: I. Respiratorius II. Olfaktorius III. Resonansi suara IV. Drainase dan ventilasi I . Fungsi respiratorius ( vital dalam kehidupan) - menyiapkan udara agar sesuai dengan keadaan fisiologi paru (conditioning the air), sebab udaraberubah-ubah. Jika tidak disesuaikan dulu, paru bisa rusak/ sakit.

- Perubahan udara: + panas dingin + kering lembab + berdebu, berasap, ada kuman - Pelaksanannya: + Mengatur banyaknya udara yang masuk: - tidak kolaps waktu inspirasi keras, ini berkat rangka hidung yang kaku - kavum nasi dapat melebar atau menyempit,berkat adanya: + konka nasi + nares

+ menyiapkan udara dengan cara: - menyaring + membuang partikel2: yang besar oleh vibricae vestibulum nasi yang kecil: melekat pd lendir mukosa gerakan silia - membasahi/ mengatur kelembaban: dg menguapkan lendir dr sel2 goblet di kavum nasi bl sangat kering, mukosa faring ikut bekerja, sehingga penderita merasa haus - memanasi udara: dilakukan oleh mukosa konka yang kaya pembuluh darah, agar sesuai suhu paru 36 37 C

+ Disinfeksi: karena udara luar tidak steril, mekanismenya: melekat pd mukosa, selanjutnya:-ada enzym lizozym -lendir mukosa asam,ph 6,5 -silia epitel mukosa, bila belum berhasil ke kelenjar limfe regional

Faktor2 yang mempengaruhi jalannya udara dlm kavum nasi: - arah nares- bentuk kavum nasi - pembuntuan relatif krn nares yng lebih kecil dari cavum nasi dan koane tjd perubahan tekanan,

sehingga waktu inspirasi terjadi: - udara mengalir keatas mencapai regio olfaktoria - udara mengalami pusaran , sehingga dapat kontak se banyak2nya dengan permukaan mukosa II. Fungsi olfaktorius: + Pd manusia tidak begitu utama, lebih berarti segi psikologis - bau seseorang merupakan daya tarik individu - saraf pembau bekerjasama dg saraf pengecap (gustatoris) Bila saraf pembau rusak, penderita juga mengeluh ganggu an pengecapnya

+ Pada hewan, fungsi olfaktoris sangat berguna memper tahankan kelestarian yaitu:- mempertahankan diri - mencari makanan - mempertahankan spesies III. Fungsi resonansi suara Sebagai resonator suara yang dihasilkan laring: + Bila obstruksi suara sengau (rhinolaia oclusa) + Sebaliknya rhinolalia aperta, pada parese otot palatum molle

IV. Fungsi drainase dan ventilasi: + Drainase: oleh gerakan silia epitel mukosa yang mengalir kan sekret ke belakang + Ventilasi: memasukkan udara dang mengganti udara dalam rongga sinus dan kavum timpani

PEMERIKSAAN HIDUNG1. Inspeksi: yang diperhatikan: + Perubahan bentuk: - melebar: polip penuh - miring : fraktur, trauma - udem - impresi: post lues, abses septum + Perubahan warna: merah, oleh karena radang + Adanya luka,macerasi dll

2. Palpasi: + Menentukan adanya krepitasi, dislokasi, rasa sakit dll Mis: - trauma nasi, ada dislokasi,krepitasi --- fraktur nasal - nyeri pada ala nasi --- furunkel + Palpasi rasa sakit pada sinus paranasalis: - Sinus maksilaris: tekan pd fosa canina dengan ibu jari arah medio superior dengan tenaga optimal, simetris kanan kiri Hati2 jangan menekan daerah foramen infra orbitalis, ok ada n.infra orbitalis (menimbulkan rasa sakit hebat). Hasil + bila ada beda rasa sakit antara kanan dan kiri

- Sinus frontalis: tekan pd dasar/ lantai/ dd depan sinus frontalis seperti tsb diatas, hati2 jangan tekan daerah foramen supra orbitalis, karena hasilnya dapat bias. Hasil + seperti tsb diatas 3. Rinoskopi anterior: melihat kavum nasi melalui vestibulum nasi Alat yang diperlukan: - lampu kepala - spekulum hidung Kalau perlu kavum nasi dilebarkan dulu dengan dimasuki/ aplikasi kapas yg dibasahi lidocain efedrin 2%, supaya lebih longgar

Dapat dilihat: + konka nasi: inferior, media ( yg sup biasanya tak tampak) diperhatikan: - warna: hiperemi/ pucat - udem, hipertrofi - ada tumor dll + meatus nasi: inferior, media dan fisura olfaktoria diperhatikan: sekret, tumor dll + septum nasi: diperhatikan: -warna mukosa - deviasi septum - laesi area little - tumor dll

+ kavum nasi: sekret, korpus alienum, tumor dll + Fenomena palatum molle:gerakan palatum mole dapat dilihat melalui kavum nasi bila penderita disuruh mengucapkan iii --akan terlihat sebagai gerakan/ sesuatu yang menutup naso faring. Ini disebut Fenomena palatum molle + Fenomena palatum molle negatif pada: - parese palatum mole - masa di naso faring: adenoid, tumor.

4. Rinoskopi posterior Yaitu melihat nasofaring dan bagian belakang kavum nasi dengan kaca nasofaring lewat orofaring Alat alat: - lampu kepala - spatula lidah - lampu spiritus - kaca nasofaring

Cara: Apabila penderita sensitif, pemeriksaan dimulai 5 menit stl kedalam faring disemprotkan lidocain 10% sbg anestesi. Pegang cermin menghadap keatas dg tangan kanan, sblnya dipanasi dg lampu spiritus smp suhu lebih sedikit dr 37 C. Pegang spatula dg tangan kiri utk meekan pangkal lidah.

Yang dapat dilihat: - Atap dan dd lateral nasofaring: tumor, adenoid, osteum tuba. torus tubsrius, fosa rosenmuleri. - Tepi dorsal septum nasi. - Kauda konk inferior dan media: normal/ hipertropi. - Kavum nasi bag belakang: post nasal drip, polip, tumor dll. 5. Transiluminasi: (Diaphanoscopia) Adl pemeriksaan rongga menggunakan sinar lampu 6 volt ber tangkai panjang(Heyman), yang dikerjakan di kamar gelap. Biasanya dilakukan pada sinus maksilaris dan frontalis.

Transiluminasi sinus maksilalis: + lampu yang diselubungi tabung gelas dimasukkan kedlm mulut, mulut ditutup rapat. Cahaya yg memancar dr mulut + bibir atas ditutup dg tangan kiri. + Hasil: - pd SM normal, didaerah dd depan dibwh orbita terlihat bayangan terang berbentuk bulan sabit. - apabila ada cairan pus, mukoid, darah dan tumor, akan terlihat gelap. + Penilaian: hanya mrmpunyai nilai bila ada perbedaan antara kiri dan kanan.

Trasiluminasi sinus frontalis + Lampu ditekankan pd dasar/ lantai sinus frontalis arah medio superior, penderita dg mata tertutup. Cahaya yg memancar ke depan ditutup dg tangan kiri. + Hasil: normal bila dd depan sinus terlihat terang. + Penilaian:hanya punya nilai bl ada beda antara kiri dan kanan. 6. X Foto rontgen: + Posisi utk menilai sinus maksilaris yang baik adl Waters, disamping ada posisi yg lain yaitu Caldwell.

+ Penilaian:- normal : hitam - ada sekret, mukoid/pus, darah, tumor: suram/putih. - obstruksi kronis: penebalan mukosa. - perhatikan adanya destruksi tulang. 7. Pungsi percobaan sinus maksilaris: + Alat: alat pungsi yg disebut troicart + Cara:- meatus inf dianestesi dg lidocain 10% + efedrin 1% selama 5-10 mnt - troicart ditusukkan meatus inf 1/3 depan arah 30, - kemudian di irigasi dg larutan PZ steril.

8. Biopsi: mengambil sedikit jaringan utk pem. Patologi Anatomi. Cara: - Anestesi dg Xylocain : Efedrin 10:1 selama 5-10mnt. - Jaringan yg dicurigai diambil sedikit dg biopsi tang. - Masukkan dlm botol berisi alkohol 96% atau formalin. - Kirim ke Lab. Patologi Anatomi 9. Pemeriksaan Laboratorium: Untuk menunjang diagnostik: - Pem laboratorium rutin - Histopatologi, Cytologi - Immunologi

HIDUNG BUNTU (OBSTRUKSI NASI)Yaitu hambatan masuknya udara inspirasi melalui hidung Dapat terjadi: - Akut - Total - Unilateral Akibat yang ditimbulkan: 1. Pada fungsi hidung: a. Gangguan oksigenasi--- aproseksia nasalis--- sukar konsen trasi, mudah ngantuk dan lupa. b. Gangguan fungsi membau--- udara tidak mencapai regio olfaktori--- terjadi hiposmia/ anosmia. - Kronis - Partial - Bilateral

c. Gangguan resonansi suara karena aliran udara ke rongga hidung terganggu, sehingga sukar mengucapkan huruf n, ng, ny, m (rinolalia oklusa). Kebalikannya bila rongga hidung terlalu lebar/ terbuka --terlalu banyak aliran udara--- sulit mengucapkan huruf k, g, t, d, p, b (rinolalia aperta) 2. Pada sinus paranasalis: terjadi gangguan ventilasi + drainase--Oksigen dlm sinus diresorbsi, tjd - vakum sinus--- kemeng, sakit - vasodilatasi --- transudasi - mudah infeksi--- sinusitis

3. Pada mata: epifora 4. Pada mulut ( karena penderita bernafas lewat mulut) - mulut kering - mudah terjadi pembusukan makanan--- foetor ex ore - mudah terjadi karang gigi ok pengendapan mineral 5. Pada telinga: Terjadi pembuntuan tuba( oklusio tuba)--- MT tertarik (pende ngaran turun)--- transudasi --- kuman--- eksudasi--- otitis media

Penyebab buntu hidung 1. Radang mukosa hidung 3. Pertumbuhan: - Polip - Tumor : fibroma, papilloma, carcinoma 4. Kelainan anatomi: a. bawaan (kongenital): atresia koane b. didapat deviasi septum nasi -- sinechia -- trauma: fraktur, deviasi, epistak sis, stolsel,hematom , 5. Benda asing dan abses septi 2. Alergi

RINITIS AKUTA(common cold, coryza acuta) Adalah radang pada mukosa hidung Penyebab: + virus + bakteri: - Streptokokus - Pneumokokus - Hemofilus Influenzae Mekanisme: virus merusak pertahanan mukosa, sehingga bakteri menginfeksi Penularan: + percikan ludah + kontak langsung, dipengaruhi oleh: - virulensi - fc predisposisi

Faktor predisposisi I. Faktor luar: 1. Atmosfer: - virus hidup baik pd kelembaban (humidity) tinggi - suhu dan angin mempengaruhi dy tahan tubuh, misal: dingin--- vasokonstriksi --- iskhemi. 2. Ventilasi ruangan: tertutup, berjubel. 3. Debu, gas dll. II. Faktor dalam: + kelelahan, kurang gizi, kurang vitamin. + penyakit kronis + lokal: alergi, obstruksi kronis.

+ penyakit dengan exantem: morbili, variola, varicella, scarlatina. Patologi: + Pd permulaan : - vasokonstriksi --- vasodildtasi--- tjd udem = aktifasi kelenjar - infiltrasi lekosit + deskwamasi mukopurulen - toxin --- gll umum + pd stadium resolusi: tjd resolusi --- normal kembali Gejala klinis: gejala pokok pilek, bersin dan hidung buntu

Ada 3 stadium: 1. Stadium prodromal( hari ke I ) Keluhan: hidung panas, kering bersin, pilek encer, buntu Pem RA: Kavum nasi sempit, udem, hiperemi, sekret encer 2. Stadium akut ( hari 2-4) Keluhan: malaise, pening, subfebril Pem RA: lebih sempit, udem hiperemi, sekret mukopurulen 3. Stadium resolusi ( hai 5-7) Keluhan berkurang Pem RAberkurang

Rinitis akut dapat didahului oleh nasofaringitis, faringitis, laringitis Diagnosa banding: Rinitis akut (prodromal) Rinitis alergika Gejala umum Waktu gejala Sifat sekret Alergen Terapi: Umum: a. hindari kedinginan ( pakaian, makanan, mandi) b. simtomatik: asetosal + 1- 2 hari mengental ssdh 3-4hr lama(miggu-tahun) encer terus + (anamnesa+skin tes)

Asetosal: - analgetik antupiretik - anti radang( merangsang kortek adrenalin) - pencegahan ( lebih dari 2 jam tak ada efek lagi) - vasodilatasi perifer --- badan menjadi hangat Lokal: Tetes hidung sol glukoefedrin 1% dlm gukose 5%/PZ Fungsi tetes hidung: - melebarkan - desinfeksi ( asam) Pencegahan: + hindari kontak diet bergizi + imunisasi + naikkan dy tahan,hindari lelah, dingin, snr UV,

Komplikasi: 1. Otitis Media Akuta, akibat dr: - radang menjalar - cara buang ingus salah 2. Sinusitis Paranasalis 3. Infeksi traktus respiratorius bag bawah 4. Eksaserbasi penyakit jantung, asma Prognosa: self limiting disease, sembuh sendiri 7-10 hari

RINITIS AKUTA PADA BAYIManifestasinya lain karena: Klinis: Keluhannya didapat dr ibu, rewel, menyusu sebentar dilepas krn buntu, shg anak selalu menangis. Pertolongannya: sol gluko efedrin %, jam sebelum menyusu Komplikasi: - Otitis Media Akuta - Gastoenteritis Pencegahan: - hindari kontak - penderita rinitis akuta memakai masker

Terapi dan perawatan: + Isolasi + ADS 20.000 IU + Antibiotika: Penisilin 300.000 -600.000 IU selama 10 hari Komplikasi: menyebar ke nasofaring, faring ,laring Prognosa: - baik, karena toksin tidak menyebar - karena komplikasi dan gejala umum tidak spesifik, hal ini dapat merugikan karena penderita tidak berobat sehingga terjadi bahaya penularan

RINITIS DIFTERIKAYaitu radang akut hidung spesifik karena kuman Corynebacterium Dyptheriae, dengan kekhasan adanya pseudo membran. Klinis: - Keluhan :adanya pilek bercampur darah - Pemeriksaan: terdapat pseudomembran yang bila dilepas mudah berdarah di konka inferior, septum nasi bag depan, dasar kavum nasi bagian depan, kadang- kadang berbau busuk. - Diagnosa pasti: hapusan sekret hidung + kultur Diagnosa banding: + Corpus alinum + Rinitis kronis + Dermatitis vestibularis nasi

RINITIS KRONIKA ATROPIKANAda 2 jenis, yaitu: 1. Foetida ( berbau) : Ozaena 2. Non Foetida (tidak berbau)

OZAENAEtiologi: yang pasti belum diketahui, hanya ada faktor predukasi 1. Bakteri: - Kokobasilus Ozaena - Klebsiella Ozaena 2. Herediter 3. Malnutrisi / Avitaminosis A 4. Gangguan hormonal ( wanita, usia ) 5. Defisiensi Fe Faktor2 ini tidak berdiri sendiri2 tapi bersama-sama

Patologi: terdapat endarteritis + periarteritis arteriole--- obliterasi --- terjadi atropi dari konka nasi, kelenjar dan saraf. Insiden: Wanita: Laki-laki: 5:1 Diagnosa: Keluhan utama: - nafas berrbau yang dikeluhkan orang lain, krn penderita sendiri anosmia - hidung buntu karena: + adanya krusta + ggn aliran udar(aero dinamika) + faring kering

Pem RA: - kavum nasi luas krn atropi mukosa - mukosa licin, sekret kental - krusta kering kehijauan bau busuk Diagnosa banding Sinusitis maksilaris: - unilateral - konka udem, hiperemi, shg kavu nasi sempit Terapi: - INH - Vit A 150.000-200.000 IU - Preparat Fe - Estrogen

- Obat cuci hidung: Na Bicarbonat Na Klorida Amonium Klorida aaa 5 Aqua ad 200 Cars pakai: 1 sendok makan + 9 sendok air hangat, ditaruh di cawan, kemudian disedot melalui hidung dan dan dibuang melalui mulut. Dilakukan sehari 2X. Ada yg melakukanoperasi dg menyempitkan kavum nasi membesarkan konka

RINITIS KRONIKA ATROPIKAN NON FOETIDAPerbedaan dengan ozaena, disini tidak ada anosmia dan sekret tidak berbau Penyebab: - Konkotomi yang berlebihan - Post Polipektomi pada polip yg sangat besar/ banyak - Post radiasi

RINOSKLEROMAYaitu penyakit infeksi kronis dan progresif berbtk granulomatus pada mukosa saluran pernafasan atas dan bwh, dimana mukosa Yang terkena menjadi keras. Etiologi: Diplobasil Klebsiella Rhino Scleromatis Epidemiologi: + Penyakit menular pada masyarakat yang padat penduduk nya dan sosioekonomi rendah, mis: petani, buruh dll. + Di Indonesia: Bali, NTB, Sulut, Sumut + Di Luar Negeri: Amerika Latin, India, Pakistan, Afrika Utara Eropa Timur

Insiden: - semua umur: terbanyak 15-45 th - pria: wanita sama - tidak ada faktor herediter Penularan: percikan sekret wkt bicara, batuk, bersin. Perjalanan penyakit - lambat tp progresif: 15-20 th - mukosa melunak --- cicatrix--- jadi keras Stadium penyakit: 1. Rinitis mukopurulen: tjd pelunakan mukosa yang terserang. Sekret mukopurulen, bila mengering terbentuk krusta, berbau busuk

2. Stadium noduler (granuloma sub mukosum) Terbentuk nodul yang permulaannya merah kebiruan dan kenyal, selanjutnya pucat dan keras. histologis: - atropi dan hiperplasi epitel mukosa - Hialin Bodies dari Russel - Sel mikulics ( foam cell): sel makrophag besar sitoplasma berbusa nukleus kecil, eksentrik

- Diplobasilus Klebsiella Rhino scleromatis didlm sel makrofag - Jumlah sel plasma, eosinofil dan limfosit bertambah, sedang kan PMN sedikit. 3. Stadium skleroma (cicatrik) Terbentuk sikatrik--- retraktif + kontraktif --- terjadi perubahan bentuk/ malformasi organ yang terkena: stenosis hidung, laring dan bronkus Lokalisasi: tempat yg klasik hidung. Kelainan biasanya mulai pd tepi anterior mukosa hidung, dpt menyebar ke bag yg lebih dalam faring, laring, kd trachea + bronkus.

Diagnosa: Gejala klinis: hidung buhtu ( pd semua stadia) sekret mukopurulen akb pelunakan mukosa ada nodul stenosis karena sikatrik tidak ada rasa sakit, kec bl ada ulkus krn korek2 bila laring trkena, suara parau Pemeriksaan: tergantung stadium, dapat ditemukan: + Pembengkakan dan deformitas: bibir atas, vestibulum + kavum nasi, pall mole, faring, laring

+ Histologis: seperti tersebut diatas Diagnosa banding: 1, Lues: ulcus dalam, tepi kemerahan, WR/ Khan + 2. Tbc: ulcus menggaung, tepi tidak terasa, kepucatan 3. Rinitis kronika atropikan: anosmi, fetor nasi, atropi konka nasi dan sekret kehijauan. 4. Karsinoma: tumbuh cepat, PA ditemukan sel keganasan. Pengobatan: 1.Obat-obatan: bakterisid dan antibiotika dosis tinggi 4-6 minggu dan diteruskan smp 2x hsl biopsi ber turut2 -

ampisilin, septrin, vibramisin, streotomisin -1g/hari selama 3 minggu. 2. Kortikosterod: menekan granuloma 3. Operatif: memperbaiki airway Pencegahan: hindari kontak Prognosis: jelek, terutama bila terkena laring

SINDROMA ALERGI HIDUNGYaitu kumpulan gejala pada kavum nasi, sebagai manifestasi reaksi alergi. Alergi: Suatu reaksi abnormal yang bersifat khas yang timbul bila ada kontak dengan substansi alergen Dasar patofisiologi alergi: Bila benda asing(alergen) masuk---terjadi respon imun---terbentuk Zat anti (Y) ( Reagin, Ig E) yang menempel pada permukaan mas tosit dan basofil , yg mengandung granula(sel mediator)--- mjd sel mediator yang tersensitisasi

Bila kontak lagi, tjd degranulasi--- dilepaskan zat mediator: - histamin - serotonin - bradykinin - ECF-A: Eosinofil Chemotactic Factor of Anaphylactic - SRS-A: Slow Reacting Substans of Anafilactis Manifestasi klinik: tergantung 2 faktor: - Organ sasaran (lokasi + jenis) - Alergen penyebab: sifat, konsentrasi, cara masuk

RINITIS ALERGIYaitu sindroma alergi dg alergen spesifk, atau sensitif terhadap Alergen spesifik Penyebab: biasanya berupa protein dengan berat molekul tinggi: - Polen (tepung sari) --- Polinosis - House dust (debu rumah), mengandung kotoran tungau (mite) - Kapuk - Bulu hewan piaraan - Makanan: seafood, telur,susu, bbrp buah-buahan

Berdasarkan sifat berlangsungnya dapat dibedakan: 1. Rinitis alergi musiman (seasonal) 2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perenial)

RINITIS ALERGI MUSIMAN (SEASONAL)Tak dikenal di Indonesia, krn hanya tjd di negara 4 musim Penyebab: alergen spesifik yaitu tepung sari/ spora jamur. Timbulnya: - sesuai musimnya - berat ringannya bervariasi, tgt banyaknya alergen

Insiden: Bisa pada semua gol umur, anak, dewasa Biasanya ada faktor herediter Diagnosa: - Gejala: merupakan rinoconjuctivitis hidung: gatal dan bersin paroksismal, rinore, bu kadang gatal di palatum mata: merah, gatal disertai lakrimasi - Pem RA: mukosa hidung pucat kebiruan ( livide), tp dpt hiperemi - Terapi: desensitisasi

RINITIS ALERGI SEPANJANG TAHUN (PERENIAL)Timbul intermiten, terus menerus tanpa variasi musim. Penyebab: - Yang plng sering alergen inhalan, terutama pd orang dewasa. - Anak anak alergen ingestan Dapat diperberat oleh faktor iritasi non spesifik: - asap rokok - bau merangsang - perubahan cuaca - kelembaban tg. Gangguan fisiologi jenis perenial lebih ringan dr jenis seasonal, Tapi krn lebih persisten, maka lebi sering tjd komplikasi.

Patofisiologi: Pd reaksi antigen antibodi Ig E --- tjd pelepasan zat mediator oleh Mastosit / sel mediator. Zat mediator yg berperan adl histamin. Efeknya: - dilatasi pemb darah kecil - menngkatkan permeabilitas kapler--- cairan keluar. - pd saraf sensoris: meningkatkan sekresi dan bersin. Gejala klinik: - Khas serangan bersin berulang, > 5X tiap serangan - Rinore encer dan banyak - Hidung tersumbat dan gatal, mata gatal

- Pada anak gejala sering tidak lengkap, tp bisa disertai gjejala spesifik lainnya: + allergic shiner : bayangan gelap daerah bawah mata akibat obstruksi + allergic salut: sering menggosok hidung dg punggung tangan krn gatal + allergic crease: lama lama timbul garis melintang di dorsum nasi Diagnosa: + Anamnesa: 50% dapat ditegakkan + Pem:-RA: mukosa udem, basah, pucat, livide, sekret encer.

- Sitologi: + eosinofil: alergi inhalan + basofil : alergi makanan + P M N : infeksi bakteri Terapi: + Hindari kontak + Simptomatis: - antihistamin - bila konka hipertropi, dapat dilakukan: * Kaustik Ag NO3, Asam Triklor Asetat * Operasi Konkotomo bl hipertropi berat + Imunoterapi: desensitisasi/ hiposensitisasi

Komplikasi: + Otitis media + Sinusitis paranasalis + Polip hidung

RINITIS VASOMOTORAdalah buntu hidung karena gangguan keseimbangan fungsi Vasmotor, atau bertambahnya aktifitas parasympatis. Etiologi: - yang pasti belum diketahui - diduga terkait sistem saraf otonom. Nervus Vidianus, yang mengandung saraf simpatis dan para simpatis, bila dirangsang pada: - Parasimpatis: vasokonstriksi permeabilitaskapiler dan sekresi kelenjar. - Simpatis : efek sebaliknya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor: 1. Obat-obatan yg menekan simpatis:- ergotamin, chlorpromasin - anti hipertensi - vasokonstriktor topikal 2. Faktor fisis: iritasi oleh: - asap rokok - bau merangsang - kelembaban tinggi, mis hujan lembab bersin-bersin - perubahan suhu udara: udara dingin=trauma fisis -mengakibkan limfosit/plasma sel melepas mediator kimiawi

3. Faktor endogen: - kehamilan - pil KB - pubertas - hpotyroid 4. Faktor psikis: - kecemasan - ketegangan Gejala klinik:- hidung tersumbat, bergantian - rinorea - bersin-bersin, tidak ada gatal mata Biasanya pagi hari, memburuk karena kelembaban

Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan: 1. Type obstruksi (blockers) 2. Type rinorea Diagnosa: Anamnesa: singkirkan dengan rinitis alergi Pemeriksaan: - RA: - udem mukosa hidung - konka merah gelap/ merah tua, tapi kadang dapat pucat - sekret mukoid, hanya sedikit - Lab: tak ada eosinofil, kadang ada tapi sedikit.

Komplikasi: jarang, akibat obstruksi nasi: - OMA - Sinusitis Terapi: 1. Hindari penyebab: - mandi hangat - olah raga - bila kedinginan : asetosal, salamid 2. Simptomatis: - dekongestan oral - kortikosteroid topikal - kalau perlu Kaustik dengan Asam Trichlorasetat 3. Operasi Konkotomi, bila diperlukan

POLIP NASI

Penyebab: masih diperdebatkan, yg masih dianut radang kronis dan alergi berulang. Patofisiologi: Bakterial alergi berulang-periflebitis, perilimfangitis dan degenerasi mukosa.Akibatnya aliran kembali cairan interstisial terhambat oedem--penonjolan mukosa-- bertangkai-- terjadi polip/cyste. Patologi anatomi: Makroskopis: masa lunak, licin,bening/pucat. Mikroskopis : - mukosa oedem dan hipertropi

- epitel silindris dengan atau tanpa bulu getar, dapat metaplasi kuboid, bertatah. - stroma jaringan ikat longgar: dengan cairan interstisial banyak sal limfe melebar sedikit pembuluh darah+ serabut saraf terdapat tumpukan sel limfosit, plasma sel dan eosinofil

Pembagian Polip A. Menurut bentuk: 1. multipel : dr sel etmoid, paling sering 2. soliter : dr sinus maxilaris B. Menurut Patologi Anatomi: 1. seromukus : licin, lunak,kalau pecah keluar cairan seromukus-- kempis 2. fibrooedematus: kasar, padat, kalau pecah keluar darah-- tidak kempis INSIDEN: - dewasa muda, jarang pada anak - laki-laki > wanita

Gejala: -Keluhan:- rhinorhoe - obstruksi nasi dengan gejala yg diaki batkan yi bindeng, batuk dll. -Pemeriksaan: - inspeksi: bila penuh, dorsum nasi melebar, hidung gepeng-- FROG FACE - RA: tampak jar polip. Jenis fibrooedematus perlu dibedakan dg konka nasi dg cara diberi kapas sol. Efedrin. - RP: didapatkan polip pada koanal polip.

Diagnosa banding 1 Angiofibroma nasofaring juvenilis: dibedakan dengan adanya perdarahan 2 Inverted papilloma: biasanya usia lanjut 3 Meningocel: pada bayi Terapi - tidak ada terapi kausal - dilakukan ekkstraksi jar polip dg anestesi lokal atau umum:- polip ditarik dg polip tang atau jerat - kalau perlu dilakukan etmoidektomi - kalau bnyk, asal sinus maksilaris-operasi CALDWELL LUC

RINITIS MEDIKAMENTOSAAdalah buntu hidung karena respon vasomotor terganggu akibat pemakaian vasokonstriktor yang lama/ berlebihan.

ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA (JUVENILIS)Adalah tumor di nasofaring yg kaya pembuluh darah besar dan melebar dg hiperplasi endotel dg stroma yg t.d: - fibroblas - serat kolagen tanpa tunika muskularis Insiden: - umur 10-17 th - laki-laki > wanita Lokasi tumor:- atap nasofaring,pada umumnya unilateral - dinding lateral nasofaring, pd umumnya unilateral - jarang pada garis tengah nasofaring.

Histopatologi - Jaringan ikat oedematus dg banyak pembuluh darah yg melebar dan kapiler yg saling berhubungan dan hanya dilapisi endotel tanpa tunika muskularis - tumor yg sedang tumbuh aktif bnyk elemen vaskulernya, tapi dengan meningkatnya usia jaringan fibrousnya lebih dominan (regresi jaringan vaskuler) Gejala klinis - epistaksis berulang, ada sblm gjl obstruksi nasi - obstruksi nasi dengan berbagai akibatnya

Sifat tumor - Histologis: jinak -Klinis : tumbuh expansif, destruksi tulang dan tumbuh meluas. Etiologi : belum pasti 1. Teori jaringan asal: - dari cartilago embrional, defisit androgen, kelebihan estrogen - dari fasia basilaris/aponeurosis pharyngeal, dengan jaringan vaskuler ektopik 2. Ketidakseimbangan hormon sex (ada kecende rungan regresi dg kematangan sex)

Perluasan tumor - Ke anterior:+ cavum nasi + mendesak septum nasi + keluar vestibulum nasi + msk sinus maksilaris-- ke fosa spenomaxilaris-- expansi ke pipi + msk orbitaprotusiobulbi+n.optikus - Ke inferior: mendesak palatum molle-- menutup jalan nafas - Ke superior: mendesak basis cranii-- masuk ke cavum cranii

Diagnosa: didasarkan pada:1. umur penderita: 10-17 th 2. gejala subyektif diatas 3. diagnosa pasti: biopsi ( di OK) Diagnosa banding 1. Koanal polip: permukaan rata, pucat, oedematus dan lunak 2. Adenoid: permukaan irreguler, ditengah, tdk mudah berdarah 3. Karsinoma nasofaring: + umur 30-50 th atau lebih + ada gejala lokal dan metastase + KU menurun + pemeriksaan PA: keganasan

4. Fibroma nasofaring: + dapat terjadi pd semua umur + dinding penb drh ada tunika muskularis + perdarahan lebih mudah dihentikan Terapi 1.Obat-obat hormonal: a. estrogen: mengecilkan tumor b. zytonal: lebih mengecilkan tumor sehingga mempermudah operasinya 2. Radiasi: mengecilkan tumor 3. Operasi: pengangkatan tumor

Operasi pengangkatan: a. dijerat, kemudian diikat b. dengan pendekatan:- transpalatal - rhinotomi lateral - rhinotomi sublabial

Stadium tumor: utk menentukan perluasan atau derajat tumorStadium I: tumor masih di nasofaring Stadium II: meluas ke rongga hidung atau sinus sphenoidalis StadiumIII: Tumor meluas ke salah satu: - sinus maksilaris - sinus ethmoidalis

- fosa pterygomaxilaris - infra temporal - rongga mata atau pipi Stadium IV: meluas ke rongga intra kranial

Prognosa: - Stadium dini baik- Stadium lanjut jelek

KARSINOMA NASOFARINGTumor ganas kepala leher terbanyak (60%) Dokter Umum perlu tahu krn stad dini dtng ke dokter umum, sdk ke dr THT sdh stadium lanjut - Insiden: + banyak pd ras mongoloid: Cina Selatan,Hongkong Vietnam, Thailand Malaysia, Singapura, Ind + dpt pd ras non mongoloid:Yunani, Afrika Utara,Eskimo + penderita di Indonesia: *umur rata-rata 30-50 th ( tertua 79 th, termuda 1 th)

* laki-laki: wanita 2:1 * banyak pd penduduk pribumi/WNI - Faktor yg diduga ikut berperan: * Faktor ras * Bahan karsinogen: asap rokok * Iritasi menahun : nasofaringitis asap/alkohol lombok * hormonal: estrogen tinggi * virus Ebstein Barr: semua pen derita didapatkan titer anti virus Ebstein Barr tinggi

Pembagian: A. Berdasarkan Histopatologi I Epidermoid karsinoma 1. Well differentiated: a. keratinising b. non keratinising 2. Undifferentiated (anaplastic carcinoma): a. transisional b. limfoepitelial Menurut WHO ada 3 jenis: 1. Karsinoma sel skwamosa berkeratinisasi 2. Karsinoma tidak berkeratinisasi 3. Karsinoma tidak berdeferensiasi, tmsk:limfoepitelioma, sel transisional, sel spindle, sel clear dan anaplstik.

II Adenocystic carcinoma ( silindroma) III Sarcoma (creeping tumor) B. Menurut bentuk dan cara tumbuh - ulceratif - exophitic - endophitic (creeping tumor) C. Menurut lokalisasi 1. Fossa Rosen Mulleri 2. Sekitar tuba Eustachius 3. Dinding belakang nasofaring 4. Atap nasofaring

Gejala: I Gejala lokal dari tumor primer 1. epistaxis sedikit/ banyak dan berulang 2.obstruksi nasi, pilek campur darah, kdng berbau 3. obstruksi tuba, mengakibatkan pendengaran menurun, tinnitus OMP II Gelala akibat pertumbuhan expansif 1. kedepan : obstruksi nasi 2. kebawah : mendesak palatum molle bomban 3. keatas : Foramen lacerum - terkena duramater cefalgi

- terkena 6 (abduscen) m rektus lateralis- diplopi(strabismus) - terkena n 5 (trigeminus) : nyeri kepala pada daerah muka, mata, hidung, rahang atas dan bawah,lidah - terkena n 3 dan 4 ptosis dan optalmoplegi 4. kesamping: ke spatium para paryngeum: - terkena n 9, n10 parese palatum molle, faring dan laring - terkena n 10 parese lidah ke samping gangguan menelan III Gejala akibat metastase 1. melalui getah bening: pembesaran kelenjar getah bening di leher yg terletak dibawah ujung mastoid, diblk angulus mandibula,

Diagnosa: Agak susah karena datang ke THT agak lambat Penderita sering datang ke bag mata, saraf, gigi atau bedah Ada TRIAS CA NASOFARING yang dapat dipakai sebagai pedoman yaitu: A.Tumor coli, gjl hidung dan gjl telinga B Tumor coli, gjl hidung dan telinga, gjl intra kranial (saraf/mata) C Gejala hidung, Gejala telinga, Gejala intrakranial Cara membuat diagnosa a.Berdasarkan klinisnya 1. Umur 2. gejala subyektif: trias ca nasofaring 3. pem obyektif: RA, RP, Nasofaryngocop, X foto, USG, CT Scan b.Bersasarkan hasil PA melalui biopsi/sitologi

Diagnosa Banding: 1. Angiofibroma nasofaring juvenilis 2. Angiofibroma 3. Adenoid persisten 4. Tbc nasofaring STADIUM Berdasarkan gejala-gejala diatas 1. stadium dini: tumor masih didalam nasofaring gejala tumor primer, kdng tumor masih blm tampak ( creeping tumor) 2. Stadium lanjut: tumor melewati batas nasofaring metastase

Menurut UNION INTERNATIONAL CENTRE CANCER ( UICC) 1992 TNM: T: Tumor Primer To, T1, T2, T3, T4, Tx N: Pembesaran kelenjar getah bening regional: No, N1, N2, N3 M: Metastase jauh: Mo, M1 Stadium I : T1 No Mo Stadium II : T2 No Mo Stadium III : T1,T2,T3, N1, Mo atau T3, No, Mo Stadium IV: T4, No/ N1, Mo T1,T2,T3,T4,N2/N3, Mo T1,T2,T3,T4,No/N1, M1

Keterangan: T0 : Tumor tidak tampak T1 : Tumor terbatas 1 lokasi, lateral,posterior, superior, atap T2 : Tumor pada 2 lokasi atau lebih, tapi masih di rongga nasofaring T3 : Tumor sudah keluar dari rongga nasofaring T4 : Tumor sudah keluar dari rongga nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak/ saraf otak Tx : tidak jelas besarnya oleh karena pemeriksaan tidak lengkap

N0 : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening N1 : Ada pembesaran homolateral, masih dapat digerakkan N2 : Penbesaran Kontralateral/ bilateral, masih dapat digerakkan N3 : Pembesaran homolateral, kontralateral atau bilateral yang sudah melekat M0 : tidak ada metastase jauh M1 : terdapat metastase jauh Mx : Metastase belum dapat ditentukan karena pemeriksaan belum lengkap

TERAPI: Radioterapi Terapi tambahan: Kemoterapi Deseksi leher Ada yg menambahkan : seroterapi vaksin anti virus Interveron Tetracyclin Penting juga perawatan palliatif, terutama yg mendapat radiasi karena : - mulut terasa kering krn kerusakan kelenjar liur, shg penderta dianjurkan makan banyak kuah, minum, serta mengunyah bahan yg asam

PROGNOSA Stadium dini baik, dapat hidup . 5 th Stadium lanjut kurang baik, hidup , 3 th

BENDA ASING RONGGA HIDUNG Biasanya pada anak dan unilateral Macamnya : - bahan : kertas, spon, plastik, batu - biji-bijian : kacang, jagung, biji asam - binatang : pacet, larva Patologi:-

Bbrp hari kmd terjadi radang mukosa sekret mukopurulen,bau Lama-lama timbul jaringan granulasi sekret bercampur darah - Apabila binatang terasa gerakan

-

Gejala:- Keluhan didapat dr ibu, pilek lama, bau, bercampur darah Pemeriksaan:RA - mukosa merah dgn mukopus, kd ada granulasi - bila lama, benda terlihat stl sekret dibersihkan

Tindakan: Diekstraksi (dikeluarkan) menggunakan alat lampu kepala, spekulum hidung dan Hak bulat ( ring haak), diekstraksi kearah depan Kalau perlu dilakukan anestesi dengan xylocain, efedrin

ATRESIA KOANE-

Tipe kejadian bisa : kongenital/ didapat Pada bayi lebih banyak bilateral Pada dewasa unilateral

unilateral / bilateral

-

komplet / inkomplet osseus/membraneus

-

-

Etiologi-

Kongenital membrana nasobuccal persisten diujung belakang vomer Didapat : lebih banyak di regio faring daripada di koane akibat dari : trauma: tonsilektomi, adenoidektomi infeksi: tbc, lues, difteri -- cicatric

-

Insiden : 1 dari 5000 kelahiran hidup Gejala: Unilateral :- bayi sukar bernafas lewat hidung, problem timbul bila cav nasi yg normal terganggu Bilateral :- bayi sejak hari I lahir tidak dapat menyusu -bila mulut tertutup cyanosis -cavum nasi berisi mukus Diagnosa:+ Dengan sonde kateter, nasofaryngoscop + Palpasi lewat nasofaring + Disemprot Metylen blue + X ray dengan kontras Terapi: Operasi, yang membraneus bisa ruptur spontan

DEVIASI SEPTUM NASI Yaitu posisi septum nasi tdk lurus ke belakang atas Penyebab:Trauma: - proses kelahiran, hidung tertekan jalan lahir - kecelakaan: bermain, olah raga, KLL Spontan: akibat kecepatan pertumbuhan bagian kavum nasi yang berbeda Bentuk deformitas: 1. Deviasi : bentuk S,C 2. Dislokasi: keluar dari krista maksilaris 3. Penonjolan: sebagai spina, krista

Gejala: Keluhan:- tidak semua ada keluhan, sebab yg timbul pelan pelan sudah adaptasi - yang berat mengeluh obstruksi nasi, mula mula sebelah kmd disusul yg sebelahnya karena terjadi hipertrofi yg kompensatoir - terjadi gangguan: oksigenasi vacum headache sinusitis vacum cavum timpani OMP hiposmia

Terapi-

Keluhan ringan kaustik dengan asam trichloracetat Keluhan berat dilakukan koreksi: 1. Reseksi submukosa (Killian): tulang rawan septum yg bengkok dikeluarkan 2. Septoplasti : tulang rawan yg bengkok direposisi, yang kelebihan dibuang

-

-

-

-

-

SYNECHIA NASIAdalah terjadinya perlekatan mukosa septum nasi dan konka (inferior) akibat dari trauma, operasi dan infeksi. Gejala: - obstruksi partial - sensasi ada benda - bisa ada krusta Terapi: bagian yg adhesi dipisahkan

TRAUMA NASITergantung dari keras dan arah trauma, dapat terjadi kerusakan pada: 1. Jaringan lunak bag luar hidung berupa memr atau hematom maupun luka terbuka 2. Tulang kerangka hidung: fraktur os nasal 3. Septum nasi: - deviasi septum nasi - hematoma septum nasi 4. Mukosa septum nasi: terjadi robekan epistaksis

Fraktur os nasalisTidak hanya terjadi pada os nasalis saja, tetapi dapat juga pada: prosesus frontalis os maksila kartilago septum nasi Bagian yang terkena tergantung pada arh dan kerasnya trauma A. Trauma dari lateral Mengakibatkan dislokasi hidung ke sebelah lainnya - fraktur os nasalis + procesus frontalis maxila pada sisi datangnya pukulan - fragmennya menumpang diatas bagian yang stabil prosesus frontalis

- sedang sisi yg lain fragmennya berada dibawah yg stabil - sedang pada dasar cavum nasi turun kearah yang berla wanan dengan arah pukulan, sehingga menyebabkan obstruksi nasi pada sisi lain B. Trauma arah frontal Menyebabkan akibat yang lebih hebat. Dapat ferjadi 3 tingkat fraktur: Tk I : - os nasalis ambles+ melebar, menumpang diatas os procesus frontalis maxila - septum nasi fraktur fragmen tumpang tindih

Tk II: - Procesus frontalis maxila juga fraktur, dislokasi fragmen nya ke lateral - septum nasi fraktur lebih berat Tk III: - seperti tk II tapi lebih hebat - Proc frontalis masuk kedalam sinus maxilaris - selain itu terjadi dislokasi selulae etmoidalis anterior dan os lacrimalis ke lateral, akibatnya: + hidung sangat mendatar + jarak antara kantus medialis melebar

+ tepi kranial os nasalis masuk ke tepi kaudal os frontalis sehingga dorsum nasi tampak pendek + kadang terjadi robekan duramater, sehingga terjadi sere brospinal rinore Diagnostik + Anamnesa: terjadi trauma dengan gejala: - epistaksis - obstuksi nasi karena stolsel, hematom dan deviasi - hipo/ anosmia krn obstruksi, parese n olfaktorius + Pemeriksaan: - Palpasi: teraba krepitasi - RA: bekuan darah, dislokasi fraktur, robekan mukosa, hrmatom septi

- X foto: pada kasus yang berat Terapi: Reposisi secepat mungkin, selum ada udem Bila terjadi udem, tunggu 4-7 hari Cara reposisi: + anestesi lokal atau general + os nasalis diangkat dengan elevator tumpul/ Asche forcep, dikontrol dengan ibu jari tangan kiri dari arah kontra lateralnya + fiksasi dengan tampon boorzalf

TRAUMA MAKSILAFraktur maksila merupakan trauma yang serius dan mempunyai Ciri khas seperti: + perubahan letak palatum + deformitas/ mobilitas hidung + epistaksis + perubahan/ deformitas sepertiga tengah muka Gradasi Trauma Maksila menurut Lefort: + Lefort I: - garis fraktur transversal pada maksila, melibatkan hanya palatum

- terjadi mobilitas atau perubahan letak arkus maksila dan palatum - biasanya ada mal oklusi Lefort II: - garis fraktu pyramid, melibatkan fraktur palatum dan bagian sepertiga tengah muka termasuk hidung - gejalanya epistaksis profus dan maloklusi Lefort III: - menyebabkan pemisahan seluruh tulang muka dengan kranium - seluruh komplek zygomatiko-maksila berubah letak dan mobil

Pemeriksaan: harus cermat, ditunjang pemeriksaan: - Radiologik - CT Scan potongan axial dan coronal Penanggulangan: Prinsip: Reposisi melalui reposisi terbuka dengan menyusun kembali fragmennya dan difiksasi - bisa eksplorasi melalui sulkus gingivo bukal

- Bila dasar orbita masuk kedalam sinus maksilaris, maka lewat operasi Caldwell Luc dan diusahakan dasar orbita kanan dan kiri berada pada satu garis horizontal. Ini mencegah terjadinya diplopi. - perlu diperhatikan juga oklusi mulut dan gigi difiksasi dengan mandibula.

EPISTAKSISEpistaksis bukan suatu penyakit, tapi hanya gejala. Penyebab: A. Lokal: - Trauma: korek-korek, bersin keras, kecelakaan - Radang: rinitis akut/ kronis, difteri nasi ulkus lues, Tbc, sinusitis maksilaris. - Tumor: carcinoma cavum nasi, nasofaring dan sinus maksilaris, angiofibroma. B. Umum: 1. Penyakit darah: hemofili, leukemia, trombositopene.

2. Penyakit pembuluh darah: hipertensi, arteriosklerosis, teleangiektasis. 3. Tekanan vena yang tinggi: pertusis, penyakit cor pulmonale, tumor leher dan thorak. 4. Gangguan hormonal: terjadi saat penurunan kadar estrogen. Lokalisasi epistaksis: 1 Kavum nasi anterior: 80% pada anak-anak dan dewasa muda karena korek-korek daerah antero-inferior septu nasi (area little), karena disitu ada Pleksus Kisselbach.

2. Kavum nasi posterior: pada hipertensi/ arteriosklerosis terjadi perdarahan pada separo posterior konka inferior (cabang a. sfenopalatina). Diagnosa banding: - carcinoma nasofaring - angiofibroma nasofaring juvenilis Tindakan menghentikan epistaksis: A. Lokal: - mula-mula keluarkan bekuan darah - kemudian hentikan perdarahan:

1. Bila perdarahan dari anterior, langkah-langkahnya sbb: + Jepit ala nasi 5-15 menit + Aplikasi dengan vasokonstriktor dengan cara kapas dibasahi vasokonstriktor, dimasukkan kedalam kavum nasi selama 10 menit. + Kaustik degan asam Triklor Asetat / Nitras Argenti mulai dari sekitar sumber kemudian ketengah + Tampon boorzalf di kavum nasi yng berdarah, apabila tidak teratasi tampon kontralateral juga untuk menambah tekanan. Biarkan tampon selama 2X24 jam.

2. Bila perdarahan dari posterior yang sukar dihentikan, pasang tampon posterior (tampon Bellocq). B. Umum: + transfusi bila banyak kehilangan darah + hemostasis: vit K, adona, anaroksil, transamin + antibiotik Dianjurkan pemeriksaan faal hemostasis dan mencari penyebab untuk keperluan terapi kausal.

HEMATOMA SEPTUM NASIAdalah timbunan darah pada septum nasi yang terletak antara: - submukosa dengan perikondrium, - submukosa dengan periosteum : jarang terjadi. Penyebab: trauma, bila tl rawan fraktur,tjd hematom bilateral. Diagnosa: + Anamnesa:- ada trauma, kemudian cepat tjd obstruksi nasi - tidak hilang dengan tetes hidung - dapat disertai epistaksis dan nyeri.

+ Pemeriksaan: RA: - ada benjolan pd septum nasi bagian depan, uni lateral, jarang bilateral - warna merah tua kebiruan, kenyal, elastis - pada proef pungsi didapatkan darah. Terapi: Insisi didaerah anteroinferior septum secara steril, kmd ditekan dengan tampon boorzalf. Tampon dilepas 2 hari. Prognosa: baik. Bila tidak diinsisi akan mengalami organisasi. Bila ada infeksi sekender, tjd abses septum.

ABSES SEPTUM NASIPenyebab: - infeksi pada trauma/ luka mukosa septum nasi - infeksi sekender hematoma septi, biasanya terjadi 3-5 hari setelah timbul. Diagnosa: Keluhan: - obstruksi nasi cefalgi, epifora - nyeri hidung lebih hebat dari pada hematoma - kadang-kadang febris. Pemeriksaan:- Inspeksi: hidung luar atu apeks nasi hiperemi, udem atau tampak mengkilat. - Palpasi : nyeri pada sentuhan.

- RA : - benjolan pd seprum nasi merah keabuan - lunak pada sentuhan - tidak kempis dengan solutio efedrin. - pungsi percobaan: didapatkan pus. Terapi: - Insisi, pasang drain, lalu ditekan dengan tampon boorzalf - Antibiotika Prognosa: - baik - bila tdk dirawat tjd: nekrosis kartilago(lorgnet nose) perforasi septum nasi trombosis sinu kavernosus

SINUSITIS PARANASALISYaitu radang mukosa rongga sinus. Bila berlangsung singkat 1-3 minggu kemudian sembuh, maka mukosa akan normal kembali. Kuman penyebab:- Streptokokus - Hemofilus influenzae - Stafilokokus Aureus - Organisme anaerob - Jamur

Faktor predisposisi:- terlalu capai - banyak terkena angin - gizi kurang - alergi - gangguan anatomi hidung Faktor penyebab infeksi 1. Rhinogen: karena mukosanya kontinyu dari kavum nasi, maka Infeksi kavum nasi dapat menjalar langsung. Ini dipermudah oleh:- buang ingus berlebihan/keras - akumulasi sekret krn ada polip/ deviasi.

2. Odontogen/ dentogen: infeksi gigi premolar I molar III, akar gigi menembus dasar sinus maksilaris, ditambah letak osteum sinus maksilaris yang tinggi menyulitkan drainase sekret Klasifikasi: + sinusitis akut :beberapa hari-minggu, ada tanda radang akut reversibel. + sinusitis kronis :beberapa bulan tahun, irreversibel, terjadi jaringan granulasi. + sinusitis sub akut:beberapa minggu bulan, tanda akut reda,

SINUSITIS MAKSILARIS AKUTInsiden: paling banyaak diantara sinusitis paranasalis yg lain. Faktor yang mendukung terjadinya: a. rinogen: rinitis akut, cara buang ingus yang salah. b. dentogen: infeksi gigi PM2-M3, post ekstraksi gigi. c. drainase sinus maksilaris yg sulit karena: - osteum tinggi, 16 jam sehari posisi duduk/ berdiri - osteum mudah tertutup oleh: + konka media + deviasi septum + polip/sekret

Diagnosa: Anamnesa: - adanya rinitis akut - pipi kemeng-sakit - sefalgi sisi yang sakit, sore maksimal, pagi reda - sekret mukopurulen, kadang hemorrhagis, lamalama bau. Pemeriksaan: + Inspeksi: pipi kadang-kadang udem dan hiperemi + Palpasi : nyeri tekan pipi yang sakit (fosa canina)

+ RA: - vestibulum nasi merah - kavum nasi sempit, konka udem, mukosa hiperemi, ada sekret, kadang-kadang di meatus medius + RP: - adanya post nasal drip - terlihat pus di meatus medius (kadang-kadang) + Transiluminasi: bayangan gelap pada sinus yang sakit + X Foto waters: - perselubungan (adanya cairan) - tampak permukaan cairan (air fluid level). - udem mukosa, penebalan mukosa.

+ Pungsi percobaan: - keluar pus/mukoid - dilakukan untuk diagnosa sekalian terapi. Terapi: 1. Konservatif: a. Umum: - istirahat, makan lunak - analgetik - antibiotik : penicilin, bila alergi doksisiklin erytromycin b. Lokal : perbaikan drainase:-tetes hidung efedrin 1% -tidur miring heterolateral

2. Aktif: Irigasi sinus (Kaag Spoeling) : keluar pus/ mukoid, dilakukan 1X seminggu sampai bersih. Komplikasi:- Ekstravasasi cairan di pipi - Emboli udara Prognosa: Cepat berobat: semuh dengan terapi konservatif Bila tidak diobati menjadi kronis Komplikasi: - OMP : karena obstruksi ostium tuba - Faringitis : karena post nasal drip

SINUSITIS MAKSILARIS KRONIKAFaktor etiologi: 1. Sinusitis maksilaris akut berulang atau pengobatan kurang adekuat. 2. Adanya blokade drainase. 3. Infeksi gigi Premolar 2 Molar 3 4. Infeksi sinus ethmoidalis, sinus frontalis. Patologi: disini telah terjadi degenerasi mukosa; cysteus, polip, polip atau metaplasi epitel.

Diagnosa: + Anamnesa: - keluhan tidak tegas, samar-samar dan lama - pilek kedua lubang hidung atau sebelah - foetor nasi - hidung buntu, kemeng/ sakit, sub febril + Pemeriksaan:- Palpasi: rasa kemeng/sakit ringan - RA/RP: pus di meatus medius (tidak selalu) - Ada caries gigi bila penyebab dentogen - Transiluminasi: seperti pd SM Akut - X Foto Water: seperti pada SM Akut

Terapi: + Konservatif : - Antibiotika - Tetes hidung + Aktif : Irigasi sinus 1 minggu sekali, bila 5X tak membaik Operasi Caldwell Luc. Ekstraksi gigi bila causanya dentogen. Diagnosa banding: 1. Karsinoma sinus maksilaris Anamnesa: - penderita orang tua - rasa sakit kontinyu, meningkat (progresif). - geraham terasa sakit tetapi giginya taa

- sekret berbau, kadang-kadang hemorrhagis Pemeriksaan: Pada stadium dini tidak jelas - pembengkakan pada pipi, palatum durum, pen sakan ke kavum nasi - X Foto Waters: ada destruksi tulang - Biopsi: ada keganasan - Antroskopi: didapatkan tumor 2. Karsinoma nasofaring

SINUSITIS FRONTALIS AKUTPenyebab infeksi: Rinogen: melalui adanya: - Rinitis akut menjalar cara buang ingus berenang - Obstruksi nasi,akibat dari:-- udem obstruksi nasi deviasi septum hipertrofi konka

Diagnosa: a. Anamnesa: seperti pada rinitis akut + malaise, febris + ada sekret dan obstruksi nasi + sefalgi hebat: - pagi hari lebih sakit - biasanya homo lateral b. Pemeriksaan: + Inspeksi: kulit taa + Palpasi: nyeri tekan pd dasar/ lantai atau dinding depan sinus frontalis

+ RA: - mukosa kavum nasi udem, hiperemi - pus di meatus medius bagian depan + Trasiluminasi: gelap pada sisi yang sakit + X Foto Waters: perselubungan pada sisi yang sakit Terapi: + Lokal: perbaiki drainase: - tetes hidung - tidur miring hetero lateral - Infraksi konka nasi: bila diperlukan + Umum: - analgetika - antibiotika: ampicilin, klinamisin, sefalosporin

Prognosa: baik, oleh karena osteumnya rendah. Komplikasi: inflamasi dapat menjalar ke: + mata,intra kranial + dinding depan sub periostal abses + sinus frontalis sebelah

SINUSITIS FRONTALIS KRONIKPatologi: radang purulen dengan mukosa hipertrofi dan / polipoid Etiologi : 1. Sinusitis frontalis akut yg - tdk diobati/ tdk adekuat - drainase kurang baik: + polip di meatus medius + deviasi septum nasi + hipertrofi konka media 2. Kelanjutan sinusitis kronik dari sinus yang berdekatan: Pansinusitis 3. Ada faktor alergi

Diagnosa: + Anamnesa: lebih ringan dari yang akut + Pemeriksaan: - Palpasi: nyeri tekan ringan/ tidak - RA: mukosa udem, hiperemi, pus di meatus medius - Transiluminasi: seperti SF Akut - X Foto Waters: seperti SF akut Terapi: + Konservatif dan tindakan memperlancar drainase dengan cara: - Aplikasi kapas dengan dekongestan - Melebarkan osteum nasofrontalis dengan sonde

- Operasi penyebab obstruksi: - Ekstraksi polip - Koreksi septum deviasi - Infraksi konka media + Tindakan Operasi Ekstra nasal (Lynch Operation): - Insisi curveliniair bibawah bagian medial alis, terus ke bawah ke epicanthus interna - dasar sinus frontalis dengan sinus etmoidalis dibuka Komplikasi: + ke mata menyebabkan infiltrat/abses + osteomyelitis frontalis + infeksi ke endokranium

SINUSITIS ETHMOIDALIS AKUT- Penderita lebih banyak pada orang dewasa - Pada anak-anak, justru sinusitis ethmoidalis lebih sering diban ding sinusitis yang lain - Type sinusitis ethmoidalis: + Akut, subakut + Recurren emphyema + Kronik emphyema + Kronik emphyema dengan polipoid - Etiologi: sama dengan sinusitis maksilaris akut, kecuali faktor-

gigi.

Gejala: pada stadiumakut mengenai seluruh selulae ethmoidalis anterior dan biasanya terjadi pada fase akut rinitis. Keluhan: - hidung buntu - rasa sakit pada sisi homolateral yaitu didaerah frontal, mata, regio parietal Pemeriksaan:- terdapat pembengkakan didaerah ethmoid, kasus yang berat dapat menjalar ke alis - RA: mukopus di meatus medius - RP: tampak post nasal drip

Diagnosa:- sulit karena tidak khas: Transiluminasi: tidak khas X Foto waters: tidak khas - yang significan:+ lokasi sakitnya + pembengkakan dan kongesti pada orbita dan alis + sakit pada gerakan mata Terapi: - Tetes hidung/ aplikasi dekongestan - Analgetika - Antibiotik - Dapat dibantu dengan pengobatan sinar infra merah

SINUSITIS ETHMOIDALIS KRONIKATerjadinya karena ethmoiditis akut yang berulang, lama-lama menjadi stadium kronis. Gejala: menyerupai sinusitis maksilaris kronik, yaitu: - sakit kepala - hidung buntu, beringus - ada post nasal drip Pemeriksaan:+ RA: ada pus di meatus medius/ dasar kavum nasi yang serius ada polip di meatus medius + X foto Waters: tidak khas

Terapi:+ dilakukan ekstraksi polip seluae dibuka ethmoidektomi + sering residif + komplikasi operasi bisa terkena lamina papyracea ke orbita bisa terjadi infiltrat/abses retro bulber + perlu diperhatikan; - faktor alergi - kelainan anatomi: deviasi septum

SINUSITIS SPHENOIDALIS AKUTJarang berdiri sendiri, biasanya sebagai bagian dari Pansinusitis. Gejala: rasa sakit di daerah occiput/ os parietal. Diagnosa: + RA: tampak pus di nasofaring + X Foto: bisa tampak oermukaan cairan Terapi: - Analgetika - Antibiotika - Aplikasi vasokonstriktor - Irigasi melalui osteum atau pungsi dinding depan.

SINUSITIS SPHENOIDALIS KRONIKAEtiologi: emphyema akut sinus sphenoid yang berlangsung lama, olek karena:- proses alergi dengan atau tanpa polip - penebalan mukosa akibat radang - tumor Gejala: - sefalgi malaise, anoreksi, kurang konsentrasi - post nasal drip di nasofaring Diagnosa:- anamnesa: sefalgi dan post nasal drip - X Foto proyeksi submental-vertex/ dengan kontras

Terapi: a. konservatif: - terapi infeksi yang lain - irigasi - koreksi alergi, polip dll b. Surgical (Hirsch)

of 171

Embed Size (px)
Recommended