Home >Documents >kritik DKV - Analisa Poster Tawuran Antar Pelajar

kritik DKV - Analisa Poster Tawuran Antar Pelajar

Date post:01-Jan-2016
Category:
View:340 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
Objek DKV yang kami pilih adalah karya DKV berupa poster yang dibuat dengan teknik digital printing diatas flexi berukuran A2 (70 cm x 100 cm). Poster ini dirancang untuk tugas mata kuliah poster, yang merancang adalah hoyrotun H Isani dari angkatan DKV 2010.Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal [1]TANDA VISUALMelalui pendekatan semiotika yang berarti ilmu yang mempelajari tanda (sign), berfingsinya tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. [2] Tanda tersebut bisa berupa bunyi, huruf, kata, gambar, warna, objek, dan lain sebagainya. Petanda terletak pada level of content (tingkat isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Tanda selalu mengacu pada seuatu hal (benda) lain. Merujuk dari tori Pierce (Noth, 1995:45), tanda-tanda dalam gambar dapat digolongkan menjadi ikon, indeks, dan sinbol.REVERSE THINKINGof the methods used in creative ideation sessions is reverse thinking. Instead of following the "Normal" or "Logical" direction of a challenge, you turn it around and look for opposite ideas. [www.cyrielkortleven.com/ reverse-thiking diposting oleh Cyrel Kortleven, 26 Agustus 2010 pukul 20:00]Untuk mengupas makna dibalik poster ini, langkah pertama yang kami gunakan adalah metode Reverse Thinking. Reverse Thinking bukanlah sebuah teori, melainkan sebuah common-sense atau pemikiran sederhana yang lazim digunakan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan sebuah masalah. HIERARCHY OF NEEDSPrinsip psikologi tidak dapat dilepaskan dari perihal DKV. Mengingat kita sebagai mahasiswa desain semenjak awal dibekali mata kuliah Psikologi Persepsi, agar dalam mendesain kita dapat dengan tepat berkomunikasi dengan audien.
Transcript:
  • I N T E R P R E T A S I P O S T E R D K V d i l o r o n g

    S U R G A ,D I B A W A H T E L A PA K K A K I I B U

  • Poster adalah gambar pada selembar kertas berukuran besar yang digantung atau ditempel di dinding atau permukaan lain.

    Menurut Hornby (1974:799) poster sebagai plakat atau tempelan pengumuman yang dipasang ditempat umum. Bisa juga dikatakan sebagai sebuag pemberitahuan untuk khalayak ramai yang berbentuk gambar. Selain itu, poster juga diper-gunakan secara perorangan sebagai sarana dekorasi yang murah meriah terutama bagi anak muda.

  • Poster yang kami pilih menggunakan

    teknik cetak digital printing, tercetak

    pada media outdoor flexy memiliki

    ukuran sebesar A1 (70cm x 100cm)

    yang didisplay dengan 2 buah benang

    pancin diujung kanan dan kiri atas.

    Kami memotret poster tersebut seusai

    kelas pak Sumbo

    1. Ditempelkan/digantung di dinding/tembok dan dipasang di pinggir-pinggir jalan2. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti3. Singkat, jelas, efektif, komuni-katif, informatif dan menarik perhatian pembaca.

    36/17/21/0

    72/8/45/0

    I D E N

    T I F I

    K A S I

  • Objek DKV yang kami pilih adalah karya DKV berupa poster yang dibuat dengan teknik digital printing diatas flexi berukuran A2 (70 cm x 100 cm).Poster ini dirancang untuk tugas mata kuliah poster, yang merancang adalah Khoyrotun H Isani dari angkatan DKV 2010.

    V E R B A LPerancang membuat poster ini kurang lebih untuk merespon fenomena yang sering terjadi di

    masyarakat. Yang dimana hal tersebut sering menimbulkan kegelisahan/kekawatiran bagi

    masyarakat tersebut. Fenomena tawuran adalah sebuah agenda rutin bagi para remaja yang

    mulai tumbuh dewasa, yang biasanya sering dilakukan oleh pelajar SMA atau mahasiswa. Setiap

    tahun meskipun jaman telah berganti fenomena tawuran ini masih saja sering terjadi, tawuran kini

    seolah menjadi budaya baru bagi para remaja, seakan ini menjadi sebuah proses perkembangan

    anak muda di Indonesia untuk menjajaki masa berikutnya. Oleh karena itulah perancang inginme-

    nyelesaikan masalah/problemtersebut kedalam sebuah media berupa poster.

    I L L U S T R A S IDalam poster ini, gaya desain yangdi-

    gunakan adalah gaya desain early

    modern lebih tepatnya menggunakan

    gaya beggarstaff. Ilustrasi yang

    terdapat didalam poster tersebut

    diantaranya :

    1. Empat outline awan, dua diantara ke

    empat awan masing-masing berukuran

    sama

    2. Bintang yang bertaburan

    3. Silhouette tiga burung yang terbang

    dengan ukuran dua diantaranya sama,

    sedangkan yang satunya lebih kecil

    4. Silhouette pohon

    5. Silhouette tempat sampah/tong

    sampah yang berisi senjata tajam

    6. Silhouette padang rumput

    7.Silhouette pelajar/mahasiswa yang

    sedang berjalan dengan mengenakan

    tas punggung

    T I P O G R A F IFont yang digunakan dari keluarga sans serif lebih tepatnya adalah dekar.Case yang diguna-kan pada kalimat baris pertama menggunakan caselowercase di awal kata lalu uppercase di kata kedua. Sedangkan di kalimat baris kedua menggunakan uppercase di awal kata dan lowercase di case kedua.

    L A Y O U T Layout yang digunakan adalah sequence L dikarenakan warna hitam yang cukup mendominasi sebagai point of view, dimulai dari atas terdapat silhouette pohon lalu ke silhouette rumput.

    W A R N ASkema warna yang digunakan dalam poster ini terdiri dari 3 warna, yaitu hijau, putih, danHitam.

    D E S

    K R I

    P S I

    U M U M

  • T A N D A V I S U A LMelalui pendekatan semiotika yang berarti ilmu yang mempelajari tanda (sign), berfingsinya tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. [2] Tanda tersebut bisa berupa bunyi, huruf, kata, gambar, warna, objek, dan lain sebagainya. Petanda terletak pada level of content (tingkat isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Tanda selalu mengacu pada seuatu hal (benda) lain.Merujuk dari tori Pierce (Noth, 1995:45), tanda-tanda dalam gambar dapat digolongkan menjadi ikon, indeks, dan sinbol.

    I K O Nadalah tanda yang mirip objek yang mewakilinya, atau memiliki cirri-ciri yang sama dengan yang dimak-sudkan.

    I N D E X merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab-akibat dengan apa yang diwakilinya atau disebut juga tanda sebagai bukti.

    S I M B O Ladalah tanda yang memiliki hubungan dengan objeknya berdasarkan konvensi, kesepakatan, atau aturan. Makna dari suatu simbol ditentukan oleh suatu persetujuan bersama, atau diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran. Katagori-katagori tersebut tidaklah terpisah dan berbeda. Satu tanda bisa saja kumpulan dari berbagai tipe tanda.Dalam poster karya desain Khoryotun Hisani menggu-nakan beberapa simbol, diantaranya awan, siluet anak muda berjalan menggunakan ransel, siluet 3 burung terbang, pohon, tong sampah dengan benda-benda tajam didalamnya, dengan bintik-bintik cahaya berbentuk lingkaran yang terkumpul menjadi satu kesatuan background.

    Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah

    dan merangkai fakta tersebut menjadi satu

    kesatuan yang harmonis dan masuk akal [1]

    I N T E

    R P R E

    TA S I

  • [1] http://www.belajarpraktis.com/

    2013/04/13/pengertian-interpretasi.html

    [2] Sumbo Tinarbuko, Semiotika

    Komunikasi Visual, Jalasutra,

    Yogyakarta, 2008.

    [3] http://sisilainfotografi.blogspot.com

    /2012/10/bokeh.html

    K R I T I K D A N S O L U S IBahasa tanda merupakan suatu penyampaian informasi yang bersifat komunikatif. Ia mampu menggantikan sesuatu yang lain yang dapat dipikirkan atau dibayangkan. Maka dari pemilihan tanda sangat perlu diperhitungkan untuk mendapatkan penyam-paian secara tepat.

    Elemen-elemen yang terdapat dalam poster ini kurang tepat, seperti halnya warna yang digunakan, warna hijau tosca tidak menggambarkan suasana malam. Solusinya mengubah warna menjadi gradasi warna biru muda ke biru tua, semakin keatas semakin gelap. Selain itu ikon penggambaran awan tidak senada dengan unsur grafis yang ada didalam poster tersebut. Solusinya dengan menyenadakan ilustrasi awan tersebut dangan tanda-tanda yang lain. Siluet burung juga menggan-jal, burung yang biasa beraktifitas pada malam hari adalah burung yang memiliki pengartian buruk. Solusinya penggunaan ikon burung ini tidak perlu, karena menggambarkan keburukan, sedangkan penyampaian poster disini untuk mengubah perilaku masyarakat untuk menjadi lebih baik.

    P E M A K N A A NAwan, didalam poster ini mengguna-

    kan simbol awan yang berwarna putih,

    akan tetapi awan disini berbeda

    dengan ilustrasi yang digunakan pada

    simbol-simbol yang lain dalam poster

    tersebut. Awan ini terkesan seperti

    mainan, sehingga terlihat tertempel.

    Dari penggambaran simbol awan yang

    berwarna putih mengandung arti

    cuaca cerah berawan.

    Siluet postur tubuh anak

    muda berjalan dengan santai

    menggendong ransel, mengimplimenta-

    sikan bahwa target audience disini

    adalah anak muda. Karena tidak ada

    kejelasan mengenai seragam yang

    dikenakan maka penggambaran disini

    dapat diartiakan sebagai anak muda

    yang berusia sejajar dengan anak

    SMP, SMA, sampai dengan mahasiswa.

    Langkah kaki yang terlihat santai

    menggambarkan suasana tenang dan

    tentram.

    Siluet tiga burung yang

    sedang terbang diatas pohon

    menggambarkan suasana dipagi hari

    burung-burung berkicau dengan riang.

    Siluet pohon dan rumput-

    rumput menggambarkan suatu tempat

    yang teduh dan sejuk seperti halnya

    sebuah taman yang hijau dan rindang.

    Siluet tong sampah yang

    didalamnya terdapat beberapa benda

    tajam seperti pedang, golok, dan

    semacamnya. Disini memberi maksud

    terkait dangan inti penyampaian poster

    ini. Benda-benda tajam yang berada

    didalam tong sampah mengartikan

    bahwa (desainer) bertujuan menjelas-

    kan kepada audience, bahwasannya

    benda-benda tajam itu sudah

    selayaknya untuk dibuang kedalam

    tempat yang semestinya dan dalam

    bahasa visual untuk menggambarkan

    tempat sampah yaitu sebuah tong

    sampah.

    Bintik-bintik lingkaran kecil

    disini cukup sulit untuk diartikan akan

    tetapi bentuk ini dapat digambarkan-

    kan sebagai benda-benda kecil yang

    tertiup angin dan terkena sinar

    sehingga timbul beberapa bintik-bintik

    cahaya yang dalam istilah fotografi

    disebut bokeh diambil dari bahasa

    jepang yang beararti menjadi kabur[3]

    yaitu efek blur yang ditumbulkan dari

    pantulan cahaya yang mengenai suatu

    benda. Dominasi 2 warna hijau tosca

    dengan warna hitam dan penambahan

    beberapa warna putih dan kuning

    sebagai warna pendukung.

    Pengambaran simbol,

    orang, pohon, rumput, burumg tong

    sampah dengan benda-benda tajam

    yang hanya dibuat siluet dengan

    warna hitam dan warna cerah hijau

    toska dibelakang sebagai background

    mengimplementasikan suasana tenang

    di malam hari.

  • I N T E

    R P R E

    TA S I

    R E V E R S E T H I N K I N G

    of the methods used in creative ideation sessions

    is reverse thinking. Instead of following the

    "Normal" or "Logical" direction of a challenge,

    you turn it around and look for opposite ideas.

    [www.cyrielkortleven.com/ reverse-thiking

    diposting oleh Cyrel Kortleven, 26 Agustus 2010

    pukul 20:00]

    Untuk mengupas makna dibalik poster ini,

    langkah pertama yang kami gunakan adalah

    metode Reverse Thinking. Reverse Thinking

    bukanlah sebuah teori, melainkan sebuah

    common-sense atau pemikiran sederhana yang

    lazim digunakan untuk mengidentifikasi dan

    menyelesaikan sebuah masalah.

    Sebagai ilustrasi coba kita gunakan metode ini

    terhadap sebuah kursi. Seumur hidup kita, kita

    mengenal kursi dengan cara mendudukinya. Kita

    tahu bahwa kursi adalah tempat untuk duduk.

    Namun, pernahkah kita berpikir mengapa harus

    ada kursi di dunia? Mengapa manusia mencipta-

    kan kursi? Mungkin kursi ada karena manusia

    menemukan posisi yang nyaman diantara posisi

    berdiri dan berbaring. Dalam posisi ini manusia

    masih dapat melakukan berbagai aktifitas yang

    terlalu melelahkan untuk dilakukan dalam posisi

    berdiri, atau tidak dapat dilakukan dalam posisi

    berbaring. Sekarang mari kita coba terapkan

    metode Reverse Thinking ke poster diatas.

    Poster ini dibuat sebagai media penyampaian

    pesan kepada kalangan pelajar untuk mening-

    galkan budaya tawuran, perkelahian, dan

    kekerasan kemudian beralih ke jalur yang

    sejatinya dijalani kalangan pelajar, yaitu belajar.

    Apa yang terjadi pada kalangan pelajar

    sampai-sampai issue dalam poster ini

    sedemikian kerasnya? Untuk memotivasi pelajar,

    mengapa tidak sekedar menggunakan issue

    semacam "Belajarlah lebih giat"? Pelajar saat ini

    nyatanya semakin hari semakin larut dalam

    gaya hidup premanisme, seperti unjuk kekuatan,

    mabuk-mabukan, vandalisme, hingga tawuran.

    Apa yang menyebabkan kalangan pelajar larut

    dalam budaya ini? At any given point in our

    lives, we may be at different levels of fulfillment

    [www.akorra.com/2011/11/05/top-10-

    interesting-psychology-theories diposting oleh

    Luther Avery, 5 November 2011 pukul 22:30]

    Pada tahapan umur SMP-SMA, manusia

    biasanya berada pada fase dimana mereka

    mencari jati dirinya. Gejolak ini timbul begitu saja

    sebagai pengaruh psikologis dari pubertas, fase

    ini menjadi fase yang tidak stabil, ringkih, namun

    berpengaruh sangat besar.

    .

    SA

    AT

    NY

    A B

    EL

    AJA

    R,

    BU

    KA

    N M

    EN

    GH

    AJA

    R

  • H I E R A R C H Y O F N E E D SPrinsip psikologi tidak dapat dilepaskan dari perihal DKV. Mengingat kita sebagai mahasiswa desain semenjak awal dibekali mata kuliah Psikologi Persepsi, agar dalam mendesain kita dapat dengan tepat berkomunikasi dengan audien.

    Pada masa ini pelajar mengalami fase kompetitif, mereka mencari tahu siapakah mereka dalam lingkungan tersebut, apa kelebi-han diantara yang lainnya.

    Saat seorang pelajar gagal dalam hal akademis, ia akan merasa depresi karena tertinggal (kalah) dalam lingkungannya

    Sebagai bentuk refleks dari kekalahan ini, ia akan mencari cara lain untuk mengisi "kekoson-gan" yang akan dibahas lebih dalam melalui teori Hierarchy of Needs

    H I E R A R C H Y O F N E E D Sadalah satu teori yang monumental

    dalam ilmu psikologi. Teori ini dicetus-

    kan oleh Abraham Maslow. Maslow's

    hierarchy of needs is often potrayed in

    the shape of pyramid, with the largest

    and lowest levels of needs at the

    bottom, and the need for

    self-actualization at the top.

    [Abraham Maslow, Motivation and

    Personality, Harper and Row, New York

    1954 hal 91]

    Dalam teori ini, Maslow

    menggambarkan kebutuhan manusia

    dalam bentuk piramid yang terbagi

    menjadi 5 level. Setiap level bisa

    terpenuhi ketika level dibawahnya

    telah terpenuhi.

    Level paling bawah adalah

    bagian yang fundamental, yaitu

    Physiological Needs (Kebutuhan

    Psikologis) seperti makan, minum, sex,

    istirahat, bernafas.

    Level kedua adalah Safety

    Needs (Rasa Aman) seperti perasaan

    sehat, perasaan kecukupan ekonomi,

    perasaan damai.

    Level ketiga adalah Love

    and Belonging (Rasa Cinta dan

    Memiliki) seperti pertemanan, kekeluar-

    gaan, keintiman.

    Level keempat, adalah

    Esteem (Penghargaan) seperti

    dihargai, diakui, pujian, gengsi.

    Level kelima, adalah

    Self-actualization (Aktualisasi Diri)

    seperti jawaban atas pertanyaan

    mengapa aku dilahirkan, apa yang

    bisa aku lakukan di dunia. Level ini

    adalah level tertinggi yang menjadi

    indikasi apakah seseorang sehat

    secara psikologis atau tidak.

    Seluruh 5 level tersebut

    perlu dijabarkan, karena pada kenyat-

    aannya hanya terdapat 1% dari

    populasi pelajar mahasiswa yang

    berhasil memenuhi level ke-5.

    [Abraham Maslow, Motivation and

    Personality, Harper and Row Publisher,

    New York 1943, hal 236]. Ini berarti level

    ke-4 menjadi pencapaian tertinggi

    (hampir) seluruh manusia.

    Dua tingkatan dalam

    kebutuhan Esteem (Penghargaan)

    adalah reputasi dan harga diri.

    Reputasi adalah persepsi akan gengsi,

    pengkuan, atau ketenaran yang dimiliki

    seseorang, dilihat dari sudut pandang

    orang lain. Sementara harga diri

    adalah perasaan pribadi seseorang

    bahwa dirinya bernilai atau berman-

    faat dan percaya diri. Harga diri

    menggambarkan sebuah "keinginan

    untuk memperoleh kekuatan, pencapa-

    ian atau keberhasilan, serta

    kepercayaan diri di hadapan dunia.

    Dengan kata lain, harga diri didasari

    oleh kemampuan nyata dan bukan

    didasari oleh opini orang lain. [Jess

    Feist & Gregory J. Feist, Theory of

    Personality, Salemba Humanika,

    Jakarta 2011]

    Pada kasus gagal

    akademis sebelumnya, siswa tersebut

    gagal dalam memenuhi kebutuhan

    esteem. Ia tidak merasakan

    kemenangan sebagai pelajar.

    Kemudian ia mensubtitusi rasa

    kemenangan tersebut dengan cara

    yang ia bisa. Mabuk-mabukan dan

    vandalisme boleh dikata pelampiasan

    depresi akan rasa kekalahan dalam hal

    akademis, kemudian untuk mendapat-

    kan "prestasi" yang lain, ia mengguna-

    kan kekuatan fisik dalam wujud

    kekerasan hingga tawuran. Dengan

    demikian ia akan disegani dalam

    lingkungannya, dan merasa dirinya

    sebagai seorang pemenang atau

    jagoan.

    Singkatnya, mereka yang "menghajar" sesungguhnya hanya berusaha

    memenuhi kebutuhan esteem dengan cara yang mereka bisa

  • Terjadinya kekerasan dalam lingkungan pelajar tentu bukan hal yang ideal. Pelajar adalah kaum muda, aset bangsa, kelak mereka yang akan mengemudikan haluan negara ini. Maraknya tawuran menjadi indikasi buruknya kualitas moral negara kita. Hal ini berdampak ke banyak hal : akademik, sosial, parenting, budaya. Sederhananya, ini adalah masalah serius di negara kita.

    Sebagai desainer, yang bisa kita lakukan dalam menanggulangi masalah ini adalah dengan cara-cara preventif, cara-cara tidak langsung. Menciptakan issue, mengubah pola pikir pelajar menjadi alasan mengapa kita sebagai desainer diandalkan.

    Untuk mengubah pola pikir, yang utama dilakukan adalah menyentuh emosi dari audien. Buat mereka terangsang, terganggu, hingga jatuh cinta dengan issue yang kita buat.

    Dalam poster ini, secara alih bahasa pemili-han kata yang digunakan adalah sangat baik. Jumlah kata dalam poster ini singkat, hanya 4 kata ditambah dengan gaya bahasa berima ar-ar. Ini mengakibatkan pesan mudah tersampaikan dan mudah diingat. Namun, pesan verbal yang disampaikan kurang kuat. Sekedar memberi tahu, namun tidak menggugah emosi audiensnya.

    Dari segi psikologis yang sudah dibahas, disimpulkan bahwa mereka yang menghajar hanya berusaha memenuhi kebutuhan esteem dengan cara yang mereka bisa. Artinya, merekapun berada pada posisi "terpaksa" sehingga harus seperti demikian. Penggunaan kata "bukan" justru semakin memojokkan mereka.

    Agar lebih diterima di benak pelajar, sebaiknya menggunakan kalimat yang bersifat membangun, motivatif. Hindari kata yang menghakimi, mengeluhkan audien.

    K R I T

    I K & S

    A R A N

    J U A R A S E J AT I , TA N PA B E L AT I

  • 41/24/0/0

    85/67/0/0

    1. Siluet burung, ikon burung ini tidak perlu

    2. menyadakan illustrasi awan

    Solusinya mengubah warna background untuk menjelaskan

    suasana malam

    R E

    D E S

    I G N

    J U A R A S E J AT I

    TA N PA B E L AT I

  • E k o H a d i w i ta n t o1 1 1 2 1 4 6 0 2 4

    Y u s u f H a b i b i1 1 1 2 1 6 7 0 2 4

    C a h y o n o H e n d r i S1 1 1 2 1 7 8 0 2 4

    R a m a P r a n e n d r a1 1 1 2 1 8 4 0 2 4

    D A F

    P U S

of 11/11
I N T E R P R E T A S I P O S T E R D K V d i l o r o n g SURGA, DIBAWAH TELAPAK KAKI IBU
Embed Size (px)
Recommended