KONSEP. K3

Date post:11-Aug-2015
Category:
View:293 times
Download:30 times
Share this document with a friend
Transcript:

PENCEGAHAN KECELAKAAN ACCIDENT PREVENTION MODEL UU.1 / 70 TENTANG KESELAMATAN KERJA

Presented by : Ir.M.Budiman.S.AK3

PENCAGAHAN KECELAKAAN (ACCIDENT PREVENTION) MODEL UU1/70 TTG KESELAMATAN KERJA I. PENDAHULUANPENCEGAHAN KECELAKAAN Adalah serangkaian tindakan/upaya yang dilakukan sebelum suatu kecelakaan terjadi (Proactive Action) Model ini dilandasai konsepsi Pengendalian setiap unsur kecelakaan yang meliputi : 1. Identifikasi Bahaya 2. Analisa Sebab 3. Analisa Akibat

Model ini menekankan bahwa terhadap setiap unsurunsur kecelakaan harus dilakukan pengendalian jauh sebelum masuk sistem atau sejak tahap perancangan sistem (Forward Control of System))Hal penting yang sering terabaikan didalam upaya pencegahan kecelakaan adalah tidak dipertimbangkannya bahwa unsur-unsur kecelakaan dimaksud merupakan suatu dimensi yang bersifat dinamis dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya, bukan statis dan berdiri sendiri. Pertimbangan ini dilandasi atas dasar pengertian kecelakaan yang merupakan suatu proses interaksi dari unsur-unsur kecelakaan yang tidak terkendali serta menimbulkan akibat yang dapat merugikan kehidupan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja bahwa pengendalian unsur-unsur kecelakaan dimaksud dilakukan melalui penerapan dan pelaksnakaan syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja melalui : >. Pendekatan kesisteman (Technical approach) >. Terpadu sistem (integrated of system) >. Konsisten Sepanjang daur hidup sistem (life time of system) >. Tinjauan Risiko (Risk assessment) Kesemuanya itu menuntut adanya pemahaman kinerja sistem dalam setiap tingkatan pekerjaannya.

II. KONSEPSI K3Konsep Dasar dari upaya K3 adalah Pengendalian Unsur Unsur Kecelakaan yang mencakup hal sebagai berikut : 1. Identifikasi Bahaya (Hazard Identification). Bahaya (Hazards) adalah suatu kondisi yang berpotensi terjadinya kecelakaan (accident) yang terkandung dalam setiap sistem sebagai sumber bahaya (Hazard built-in system). Identifikasi bahaya dalam setiap sumber bahaya dilakukan melalui pendekatan kesisteman (tidak parsial), yang mengacu dan bertitik tolak pada perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi serta berdasarkan skala kecepatan dan kedalaman penerapannya di tempat kerja.

Teknik Identifikasi Bahaya (Hazard IdentificationTechnic).Kembangkan teknik identifikasi bahaya sesuai dengan keberadaan sistem yaitu : >. Buat Batasan Sistem >. Bentuk Tim >. Kembangkan Teknik Identifikasi - Check List - Audit - HAZOPS - PHA - FMEA >. Penilaian Sistem Pengendali (Countermuasure) >. Standar >. Peraturan Perundang-Undangan

Identifikasi bahaya pada dasarnya menuntut adanya upaya pengenalan setiap bahaya dalam setiap sumber yang merupakan langkah pemikiran awal didalam menerapakan teknologi pengendalian bahaya (how to apply hazard control technology). Kegagalan didalam langkah identifikasi bahaya dapat mengalpakan pemikiran terhadap upaya pengendalian bahaya (penerapan dan pelaksaaan syarat-syarat K3). Untuk menjamin keberhasilan langkah tersebut tuntutan pemahaman terhadap sistem menjadi suatu keharusan. Untuk memberikan gambaran Identifkasi Bahaya dimaksud tinjau Teknik Identifikasi SMT pada suatu Diagram Alir Proses Sederhana sebagai berikut :

DIAGRAM ALIR PROSES PRODUKSIPURGING PROSES SISTEM PEMROSES PENC. UDARA KIMIA : GAS, VAVOR, DUST ETC FISIK : NOISE, VIBRASI, HEAT, RH, ETC

PROSES BAHAN BAKU UTAMA BA HA N BA KU PE MB AN TU PRODU KSI T,P,H RECYCLY RECYCLY SEPARA PRODUK TOR BAHAN JADI AKHIR BY PRODUCT

ENERGI/UTILITY : . . . . . STEAM ELECTRICAL MECHANICAL PNEUMATIC CHEMICAL

IPAL

BADAN AIR SUNGAI DAN LAUT

Berdasarkan gambaran proses sederhana tersebut, bahwa identifikasi bahaya dilakukan pada setiap tahapan kegiatan secara berkesinambungan yang menyangkut sumber bahaya : bahan, kondisi proses, tenaga penggerak, proses, hasil proses, sisa proses, peralatan, instalasi dan faktor lain yang menjadi pertimbangan. Secara umum prinsip identifikasi bahaya sebagaimana tersebut di atas dapat dijadikan gagasan terhadap pola identifikasi bahaya pada kegaiatan/proses indudtri secara umum sesuai dengan sisfat, jenis dan kompleksitasnya.

2. Analisa Sebab.Sebab Kecelakaan dapat diartikan sebagai ukuran kemungkinan terjadinya kecelakaan (Probability of Accident). Oleh karenanya penyebab kecelakaan harus terukur dan dapat dinyatakan dalam angka-angka (kualitatif dan kuantitatif). Hal ini sebagaimana yang sering disampaikan oleh Lord Kalvin dalam kaitannya dengan Jaminan Teknologi (Assurance Technology) dimana dinyatakan bahwa : if you can measure, what you are talking about and express it in numbers, you know something about it. Hal ini penting untuk rancangan produk (product design) mengingat penyebab kecelakaan berkaitan dengan faktor kehandalan dari sistem (reability engineering).

Dalam hal Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Safety and Occupational Health) penyebab kecelakaan dapat digolongkan ke dalam tiga faktor, dimana masing-masing faktor dapat terdiri dari banyak unsur bergantung tingkat kerumitan dan jenis kegiatan yang terlibat. Ketiga faktor penyebab kecelakaan dimaksud adalah :a. Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition) yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi fisik dari sistem. b. Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action) yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan prilaku dan sikap dari pekerja C. Kelemahan Pimpinan (Lack of Control Management) yaitu berkaitan dengan komitmen dan kebijakan pimpinan.

Baca pasal 1 butir 1 UU1/70 : Pengertian Tempat Kerja yang merupakan dasar dan ruang lingkup dari penerapan dan pelaksanaan syarat-syarat K3 di tempat kerja, dimana esensi tempat kerja dimaksud adalah adanya: > Tenaga Kerja > Kegiatan Usaha > Sumber /Sumber-sumber Bahaya Perlu ditekankan disini bahwa pengertian tempat kerja dimana berlaku syarat-syarat K3 tidak membatasi ruang lingkup upaya Pencegahan Kecelaakaan di luar tempat kerja

Analisa Ketiga faktor penyebab kecelakaan sebagaimana dimaksud merupakan kata kunci guna menjamin keberhasilan upaya K3, mengingat Kecelakaan terjadi merupakan kegagalan didalam mengendalikan sebab kecelakaan sehubungan dengan adanya sumber atau sumber-sumber bahaya.a. Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition) Seperti telah disampaikan bahwa Kondisi Tidak Aman berkaitan dengan segala kondisi fisik dari sistem. Karenanya yang menjadi pemikiran K3 adalah bagaimana menjadikan sistem tetap aman (safe condition) sepanjang daur hidupnya. Upaya ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan langkahlangkah sebagai berikut :

>. Rerancangan Sistem (Design Engineering) >. Pekerjaan Perancangan (Design Construction) >. Uji-Coba Produk Perancangan (Start-Up Design Product) >. Penggunaan /Pemakaian (Operation) >. Pembongkaran (Demolition)Pertimbanagan lain yang harus menjadi perhatian didalam perancangan sistem adalah faktor manusia/tenaga kerja yang didasarkan pada organ tubuh dan prilaku manusia serta respon manusia didalam menggunakan alat (Human Factor Engineering /Ergonomics). Hal ini menekankan bahwa upaya pencegahan kecelakaan harus mempertimbangkan perancangan sistem (design engineering), yang berorientasi pada tampilan/kinerja gagal berfungsi alat tetap bekerja aman (fail - safe design).

Pemahaman perancangan sistem (system design) sangat memberikan kemudahan didalam menganalisa kemugkinan kegagalan dari sistem yang dapat menimbulkan kecelakaan. Penekanan ini dilandasi kenyataan bahwa perancang (designer) selalu mempertimbangkan dan menghitung kehandalan sistem rancangannya (reability engineering) sesuai dengan spesipikasi produk rancangan (produc design). Dalam kaitan K3 reability engineering ini tidak lain adalah probability of success atau life time of system. Catatan : manipulasi standar perancangan (dalam tahap pembangunan/konstruksi) dapat mengurangi kinerja sistem yang pada akhirnya tidak jarang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan dalam pengoperasian sistem.

Secara nyata dalam kaiatnnya dengan K3 penjelmaannya dari reability engneering dapat dinyatakan dalam umur teknis produk (life time), dan untuk mencapai umur teknis dimaksud dalam pemakaian sistem harus mengikuti hirarkis instruksi kerja secara konsisten yang ditungkan dalam standar operating procedure. Seperti diketahui bahwa pembuatan dan penyususnan SOP selalu didasarkan pada hasil analisa pekerjaan aman dan benar (Job Safety Analysis). Berdasarkan uraian tersebut dapat diformalasikan bahwa : Kehandalan sistem merupakan umur teknis sistem (Probability of Succsess).

b. Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action)Tindakan tidak aman adalah penyebab kecelakaan yang berkaitan dengan tindakan pekerja didalam melaksanakan pekerjaaan yang dipengaruhi oleh prilaku dan sikap pekerja didalam memandang pekerjaannya.

Seperti diketahui bahwa hampir 85 % penyebab kecelakaan adalah berkaitan dengan tindakan tidak aman dari pekerja didalam melaksanakan pekerjaan. Banyak unsur yang dapat memberikan kontribusi terhadap hal ini, diantaranya adalah :>. >. >. >. Tingkat kesejahteraan Tingkat pendidikan/pengetahuan Tingkat kepatuhan Kondisi fisik

Hal sangat penting yang harus dipertimbangkan adalah bahwa tindakan tidak aman dari pekerja di tempat kerja sangat tidak terlepas dari keadaan kehidupan pekerja dan pengaruh luar tempat kerja, hal ini menuntut adanya intervensi dari perusahaan terhadap prilaku dan sikap pekerja dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya mengeliminir atau mereduksi berbagai unsur yang dapat mempengaruhi tindakan pekerja di tempat kerja.Disamping itu pengendalian penyebab kecelakaan ini dapat ditempuh melalui : >. >. >. >. Pendidikan dan Pelatihan Kelengkapan SOP Kepatuhan terhadap K3 Pengenalan Bahaya

Langkah-langkah tersebut dimaksudkan agar setiap pekerja mampu berperan sebagai pengendali K3 didalam melangsungkan pekerjaannya (S

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended