Home >Science >kimia unsur

kimia unsur

Date post:22-Nov-2014
Category:
View:1,007 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Description:
 
Transcript:
  • 1. BAB 3 KIMIA UNSUR 3.1 Kelimpahan Unsur-unsur di Alam 3.2 Sifat-sifat Unsur 3.3 Pembuatan dan Manfaat Beberapa Unsur Logam dan Senyawanya 3.4 Pembuatan dan Manfaat Beberapa Unsur Nonlogam dan Senyawanya 3.5 Unsur Radioaktif 3.6 Penggunaan Radioisotop

2. Keberadaan Unsur-unsur di Kulit Bumi a. Sekitar 90 jenis unsur terdapat di alam, sisanya merupakan unsur buatan. Sebagian dari unsur tersebut terdapat sebagai unsur bebas, tetapi lebih banyak yang berupa senyawa. b. Unsur-unsur gas mulia (helium, neon, argon, kripton, xenon, dan radon) terdapat sebagai unsur bebas. c. Beberapa unsur logam, yaitu emas, platina, perak, dan tembaga, juga ditemukan dalam bentuk bebas dan senyawa. d. Beberapa unsur nonlogam, yaitu oksigen, nitrogen, belerang, dan karbon. e. Bahan-bahan alam yang mengandung unsur atau senyawa tertentu dalam kadar yang relatif besar disebut mineral. f. Mineral yang secara komersial digunakan sebagai sumber logam disebut bijih. 3. Sifat-sifat Kimia Gas Mulia a. Radon ternyata dapat bereaksi spontan dengan fluorin, sedangkan xenon memerlukan pemanasan atau penyinaran untuk memulai reaksi. b. Kripton lebih sukar, hanya bereaksi dengan fluorin jika disinari atau jika diberi loncatan muatan listrik. c. Sementara itu helium, neon, dan argon, ternyata lebih sukar lagi bereaksi dan belum berhasil dibuat suatu senyawa dari ketiga unsur itu. d. Kereaktifan gas mulia bertambah besar sesuai dengan pertambahan jari-jari atomnya, yaitu dari atas ke bawah. 4. Sifat-sifat Fisis Halogen 5. Struktur Halogen a. Dalam bentuk unsur, halogen (X) terdapat sebagai molekul diatomik (X2). b. Molekul X2 dapat mengalami disosiasi menjadi atom- atomnya. X2(g) 2X(g) c. Kestabilan molekul halogen (X2) berkurang dari Cl2 ke I2. d. Hal itu sesuai dengan pertambahan jari-jari atomnya, sehingga energi ikatan dari ClCl ke II berkurang. e. Akan tetapi, energi ikatan FF ternyata lebih kecil daripada ikatan ClCl karena kecilnya jari-jari atom fluorin. 6. Pada suhu kamar, fluorin dan klorin berupa gas, bromin berupa zat cair yang mudah menguap, sedangkan iodin berupa zat padat yang mudah menyublim. Pemanasan iodin padat pada tekanan atmosfir tidak membuat unsur itu meleleh, tetapi langsung menguap (menyublim). Wujud Halogen 7. Warna dan Aroma Halogen a. Fluorin berwarna kuning muda, klorin berwarna hijau muda (kloros berarti hijau), bromin berwarna merah tua, iodin padat berwarna hitam, sedangkan uap iodin berwarna ungu. b. Semua halogen berbau rangsang dan menusuk, serta bersifat racun. Kelarutan Halogen Kelarutan dalam air berkurang dari fluorin ke iodin. 8. Halogen merupakan kelompok unsur nonlogam yang paling reaktif. Namun demikian, kereaktifannya menurun dari fluorin ke iodin. Sifat-sifat Kimia 9. Reaksi-reaksi Halogen a. Reaksi dengan logam Halogen bereaksi dengan sebagian besar logam menghasilkan halida logam dengan bilangan oksidasi tertinggi. b. Reaksi dengan hidrogen Semua halogen bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrogen halida (HX). c. Reaksi dengan nonlogam dan metaloid tertentu Halogen bereaksi dengan sejumlah nonlogam dan metaloid. 10. d. Reaksi dengan air Fluorin bereaksi hebat dengan air membentuk HF dan membebaskan oksigen. e. Reaksi dengan basa Klorin, bromin, dan iodin mengalami reaksi disproporsionasi dalam basa. f. Reaksi antarhalogen Antarhalogen dapat bereaksi membentuk senyawa antarhalogen. 11. Daya Oksidasi Halogen Halogen merupakan pengoksidasi kuat. Daya pengoksidasi halogen menurun dari atas ke bawah. Sebaliknya, daya reduksi ion halida (X) bertambah dari atas ke bawah. Jadi, I merupakan reduktor terkuat, sedangkan F merupakan reduktor terlemah. Daya oksidasi halogen atau daya pereduksi ion halida dicerminkan oleh potensial elektrodenya. Semakin positif harga potensial elektrode, semakin mudah mengalami reduksi, berarti merupakan pengoksidasi kuat. 12. Reaksi Pendesakan Antarhalogen Halogen yang bagian atas dapat mengoksidasi halida yang bagian bawahnya, tetapi tidak sebaliknya. Contoh: Klorin dapat mendesak bromin, tetapi sebaliknya bromin tidak dapat mendesak klorin. Cl2(g) + 2NaBr(aq) 2NaCl(aq) + Br2(l) Br2(l) + 2NaCl(aq) (tidak ada reaksi) 13. Reaksi-reaksi Logam Alkali 1. Reaksi dengan Air Semua logam alkali bereaksi dengan air membentuk basa dan gas hidrogen. 2L(s) + 2H2O(l) 2LOH(aq) + H2(g) 2. Reaksi dengan Hidrogen Jika dipanaskan, logam alkali dapat bereaksi dengan gas hidrogen membentuk hidrida, suatu senyawa ion yang hidrogennya mempunyai bilangan oksidasi 1. 2L(s) + H2(g) 2LH(s) 14. 3. Reaksi dengan Oksigen Logam alkali terbakar dalam oksigen membentuk oksida, peroksida atau superoksida. 4L(s) + O2(g) 2L2O(s) L Jika oksigen berlebihan, natrium dapat membentuk peroksida. 2Na(s) + O2(g) Na2O2(s) Kalium, rubidium, dan sesium dapat membentuk superoksida dalam oksigen berlebihan. L(s) + O2(g) LO2(s) (L = K, Rb, Cs) 15. Logam alkali bereaksi hebat dengan halogen membentuk garam halida. 2L(s) + X2 2LX(s) Reaksi dengan Halogen 16. Beberapa Reaksi Logam Alkali Tanah 1. Reaksi dengan Air Kalsium, strontium, dan barium bereaksi baik dengan air membentuk basa dan gas hidrogen. Magnesium bereaksi sangat lambat dengan air dingin dan sedikit lebih baik dengan air panas, sedangkan berilium tidak bereaksi. M(s) + 2H2O(l) M(OH)2(aq) + H2(g) 17. 2. Reaksi dengan Udara Semua logam alkali tanah terkorosi terus-menerus di udara membentuk oksida, hidroksida atau karbonat, kecuali berilium dan magnesium. 2M(s) + O2(g) 2MO(s) 3M(s) + N2(g) M3N2(s) 3. Reaksi dengan Halogen (X2) Semua logam alkali tanah bereaksi dengan halogen membentuk garam halida. M(s) + X2(g) MX2(s) 18. 4. Reaksi dengan asam dan basa Semua logam alkali tanah bereaksi dengan asam kuat (seperti HCl) membentuk garam dan gas hidrogen. Reaksi makin hebat dari Be ke Ba. Be juga bereaksi dengan basa kuat, membentuk Be(OH)4 dan gas H2.2 19. Reaksi Nyala Logam Alkali dan Alkali Tanah 20. Kelarutan Senyawa Logam Alkali Tanah Salah satu perbedaan logam alkali dari alkali tanah adalah dalam hal kelarutan senyawanya. Senyawa logam alkali pada umumnya mudah larut dalam air, sedangkan senyawa logam alkali tanah banyak yang sukar larut. 21. Grafik Titik Leleh Unsur-unsur Periode Ketiga 22. Grafik Energi ionisasi Unsusr-unsur Periode Ketiga 23. a. Natrium, magnesium, dan aluminium merupakan logam sejati. b. Ketiga unsur itu merupakan konduktor listrik dan panas yang baik, serta menunjukkan kilap logam yang khas. c. Silikon tergolong metaloid dan bersifat semikonduktor. Fosforus, belerang, dan klorin merupakan nonlogam. Padatan ketiga unsur itu tidak menghantar listrik. d. Secara kimia, sifat nonlogam dari fosforus, belerang, dan klorin tercermin dari kemampuannya membentuk ion negatif. Sifat Logam dan Nonlogam 24. a. Daya pereduksi unsur-unsur periode ketiga berkurang dari kiri ke kanan, sebaliknya daya pengoksidasinya bertambah. b. Jadi, pereduksi terkuat adalah natrium, sedangkan pengoksidasi terkuat adalah klorin. c. Kecenderungan tersebut sesuai dengan energi ionisasi yang cenderung bertambah dari kiri ke kanan. Sifat Pereduksi dan Pengoksidasi Unsur Periode Ketiga 25. Sifat-sifat Umum Unsur Transisi Unsur transisi mempunyai sifat-sifat khas yang membedakannya dari unsur golongan utama, antara lain: 1. Sifat logam, semua unsur transisi tergolong logam dengan titik cair dan titik didih yang relatif tinggi. 2. Bersifat paramagnetik (sedikit tertarik ke dalam medan magnet). 3. Membentuk senyawa-senyawa yang berwarna. 4. Mempunyai beberapa tingkat oksidasi. 5. Membentuk berbagai macam ion kompleks. 6. Berdaya katalitik, banyak unsur transisi atau senyawanya yang berfungsi sebagai katalis, baik dalam proses industri maupun dalam metabolisme. 26. Sifat-sifat Unsur Transisi Periode Keempat 27. Sifat Magnet a. Unsur transisi periode keempat dan senyawa-senyawanya umumnya bersifat paramagnetik. b. Feromagnetisme hanya diperlihatkan oleh beberapa logam, yaitu besi, kobal, dan nikel. c. Sifat magnet zat berkaitan dengan konfigurasi elektronnya. d. Zat yang bersifat paramanetik mempunyai setidaknya satu elektron tak berpasangan. Semakin banyak elektron tak berpasangan, semakin bersifat paramagnetik. 28. Warna Senyawa Unsur Transisi Periode Keempat a. Pada umumnya unsur-unsur transisi periode keempat membentuk senyawa berwarna, baik dalam bentuk padat maupun dalam larutan. b. Warna senyawa dari unsur transisi juga berkaitan dengan adanya subkulit d yang terisi tidak penuh. c. Senyawa dari Sc dan Ti tidak berwarna karena subkulit 3d-nya kosong. 3+ 3+ d. Senyawa dari Zn juga tidak berwarna karena subkulit 3d-nya terisi penuh. 2+ 29. Tingkat Oksidasi Unsur Transisi Periode Keempat 30. Struktur Ion Kompleks Ion kompleks adalah ion yang terbentuk dari suatu kation tunggal (biasanya ion logam transisi) yang terikat langsung pada beberapa anion atau molekul netral. Ion kompleks terdiri dari ion atau atom pusat dan ligan-ligan. Ligan-ligan terikat pada ion pusat melalui ikatan kovalen koordinat. 31. Beberapa Contoh Ligan 32. Bilangan Koordinasi Jumlah ligan sederhana atau jumlah ikatan koordinasi yang dibentuk oleh satu ion pusat disebut bilangan koordinasi ion pusat itu. Muatan Ion Kompleks Muatan ion kompleks sama dengan jumlah muatan ion pusat dengan ligan-ligannya. 33. Tata Nama Ion Kompleks a. Nama ion kompleks, baik kation ataupun anion, terdiri atas dua bagian yang ditulis dalam satu kata. Bagian pertama menyatakan jumlah dan nama ligan, bagian kedua menyatakan nama ion pusat dan bilangan oksidasinya. Bilangan oksidasi ion pusat ditulis dengan angka Romawi dalam tanda kurung. b. Bila terdapat lebih dari sejenis ligan, maka urutan penulisannya adalah berdasarkan urutan abjad dari nama ligan tersebut (ligan Cl dianggap bermula dengan huruf c bukan k). 34. Tata Nama Ion Kompleks 35. Pembuatan Natrium NaCl(l) Na+(l) + Cl(l) Katode : Na+(l) + e Na(l) Anode : 2Cl(l) Cl2(g) + 2e Sel Downs untuk elektrolisisi leburan NaCl 36. Penggunaan Natrium dan Senya

Embed Size (px)
Recommended