Home > Documents > KENDURI DALAM PERSPEKTIF MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN...

KENDURI DALAM PERSPEKTIF MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN...

Date post: 07-Feb-2021
Category:
Author: others
View: 0 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 71 /71
KENDURI DALAM PERSPEKTIF MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) (STUDI KASUS DI DESA BRINGIN KECAMATAN BRINGIN KABUPATEN SEMARANG) SKRIPSI Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Disusun oleh : Di susun oleh : Iik Dian Ekayanti NIM: 111 09 064 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2016
Transcript
  • KENDURI

    DALAM PERSPEKTIF

    MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA)

    (STUDI KASUS DI DESA BRINGIN KECAMATAN

    BRINGIN KABUPATEN SEMARANG)

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan Islam

    Disusun oleh :

    Di susun oleh :

    Iik Dian Ekayanti

    NIM: 111 09 064

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

    2016

  • MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO

    “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik

    bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)

    hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab : 21)

  • PERSEMBAHAN

    Skripsi ini penulis persembahkan untuk:

    1. Orang tua Bapak (Bastori) dan Ibu (Siti Wafiroh) yang telah memberikan

    semangat serta mendukung demi meraih kesuksesan anaknya. Terima kasih

    atas semua kasih dan sayang yang telah di berikan.

    2. Bapak mertua (Towil) dan Ibu mertua (Suriyah) yang juga telah memberikan

    semangat dalam mencapai kesuksesan menantunya.

    3. Suami (Yanu Dani Marfiyanto) dan Anakku (Talita Alya Iftina) yang selalu

    menjadi motivasi dan penyemangat hingga sampai sekarang ini.

    4. Segenap keluarga yang juga mendoakan demi kesuksesan saya.

  • KATA PENGANTAR

    Segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan limpahan rahmat

    dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam tercurah kepada Khatamul Anbiya

    Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabatnya.

    Skripsi yang berjudul “ KENDURI DALAM PERSPEKTIF

    MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) (Studi Kasus Di Desa Bringin

    Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang) ” ini disusun untuk memenuhi salah

    satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) pada Fakultas Tarbiyah

    dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam

    Negeri Salatiga.

    Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan

    dan juga arahan serta saran dari berbagai pihak, sehingga penyusunan skripsi ini

    dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terima kasih

    sedalam dalamnya kepada:

    1. Bapak Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga

    2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

    Keguruan

    3. Ibu Siti Ruhayati, M.Pd. selaku Ketua Jurusan PAI

    4. Ibu Hj. Maslikhah, S.ag. M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik

    5. Bapak Prof. Dr. Mansur, M.Ag. Selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang

    dengan tulus, ikhlas membimbing penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.

    6. Segenap dosen dan karyawan IAIN salatiga

  • ABSTRAK

    Ekayanti, Iik Dian. 2016. Kenduri Dalam Perspektif Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    (MTA) (Studi Kasus Di Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten

    Semarang) . Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan

    Agama Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.

    Pembimbing : Prof. Dr. Mansur, M.Ag.

    Kata Kunci: Kenduri, Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    Kenduri adalah ritual yang dijalankan setelah meninggalnya seseorang

    yang berupa pembacaan zikir, doa, dan bacaan-bacaan Al-Qur‟an dengan

    melibatkan kerabat dan warga masyarakat sekitar yang dipandu oleh seorang

    modin. Perdebatan muncul terutama pada status hukum tahlilan, apakah

    menjalankan tahlilan itu sebuah amalan ibadah atau bid‟ah dan apakah haram

    atau halal menjalankan ritual tersebut. Perdebatan ini semakin memanas ketika

    sekelompok masyarakat dengan arogan menyatakan bahwa ritual ini dilarang dan

    haram hukumnya menurut Islam kemudian mengklaim syirik bagi mereka yang

    menjalankan.

    Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian skripsi ini adalah pertama,

    Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai pandangan hukum kenduri

    yang dikemukakan oleh warga kelompok Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA).

    Kedua, Untuk menjelaskan landasan berpikir dari hukum penolakan kenduri yang

    digunakan oleh warga kelompok Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA).

    Penelitian yang penulis lakukan menggunakan jenis penelitian kualititaf,

    yaitu penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik, bahwa dasarnya

    menyatakan dalam keadaan sebenarnya atau sebagaimana adanya (natural

    setting). Sedangkan berdasarkan sifat masalahnya penelitian ini menggunakan

    metode deskriptif . Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang

    berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan obyek sesuai dengan apa

    adanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di

    desa bringin berpandangan kenduri merupakan kegiatan atau ritual yang

    berlangsung di masyarakat dan hanya tradisi yang dilakukan turun temurun untuk

    memperingati atau mendoakan orang atau keluarga yang sudah meninggal.

    kenduri secara fungsi tidak ada karena tahlilan pada dasarnya do‟a-do‟a yang

    dikirimkan untuk orang yang sudah meninggal tidak akan menjadi pahala bagi

    orang yang sudah meninggal. Sedangkan kenduri tidak diajarkan oleh Rasulullah,

    sehingga pahala yang akan dikirimkan kepada orang yang meninggal tidak

    sampai. Mereka menolak akan kenduri adalah tidak adanya sumber rujukan atau

    perintah yang jelas dari Al-Qur‟an dan Sunnah, bahkan Rosulullah tidak

    mengajarkannya. Mereka mengambil dasar di dalam al-Qur‟an yaitu surat An-

    Najm ayat 38-39 dan hadits riwayat Abdu Daud dan Tirmidzi yang berkenaan

    dengan hal-hal yang bid‟ah.

  • DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL................................................................................... i

    PERSETUJUAN PEMBIMBING................................................................. ii

    PENGESAHAN KELULUSAN................................................................ iii

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN................................................... iv

    MOTTO .................................................................................................. v

    PERSEMBAHAN.................................................................................... vi

    KATA PENGANTAR ................................................................................vii

    ABSTRAK ................................................................................................viii

    DAFTAR ISI ........................................................................................... ix

    BAB I : PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1

    B. Perumusan Masalah ................................................................................ 5

    C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 5

    D. Manfaat Penelitian................................................................................ 6

    E. Penegasan Istilah ................................................................................... 6

    F. Metodologi Penelitian.............................................................................. 7

    G. Sistematika Penulisan ............................................................................ 15

    BAB II : LANDASAN TEORI

    A. Tradisi Kenduri…………………………….......................................... 17

    B. Pelaksanaan Tradisi Kenduri ……....................................................... 19

    C. Acara Dalam Kenduri ........................................................................... 21

  • 1. Pembukaan ………......................................................................... 21

    2. Tahlilan .......................................................................................... 21

    3. Penutup .......................................................................................... 25

    D. Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) ................................................. 26

    1. Pengertian Majelis Tafsir Al-Qur‟an …….................................... 27

    2. Tujuan Majelis Tafsir Al-Qur‟an .................................................. 31

    3. Struktur lembaga MTA ………………………………………… 31

    4. Kegiatan Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) ……………………… 32

    5. Dasar MTA Menolak Kenduri ………………………………… 36

    BAB III : PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

    A. Gambaran Umum Majlis Tafsir Al-Qur‟an di Bringin ......................... 37

    1. Sejarah Berdiri Majlis Tafsir Al-Qur‟an di Bringin ...................... 37

    2. Visi Misi Majlis Tafsir Al-Qur‟an di Bringin ................................38

    3. Manajemen Majlis Tafsir Al-Qur‟an di Bringin ............................41

    B. Pandangan Kelompok Pengajian Majlis Tafsir Al-Qur‟an

    di Bringin Terhadap Kenduri ......................................................45

    C. Dasar Kelompok Pengajian Majlis Tafsir Al-Qur‟an

    di Bringin Menolak Kenduri .....................................................49

    BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    A. Analisis Pandangan Kelompok Pengajian Majlis Tafsir Al-Qur‟an

    di Bringin Terhadap Kenduri ......................................................52

    B. Analisis Yang Mendasari Kelompok Pengajian Majlis Tafsir Al-Qur‟an

    di Bringin Menolak Kenduri ...................................................... 54

  • BAB IV : PENUTUP

    A. Kesimpulan............................................................................................ 57

    B. Saran-saran............................................................................................ 58

    C. Penutup...................................................................................................59

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Islam adalah agama dakwah, yang disebarluaskan dan diperkenalkan

    kepada manusia melalui aktifitas dakwah, tidak melalui kekerasan, pemaksaan

    atau kekuatan senjata. Islam tidak membenarkan pemeluk-pemeluknya

    melakukan pemaksaan terhadap umat manusia, agar mereka mau memeluk

    agama Islam. Islam adalah agama yang benar dan dapat diuji kebenarannya

    secara ilmiah, masuknya iman ke dalam kalbu setiap manusia merupakan

    hidayah Allah SWT.

    Al-Qur‟an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi

    Muhammad S.A.W., mengandumg hal-hal yang berhubungan dengan

    keimanan, ilmu pengetahuan, kisah-kisah, filsafat, peraturan-peraturan yang

    mengatur tingkah laku dan tata cara hidup manusia, baik sebagai makhluk

    individu ataupun sebagai makhluk sosial, sehingga berbahagia hidup di dunia

    dan di akhirat.

    Sebagian penduduk di Indonesia beragama Islam, tetapi masyarakat di

    Jawa banyak yang melakukan kegiatan-kegiatan atau tradisi yang dikaitkan

    dengan acara-acara agama. Salah satu kegiatan yang di lakukan oleh

    masyarakat Jawa yaitu kenduri.

    Kenduri adalah ritual yang dijalankan setelah meninggalnya seseorang

    berupa pembacaan zikir, doa, dan bacaan-bacaan Al-Qur‟an dengan melibatkan

    kerabat dan warga masyarakat sekitar yang dipandu oleh seorang modin

  • (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1992:231). Biasanya ritual ini dijalankan

    pada malam hari setelah menjalankan shalat Isya‟ dengan periode tertentu,

    antara lain: Pada saat kematian (selametan surtanah atau geblag), hari ketiga

    (selametan nelung dina), hari ketujuh (selametan mitung dina), hari keempat

    puluh (selametan patang puluh dina), hari seratus hari (selametan nyatus),

    peringatan satu tahun (mendak sepisan), peringatan kedua tahun (mendak

    pindo) dan hari keseribu (nyewu) sesudah kematian (Rudini, 1992:93). Dan ada

    juga yang melakukan peringatan saat kematian seseorang untuk terakhir

    kalinya (selametan nguwis-uwisi), (Ismawati, 2000:7).

    Tradisi ini tidak diketahui secara pasti asal-usulnya. Para pelaku

    tradisi hanya biasa mengatakan bahwa tradisi ini merupakan warisan dari

    nenek moyang mereka kurang lebih tiga atau empat generasi yang lalu. Tapi

    menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebut diadopsi para da‟i terdahulu

    dari upacara kepercayaan Animisme, agama Budha dan Hindu. Menurut

    kepercayaan Animisme, Hinduisme dan Budhisme bila seseorang meninggal

    dunia maka ruhnya akan datang ke rumah pada malam hari mengunjungi

    keluarganya. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul-

    kumpul dan mengadakan upacara-upacara sesaji, seperti membakar

    kemenyan, dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, maka ruh orang

    mati tadi akan marah dan masuk (sumerup) ke dalam jasad orang yang masih

    hidup dari keluarga si mati (www.syar‟iahonline.com. Download pada tanggal

    29 Oktober 2015).

    http://www.syar'iahonline.com/

  • Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk

    Islam, mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. Sebagai langkah

    awal, para da‟i terdahulu tidak memberantasnya, tetapi mengalihkan dari

    upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan

    Islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk-pauk untuk shadaqah. Mantera-

    mantera digantikan dengan zikir, do‟a dan bacaan-bacaan Al-Qur‟an.

    Akulturasi budaya dari Animisme, agama Hindu dan Budha menjadi

    Islam inilah yang sekarang menjadi perdebatan sengit oleh kalangan

    masyarakat. Perdebatan muncul terutama pada status hukum kenduri, apakah

    menjalankan kenduri itu sebuah amalan ibadah atau bid‟ah dan apakah haram

    atau halal menjalankan ritual tersebut. Perdebatan ini semakin memanas ketika

    sekelompok masyarakat dengan arogan menyatakan bahwa ritual ini dilarang

    dan haram hukumnya menurut Islam kemudian mengklaim syirik bagi mereka

    yang menjalankan. Padahal selama ini masyarakat menganggap ritual tersebut

    bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan syari‟at Islam, apalagi yang

    memimpin adalah orang yang tidak diragukan pengetahuannya agamanya.

    Perbedaan ini menciptakan pengelompokan terhadap masyarakat di

    Desa Bringin. Mereka yang menjalankan Kenduri dan mereka warga Majelis

    Tafsir Al-Qur‟an (MTA) yang tidak menjalankan Kenduri. Menurut kelompok

    warga MTA, larangan menjalankan ritual kenduri adalah, karena perkara

    tersebut tidak ada tuntunan dalam Islam, sedangkan perkara yang tidak ada

    tuntunannya adalah perkara bid‟ah dan semua bid‟ah adalah haram hukumnya

    untuk dijalankan. Selain itu, ciri khas kenduri adalah menghidangkan makanan

  • dan membagi-bagi bingkisan dari keluarga si mayit untuk diberikan kepada

    sanak kerabat maupun masyarakat sekitar, hal ini jelas-jelas dilarang dalam

    Islam.

    Sedangkan menurut kelompok yang melakukan kenduri, Kenduri

    bukanlah perkara yang diharamkan, karena dalam Kenduri penuh dengan

    aktifitas zikir kepada Allah SWT, dan membaca Al-Qur‟an. Islam tidak

    melarang umatnya untuk berzikir membaca kalimat dan membaca Al-Qur‟an

    dengan cara khusus seperti yang dilakukan dalam Kenduri. Tentang hidangan

    makanan dan bingkisan, orang yang melakukan Kenduri berpendapat bahwa itu

    adalah bentuk sedekah. Adapun sedekah tersebut dimaksudkan sebagai bentuk

    permohonan kepada masarakat untuk memaafkan dan merelakan kepergian si

    mayit, sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat sekitar atas perhatian

    dan partisipasi selama pengurusan si mayit, dan sebagai bentuk amal kebaikan

    yang pahalanya ditujukan kepada si mayit.

    Oleh karena itu, pembahasan yang sangat menarik tentang hukum

    kenduri menurut kelompok Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA), dengan dasar

    hukum yang sama Al-Qur‟an dan as-Sunnah, terjadi perbedaan persepsi. Dari

    masalah di atas penulis tertarik mengambil judul skripsi:

    “ KENDURI DALAM PERSPEKTIF MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN

    (MTA) (STUDI KASUS DI DESA BRINGIN KECAMATAN BRINGIN

    KABUPATEN SEMARANG)”.

  • B. Rumusan Penelitian

    Fokus penelitian ini adalah Kenduri dalam perspektif kelompok

    pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA). Fokus penelitian dalam penelitian

    ini adalah sebagai berikut:

    1. Bagaimana pandangan kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    (MTA) di Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang

    terhadap Kenduri?

    2. Apakah yang mendasari kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    (MTA) di Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang

    menolak Kenduri?

    C. Tujuan Penelitian

    Agar peneliti ini dapat memperoleh hasil yang baik, maka perlu

    direncanakan tujuan yang hendak dicapai, adapun tujuan yang ingin dicapai

    dalam pelaksanaannya adalah :

    1. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai pandangan hukum

    Kenduri yang dikemukakan oleh warga kelompok Majelis Tafsir Al-

    Qur‟an (MTA).

    2. Untuk menjelaskan landasan berpikir dari hukum penolakan Kenduri

    yang digunakan oleh warga kelompok Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA).

  • D. Manfaat Penelitian

    Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat berguna:

    1. Manfaat Teoritis

    Hasil-hasil penelitian diharapkan sebagai acuan atau referensi untuk

    menghadapi permasalahan yang muncul di masyarakat.

    2. Manfaat Praktis

    Hasil-hasil penelitian diharapkan untuk menambah wawasan khususnya

    wawasan tentang Tradisi Kenduri pada Upacara Selametan dan status

    hukumnya menurut hukum Islam.

    E. Penegasan Istilah

    Untuk menghindari interpretasi dan kesalahpahaman pengertian

    batasan istilah, maka peneliti menyampaikan batasan-batasan istilah sebagai

    berikut :

    1. Kenduri

    Kenduri adalah acara ritual (serimonial) memperingati hari kematian

    yang biasa dilaku-kan oleh umumnya masyarakat Indone-sia. Acara

    tersebut diselenggarakan keti-ka salah seorang dari anggota keluarga

    telah meninggal dunia. Secara bersama-sama, setelah proses penguburan

    selesai dilakukan, seluruh keluarga, handai tau-lan, serta masyarakat

    sekitar berkumpul di rumah keluarga mayit hendak menye-lenggarakan

    acara pembacaan beberapa ayat al Qur‟an, dzikir, dan do‟a-do‟a yang

    ditujukan untuk mayit di “alam sana” karena dari sekian materi

  • bacaannya ter-dapat kalimat tahlil ( اَل ِإَلَه ِإالَّ اهلُل ) yang diulang-ulang

    (ratusan kali). (Muhammad Idrus Ramli, 2010:58).

    2. Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) merupakan sebuah lembaga

    pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berkedudukan di Surakarta.

    MTA didirikan oleh Ustadz Abdullah Thufail Saputra pada pada tanggal

    19 September 1972. Beliau seorang mubaligh keturunan Pakistan yang

    juga berprofesi sebagai pedagang (http://www.mta.or.id/).

    Maka dapat diartikan bahwa belajar menggunakan Al-Qur‟an sebagai

    dasar pedomannya dalam Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) cabang binaan

    Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang.

    Menurut uraian batasan-batasan istilah, dapat disimpulkan bahwa

    pembahasan tentang judul: “ Kenduri Dalam Perspektif Majelis Tafsir Al-

    Qur‟an (MTA) (Studi Kasus di Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten

    Semarang)” adalah mempelajari hukum kenduri berdasarkan Al-Qur‟an dan as-

    Sunnah dalam pandangan warga Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di Desa

    Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang.

    F. Metode Penelitian

    Untuk memperoleh penelitian yang valid, maka harus digunakan

    metode yang tepat dan sesuai untuk pengolahan data sesuai obyek yang

    dibahas. Dalam hal ini dikemukakan beberapa metode dan sumber data yang

    berkaitan dengan penelitian yaitu :

  • 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

    Dilihat dari jenisnya, penelitian ini termasuk jenis penelitian

    kualitatif, yaitu suatu pendekatan dalam penelitian yang berorientasi pada

    fenomena atau gejala yang bersifat alami. Mengingat tujuannya adalah

    untuk mendapatkan data di lapangan, maka penelitian ini tidak dapat

    dilakukan hanya di laboratorium, melainkan harus dilaksanakan di lapangan

    (Ali, 1993:152). Selain itu penelitian ini juga disebut penelitian deskriptif

    kualitatif yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak

    menggunakan prosedur analisis statistic atau cara kuantifikasi lain yang

    tidak mengadakan perhitungan (Moleong, 2012:2).

    Penelitian ini akan mengadakan penelitian di lapangan tanpa

    menggunakan prosedur analisis statistik. Dalam hal ini peneliti akan

    mengadakan penelitian langsung di Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di

    Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang guna memperoleh

    data-data yang akurat mengenai hukum Kenduri dalam pandangan Majelis

    Tafsir Al-Qur‟an (MTA).

    2. Kehadiran Peneliti

    Dalam melakukan suatu penelitian, peneliti bertindak sebagai

    pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya pengumpulan

    data di lapangan. Instrument digunakan sebagai alat bantu dan berupa

    dokumen-dokumen yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan

    penelitian. Oleh karena itu, kehadiran peneliti secara langsung menjadi tolak

    ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga

  • keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau

    sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan.

    3. Lokasi Penelitian

    Lokasi penelitian merupakan tempat di mana penelitian akan

    dilakukan, beserta jalan dan kotanya. Dalam penelitian ini peneliti

    mengambil lokasi tempat pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA)

    Bringin yang diadakan setiap hari Rabu jam 15.00-17.00.

    4. Sumber Data

    1) Data Primer

    Menurut S.Nasution data primer adalah data yang diperoleh

    langsung dari lapangan atau tempat penelitian (Nasution, 2004:64). Kata-

    kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan

    dengan mengamati atau mewawancarai. Data primer digunakan untuk

    mendapatkan informasi langsung mengenai Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    (MTA) di Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang.

    2) Data Sekunder

    Data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari sumber

    bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang berupa surat pribadi,

    buku harian, notula rapat, sampai dokumen yang resmi dari berbagai

    instansi pemerintah. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk

    memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah

    dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan beberapa informan di

  • Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di Desa Bringin Kecamatan Bringin

    Kabupaten Semarang.

    5. Prosedur Pengumpulan Data

    Adapun dalam pengkajian skripsi ini peneliti menggunakan teknik

    pengumpulan data penelitian dengan cara sebagai berikut :

    1) Metode Wawancara

    Interview atau wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua

    orang, melibatkan peneliti yang ingi memperoleh informasi dari

    seseorang dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan

    tujan tertentu. Menurut Esterberg (2002), dalam Sugiyono wawancara

    merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide

    melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam satu

    topik. Ia juga mengemukakan beberapa macam wawancara yaitu

    wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur (Sugiyono,

    2008:317).

    Metode ini digunakan untuk mengetahui apa saja yang ada

    dalam pikiran dan perasaan responden. Salah satu cara yang akan

    ditempuh peneliti adalah melakukan wawancara secara mendalam

    dengan subyek penelitian dengan tetap berpegang pada arah sasaran dan

    fokus penelitian.

    Adapun pihak-pihak yang diwawancarai adalah sebagai berikut:

    1. Ketua cabang Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) Bringin, materi

    wawancara adalah seputar Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) Bringin

  • Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang (sejarah berdirinya, letak

    geografis, visi dan misi, kondisi peserta pengajian, guru, dan

    pengurus, sarana prasarana).

    2. Waka cabang Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di Desa Bringin, apa

    saja problem yang dihadapi dalam Kenduri menurut pandangan

    Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA).

    3. Guru Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA), materi wawancara seputar

    ilmu yang diajarkan, bagaimana cara penyampaian ilmu kepada

    peserta pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA).

    2) Metode Dokumentasi

    Metode dokumentasi merupakan pencarian data mengenai hal-

    hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkip, buku, surat kabar,

    majalah, dan sebagainya (Arikunto, 1996:6). Metode dokumentasi juga

    dapat diartikan sebagai metode pengumpulan data dengan cara mencari

    data atau informasi yang sudah dicatat dalam beberapa dokumen yang

    ada seperti buku induk, buku pribadi dan surat-surat keterangan lainnya.

    Teknik ini diarahkan untuk mengupulkan berbagai informasi,

    khususnya untuk melengkapi data dalam rangka menjawab pertanyaan

    penelitian mengenai hukum kenduri menurut pandangan Majelis Tafsir

    Al-Qur‟an (MTA) informasi atau data yang dikumpulkan melalui studi

    dokumentasi antara lain :

    a. Data tentang kondisi Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) Bringin, data

    guru, pengurus, dan peserta pengajian.

  • b. Buku yang digunakan dalam pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    (MTA) Bringin.

    3) Observasi

    Metode observasi merupakan pengamatan langsung dengan

    melihat atau mengamati sendiri obyek yang akan diamati. Observasi juga

    bisa diartikan sebagai pengamatan dengan sistematika fenomena-

    fenomena yang diteliti. Sutrisno Hadi (1986) menyatakan dalam bukunya

    Dr Sugiyono bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks,

    suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.

    Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan

    ingatan.

    Metode ini digunakan untuk memperoleh data dan

    mengumpulkan informasi mengenai Kenduri Dalam Perspektif Majelis

    Tafsir Al-Qur‟an (MTA) Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten

    Semarang.

    6. Analisis Data

    Analisis data kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan

    jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi

    satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan

    pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan

    memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Dalam analisis

    ini peneliti menggunakan tiga macam analisis yaitu reduksi data, penyajian

    data, dan verifikasi data atau kesimpulan. Fokus analisa data ini pada ruang

  • lingkup hukum Kenduri menurut Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) serta

    problematikanya.

    a. Reduksi Data

    Langkah awal ini untuk memudahkan pemahaman terhadap

    yang sudah terkumpul, reduksi data dilakukan dengan cara

    mengelompokkan data berdasarkan aspek-aspek permasalahan penelitian,

    aspek-aspek yang direduksi dalam penelitian ini adalah : kenduri dalam

    perspektif Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) serta problematikanya.

    b. Penyajian Data

    Data yang telah direduksi, kemudian disajikan dalam bentuk

    deskripsi berdasarkan aspek-aspek dan penelitian, penyajian data

    dimaksudkan untuk memudahkan peneliti menafsirkan data dan menarik

    kesimpulan. Sesuai dengan aspek-aspek masalah penelitian ini, maka

    susunan penyajian datanya dimulai dari hukum kenduri menurut Majelis

    Tafsir Al-Qur‟an (MTA) Bringin dan problematikanya.

    c. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

    Penarikan kesimpulan dan verifikasi dilakukan berdasarkan

    pemahaman terhadap data yang telah dikumpulkan, sesuai dengan

    hakikat penelitian kualitatif, penarikan kesimpulan ini dilakukan secara

    bertahap, pertama menarik kesimpulan sementara, namun seiring dengan

    bertambahnya data, maka harus dilakukan verifikasi dengan cara

    mempelajari kembali data yang telah ada. Berdasarkan verifikasi data ini

    selanjutnya peneliti dapat menarik kesimpulan akhir temuan penelitian.

  • 7. Pengecekan Keabsahan Penelitian

    Kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu: (1) kepercayaan,

    (2) keteralihan, (3) kebergantungan, (4) kepastian (Moelong, 2012:37).

    Tetapi dalam penelitian ini peneliti hanya memakai 3 macam antara lain :

    1) Kepercayaan

    Kepercayaan data dimaksudkan untuk membuktikan data yang

    dikumpulkan sesuai dengan yang sebenarnya.

    2) Kebergantungan

    Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan

    terjadinya kemungkinan kesalahan dalam pengumpulan dan

    menginterpretasikan data sehingga data yang dikumpulkan dapat dapat

    dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

    3) Kepastian

    Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang

    dilakukan dengan cara mengecek data dan informan serta interpretasi

    hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan

    audit.

    8. Tahap-tahap Penelitian

    a. Tahap pra-lapangan

    Dalam tahap ini, yang dilakukan peneliti adalah menyusun rancangan

    penelitian, memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajaki

    dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memafaatkan informan,

    serta menyiapkan perlengkapan penelitian.

  • b. Tahap pekerjaan lapangan

    Pada tahap ini peneliti harus mempersiapkan diri dengan menjaga

    kesehatan fisik, berpenampilan rapi dan sopan saat melakukan penelitian.

    Ketika memasuki lapangan, hendaknya peneliti berbaur mejadi satu dan

    menjaga keakraban dengan subyek agar tidak ada dinding pemisah antara

    keduanya. Selain itu peneliti juga harus berbahasa yang baik dan jelas

    agar dalam mencari informasi subyek mudah menjawabnya. Sambil

    berperan serta, peneliti juga mencatat data yang diperlukan.

    c. Tahap analisis data

    Analisis data menurut Patton dalam kutipan Moleong (2009:103), adalah

    proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola,

    kategori, dan satuan uraian dasar. Dalam hal ini peneliti mengatur,

    mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan

    mengategorikannya.

    G. Sistematika Pembahasan

    Sistematika diperlukan untuk menata dan mengatur sistematika

    penulisan sehingga mudah dibaca dan dipahami. Adapun sistematika penulisan

    dalam laporan penelitian ini adalah sebagai berikut :

    BAB I PENDAHULUAN : Memuat latar belakang masalah, fokus

    penelitian masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah,

    metode penelitian, dan sistematika penulisan.

  • BAB II LANDASAN TEORI : Merupakan kajian teoritis yang berisi

    tentang penegertian Kenduri dan hal-hal yang berkaitan dengan Majelis Tafsir

    Al-Qur‟an (MTA).

    BAB III PAPARAN HASIL PENELITIAN : Pada bab ini dipaparkan

    tentang definisi obyek penelitian yaitu Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di

    Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang.

    BAB IV PEMBAHASAN : Pada bab ini dijelaskan tentang hasil

    penelitian yang diperoleh peneliti dalam melakukan penelitian di lapangan.

    BAB V PENUTUP : Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran

    dari pembahasan yang telah dilakukan serta daftar pustaka dan lampiran-

    lampiran.

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Tradisi Kenduri

    Ada dua pendapat mengenai latar belakang tradisi kenduri. Pendapat

    yang pertama berasal dari Pengamat budaya dan sejarah Agus Sunyoto. Ia

    mengemukakan bahwa budaya kenduri kematian yang dilakukan umat Islam di

    Nusantara, khususnya di tanah Jawa bukan karena pengaruh Hindu atau Budha.

    Dalam Agama Hindu atau Budha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal

    peringatan orang meninggal pada hari ketiga, ketujuh, ke empat puluh, ke

    seratus atau ke seribu. Akan tetapi, berdasarkan catatan sejarah menunjukkan

    bahwa orang Cempa telah memperingati kematian seseorang pada hari ketiga (

    nelung dina), ketujuh ( mitung dina), ke empat puluh (matang puluh), ke

    seratus ( nyatus) dan ke keseribu ( nyewu). Orang-orang Cempa juga

    menjalankan peringatan khaul, peringatan hari Assyuro dan maulid Nabi

    Muhammad SAW. Kerajaan Cempa pada waktu itu dipengaruhi oleh Faham

    Syi‟ah. Tradisi kenduri, termasuk khaul adalah tradisi khas Cempa yang jelas-

    jelas terpengaruh faham Syi`ah. Begitu juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro,

    pembacaan kasidah-kasidah yang memuji-muji Nabi Muhammad menunjukkan

    keterkaitan tersebut. ( http://www.antara.co.id/arc/2008/4/27/kenduri-

    kematian-bukan-pengaruh-hindu-budha/,akses tanggal 29 Sepetember 2016.)

    Istilah kenduri itu sendiri menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena

    dipungut dari bahasa Persia, yakni kanduri yang berarti upacara makan-makan

    memperingati Fatimah Az Zahroh, putri Nabi Muhammad SAW. Agus

    http://www.antara.co.id/arc/2008/4/27/kenduri-kematian-bukan-pengaruh-hindu-budha/,akseshttp://www.antara.co.id/arc/2008/4/27/kenduri-kematian-bukan-pengaruh-hindu-budha/,akses

  • Sunyoto juga mengemukakan bahwa ditinjau dari aspek sosio-historis,

    munculnya tradisi kepercayaan di Nusantara ini banyak dipengaruhi pengungsi

    dari Cempa yang beragama Islam. (

    http://www.antara.co.id/arc/2008/4/27/kenduri-kematian-bukan-pengaruh-

    hindu-budha/,akses tanggal 29 Sepetember 2016.)

    Kepercayaan–kepercayaan dari agama Hindu dan Budha, maupun

    kepercayaan Animisme dan Dinamisme itulah yang dalam proses

    perkembangan Islam di Jawa selanjutnya terkontaminasi dengan kepercayaan -

    kepercayaan tersebut. Sebagai contoh yang berkaitan dengan sisa-sisa

    kepercayaan Animisme dan Dinamisme, ketika masyarakat mengesakan Allah

    sering kali telah tercampuri baik secara sadar dan tidak dengan penuhanan

    terhadap benda-benda yang dianggap keramat, baik benda mati maupun benda

    hidup. Misalnya ketika seseorang telah mengerjakan sholat, puasa, tetapi masih

    menjalankan ritual penyembahan terhadap benda hidup atau mati. Ritual itu

    contohnya seperti pemberian sesaji pada pohon yang dianggap keramat dan

    sesaji dalam suatu ritual, misalnya saja kenduri kematian. Padahal kepercayaan

    Islam diyakini bahwa penyembahan kepada Tuhan hanya satu, yaitu Allah.

    Kepercayaan dalam Islam yang lain bahwa kalau ada orang yang meninggal

    dunia perlu dikirimi do‟a, maka muncul tradisi kirim do‟a, tahlilan, tujuh hari,

    empat puluh hari, seratus hari, satu tahun, seribu hari setelah orang meninggal.

    Do‟a kepada orang yang meninggal dunia merupakan anjuran menurut ajaran

    Islam, sedangkan penentuan hari-hari sebagai data pelaksanaan upacara kirim

    do‟a lebih diwarnai oleh warisan budaya Jawa pra Islam. (Amin,2000:128)

    http://www.antara.co.id/arc/2008/4/27/kenduri-kematian-bukan-pengaruh-hindu-budha/,akseshttp://www.antara.co.id/arc/2008/4/27/kenduri-kematian-bukan-pengaruh-hindu-budha/,akses

  • Selanjutnya Islam memberikan warna baru pada upacara-upacara itu

    dengan sebutan kenduri atau slametan. Kenduri merupakan upacara sederhana

    yang diselenggarakan oleh setiap keluarga Jawa untuk mohon keselamatan dan

    kebahagiaan hidup roh leluhur atau roh nenek moyang. (Murniatno. Dkk,

    2000:84)

    Kenduri, dalam Islam dapat diartikan shodaqoh, karena adanya

    makanan yang dibagi-bagikan pada masyarakat. Kemudian wali songo sedikit

    demi sedikit mengajak para penduduk untuk mau memeluk agama Islam. Bagi

    orang Jawa, hidup ini penuh dengan upacara, upacara-upacara itu berkaitan

    dengan lingkaran hidup manusia sejak dari kandungan ibunya, kanak - kanak,

    remaja, dewasa sampai dengan saat kematian dan setelahnya, atau juga upacara

    - upacara yang berkaitan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari. Upacara -

    upacara itu semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk

    dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan

    bagi kelangsungan kehidupan manusia. Dalam kepercayaan lama, upacara

    dilakukan dengan mengadakan sesaji yang disajikan kepada roh-roh, makhluk

    halus, dewa - dewa. Tentu dengan upacara itu harapan pelaku adalah agar

    hidup senantiasa dalam keadaan selamat. (Amin, 2000:130)

    B. Pelaksanaan Tradisi

    Kenduri Setiap masyarakat mempunyai suatu kebudayaan yang

    berbeda dari kebudayaan masyarakat lain. Kebudayaan itu merupakan suatu

    kumpulan yang berintegrasi dari cara-cara berlaku yang dimiliki bersama.

  • Kebudayaan yang bersangkutan secara unik mencapai penyesuaian kepada

    lingkungan tertentu. (Ihromi,1987:32)

    Kenduri merupakan tradisi yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita

    terdahulu. Tradisi ini dilakukan untuk memperingati meninggalnya seseorang.

    Masyarakat Jawa pada umumnya melakukan tradisi ini. Kenduri biasanya

    dilaksanakan pada malam hari, setelah shalat Isya‟. Kenduri dilaksanakan

    ketika ada orang yang telah meninggal atau geblaknya, kemudian pada malam

    harinya sampai malam ke tujuh diadakan kenduri atau pengajian. Dalam

    kenduri ini, berkathanya dibagikan pada waktu tujuh harinya, kemudian empat

    puluh hari, seratus hari, dan pada hari keseribu.

    Unsur-unsur Animisme dan Dinamisme hingga kini pengaruhnya

    masih mewarnai sendi - sendi kehidupan masyarakat, terutama dalam ritualitas

    kebudayaan. Hal ini bisa diamati pada seremonial-seremonial budaya dalam

    masyarakat yang masih menunjukkan kepercayaannya terhadap makhluk

    supranatural. Kepercayaan terhadap makhluk supranatural misalnya saja adalah

    kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Islam memberikan warna baru pada

    upacara upacara itu dengan sebutan kenduri atau slametan. Di dalam upacara

    slametan ini yang pokok adalah pembacaan do‟a yang dipimpin oleh orang

    yang dipandang memiliki pengetahuan tentang Islam, apakah seorang modin

    atau kaum. Berikut ini adalah deskripsi mengenai pelaksanaan kenduri pada

    peringatan hari kematian yang dilakukan oleh masyarakat.

  • C. Acara Dalam Kenduri

    1. Pembukaan

    Pembukaan dilakukan oleh pengisi acara kenduri, yang tidak harus

    tokoh agama atau kaum, tokoh masyarakat juga bisa dalam memimpin

    pembukaan. Acara pembukaan ini diisi dengan ucapan terimakasih kepada

    masyarakat karena telah bersedia mengikuti pengajian yang diadakan oleh

    keluarga yang telah ditinggalkan.

    2. Tahlilan

    a. Pengertian Tahlil

    Tahlil itu berasal dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan, artinya

    membaca kalimat La Ilaha Illallah (Munawar Abdul Fattah, 2012: 276).

    Kata tahlil merupakan kata yang disingkat dari kalimat La Ilaha Illallah.

    Penyingkatan ini sama seperti takbir (dari Allahu Akbar), hamdalah (dari

    Alhamdu Lillah), hauqalah (dari La Haula Wala Quwwata Illah Billah),

    basmalah (dari Bismillah ar-Rahman ar-Rahim) dan sebagainya (Khozin,

    2013:1).

    Menurut Ramli (2010: 58) bahwa, “Tahlilan adalah tradisi ritual

    yang komposisi bacaannya terdiri dari beberapa ayat Al-Qur‟an, tahlil,

    tasbih, tahmid, sholawat, dan lain-lain. Bacaan tesebut dihadiahkan

    kepada orang yang telah meninggal. Hal tersebut kadang dilakukan

    secara bersama-sama (jama‟ah) dan kadang pula dilakukan sendirian.

    Biasanya acara tahlil dilaksanakan sejak malam pertama orang

    meninggal sampai tujuh harinya. Lalu dilanjutkan lagi pada hari ke-40,

  • hari ke-100, dan hari ke-1000. Selanjutnya dilakukan setiap tahun dengan

    nama khol atau haul, yang waktunya tepat pada hari kematiannya.

    Setelah pembacaan doa biasanya tuan rumah menghidangkan makanan

    dan minuman kepada para jamaah. Kadang masih ditambah dengan

    berkat (buah tangan berbentuk makanan matang). Pada

    perkembangannya di beberapa daerah ada yang mengganti berkat, bukan

    lagi dengan makanan matang, tetapi dengan bahan-bahan makanan,

    seperti mie, beras, gula, teh, telur, dan lain-lain. Semua itu diberikan

    sebagai sedekah, yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang sudah

    meninggal dunia tersebut. Sekaligus sebagai manifestasi rasa cinta yang

    mendalam baginya (Nugroho, 2012:140).

    Dalam konteks Indonesia, tahlilan menjadi sebuah istilah untuk

    menyebut suatu rangkaian kegiatan doa yang diselenggarakan dalam

    rangka mendoakan keluarga yang sudah meninggal dunia. Sedang tahlil

    secara istilah ialah mengesakan Allah dan tidak ada pengabdian yang

    tulus kecuali hanya kepada Allah, tidak hanya mengakui Allah sebagai

    Tuhan tetapi juga untuk mengabdi, sebagaimana dalam pentafsiran

    kalimah thayyibah. Pada perkembangannya, tahlil diistilahkan sebagai

    rangkaian kegiatan do‟a yang diselenggarakan dalam rangka mendo‟akan

    keluarga yang sudah meninggal dunia (Nugroho, 2012:140-141).

    Di masyarakat biasanya acara tahlilan di tempatkan pada acara

    inti pada setiap acara pertemuan. Misalnya, acara tasmiyah (memberi

    nama anak) ada tahlilan, khitanan ada tahlilan, rapat-rapat ada tahlilan,

  • kumpul-kumpul ada acara tahlilan, pengajian ada tahlilan, sampai arisan

    pun ada tahlilan (Fattah:276-277). Waktu yang digunakan untuk tahlilan

    biasanya 15-20 menit dan bisa diperpanjang dengan cara membaca

    kalimat la illaha illallah 100 kali, 200 kali, atau 700 kali. Atau

    diperpendek misalnya 3kali, atau 21 kali. Semuanya itu disesuaikan

    kebutuhan dan waktu.

    Dalam penjabaran mengenai pengertian tahlilan di atas, dapatlah

    ditarik kesimpulan bahwa tahlilan adalah kegiatan membaca kalimat

    thayyibah khususnya La Illaha Illallah yang dilakukan seseorang atau

    banyak orang dalam rangka mendo‟akan orang yang telah meninggal

    dunia.

    b. Sejarah Tahlilan

    Acara tahlilan yang kedengarannya tak lagi asing di telinga

    orang Indonesia merupakan salah satu tradisi zaman Wali Songo yang

    sampai sekarang masih diamalkan oleh sebagian besar masyarakat. Asal-

    usul tradisi ini sebenarnya berasal dari kebudayaan Hindu-Budha yang

    termodifikasi oleh ide-ide kreatif para Wali Songo, penyebaran agama

    Islam di Jawa. Awalnya tradisi tahlilan ini belum ada, sebab masyarakat

    zaman dulu masih mempercayai kepada makhluk-makhluk halus dan

    gaib. Oleh sebab itu, mereka berusaha meminta sesuatu kepada makhluk-

    makhluk gaib tersebut berdasarkan keinginan yang dikehendakinya. Agar

    keinginan itu terkabul, maka mereka membuat semacam sesajen yang

  • nantinya ditaruh di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti punden

    dan pohon-pohon besar.

    Melihat kenyataan tersebut, selain menyebar dakwah Islam, para

    Wali Songo juga bertekad ingin merubah kebiasaan mereka yang sangat

    kental akan nuansa tahayyul untuk kemudian diarahkan kepada kebiasaan

    yang bercorak islami dan realistik. Untuk itulah, mereka berdakwah

    lewat jalur budaya dan kesenian yang cukup disukai oleh masyarakat

    dengan sedikit memodifikasi serta membuang unsur-unsur yang

    berseberangan dengan Islam. Dengan begitu, agama Islam akan cepat

    berkembang di tanah Jawa dengan tidak membuang mentah-mentah

    tradisi yang selama ini mereka lakukan.

    Lebih tepatnya tradisi ini identik dengan perpaduan antara

    kebudayaan Jawa Kuno dengan tradisi Islam. Sehingga tidak sedikit dari

    mereka yang secara terang-terangan menolak, bahkan menentang tradisi

    ini. Sebab, mereka menyakini bahwa acara tahlilan merupakan amalan

    yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sehingga termasuk bid‟ah.

    Tradisi bacaan tahlilan sebagaimana yang dilakukan kaum

    muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman Nabi

    Muhammad SAW dan para sahabatnya (Royyan, 2013:2). Tetapi tradisi

    itu mulai ada sejak zaman ulama sekitar abad sebelas hijriyah yang

    mereka lakukan berdasarkan istinbath Al-Qur‟an dan hadits Nabi

    Muhammad SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlilan,

  • mengamalkannay secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum

    muslimin.

    Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali

    menyusun rangkaian bacaan tahlilan dan mentradisikannya. Sebagian

    mereka berpendapat, bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid

    Ja‟far Al-Barzanji, dan sebagian lain berpendapat, bahwa yang

    menyusun pertama kali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad

    (Royyan, 2013:2).

    Pendapat yang paling kuat dari dua pendapat yang disebut di

    atas adalah pendapat bahwa orang yang menyusun tahlilan pertama kali

    adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddid yang wafat pada tahun

    1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja‟far Al-Barzanji yang wafat pada

    tahun 1177 H.

    Kalau kita perhatikan secara cermat susunan bacaan tahlilan

    tidak terdapat di dalamnya satu bacaan pun yang menyimpang dari Al-

    Qur‟an (Rinaldi, 2012:20). Semua bacaan yang ada bersumber dari Al-

    Qur‟an. Kalaupun kemudian formatnya tidak diatur secara langsung di

    dalamnya Al-Qur‟an dan Hadits, hal itu tidaklah masalah, karena ia

    termasuk dzikir umum yang waktu, bilangan dan bacaannya tidak diatur

    secara baku oleh kedua sumber utama hukum Islam tersebut.

    3. Penutup

    Pelaksanaan kenduri ini dilakukan dengan mengadakan acara

    pengajian selama tujuh malam berturut-turut setelah meninggalnya

  • seseorang. Kenduri ini dilaksanakan sesudah shalat Isya‟. Dalam hal ini,

    yang memimpin pengajian tersebut tidak mau disebut dengan istilah

    kenduri, tetapi lebih berkenan disebut dengan pengajian. Dengan cara ini,

    ada harapan dari pemimpin pengajian istilah kenduri dapat ditinggalkan dan

    sedikit demi sedikit diganti dengan istilah pengajian. Pada malam ke

    tujuhnya, berkat baru dibagikan kepada peserta pangajian.

    Untuk malam-malam pengajian sebelumya hanya mendo‟akan

    orang yang telah meninggal dan peserta pengajian hanya disajikan minuman

    dan makanan kecil saja. Sebelum pengajian tersebut ditutup, tuan rumah

    atau keluarga yang ditinggal membagi-bagikan berkat. Berkat ini diberikan

    pada waktu tujuh harinya orang yang telah meninggal. Di dalam berkat

    tersebut berisi nasi dan lauk-pauk sebagai ucapan terimakasih, karena telah

    bersedia menghadiri kenduri dan ikut mendoakan bagi yang telah meninggal

    dunia.

    D. Majelis Tafsir Al - Qur’an

    Dalam bahasa Arab, kata majelis (مجلس) adalah bentuk isim

    makan (kata tempat) kata kerja dari (جلس) yang artinya tempat duduk,

    tempat sidang, dewan (Munawir, 1997:202).

    Dalam Kamus Bahasa Indonesia pengertian majelis adalah

    pertemuan atau perkumpulan orang banyak atau bangunan tempat orang

    berkumpul (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994:615).

  • Dari pengertian terminologi tentang majelis di atas dapatlah

    dikatakan bahwa majelis adalah tempat duduk melaksanakan pengajaran

    atau pengajian agama Islam (Dewan Redaksi Ensiklopedi, 1994:120).

    Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa majelis adalah

    tempat perkumpulan orang banyak untuk mempelajari agama Islam melalui

    pengajian yang diberikan oleh guru-guru dan ahli agama Islam.

    1. Pengertian Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

    Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) merupakan sebuah lembaga

    pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berkedudukan di Surakarta. MTA

    didirikan oleh Ustadz Abdullah Thufail Saputra pada pada tanggal 19

    September 1972. Beliau seorang mubaligh keturunan Pakistan yang juga

    berprofesi sebagai pedagang (http://www.mta.or.id/).

    Pendirian MTA dilatarbelakangi oleh kondisi umum umat Islam di

    Indonesia pada akhir dekade 60-an dan awal dekade 70-an. Saat itu, ummat

    Islam yang berjuang sejak zaman Belanda dalam bidang politik, ekonomi,

    dan kultural, posisinya justru semakin terpinggirkan. Ustadz Abdullah

    Thufail Saputra melihat kondisi umat Islam di Indonesia yang semacam itu

    disebabkan karena kurang memahami Al-Qur’an secara benar. Karena itu

    beliau mendirikan MTA sebagai rintisan awal dalam mengajak umat Islam

    kembali kepada Al-Qur’an.

    MTA tidak ingin menjadi lembaga yang ilegal, juga tidak ingin

    menjadi organisasi masa (ormas) ataupun organisasi politik (orpol), apalagi

    menjadi underbow ormas atau parpol tertentu. Untuk memenuhi keinginan

  • ini, bentuk badan hukum yang dipilih MTA adalah yayasan. Pada tanggal 23

    Januari tahun 1974, MTA resmi menjadi yayasan dengan akta notaris R.

    Soegondo Notodirejo.

    Pada dasarnya, MTA merupakan gerakan pemurnian syariat Islam

    dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai dasar acuannya.

    Hal ini disandarkan pada sabda Rosulullah Saw yang diriwayatkan oleh

    Malik dan Hakim.

    َتَرْكُت ِفْيُكْم َأْمَرْيِه َلْه َتِضلُّْىا َما َتَمسَّْكُتْم ِبِهَما ِكَتا َب اللَِّه َوُسىَُّة َوِبيِِّه

    ”Sungguh telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara, apabila engkau

    berpegang teguh pada keduanya maka engkau akan selamat, yaitu

    Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya” (HR. Malik).

    Awalnya kajian MTA dilakukan di Masjid Marwah kelurahan

    Semanggi dan juga di rumah kakaknya. Adapun pesertanya hanya warga di

    sekitar Semanggi, dan beberapa orang dari wilayah sekitar Solo. Setelah

    mendirikan MTA di Surakarta, Ustadz Abdullah Thufail Saputra membuka

    cabang di beberapa daerah lain, yaitu di kecamatan Nogosari (Boyolali),

    kecamatan Polan Harjo dan kecamatan Juwiring (Klaten), dan di kecamatan

    Gemolong (Sragen).

    Pekembangan berikutnya penyebaran MTA dilakukan oleh

    siswasiswa yang sudah mengaji baik di MTA Pusat maupun di cabang-

    cabang. Mereka membentuk kelompok-kelompok pengajian di daerah

    asalnya masing-masing atau di perantauan. Mereka memiliki tanggungjawab

    untuk menyebarkan ilmu walaupun tidak di instruksikan. Setelah menjadi

  • besar, kelompok-kelompok pengajian itu mengajukan permohonan ke MTA

    Pusat agar dikirim guru pengajar sehingga kelompok-kelompok pengajian

    itu pun menjadi cabang-cabang MTA yang baru. Dengan cara itu, tumbuh

    cabang-cabang baru. Ketika di sebuah kabupaten sudah tumbuh lebih dari

    satu cabang dan diperlukan koordinasi, maka dibentuklah perwakilan yang

    mengkoordinir cabang-cabang tersebut yang bertanggungjawab membina

    kelompok-kelompok baru sehingga menjadi cabang. MTA Pusat tidak

    pernah menggunakan strategi top down dalam membentuk dan meresmikan

    Perwakilan dan Cabang tapi secara buttom up.

    Seiring dengan tumbuhnya cabang-cabang dan perwakilan-

    perwakilan baru di berbagai daerah di Indonesia MTA memperoleh

    strukturnya seperti sekarang ini. MTA pusat berkedudukan di Surakarta;

    MTA perwakilan di daerah tingkat dua; dan MTA cabang di tingkat

    kecamatan (kecuali di DIY, perwakilan berada di tingkat propinsi dan

    cabang berada di tingkat kabupaten). Hingga kini MTA telah memiliki 34

    perwakilan (tingkat kabupaten) dan 181 cabang (tingkat kecamatan) yang

    tersebar di seluruh Indonesia (http://www.mta.or.id/).

    Dalam ajarannya MTA berusaha keras mengikis tahayul, bid’ah

    dan khurafat yang menurut mereka masih banyak berkembang di

    masyarakat seperti, kenduren, nyadran, pergi ke dukun. Hal itu terbukti

    dengan masih banyaknya Islam yang masih menyimpan jimat, rajah dan

    sejenisnya. Sebagian anggota masyarakat secara sukarela menyerahkan

  • jimat yang mereka miliki saat mengikuti Pengajian Ahad Pagi di kantor

    pusat MTA (http://mta-online.com, diakses tanggal 15 November 2015).

    Untuk menyikapi budaya lokal yang berkembang di masyarakat,

    MTA memiliki tiga pendekatan. Pertama, budaya lokal yang bisa sejalan

    dengan Al-Qur’an dan Sunnah akan biarkan. Kedua, kalau budaya itu perlu

    di luruskan maka akan luruskan. Ketiga, budaya lokal yang berlawanan

    dengan ajaran Islam maka harus ditolak sama sekali. Contohnya halal bi

    halal, walaupun tidak di contohkan dalam Islam namun berdasarkan

    penelaahan dan kajian MTA itu tidak mengandung kemusyrikan, maka

    dibiarkan saja. Namun kalau itu sudah memuja orang maka akan ditolak,

    contohnya seperti tradisi keraton yang harus minta maaf sampai mencium

    kaki (http://www.mta.or.id/). Dalam perkembangannya MTA semakin

    mengukuhkan diri sebagai lembaga dakwah dengan berbagai aktivitasnya.

    MTA menanamkan pemahaman dalam diri kader, bahwa sebagai

    warga MTA dan bagian dari umat Islam mereka harus istiqomah dalam

    mengkaji, memahami dan mengamalkan tuntunan Islam. Mereka harus

    mengamalkan Islam dalam level pribadi, keluarga dan masyarakat. Dalam

    MTA juga di tekankan kesatuan antara perkataan, hati dan amal, karena

    itulah yang disebut iman. Kalau itu tidak bisa dilakukan maka MTA

    mempersilakan orang tersebut untuk mencari organisasi lain.

    (http://www.mta.or.id/). Selain itu mereka berkewajiban pula

    mendakwahkan Islam kepada masyarakat yang dikelola dalam Pengajian

    Binaan MTA.

    http://www.mta.or.id/

  • Untuk mengkoordinasikan dan memantau kegiatan di perwakilan,

    cabang dan binaan MTA, Majlis Tafsir Al-Qur’an Pusat setiap Ahad siang

    jam 11.00 — 13.30 WIB menyelenggarakan pertemuan pengurus dan

    Ustadz yang mengajar di MTA bertempat di Kantor Pusat MTA JI. Serayu

    No. 12 Semanggi, Pasar Kliwon, Surakarta (http://mtapct.wordpress.com,

    diakses tanggal 15 November 2015 ).

    2. Tujuan MTA

    Majelis Tafsir Al-Qur’an tidak merumuskan Visi dan Misi secara

    eksplisit, namun pada dasarnya MTA berupaya mengamalkan Qur’an surat

    Al-Isra’: 9

    ”Sesungguhnya Al-Qur‟an ini memberikan petunjuk kepada (jalan)

    yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang

    Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala

    yang besar”. (Depag RI, 2005:283)

    Oleh karena itu dalam Anggaran Dasar MTA, tujuan didirikannya

    MTA adalah untuk mengajak umat Islam kembali ke AI-Qur’an. Sesuai

    dengan nama dan tujuannya, pengkajian AI-Qur’an lebih ditekankan pada

    pemahaman, penghayatan, dan pengamalan AI-Qur’an dalam kehidupan

    sehari-hari.

    http://mtapct.wordpress.com/

  • 3. Struktur Pengurus MTA

    Struktur lembaga MTA sebagai lembaga terdiri atas pusat, perwakilan dan

    cabang. MTA Pusat berkedudukan di Surakarta. Perwakilan berkedudukan

    di tingkat kota/kabupaten kecamatan (kecuali DIY, perwakilan berada

    ditingkat propinsi dan cabang berada di tingkat kabupaten). Cabang berada

    di tingkat kecamatan. Dengan diresmikannya 127 perwakilan dan cabang

    baru, hingga kini perwakilan dan cabang MTA berjumlah 426 yang tersebar

    mulai Aceh, Jawa, Kalimantan, Bali dan NTB. Untuk mengkoordinasikan

    dan memantau kegiatan di perwakilan, cabang dan binaan, MTA Pusat

    setiap Ahad Pagi jam 11.00-13.00 WIB menyelenggarakan pertemuan

    pengurus MTA cabang dan perwakilan bertempat di Kantor Pusat MTA, Jl.

    Ronggowarsito No. III A Surakarta, Indonesia. Adapun struktur organisasi

    MTA Pusat yaitu;

    Ketua Umum : Drs. Ahmad Sukina

    Ketua I : Suharto, S. Ag

    Ketua II : Dahlan Harjotaroeno

    Sekretaris I : Drs. Yoyok Mugiyatno, M. Si

    Sekretaris II : Drs. Medi

    Bendahara I : Mansyur Masyhuri

    Bendahara II : Sri Sadono

    (wawancara dengan Bp.Purwanto, 22 Agustus 2016)

  • 4. Dasar MTA Menolak Tahlilan

    Kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di desa

    Bringin menolak tahlilan dengan mengambil dasar di dalam al-Qur‟an yaitu

    surat An-Najm ayat 38-39 dan hadits riwayat Muslim yaitu sebagai berikut:

    “ (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa

    orang lain,, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain

    apa yang telah diusahakannya,” (QS. An- Najm : 38-39) (Depag RI,

    2005:436)

    Dalam ayat tersebut bermaksud menyatakan bahwa seseorang tidak bisa

    mendapat manfaat dari orang lain, Namun maksudnya, seseorang hanya

    berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah

    hak orang lain.

    اْلَحِديِث ِكَتاُب اللَِّه َوَخْيُر اْلُهَدي ُهَدي ُمَحمٍَّد َوَشرُّ َأمَّا َبْعُد َفِإنَّ َخْيَر

    اأُلُمىِر ُمْحَدَثاُتَها َوُكلُّ ِبْدَعٍة َضاَلَلٌة

    “Amma ba‟du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah

    dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu „alaihi

    wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah)

    dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

    BAB III

  • PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

    A. Gambaran Umum Majlis Tafsir Al-Qur’an di Bringin

    1. Sejarah Berdirinya Majlis Tafsir Al-Qur’an di Bringin

    Berdirinya Majlis Tafsir Al-Qur‟an di Bringin berangkat dari

    adanya asumsi MTA bahwa masyarakat dewasa ini sudah termasuki budaya

    asing melalui berbagai media informasi yang ada, yang belum tentu sesuai

    tuntunan yang MTA pahami yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Kemerosotan itu

    sudah sedemikian parah, yang ditandai dengan anak-anak dan remaja lebih

    memilih bersenang-senang daripada rajin belajar.

    Yang dewasa lebih memilih berhura-hura di cafe, pub dan diskotik

    daripada bekerja keras untuk mensejahterakan diri dan masyarakatnya.

    Yang lain suka mengkonsumsi minuman keras dan narkoba. Minuman keras

    tersebar di mana-mana. Di atas kertas dilarang, namun di lapangan dibiarkan

    merajalela. Razia hanya sebatas formalitas, bukan untuk memberantas.

    Sedang perzinaan sudah sampai dalam tingkat yang sangat meresahkan.

    Berbagai indikator sebagai tanda-tanda kehancuran suatu bangsa

    telah banyak terlihat di mana-mana. Dalam kondisi seperti ini, MTA tidak

    bisa bersikap acuh tak acuh, sebab keselamatan bangsa ini tergantung

    bagaimana model kehidupan yang di adopsi. Kejayaan bangsa ini tergantung

    pada keberhasilan seluruh komponen bangsa dalam membangun akhlak.

    Oleh karena itu tergantung bagaimana kita membangun kembali iman dan

    takwa kita kepada Allah SWT di tengah puing-puing kehancuran moral

    bangsa.

  • Sehubungan dengan persoalan seperti itulah diperlukan berbagai

    cara untuk mencegah keterpurukan bangsa Indonesia ke kondisi yang lebih

    buruk. Salah satu caranya adalah dengan saling menyeru dan bersamasama

    bergandeng tangan melangkah ke depan untuk memperbaiki kualitas iman

    dan taqwa. Berbagai sarana bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk

    mencapai tujuan itu, salah satunya adalah memanfaatkan media dakwah atau

    kenduri. Oleh karena itu MTA mendirikan majelis kenduri di Bringin untuk

    mempermudah masyarakat yang ingin mengikuti kenduri sebagai media

    dakwah MTA.

    Seiring berjalannya waktu, kegiatan kajian MTA di Bringin

    semakin mendapat respon yang positif. Sebagian masyarakat Bringin

    mengikuti kegiatan kajian ini yang dilaksanakan setiap hari Rabu pukul

    14.00 WIB. Tidak hanya melakukan kajian saja, dalam kegiatan ini

    disajikan juga berbagai informasi berupa pendidikan, ekonomi dan bisnis,

    kesehatan, teknologi, sampai pertanian.

    2. Visi dan Misi Majlis Tafsir Al-Qur’an Bringin

    a. Visi

    Adapun visi diadakannya kenduri Majlis Tafsir Al-Qur‟an di Bringin

    yaitu;

    ” Membangun mental spiritual warga Kecamatan Bringin sehingga

    menjadi makhluk sosial maupun individu yang memiliki jati diri dan

    berakhlak mulia.” (wawancara dengan bapak Purwanto pada tanggal 16

    Oktober 2015)

  • Dari visi diatas di atas terlihat gambaran jelas pribadi yang

    diharapkan sebagai hasil dari dakwah MTA melalui media kenduri.

    Yakni warga Kecamatan Bringin yang bisa memerankan diri sebagai

    makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari lingkungannya. Disamping itu

    juga menjadi individu yang berkepribadian unggul, religius, memiliki jati

    diri dan berakhlak mulia.

    b. Misi

    Visi organisasi mempunyai gambaran menyeluruh tentang

    kemana organisasi akan dibawa kemasa depan, sedangkan misi adalah

    suatu pernyataan tentang apa yang dilakukan oleh berbagai unit

    organisasi dan apa yang mereka harapkan untuk mencapai visi

    organisasi.Misi bisa juga bisa merupakan bagian visi yang biasanya

    mencerminkan norma perilaku yang menjadi pedoman anggota

    organisasi. Karena itu suatu organisasi umumnya hanya memiliki satu

    visi dengan satu atau beberapa misi untuk mewujudkan visi tersebut

    (Kuncoro, 2005: 60).

    Untuk dapat mencapai tujuan dakwah sebagaimana tersirat

    dalam visi MTA Bringin maka disusunlah beberapa misi sebagai berikut:

    1) Mewujudkan Visi dari segi program

    Menjadi komunitas dakwah yang dipercaya dan dikelola untuk

    menyajikan program yang sesuai dan diharapkan oleh warga Bringin.

    2) Mewujudkan visi dari segi manajemen

  • Menjalankan organisasi dengan efektif dan efisien serta tanggap atas

    segala perubahan yang terjadi.

    3) Berdasarkan Latar belakang

    Menitikberatkan pada penyampaian informasi dan persuasi untuk

    menumbuhkan kesadaran dan pemahaman warga Kecamatan Bringin

    terhadap perlunya memperkuat jati diri sebagai warga masyarakat

    yang berbudaya.

    Arah utama pernyataan misi kenduri MTA di Kecamatan Bringin

    tersebut diatas bersifat eksternal, berfokus pada jamaah, dan secara tipikal

    menspesifikasikan pada usaha tertentu yang akan dilakukan MTA

    Kecamatan Bringin dalam mencapai visi dakwahnya.

    3. Manajemen Majlis Tafsir Al-Qur’an Bringin

    a. Alamat MTA

    Rumah Bapak Zamahsari Jl. Diponegoro No. 36 Desa Bringin Kec.

    Bringin Kab. Semarang

    Letak geografis

    Sebelah utara : berbatasan dengan sawah

    Sebelah selatan : berbatasan dengan jalan raya bringin salatiga

    Sebelah barat : berbatasan dengan Toko besi, Emas Zam Zam

    bringin

    Sebelah timur : berbatasan dengan rumah ibu tukinem

    Luas gedung : 182 m2 dengan ukuran 13m x 14m

    b. Struktur organisasi Tahun 2014/2017

  • Ketua : Bapak Suyanto

    Sekretaris : Bapak Purwanto

    Bendahara : Bapak Ahmad Rasipan (wawancara dengan bapak

    Purwanto pada tanggal 16 Oktober 2015)

    c. Nama Ustadz yang Mengisi

    Ustadz setip 6 bulan sekali bergantian dengan cabang MTA lain. Untuk

    yang mengisi saat ini yaitu:

    1) Bapak Juwair mengisi pada minggu 1

    2) Bapak Tantowi mengisi pada minggu 2

    3) Bapak Juwair mengisi pada minggu 3

    4) Bapak Saiful mengisi pada minggu 4

    5) Bapak suyanto mengisi pada minggu 5

    (wawancara dengan bapak Purwanto pada tanggal 16 Oktober

    2015)

    d. Materi yang diajarkan

    Materi yang diajarkan sesuai dengan Al-Qur‟an dan Sunnah berdasarkan

    materi Brosur Ahad Pagi dari Majelis Pusat Solo.

    e. Jumlah Peserta Pengajian

    Laki-laki : 11 orang

    Perempuan : 25 orang

    Table 1

  • Daftar nama peserta perempuan

    No Nama Peserta

    1 Suriyah

    2 Purwiyati

    3 Romdanah

    4 Sundari

    5 Sujini

    6 Rini Ernawati

    7 Suryati

    8 Sri Ruwahni

    9 Sri Insiati

    10 Sutimah

    11 Sri Murdiningsih

    12 Winarti

    13 Aviyanti

    14 Flora

    15 Puji Rahayu

    16 Rizky Suroni

    17 Ambarwati A

    18 Lutfia Nurul Aini

    19 Dika Yuliana

    20 Endang Suprapti

  • 21 Amin Farida

    22 Ambarwati B

    23 Nita

    24 Nur Afifah

    25 Lilik Setyowati

    Table 2

    Daftar nama peserta laki-laki:

    No Nama Peserta

    1 Suyanto

    2 Purwanto

    3 Ahmad Rasipan

    4 Towil

    5 Rusbandi

    6 Tofik

    7 Eko

    8 Kholil

    9 Sugiyanto

    10 Zamansari

    11 Rokhim

    12 Muhammad Arifin

    13 Susanto

  • 14 Zaenal

    15 Romdhoni

    16 Jupri

    19 Chodirin

    f. Kegiatan-kegiatan di MTA cabang Bringin

    a. Pengajian Rutin

    Pengajian rutin dilaksanakan setiap hari Rabu pukul 14.30-17.00.

    Pukul 14.30 dimulai dengan membaca Al-Qur‟an bersama-

    sama,dilanjutkan solat „Asyar dan setelah solat „Asyar dimulai

    pengajian yang diisi oleh ustadz. Ustadz menyampaikan materi brosur

    Ahad Pagi yang berasal dari MTA pusat Solo, dilanjutkan tanya jawab

    dengan peserta sampai pukul 17.00.

    b. Qurban

    Setiap tahun MTA Bringin mengadakan Qurban dan dibagikan kepada

    masyarakat Bringin yang mempunyai hak menerima daging qurban.

    c. Paket Merdeka

    Setiap bulan Agustus, tepatnya tgl 17 Agustus MTA Bringin

    mengadakan Paket Merdeka dengan membagikan sembako kepada

    warga masyarakat Bringin berupa sembako dan kebutuhan sehari-hari.

    d. Nafar

  • Nafar dilakukan setiap bulan Ramadhan dengan menukarkan peserta

    MTA Bringin dengan peserta cabang lain untuk mempelajari ilmu Al-

    Qur‟an dan Sunnah di tempat cabang MTA lain.

    e. Ahad Pagi

    Peserta MTA Bringin selalu rutin mengadakan rombongan untuk ke

    MTA Pusat di Solo mengikuti pengajian Ahad Pagi. Untuk ibu-ibu

    setiap sebulan sekali pada Minggu pertama. Untuk bapak-bapak setiap

    Minggu pasti ada rombongan.

    B. Pandangan Kelompok Pengajian Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Di Desa

    Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Terhadap Kenduri.

    Pada penelitian ini penulis mengumpulkan beberapa data terkait

    dengan pandangan kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di

    desa Bringin terhadap kenduri. Penulis mengumpulkan data melalui beberapa

    informan yaitu, Ketua Majlis Tafsir Al-Qur‟an desa Bringin, Ustadz yang

    mengajar, dan peserta pengajian Majlis Tafsir Al-Qur‟an desa Bringin.

    a. Ketua Majlis Tafsir Al-Qur‟an desa Bringin

    Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua Majlis Tafsir Al-

    Qur‟an desa Bringin bapak Suyanto, beliau menjelaskan bahwa:

    “Kenduri adalah ritual yang dilakukan untuk memperingati dan

    mendoakan orang yang telah meninggal dan biasanya dilakukan pada

    hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan dilanjutkan dilakukan

    pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan

    seterusnya.

    Saya setelah mengenal MTA tidak melaksanakan kenduri karena

    kenduri adalah amalan yang tidak ada dasarnya dalam Al-qur‟an dan

    Sunnah. Dan di masyarakat banyak hal-hal tradisi, kebiasaan yang

    secara tekstual tidak ada dasarnya tapi dilaksanakan. Jadi sampai saat

  • ini saya tidak melaksanakan kenduri, tetapi saya tidak

    mengharamkannya.” (wawancara dengan bapak Suyanto pada tanggal

    14 Februari 2016)

    Dari hasil wawancara dengan bapak Suyanto, dapat penulis

    simpulkan bahwa, kenduri hanya ritual yang dilakukan untuk mendo‟akan

    orang meninggal. Sama seperti pemahaman kebanyakan orang, dan

    bahwasanya ritual kenduri adalah amalan yang tidak ada dasarnya di dalam

    Al-Quran.

    b. Ustadz yang mengajar

    Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz di Majlis Tafsir Al-

    Qur‟an desa Bringin bapak Juwair, beliau menjelaskan bahwa:

    “Kenduri adalah tradisi yang sudah mengakar di tengh-tengah

    masyarakat. Kenduri biasanya dilengkapi dengan yasinan yang

    digunakan untuk memperingati hari kematin seseorang. Orang yang

    punya hajat biasanya mengundang sanak saudara untuk kenduri yang

    pahalanya dikirimkan untuk orang yang meninggal. Sedangkan

    kenduri tidak diajarkan oleh rasulullah. Sehingga pahala yang akan

    dikirimkan kepada orang yang meninggal tidak sampai.” (wawancara

    dengan bapak Juwair pada tanggal 15 Februari 2016)

    Dari hasil wawancara dengan bapak Juwair, dapat penulis

    simpulkan bahwa, kenduri adalah tradisi yang mengakar di tengah-tengah

    masyarakat. Kenduri biasanya di lengkapi dengan membaca surat yasin

    (yasinan) yang di gunakan untuk memperingati hari kematian, sedangkan

    kenduri tidak di ajarkan oleh Rosulullah. Dan berpendapat bahwa pahala

    yang dikirim kepada orang yang sudah meninggal melalui kenduri tidak

    akan sampai.

  • Sejalan dengan apa yang di sampaikan dengan bapak Juwair,

    bapak Saiful juga berpendapat bahwa kenduri hanya sekedar ritual

    keagamaan yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat.

    “Kenduri hanya ritual yang di lakukan masyarakat dalam mendoakan

    orang yang sudah meninggal, padahal itu tidak di ajarkan oleh

    Rosulullah dan kemungkinan doa – doa yang di kirim kepada orang

    yang sudah meninggal tidak akan sampai.” (wawancara dengan bapak

    Saiful pada tanggal 15 Februari 2016)

    c. peserta pengajian Majlis Tafsir Al-Qur‟an

    Berdasarkan wawancara dengan beberapa peserta atau jamaah

    pengajian MTA di Bringin, bahwa kenduri yang di dalamnya merupakan

    merupakan kalimat yang harus selalu diucapakan sebagai pengingat kepada

    Allah SWT. Akan tetapi kenduri menurut saya sebagai warga MTA tidak

    ada tuntunannya. Kenduri adalah tradisi budaya, tetapi tidak ada

    tuntunannya. Jadi saya meninggalkannya karena itu tidak dicontohkan oleh

    rasulullah. Bagimu amalanmu bagiku amalanku.

    “Tahlil merupakan kalimat yang harus selalu diucapakan sebagai

    pengingat kepada Allah SWT. Bahkan jika di akhir hayat mampu

    mengucapkan kalimat tahlil dijamin surga. Akan tetapi kenduri

    menurut saya sebagai warga MTA tidak ada tuntunannya. Kenduri

    adalah tradisi budaya, tetapi tidak ada tuntunannya. Jadi saya

    meninggalkannya karena itu tidak dicontohkan oleh rasulullah.

    Bagimu amalanmu bagiku amalanku.” (wawancara dengan bapak

    Sugiyanto pada tanggal 17 Februari 2016)

    Hampir serupa juga di sampaikan oleh ibu Nur Afifah bahwa

    kenduri yang di dalamnya merupakan amalan – amalan yang melafalkan

    kaliamat kalimat untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Tetapi di

  • MTA tidak di ajarkan karena hanya tradisi dan ritual masyarakat saja, tapi

    secara umum tidak mengharamkan atau membid‟ahkan ritual kenduri yang

    sudah menjadi ritual dimasyarakat.

    “kenduri merupakan amalan-amalan yang dilakukan masyarakat untuk

    mendoakan orang yang sudah meninggal, tapi di MTA tidak diajarkan

    tentang kenduri karena tidak ada tuntunannya. Saya secara umum

    tidak menolak atau mengharamkan adanya kenduri dimasyarakat

    karena sudah menjadi tradisi dan ritual keagamaan di tengah

    masyarakat.” (wawancara dengan ibu Nur Afifah pada tanggal 17

    Februari 2016)

    Lain halnya dengan bapak Rusbandi walaupun dia mengikuti

    pengajian MTA tapi terkandang masih ikut dalam ritual atau tradisi kenduri

    yang ada di daerah asalnya. Dengan alasan untuk menjaga hubungannya

    dengan masyarakat sekitarnya yang notabennya masih ada kenduri, dan

    berpendapat mungkin saja amalan dan doa-doa yang di lafalkan dalam

    kenduri dapat sampai kepada keluarganya yang sudah meninggal walaupun

    di dalam pengajian MTA tidak ada tuntunannya.

    “kenduri adalah ritual yang di dalamnya merupakan amalan dan doa-

    doa yang dilafalkan untuk orang yang sudah meninggal, terkadang

    saya juga ikut dalam acara kenduri di daerah saya karena saya ingin

    menjaga saja hubungan saya dengan masyarakat. Karena saya juga

    hidup di dalam masyarakat, mungkin saja amalan atau do-doa yang di

    lafalkan itu pahalanya sampai kepada keluarga saya yang sudah

    meninngal. Walaupun di pengajian MTA tidak ada tuntunannya”

    (wawancara dengan bapak Rusbandi pada tanggal 17 Februari 2016)

    Dapat dipahami dari hasil wawancara dengan beberapa informan

    diatas terkait pandang kelompok pengajian Majlis Tafsir Al-Qur‟an di

    Bringin tentang kenduri, bahwa kenduri itu hanya ritual atau tardisi yang

  • berlangsung di tengah-tengah masyarakat yang di situ ada amalan dan doa-

    doa yang bertujuan untuk mendoakan orang yang sudah meninngal. Akan

    tetapi di dalam pengajian MTA tidak diajarkan dan tidak ada tuntunannya

    karena Rosulullah tidak pernah mengajarkan tentang kenduri. Walaupun

    masih ada peserta atau jama‟ah dari pengajian MTA yang mengikuti tradisi

    kenduri itu dengan alasan untuk menjaga hubungan dengan masyarakat

    karena merasa bahwa mereka hidup di tengah – tengah masyrakat yang

    percaya dan melakukan ritual kenduri sebagai cara mendoakan orang yang

    sudah meninggal.

    C. Dasar kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) di Desa

    Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang menolak Kenduri

    Kenduri menjadi kontroversi di berbagai aliran keagamaan, karena di

    anggap tidak ada landasan atau dasar (dalil dan hadist) yang fokus atau khusus

    membahas tentang kenduri itu sendiri. Seperti halnya kelompok pengajian

    Majlis Tafsir Al-Qu‟an (MTA) di desa Bringin.

    Dari hasil penelitian tentang bagaimana yang mendasari kelompok

    pengajian MTA di desa Bringin menolak kenduri akan peneliti paparkan

    sebagai berikut:

    Menurut ketua kelompok pengajian MTA di desa Bringin bapak

    Suyanto mengungkapakan bahwa kenapa MTA secara umum dan saya secra

    khusus menolak kenduri karena tidak ada aturan atau dasar baik didalam al-

    Qur‟an dan hadist yang menjelaskan tentang perintah melakukan kenduri untuk

    mendoakan orang yang sudah meninggal.

  • “Dasar saya menolak kenduri adalah karena kenduri tidak ada perintah

    baik dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. (wawancara dengan bapak

    Suyanto pada tanggal 15 Februari 2016)

    Hal serupa juga disampaikan oleh ustadz yang mengajar di pengajian

    MTA di desa Bringin, bahwa secara jelas tidak ada dalil al-Qur‟an yang

    memperintahkan untuk melakukan kenduri walaupun ada hadist yang

    menganjurkan kenduri tapi itu termasuk hadist dhoif.

    “Yang mendasari saya menolak kenduri adalah tidak ada dalam Al-

    Qur‟an dan Sunnah. Haditsnya pun juga dhaif, sehingga saya

    meninggalkan kenduri.” (wawancara dengan bapak Juwair pada

    tanggal 15 Februari 2016)

    Bahkan salah satu dari ustadz yang mengajar di pengajian MTA

    menganggap kenduri adalah sesuatu yang bid‟ah, karena rosulullah tidak

    pernah mengajarkan dan di dalam al-Qu‟an dan sunnah tidak ada yang

    memperintahakan atau menganjurakan kenduri.

    “Yang menjadi dasar saya menolak kenduri adalah tidak sesuai

    dengan ajaran rasulullah (sunnah) dan Al-Qur‟an, maka saya

    meninggalkannya. Karena ibadah yang tidak ada tuntunannya maka

    termasuk bid‟ah,sehingga saya meninggalkannya.” (wawancara

    dengan bapak Saiful pada tanggal 15 Februari 2016)

    Dari beberapa peserta atau jama‟ah pengajian MTA semua

    berpendapat sama tentang bagaimana yang mendasari mereka menolak

    kenduri, semua berpendapat mengapa mereka menolak kenduri karena

    rosulullah tidak pernah memperintahkan ataupun mengajurkan kenduri.

    “Hal yang menjadi dasar saya menolak kenduri adalah tidak sesuai

    dengan al-qur‟qn dan sunnah. Dan kita berusaha untuk kembali

    kepada ajaran rosul dan al qur‟an.” (wawancara dengan jama‟ah

    pengajian MTA pada tanggal 17 Februari 2016)

  • Bahkan ada yang berpendapat tradisi kenduri adalah tradisi tersebut

    telah bercampur dengan tradisi agama pra islam di Jawa yaitu Hindu dan

    Budha, sehingga prakteknya haram untuk dilakukan karena menyerupai

    (Tasyabbuh) dengan tradisi agama lain.

    “Hal yang menjadi dasar saya menolak kenduri adalah tidak sesuai

    dengan al-qur‟qn dan sunnah. Dan kita berusaha untuk kembali

    kepada ajaran rosul dan al qur‟an. Karena tradisi kenduri itu

    bercampur dengan tradisi agama pra islam di jawa yaitu Hindu dan

    Budha” (wawancara dengan jama‟ah pengajian MTA pada tanggal 17

    Februari 2016)

    Dapat dikatakan dari hasil wawancara tentang hak yang mendasari

    kelompok pengajian MTA menolak kenduri adalah tidak adanya ajaran dari

    Rosulullah tentang kenduri bahkan di dalam al-Qu‟an dan Sunnah yang

    memperintahkan tentang kenduri. Karena mereka beranggapan bahwa kenduri

    itu adalah tradisi agama pra Islam yaitu Hindu dan Budha. Sehingga bid‟ah

    untuk dilakukan karena tidak sesuai dengan tradisi dan ajaran agama islam.

  • BAB IV

    ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    Berdasarkan dari teori yang dipaparkan pada Bab II dan data yang di

    hasilkan dari wawancara, dokumentasi, dan observasi di kelompok pengajian

    Majlis Tafsir Al –Qur‟an (MTA) di desa Bringin kec. Bringin mengenai Kenduri

    dalam perspektif kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di desa

    Bringin kec. Bringin yang di paparkan di Bab III, maka peneliti akan melakukan

    analisa data untuk menjelaskan lebih lanjut dari penelitian. Sesuai dengan teknik

    analisis yang telah di pilih oleh peneliti yaitu analisis diskriptif kualitatif

    (pemaparan) yang menggambarkan fenomena yang ada saat ini atau lampau dari

    seluruh data hasil wawancara, dokumentasi dan observasi.

    A. Analisis Pandangan Kelompok Pengajian Majelis Tafsir Al-Qur’an (Mta)

    Di Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Terhadap

    Kenduri

    Acara kenduri adalah suatu kegiatan yang di dalamnya membaca

    kalimat tauhid (tahlil) la illaha illallah (tiada Tuhan selain Allah SWT),

    dzikir, dan membaca sejumlah ayat Al-Qur‟an dan dilakukan sebagian

    besar umat Islam di Indonesia. Kenduri ini dilaksanakan dalam

    memperingati hari meninggalnya seseorang pada waktu tertentu untuk

    mengirim doa agar Allah SWT mengampuni semua dosa-dosanya, dan untuk

    mengingatkan kepada yang masih hidup bahwa mereka akan mengalami fase

    hidup yang sama, yakni meninggal.

  • Pada umumnya, prosesi kenduri yang dilakukan dengan

    Pembacaan surat Al-Fatihah pertama diniatkan kepada Nabi Muhammad SAW

    beserta keluarganya. Pembacaan surat Al-Fatihah kedua diniatkan kepada para

    Malaikat, para Nabi, para Ulama, dan Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani. Al-

    Fatihah ketiga diniatkan kepada kaum Muslim secara umum dan kepada yang

    meninggal beserta keluarga secara khusus. Kemudian dilanjutkan dengan

    pembacaan tahlil, tahmid dan tasbih, dan diakhiri dengan do'a.

    Tapi menurut pandangan kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-

    Qur‟an (MTA) di desa bringin berpandangan bahwa kegiatan atau ritual yang

    berlangsung di masyarakat yaitu kenduri adalah hanya tradisi yang dilakukan

    turun temurun untuk memperingati atau mendoakan orang atau keluarga yang

    sudah meninggal dan biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga

    hari ketujuh, dan dilanjutkan dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun

    pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Melaksanakan kenduri adalah suatu

    amalan yang tidak ada dasarnya dalam Al-qur‟an dan Sunnah bahkan

    Rosulullah tidak pernah mengajarkannya. Dan di masyarakat banyak hal-hal

    tradisi, kebiasaan yang secara tekstual tidak ada dasarnya tapi dilaksanakan.

    Secara fungsinya kenduri adalah kegiatan mengirim doa kepada

    orang yang sudah meninggal supaya diampuni segala dosa-dosanya tetapi

    berfungsi lain sebagai mempererat shilaturahmi dan jalinan ukhuwah

    Islamiyah, menumbuhkan persaudaraan sesama muslim. Sebagai sarana syiar

    islam, shadaqah (menggalakkan shadaqah bagi yang mampu) melalui

    pembagian makanan, niat baik dan ucapan yang baik, acara seperti ini

  • termasuk ibadah, karena di dalamnya dibacakan Alquran, doa, dan dzikir,

    mengingatkan adanya kepergian seseorang (meninggal) serta mengajak dan

    mempersiapkan diri dalam menghadapi meninggal, menghibur keluarga dan

    mengurangi beban keluarga yang meninggal, menentramkan dan

    membersihkan hati orang yang membaca maupun keluarga yang meninggal.

    Tapi menurut kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    (MTA) di desa bringin bahwa kenduri yang disitu berfungsi mendoakan orang

    yang sudah meninggal, Orang yang punya hajat biasanya mengundang sanak

    saudara untuk acara kenduri yang didalamnya mengirim do‟a – do‟a untuk

    orang yang meninggal. Sedangkan kenduri tidak diajarkan oleh rasulullah.

    Sehingga pahala yang akan dikirimkan kepada orang yang meninggal tidak

    sampai.

    B. Analisis yang mendasari kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur’an

    (MTA) di Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang

    menolak Kenduri

    Kenduri adalah upacaranya yang dikaitkan dengan tujuh hari

    kematian, atau empat puluh hari atau seratus hari dan sebagainya, Selamatan

    tiga hari, lima hari, tujuh hari, dan seterusnya itu adalah sisa-sisa pengaruh

    budaya animisme, dinamisme, serta peninggalan ajaran Hindu yang sudah

    begitu berakar dalam masyarakat kita. Karena hal itu ada hubungan dengan

    ibadah, maka kita harus kembali kepada tuntunan Islam.

    Maka menurut kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an

    (MTA) di desa Bringin mengapa mereka menolak akan kenduri adalah tidak

  • adanya sumber rujukan atau perintah yang jelas dari Al-Qur‟an dan Sunnah,

    bahkan Rosulullah tidak mengajarkannya. Kelompok pengajian Majelis Tafsir

    Al-Qur‟an (MTA) di desa Bringin menolak kenduri dengan mengambil dasar

    di dalam al-Qur‟an yaitu surat An-Najm ayat 38-39 dan hadits riwayat Muslim

    yaitu sebagai berikut:

    “ (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa

    orang lain,, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain

    apa yang telah diusahakannya,” (QS. An- Najm : 38-39) (Depag RI,

    2005:436)

    Dalam ayat tersebut bermaksud menyatakan bahwa seseorang tidak bisa

    mendapat manfaat dari orang lain, Namun maksudnya, seseorang hanya

    berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah

    hak orang lain.

    اْلَحِديِث ِكَتاُب اللَِّه َوَخْيُر اْلُهَدي ُهَدي ُمَحمٍَّد َوَشرُّ َأمَّا َبْعُد َفِإنَّ َخْيَر

    اأُلُمىِر ُمْحَدَثاُتَها َوُكلُّ ِبْدَعٍة َضاَلَلٌة

    “Amma ba‟du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah

    dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu „alaihi

    wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid‟ah) dan

    setiap bid‟ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

    Maka sebagai umat Islam sikap yang harus diambil adalah

    menjauhi atau meninggalkan perbuatan yang memang tidak pernah dituntunkan

    oleh Rasulullah saw dan sekaligus memberikan nasehat dengan cara yang

    ma'ruf (mauidlah hasanah) jangan menjalankan praktek-praktek yang tidak

  • dituntunkan oleh Rasulullah saw tersebut. Dan juga kenduri itu adalah tradisi

    agama pra islam yaitu Hindu dan Budha. Sehingga haram dan bid‟ah untuk

    dilakukan karena tidak sesuai dengan tradisi dan ajaran agama Islam.

    Majlis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di desa Bringin juga menganggap

    bahwa ritual atau tradisi kenduri yang sudah berlangsung di tengah-tengah

    masyarakat ini adalah hal yang haram dan bid‟ah untuk dilakukan oleh umat

    islam. Lebih baiknya kalau mendoakan orang yang sudah meninggal itu sendiri

    saja ketika habis melakukan sholat.

  • BAB V

    PENUTUP

    A. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil kajian serta pemahaman yang mengacu pada

    rumusan masalah, dan pembahasan dan analisis tentang Kenduri dalam

    perspektif kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di desa

    Bringin kec. Bringin, maka dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:

    1. Pandangan kelompok pengajian Majelis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) di desa

    bringin bahwa kegiatan atau ritual yang berlangsung di masyarakat yaitu

    kenduri adalah hanya tradisi yang dilakukan turun temurun untuk

    memperingati atau mendoakan orang atau keluarga yang sudah meninggal

    dan biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh,

    dan dilanjutkan dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama,

    kedua, ketiga dan seterusnya. Melaksanakan kenduri adalah amalan yang

    tidak ada dasarnya dalam Al-qur‟an dan Sunnah bahkan Rosulullah tidak

    pernah mengajarkannya. Dan di masyarakat banyak hal-hal tradisi,

    kebiasaan yang secara tekstual tidak ada dasarnya tapi dilaksanakan.

    Dan kenduri secara fungsi tidak ada karena kenduri yang pahalanya

    dikirimkan untuk orang yang meninggal. Sedangkan kenduri tidak

    diajarkan oleh Rasulullah. Sehingga pahala yang akan dikirimkan kepada

    orang yang meninggal tidak sampai.

    2. Mereka menolak akan kenduri adalah tidak adanya sumber rujukan atau

    perintah yang jelas dari Al-Qur‟an dan Sunnah, bahkan Rosulullah tidak

  • mengajarkannya. Mereka mengambil dasar di dalam al-Qur‟an yaitu surat

    An-Najm ayat 38-39 dan hadits riwayat Muslim. Maka sebagai umat islam

    sikap yang harus diambil adalah menjauhi atau meninggalkan perbuatan

    yang memang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah saw dan sekaligus

    memberikan nasehat dengan cara yang ma'ruf (mauidlah hasanah) jangan

    menjalankan praktek-praktek yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw

    tersebut. Dan juga kenduri itu adalah tradisi agama pra islam yaitu Hindu

    dan Budha. Sehingga tidak sesuai dengan tradisi dan ajaran agama Islam.

    Majlis


Recommended