Home >Documents >KENANGAN BERSAMA PAK SINGGIH SELAMA TIGA DEKADE

KENANGAN BERSAMA PAK SINGGIH SELAMA TIGA DEKADE

Date post:08-Mar-2016
Category:
View:269 times
Download:12 times
Share this document with a friend
Description:
Buku ini diterbitkan dan dibagikan gratis ketika Prof. Dr. Singggih D. Gunarsa purna bakti sebagai guru besar di Fakultas Psikologi UI.
Transcript:
  • KATA PENGANTAR (Dari Sri Hartati Suradijono Ph.D.)

    Dalam Psikologi Perkembangan masa pensiun merupakan salah satu masa yang harus dilalui setiap manusia. Pada hari ini, kita patut bersyukur kepada Yang Maha Kuasa dapat menemani Pak Singgih memasuki masa pensiunnya, setelah lebih kurang selama 4 dekade menyumbangkan segenap fikirannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan Psikologi di Indonesia, khususnya di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

    Sebagai seorang Guru Besar Universitas Indonesia, kiprahnya tidak hanya terasa dalam kelas, akan tetapi beliaupun pernah memegang beberapa jabatan seperti Kepala Bagian Psikologi Perkembangan, Pembantu Dekan Bid-Akademis, Ketua Program S2 Bidang Psikologi Perkembangan, selain sebagai Anggota Senat Guru Besar U.I.

    Bila melihat keadaan fisik Pak Singgih sekarang ini, sulit untuk percaya bahwa beliau telah memasuki masa pensiun. Secara fisik tampaknya beliau masih mampu diajak berlari maupun meloncat. Sedangkan hasil fikiran atau pandangannya tidak pernah ketinggalan zaman. Saya jadi teringat akan kata-kata dari Picasso yang berhasil mengeluarkan tiga lukisan di usia 85-90 tahun:

    "Age only matters when one is aging. Now that I have arrived at a great age, I might just as well be twenty"

    Selain Picasso, masih banyak lagi tokoh-tokoh lain yang berhasil mengukir prestasinya di tingkat dunia, seperti Dr. John Rock yang menemukan pil KB untuk pertama kalinya pada usia 70 tahun. Ini semua membuktikan betapa kelirunya pendapat David Wechsler, pengembang Wechsler Scales for Intelligence, yang mengatakan inteligensi seseorang akan menurun dengan bertambahnya usia sehubungan dengan terjadi proses penuaan (aging). Santrock (1997) dalam bukunya Life-Span Development justru mengatakan bahwa ada dua hal yang meningkat di tahap usia lanjut ini yaitu :

    Crystallized Intelligence: "an individual's accumulated information and verbal skills."

    Wisdom: "expert knowledge about the practical aspects of life that permits excellent judgement about important matters." "...practical knowledge involves exceptional insight into human development and life matters, good judgement, and an understanding of how to cope with difficult life problems."

    Akhirnya saya harap buku "kenangan bersama Pak Singgih selama tiga dekade" ini tidak dilihat oleh Pak Singgih sebagai sebuah pintu yang menutup peran serta Bapak dalam mengembangkan ilmu Psikologi di Indonesia, khususnya di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (terutama sekali di Bagian Psikologi Perkembangan). Buku ini hanya ingin

  • menampilkan suara-suara dari segelintir teman-teman disekitar Bapak yang merasa bahagia dengan karya bhakti Bapak selama ini.

    Sebagai kata penutup untuk Pak Singgih saya ingin mengatakan sesuatu yang dikutip dari Santrock (1997) yang berbunyi"

    "...retirement will allow you to travel and pursue your own interests while you are young enough to still have your health."

    Kepala Bagian Psikologi Perkembangan

    Sri Hartati Suradijono Ph.D.

  • PAK SINGGIH DIRGA GUNARSA (Dari Fuad Hassan)

    Dari kiri ke kanan: Sudirgo, Fuad Hassan, Singgih saat menghadiri 20 tahun International Congress of Psychology di Tokyo, 1972.

    Saya mengenalnya sepanjang rentang waktu yang sangat lama : sejak sebagai mahasiswa hingga menjadi ayah tiga anak, bahkan sekarang sebagai kakek tiga cucu.

    Apa yang konstan teramati selama itu ialah sikapnya yang serius terhadap apa yang menjadi preokupasinya, baik sewaktu belajar maupun saat bekerja. Sebagai mahasiswa ia tergolong mereka yang menyelesaikan studinya tepat waktu; sebagai psikolog ia menunjukkan komitmen penuh pada psikologi anak.

    Kerapihan tengah mencuat dari penampilannya; sepanjang hari pakaiannya tetap rapih, bahkan sisirannya seperti tak berubah dihembus angin. Kerapihan ini juga terpantul dalam kehadirannya di muka kelas selama mengajar atau memberi ceramah di muka umum.Hal lain yang tampil sebagai cirinya ialah kemauan keras. Dia dapat dianggap mewakili peribahasa : "Dimana ada kemauan pasti ada jalan". Ini terbukti antara lain ketika ia memutuskan untuk berhenti merokok pada hari ulang tahunnya yang ke ......

    Begitu tiba hari itu, langsung ditinggalkannya persekutuan dengan rokok. Sebagai perokok, saya menyadari benar betapa sulitnya mengambil keputusan pada saat yang ditentukan sebelumnya. Dengan pengalamannya selama ini saya harapkan dia akan menulis sebanyak mungkin tentang psikologi perkembangan umumnya, khususnya yang berkenaan dengan pendidikannya menuju kedewasaan.

    Fuad Hassan, 19 - 07 - 99

  • CUPLIKAN PERISTIWA TENTANG SINGGIH DIRGA GUNARSA (Dari Ashar Sunyoto Munandar)

    Hasrat untuk menulis tentang Prof. Dr. Singgih Dirga Gunarsa memunculkan kembali ingatan-ingatan beberapa peristiwa.

    Untuk pertama kali saya mengenalnya sebagai Go Ge Siong, asisten mahasiswa dari ibu Utami Munandar, di Bagian Psikologi Pendidikan (Ketika itu, tahun 1960, Fakultas Psikologi UI memiliki Bagian Psikologi Anak dan Bagian Psikologi Pendidikan). Pernah Bagian Psikologi Pendidikan berlibur bersama ke Cipayung, menginap di rumah milik Dr. Boentaran, ayah ibu Utami. Seluruh asisten bagian ikut serta. Hanya ada dua pria ketika itu, yaitu Go Ge Siong dan saya. Di samping senda gurau terjadi pula saling menggoda. Nampaknya sudah mulai ada hubungan khas antara Ge Siong dan Juul Ong, salah satu asisten mahasiswa lainnya. Namun Ge Siong pandai menutupinya. Kesan yang saya peroleh dari Ge Siong ketika itu ialah bahwa ia seorang yang `beheerst', pandai mengendalikan diri, tapi juga agak cepat tersinggung. Ia mampu ramai ikut dalam pembicaraan, lancar dalam pergaulan, tapi tak pernah saya lihat dapat tertawa lepas terbahak-bahak. Ia memperhatikan penampilannya, selalu bersih dan rapi. Badannya tegap, badan seorang olah ragawan. Seingat saya dia memang suka bermain olah raga, bola basket atau bola voli.

    Kesan ini tak mengalami perubahan. Peristiwa kedua yang timbul dalam ingatan ialah ketika di UI diadakan Latihan Kemiliteran Dosen (LKD) di tahun 1965. Pembantu Dekan III, bidang Kemahasiswaan dan alumni, dari semua fakultas dilingkungan UI diwajibkan ikut, juga beberapa dosen dari setiap fakultas. Yang menjadi pemimpin/komandan dari kelompok dosen UI ini ialah Bapak Pembantu Prof. Dr. dan Brig.Jen tituler, (lalu menjadi Rektor UI dan terakhir menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dan meninggal dalam jabatan ini, 1985). Dari Fakultas Psikologi, selain saya, sebagai Pembantu Dekan III, ikut serta pula drs. Ng Tjong Pin.

    (Prof. Dr. Sudirgo Wibowo sekarang) dan drs. Go Ge Siong. Banyak diantara peserta LKD sekarang telah menjadi Guru Besar dan ada beberapa yang telah dipanggil kembali ke Rahmatullah. Ketika itupun penampilan Ge Siong dalam pakaian militer bersih dan rapi.

    Ia tidak suka banyak bicara dapat menguasai perasaan dan menahan diri untuk tidak setiap ada kesempatan bicara dengan Juul, isterinya.

    Tempat latihan kami ada di gedung bersebelahan dengan kampus YAI sekarang. Di belakang gedung terdapat lapangan yang luas. Tembok belakang ternyata merupakan tembok batas dengan gedung UKI yang dulu ditempati oleh Fakultas Psikologi UI. Salah satu ruang kuliah dijadikan rumah dinas pengajar Fakultas Psikologi UI. Pertama kali kami, ibu Utami, anak Pammi dan Gita, dan saya, tinggal disitu. Ketika akhir

  • tahun 1964 kami pindah ke Rawamangun, Ge Siong dan Juul tinggal di kamar kuliah tersebut. Jadi ketika itu Ge Siong sebenarnya dapat setiap hari menjumpai isterinya, tapi tak dilakukan (atau saya tak mengetahui).

    Kesan lain yang saya peroleh ialah bahwa Ge Siong dalam melakukan sesuatu, selalu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Di samping minat dalam bidang keahliannya ia juga sangat memperhatikan penguasaan bahasa Indonesia. Sikap ini juga terus terlihat dalam kariernya sebagai dosen dan kepala Bagian Psikologi Anak. Ia berusaha untuk dapat menulis disertasi dan berhasil. Sebagai kepala Bagian Anak juga terus berusaha keras memajukan bagiannya dan stafnya. Salah satu usahanya ialah mendatangkan Prof. Jan de Wit dari Belanda yang memberikan kursus/pendidikan tambahan untuk para staf bagiannya.

    Ia seorang yang mandiri yang memiliki pandangan sendiri dan berani mempertahankan pendapatnya meskipun ia tahu banyak teman-teman sejawatnya tidak menyetujuinya. Ia dapat bertindak keras jika ia rasakan perlu. Saya merasa bangga ketika saya sebagai dekan Fakultas Psikologi dapat menyaksikan terselenggaranya pengukuhannya sebagai Guru Besar. Saya juga berterima kasih atas kepercayaannya dengan meminta kepada saya untuk menjadi pengajar pada program Magister Manajemen Universitas Taruma Nagara (MM-UNTAR), ketika program tersebut baru direncanakan untuk dibuka. Dalam kaitan dengan mengajar di program MM UNTAR ada peristiwa yang mengesankan saya. Salah satu mata kuliah dari program MM-UNTAR yang juga dipercaya kepada saya ialah mata kuliah `Kepemimpinan'. Bersama saya ada dua pengajar lainnya, salah satunya Pak Singgih. Pada catur wulan berikutnya Pak Singgih, melalui sekretaris program MM, memberitahukan bahwa ia tak mau mengajar lagi tentang kepemimpinan karena ia tak tahu banyak mengenai ini dan minta agar sayalah yang memberikan. Saya hargai pandangannya. Ia tetap berada dalam bidang keahliannya dan tak mau bergerak di bidang psikologi lain yang ia rasakan bukan bidangnya.

    Sekarang Go Ge Siong telah menjadi Prof. Dr. Singgih Gunarsa, yang selain terkenal sebagai psikolog handal, juga dikenal sebagai psikolog dari regu bulu tangkis Indonesia yang berhasil, dan wakil ketua Yayasan Taruma Nagara. Meskipun telah pensiun sebagai pegawai negeri saya yakin Pak Singgih akan tetap bergelut di bidang keahliannya dan memberikan sumbangan bermakna dalam perkembangan psikologi di Indonesia.

    Jakarta, 18 Juli 1999Ashar Sunyoto Munandar

  • Romance Juul & Singgih

    SINGGIH YANG KUKENAL (Dari Utami Mu

of 110

Embed Size (px)
Recommended