Home >Documents >Kelompok Revisi 2013 TOEFL

Kelompok Revisi 2013 TOEFL

Date post:30-Dec-2014
Category:
View:60 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Transcript:

HUBUNGAN ANTARA METAKOGNISI DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN KREATIVITAS

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi pencapaian atau keberhasilan seseorang di dalam bidang akademik. Namun pada penelitian ini peneliti akan meneliti peranan dan kaitan antara metakognisi, afektif dan sosial terhadap prestasi TOEFL dengan motivasi sebagai variable intervening. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan memainkan peran yang sangat penting di dalam

mempengaruhi keberhasilan akademik di kalangan mahasiswa di dalam pencapaian nilai TOEFL yang diinginkan. Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 keterampilan menyimak ( listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Keempat keterampilan tersebut sebagai sarana intelektual. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa maka semakin cerah dan jelas jalan pikirannya. Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Inggris di universitas adalah agar siswa memahami bahasa Inggris dari segi bentuk, fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam keperluan salah satunya adalah pencapaian prestasi nilai TOEFL. Tujuan ini mengimplikasikan bahwa di dalam suatu pembelajaran, siswa membutuhkan suatu strategi untuk memahami bahasa Inggris dengan baik dan benar dari berbagai segi. Strategi belajar merupakan langkah-langkah yang diambil oleh para siswa untuk meningkatkan pembelajaran mereka sendiri. Strategi belajar digunakan dosen untuk mencapai tujuan tertentu. Penggunaan strategi belajar ini tampak pada tindakan-tindakan atau perilaku-perilaku khusus yang dilakukan seorang dosen untuk meningkatkan kemampuan bahasanya. Misalnya dengan cara meniru, mengulang-ulang,

menterjemahkan ke dalam bahasa lain, memperbaiki tuturan, meminta klarifikasi, dan lain-lain. Sebagai contoh seorang siswa memperbaiki tuturan teman yang diketahuinya salah atau kurang baik. Menurut Oxford (1990) mengklasifikasikan strategi belajar menjadi dua kategori umum, yaitu strategi langsung dan strategi tidak langsung. Strategi belajar dikatakan strategi langsung jika dalam penerapannya melibatkan penggunaan bahasa target secara langsung dan strategi tidak langsung jika dalam penerapannya tidak berkenaan dengan penggunaan secara langsung dengan penggunaan bahasa target. Strategi langsung terdiri dari tiga kategori strategi yaitu strategi memori, kognitif dan kompensasi. Adapun strategi tidak langsung terdiri dari tiga kategori yaitu strategi metakognitif, afektif dan sosial. Hamalik (2008 : 55) mengatakan bahwa pengajaran adalah upaya atau cara menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik yang diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mengetahui sejauh mana tujuan itu telah tercapai, metode pengajaran haruslah direncanakan. Karena itu metode atau sistem pengajaran selalu mengalami dan mengikuti tiga tahap, yakni tahap analisis (menentukan dan menrumuskan tujuan), tahap sintesis (perencanaan proses yang akan di tempuh), dan tahap evaluasi (memberikan tes tahap pertama dan kedua) (Hamalik, 2008:56). Sedangkan pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas, interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan, untuk membelajarkan peserta didik (Hamalik, 2008:57).

Oleh karena itu, mengajar dan belajar adalah dua peristiwa yang berbeda tetapi terdapat hubungan yang erat, bahkan terjadi kaitan dan interaksi yang saling pengaruh dan mempengaruhi dan saling menunjang sati sama lain. Pranata dan Kristianto dalam Johanna (2007:1) mengemukakan bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu proses komunikasi antara guru dengan murid, yaitu bagaimana materi disampaikan, kurikulum sebagai rangkaian materi kuliah, serta hasil proses tersebut. Ukuran sukses dari hasil proses belajar - men gajar adalah keberhasilan belajar, yaitu berupa penguasaan atas materi yang telah dipelajari. Oleh karena itu, agar tercapai tujuan pembelajaran, dosen sebagai sumber utama bagi para pembelajar dalam proses pembelajaran, harus mampu mendorong motivasi para pembelajar untuk mengikuti pelajaran yang diberikan. Menurut Hamalik (2008 : 68), hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : a) Daya tarik ; pembelajar lebih menyukai belajar, bila perhatiannya tertarik oleh penyajian yang menyenangkan atau menarik. b) Aktif dalam latihan ; pembelajar lebih senang belajar bila mereka dapat berperan aktif dalam latihan / praktek dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. c) Latihan yang terbagi ; pembelajar lebih menyukai belajar bila latihan latihan dilaksanakan dalam jangka waktu yang pendek. d) Keadaan yang menyenangkan ; pembelajar lebih menyukai belajar bila kondisi menyenangkan bagi mereka. belajaran

1.2 Rumusan Permasalahan Sehubungan dengan beberapa hal yang telah diungkapkan sebelumnya, penulis bermaksud untuk meneliti apakah strategi pembelajaran strategi tidak langsung yang terdiri dari tiga kategori yaitu strategi metakognitif, afektif dan sosial.berpengaruh terhadap prestasi TOEFL dengan menggunakan motivasi sebagai variabel intervening. 1.3 Ruang Lingkup Permasalahan Penelitian ini dilakukan atas dasar pentingnya faktor penggunaan strategi pembelajaran secara tidak langsung dengan metode metakognitif, afektif dan sosial. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan apakah ada korelasi antara penggunaan strategi metakognitif, afektif dan sosial dengan kemampuan mahasiswa terhadap prestasi nilai TOEFL dengan motivasi sebagai variabel intervening terhadap mahasiswa STIESIA Surabaya. Mengapa Strategi Belajar Diperlukan? 1. Mencapai pembelajaran yang lebih efektif a. Aktif, terarah, dan mandiri b. Lebih bertanggung jawab dalam belajar

2. Memenuhi kebutuhan persona 3. Membentuk pebelajar sepanjang hayat 4. Terbukti secara empiris berkaitan dengan gaya belajar yang diterapkan 1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan umum penelitian ini dapat diketahui dari masalah-masalah yang akan dibahas, diungkap, dan dibuktikan dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah ada korelasi antara penggunaan strategi metakognitif, afektif dan sosial dengan prestasi nilai TOEFL dengan motivasi sebagai variabel intervening di STIESIA Surabaya. Tujuan khusus penelitian ini dapat diketahui dari masalah-masalah yang akan dibahas, diungkap dan dibuktikan dalam penelitian ini yaitu adalah untuk mendeskripsikan secara objektif tentang hasil prestasi TOEFL penggunaan strategi metakognitif, afektif dan sosial mahasiswa STIESIA Surabaya, mendeskripsikan secara objektif tentang hubungan antara penggunaan strategi metakognitif, afektif dan sosial dengan prestasi nilai TOEFL mahasiswa STIESIA Surabaya. Manfaat yang didapat adalah bisa menjadikan alternatif pembelajaran bagi dosen bahasa Inggris dengan menggunakan strategi pembelajaran melalui metakognitive, afektif dan sosial bagi anak didiknya untuk bisa mendapatkan nilai yang baik di dalam nilai prestasi TOEFL sehingga nilai yang ditargetkan tercapai.

BAB 2 DAFTAR PUSTAKA

2.1 Pengertian Strategi Belajar

Strategi belajar dipersepsi dan diartikan secara berbeda-beda. Ada yang menggambarkan strategi belajar sebagai sifat, tingkah laku yang tidak teramati, atau langkah nyata yang dapat diamati. Dari segi ruang lingkupnya, sebagian ahli beranggapan bahwa strategi belajar hanya mencakup hal-hal yang berkaitan dengan proses internalisasi sistem bahasa; namun ada sebagian yang beranggapan bahwa strategi belajar juga mencakup proses pemakaian bahasa untuk berkomunikasi. Strategi belajar dapat digambarkan sebagai sifat dan tingkah laku. Joan Rubin (1975) misalnya melakukan kajian tentang perbedaan antara sifat-sifat pembelajar bahasa yang berhasil dan sifat-sifat pembelajar bahasa yang tidak berhasil. Oxford mendefinisikan strategi belajar sebagai "tingkah laku atau tindakan yang dipakai oleh pembelajar agar supaya pembelajaran bahasa lebih berhasil, terarah, dan menyenangkan" (Oxford, 1989:235). Pengertian yang diberikan oleh Oxford lebih bersifat perbuatan yang dapat diamati, walaupun pengertian tersebut dapat pula mencakup tindakan kognitif yang tidak teramati. Oxford memandang strategi belajar sebagai tindakan dan sekaligus sebagai sifat pribadi pembelajar. Dia menyatakan bahwa strategi belajar adalah "the specific techniques or activities a learner uses to facilitate learning and are a very important attribute to the learner" (Oxford-Carpenter, tanpa tahun a). Pengertian yang disajikan oleh Brown (1987) menekankan konsep strategi belajar sebagai tingkah laku yang tidak teramati di dalam diri pembelajar. Brown membedakan antara strategi belajar (learning strategy) dan strategi komunikasi (communication strategy). Strategi belajar berkaitan dengan pemrosesan, penyimpanan, dan pengambilan (retrieval) masukan pemerolehan bahasa; sedangkan strategi komunikasi ber-kenaan dengan keluaran pemerolehan bahasa (bagaimana menyatakan arti dan bertindak tentang apa yang telah diketahui atau dianggap diketahui). Di dalam kepustakaan istilah strategi belajar dan strategi komunikasi seringkali dipakai untuk menyatakan konsep yang sama. Seperti halnya Brown, definisi yang diberikan oleh Stern (1983) juga menekankan pada aspek kognitif yang tidak teramati. Stern memandang strategi belajar sebagai kecenderungan atau sifat-sifat umum dari pendekatan yang digunakan oleh pembelajar bahasa kedua (Stem, 1983:405). Dia memisahkan strategi belajar dari teknik belajar. Teknik belajar mengacu kepada tingkah laku yang teramati.

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended