Home >Documents >Kelompok 1 _ CTEV

Kelompok 1 _ CTEV

Date post:19-Dec-2015
Category:
View:353 times
Download:10 times
Share this document with a friend
Description:
silakan
Transcript:

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangCTEV (Congenital Talipes Equino Varus) atau biasa disebut sebagai kaki pengkor atau clubfoot adalah suatu kelainan pada kaki bayi yang merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Clubfoot yang terbanyak merupakan kombinasi dari beberapa posisi dan angka kejadian yang paling tinggi adalah tipe Talipes Equino Varus (TEV) dimana kaki posisinya melengkung ke bawah dan ke dalam dengan berbagai tingkat keparahan. Unilateral clubfoot lebih umum terjadi dibandingkan tipe bilateral dan dapat terjadi sebagai kelainan yang berhubungan dengan sindroma lain seperti aberasi kromosomal, artrogriposis (imobilitas umum dari persendian), cerebral palsy atau spina bifida (Our Life, 2012).Insidens CTEV bervariasi, bergantung dari ras dan jenis kelamin. Insidens CTEV di Amerika Serikat sebesar 1-2 kasus dalam 1000 kelahiran hidup. Perbandingan kasus laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Keterlibatan bilateral didapatkan pada 30-50% kasus (Cahyono, 2012). CTEV atau kaki pengkor dapat terjadi karena beberapa hal. Cahyono (2012) menyatakan club foot dapat terjadi karena faktor herediter; defek primer pada jaringan neurogenik, sel otot, dan sel plasma; gangguan vaskularisasi, dan faktor mekanik intrauteri. Hal tersebut dapat menyebabkan perkembangan fetus terhambat, sehingga akan mempengaruhi pembentukan tulang, sendi, dan ligamen. Dengan adanya kelainan pada tulang, sendi, dan ligamen akan menyebabkan terjadi deformitas pada ankle. Deformitas ini dapat berupa inversi atau membengkok ke dalam, atau lebih dikenal dengan talipes varus. Karena terjadi saat janin masih dalam kandungan maka disebut dengan Congenital Talipes Equino Varus.Untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan deformitas pada tungkai, perlu dilakukan penatalaksanaan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Selain itu, agar penyakit dapat sembuh sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup klien. Asuhan keperawatan diperlukan untuk menyelesaikan segala masalah yang dapat timbul akibat CTEV serta masalah yang diperkirakan akan timbul akibat penyakit tersebut.

1.2 Rumusan Masalah1. Apakah definisi dari CTEV?2. Apakah etiologi dari CTEV?3. Apakah manifestasi klinis dari CTEV?4. Bagaimana patofisiologi dari CTEV?5. Apa sajakah pemeriksaan penunjaang untuk CTEV?6. Bagaimana penatalaksanaan dari CTEV?7. Apakah komplikasi dari CTEV?8. Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan untuk CTEV?9. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan CTEV?

1.3 TujuanTujuan UmumMenjelaskan tentang konsep penyakit CTEV serta pendekatan asuhan keperawatannya.Tujuan Khusus1. Mahasiswa mengerti definisi dari CTEV2. Mahasiswa mengerti etiologi dari CTEV3. Mahasiswa mengerti manifestasi klinis dari CTEV4. Mahasiswa mengerti patofisiologi dari CTEV5. Mahasiswa mengerti pemeriksaan penunjaang untuk CTEV6. Mahasiswa mengerti penatalaksanaan dari CTEV7. Mahasiswa mengerti komplikasi dari CTEV8. Mahasiswa mengerti pencegahan yang dapat dilakukan untuk CTEV9. Mahasiswa mengerti a asuhan keperawatan klien dengan CTEV

1.4 ManfaatMahasiswa mampu memahami tentang penyakit CTEV serta mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan CTEV dengan pendekatan Student Centre Learning.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DefinisiCongenital Talipes Equino Varus (CTEV) atau biasa disebut Clubfoot merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan deformitas umum dimana kaki berubah dari posisi normal yang umum terjadi pada anak-anak. CTEV adalah deformitas yang meliputi fleksi dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki depan, dan rotasi media dari tibia (Priciples of Surgery, Schwartz). Talipes berasal dari kata talus (ankle) dan pes (foot), menunjukkan suatu kelainan pada kaki (foot) yang menyebabkan penderitanya berjalan pada ankle-nya. Sedang Equinovarus berasal dari kata equino (mengkuda) dan varus (bengkok ke arah dalam/medial).Congenital talipes equinovarus atau kaki pengkor adalah fiksasi kaki pada posisi adduksi, supinasi dan varus. Tulang kalkaneus, navikular, dan kuboid terrotasi ke arah medial terhadap talus, dan tertahan dalam posisi adduksi serta inversi oleh ligamen dan tendon. Sebagai tambahan, tulang metatarsal pertama lebih fleksi terhadap daerah plantar (Cahyono, 2012).CTEV adalah salah satu anomali ortopedik kongenital yang sudah lama dideskripsikan oleh Hippocrates pada tahun 400 SM (Miedzybrodzka, 2002).

Gambar.1 Perbedaan kaki normal dan CTEV pada bayi2.2 KlasifikasiMenurut Staheli (2009), klasifikasi kaki pengkor dapat berubah dengan berjalannya waktu tergantung pada penanganannya. Berikut adalah kalsifikasi CTEV :1. Typical Clubfoot, merupakan kaki pengkor klasik, hanya menderita kaki pengkor saja tanpa disertai kelainan lain. Umumnya dapat dikoreksi setelah lima kali pemasanagan gips, dan dengan manajemen Ponseti mempunyai hasil jangka panjang yang baik atau memuaskan, yang termasuk typical clubfoot yaitu :a. Positional Clubfoot, sangat jarang ditemukan, sangat fleksibel dan diduga akibat jepitan intrauterin. Pada umumnya koreksi dapat dicapai dengan satu atau dua kali pemasangan gipsb. Delayed Treated Clubfoot, ditemukan pada anak berusia 6 bulan atau lebihc. Recurrent Typical Clubfoot, dapat terjadi baik pada kasus yang awalnya ditangani dengan metode Ponseti maupun dengan metode lain. Relaps lebih jarang terjadi dengan metode Ponseti dan umumnya diakibatkan pelepasan brace yang terlalu dini. Rekurensi supinasi dan equinus paling sering terjadi. Awalnya bersifat dinamik namun dengan berjalannya waktu menjadi fixedd. Alternatively treated typical clubfoot, termasuk kaki pengkor yang ditangani secara operatif atau pengegipan dengan metode non-Ponseti2. Atypical clubfoot, biasanya berhubungan dengan penyakit yang lain. Penanganan dimulai dengan metode Ponseti, koreksi pada umumnya lebih sulit. Yang termasuk atypical clubfoot yaitu : a. Rigid atau Resistant atypical clubfoot, dapat kurus atau gemuk. Kasus dengan kaki yang gemuk lebih sulit ditangani. Kaki tersebut umumnya kaku, pendek, gemuk dengan lekukan kulit yang dalam pada telapak kaki dan dibagian belakang pergelangan kaki, terdapat pemendekan metatarsal pertama dengan hiperekstensi sendi metatarsophalangealb. Syndromic clubfoot, selain kaki pengkor ditemukan juga kelainan kongenital lain. Jadi kaki pengkor merupakan bagian dari suatu sindroma. Metode Ponseti tetap merupakan standar penanganan, tetapi mungkin lebih sulit dengan hasil kurang dapat diprediksic. Tetralogic clubfoot, seperti pada congenital tarsal synchondrosisd. Neurogenic clubfoot, berhubungan dengan kelainan neurologi seperti meningomyelocelee. Acquired clubfoot, seperti pada Streeter dysplasia.

2.3 Etiologi Sampai saat ini penyebab utama terjadinya kaki bengkok (CTEV) tidak diketahui secara pasti. Mihran (2008) dan Hita (2008) menjelaskan beberapa teori penyebab terjadinya CTEV/kaki pengkor :1. Teori embrionik, antara lain defek primer yang terjadi pada sel germinativum yangdibuahi yang mengimplikasikan perubahan bentuk. Terjadi antara masa konsepsi dan pada minggu ke-12 usia kehamilan 2. Perkembangan fetus terhambat 3. Teori neurogenik, yaitu teori yang menjelaskan bahwa defek primer terjadi pada jaringan neurogenik, terjadi perubahan inervasi intrauterin karena penyakit neurologis, seperti stroke. Teori ini didukung oleh insiden CTEV pada 35% bayi spina bifida.4. Teori amiogenik, yang menjelaskan bahwa defek primer terjadi pada jaringan otot dan terjadi penebalan kapsul fibrosa sendi5. Faktor keturunan, adanya faktor poligenik mempermudah fetus terpapar faktor-faktor eksternal, seperti infeksi Rubella dan pajanan talidomid (Wynne dan Davis)6. Cairan amnion dalam ketuban yang terlalu sedikit pada waktu hamil (oligohidramnion) : mempermudah terjadinya penekanan dari luar karena keterbatasan gerak fetus7. Vaskular : Atlas dkk. (1980) menemukan abnormalitas vaskulatur berupa hambatan vaskular setinggi sinus tarsalis pada kasus CTEV. Pada bayi dengan CTEV didapatkan muscle wasting di bagian ipsilateral, mungkin karena berkurangnya perfusi arteri tibialis anterior selama masa perkembangan.8. Kadang kala ditemukan bersamaan dengan kelainan lain seperti Spina Bifida atau displasia dari rongga panggul.

2.4 PatofisiologiPenyebab pasti dari clubfoot sampai sekarang belum diketahui. Beberapa ahli mengatakan bahwa kelainan ini timbul karena posisi abnormal atau pergerakan yang terbatas dalam rahim. Ahli lain mengatakan bahwa kelainan terjadi karena perkembangan embrionik yang abnormal yaitu saat perkembangan kaki ke arah fleksi dan eversi pada bulan ke-7 kehamilan. Pertumbuhan yang terganggu pada fase tersebut akan menimbulkan deformitas dimana dipengaruhi pula oleh tekanan intrauterin.Kaki pengkor atau club foot bukan merupakan malformasi embrionik. Kaki yang pada mulanya normal akan menjadi pengkor selama trimester kedua kehamilan. Kaki pengkor jarang terdeteksi oleh ultrasonografi pada janin yang berumur dibawah 16 minggu. Oleh karena itu, seperti developmental hip dysplasia dan idiophatic scoliosis, kaki pengkor merupakan deformasi pertumbuhan (developmental deformation) (Staheli, 2009). Berikut adalah perubahan yang terjadi pada kaki pengkor atau club foot :1. Jaringan Lunaka. Otot gastroknemius mengecilb. Tendon Achiles memendek dengan arah mediokaudal dan menyebabkan varus; begitupula tendon halucis longus dan digitorum komunisc. Tendon tibialis anterior dan posterior memendek, sehingga kaki bagian depan (forefoot) menjadi aduksid. Ligamen antara talus, kalkaneus, naviculare menebal dan memendek. Fasia plantaris menebal dan memendek, dengan kuat menahan kaki pada posisi equines dan membuat navicular dan calcaneus dalam posisi adduksi dan inversi.2. Tulang dan SendiSebagian besar deformitas terjadi di tarsus. Pada saat lahir, tulang tarsal, yang hampir seluruhnya masih berupa tulang rawan, berada dalam posisi fleksi, adduksi, dan inversi yang berlebihan. Talus dalam posisi plantar fleksi hebat, collum melengkung ke medial dan plantar, dan kaput berbentuk

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended