Home >Documents >Kelengkapan Administratif Resep dan Polifarmasi Yang Berpotensi ME pada Resep Penyakit Gastritis

Kelengkapan Administratif Resep dan Polifarmasi Yang Berpotensi ME pada Resep Penyakit Gastritis

Date post:29-Dec-2015
Category:
View:242 times
Download:6 times
Share this document with a friend
Description:
Karya Tulis Ilmiah
Transcript:
  • ANALISIS KELENGKAPAN ADMINISTRATIF RESEP DAN POLIFARMASI YANG BERPOTENSI TIMBULNYA MEDICATION ERROR PADA RESEP PENYAKIT

    GASTRITIS DI APOTEK KIMIA FARMA KOTA PALEMBANG PERIODE

    JANUARI MARET 2014

    PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

    Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Kesehatan

    OLEH:

    ARIEF WIBISANA NIM: PO.71.39.0.11.008

    KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG

    JURUSAN FARMASI 2014

  • HALAMAN PERSETUJUAN PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

    ANALISIS KELENGKAPAN ADMINISTRATIF RESEP DAN

    POLIFARMASI YANG BERPOTENSI TIMBULNYA MEDICATION ERROR PADA RESEP PENYAKIT

    GASTRITIS DI APOTEK KIMIA FARMA KOTA PALEMBANG PERIODE

    JANUARI MARET 2014

    ARIEF WIBISANA NIM: PO.71.39.0.11.008

    Disetujui Oleh : Pembimbing

    Dra. Sarmalina Simamora, Apt, M.kes NIP: 19631213 199493 2 003

    Mengetahui:

    Ketua Jurusan Farmasi

    Dra. Ratnaningsih DA, Apt, M.kes NIP: 19661016 199203 2 001

    KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG

    JURUSAN FARMASI 2014

  • i

    KATA PENGANTAR

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillahirobbilalamin puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini, dengan judul Analisis Kelengkapan Administratif Resep dan Polifarmasi Yang Berpotensi Timbulnya Medication Error Pada Resep Penyakit Gastritis di Apotek Kimia Farma Kota Palembang Periode Januari - Maret 2014 sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

    Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas dari perhatian, bimbingan, bantuan, dan dorongan dari berbagai pihak yang sungguh berarti bagi penulis. Dengan rasa tulus ikhlas dan dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Ibu Dra. Sarmalina Simamora, Apt, M.Kes selaku dosen pembimbing yang

    senantiasa memberikan bimbingan, arahan,dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

    2. Ibu Dra. Ratnaningsih DA, Apt, M.Kes selaku Ketua Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Palembang.

    3. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Politeknik Kesehatan Palembang Jurusan Farmasi.

    4. Orang tua dan keluarga yang selalu memberikan dukungan moril dan materil serta motivasi dan doanya.

    5. Teman-teman satu angkatan yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

    6. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

    Penulis menyadari akan keterbatasan, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki. Sehingga penulis Proposal Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dimasa yang akan datang.

    Akhirnya penulis mengharapkan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Walaikumsalam Wr. Wb.

    Palembang, Maret 2014

    Penulis

  • ii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN KATA PENGANTAR ..................................................................................... i DAFTAR ISI .................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................... 4 C. Tujuan Penelitian ...................................................................... 4 D. Manfaat Penelitian .................................................................... 5

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Medication Error ....................................................................... 6 B. Resep Obat Yang Rasional ...................................................... 12 C. Kelengkapan Resep ................................................................. 13 D. Polifarmasi................................................................................ 14 E. Interaksi Obat ........................................................................... 15 F. Gastritis .................................................................................... 17 G. Kerangka Teori ......................................................................... 27

    BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ........................................................................ 28 B. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................... 28 C. Populasi dan Sampel ................................................................ 28 D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ...................................................... 29 E. Cara Pengambilan Data ........................................................... 29 F. Alat Pengumpulan Data ............................................................ 30 G. Variabel Penelitian .................................................................... 30 H. Definisi Operasional ................................................................. 31 I. Kerangka Operasional .............................................................. 33 J. Cara Pengolahan dan Analisis Data ........................................ 34 K. Rencana Kegiatan ................................................................... 34

    DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 36 BIODATA ...................................................................................................... 40

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Medication Error (ME) adalah kejadian yang merugihkan pasien

    akibat pemakaian obat, tindakan, dan perawatan selama dalam

    penanganan tenaga kesehatan yang sebetulnya dapat dicegah

    (MENKES, 2004). Data tentang kejadian medication error terutama di

    indonesia tidak banyak diketahui. Hal tersebut kemungkinan karena tidak

    teridentifikasi secara nyata, tidak dapat dibuktikan, atau tidak dilaporkan

    (Siregar, dkk, 2006).

    Salah satu faktor penyebab terjadinya medication error adalah

    kegagalan komunikasi (salah interpretasi) antara prescriber (penulis

    resep) dengan dispenser (pembaca resep) (Rahmawati dan Oetari,

    2002). Menurut Cohen (1999) salah satu faktor yang meningkatkan resiko

    kesalahan dalam pengobatan adalah resep. Kelengkapan resep

    merupakan aspek yang sangat penting dalam peresepan karena dapat

    membantu mengurangi terjadinya medication error.

    Sebuah studi di yogyakarta (2010) terhadap sebuah rumah sakit

    swasta menunjukkan bahwa dari 229 resep, ditemukan 226 resep yang

    terdapat medication error. Dari 226 medication error, 99,12% merupakan

    kesalahan peresepan, 3,02% merupakan kesalahan farmasetik dan

    3,66% merupakan kesalahan penyerahan. Sebagian besar kesalahan

    peresepan merupakan akibat dari resep yang tidak lengkap

    (Perwitasari,dkk.2010).

  • 2

    Faktor lain yang berpotensi cukup tinggi untuk terjadinya

    medication error dan sering dijumpai adalah penggunaan 2 macam obat

    atau lebih. Pemberian obat secara polifarmasi sering menimbulkan

    interaksi obat, baik yang bersifat meningkatkan maupun yang

    meniadakan efek obat. Interaksi obat yang ditimbulkan dapat

    menyebabkan efek samping obat atau efek obat yang tidak diinginkan.

    Pada penelitian yang dilakukan (Terrie,2004) menyatakan bahwa efek

    samping obat terjadi 6% pada pasien yang mendapat 2 macam obat,

    meningkat 50% pada pasien yang mengonsumsi 5 macam obat, dan

    100% ketika lebih dari 8 obat yang digunakan.

    Berdasarkan laporan yang diterima Tim Kesehatan Pasien RS

    (KP-RS) R.K. Charitas kejadian tidak diinginkan yang terjadi selama lima

    tahun terakhir, yang berkaitan dengan obat (ME) sebanyak 76 kasus

    (26%) dari seluruh kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi. Meskipun

    sebagian besar kasus tidak terjadi dampak yang fatal, beberapa

    diantaranya termasuk kategori bermakna secara klinis

    (Simamora,dkk.2011).

    Tindakan nyata yang dapat dilakukan untuk mencegah medication

    error oleh seorang farmasis adalah melakukan skrining resep yang

    meliputi kelengkapan resep (identitas dokter, identitas pasien, nomer ijin

    praktek dokter [SIP], tempat dan tanggal resep, tanda R/, nama obat dan

    jumlahnya, aturan pakai, serta paraf dokter) dan tinjauan kerasionalan

    diantaranya polifarmasi dan interaksi obat.

    Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran

    pencernaan yang paling sering terjadi. Di dunia, insiden gastritis sekitar

  • 3

    1,8-2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahun. Sedangkan di Asia

    Tenggara, insiden gastritis sekitar 583.635 dari jumlah penduduk setiap

    tahun. Angka kejadian gastritis di Indonesia cukup tinggi, yaitu 274.396

    kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk. Menurut Maulidiyah dan Unun

    pada tahun 2006, angka kejadian gastritis pada keluhan saluran cerna di

    Surabaya mencapai 31,2%, Denpasar 46%, sedangkan di Medan

    sebesar 91,6% (Yulida, dkk. 2013). Tidak diketahui dengan pasti datanya

    di Palembang, namun diyakini kasus gastritis cukup tinggi terjadi disini.

    Apotek Kimia Farma merupakan salah satu apotek terbesar di

    kota Palembang dan memiliki pemasukan resep yang tinggi setiap

    harinya. Hal ini memungkinkan terjadinya medication error di apotek

    tersebut. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti di apotek Kimia

    Farma dengan judul Analisis Kelengkapan Administratif Resep dan

    Polifarmasi Yang Berpotensi Timbulnya Medication Error Pada Resep

    Penyakit Gastritis di Apotek Kimia Farma Kota Palembang Periode

    Januari - Maret 2014.

  • 4

    B. Rumusan Masalah

    1. Bagaimana karakteristik kelengkapan administrasi resep yang berpotensi

    timbulnya ME pada resep penyakit gastritis?

    2. Bagaimana karakteristik polifarmasi yang berpotensi timbulnya ME pada

    resep penyakit gastritis?

    3. Seberapa besar frekuensi kelengkapan administrasi resep dan

    polifarmasi yang berpotensi timbulnya ME pada resep penyakit gastritis?

    C. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

    Menilai kelengkapan administrasi resep dan polifarmasi yang

    berpotensi timbulnya medication error pada resep penyakit gastritis di

    apotek kimia farma kota palembang.

    2. Tujuan Khusus

    a. Mengindentifikasi karakteristik kelengkapan administrasi resep yang

    berpotensi timbulnya medication error pada resep penyakit gastritis.

    b. Mengindentifikasi karakteristik polifarmasi yang berpotensi timbulnya

    medication error pada resep penyakit gastritis.

    c. Mengukur frekuensi kelengkapan administrasi resep dan polifarmasi

    yang berpotensi timbulnya medication error pada resep penyakit

    gastritis.

  • 5

    D. Manfaat Penelitian

    Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat

    bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan manfaat lain :

    1. Bagi apotek, dapat dijadikan informasi dalam peningkatan pelayanan

    kefarmasian dan keselamatan pasien.

    2. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

  • 6

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Medication Error

    1. Definisi

    Medication Error (ME) adalah suatu kesalahan dalam proses

    pengobatan yang masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab

    profesi kesehatan, pasien atau konsumen, dan seharusnya dapat dicegah

    (Cohen, 1991). Selain itu, kesalahan pengobatan (medication error) dapat

    didefinisikan sebagai semua kejadian yang merugihkan pasien akibat

    pemakaian obat, tindakan, dan perawatan selama dalam penanganan

    tenaga kesehatan yang sebetulnya dapat dicegah (MENKES,2004).

    Definisi yang terbaru dari kesalahan pengobatan adalah kejadian yang

    dapat menyebabkan pengobatan tidak sesuai atau yang dapat

    mencelakakan pasien dimana prosedur pengobatan tersebut masih

    berada di bawah kontrol praktisi kesehatan (Fowler, 2009).

    2. Kejadian Medication Error

    Kejadian medication error dibagi dalam 4 fase, yaitu fase

    prescribing, fase transcribing, fase dispensing, dan fase administrasion

    oleh pasien (Cohen, 1991).

    a. Prescribing Errors

    Medication error pada fase prescribing adalah error yang terjadi

    pada fase penulisan resep. Fase ini meliputi:

  • 7

    1) Kesalahan resep

    2) Kesalahan karena yang tidak diotorisasi

    3) Kesalahan karena dosis tidak benar

    4) Kesalahan karena indikasi tidak diobati

    5) Kesalahan karena penggunaan obat yang tidak diperlukan

    b. Transcription Errors

    Pada fase transcribing, kesalahan terjadi pada saat pembacaan

    resep untuk proses dispensing, antara lain salah membaca resep

    karena tulisan yang tidak jelas. Salah dalam menterjemahkan order

    pembuatan resep dan signature juga dapat terjadi pada fase ini. Jenis

    kesalahan obat yang termasuk transcription errors, yaitu:

    1) Kesalahan karena pemantauan yang keliru

    2) Kesalahan karena ROM (Reaksi Obat Merugikan)

    3) Kesalahan karena interaksi obat

    c. Administration Error

    Kesalahan pada fase administration adalah kesalahan yang terjadi

    pada proses penggunaan obat. Fase ini dapat melibatkan petugas

    apotek dan pasien atau keluarganya. Jenis kesalahan obat yang

    termasuk administration errors yaitu :

    1) Kesalahan karena lalai memberikan obat

    2) Kesalahan karena waktu pemberian yang keliru

    3) Kesalahan karena teknik pemberian yang keliru

    4) Kesalahan karena tidak patuh

    5) Kesalahan karena rute pemberian tidak benar

    6) Kesalahan karena gagal menerima obat

  • 8

    d. Dispensing Error

    Kesalahan pada fase dispensing terjadi pada saat penyiapan

    hingga penyerahan resep oleh petugas apotek. Salah satu

    kemungkinan terjadinya error adalah salah dalam mengambil obat

    dari rak penyimpanan karena kemasan atau nama obat yang mirip

    atau dapat pula terjadi karena berdekatan letaknya. Selain itu, salah

    dalam menghitung jumlah tablet yang akan diracik, ataupun salah

    dalam pemberian informasi. Jenis kesalahan obat yang termasuk

    Dispensing errors yaitu :

    1) Kesalahan karena bentuk sediaan

    2) Kesalahan karena pembuatan/penyiapan obat yang keliru

    3) Kesalahan karena pemberian obat yang rusak

    3. Faktor Penyebab

    Menurut Cohen (1991) dari fase-fase medication error, dapat

    dikemukakan bahwa faktor penyebabnya dapat berupa:

    a. Komunikasi yang buruk, baik secara tertulis (dalam resep) maupun

    secara lisan (antar pasien, dokter dan apoteker).

    b. Sistem distribusi obat yang kurang mendukung (sistem komputerisasi,

    sistem penyimpanan obat, dan lain sebagainya).

    c. Sumber daya manusia (kurang pengetahuan, pekerjaan yang

    berlebihan).

    d. Edukasi kepada pasien kurang.

    e. Peran pasien dan keluarganya kurang.

  • 9

    4. Pencegahan Medication Error (Senjaya, dkk. 2011)

    Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada pasien

    yang menerima pengobatan dengan risiko tinggi. Keterlibatan apoteker

    dalam tim pelayanan kesehatan perlu didukung mengingat

    keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik terbukti memiliki

    konstribusi besar dalam menurunkan insiden/kesalahan.

    Apoteker harus berperan di semua tahapan proses yang meliputi :

    a. Pemilihan

    Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat

    diturunkan dengan pengendalian jumlah item obat dan penggunaan

    obat-obat sesuai formularium.

    b. Pengadaan

    Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman, efektif,

    dan sesuai peraturan yang berlaku (legalitas) dan diperoleh dari

    distributor resmi.

    c. Penyimpanan

    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk

    menurunkan kesalahan pengambilan obat dan menjamin mutu obat:

    1) Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike,

    sound-alike medication names) secara terpisah.

    2) Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang

    dapat menimbulkan cedera jika terjadi kesalahan pengambilan,

    simpan di tempat khusus.

    3) Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.

  • 10

    d. Skrining Resep

    Apoteker dapat berperan nyata dalam pencegahan terjadinya

    medication error melalui kolaborasi dengan dokter dan pasien.

    1) Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama

    dan nomor rekam medik/ nomor resep.

    2) Apoteker tidak boleh membuat asumsi pada saat melakukan

    interpretasi resep dokter. Untuk mengklarifikasi ketidaktepatan

    atau ketidakjelasan resep, singkatan, hubungi dokter penulis

    resep.

    3) Dapatkan informasi mengenai pasien sebagai petunjuk penting

    dalam pengambilan keputusan pemberian obat, seperti :

    - Data demografi (umur, berat badan, jenis kelamin) dan data

    klinis (alergi, diagnosis dan hamil/menyusui).

    - Hasil pemeriksaan pasien (fungsi organ, hasil laboratorium,

    tanda-tanda vital dan parameter lainnya).

    4) Membuat riwayat/catatan pengobatan pasien.

    5) Permintaan obat secara lisan hanya dapat dilayani dalam keadaan

    emergensi dan itupun harus dilakukan konfirmasi ulang untuk

    memastikan obat yang diminta benar, dengan mengeja nama obat

    serta memastikan dosisnya.

    e. Dispensing

    1) Peracikan obat dilakukan dengan tepat sesuai dengan SOP.

    2) Pemberian etiket yang tepat.

    3) Dilakukan pemeriksaan ulang oleh orang berbeda.

  • 11

    4) Pemeriksaan meliputi kelengkapan permintaan, ketepatan etiket,

    aturan pakai, pemeriksaan kesesuaian resep terhadap obat,

    kesesuaian resep terhadap isi etiket.

    f. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

    Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai hal-

    hal yang penting tentang obat dan pengobatannya. Hal-hal yang

    harus diinformasikan dan didiskusikan pada pasien adalah :

    1) Pemahaman yang jelas mengenai indikasi penggunaan dan

    bagaimana menggunakan obat dengan benar.

    2) Peringatan yang berkaitan dengan proses pengobatan.

    3) Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang potensial, interaksi obat

    dengan obat lain dan makanan harus dijelaskan kepada pasien.

    4) Reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction ADR)

    yang mengakibatkan cedera pasien, pasien harus mendapat

    edukasi mengenai bagaimana cara mengatasi kemungkinan

    terjadinya ADR tersebut.

    5) Penyimpanan dan penanganan obat di rumah termasuk

    mengenali obat yang sudah rusak atau kadaluarsa.

    g. Penggunaan Obat

    Apoteker harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh pasien

    rawat inap di rumah sakit dan sarana pelayanaan kesehatan lainnya,

    bekerja sama dengan petugas kesehatan lain. Hal yang perlu

    diperhatikan adalah :

    1) Tepat pasien

    2) Tepat indikasi

  • 12

    3) Tepat waktu pemberian

    4) Tepat obat

    5) Tepat dosis

    6) Tepat label obat (aturan pakai)

    7) Tepat rute pemberian

    h. Monitoring dan Evaluasi

    Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui

    efek terapi, mewaspadai efek samping obat, memastikan kepatuhan

    pasien. Hasil monitoring dan evaluasi didokumentasikan dan

    ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan mencegah

    pengulangan kesalahan.

    B. Resep Obat Yang Rasional

    Resep adalah sebuah pesanan dalam bentuk tulisan yang

    diberikan oleh dokter kepada apoteker. Disamping nama penderitanya,

    pesanan obat juga termasuk perintah kepada apoteker dan petunjuk

    untuk penderita. Resep juga didefinisikan sebagai

    pesanan/permintaantertulis dari seorang dokter kepada apoteker untuk

    membuat atau menyerahkan obat kepada pasien. Orang atau petugas

    yang berhak menulis resep ialah dokter; dokter gigi, terbatas pada

    pengobatan gigi dan mulut; serta dokter hewan, terbatas pengobatan

    untuk hewan. Resep harus terbaca jelas dan lengkap. Jika resep tidak

    dapat dibaca dengan jelas atau tidak lengkap, apoteker harus

    menanyakan kepada dokter penulis resep.

  • 13

    Supaya proses pengobatan berhasil maka resepnya harus baik

    dan benar (rasional). Resep yang rasional harus memuat (Anief, 2008) :

    1. Nama, alamat, dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi, dan dokter

    hewan.

    2. Tanggal penulisan resep (inscriptio).

    3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep.

    4. Nama setiap obat atau komponen obat (invocatio).

    5. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura).

    6. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai dengan

    perundang-undangan yang berlaku (subscriptio).

    7. Nama serta alamat pasien.

    8. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat

    yang jumlahnya melebihi dosis maksimal.

    Menurut (WHO, 1995) Peresepan rasional merupakan peresepan

    dimana pasien menerima obat yang tepat berdasarkan keperluan klinis

    dengan dosis, cara pemberian dan lamanya yang tepat, dan dengan cara

    yang mendorongketaatan pasien (patient compliance), dan dengan harga

    yang paling murah terhadap pasien dan komunitas.

    C. Kelengkapan Resep

    Resep dapat dikenali dengan mengidentifikasi bagian-bagiannya.

    Menurut teori, resep terdiri atas lima bagian penting yaitu Invecato,

    Inscriptio, Praescriptio, Signatura dan Subcriptio. Penjelasan kelima

    bagian penting tersebut sebagai berikut:

    1. Invecato yaitu tanda buka penulisan resep dengan R/

  • 14

    2. Inscriptio, yaitu tanggal dan tempat ditulisnya resep

    3. Praescriptio atau ordinatio adalah nama obat, jumlah dan cara

    membuatnya

    4. Signatura, merupakan aturan pakai dari obat yang tertulis

    5. Subcriptio adalah Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep

    Secara sistematis, Apoteker dapat menilai keabsahan suatu resep

    secara administrasi dengan menilai kelengkapan bagian resep tersebut.

    Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 280 tahun 1981 tentang

    Ketentuan dan Tata Cara Pengelolaan Apotek, resep yang lengkap harus

    memuat:

    a. Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi atau dokter

    hewan;

    b. Tanggal penulisan resep, nama setiap obat atau komposisi obat,

    jumlah obat, dan cara pemakaian;

    c. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep;

    d. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep;

    e. Jenis hewan dan serta nama alamat pemiliknya untuk resep dokter

    hewan;

    f. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat

    yang jumlahnya melebihi dosis maksimal.

    D. Polifarmasi (Terrie, 2004)

    Polifarmasi didefinisikan sebagai penggunaan bersamaan 5

    macam atau lebih obat-obatan oleh pasien yang sama. Namun,

  • 15

    polifarmasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah obat yang dikonsumsi.

    Secara klinis, kriteria untuk mengidentifikasi polifarmasi meliputi :

    1. Menggunakan obat-obatan tanpa indikasi yang jelas.

    2. Menggunakan terapi yang sama untuk penyakit yang sama.

    3. Penggunaan bersamaan obat-obatan yang berinteraksi.

    4. Penggunaan obat dengan dosis yang tidak tepat.

    5. Penggunaan obat-obatan lain untuk mengatasi efek samping obat.

    Polifarmasi meningkatkan risiko interaksi antara obat dengan obat

    atau obat dengan penyakit. Populasi lanjut usia memiliki risiko terbesar

    karena adanya perubahan fisiologis yang terjadi dengan proses penuaan.

    Perubahan fisiologis ini, terutama menurunnya fungsi ginjal dan hepar,

    dapat menyebabkan perubahan proses farmakodinamik dan

    farmakokinetik obat tersebut.

    E. Interaksi Obat

    1. Definisi

    Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah

    terkait obat (drug-related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian

    atau keadaan terapi obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis

    pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika atau

    farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu atau lebih

    zat yang berinteraksi (Piscitelli, 2005).

    Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu yang sama dapat

    berubah efeknya secara tidak langsung atau dapat berinteraksi. Interaksi

  • 16

    bisa bersifat potensiasi atau antagonis efek satu obat oleh obat lainnya,

    atau adakalanya beberapa efek lainnya (Martin, 2009).

    Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat

    meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang

    berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan

    yang sempit (indeks terapi yang rendah) (Setiawati, 2007).

    2. Mekanisme Interaksi Obat (Hashem, 2005)

    Pemberian suatu obat (A) dapat mempengaruhi aksi obat lainnya

    (B) dengan satu dari dua mekanisme berikut:

    a. Modifikasi efek farmakologi obat B tanpa mempengaruhi

    konsentrasinya di cairan jaringan (interaksi farmakodinamik).

    b. Mempengaruhi konsentrasi obat B yang mencapai situs aksinya

    (interaksi farmakokinetik).

    1) Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena indeks terapi

    obat B sempit (misalnya, pengurangan sedikit saja efek akan

    menyebabkan kehilangan efikasi dan atau peningkatan sedikit saja

    efek akan menyebabkan toksisitas).

    2) Interaksi ini penting secara klinis mungkin karena kurva dosis-

    respon curam (sehingga perubahan sedikit saja konsentrasi

    plasma akan menyebabkan perubahan efek secara substansial).

    3) Untuk kebanyakan obat, kondisi ini tidak ditemui, peningkatan

    yang sedikit besar konsentrasi plasma obat-obat yang relatif tidak

    toksik seperti penisilin hampir tidak menyebabkan peningkatan

    masalah klinis karena batas keamanannya lebar.

  • 17

    4) Sejumlah obat memiliki hubungan dosis-respon yang curam dan

    batas terapi yang sempit, interaksi obat dapat menyebabkan

    masalah utama, sebagai contohnya obat antitrombotik,

    antidisritmik, antiepilepsi, litium, sejumlah antineoplastik dan obat-

    obat imunosupresan.

    F. Gastritis

    1. Definisi

    Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung. Gastritis

    merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa

    lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal (Prince dan

    Wilson, 2006). Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu gastritis akut dan gastritis

    kronik. Gastritis akut adalah kelainan klinik akut yang jelas penyebabnya

    dengan tanda dan gejala yang khas, biasanya ditemukan sel inflamasi

    akut dan neutrofil. Sedangkan gastritis kronik merupakan suatu

    peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang menahun, yang

    disebabkan oleh ulkus dan berhubungan dengan Helicobacter pylori

    (Mansjoer, 2001).

    2. Penyebab

    Terjadinya gastritis disebabkan karena produksi asam lambung

    yang berlebih, asam lambung yang semula membantu lambung malah

    merugikan lambung. Dalam keadaaan normal lambung akan

    memproduksi asam sesuai dengan jumlah makanan yang masuk. Tetapi

    bila pola makan kita tidak teratur, lambung sulit beradaptasi dan lama

  • 18

    kelamaan mengakibatkan produksi asam lambung yang berlebih

    (Uripi,2002).

    3. Faktor Pemicu Kekambuhan Gastritis

    a. Faktor makan (pola makan)

    Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran

    mengenai jumlah, frekuensi dan jenis bahan makanan yang

    dikonsumsi tiap hari (Almatsier, 2004). Pola makan yang baik dan

    teratur merupakan salah satu dari penatalaksanaan gastritis dan juga

    merupakan tindakan preventif dalam mencegah kekambuhan gastritis.

    Penyembuhan gastritis membutuhkan pengaturan makanan sebagai

    upaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan (Uripi, 2002).

    b. Faktor obat-obatan

    Obat-obatan yang mengandung salisilat (sering digunakan sebagai

    obat pereda nyeri) dalam tingkat konsumsi yang berlebihan dapat

    menimbulkan gastritis (Uripi, 2002). Efek salisilat terhadap saluran

    cerna adalah perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada

    pemakaian dalam dosis besar. Salisilat merupakan agen-agen yang

    sering dikonsumsi oleh masyarakat yang kurang mengerti tentang

    penggunaan obat (Prince dan Wilson, 2006).

    c. Faktor Psikologis

    Stres baik primer maupun sekunder dapat menyebabkan peningkatan

    produksi asam lambung dan gerakan peristaltik lambung. Stres juga

    akan mendorong gesekan antar makanan dan dinding lambung

    menjadi bertambah kuat (Coleman, 1992). Hal ini dapat menyebabkan

    terjadinya luka dalam lambung. Penyakit maag (gastritis) dapat

  • 19

    ditimbulkan oleh berbagai keadaan yang pelik sehingga mengaktifkan

    rangsangan/iritasi mukosa lambung semakin meningkat

    pengeluarannya, terutama pada saat keadaan emosi, ketegangan

    pikiran dan tidak teraturnya jam makan.

    4. Obat Gastritis (Schmitz, dkk. 2009)

    Obat anti Tukak Lambung (Gastritis) dapat digolongkan menjadi

    antasida, antagonis histamin H2, penghambat pompa proton, pelindung

    mukosa, analog prostaglandin E1, dan peningkat faktor pertahanan

    lambung.

    a. Golongan Antasida

    Obat golongan antasida terdiri atas atas aluminium, magnesium,

    kalsium karbonat, dan Natrium bikarbonat. Mekanisme kerja antasida

    yaitu menetralisis atau mendapar sejumlah asam tetapi tidak melalui

    efek langsung, atau menurunkan tekanan esophageal bawah (LES).

    Kegunaan antasida sangat dipengaruhi oleh rata-rata disolusi; efek

    fisiologi kation; kelarutan air; dan ada atau tidak adanya makanan.

    b. Golongan Antagonis Reseptor Histamin H2

    Obat golongan antagonis reseptor H2 terdiri atas Simetidin,

    Ranitidine,Famotidin, Nisatidin. Mekanisme kerja antagonis reseptor

    histamin H2 adalah menghambat sekresi asam lambung dengan

    melakukan inhibisi kompetitif terhadap reseptor histamin H2 yang

    terdapat pada sel parietal dan menghambat sekresi asam lambung

    yang distimulasi oleh makanan, ketazol, pentagrastin, kafein, insulin,

    dan refleks fisiologi vagal. Struktur kimia untuk ranitidine, famotidin,

    dan simetidin berbeda, simetidin mengandung cincin imidazol,

  • 20

    famotidin mengandung cincin tiazol, dan ranitidine mengandung cincin

    furan.

    c. Golongan Penghambat Pompa Proton

    Obat golongan penghambat pompa proton terdiri atas omeprazol,

    lansoprazol,rabeprazol. Pada pH netral, penghambat pompa proton

    secara kimia stabil, larut lemak, dan merupakan basa lemah.

    Penghambat pompa proton mengandung gugus sulfinil pada

    jembatan antara benzimidazol tersubstitusi dan cincin piridin.

    Mekanisme kerja penghambat pompa proton adalah basa lemah

    netral mencapai sel parietal dari darah dan berdifusi ke dalam

    sekretori kanalikuli, tempat obat terprotonasi dan terperangkap. Zat

    yang terprotonasi membentuk asam sulfenik dan sulfanilamide.

    Sulfanilamide berinteraksi secara kovalen dengan gugus sulfhidril

    pada sisi kritis luminal tempat H+,K+-ATPase, kemudian terjadi

    inhibisi penuh dengan dua molekul dari inhibitor mengikat tiap molekul

    enzim.

    d. Golongan Pelindung Mukosa

    Obat golongan pelindung mukosa yaitu; sukralfat. Mekanisme kerja

    sukralfat adalah membentuk kompleks ulser adheren dengan eksudat

    protein seperti albumin dan fibrinogen pada sisi ulser dan

    melindunginya dari serangan asam, membentuk barier viskos pada

    permukaan mukosa di lambung dan duodenum, serta menghambat

    aktivitas pepsin dan membentuk ikatan garam dengan empedu.

    Sukralfat sebaiknya dikonsumsi pada saat perut kososng untuk

    mencegah ikatan dengan protein dan fosfat.

  • 21

    e. Golongan Analog Prostaglandin E1 ( Misoprostol.)

    Mekanisme kerja misoprostol adalah meningkatkan produksi mucus

    lambung dan sekresi mukosa, menghambat sekresi asam lambung

    dengan kerja langsung ke sel parietal, dan menghambat sekresi asam

    lambung yang distimulasi makanan, histamin dan pentagastrin.

    f. Golongan Peningkatan Faktor Pertahanan Lambung ( Teprenon )

    Mekanisme kerja teprenon adalah meningkatkan mukosa lambung

    dan usus besar dari efek merusak yang ditimbulkan NSAIDs baik

    secara langsung maupun secara tidak langsung. Teprenon dapat

    bekerja secara langsung karena teprenon merupakan sediaan

    prostaglandin yang melindungi mukosa lambung dan usus besar dari

    luka, dan secara tidak langsung melalui kemampuan sitoprotektifnya

    yang mudah menyesuaikan atau percepatan sintesis prostaglandin

    endogen dengan efek iritasi yang rendah.

    5. Interaksi Obat Tukak Lambung (Gastritis) (Harkness, 1989)

    a. Antasida

    1) Antasida Amfetamin

    Efek amfetamin dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek

    samping merugihkan karena kebanyakan amfetamin seperti

    gelisah, mudah terangsang, jantung berdebar, penglihatan kabur,

    dan mulut kering.

    2) Antasida Simetidin (tagamet)

    Efek simetidin dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak

    dapat diobati dengan baik.

  • 22

    3) Antasida (yang mengandung magnesium) Kortikosteroida

    Kombinasi ini dapat menyebabkan tubuh kehilangan terlalu

    banyak kalium dan menahan terlalu banyak natrium.

    4) Antasida Prokainamid

    Efek prokainamid dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek

    samping merugihkan yang tidak dikehendaki karena terlalu

    banyak prokainamid, disertai gejala pingsan (akibat penurunan

    tekanan darah) dan aritmia ventrikuler.

    5) Antasida Pseudoefedrin

    Efek pseudoefedrin dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi

    efek samping merugihkan karena terlalu banyak pseudoefedrin.

    Gejala yang dilaporkan : jantung berdebar, gelisah dan mudah

    terangsang, pusing, halusinasi, dan sifat yang menyimpang dari

    biasanya.

    6) Antasida Kinidin

    Efek kinidin dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek

    samping merugihkan karena terlalu banyak kinidin, disertai gejala

    aritmia ventrikular, jantung berdebar, sakit kepala, pusing,

    gangguan penglihatan, dan telinga berdenging.

    7) Antasida Kinin

    Efek kini dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping

    merugihkan karena terlalu banyak kinin. Gejala yang dilaporkan :

    sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan dan telinga

    berdenging.

  • 23

    b. Antikolinergika

    1) Antikolinergika Amantadin

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping secara

    berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur, pusing,

    sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, nanar, jantung

    bedebar, mungkin psikosis toksik.

    2) Antikolinergika Antasida

    Efek antikolinergik dapat berkurang. Akibatnya : antikolinergika

    mungkin tidak bekerja sebagaimana diharapkan.

    3) Antikolinergika Antidepresan

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

    4) Antikolinergika Antidiskinetika

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

    5) Antikolinergika Antihistamin

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

  • 24

    6) Antikolinergika Antipsikotika

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

    7) Antikolinergika Digoksin

    Efek digoksin dapat meningkat. Akibatnya : mungkin terjadi efek

    samping karena terlalu banyak digoksin, disertai gejala mual,

    gangguan penglihatan, bingung, kehilang selera makan, tak

    bertenaga, sakit kepala, dan denyut jantung tidak teratur.

    8) Antikolinergika Disopiramid

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

    9) Antikolinergika Levodopa

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

    10) Antikolinergika Kinidin

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

  • 25

    11) Antikolinergika Kinin

    Kombinasi ini dapat menimbulkan efek samping antikolinergik

    secara berlebihan. Akibatnya : mulut kering, penglihatan kabur,

    pusing, sembelit, kesulitan kencing, iritasi lambung, bicara tidak

    jelas, nanar, jantung, berdebar, mungkin psikosis toksik.

    c. Simetidin

    1) Simetidin Antasida

    Efek simetidin dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak

    terobati dengan baik.

    2) Simetidin Antikoagulan

    Efek simetidin dapat berkurang. Akibatnya : resiko perdarahan

    meningkat.

    3) Simetidin Kofein

    Efek kofein dapat meningkat. Akibatnya : mungkin terjadi

    kofeinisme disertai gejala gelisah dan mudah terangsang, sakit

    kepala, tremor, pernapasan cepat, dan insomnia.

    4) Simetidin Fenitoin

    Efek fenitoin dapat meningkat. Akibatnya : mungkin terjadi efek

    samping merugihkan karena terlalu banyak fenitoin disertai gejala

    gangguan penglihatan dan hilangnya koordinasi.

    5) Simetidin Sukralfat

    Efek sukralfat dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak

    terobati dengan baik.

  • 26

    6) Simetidin trankuilansia

    Efek trankuilansia dapat meningkat. Akibatnya : efek samping

    merugihkan karena terlalu banyak trankuilansia disertai gejala

    sedasi berlebihan, mengantuk, hilang koordinasi dan

    kewaspadaan mental.

    d. Sukralfat

    1) Kerja sukralfat dapat berkurang. Akibatnya : tukak mungkin tidak

    terobati sebagaimana mestinya.

  • 27

    G. Kerangka Teori

    Sumber : Modifikasi (Notoatmodjo, 2010)

    Medication Error Faktor Predisposisi

    - Prescribing Error

    - Transcription Error

    Faktor Pendukung

    - Administration Error

    - Dispensing Error

    Faktor Penguat

    - System

    - Komunikasi antar

    Profesi

    - Regulasi

    Peresepan Obat

    - Rasional

    - Tidak Rasional

  • 28

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian non-

    eksperimental dengan pendekatan deskriptif, yaitu suatu metode yang

    memberikan gambaran atau keadaan objek yang diteliti berdasarkan data

    yang dikumpulkan kemudian di analisis oleh penulis sehingga dapat di

    ambil keputusan dan kesimpulan yang tepat.

    B. Waktu dan Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilakukan pada bulan April - Mei 2014. Lokasi

    penelitian di seluruh Apotek Kimia Farma Palembang.

    C. Populasi dan Sampel

    1. Populasi

    Populasi penelitian adalah semua Resep Gastritis yang dilayani di Apotek

    Kimia Farma pada bulan Januari Maret 2014 yang berjumlah 1000

    resep.

    2. Sampel

    Sampel penelitian yaitu Resep Gastritis pada bulan Januari Maret 2014

    yang diambil menggunakan rumus Random Sampling. Teknik

    pengambilan sampel dilakukan secara sampel acak (Random Sample)

  • 29

    yaitu setiap anggota populasi itu mempunyai kesempatan yang sama

    untuk diambil sebagai sample.

    Rumus Notoatmodjo :

    = N1 + N() = 10001 + 1000 (0,05) = 285,7 286 Keterangan : n : Besar Sampel

    N : Besar Populasi

    d : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,05)

    D. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

    1. Kriteria Inklusi

    a. Resep gastritis yang masuk di apotek Kimia Farma periode Januari

    Maret 2014.

    2. Kriteria Eksklusi

    a. Salinan resep yang sudah ada resep aslinya, dan resep yang rusak.

    E. Cara Pengambilan Data

    Peneliti mendatangi seluruh Apotek Kimia Farma di Kota

    Palembang. Kemudian peneliti mengumpulkan resep yang akan dijadikan

    sampel secara acak (Random Sample). Sampel dianalisa satu persatu

    dan dicatat kesalahannya. Selanjutnya, hasil yang diperoleh di buat

    kedalam bentuk tabel dengan format yang telah disediakan.

  • 30

    Keterangan :

    A = Nama dokter H = Aturan pakai

    B = Alamat dokter I = Tanda tangan/paraf dokter

    C = SIP J = Tanda seru u/ obat yang

    D = Tanggal resep melebihi dosis maksimal

    E = Tanda R/ K = Nama pasien

    F = Nama obat L = Alamat pasien

    G = Dosis M = Umur pasien

    F. Alat Pengumpulan Data

    Alat yang akan digunakan pada penelitian ini berupa alat tulis,

    kertas, kalkulator dan kamera.

    G. Variabel Penelitian

    1. Variabel Independent : Kelengkapan Administratif Resep, Polifarmasi dan

    Interaksi obat.

    2. Variabel dependent : Potensi Medication Error.

    NO

    Identitas

    Dokter Penulisan

    Identitas

    Pasien Polifarmasi Interaksi

    Obat Ket

    A B C D E F G H I J K L M

  • 31

    H. Definisi Operasional

    1. Kelengkapan Administratif Resep

    Definisi : Persyaratan administratif yang meliputi ;

    a. Nama, alamat, SIP dokter

    b. Tanggal penulisan resep, tanda R/, nama obat, dosis

    c. Aturan pemakaian, tanda tangan / paraf dokter

    d. Nama, alamat, dan umur pasien

    e. Tanda seru untuk obat yang jumlahnya melebihi

    dosis maksimal.

    Cara ukur : Observasi

    Alat ukur : Surat Keputusan MenKes No.280 tahun 1981

    Skala ukur : Nominal

    Hasil ukur : Persentase

    2. Polifarmasi

    Definisi : Penulisan resep obat yang berlebihan dengan kriteria

    terapi yang sama.

    Cara ukur : Observasi

    Alat ukur : Literatur

    Skala ukur : Nominal

    Hasil ukur : Persentase

    3. Interaksi Obat

    Definisi : Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu yang

    sama, menyebabkan berubahnya efek obat secara tidak

    langsung, bisa bersifat potensiasi atau antagonis.

    Cara ukur : Self Assessment

  • 32

    Alat ukur : Literatur

    Skala ukur : Nominal

    Hasil ukur : Persentase

    4. Potensi Medication Error

    Definisi : Kejadian yang potensial mengakibatkan kesalahan terapi

    Cara ukur : Self Assessment

    Alat ukur : SK MenKes No.280 tahun 1981 dan Literatur

    Skala ukur : Ordinal

    Hasil ukur : Berpotensi ME dan Tidak berpotensi ME ( dalam

    persentase)

    a. Berpotensi ME

    1) Potensi tinggi :

    - Nama obat

    - Dosis

    - Aturan pakai

    - Umur pasien

    - seru u/ obat yang melebihi dosis maksimal

    - Terapi yang sama

    - Interaksi antar obat

    2) Potensi sedang :

    - Tanggal resep

    - Tanda R/

    - Tanda tangan/paraf dokter

    3) Potensi rendah :

    - Nama dokter

  • 33

    - Alamat dokter

    - SIP

    - Nama pasien

    - Alamat pasien

    b. Tidak berpotensi ME

    1) Resep yang Kelengkapan Administratifnya lengkap

    2) Resep yang tidak ada polifarmasinya

    3) Resep yang tidak berinteraksi yang merugihkan.

    I. Kerangka Operasional

    Resep

    Pencatatan

    Pencatatan Kelengkapan Administratif

    Resep

    Pencatatan Polifarmasi

    Analisa

    Tidak Berpotensi ME

    Berpotensi ME

    Apotek

    Pencatatan Interaksi Obat

  • 34

    J. Cara Pengolahan dan Analisis Data

    Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan program

    SPSS 16,0 dan dianalisis menggunakan Descriptive Statistics. Kemudian,

    hasil Descriptive Statistics yang berupa persentase kelengkapan

    administratif resep, persentase polifarmasi, dan persentase interaksi obat

    di olah lagi menggunakan Multiple Regression untuk menentukan

    seberapa besar potensi medication error yang dapat ditimbulkan. Setelah

    selesai, penulis akan mengecek kembali data yang sudah diproses dan

    hasilnya disajikan dalam bentuk tabel.

    K. Rencana Kegiatan

    Bulan

    Kegiatan

    Januari

    Februari

    Maret

    April

    Mei

    Juni

    Pembuatan

    proposal

    Penyerahan

    proposal

    Seminar

    proposal

    Persiapan

    Penelitian

    Penelitian

  • 35

    Pengolahan

    Data

    Penyusunan

    KTI

    Penyerahan

    KTI

    UAP

    Perbaikan

    KTI

  • 36

    DAFTAR PUSTAKA

    Almatsier, S, 2004. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum.

    Anief, M, 2008. Ilmu Meracik Obat Teori Dan Praktek. Cetakan ke- 14.

    Yogyakarta: Gajah Mada University- Press. Halaman 10 11.

    Cohen, M.R, 1991. Causes of Medication Error. American Pharmaceutical

    Association. Washington DC.

    Cohen, M.R, 1999. Medical Errors. American Pharmaceutical Association.

    Washington DC.

    Coleman, V, 1992. Stres dan Lambung Anda. Jakarta : Arca.

    Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1981. Keputusan Menteri

    Kesehatan Republik Indonesia Nomor 280/MenKes/SK/V/1981. Tentang

    Ketentuan dan Tata Cara Pengelolaan Apotek. Jakarta.

    Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004. Keputusan Menteri

    Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027 MenKes/SK/IX/2004.

    Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta.

  • 37

    Fowler, S.B., Sohler, Patricia, Zarillo, D.F, 2009. Bar Code Technology for

    Medication Administration: Medication Errors and Nurse Satisfaction.

    Volume 18.

    Harkness, R, 1989. Interaksi Obat. Penerbit: ITB Bandung.

    Hashem, 2005. Drug-Drug Herb-Drug & Food-Drug Interaction. Kairo: Faculty of

    Medicine Cairo University.

    Mansjoer, A, 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I Edisi ke Tiga. Fakultas

    Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Media Aescu lapius.

    Martin, J, 2009. British National Formulary 58. September 2009. London: BMJ

    Group and RPS Publishing. Halaman 720.

    Notoatmodjo, S, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: P.T Rineka

    Cipta.

    Perwitasari, D.A., Abror, J., Wahyuningsih, I, 2010. Medication error in outpatient

    of a government hospital in Yogyakarta Indonesia. International Journal

    of Pharmaceutical Sciences Review and Research. Volume 1; 8-10.

  • 38

    Piscitelli, Stephen, C., Keith, A., Rodvold, Masur, H, 2005. Drug Interactions in

    Infectious Disease. Second Ed i t ion . New Jersey: Humana Press

    Inc.

    Prince, S.A., Wilson, L.M, 2006. Pathofisiologi: Konsep Klinis proses-proses

    penyakit. Edisi 6. volume II. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    Rahmawati, F., dan Oetari, R.A, 2002. Kajian penulisan resep: tinjauan aspek

    legalitas dan kelengkapan resep di apotek-apotek Kotamadya

    Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia 13:86-94.

    Schmitz, G., Lepper, H., Heidrich, M, 2009. Farmakologi dan Toksikologi. Ed III.

    Penerbit: buku kedokteran EGC.

    Senjaya, A., Ridwan, A.j., Lestari, A., dkk, 2011. Medication Error. Makalah

    Pelayanan Kefarmasian. Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan

    Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Depok.

    Setiawati, A, 2007. Interaksi obat, dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi V.

    Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran

    Universitas Indonesia. Jakarta: Gaya Baru.

  • 39

    Simamora, S., Paryanti, Mangunsong, S, 2011. Peran Tenaga Teknis

    Kefarmasian Dalam Menurunkan Angka Kejadian Medication Error.

    Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Volume 14.

    Siregar, Charles, J.P., dan Kumolosasi, E, 2006. Farmasi Klinik Teori dan

    Penerapan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    Terrie, Y.C, 2004. Understanding and managing polypharmacy in the elderly.

    Pharmacy times.

    Uripi, 2002. Menu Untuk Penderita Hepatitis dan saluran Pencernaan. Jakarta:

    Puspa Swara.

    [WHO] World Health Organization, 1995. Physical Status: The Use and

    Interpretation of Antropometry. World Health Organization. Geneva.

    Yulida, E., Oktaviyanti, I.K., Rosida, L, 2013. Gambaran Derajat Infiltrasi Sel

    Radang dan Infeksi Helicobacter pylori Pada Biopsi Lambung Pasien

    Gastritis. Berkala Kedokteran Volume 9.

  • 40

    BIODATA

    Nama : Arief Wibisana

    Nama Panggilan : Arief

    Tempat Tanggal Lahir : Curup, 04 Oktober 1993

    Alamat : Jl.Purwodadi, RT: 017. RW: 005. Desa Tempel

    Rejo, Curup Selatan, Bengkulu

    Agama : Islam

    Nama Orang Tua

    Ayah : Aswawarman

    Ibu : Eri Suzana

    Jumlah Saudara : 4

    Anak Ke : 2

    Riwayat Pendidikan : 1. SD Negeri 41 Curup

    2. SMP Negeri 1 Curup

    3. SMA Negeri 1 Curup