Home >Documents >kebudayaan batak

kebudayaan batak

Date post:20-Jul-2015
Category:
View:3,778 times
Download:6 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan kebudayaan yang multikultural. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku mempunyai kebudayaan khas yang tidak dimiliki suku lain. Hal ini merupakan salah satu daya tarik bagi para wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sebagai warga negara Indonesia, tentunya kita sangat bangga memiliki warisan budaya nenek moyang yang telah dilestarikan secara turun-temurun dari zaman dahulu. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman posisi kebudayaan Indonesi mulai tergeser oleh budaya barat. Untuk melestarikan budaya Indonesia, kita harus lebih mengenal kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia agar tercipta rasa toleransi antar suku dan agar kebudayaan-kebudayaan di Indonesia tidak punah. Salah satu kebudayaan di Indonesia adalah kebudayaan batak. Orang batak dewasa ini, untuk bagian terbesar mendiami daerah pegunungan Sumatera Utara, mulai dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh di utara samai ke perbatasan dengan Riaudan Sumatera Barat di sebelah selatan. Selain daripada itu, orang batak juga mendiami tanah datar yang berada di antara daerah pegunungan dengan pantai Timur Sumatera Utara dan pantai Barat Sumatera Utara. Dengan demikian, maka orang batak mendiami: dataran tinggi karo, langkat hulu, deli hulu, serdang hulu, simalungun, dairi, toba, humbang, silindung, angkola, dan mandailing, dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Koencaraningrat, 1970: 94) Untuk melestarikan budaya batak, kita harus memahami kebudayaan batak itu sendiri. Setelah itu, perkenalkan pada generasi yang akan datang agar budaya batak tetap lestari.

1

2

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan di bahas berupa : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bagaimana sejarah suku batak? Bagaimana etos kerja suku batak? Bagaimana sistem pengetahuan suku batak? Bagaimana sistem religi suku batak? Bagaimana sistem kekerabatan suku batak? Apa saja sistem matapencaharian suku batak? Bagaimana sistem teknologi suku batak? Bagaimana sistem kesenian suku batak? Bagaimana bahasa dan aksara suku batak?

10. Bagaimana karakteristik suku batak?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan makalah ini adalah untuk : 1. Mengetahui sejarah suku batak. 2. Mengetahui etos kerja suku batak. 3. Mengetahui sistem pengetahuan suku batak. 4. Mengetahui sistem religi suku batak. 5. Mengetahui sistem kekerabatan suku batak. 6. Mengetahui matapencaharian suku batak. 7. Mengetahui sistem teknologi suku batak. 8. Mengetahui sistem kesenian suku batak. 9. Mengetahui bahasa dan aksara suku batak. 10. Mengetahui karakteristik suku batak.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Suku Batak Dalam situs (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak) Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan buktibukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayahFilipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu di zaman batu muda (Neolitikum). Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatra Utara di zaman logam. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera[3]. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal. 2.2 Etos suku batak Meminjam istilah Guru Etos Indonesia Jansen Sinamo menyebutkan, Etos Habatahon berasal dari unsur Unok ni partondian, Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali, Pamoru Somarumbang, Parmahan So Marbatahi. Etos Habatahon di berbagai Puak / Sub Etnis Batak dalam situs

(http://hojotmarluga.wordpress.com/dalihan-na-tolu-dan-budaya-kerja/)

3

4

1. Etos Habatahon dalam Batak Toba bisa dilihat dari motto 'Anakhonhi Do Hamoraon di Ahu'. Etos yang mendorong Toba identik sebagai pekerja keras. Ditambah dengan budaya 3H : Hamoraan, Hagabeon, Hasangapon. Demi kekayaan, status sosial mereka dipacu menjadi sedikit ambisius dari sub-etnis lainnya. 2. Etos kerja Simalungun terlihat dari nilai-nilai sehari-hari semboyan "Habonaron Do Bona". Yang berarti segala tindakan dilandasi dengan kebenaran. Filosofi tersebut mendorong orang Simalungun bertindak benar berlandaskan azas yang benar pula. Hal itu terpancar dari sifat penuh kehatihatian dalam pekerjaan. 3. Filosofi kerja Pakpak; "Ulang Telpus Bulung". Bisa diartikan daun jangan sampai terkoyak atau bocor. Daun yang dimaksud daun pisang yang dipakai sebagai alas makanan pengganti piring (pinggan pasu). Ulang Telpus Bulung menekankan berani berkorban. Dalam budaya kerja sifat ini perlu ada. 4. Etos kerja orang Mandailing/Angkola terlihat dari sisitim "Marsialap Ari" adalah etos kerja yang selalu didukung dengan team work. Masyarakat Mandailing/Angkola terlihat pekerja telaten, sabar, dan pekerja keras. 5. Filosofi Karo adalah "Sada Gia Manukta Gellah Takuak". Artinya walaupun seseorang hanya memiliki seekor ayam, yang terpenting berkokok. Ayam berkokok simbol membangunkan orang untuk bagun pagi hari. Filosofi ini memotivasi masyarakat Karo gigih bekerja. Sifat ringan hati untuk berusaha. Etos Habatahon didasari dari semangat kerja, yang diadopsi dari sistim nilai-budaya. Budaya yang berakar pada Dalihan Na Tolu tersebut berproses mejadi sebuah sistim nilai kerja. Etos Habatahon bisa dirasakan lewat alunan gondang. Gondang dengan paduan suaranya akan membawa suara yang indah, tetapi jika hanya dibunyikan satu alat musik saja tentu suaranya sumbang. Artinya

ada etos team work. Dipaduan gondang itu, Ia indah takkala ada perpaduan suara gendang yang lain. Etos Habatahon jika tinjau dari sisi budaya kerja sekuler berarti, mengerti posisi. Ada waktunya menjadi bos (Hulahula), ada saatnya menjadi mitra kerja (Dongansabutuha), ada saatnya menjadi pesuruh, karyawan, karier terbawah (Boru). Namun, sesungguhnya ketiga sistem tadi tidak bisa berdiri sendiri, harus kait mengkait. - Hulahula (pemimpin) harus mengayomi, memperhatikan boru (karyawan-nya). - Dongansabutuha atau rekan kerja, sesama selevel harus saling menghargai, di depan bos. - Boru (karyawan) harus menghargai pimpinan sebagai pemilik perusahaan. Artinya ada moral kerja tertanam di filosofi Dalihan Na Tolu. Pakar Manajemen Rhenald Kasali mengatakan, dalam pekerjaan memang perlu ada moral (morale). Sebab, moral kerja itu adalah spirit yang mesti dimiliki setiap orang untuk hidup atau bekerja. Dengan moral kerja yang tinggi seorang percaya diri terhadap masa depan. Bekerja dengan etos kerja yang tinggi berarti pula membantu diri menemukan tujuan hidup. Terpacu karena mengerti posisi. Karena itu, diperlukan semacam dekonstruksi identitas budaya bagi pemahaman filosofi budaya kerja. Agar pesan moral Dalihan Na Tolu menjadi watak, karakter, sifat budaya. Yang bisa menjelma menjadi etos kerja menunjang karier. Etos kerja budaya berarti berfikir menggunakan akal (karsa) dari kearifan budaya. Spirit kerja mendorong seseorang produktif, karena ada karsa menjelma menjadi sistim nilai. Kearifan budaya tersusun atas pikiran sadar dan bawah sadar kemudian menjadi filosofi. Kearifan Budaya mengajarkan kita saling menghargai, mengetahui posisi, porsi, dan kapasitas diri. Kearifan budaya berkembang karena perkembangan paradigma masyarakat-nya. Jadi, mengapa malu memakai etos budaya dalam bekerja, sebab nilai-nilai budaya tidak kalah baik dari semangat kapitalisme Barat. Jadi, filosofi Dalihan Na Tolu jika dihubungkan dengan budaya kerja akan menghasilkan etos (spirit) Habataho.5

6

2.3 Sistem Pengetahuan Suku Batak Sistem penegetahuan batak terbagi menjadi tiga yaitu alam sekitar manusia,alam flora,dan alam fauna. Yang pertama Alam sekitar manusia pengetahuan tentang alam sekitar manusia adalah berupa pengetahuan tentang musim-musim tentang sifat-sifat gejala alam,tentang binatang-binatang, pencipta alam, asal mula gerhana,dongengdongeng, mythos-mythos,folklore(cerita rakyat) kesustraan dan sebagainya. Pengetahaun tentang alam sekitar manusia ini banyak diketahui masyarakat batak pada zaman sebelum abad ke-20 ini. Mereka mengetahui musim hujan dan kemarau , sifat-sifat alam dan ilmu bintang. (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 18) Yang kedua adalah alam flora. Disebabkan masyarakat batak umumnya masyarakat petani tetap juga hidup dari berternak, menangkap ikan,dan berburu,tetapi mereka tidak dapat mengabdikan pengetahuan tentang alam flora di sekitarnya. Sebagai hasil pulungan diambil dari sana sini untuk obat menyembuhkan bermacam-macam penyakit di samping sebagai rempah-rempah. Alam flora ini penting sekali untuk ilmu hadatuon (ilmu dukun) dan upacaraupacara adat yang mempergunakan daun beringin, daun pohon enau, sirih,pohon pinang, tebu, batang padi, pisang dan sebagainya. (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 18). Yang terakhir adalah alam fauna. Di samping daging binatang merupakan unsur penting dalam makanan masyarakat petani,berburu dan perikanan, masyarakat batak juga banyak mengetahui tentang kelakuan binatang dan suara-suara binatang untuk bisa menjaga tumbuhtumbuhan di ladang dan di sawah terhadap gangguan-gangguan binatang itu. Demikian pula tentang menangkap ikan dan berburu, mereka mengetahui kapan saat yang baik untuk melaksanakanya , sebab ada musim ikan turun ke t

Embed Size (px)
Recommended