Home >Documents >Ke le m b a g a a n P e n u n ja n g In p u t P e rta n ia ... menangkap dan mengumpulkan informasi

Ke le m b a g a a n P e n u n ja n g In p u t P e rta n ia ... menangkap dan mengumpulkan informasi

Date post:19-Mar-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

5

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Agribisnis

Secara umum kegiatan agribisnis dapat digolongkan ke dalam dua

kegiatan utama yaitu kegiatan usaha tani (on farm activities), sedangkan

pengadaan sarana produksi, agroindustri pengolahan, pemasaran dan jasa-jasa

penunjang dikelompokkan ke dalam kegiatan luar usaha tani (off farm activites).

Setidaknya terdapat lima sub sistem pada kegiatan agribisnis (Sumardjo, 2004)

yaitu (1) Sub sistem faktor input pertanian (input factor sub-system), (2) Sub-

sistem produksi pertanian (production sub-system), (3) Sub-sistem pengolahan

hasil pertanain (processing sub-system), (4) Sub-sistem pemasaran (marketing

sub-system), dan (5) Sub-sistem kelembagaan penunjang (supporting institution

sub-system).

Agribisnis

(1) Sub Sistem Faktor

Input Pertanian

(2) Sub Sistem

Produksi Pertanian

(3) Sub Sistem Pengolahan

Hasil Pertanian

(5) Sub Sistem Faktor

Kelembagaan Penunjang

(4) Sub Sistem Faktor

Pemasaran

Gambar 1. Lima Sub Sistem Kegiatan Agribisnis

Faktor-faktor yang mendukung dalam kegiatan agribisnis baik pada

kegiatan on-farm maupun off-farm diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Faktor ketersediaan sumber informasi (Agricultural Information Source

Faktor).

Ketersediaan informasi menjadi faktor penting dalam kegiatan

agribisnis. Jika dikaitkan dengan berbagai sub-sistem kegiatan agribisnis,

maka seluruh kegiatan agribisnis membutuhkan faktor informasi dan

6

pengetahuan (knowledge) dalam setiap kegiatan. Informasi yang dibutuhkan

petani meliputi berbagai kegiatan agribisnis dari Hulu sampai Hilir.

Kebutuhan informasi dan pengetahuan itu adalah (Margaret J et al., 2007) :

a. Teknik pengolahan tanah, teknik pengolahan tanah menjadi penting bagi

petani. Pengolahan tanah yang baik menjadi faktor utama suksesnya

kegiatan budidaya pertanian.

b. Benih, informasi mengenai benih meliputi benih apa yang harus digunakan

untuk spesifik lokasi.

c. Cuaca dan Iklim, kondisi cuaca dan iklim yang berubah-ubah saat ini

menjadikan petani sulit untuk memprediksi cuaca dan ilkim pada spesifik

lokasi. Petani membutuhkan informasi yang real time terkait dengan cuaca

dan iklim untuk merencanakan kegiatan budidaya.

d. Nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Informasi kebutuhan nutrisi tanaman

dibutuhkan oleh petani untuk memproyeksikan kebutuhan dari tanaman.

Petani saat ini hanya mengira-ngira dosis pupuk yang dibutuhkan untuk

memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Hal ini menjadikan kegiatan

pertanian tidak presisi dan terasa tidak efektif. Hasil yang diperoleh tidak

sesuai dengan yang diinginkan karena nutrisi yang dibutuhkan tanaman

tidak terpenuhi.

e. Informasi dan pengetahuan terkait Pest Management. Penggunaan

pestisida akhir-akhir ini menjadi pilihan utama bagi petani dalam kegiatan

pengendalian hama dan penyakit tanaman. Penggunaan yang berlebih akan

merusak lingkungan dan akan meninggalkan residu pada tanaman yang

ditanam. Hal ini akan membahayakan bagi konsumen akhir produk

pertanian. Pengetahuan mengenai pengendalian hama yang ramah

lingkungan dan tepat sasaran diperlukan oleh petani agar dapat

mengendalikan hama dan penyakit dengan meminimalkan penggunaan

pestisida.

f. Informasi harga pertanian. Informasi harga pertanian pada berbagai pasar

di sekitar spesifik lokasi diperlukan oleh petani dalam rangka

mendapatkan harga yang baik. Harga pertanian saat ini umumnya

7

ditentukan oleh tengkulak. Hal ini menjadikan hasil yang diperoleh kurang

optimal.

g. Informasi dan pengetahuan mengenai analisis usaha tani. Analisis usaha

tani diperlukan untuk menentukan biaya investasi yang dibutuhkan dan

strategi penyediaannya. Kegiatan agribisnis merupakan kegiatan yang

membutuhkan modal yang besar. Informasi mengenai kebutuhan

pendanaan (investasi) dan sumber kredit dengan bunga ringan bagi petani

dibutuhkan untuk mengembangkan kegiatan agribisnis agar dapat

bersaing.

2. Faktor ketersediaan peralatan (Agricultural Equipment Factor).

Kesediaan peralatan pendukung kegiatan pertanian sangat dibutuhkan oleh

petani agar kegiatan budidaya dapat berjalan dengan baik. Mekanisasi pertanian

menjadi kebutuhan utama bagi petani agar kegiatan budidaya dapat berjalan

dengan baik. Informasi dan pengetahuan mengenai ketersediaan peralatan

pertanian mulai dari alat dan mesin pengolahan lahan, aplikator pestisida, alat dan

mesin pemanenan, serta alat dan mesin pada kegiatan pasca panen pertanian.

Kebutuhan informasi dan pengetahuan pada berbagai kegiatan agrinisnis

pertanian tersebut sulit didapatkan oleh petani. Petani umumnya mendapatkan

informasi dari mulut ke mulut antar petani yang pernah melakukan budidaya yang

sama. Hal ini tentu menjadi tidak efektif, sehingga perlu dibuat sebuah sistem

konsultasi agribisnis berbasis pengetahuan berbasis web. Penyediaan akses

informasi ini dilakukan seiring dengan perkemgan Teknologi Informasi (TI) yang

begitu pesat akhir-akhir ini.

2.2. Cabai (Capsicum annuum. L)

2.2.1. Taksonomi

Secara taksonomis tanaman cabai merah diklasifikasikan ke dalam spesies

Capsicum annuum. L. Berikut adalah penjelasan taksonomi tanaman cabai merah

secara detail (Rukmana, 2001) :

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup)

8

Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua)

Ordo : Tubiflorae

Famili : Solanaceae

Genus : Capsicum

Species : Capsicum annuum. L

Dari klasifikasi di atas terlihat bahwa tanaman cabai termasuk ke dalam

famili Solanecaeae.

2.2.2. Morfologi

Morfologi tanaman Capsicum annuum. L adalah berupa terna atau

setengah perdu, dengan tinggi antara 45 100 cm, biasanya hanya semusim

(Wiryanta, 2008).

2.2.3. Varietas Cabai

Tanaman cabai memiliki banyak varietas dan tipe. Tipe-tipe cabai

diantaranya adalah cabai merah besar, cabai keriting, rawit, cabai paprika (sweet

pepper), cabai hias yang banyak ragamnya. Namun yang umum dibudidayakan

adalah Cabai merah besar, cabai keriting, cabai rawit, dan paprika (Wiryanta,

2008).

2.2.4. Syarat Tumbuh

Tanaman cabai dapat ditanam di dataran rendah maupun tinggi hingga

mencapai 1.400 mdpl, namun akan lebih optimal pada dataran rendah (Sutarya

dan Grubben, 1995). Cabai dapat tumbuh optimal pada tanah regosol dan andosol

dengan kadar keasaman (pH) tanah antara 6-7. Apabila ditanam pada tanah yang

memiliki kadar pH lebih dari 7 maka tanaman cabai akan menjadi kerdil dan

gejalan klorosis atau daun menguning yang disebabkan kekurangan unsur hara

besi (Fe). Pada tanah yang mempunyai pH yang kurang dari lima tanaman cabai

juga akan menjadi kerdil karena kekurangan Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg)

atau keracunan Alumunium (Al). Ketinggian tempat berpengaruh pada jenis hama

dan penyakit yang menyerang tanaman cabai. Penyakit yang menyerang tanaman

pada dataran tinggi umumnya disebabkan oleh cendawan, sementara di dataran

rendah penyakit yang menyerang umumnya disebabkan oleh bakteri.

9

Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya cabai.

Curah hujan yang ideal adalah 1.000 mm/tahun. Curah hujan yang rendah

menyebabkan tanaman kekeringan dan membutuhkan penyiraman. Sebaliknya

curah hujan tinggi bisa merusak tanaman cabai serta membuat lahan memiliki

kelembaban tinggi. Kelembaban yang cocok untuk budidaya cabai berkisar antara

70 80 % terutama saat pembentukan bunga dan buah. Kelembaban yang

melebihi 80 % memacu pertumbuhan cendawan yang berpotensi menyerang dan

merusak tanaman. Sebaliknya, kelembaban yang kurang dari 70 % membuat cabai

kering dan mengganggu pertumbuhan generatifnya terutama pada saat

pembentukan bunga, penyerbukan dan pembentukan buah. Menurut Pitojo (2003)

curah hujan yang terlalu tinggi menyebabkan kelembaban udara meningkat dan

mendorong pertumbuhan penyakit tanaman.

2.2.5. Konsumsi dan Produksi Cabai Indonesia

Cabai (Capsicum annuum. L) merupakan komoditas yang sangat penting

bagi masyarakat Indonesia. Konsumsi cabai rata-rata penduduk Indonesia adalah

5,21 kg/kapita/tahun. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah

sebanyak 237.641.326 jiwa, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan

118.048.783 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49

persen per tahun (BPS, 2011). Berdasarkan kondisi tersebut dapat diketahui

bahwa konsumasi cabai dalam negeri pada tahun 2010 mencapai 1.237.669 ton.

Produksi cabai nasional tahun 2009 adalah 1.378.727 dengan luas panen 233.904

ha dan produktivitas rata-rata sebesar 5,89 ton/ha (BPS, 2011). Gambar 2.

menunjukan angka produksi cabai Nasional dari tahun 2007 sampai 2009.

10

Gambar 2. Trend Produksi Cabai Nasional Tahunan (BPS, 2011)

2.2.6. Produksi Cabai Dunia

Berdasarkan data statistik FAO Indonesia masuk ke dalam sepuluh

produsen terbesar c

Embed Size (px)
Recommended