Home >Documents >Karya Cipta infrastruKtur permuKiman Indonesia WUJUDKAN ... · PDF filelingkungan berusaha...

Karya Cipta infrastruKtur permuKiman Indonesia WUJUDKAN ... · PDF filelingkungan berusaha...

Date post:03-Mar-2019
Category:
View:229 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

Indonesia WUJUDKAN LCED City Untuk Masa Depan

Karya Cipta infrastruKtur permuKiman

Edisi 04 tahun XVi

April 2018

KEMENTERIANPEKERJAAN UMUM

DAN PERUMAHAN RAKYAT

Indonesia WUJUDKAN LCED City Untuk Masa Depan

02|Edisi 04Tahun XVI

20

daftar isi Edisi 04/tahun XViApril 201804

281704 berita utamaindonesia Wujudkan

LCEd City Untuk Masa depan

08 liputan khususCipta Karya siapkan Anggaran Rp. 540 Miliaruntuk Padat Karya Melalui PisEW

10 Kementerian PUPR Berpartisipasidalam The 4th Planocosmo iTB

12 dAK Air Minum Tahun 2018 sebesar Rp. 2.160 Miliar

14 info baruNUsP-2 Tuntaskan Masalah Akses Jalan sawah Lebar Bengkulu

15 Cipta Karya Bangun Reservoirdi Kecamatan Likupang Timur

16 Program KotakuWujud Permukiman Layak Huni

17 direktur KiP Tinjau Pembangunan sPAM iKK Amban Manokwari

18 Kesehatan Warga Anggut dalamMeningkat Melalui Program sanimas

19 Kualitas PermukimanKelurahan Bajak Meningkat Pesat

20 satker PsPAM Provinsi Kalimantan selatan siapkan Jaringan Perpipaan ke Perdesaan

21 Kampung Nelayan di Bengkulusiapkan Keterpaduan sektor

22 inovasiKartini-Kartini 100-0-100 dari Bengkulu 25 Menuju Permukiman Bebas septic Tank:

sPALd di Perumahan Graha Natura

28 TPs 3R KsM Bina sejahtra

30 sebaiknya anda tahuRoadmap Low Carbon Eco district32 lensa Ckdirektur KiP Kunjungi

Gedung PiP2B Papua Barat

33 dirjen Cipta Karya Lantik9 Pejabat Pengawas Tahun 2018

34 seputar kitaGubernur Kaltara Resmikan RTP Taman Ber-tuah Kota Tarakan

Gubernur Kepri Resmikan sWRO Batu Hitam

Kampung Nelayan di Bengkulu siapkanKeterpaduan sektor

1408

Tahun XVIEdisi 04 |03

editorial

Cover : Wonosobo Sustainable Agriculture

Eco District Kurangi Jejak Karbon Indonesia

Kita terus diingatkan bagaimana dampak perubahan iklim kian meresahkan. Peningkatan suhu bumi berada dalam level yang semakin berbahaya bagi manusia, bukti fisiknya dapat dilihat pada google earth timelapse yang menunjukkan betapa mengerikannya pemanasan global mampu melelehkan glasial di kutub dalam beberapa dekade ini. Para ilmuwan, ahli, aktivis, dan berbagai komunitas global yang peduli lingkungan berusaha menurunkan risiko tersebut dengan segala daya dan upaya secara berkelanjutan. Salah satunya adalah implementasi eco district, yaitu pembangunan kota dengan konsep hijau atau ramah lingkungan.

Dalam menerapkan konsep eco district ini, Negara Indonesia dapat mencontohnya seperti yang telah dilakukan oleh Negara Perancis. Selain menurunkan kadar emisi karbon, pengembangan perkotaan ramah lingkungan juga menghemat penggunaan energi secara signifikan. Di Perancis, semua lini termasuk swasta mengusung konsep eco district mulai dari konteks mikro hingga makro. Contoh mikro adalah penggunaan sensor gerak untuk pencahayaan pada setiap perkantoran agar menghemat listrik, sedangkan contoh makro adalah pengembangan industri pesawat pada efisiensi bahan bakar hingga menurunkan konsumsi bahan bakar sebesar 70%.

Pemerintah Perancis yang telah sukses mengembangkan konsep eco district menyatakan bahwa membangun perkotaan ramah lingkungan bukanlah persoalan teknologi dan biaya tinggi. Hal ini ditunjukkan salah satunya melalui penyelenggaraan kompetisi internasional desain urban dan arsitektural oleh Kedutaan Besar Perancis dan Institut Perancis Indonesia (IFI), yang melibatkan peneliti muda dari Perancis dan Indonesia. Selama dua minggu, peserta kompetisi ditempatkan di dua wilayah percontohan yaitu Desa Pakuncen (Yogyakarta) dan Desa Seruni (Wonosobo) untuk mengamati dan mencari solusi dalam mengajak warga menuju pembangunan urban rendah karbon. Tugas yang harus dipenuhi meliputi adaptasi dengan kehidupan warga, memahami permasalahan dan harapan warga, serta mendesain solusi rendah karbon yang tepat dan sesuai kriteria wilayah.

Dari hasil pemenang kompetisi tersebut, desain urban dan arsitektural dikembangkan lebih lanjut sebagai rencana utama tata ruang di wilayah percontohan. Desain tersebut juga dapat digunakan pada kawasan terpadu dan mandiri yang mengutamakan atribut perencanaan urban, ruang terbuka, bangunan, transportasi, energi, air, limbah, dan ekonomi. Jadi dengan biaya yang rendah, diperoleh masterplan eco district yang dapat diimplementasikan di Indonesia dengan melibatkan masyarakat sekitar. Kemudian dibentuklah pola pengembangan wilayah serupa di sekitarnya, sehingga eco district dapat terwujud dan area cakupan semakin luas. (Redaksi)

pelindungsri Hartoyo

penanggung Jawabrina agustin indriani

dewan redaKsidwityo a. soeranto, iwan suprijanto, rina farida,

dodi Krispratmadi, muhammad sundoro

pemimpin redaKsiaswan nizar

penyunting redaKsiCahyani Kusrianingsih , ardhani p, indah raftiarty er,

astaf aji pranaya,

bagian produKsiari iswanti, bramanti nawang sari, dewi savitri,

bagian administrasi & distribusifajar drestha birawa, Harniati ulfah

Kontributorsri murni edi K, taufan madiasworo,

tanozisochi lase, diana Kusumastuti, dian irawati, marsaulina pasaribu, didiet a. akhdiat,

boby ali azhari, prasetyo, ade syaiful rachman, meike Kencanawulan, Komang raka maharthana,

sandhi eko bramono, andika budi prasetya, bhima dhananjaya, airyn saputri Harahap, meinar manurung

alamat redaKsiJl. pattimura no. 20, Kebayoran baru 12110

telp/fax. 021-7245754

Redaksi menerima saran maupun tanggapan terkait bidang Cipta Karya ke email [email protected] atau saran dan pengaduan di www.pu.go.id

http://ciptakarya.pu.go.id

@ditjenck

@ditjenciptakarya

ditjen Cipta Karya

ditjen Cipta Karya

[email protected]

04|Edisi 04Tahun XVI

Pembangunan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan diarahkan untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan dan kompetitif melalui pembangunan adil di luar Jawa, mengembangkan kota yang layak huni, kota hijau dan tangguh, serta kota pintar berdasarkan karakter fisik, potensi ekonomi, dan budaya lokal.

berita utama

Indonesia WujudkanLCED City Untuk Masa Depan

Direktur Bina Penataan Bangunan Iwan Suprijanto pada acara In ter national Contest and Intensive Workshop dengan tema Rethink the City for a Low Carbon Future, Senin (16/04/2018) di Universitas Gadjah Ma da (UGM) Yogyakarta mengatakan, Pe merintah In donesia dan Pemerintah Pe rancis se dang me rencanakan sebuah roadmap Low Carbon Eco District (LCED).

LCED merupakan bagian dari Pro g ram Pengembangan Kota Hijau di Indonesia (P2KH) melalui tiga hal, yaitu memadu kan dan mereview pembangunan perkotaan yang selaras dengan regulasi antara Pemerintah Perancis dan Pemerintah In donesia seperti peraturan terkait bangu nan gedung, bangunan gedung hijau, serta Rencana Tata Bangunan dan Ling kungan (RTBL) atau ZAC pada tahun

2017. Lalu memberikan masukan untuk memperkuat aturan hukum yang ada pada tahun 2018 hingga 2019. Serta men dukung perwujudan desain di kedua lokasi pilot project yaitu D.I. Yogyakarta dan Wonosobo. LCED bertujuan untuk mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca dan dampak perubahan iklim, mengurangi ke tergan tungan pada energi fosil, dan me

Tahun XVIEdisi 04 |05

ngendalikan penggunaan energi yang le bih baik untuk masa depan. Iwan menambahkan, kontes ini adalah kolaborasi antara universitas di Perancis dan Indonesia yang terdiri dari 60 mahasiswa campuran dan 10 profesor. Me reka berkompetisi untuk menciptakan bentuk perkotaan baru serta mendesain rumah lingkungan untuk kabupaten terpilih. Kontes internasional dan workshop tersebut berlangsung sekitar dua minggu, dimulai 16 hingga 30 April 2018 di wilayah Pakuncen Kota Yog yakarta dan Kampung Seruni Kabupaten Wonosobo. Kami harap dengan desain yang di setujui oleh masyarakat, akan lebih mu dah membimbing mereka untuk me ngetahui dan menerapkan karbon rendah di wilayah mereka sendiri, tutur Iwan. Berdasarkan beberapa kriteria pe ni laian desain roadmap terdiri dari ke padatan tinggi, jarak yang dekat de ngan pusat kota, serta komitmen dan partisipasi masyarakat yang tinggi terhadap se lu ruh rangkaian kegiatan. Diharapkan ke giatan ini dapat menjadi awal yang baik dalam

di Indonesia, yaitu UndangUndang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, UndangUndang Nomor 26 Ta hun 2007 tentang Penataan Ruang, Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pedoman De sain Perkotaan, dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rak

mengimplementasikan kon sep pem bangu nan kota di Indonesia dan da pat men datangkan ide baru di bi dang pengembangan kawasan di D.I. Yog ya karta dan Wonosobo, serta menjadi mo del nasional kota dengan emisi karbon rendah. Semua desain harus mem per timbang kan kerangka peraturan yang ada

06|Edisi 04Tahun XVI

yat Nomor 02/PRT/M/2015 tentang Bangunan Gedung Hijau. Penilaian desain akan dilakukan oleh masyarakat dan dewan juri. Hasil da ri

desain tersebut akan dicoba untuk diterapkan pada tahun 2019 dengan harapan bahwa desain yang disetujui oleh masyarakat akan lebih mudah mem

bim bing mereka untuk mengetahui dan menerapkan karbon rendah di wilayah mereka sendiri.

Konsep Low Carbon Untuk Kota BerkelanjutanKontes internasional dan workshop bertemakan Rethink The City For A Low Carbon Future ditutup dengan peng hargaan yang diberikan kepada peserta yang telah menghasilkan ide desain kota berkelanjutan di daerah Pakuncen D.I. Yogyakarta, dan Seruni Wonosobo Provinsi Jawa Tengah pada Senin (30/04/2018), di D.I. Yogyakarta. Direktur Jenderal Cipta Karya Sri Har toyo, mengungkapkan bahwa ia sangat mengapresiasi karya desain yang ditampilkan dengan konsep pengem bangan kota karbon rendah.

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended