Home >Devices & Hardware >Karil waode rosmia

Karil waode rosmia

Date post:30-Jun-2015
Category:
View:96 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Description:
KABUPATEN MUNA
Transcript:
  • 1. 1 PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN PADA MATERI PEMERINTAHAN DESA/KELURAHAN DAN KECAMATAN SISWA KELAS IV SDN 10 LOHIA KECAMATAN LOHIA KABUPATEN MUNA Oleh : Wa Ode Rosmia 822165869 Email : [email protected]

2. 2 Abstrak Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi pokok Struktur Pemerintahan Desa/Kelurahan dan Kecamatan pada siswa kelas IV SDN 10 Lohia Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna? Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar PKn materi pokok Struktur Pemerintahan Desa/Kelurahan dan Kecamatan pada siswa kelas IV SDN 10 Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna melalui model pembelajaran koperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Prosedur dalam penelitian ini melaputi, (a) tahap perencanaan (planing), (b) pelak-sanaan tindakan (action), (c) observasi dan evaluasi (observation and evaluation) dan (d) refleksi (reflection). Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus dan setiap siklus dua kali pertemuan. Data dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui observasi dengan menggunakan lembar observasi, sedangkan data kuantitatif diperoleh melalui hasil tes pada setiap sisklus tindakan. Model pembelajaran koperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). sedangkan data kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 10 Lohia Kabupaten Muna ketika guru menggunakan model pembelajaran koperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).. Ketika guru menggunakan model pembelajaran koperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) pada siklus I dari 20 siswa terdapat 13 siswa atau 65% mencapai KKM, dan pada siklus II dari 20 siswa meningkat menjadi 17 siswa atau 85% mencapai KKM yang diteapkan yaitu 70 (tujuh puluh) Kata Kunci: Hasil Belajar PKn, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT), Peningkatan Hasil Belajar. 3. 3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru sebagai komponen penting dari tenaga kependidikan, memiliki tugas untuk melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran berarti upaya membelajarkan siswa. Guru sebagai tenaga kependidikan merupakan salah faktor penentu keberhasilan tujuan pendidikan, karena guru yang langsung bersinggungan dengan siswa. Melalui pembelajaran inilah guru membantu proses belajar siswa melalui serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa. Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi proses pembelajaran di dalam kelas sebagai unsur mikro dari suatu keberhasilan pendidikan. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran di dalam kelas tergantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik, dan strategi pembelajaran. Kenyataan yang terjadi di lapangan, banyak ditemui pelaksanaan pembelajaran masih kurang variatif, pross pembelajaran memiliki kecenderungan metode tertentu (konvensional), dan tidak memperhatikan tingkat pemahaman siswa ter-hadap informasi yang disampaikan. Siswa kurang aktif dalam proses pembelajar-an, siswa lebih banyak mendengar dan menulis, menyebabkan isi pelajaran seba-gai hafalan sehingga siswa tidak memahami konsep yang sebenarnya. Saat ini dunia pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan se-bagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Jadi, singkatnya masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa kurang didorong untuk mengembangkan keterampilan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi, siswa terbiasa untuk mengingat dan menimbun informasi, tanpa berusaha menghubungkan yang diingat itu dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya siswa hanya pintar secara teoretis tetapi miskin dalam aplikasi. 4. 4 Fenomena seperti yang dikemukakan tersebut di atas terjadi pula dalam proses pembelajaran PKn pada SDN 10 Lohia Kabupaten Muna. Dari dokumen guru kelas IV SDN 10 Lohia Kabupaten Muna pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 berupa hasil ulangan harian PKn pada materi Pemerintahan Desa/Kelurahan dan Kecamatan menunjukkan, dari 13 siswa terdapat 7 siswa atau 53% berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan untuk mata pelajaran PKn yaitu 7. Menyikapi kondisi tersebut, perlu dilakukan suatu upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 10 Lohia Kabupaten Muna, dengan menggunakan suatu pendekatan, metode, strategi serta model pembelajaran yang inovatif yang membuat siswa berpikir secara kritis, kreatif dan bahkan menyenangkan. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 10 Lohia Kabupaten Muna adalah melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Melalui model pembelajaran NHT ini dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisonal. Atas dasar inilah sehingga peneliti melakukan penelitian tentang Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas IV SDN 10 Lohia Kabupaten Muna. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang seperti yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 10 Lohia Kabupaten Muna? B. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penelitian ini adalah, untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN 10 Lohia Kabupaten Muna melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). 5. 5 C. Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat bagi: 1. Siswa Manfaat penelitian ini bagi siswa adalah dapat menstimuli siswa untuk berpikir. Karena melalui model pembelajaran NHT siswa akan berpikir baik secara mandiri maupun kelompok memikirkan jawaban kuis yang diajukan oleh guru. 2. Guru Kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran semakin profe-sional sehingga membuat siswa senang belajar, dan pada akhirnya akan ber-dampak pada hasil belajar siswa. 3. Sekolah Manfaat penelitian ini bagi sekolah adalah, kualitas sekolah akan semakin meningkat, seiring dengan kemampuan guru dalam mengelola proses pembe-lajaran yang berkualitas, karena dalam proses pembelajaran dikelola oleh guru yang professional. 6. 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Belajar dan Pembelajaran 1. Hakikat Belajar Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau obyek-obyek lain yang memungkin- kan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan, baik pengetahuan atau pengalaman baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh atau ditemukan sebelumnya akan tetapi menimbulkan perhatian kembali bagi individu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya interaksi . Adanya interaksi individu dengan lingkungan ini mendorong seseorang un-tuk lebih intensif meningkatkan keaktifan jasmaniah maupun mentalnya guna lebih mendalami sesuatu yang menjadi pehatian. Burton (dalam Aunurrahman, 2011: 35) dalam bukunya The Guidance of Learning Acti- vities, merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya. Anthony Robbins (dalam Trianto, 2010: 15), mendefinisikan belajar seba- gai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Dari definisi ini dimensi bela- jar memuat beberapa unsur, yaitu: (1) penciptaan hubungan, (2)sesuatu hal (pengetahuan) yang sudah dpahami, dan (3) sesuatu (pengetahuan) yang baru. Jadi dalam makna belajar, di sini bukan berangkat dari sesuatu yang benar- benar belum diketahui (nol), melainkan merupakan keterkaitan dari dua pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahhuan baru. Dalam pandangan konstruktivisme belajar bukanlah semata-mata mentransfer pengetahuan yang ada di luar dirinya, tetapi belajar lebih pada bagaimana otak memproses dan menginterpretasikan pengalaman yang baru de-ngan pengetahuan yang sudah dimilikinya dalam format yang baru. Proses pembangunan ini bisa melalui asimilasi atau akomodasi (Mc Mahon, 1996 dalam Trianto, 2010: 16). 7. 7 Pandangan modern mengenai belajar, lebih berorientasi pada perubahan perilaku secara holistik dan integral. Pandangan modern menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku, berkat interaksi dengan lingkungannya. Perubahan perilaku mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Adapun yang dimaksud lingkungan mencakup keluarga, sekolah dan masya-rakat, di mana siswa berada. Pandangan modern ini didukung oleh beberapa pakar, antara lain Witherington (1952: 165 dalam Hanafia 2012; 7) yang menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, penge-tahuan, kecakapan. Gagne, Berliner, dan Hilgar (1970: 256 dalam Hanafia 2012: 7) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang muncul karena pengalaman. 2. Ciri-ciri Belajar Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, Ini berarti, bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik.. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa belajar dapat didefinisikan setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman . Pengertian ini mencakup tiga unsur, yaitu: (1) belajar adalah perubahan tin

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended