Home >Documents >Kajian Sosio Teologis terhadap Nasionalisme Yehuda dalam ... nasionalisme pertama-tama merupakan

Kajian Sosio Teologis terhadap Nasionalisme Yehuda dalam ... nasionalisme pertama-tama merupakan

Date post:03-Mar-2019
Category:
View:219 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

1

Kajian Sosio Teologis Terhadap Nasionalisme Yehuda Dalam Kejadian 38:1-30

Oleh

Amelia Theodora Salawe

NIM 712011050

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada program studi Teologi, Fakultas Teologi

Guna memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana

Sains Teologi (S.SiTeol)

PROGRAM STUDI TEOLOGI

FAKULTAS TEOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2016

2

Kajian Sosio-Teologis Terhadap Nasionalisme Yehuda Dalam Kejadian 38:1-30

Abstrak

Penelitian ini merupakan upaya untuk mendapatkan pemahaman mengenai konsep

nasionalisme Yehuda melalui cerita Yehuda dan Tamar dalam Kejadian 38:1-38. Penelitian

mengenai konsep nasionalisme Yehuda dalam Kejadian 38:1-30 ini, dikaji secara sosio-

teologis dengan pendekatan sosio-historis. Teori yang digunakan adalah teori nasionalisme.

Secara sosio-historis, konsep nasionalisme Yehuda dalam Kejadian 38:1-30 dibangun dalam

kerangka berpikir sumber Y yang menekankan pada kesamaan keturunan, suku, ikatan darah,

serta perasaan senasib dan sepenanggungan dalam menghadapi ancaman dan tekanan dari

Mesir dengan menempatkan Tamar sebagai tokoh utama yang memainkan peranan penting

dalam mendukung alur cerita. Konsep nasionalisme seperti ini pada akhirnya dapat menjadi

chauvinisme yang mengunggulkan bangsanya dan merendahkan bangsa lain. Padahal

kesamaan identitas, suku, keturunan dan sejarah yang sama bukan satu-satunya tolok ukur

dalam membangun sebuah nasionalisme suatu bangsa dan negara.

Kata kunci : Nasionalisme, Yehuda dan Tamar, Kejadian 38:1-30

I. Pendahuluan

Istilah nasionalisme merupakan suatu istilah yang cukup modern dan jarang

digunakan pada awal abad kesembilan belas. Pada tahun 1836, istilah ini digunakan dalam

bahasa Inggris dan bersifat teologis yaitu sebagai doktrin bahwa bangsa-bangsa tertentu

dipilih secara ilahiah. Berbagai upaya dilakukan oleh para ahli untuk mendefinisikan

nasionalisme. Menurut Smith, nasionalisme adalah sebuah ideologi yang menempatkan

bangsa di pusat keprihatinannya dan berupaya menaikkan eksistensinya. Namun menurut

Smith pernyataan ini tidak terlalu jelas, oleh sebab itu perlu ditetapkannya sasaran utama,

tempat nasionalisme menaikkan derajat bangsa yaitu otonomi nasional, kesatuan nasional dan

identitas nasional.1 Pandangan Smith didukung oleh Kohn yang beranggapan bahwa

nasionalisme merupakan suatu paham yang menyatakan bahwa kesetiaan tertinggi individu

harus diserahkan kepada negara kebangsaan.2 Jadi, dapat dikatakan bahwa secara garis besar,

nasionalisme merupakan wujud dari kecintaan terhadap bangsanya atau cinta tanah air.

Meskipun nasionalisme merupakan gejala yang hadir di zaman modern, namun

beberapa watak nasionalisme sudah lama tumbuh dan berkembang di masa lampau. Salah

satu bangsa yang diatasnya nasionalisme tumbuh dan berkembang yaitu bangsa Ibrani.

Bangsa Ibrani memiliki kesadaran yang tinggi bahwa mereka berbeda dari bangsa-bangsa

1 Anthony D. Smith, Nasionalisme : Teori, Ideologi, Sejarah (Jakarta : Penerbit Erlangga, 2002), 6-10.

2 Hans Kohn, Nasionalisme : Arti dan Sedjarahnya (Jakarta : P.T. Pembangunan, 1958), 11.

3

yang lain. Ada tiga corak hakiki nasionalisme yang berasal dari bangsa Ibrani yakni cita

sebagai bangsa yang terpilih, memiliki kenangan yang sama dimasa lampau dan harapan

yang sama di masa depan, serta penegasan bahwa mereka memiliki tugas khusus di dunia.3

Konsep nasionalisme ini menurut Stoddart dibentuk melalui rasa kebersamaan segolongan

sebagai suatu bangsa. Keadaan jiwa serta kepercayaan yang dianut oleh sejumlah besar

individu tersebutlah, yang kemudian membentuk suatu kebangsaan.4 Hal demikian terjadi

pada kisah Yehuda dalam Kejadian 38:1-30.

Dalam membentuk suatu nasionalisme, Kejadian 38:1-30 menceritakan mengenai

kisah Yehuda dalam bingkai tradisi Y yang ditulis demi kepentingan Daud sebagai raja atas

kerajaan Israel Bersatu. Kisah ini merupakan kisah yang menarik karena menceritakan

tentang masa depan keturunan Yehuda leluhur Daud, yang berada dalam bahaya. Oleh sebab

itu pembentukan keluarga berdasarkan garis keturunan Yehuda sangatlah ditekankan dalam

Kejadian 38:1-30. Kisah ini dimulai ketika Yehuda menjalin hubungan dengan seorang

perempuan Kanaan bernama Syua yang kemudian melahirkan tiga anak laki-laki bagi

Yehuda yaitu Er, Onan, dan Syela. Berkaitan dengan perkawinan campuran, Lambdin

mengatakan perkawinan campuran dengan seorang Kanaan dipahami oleh bapa leluhur

sebagai suatu ancaman terhadap janji bagi keturunan Abraham. Oleh sebab itu, menjadi suatu

larangan bagi Abraham dan Ishak agar tidak mengambil seorang Istri dari keturunan

Kanaan.5 Pada akhirnya, Kejadian 38:11 ditutup dengan kisah menyedihkan karena Yehuda

tidak memiliki keturunan dari anak-anak lelakinya yang didapat dari seorang perempuan

Kanaan.

Kisah ini dibuka kembali dengan menceritakan kelanjutan garis keturunan Yehuda

melalui Tamar menantunya. Asal-usul dari Tamar masih menjadi misteri. Tradisi kuno

mengatakan bahwa Tamar adalah seorang perempuan Kanaan sama seperti Syua, istri

Yehuda. Namun dalam kitab Yobel, kitab yang berisi kumpulan catatan sejarah Alkitab yang

ditulis selama masa Bait Allah kedua, menunjukkan bahwa Tamar adalah seorang Aram, dari

Mesopotamia.6 Asal-usul Tamar mengingatkan kita pada Abraham yang juga berasal dari

Mesopotamia dan merupakan leluhur dari Daud. Kisah ini ditutup melalui kehadiran dua

anak laki-laki Yehuda dari Tamar yang bernama Zerah dan Perez.

3 Anthony D. Smith, Nasionalisme: Teori..., 13-14.

4 A.A. Yewangoe, Agama dan Kerukunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 10.

5 Thomas O. Lambdin, Introduction to Biblical Hebrew (New York: Charles Scribner's Sons, 1971), 114.

6 Rabbi Jeffrey K. Salkin, Righteous Gentiles In The Hebrew Bible : Ancient role models for sacred

relationship (Woodstock, Vermont : Jewish Light Publishing, 2008), 23.

4

Secara sosiologis-teologis, kisah pembentukan keluarga dari garis keturunan Yehuda

dalam Kejadian 38:1-30 berada dalam bingkai tradisi Y, berguna untuk mengokohkan

pemerintahan Daud sebagai raja dalam kerajaan Israel Bersatu serta untuk menegaskan

bahwa daud merupakan raja dari garis keturunan yang terpilih dan yang diberkati oleh

Yahweh. Bukan berasal dari garis keturunan yang dikutuk. Bentuk nasionalisme yang

ditemukan dalam kisah ini yaitu nasionalisme berdasarkan suku ataupun keturunan yang

sama. Oleh sebab itu, berdasarkan silsilah keturunan yang dilihat dari Tamar dan perdebatan

para ahli tentang asal-usul Tamar, maka penelitian ini kemudian dilakukan dengan fokus

pada nasionalisme Yehuda dalam cerita Yehuda dan Tamar guna memperoleh pemahaman

mengenai konsep nasionalisme Yehuda.

Adapun pertanyaan sentral sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa

konsep nasionalisme Yehuda dalam Kejadian 38:1-30 berdasarkan kajian Sosio-Teologis?.

Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan konsep nasionalisme Yehuda dalam Kejadian

38:1-30 berdasarkan kajian Sosio-Teologis. Manfaat dari penelitian ini, secara teoritis

memberikan sumbangan pemikiran yang sekaligus berguna untuk melengkapi literatur

penelitian sebelumnya tentang nasionalisme khususnya dalam studi-studi biblika dan secara

praktis sebagai salah satu upaya sumbangan pemahaman kepada Fakultas Teologi khususnya

matakuliah Hermeneutik Perjanjian Lama tentang konsep nasionalisme Yehuda dalam

Kejadian 38:1-30.

Penelitian ini menggunakan kajian sosiologis teologis dengan pendekatan sosio

historis. Pendekatan sejarah dan sosial merupakan dua hal yang berbeda tetapi keduanya

sama-sama dalam merekonstruksi kehidupan Israel Monarki. Jadi, pendekatan sosio-historis

adalah cara untuk melihat berbagai latar belakang sejarah dan juga situasi atau keadaan sosial

yang terjadi pada masa atau zaman tertentu dengan lebih mendalam dan seksama. Melalui

pendekatan ini penulis menarik kesimpulan sebagai hasil penelitian penulis atas judul yang

telah penulis rumuskan terlebih dahulu.7 Kisah Yehuda dan Tamar dalam Kejadian 38:1-30

juga perlu dikaji dengan pendekatan sosio-historis agar pembaca dapat mengerti maksud dan

tujuan teks tersebut ditulis.

Sistematika penulisan tugas akhir ini di jelaskan dalam lima bagian yang antara lain:

bagian pertama yaitu Pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan yang

7 Norman K. Gottwald, Sociological Method in the Study of Ancient Israel. Edited by Norman K. Gottwald.

The bible and Liberation Political and Social Hermeneotics (Maryknoll New York: Orbis Books, 1983), 27.

5

menjadi kerangka umum penulisan tugas akhir ini. Bagian kedua menjelaskan mengenai

konsep nasionalisme. Bagian ketiga menjelaskan tradisi Y kaitannya dengan Yehuda dan

Tamar dalam Kejadian 38:1-30. Pada bagian keempat yaitu

Embed Size (px)
Recommended