Home >Documents >Jurnal tata kota edisi 01 mail

Jurnal tata kota edisi 01 mail

Date post:19-Oct-2014
Category:
View:732 times
Download:14 times
Share this document with a friend
Description:
 
Transcript:

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 20142

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 2014 3

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 20144

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 2014

Salam Tata Kota Syukurlah, setelah melewati serangkaian diskusi

panjang, akhirnya Jurnal TataKota Bekasi edisi perdana sampai di tangan Anda. Kami berharap jurnal ini selalu ditunggu kehadiran Anda: dua bulan sekali.

Jurnal ini lahir dari ide sekelompok masyarakat yang peduli terhadap masa depan Kota Bekasi. Persoalan tata kota bukanlah persoalan sederhana. Bukan sebatas berkaitan aspek materil. Di sana banyak aspek yang sangat kompleks.

Pemilihan kata Jurnal sengaja kami pilih sebagai identitas intelektualitas. Seluruh materi tulisannya didasari dengan kajian ilimiah. Namun dikemas menggunakan bahasa yang enak dibaca agar mudah dipahami khalayak.

Edisi perdana kali ini mengangkat tema Revitalisasi Ruang Publik. Tema ini kami pandang sangat relevan dengan kondisi Kota Bekasi. Saat ini ruang publik seolah kehilangan bentuk dan makna. Padahal keberadaannya sangat penting bagi sebuah kota.

Jurnal ini menyuguhkan beberapa artikel. Mulai dari definisi dan fungsi ruang publik, arah kebijakan pembangunan Kota Bekasi, keterlibatan masyarakat dalam pembangunan hingga sumbangan pemikiran dari tokoh-tokoh intelektual yang konsen di bidang ruang publik.

Kami berharap kehadiran jurnal ini mampu merangsang gairah intelektual masyarakat Kota Bekasi. Sehingga kita bisa sama-sama iuran gagasan dan pemikiran untuk pembangunan Kota Bekasi.

Kami sadar bahwa media ini tidak lepas dari banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu sumbang saran dan gagasan sangat kami butuhkan dari Anda. Selamat membaca!

Salam Redaksi

Pemimpin Umum:Ir. Koswara

Pimpinan Perusahaan: Warso Sunaryo

Pemimpin Redaksi:Denny Bratha,

Dewan Redaksi Respati Wasesa, Ichsanuddin

Sekretaris Redaksi: Farah

Marketing dan Sirkulasi: Anggi Kusumah, Anggoro

Design /Layout: Ipank Farizi

Media Social Officer: Adhitya Galuh Sasongko

Bagian Umum Wahyu Aji

Telp: (021) 82436656Mail: jurnaltatakota@gmail.com

Daftar Isi Pengantar Redaksi

Revisi Alamat: Perum Bumi Bekasi Baru Utara Blok V/28 RT 002 RW 09 Kota Bekasi

Rupa Ruang Kota Kita 6

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Rupa Ruang Kota Kita 10

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 20146

Laporan Utama Rupa Ruang Kota Kita

Rupa RuangKota Kita

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 2014

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 2014

Ruang publik menjadi elemen penting dalam sebuah kota. Ia ibarat wajah. Ruang publik yang baik bisa membawa citra kota yang baik pula. Namun, definisi ruang pub-lik ternyata begitu luas. Sehingga perlu diu-rai terlebih dahulu mengenai itu sebelum kita menjabarkan lebih jauh tentang kondisi riil di lapangan.

Ada pendapat, ruang publik merupakan ruang terbuka, sebagaimana taman-taman di pusat kota. Pendapat yang lebih kritis lagi: ruang publik adalah ruang demokra-tis. Di mana ada warga duduk berkumpul mendiskusikan tema-tema relevan, maka hadirlah ruang publik.

Stephen Carr, dari Cambridge Uni-versity, dalam buku Publik Space (1993) menulis, ruang publik ada beberapa tipe. Antara lain taman umum (public parks), meliputi; taman nasional, taman pusat kota, taman lingkungan dan taman kecil. Lapangan dan plasa (squares and pla-zas), meliputi; lapangan pusat kota dan lapangan pengikat di gedung-gedung per-kantoran. Ruang peringatan (memorial space) yang dibangun untuk mengenang peristiwa penting.

Kemudian pasar (markets) di ruas jalan, biasanya bersifat temporer. Ja-lan (streets), meliputi; jalur transportasi umum, pedestrian dan gang. Tempat ber-main (playground) di lingkugan peruma-han dan sekolah. Ruang komunitas (com-munity open space) meliputi; lahan ko-song di permukiman yang dimanfaatkan warga untuk kepentingan bersama.

Ada juga jalan hijau dan jalan taman (green ways and parkways), biasanya di-penuhi pepohonan. Atrium/pasar di dalam ruang (atrium indoor market place) yang di-fungsikan area jalan di dalam pasar. Ruang di lingkungan rumah (found/neighborhood spaces) seperti kapling kosong. Terakhir, Waterfront, seperti pelabuhan, pantai dan bantaran sungai.

Filsuf dan sosiolog Jerman, Jurgen Habermas yang masyhur itu mengatakan, ruang publik memiliki peran penting dalam proses demokrasi. Warga dapat menyatakan opini, kepentingan dan mencurahkan keg-elisahan-kegelisahan politisnya.

Pengamat perkotaan, Marco Kusumawi-jaya, dalam makalahnya berjudul Merawat Khalayak dan Ruang Khalayak mengurai-kan, kalangan geografersebutan ahli geo-grafi membedakan ruang publik (public space) dan ranah publik (public sphere).

Ranah publik merujuk ruang politik, tempat berlangsungnya pembahasan, perdebatan dan pengambilan keputusan bersama atas urusan umum. Sedangkan ruang publik mengacu tempat fisik di mana setiap warga bebas mengakses. Ruang publik berbeda dengan ruang privat yang memungkinkan si empunya menolak keha-diran orang lain.

Filsuf dan teoretisi politik Iris Marion Young menyebut ruang publik ini dengan is-tilah embodied public space. Meski berbe-da, ruang publik dan ranah publik bertalian erat. Perencanaan dan penataan ruang publik berdampak pada ruang dan kehidu-pan politik warga.

Young mengatakan, ruang publik, bagaimana pun, adalah tempat setiap orang punya akses, ruang terbuka seka-ligus ruang keterbukaan (space of open-ness and exposure). Yang dimaksud Young itu ruang-ruang fisik di mana warga benar hadir, berjumpa, berinteraksi, bebas be-raktivitas ataupun sekadar menikmati rasa ruang tersebut.

Menurut Marco, di dalam kota, ruang-ruang publik semacam itu muncul melalui berbagai bentuk. Ada ruang-ruang publik yang sifatnya terbuka (outdoor) dan bi-asanya dicirikan dalam bentuk ruang fisi-kalnya. Ada pula yang sifatnya tertutup (indoor). Ruang publik terbuka bisa berupa alun-alun, jalan raya, trotoar, lapangan olahraga, dan seterusnya. Museum adalah salah satu contoh ruang publik tertutup.

Dari segi fungsi, kita melihat ada ru-ang publik untuk berlangsungnya kegiatan sehari-hari, misalnya transportasi umum dan jalan raya. Ada ruang publik untuk kegiatan rekreatif, misalnya taman kota. Ada ruang publik untuk kegiatan berkese-nian, misalnya taman budaya. Di sisi lain, kita juga bisa membedakan ruang publik yang sifatnya legal-formal seperti Gedung DPR dan ruang publik yang sifatnya infor-mal seperti alun-alun.

Ciri kuat pada ruang publik adalah ruang itu memungkinkan berlangsungnya aksi ko-munikatif antarwarga dengan berbagai ra-gam kepentingan, identitas, nilai, dan cara berpikir mereka.

Meskipun secara aktual aksi komuni-katif itu tidak atawa belum berlangsung, bila ruang tersebut memungkinkan, teru-tama memang dirancang untuk memung-kinkan berlangsungnya aksi komunikatif antarwarga guna mematangkan kehidu-

Laporan Utama Rupa Ruang Kota Kita

pan bersama, maka ruang tersebut bisa kita sebut ruang publik.

Ketika datang ke alun-alun kota, Anda mungkin tidak kenal dengan orang yang juga datang ke tempat tersebut. Tapi, alun-alun sangat memungkinkan Anda dan oran-glain bisa saling berinteraksi. Tiba-tiba, mis-alnya, Anda didatangi seorang pengemis. Si pengemis mengeluh belum makan dan me-minta uang. Anda kemudian memberikan sedikit uang. Anda berarti telah berinteraksi dengan seorang pengemis.

Sebagai ruang publik, alun-alun tidak pernah memuat larangan terhadap siapa

pun, termasuk pengemis. Semua orang boleh datang ke tempat tersebut. Mal ti-dak bisa dikatakan sebagai ruang publik secara utuh karena tidak semua orang bisa masuk. Artinya, mal tidak dirancang untuk dijadikan sekadar tempat rekreasi tanpa komersialisasi.

Di ruang publik, warga boleh melakukan kegiatan apa pun, karena ruang publik hadir sebagai wadah ekspresi. Dari mulai upacara bendera, ritual keagamaan, olahraga, kon-ser musik, demonstrasi, hingga kampanye. Ruang publik juga menjadi area hijau dan belakangan ini dimanfaatkan pula untuk evakuasi bencana.

Ruang publik yang menarik akan se-

l Plasa Alun-alun Kota Bekasi

Jurnal Tata Kota Bekasi l Edisi 01 l Desember 2013 - Januari 2014

lalu dikunjungi warga. Para ahli tata ruang berpendapat, esensi ruang publik ada tiga macam. Pertama, ia memberikan arti bagi warga (meaningful), kemudian tanggap dan mengakomodir semua kepentingan (responsiv) dan menerima kehadiran siapa saja (demokratic).

Di Indonesia, pembangunan ruang-ru-ang publik belum mengakomodir mereka yang memiliki kemampuan khusus atau difabel. Bagi mereka, ini menyusahkan. Seorang difabel netra akan kesulitan ke-tika berjalan di pedestrian yang buruk, apalagi berlubang. Tentu juga sangat

membahayakan. Padahal Peraturan Men-teri Pekerjaan Umum mewajibkan setiap fasilitas publik aksesibel.

Di kota-kota besar, penataan pedes-trian memang menjadi masalah serius. Kalau tidak untuk berdagang,

Popular Tags:

of 104

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended