Home >Documents >Isi Makalah Skenario 5

Isi Makalah Skenario 5

Date post:29-Sep-2015
Category:
View:15 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
hmm
Transcript:

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar belakangDi dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika. Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administrative. Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum, padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum. 1.2 TujuanUntuk menghindari hal-hal di atas, jelaslah bahwa profesi kedokteran membutuhkan pedoman sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh seorang dokter. Pedoman yang demikian dikenal dengan nama Kode Etik Kedokteran. Untuk menjalankan dan mengamalkan kode etik tersebut seorang dokter juga harus sudah dibekali dengan wawasan keagamaan yang kuat karena dalam ilmu agama sudah tercakup pengetahuan mengenai moral dan akhlak yang baik antara sesama manusia. Seorang dokter harus menghayati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran dalam menjalankan profesinya. Dengan berpedoman pada kode etik tersebut diharapkan seorang dokter dapat menjalankan profesinya dengan baik sehingga martabat profesi kedokteran dapat lebih terjaga. Dalam makalah ini akan dibahas skenario seperti berikut: Seorang pasien berumur 62 tahun datang ke rumah sakit dengan karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien masih cukup sadar, berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita, dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaannya saja. Oleh karena itu, ia meminta kepada dokter apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi yang minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU, dan lain-lain), dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun, ia tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan. Mengingat pentingnya kejadian yang dialami oleh pasien di atas dan melihat seringnya kasus yang terjadi dan banyak muncul pada masyarakat, maka saya menyusun makalah ini dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai masalah tersebut baik dari aspek hukum dan prosedur medikolegal, etika profesi kedokteran, rekam medis, dan prosedur tindakan medis yang seharusnya dilakukan oleh dokter dalam menangani kasus penyakit seperti pasien alami di atas.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Karsinoma KolonCarsinoma colon atau kanker usu besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadipada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). Di negara maju, kanker ini mendudukiperingkat ke tiga yang paling sering terjadi, dan menjadi penyebab kematian yang utama didunia barat.Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umumkeganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktubarulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuranyang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanyamakin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagitiga, yaitu gejala lokal, gejala umum, dan gejala penyebaran (metastasis).Gejala lokalnya adalah, antara lain :1a. Perubahan kebiasaan buang air. b. Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare). Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal.c. Perubahan wujud fisik kotoran/feses. Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar, feses bercampur lendir. d. Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan disaluran pencernaan bagian atas.e. Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibatsumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor.f. Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita.g. Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara, dan lain-lain), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dan lain-lain). Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas penyebarannya.

2.2 Etika Profesi KedokteranEtika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan teleologi. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa, Teori deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri, sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat hasilnya atau akibatnya. Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teleologi lebih ke arah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian).2Etika adalah cabang ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap atau perbuatan dilihat dari moralitas. Etik deskriptif yaitu bidang sains yang mempelajarimoralitas merupakan pengatuan empiris tentang moralitas dan menjelaskan pandangan moral tentang isu-isu yang terjadi pada ketika itu. Etika sendiri terbagi kepada :2a. Etika normatif : Penegakan terhadap apa yang benar secara moral dan mana yang salah secara moral dalam kaitannya.b. Etika meta etik: Memperlihatkan analisis dari kedua konsep moral yang telah disebutkan.World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 membuat sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional. Dalam KODEKI (Kode Etik Kedokteran) pasal 2 dijelaskan bahwa: seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi. Jelasnya bahwa seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedokterannya sebagai seorang profesi dokter harus sesuai dengan ilmu kedokteran mutakhir, hukum dan agama.KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani. Artinya dalam setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaaan manusia. Jadi dalam menjalankan profesinya, seorang dokter tidak boleh melakukan:2a. Pengguguran kandungan (Abortus Provocatus). b. Mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidakmungkin akan sembuh lagi (euthanasia).Sumpah dokter yang paling banyak dikenal adalah sumpah Hippocrates yang berisikan kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap seperti code ofconduct bagi dokter. Kode etik kedokteran Indonesia (KODEKI) dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional yang berunsurkan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajipan terhadap sesama dan kewajipan terhadap diri sendiri. KODEKI berisikan:2a. Kewajiban Umum Pasal 1:Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. Pasal 2:Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standarprofesi yang tertinggi. Pasal 3: Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi olehsesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Pasal 4: Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. Pasal 5: Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisikhanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien. Pasal 6: Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat. Pasal 7: Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. Pasal 7a: Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yangkompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. Pasal 7b: Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, danberupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien. Pasal 7c: Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien Pasal 7d: Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewa

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended