Home >Documents >ISI FOKUS Berebut (Suara) Umat - IX cetak.pdf  Cawapres dari partai-partai Islam, ... lokal...

ISI FOKUS Berebut (Suara) Umat - IX cetak.pdf  Cawapres dari partai-partai Islam, ... lokal...

Date post:30-Jun-2018
Category:
View:214 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • Kritik dan Saran: Jl. Taman Amir Hamzah No 8 Jakarta 1030, Indonesia Phone: +6 1-39833, 3145671|Fax: +6 1-39850Email: info@wahidinstitute.org Website: www.wahidinstitute.org

    Salah satu spanduk isu jilbab dalam Pilpres 2009/Foto Dok. detik.com

    Setelah didesak kanan-kiri, diberi saran sana-sini, Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menentukan pilihan calon wakil presiden (cawapres) sendiri. Yang berun-tung itu ternyata Boediono, sang debutan baru. Cawapres dari partai-partai Islam, yang berkoalisi dengan Partai Demokrat, tak dilirik sama se-kali. Tetapi mereka tak mau menerima pilihan bulat-bulat. Mereka merapat dan memutuskan menolak. Alasannya, Boediono tidak mewakili umat. Boediono memang seorang muslim, tapi bukan representasi dari umat yang memilih partai-partai Islam tersebut.

    Adalah Tifatul Sembiring, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membawa-bawa kata umat. SBY bahkan terlihat kepayahan, ka-rena PKS ngotot setengah mati agar cawapresnya mewakili umat. Baru detik terakhir mereka mau menerima. Dengan negosiasi sana-sini, tentu. Isi negosiasi, hanya SBY dan PKS yang tahu. Apakah umat hanya jualan politik yang musnah begitu saja ketika terjadi kesepakatan harga? Siapa se-jatinya yang berhak mengklaim mewakili umat? Memang, dalam jagad politik, umat mengalami pengkerutan (contraction) dan pemuaian (expan-sion) tergantung situasi dan selera politisi.

    Umat: Pengkerutan dan PemuaianDalam Ensiklopedi Islam (007), secara lek-

    sikal umat memiliki makna beragam. Pertama, setiap generasi umat manusia yang kepada me-reka diutus seorang rasul, seperti umat Ibrahim AS, umat Isa AS, dan umat Muhammad SAW. Kedua, suatu jamaah atau segolongan manusia yang menganut suatu agama, seperti umat Yahu-di, umat Kristen, dan umat Islam. Ketiga, suatu jamaah manusia dari berbagai kelompok sosial yang diikat oleh ikatan sosial yang membuat mereka menjadi satu. Keempat, seluruh golongan atau jenis bangsa manusia adalah umat yang satu, maka disebut umat manusia.

    Secara gramatikal, umat juga memiliki makna beragam. Bagi Fazlur Rahman, sebagaimana ditu-lis Sidney Jones (1997), umat bermakna bangsa (nation) atau masyarakat (people). Umat, lanjut Rahman, memiliki konotasi politis, karena mak-nanya mencakup semua orang yang menerima kehendak Ilahi sebagaimana terekspresi di dalam syariah yang dengan demikian memunculkan kebutuhan akan institusi-institusi untuk mem-berlakukan hukum tersebut. Kehendak Tuhan itu akan hanya bisa diimplementasikan melalui suatu tatanan politik. Meskipun wewenang kea-

    REDAKTUR AHLI: YENNY ZANNUBA WAHID, AHMAD SUAEDY | SIDANG REDAKSI: RUMADI, SUBHI AZHARI, GAMAL FERDHI, ALAMSYAH M. DJAFAR, BADRUS SAMSUL FATA REDAKTUR PELAKSANA: NURUN NISA | DESAIN: ULUM ZULVATON

    No. 9/TH. IIIMEI - JULI 2009

    FOKUS

    Menjadi umat Islam Indonesia sebagai yang mayoritas mung-kin suatu kebanggaan. Betapa tidak, ia menjadi primadona di kalangan partai yang berlaga di pemilu sejak 1955. Umat dijadikan barang dagangan untuk menggapai kekuasaan atau alat penawar negosiasi politik. Tetapi kemalangan nam-paknya mengikuti kebanggaan. Setelah dijual, di monopoli, umat ditinggalkan.

    Umat, yang mulanya percaya pada partai Islam, kemudian putar haluan. Mereka menjadi pemilih rasional; mereka memilih bukan berdasarkan ideologi lagi. Sandaran pilihannya, menurut analisa para pengamat politik, adalah program dan visi partai atau kandidat tertentu. Analisa lainnya, pilihan didasarkan pada pragmatisme; ada uang, ada barang. Yang bersetuju ini menyatakan agar umat jangan disalahkan. Pragmatisme tersebut adalah balasan terhadap para politikus yang tidak amanah.

    Kini umat dibawa (lagi) sebagai modal kampanye politik pemilihan presiden (pilpres) 2009. Pelakunya, tetap saja, partai-partai Islam itu.

    Nawala edisi kali ini, yang telah meng-alami perubahan tampilan, membahas umat dan isu umat yang digadang-gadang oleh mereka. Tentu saja, perilaku semacam ini tidak elok untuk diteruskan. Saatnya umat memilih yang paling tepat. Jangan mau diperalat oleh mereka yang menjual umat.

    Akhirnya, selamat membaca.

    TAJUK

    Berebut (Suara) UmatISI Tajuk hal.1 Fokus hal.1Wawancara hal.3Advetorial hal.4Opini hal.5Rak Buku hal.7Aktivitas hal.8

  • No. 9/TH. III/MEI-JULI 2009

    LIPUTAN KHUSUS

    gamaan dan sekular dalam dunia Islam dipisahkan segera sesudah Nabi wafat, namun eksistensi umat sebagai komunitas politik tetap merupakan fiksi dan kuat, sebab hanya di dalam umat kebenaran menemukan tempatnya; Umatku tidak akan pernah menyetujui suatu kesalahan, sabda Nabi.

    Dengan definisi ini, umat mengandaikan pemeluk Islam di seluruh dunia yang melampaui batas teritorial. Konsep ini senada dengan pengertian komunitas Islam, mengutip Bahtiar Effendy (1998), sebuah konsep politik Islam yang tidak mengenal batas-batas politik atau kedaerahan. Umat Islam adalah universal tetapi ia tersebar; ada umat Islam Indonesia, umat Islam Mesir, umat Islam Amerika untuk sekedar contoh. Akan tetapi, dalam perjalanan sejarah, konsep umatmenyitir Jonesmengkerut dan me-muai. Faktor penentuya adalah lingkungan politik dan ekonomi lokal tempat umat berada dan lingkungan Islam internasional yang terkait dengannya.

    Pembentuk konsep umat yang paling penting, kata Jones, mungkin ibadah haji yang mondial. Ibadah haji ini menjadikan kota Mekah berperan penting dalam mengabadikan keyakinan terhadap realitas fisik mengenai umat secara global. Syarif Husein, pemimpin Mekah hingga 195, menikmati status khusus sebagai ibu kota kekuasaan dinasti Arab, Persia maupun Turki. Mekah menjadi tempat tinggal bagi para ulama yang bertindak sebagai hakim terhadap perbedaan-perbedaan dalam umat dan yang bisa memberi Dominasi Mekahyang artinya umat menjadi mengke-rutberakhir setelah kejatuhan dinasti Syarif dan bergabungnya Arab Saudi menjadi negara bangsa. Persaingan ideologi yang kian marak juga mendorong terjadinya hal ini. Umat Jawakini In-donesiaturut terpengaruh. Pada abad 19, umat Islam Jawa tidak menautkan diri mereka dengan komunitas Islam internasional Mekah. Mereka tetap sebagai Jawa. Jawa yang berbahasa Melayu di Mekah. Sebabnya, peran dunia Arab sudah digantikan Eropa. Akan tetapi, umat yang mengkerut ini justru diikuti dengan peningkatan mereka yang menunaikan ibadah haji.

    Setelah masa Indonesia merdeka, definisi umat tambah mengkerut. Ketika organisasi massa Islam Muhammadiyah (lahir 191) dan NU (lahir 196), umat adalah mereka yang menjadi dua anggota ormas tersebut. Lalu kurun 1950-1960-an, mengutip Bahtiar, klaim umat absah adalah hanya bagi mereka yang berga-bung dengan organisasi sosial politik Islam. Dengan definisi ini, umat hanya berlaku bagi partai politik yang menjadikan Islam sebagai basis ideologi. Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), Partai NU (Nahdlatul Ulama), Parmusi (Partai Mus-limin Indonesia), dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) layak disebut dalam tautan ini. PPP, yang merupakan fusi partai-partai Islam yang telah disebut, paling dapat disorot di masa Orde Baru. Makna terkahir ini tampaknya masih menjadi acuan politisi partai Islam hingga kini.

    Pada masa Orde Baru, PPP pernah memonopoli makna umat, karena PPP-lah satu-satunya partai politik Islam. Aroma monopoli ini tampak pada kekhawatiran PPP tentang adanya upaya orsospol (organisasi sosial politik) yang menjauhkan umat Islam dari PPP. Indikasinya, adanya gerakan politik Golkar dan PDI yang ketika itu agresif mendekati kantong-kantong umat Islam; Harmoko, Ketua Golkar, rajin berkunjung ke pesantren dan Megawati selaku Ketua PDI bergandengan dengan tokoh semacam Gus Dur. Dengan ge-rakan ini, klaim PPP sebagai suara umat mulai terdegradasi.

    Kini, di era reformasi, definisi umat mengalami pemuaian seiring menjamurnya partai yang mengatasnamakan Islam. Banyak partai-partai umat Islam yang menuliskan umat sebagai basis perjuangan partainya, dalam bentuk visi maupun misi. PBB (Partai

    Bulan Bintang) tegas mengatakan partainya sebagai aset umat dan mempelopori penyatuan-penyatuan partai Islam sebagai stra-tegi partai. PMB (Partai Matahari Bangsa) mengandalkan jargon Satukan Umat, Makmurkan Bangsa. PKS memiliki visi sebagai partai dakwah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan umat dan bangsa. PPP tidak mencantumkan umat barang satu kata pun, tetapi PPP merupakan satu-satunya partai yang memonopoli umat pada masanya.

    Umat dalam Pilpres 2009Umat dijual lagi kali ini. Dengan total suara di kisaran 4%,

    dihitung dari suara partai Islam yang lolos parliamentary treshold, muncul gagasan untuk membuat poros baru. Din Syamsuddin menamainya dengan Poros Tengah II untuk menandingi SBY dari Partai DemokratPoros Tengah I dimotori Amien Rais yang berupaya menjegal Megawati selaku wakil partai PDI-nasionalis. Tetapi nama ini dinilai tidak tepat karena oleh Tifatul Sembiring, Presiden PKS. Saya nggak ngerti Poros Tengah. Tidak ada Poros Tengah, adanya Poros Umat, kata Tifatul di sela acara Jakarta Political Club di Jakarta, Selasa (16/1/08) sebagaimana dikutip inilah.com. Poros Umat akhirnya hilang ditelan arus ketika PAN (Partai Amanat Nasional), PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), PPP, dan PKS merapat ke kubu SBY.

    Namun mereka masih membawa umat sebagai syarat penerima-an koalisi. Kami dari partai-partai Islam atau berbasis Islam (PPP, PKS, dan PAN) terus mengadakan komunikasi untuk mempertegas sikap kami bahwa kami tidak bersedia dalam satu perahu dengan Pak Boediono yang bukan representasi Islam, kata Wasekjen DPP PPP T Taufiqulhadi kepada detik.com, Jumat (15/5/009) menanggapi penunjukan mantan Gubernur BI itu. Hingga detik-detik mendekati waktu deklarasi pasangan capres/cawapres SBY, partai-partai Islam pendukung koalisi Partai Demokrat (PD) ini terus berkoordinasi. Mereka, menurut Taufiq, meminta SBY mempertimbangkan cawa-pres dari kalangan umat Islam atau yang dipandang dapat mewakili umat

Embed Size (px)
Recommended