Home >Documents >Irwan (Kematian Dalam Tahanan)

Irwan (Kematian Dalam Tahanan)

Date post:03-Oct-2015
Category:
View:11 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
bacaan
Transcript:

Library Manager

DateSignature

BUKU KEGIATANPROGRAM PENDIDIKAN KEPANITRAAN KLINIK

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGALUntuk Memenuhi Sebagai Syarat

Mengikuti Ujian Akhir Kepanitraan Klinik

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

Oleh:IRWAN MUHAEIMIN H.M.

N 111 12 004Pembimbing Klinik:

dr. Annissa Anwar Muthaher, S.H, M.Kes, Sp.F

Supervisor:

dr. Annissa Anwar Muthaher, S.H, M.Kes, Sp.FDIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIKBAGIAN KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2014

BAB I

PENDAHULUANKematian di penjara yaitu kematian yang terjadi di penjara atau fasilitas tahanan lainnya, termasuk kematian yang terjadi selama pemindahan/ transfer ke/ dari penjara/ fasilitas tahanan lainnya, atau difasilitas kesehatan mengikuti pemindahan dari penjara.Di Indonesia jumlah kematian narapidana dan tahanan di penjara mengalami peningkatan pada tahun 2009. Total 778 orang meninggal di rumah tahanan dan lernbaga pemasyarakatan sepanjang tahun 2009. Jumlah tersebut terdiri atas 514 narapidana dan 264 tahanan. Jumlah tersebut meningkat dari jumlah tahun 2008 yang berjumlah 750 orang meninggal di penjara, terdiri dan 548 narapidana dan 202 tahanan.

Penyebab kematian tahanan dan narapidana di penjara ini bermacam-macam. Mulai dari masalah kelebihan kapasitas penjara hingga penyakit. Terdapat 509 orang meninggal pada masa tinggal satu hingga enam bulan di penjara, terdapat 166 orang meninggal dengan masa tinggal tujuh hingga 12 bulan dalam penjara. Sebanyak 103 orang meninggal dengan masa tinggal lebih dari 1 tahun.Catatan kematian individu yang dikumpulkan oleh Death in Custody Reporting Act of 2000 menerangkan bahwa di Amerika Serikat, antara tahun 2001-2004, penjara negara otoritas nasional melaporkan total 12.129 kematian tahanan negara ke Deaths in Custody Reporting Program (DCRP). Sembilan dari 10 kematian (89%) akibat kondisi medis, bunuh diri (6%), pembunuhan (2%), alkohol (1%), obat (1%), dan cedera (1%).Diantara kematian tahanan negara setengahnya adalah hasil dari penyakit jantung dan kanker, dua pertiga melibatkan narapidana usia 45 tahun atau lebih, sisanya adalah hasil dari masalah medis yang hadir pada saat penerimaan. Perbandingan angka kematian menunjukkan tahanan pria memiliki tingkat kematian 72% lebih tinggi dan tahanan perempuan.

Berdasarkan uraian di atas mengenai angka kematian tahanan di penjara, maka perlu diketahui hal-hal yang berkaitan dengan kematian tahanan dalam penjara, mulai dari penyebab kematian, penanganan tahanan yang meninggal, dan pemeliharaan kesehatan tahanan.BAB II

TINJAUAN PUSTAKAA. TERMINOLOGI4,5Mati di penjara berasal dari Royal Cominision into Aboriginal Deaths in Custody (RCIADIC), yaitu:a. Death in prison custodyAdalah kematian yang terjadi di penjara atau fasilitas tahanan lainnya, termasuk kematian yang terjadi selama pemindahan/ transfer ke/ dan penjara/ fasilitas tahanan lainnya, atau di fasilitas kesehatan mengikuti pemindahan dari penjara.b. Death in police custodyDibagi menjadi dua kategori utama, antara lain:a. Kategori 11) Kategori 1a: Kematian dalam institutional setting (misalnya kantor polisi, mobil polisi, rumah sakit selama pemindahan dan atau ke institusi/ mengikuti pemindahan dan institusi).2) Kategori lb: Kematian lainnya dalam operasi polisi dimana petugas mempunyai kontak erat, termasuk kematian yang berhubungan dengan pengejaran dan penembakan oleh polisi. Tidak termasuk pengepungan dengan parameter yang telah ditetapkan tetapi petugas tidak memiliki kontak dekat dengan orang yang dapat mengontrol tindakan seseorang.

b. Kategori 2: Kematian lain selama operasi polisi termasuk pengepungan dan kasus dimana petugas berusaha menahan seseorang.

B. HAK DAN KEWAJIBAN TAHANAN DAN PENJAGA TAHANANPemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 58 tahun 1999 tentang syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan wewenang, tugas, dan tanggung jawab perawatan tahanan.1. Hak dan kewajiban perawat tahanan (pasal 3 dan 4)a. Berwenang melakukan penerimaan, pendaftaran, penempatan dan pengeluaran tahanan.b. Berwenang mengatur tata tertib dan pengamanan RUTAN/ Cabang RUTAN.c. Berwenang melakukan pelayanan dan pengawasan.d. Berwenang menjatuhkan dan memberikan hukuman disiplin bagi tahanan yang rnelanggar peraturan tata tertib.e. Bertugas melaksanakan program perawatan, menjaga agar tahanan tidak melarikan diri dan membantu kelancaran proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan.

f. Wajib memperhatikan perlindungan terhadap hak asasi manusia, asas praduga tak bersalah dan asas pengayoman, persamaan perlakuan dan pelayanan, pendidikan dan pembimbingan, penghormatan harkat dan martabat manusia, terjaminnya hak tahanan untuk tetap berhubungan dengan keluarganya atau orang tertentu, serta hak-hak lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.

2. Hak seorang tahanana. Hak untuk beribadah (pasal 11-13)

b. Hak perawatan jasmani dan rohani (pasal 14-19)c. Hak mendapat pendidikan dan pengajaran (pasal 20)d. Hak mendapat pelayanan kesehatan dan makanan (pasal 21-33)e. Hak untuk memberikan keluhan (pasal 34)f. Hak mendapatkan bahan bacaan dan siaran media massa (pasal 35-36)g. Hak untuk mendapatkan kunjungan (pasal 37-40)h. Hak-hak lain seperti hak politik dan keperdataan sesuai undang-undang yang berlaku (pasal 41)

3. Kewajiban seorang tahanana. Wajib mengikuti program dan perawatan (pasal 9-10)b. Wajib mengikuti bimbingan dan pendidikan agama sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.c. Wajib mematuhi tata tertib RUTAN/ Cabang RUTAN atau LAPAS/ Cabang LAPAS selama mengikuti program perawatan.C. KLASIFIKASI KEMATIAN DI PENJARAMati di penjara dibagi menjadi dua kategori dan didefinisikan sebagai benkut:71. Kategori 1: Seseorang meninggal ketika ditahan di kantor polisi atau tempat lainnya (kecuali di dalam pengadilan setelah didakwa), ketika ditahan sementara di kepolisian, ketika di rumah sakit atau mobil polisi.2. Kategori 2: Seseorang meninggal ketika sudah berada ditangan polisi maupun akibat tindakan polisi dalam usaha pengejaram/ penangkapan/ menjalankan tugasnva, termasuk ketika seorang suspek meninggal saat di wawancara walaupun belum ditahan, berusaha melankan diri, sudah ditahan, berada dalam pengepungan.D. PENYEBAB KEMATIAN TAHANAN1. Penyebab kematian berdasarkan pelanggaran terhadap hak asasia. Merupakan eksekusi langsung tanpa diadili.b. Disebabkan akibat penyiksaan.c. Disebabkan karena kondisi penjara yang buruk dan pengabaian akan kondisi kesehatan narapidana.

d. Disebabkan akibat penggunaan kekerasan yang berlebihan2. Penyebab kematian yang perlu dicurigaiPenyebab alami, penyakit atau kecelakaan yang dapat menutupi fakta pelanggaran hak asasi manusia.3. Asfiksia traumatik

Seringkali terjadi ketika petugas gagal dalam menguasai tahanan. Terjadi akibat asfiksia traumatik yang disebabkan kompresi dada dan menghalangi gerak pernapasan.114. Penguncian lengan dan memegang leherBahaya yang terjadi adalah kompresi dan depan atau samping leher dan kematian dapat terjadi baik karena reflek vagus atau karena iskemia serebri saat terjadi kompresi karotis, atau asfiksia karena obstruksi jalan napas.5. Trauma tumpulDapat terjadi karena penggunaan kepalan tangan, siku, kaki, atau penggunaan senjata. Pukulan pada samping leher dapat menimbulkan refleks cardiac arrest atau perdarahan subaraknoid akibat kerusakan pembuluh darah vertebrobasiler. Pukulan pada perut juga dapat menimbulkan perdarahan intraperitoneal yang terjadi karena robeknya mesentrium.6. Kadar alkohol yang meningkatKadar alkohol diatas 350 mg per 100 ml darah dapat menyebabkan peningkatan resiko koma dan depresi pusat pernapasan.7. Bunuh diriBunuh diri di penjara biasanya dilakukan dengan cara gantung. Alasan tahanan untuk mengakhiri hidupnya bisa karena mengalami kekerasan di penjara atau gangguan psikiatri.8. Kematian alami karena penyakitBiasanya karena akibat penyakit kardiovaskular. Penyakit diabetes, epilepsi, dan asma potensial menyebabkan kematian mendadak atau tidak terduga.9. Sudden In-Custody Death SyndromeKombinasi keberadaan delirium tereksitasi dikombinasikan dengan faktor lain yaitu alkohol atau penggunaan obat-obatan, kondisi fisik dari tahanan, dan kekerasan fisik yang dapat mencetuskan kondisi berpotensi fatal yang dikenal sudden in-custody death syndrome. Salah satu bentuknya adalah :Restraint asphyxia atau asfiksia posisiKematian akibat asfiksia yang terjadi saat posisi prone atau hog-tied yang dapat menimbukan gangguan pernapasan.

Gambar1. Posisi prone dan hog-tiedPada posisi ini dapat menekan pernapasan dan menyebabkan terganggunya fungsi jantung pada pasien yang mengalami kejang. E. GAGGUAN KESEHATAN YANG DAPAT DI ALAMI SEORANG TAHANAN DIDALAM PENJARA

1. HIV/ AIDS2. Tuberculosis (TB)3. Penyalahgunaan Obat-obatan4. Gangguan kesehatan mental5. Womens health6. Co-morbidity and mental health7. Young offenders8. OvercrowdingF. PERAWATAN TAHANANBerdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1999, perawatan tahanan di RUTAN/ Cabang RUT AN atau LAPAS/ Cabang LAPAS atau di tempat tertentu bertujuan antara lain untuk:1. Memperlancar proses pemeriksaan baik pada tahap penyidikan maupun pada tahap penuntutan dan pemeriksaan dimuka pengadilan.2. Melindungi kepentingan masyarakat dari pengulangan tindak kejahatan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana yang bersangkutan.3. Melindungi pelaku tindak pidana dan ancaman yang mungkin akan dilakukan oleh keluarga korban atau kelompok tertentu yaitu terkait dengan tindak pidana yang dilakukan. Program perawatan tahanan akan berakhir dengan sendirinya apabila tahanan yang bersangkutan telah mendapat keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Sedangkan bagi te

Embed Size (px)
Recommended