Home >Documents >IPB P a r i w a r abiofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2015/Pariwara IPB 2015 Vol 278.pdf · efektif...

IPB P a r i w a r abiofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2015/Pariwara IPB 2015 Vol 278.pdf · efektif...

Date post:06-Feb-2018
Category:
View:213 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • P u s a t I n k u b a t o r B i s n i s d a n Pe n g e m b a n g a n

    Kewirausahaan (Incubie) Lembaga Penelitian dan

    Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut

    Pertanian Bogor (IPB) mendapatkan penghargaan dari

    Kementerian Koperasi dan UKM RI sebagai Pengelola

    Inkubator Terbaik Peringkat I Tingkat Nasional Program

    Pengembangan Inkubator Wirausaha. Penganugerahan

    piagam penghargaan diberikan oleh Deputi Bidang

    Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha, Drs. Braman Setyo, M.Si., dengan disaksikan Bapak Ir.

    Asril Syamas, M.Sc. dan Prof. Dr. Hadi K. Purwadaria dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI).

    Hadir dari pihak Incubie antara lain Kepala Pusat Incubie Prof. Dr. Memen Surahman, Kepala Divisi

    Inkubator Bisnis Dr. Rokhani Hasbullah, dan Manager Inkubator Bisnis Deva Primadia Almada,

    SP.STp. Penganugerahan penghargaan dilakukan di Hotel Golden Boutique Jakarta, (23/10)

    bersamaan dengan kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tenaga Pengelola Inkubator

    Wirausaha yang dihadiri Inkubator Bisnis seluruh Indonesia. Pusat Inkubator Bisnis IPB

    bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM sejak tahun 2012 hingga 2014

    menyelenggarakan program inkubasi terhadap 45 UKM di wilayah Jawa Barat. Bidang usaha para

    tenant (UKM binaan) meliputi pengolahan pangan (62 %), agribisnis (22 %), dan industri kreatif (16

    %). Program inkubasi kepada tenant antara lain meliputi bimbingan teknis (pelatihan), temu bisnis,

    fasilitasi sumber permodalan, fasilitasi pengurusan legalitas usaha (PIRT, MD, Halal), pameran

    produk, studi banding, penyusunan business plan dan pendampingan usaha (manajemen usaha,

    teknis produksi, desain kemasan, dan lainlain).

    Pada kesempatan tersebut, Pusat Inkubator Bisnis IPB memaparkan Success Story Keberhasilan

    Pengelolaan Inkubator Wirausaha. Keberhasilan pengelolaan inkubator ditentukan beberapa

    faktor, diantaranya adalah seleksi dan rekrutmen tenant, kerja keras tim manajemen inkubator,

    jejaring inkubator, program inkubasi, dan tersedianya dana operasional untuk kegiatan inkubasi.

    Selama tiga tahun terakhir (Tahun 20122014) Pusat Inkubator Bisnis IPB mendapatkan pendanaan

    program inkubasi dari Kementerian Koperasi dan UKM. Pusat Inkubator Bisnis IPB menyampaikan

    terima kasih kepada Kementerian Koperasi dan UKM atas penghargaan yang diberikan. Semoga

    dengan penghargaan tersebut dapat memacu Inkubator Bisnis IPB untuk terus melakukan program

    inkubasi guna meningkatkan kinerja usaha UKM sehingga mampu berkembang secara mandiri,

    berkembang dan berdaya saing dalam rangka menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA).***

    IPBP a r i w a r

    a

    PARIWARA IPB/ Oktober 2015/ Volume 278Terbit Setiap Senin-Rabu-Jumat

    Penanggung Jawab : Yatri Indah Kusumastuti Pimpinan Redaksi: Siti Nuryati Redaktur Pelaksana: Rio Fatahillah CP

    Editor : Nunung Munawaroh Reporter : Siti Zulaedah, Dedeh H, Awaluddin, Waluya S, Ahsan S, Nabila Rizki A Fotografer: Cecep AW, Bambang A Layout : Devi Sirkulasi: Agus Budi P, Endih M, Untung Alamat Redaksi: Humas IPB

    Gd. Andi Hakim Nasoetion, Rektorat Lt. 1, Kampus IPB Darmaga Telp. : (0251) 8425635, Email: [email protected]

    Incubie LPPM IPB, Pengelola Inkubator Terbaik Peringkat I Tingkat Nasional

    Tim Jumat Keliling (Jumling) Institut Pertanian Bogor (IPB) tiba di Desa Sukadamai Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jumat (23/10). Jumling kali ini bertempat di Kampung Cilubang RT.1 RW. 2. Di Desa Sukadamai ini, kegiatan Jumling IPB memasuki tahun ke4. Sekretaris Desa Sukadamai, Devi Kurniawan, dalam sambutannya mengatakan, Kepedulian IPB terhadap warga lingkar kampus harus disambut dengan baik. Warga harus lebih banyak belajar menimba ilmu pengetahuan dari IPB.

    Ketua rombongan Jumling IPB, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB, Dr. Sri Nurdiati menjelaskan, Salah satu tugas mulia IPB adalah pengabdian kepada masyarakat yang termasuk dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selama ini IPB melakukan pendampingan dan kemitraan untuk memberikan manfaat secara langsung terhadap lingkungan, salah satunya desadesa lingkar kampus. Dalam kesempatan ini, Dr. Sri Nurdiati mengimbau anakanak warga Desa Sukadamai untuk belajar sungguhsungguh sejak bangku Sekolah Dasar (SD). Anakanak diharapkan bisa kuliah di IPB. Karena itu, orangtua harus mendidik anakanak untuk belajar lebih giat di sekolah, ujarnya.

    Kegiatan Jumling IPB di Desa Sukadamai dirangkai dengan pemberian santunan untuk 20 anak yatim, pemberian bantuan alat kesehatan untuk Posyandu, pemberian meja belajar dan buku tulis untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta alQuran untuk Majlis Taklim setempat. Turut hadir dalam rombongan Jumling IPB kali ini, diantaranya Wakil Kepala bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB Dr. Hartoyo, perwakilan Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) LPPM IPB Warcito, SP. MM, Agrianita IPB, tim LPPM dan tim Humas IPB. (Awl)

    Tim Jumling IPB Tiba di Desa Sukadamai

  • K i n i d u n i a d i h a d a p k a n p e r s o a l a n penyediaan pangan dengan luas lahan yang semakin sempit akibat bertambahnya jumlah penduduk. Salah satu solusi yang b i s a d i a n d a l k a n adalah pemuliaan tanaman. Dahulu banyak pilihan bisa m e n a m b a h l u a s

    lahan atau menggunakan varietas yang lebih unggul. Namun sekarang genetik yang kita punya tinggal sedikit tapi yang harus diberi makan makin banyak. Kondisi ini diperparah dengan langkanya pemulia tanaman. Saat ini hanya ada 300400 orang pemulia tanaman d i Indones ia . Padahal Indones ia membutuhkan 30004000 orang pemulia. Pemulia yang sudah adapun perlu dit ingkatkan lagi kemampuannya. Hal ini dikarenakan tidak adanya program studi khusus ilmu pemuliaan.

    Dengan ilmu pemuliaan, kita bisa mengetahui secara pasti asal usul tanaman dan kualitas tanaman. Saat ini yang sudah berkembang adalah transgenik dan merubah perilaku gen (ini sudah bisa dilakukan). Salah satu contoh adalah pengelolaan sumberdaya genetik manggis (Garcinia mangostana). Sejak tahun 1940 Horn mengatakan manggis adalah tanaman apomiksis dengan populasi yang seragam secara genetik (hanya ada satu varietas manggis). Penelitian Horn ini dilakukan di Malaysia. Hasil pengamatan di lapang yang dilakukan mengatakan hal yang sebaliknya. Pengamatan di lapang menunjukkan adanya keragaman warna bunga tanaman manggis yang diperkirakan tidak dipengaruhi lingkungan. Pengujian dengan penanda DNA dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran teori Horn.

    Penguj ian dengan beberapa penanda D N A (Isoenzime, RAPD, ERAPD, AFLD, ISSR dan SSR) menunjukkan bahwa terdapat keragaman genetik diantara individu manggis dari seluruh Indonesia, sehingga pendapat Horn terpatahkan. Penanda DNA juga digunakan untuk mengungkap pola perpindahan tanaman manggis. Hasil analisis populasi manggis menunjukkan bahwa pola perpindahan dari Purwakarta, lalu ke Tembilahan, baru ke Kerinci dan Bulukumba. Hasil tersebut memberi bukti baru bahwa manggis kemungkinan besar bukan berasal dari Malaysia melalui Sumatera, karena tetua manggis ada di Purwakarta. Riset yang telah dilakukan tidak hanya pada manggis. Banyak karya lainnya di bidang pemuliaan seperti pepaya, nanas, bawang merah, melon, pisang dan lainlain. Karya ini membuktikan betapa pentingnya ilmu pemuliaan. Oleh karena itu, diusulkan untuk dibangkitkannya kembali program studi profesi pemuliaan. (zul)

    Pada tahun 2014 tidak kurang dari 46 triliun rupiah devisa negara s e t i a p t a h u n terkurang ke luar negeri akibat impor bahan pakan. Bahan pakan masa depan yang akan dipakai untuk mendukung s istem dan model peternakan tropikal modern adalah bahan p a ka n l o ka l ya n g

    mempunyai densitas nutrien tinggi, aman dan ramah lingkungan, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, dan merupakan pakan fungsional yang efektif dan efisien dalam pemanfaatannya. Bahan pakan potensial yang akan berkembang di Indonesia adalah ulat hongkong, hijauan asal lautan, konsentrat protein dari bungkil inti sawit, tepung crude palm oli, dan singkong. Sangat disayangkan ekspor bungkil inti kelapa sawit ke luar negeri karena manfaatnya yang besar jika dilihat dari potensinya untuk pakan ternak. Untuk ruminansia memang sudah dimanfaatkan tapi untuk unggas, ikan dan babi masih kecil persentase pemanfaatannya. Bungkil inti kelapa sawit ini tidak hanya untuk pakan tapi bisa digunakan sebagai pakan fungsional karena kandungan Mannannya tinggi. Mannan terbukti mampu menghambat bakteri phatogen saluran pencernaan, dapat menurunkan kasus pullorum, dan dapat meningkatkan kekebalan pada ayam broiler, layer (ayam petelur), dan bebek dari serangan Avian Influenza. Kinerjanya sebanding dengan antibiotik growth promotor.

    Upaya untuk menghasilkan pakan masa depan terus dilakukan. Diantaranya dengan mengembangkan silase. Tidak hanya untuk hijauan tapi bisa untuk bahan pakan yang lain. Silase adalah teknologi fermentasi anaerob untuk menghasilkan tidak hanya produk pakan yang awet disimpan tetapi juga produk asam organik dan atau produk bakteri asam laktat sebagai pakan aditif. Untuk sistem peternakan ke depan, diprediksi ada dua sistem peternakan yang akan berkembang, yaitu sistem peternakan intensif yang terpusat di sentra produksi peternakan dan sistem peternakan semi intensif yang terintegrasi dengan perkebunan. Peternakan semi intensif yang terintergasi dengan perkebunan bisa produksi minyak sawit organik dan ternak organik. Untuk perbanyak ternak sebaiknya dipelihara semi intensif. Sistem peternakan semi intensif akan berorientasi pada produksi bibit dan perbanyakan ternak (khususnya ruminansia). Sistem ini diprediksikan lebih efisien dan memberikan keuntungan ganda yaitu ternak dan produk sampingnya (daun dan buah) dari pola integrasi ternak perkebunan/pertanian.(zul)

    M a s a l a h g i z i pada masa janin dan anak pada jangka pendek berakibat pada g a n g g u a n pertumbuhan d a n perkembangan otak. Dengan d e m i k i a n , berakibat pada r e n d a h n y a tingkat kualitas

    s u m b e r d a y a m a n u s i a ( S D M ) d a n produktivitasnya. Sebagian besar orang tidak menyadari pentingnya gizi selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Beberapa permasalahan selama periode seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) diidentifikasi meliputi pernikahan di usia muda, masih tingginya prevalensi anemia remaja putri dan ibu hamil, kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), berat bayi lahir rendah dan panjang badan lahir yang pendek, serta masih tingginya prevalensi stunting (pendek) pada bayi dan anak balita.

    Berbagai masalah ini akan menurunkan kualitas suatu generasi bahkan berlanjut pada generasi berikutnya bila tidak segera diatasi. Pendidikan g i z i m a s y a r a k a t a t a u d a l a m b a h a s a operasionalnya disebut Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (K IE) gizi, bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang sama tentang pengertian gizi, masalah gizi, faktor penyebab masalah gizi, dan praktik konsumsi pangan yang baik dan benar untuk perbaikan gizi. Scaling Up Nutrition (SUN) Movement merupakan suatu kegiatan yang dibentuk untuk perluasan dan percepatan perbaikan gizi di dunia dengan fokus pada 1000 HPK sejak dalam kandungan hingga dua tahun. Di Indonesia, gerakan ini dikenal sebagai Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK).

    Program spesifik dilakukan langsung terhadap kelompok sasaran 1000 HPK oleh sektor kesehatan yaitu ibu hamil, ibu menyusui, bayi 06 bulan, serta bayi dan anak usia 723 bulan. Sementara program sensitif merupakan kegiatan tidak langsung yang dilakukan oleh selain sektor kesehatan dengan sasaran masyarakat umum. Sangatlah penting untuk menerapkan strategi yang efektif untuk menjangkau mereka di seluruh negeri dengan intervensi gizi. Salah satunya perlu dilakukan dalam bentuk empowering community agar dapat bersifat sustain.(zul)

    Prof. Dr. Ir. Sobir, M.SiGuru Besar Tetap Fakultas PertanianPeran Penanda Genetik dalam Bidang Pertanian

    Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.ScGuru Besar Tetap Fakultas PeternakanPakan Potensial Masa Depan dalam Mendukung Sistem Peternakan Tropika Modern Berkelanjutan dan Berdaya Saing Tinggi

    Prof. Dr. Ir. Siti Madanijah, MSGuru Besar Fakultas Ekologi ManusiaPendidikan Gizi : Sains dan Aplikasinya dalam Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Menuju Generasi Emas

    Pada 24 Oktober 2015, IPB menggelar Orasi Ilmiah tiga Guru Besar. kegiatan yang difasilitasi oleh Direktorat Administrasi Pendidikan ini bertempat di Auditorium Andi Hakim Nasoetion. Berikut ringkasan orasi ilmiah tersebut :

    ORASI ILMIAH GURU BESAR

    Page 1Page 2

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended