Home >Documents >instalasi listrik

instalasi listrik

Date post:13-Feb-2015
Category:
View:93 times
Download:29 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB II TEORI DASAR SISTEM KELISTRIKAN

1.1

Pendahuluan Instalasi listrik merupakan suatu rangkaian dari peralatan listrik yang

saling berhubungan antar satu dengan yang lain, dan berada dalam satu lingkup system ketenaga listrikan.Instalasi listrik yang lebih baik adalah instalasi yang aman bagi manusia dan akrab dengan lingkungan sekitarnya. Mengingat bahwa listrik dapat pula membahayakan manusia dan dapat menimbulkan dampak negative terhadap lingkungan, maka selalu diupayakan agar tenaga listrik yang didistribusikan dapat dilaksanakan secara: a. Aman bagi manusia dan peralatan b. Handal dalam arti mampu menyalurkan energy listrik dengan baik bagi konsumen.

1.2

Standarisasi Salah satu upaya untuk mendapatkan suatu sistem yang tepat yaitu dengan

ditentukannya suatu standarisasi yang bertujuan untuk mencapai keseragaman dengan maksud mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan. Dengan tercapainya standarisasi, maka peralatan-peralatan listrik dapat dipergunakan dengan baik dan lebih efisien. Dua organisasi internasional yang bergerak dibidang standarisasi ini adalah

1. International Electrotechnical Commission (IEC) untuk bidang teknik listrik. 2. International Organization For Standarisation (ISO) untuk bidangbidang lainnya. Organisasi tersebut menerbitkan publikasi-publikasi yang disebut standar atau norma. Untuk teknik listrik dikenal norma-norma IEC. Kegiatan standarisasi di Indonesia dilakukan oleh beberapa departemen untuk bidangnya masingmasing. Untuk bidang teknik listrik arus kuat usaha standarisasi diprakarsai oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan beberapa instansi lainnya. Peraturan instalasi yang pertama kali digunakan sebagai pedoman beberapa instansi yang berkaitan dengan instalasi listrik adalah AVE (Algemene Voorcshriften Voor Electrische Sterkstrom Instalaties) yang diterbitkan sebagai Norma N 2004 oleh Dewan Normalisasi Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian AVE 2004 ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1964 sebagai Norma Indonesia NI6 yang kemudian dikenal sebagai Peraturan Umum Instalasi Listrik disingkat PUIL 1964, yang merupakan penerbitan pertama dan kemudian dilanjutkan untuk PUIL 1977, 1987, dan 2000 sebagai penerbitan PUIL kedua hingga keempat. Yang merupakan hasil penyempurnaan atau revisi dari PUIL sebelumnya. Jika dalam penerbitan PUIL 1964, 1977, dan 1987 nama buku ini adalah Peraturan Umum Instalasi Listrik, maka pada penerbitan tahun 2000, namanya menjadi Persyaratan Umum Instalasi Listrik dengan tetap mempertahankan singkatannya yang sama yaitu PUIL.

1

Disamping itu, PUIL 2000 tidak menyebut pembagiannya dalam pasal, subpasal, ayat dan subayat seperti pada PUIL edisi sebelumnya. Pembedaan tingkatnya dapat dilihat dari sistem penomorannya dengan digit. Di samping PUIL 2000, harus diperhatikan peraturan-peraturan lain yang ada hubungannya dengan instalasi listrik (bagian 1.3 PUIL 2000) antara lain : a. Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, beserta peraturan pelaksanaannya b. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan c. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi d. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfatan Tenaga Listrik e. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1993 tentang Usaha Penunjang Listrik f. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01.P/

40/M.PE/1990 tentang Instalasi Ketenagalistrikan g. Peraturan Mentri Pertambangan dan Energi Nomor

02.P/0322/M.PE/1995 tentang Standarisasi, Sertifikat Akreditasi Dalam Lingkungan Pertambangan dan Energi. h. Standar Perusahaan Listrik Negara (SPLN) Maksud dan tujuan Persyaratan Umum Instalasi ini adalah agar pengusahaan instalasi listrik terselenggara dengan baik, untuk menjamin keselamatan manusia dari bahaya kejut listrik, keamanan instalasi listrik beserta

2

perlengkapannya,

keamanan gedung dari kebakaran akibat listrik,

dan

perlindungan lingkungan (bagian 1.1 PUIL 2000). Persyararan Umum Instalasi Listrik ini berlaku untuk semua pengusahaan instalasi listrik tegangan rendah arus bolak-balik sampai dengan 1000V, arus searah 1500 V dan tegangan menengah sampai dengan 35 KV dalam bangunan dan sekitarnya baik perancangan, pemasangan, pemeriksaan dan pengujian, pelayanan, pemeliharaan maupun pengawasannya dengan memperhatikan ketentuan yang terkait. (Bait 1.2.1 PUIL 2000). Di samping itu, dengan adanya standarisasi tersebut diatas, maka dapat menjamin tersedianya peralatan-peralatan listrik yang memenuhi standar dipasaran dan dapat mendorong industri dalam negeri untuk memproduksi peralatan peralatan listrik.

1.3

Macam-Macam Instalasi Dalam sistim kelistrikan dikenal dua macam sistim instalasi antara lain : 1. Instalasi Dalam yaitu instalasi dalam adalah instalasi yang digunakan untuk pelayanan tenaga listrik yang terpasang di dalam gedung gedung seperti perumahan yang mendapatkan supplai tenaga listrik dari instalasi jaringan luar. 2. Instalasi Luar yaitu instalasi listrik yang dipasang diluar bangunan seperti penyalur tenaga listrik dari jaringan distribusi ke konsumen. Instalasi luar ada dua macam yaitu jaringan tegangan menengah (JTM) dan jaringan tegangan rendah (JTR).

3

y

Jaringan tegangan menengah adalah instalasi listrik penyalur tenaga listrik yang berawal dari gardu induk sampai ke trafo distribusi. Tingkat tegangan saluran primer (saluran tegangan menengah) yang umumnya dipakai di Indonesia adalah tegangan 20 KV.

y

Jaringan tegangan rendah adalah instalasi listrik jaringan distribusi sekunder, dimana jaringan distribusi tersebut langsung terhubung ke Kwh meter konsumen. Tingkat tegangan rendah saluran sekunder (saluran tegangan rendah) yang umum dipakai di Indonesia adalah tegangan 380/220 Volt.

Adapun jenis instalasi terbagi atas 1. Instalasi Penerangan 2. Instalasi Daya

1.3.1 Instalasi Daya Instalasi daya merupakan instalasi listrik yang menggunakan tenaga listrik untuk melayani mesin-mesin listrik seperti pada motor-motor listrik, pendingin ruangan, lift dan lain-lain. Adapun peralatan-peralatan yang digunakan pada instalasi daya antara lain : a. Pengaman b. Penghantar c. Kontak-kontak d. Tombol tekan

4

e. Kontaktor f. Panel

1.3.2 Instalasi Penerangan Instalasi penerangan adalah instalasi listrik yang khusus dipergunakan untuk melayani beban penerangan. Untuk pencahayaan suatu ruangan didasarkan pada fungsi daripada ruangan tersebut. Kebutuhan peralatan instalasi penerangan antara lain sebagai berikut : a. Lampu penerangan b. Saklar c. Kontak-kontak d. Pipa e. Penghantar f. Pengaman g. Kotak sambung h. Panel hubung bagi (PHB) i. Fitting

1.4

Penghantar Penghantar adalah bahan yang digunakan untuk menghubungkan suatu

titik ketitik yang lain. Penghantar yang digunakan untuk instalasi listrik adalah berupa kawat berisolasi atau kabel. Jenis penghantar yang lazim digunakan adalah tembaga dan aluminium.

5

1. Kabel Tembaga Tembaga yang digunakan untuk penghantar pada umumnya tembaga elektrostatis dengan kemurnian 99,5 %. Tahanan jenis () yang telah dijadikan standar internasional sama dengan 0,017241 Ohm mm2/m pada suhu 200 C. 2. Kabel Aluminium Aluminium untuk beban penghantar harus pula aluminium murni, yaitu dengan kemurnian sekurang kurangnya 99,5 %, juga dengan tahanan jenis tidak boleh melebihi 0,028264 Ohm mm2 /m pada suhu 20o C. berat aluminium jauh lebih ringan dibanding berat tembaga. 3. Rel ( busbar ) Rel mempunyai sifat kaku dan merupakan penghantar pejal yang dibuat dari berbagai bentuk seperti segi empat, batang, pipa persegi maupun berongga. Rel dapat dipasang sebagai penghantar tunggal (satu rel perfasa) atau berbagai penghantar ganda yakni dua rel atau lebih perfasa. Aluminium lebih ringan dibanding tembaga, namun kekuatan tarik aluminium lebih kecil dibanding kekuatan tarik tembaga. Untuk itu penghantar aluminium yang ukurannya besar dan pemasangannya direntangkan memerlukan penguat baja atau paduan aluminium pada bagian tengahnya.

1.4.1 Pemilihan Jenis dan Ukuran Penghantar

6

Ukuran luas penampang penghantar dan jenis penghantar yang dipasang dalam suatu instalasi penerangan maupun instalasi daya ditentukan berdasarkan : 1. Kemampuan Hantar Arus (KHA) dari penghantar. 2. Jatuh tegangan yang diperbolehkan. 3. Temperatur Sekitar dan Sifat Lingkungan. 4. Kekuatan Mekanis Penghantar. 5. Kemungkinan perluasan. Dalam suatu instalasi baik instalasi daya maupun instalasi penerangan digunakan berbagai jenis kabel, antara lain : 1. Kabel NYM Kabel NYM adalah penghantar yang terbuat dari tembaga polos berisolasi PVC, yang uratnya satu hingga lima. Kalau lebih dari satu, uraturatnya dibelit menjadi satu dan kemudian diberi lapisan pembungkus inti dari karet atau plastik lunak supaya bentuknya menjadi bulat. Lapisan pembungkus inti harus lunak, supaya mudah dikupas pada waktu pemasangan. Sesudah itu baru diberi selubung PVC berwarna putih. Untuk pemasangan kabel NYM berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. NYM boleh dipasang langsung menempel pada plesteran atau kayu atau ditanam langsung pada plesteran, juga diruang lembab atau basah, ditempat kerja atau gudang dengan bahaya ledakan atau kebakaran. 2. NYM boleh juga dipasang langsung pada bagian-bagian lain dari ruangan konstruksi, rangka dan sebagainya, asalkan cara

pemasangannya tidak merusak selubung luar kabelnya.

7

3. NYM tidak boleh dipasang langsung dalam tanah.

2. Kabel NYY Pada prinsipnya susunan kabel NYY sama dengan susunan kabel NYM. Hanya saja tebal isolasi dan tebal luarnya serta jenis kompon PVC yang digunakan berbeda. Warna selubung luarnya hitam, uratnya juga dapat berjumlah satu sampai lima. Kabel NYY banyak digunakan untuk instalasi industri didalam gedung maupun di

Embed Size (px)
Recommended