Home > Documents > Industri Pengawetan Kayu

Industri Pengawetan Kayu

Date post: 01-Dec-2015
Category:
Author: tilas-notapiri
View: 97 times
Download: 3 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 59 /59
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kayu telah menjadi bagian dari kehidupan manusia karena kayu telah banyak digunakan sebagai alat perlengkapan sehari-hari, dan mengingat beberapa karakteristik khas kayu yang tidak dijumpai pada bahan lain, yaitu (1) tersedia hampir di seluruh dunia, (2) mudah diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran, (3) realtif mudah pengerjaannya, (4) penampilan sangat dekoratif dan alami, serta (5) relative ringan. Kebutuhan manusia akan kayu dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan rumah tangga yang membutuhkan rumah sebagai tempat tinggalnya. Kayu merupakan komponen penting dalam perumahan, khususnya untuk kusen, pintu, jendela, dan bagian-bagian lain dari suatu bangunan perumahan. Penggunaan kayu juga semakin berkembang, tidak hanya menjadi komponen kontrusi bangunan, namun juga sebagai bahan baku perangkat interior. Banyaknya penggunaan kayu dan semakin tingginya minat masyarakat akan produk-produk olahan kayu, membuat hasil hutan ini mampu menempati posisi penting dalam peringkat kebutuhan masyarakat. 1
Transcript

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangKayu telah menjadi bagian dari kehidupan manusia karena kayu telah banyak digunakan sebagai alat perlengkapan sehari-hari, dan mengingat beberapa karakteristik khas kayu yang tidak dijumpai pada bahan lain, yaitu (1) tersedia hampir di seluruh dunia, (2) mudah diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran, (3) realtif mudah pengerjaannya, (4) penampilan sangat dekoratif dan alami, serta (5) relative ringan.Kebutuhan manusia akan kayu dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan rumah tangga yang membutuhkan rumah sebagai tempat tinggalnya. Kayu merupakan komponen penting dalam perumahan, khususnya untuk kusen, pintu, jendela, dan bagian-bagian lain dari suatu bangunan perumahan. Penggunaan kayu juga semakin berkembang, tidak hanya menjadi komponen kontrusi bangunan, namun juga sebagai bahan baku perangkat interior. Banyaknya penggunaan kayu dan semakin tingginya minat masyarakat akan produk-produk olahan kayu, membuat hasil hutan ini mampu menempati posisi penting dalam peringkat kebutuhan masyarakat.Kebutuhan kayu tersebut selama ini diperoleh dari penebangan pohon di hutan alam dan sebagian lagi dipenuhi dari hutan tanaman. Saat ini kebutuhan masyarakat akan kayu semakin sulit dipenuhi karena potensi dan volume tebangan di hutan alam semakin berkurang. Dampak yang dirasakan dengan menurunnya jumlah pasokan kayu adalah industri kayu mengalami kesulitan untuk memperoleh bahan baku sehingga menyebabkan naiknya harga bahan baku serta harga jual dari produk kayu tersebut.Upaya pengawetan kayu sebenarnya sudah lama dilaksanakan, namun dalam perjalanannya banyak menghadapi hambatan dan kendala sehingga industri pengawetan kayu yang ada baik berskala usaha kecil, menengah, dan besar tidak berkembangan sebagaimana yang diharapkan. Kendala-kendala tersebut meliputi: biaya pengawetan yang relatif tinggi, kayu yang sudah diawetkan mempunyai harga yang relatif tinggi dan tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat, kebijakan dan perundangan yang ada belum mendukung berkembangannya penggunaan kayu yang diawetkan sehingga industri-industri pengewatan kayu tidak berkembang bahkan banyak yang bangkrut.Sejarah perkembangan pengawetan kayu dimulai pada tahun 1911 oleh Jawatan Kereta Api (JKA) dengan mengimpor bantalan kayu yang telah diawetkan hingga tahun 1997 sebagai tahun penggalangan pengawetan kayu. Sekalipun usaha pengawetan kayu sudah ada sejak jaman Belanda, namun demikian pengembangan pengawetan kayu juga dihadapkan pada beberapa kendala, seperti : (1) salah persepsi, (2) lemahnya kapasitas kelembagaan, (3) organisasi yang kurang tepat, (4) sumber daya manusia yang rendah, dan (5) kurangnya sarana dan prasarana.

1.2 Rumusan MasalahDengan memperhatikan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka dalam penelitian ini penulis akan mengemukakan beberapa permasalahan yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu :Industri pengawetan kayu mengalami kesulitan untuk memperoleh bahan baku sehingga menyebabkan naiknya harga bahan baku serta harga jual dari produk kayu tersebut. Dalam perjalanannya industri ini banyak menghadapi hambatan dan kendala sehingga industiy-industri pengewatan kayu tidak berkembang bahkan banyak yang bangkrut. Sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang terampil dan produktif kerap dialami industri ini. Hal ini disebabkan karena rendahnya minat masyarakat terhadap jenis pekerjaa ini. Selain itu, pemanfaatan mesin belum mampu meningkatkan produksi industri ini. Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah:1. Apakah faktor produksi yaitu tenaga kerja, bahan baku, dan mesin berpengaruh terhadap produksi industri pengawetan kayu?2. Apakah faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi industri pengawetan kayu berdasarkan skala usahanya?3. Apakah faktor produksi yang paling berpengaruh terhadap produksi industri pengawetan kayu?4. Bagaimana nilai elastisitas produksi dan skala usaha industri pengawetan kayu?5. Berapakah nilai average product per variabel dan marginal product untuk setiap variabel?

1.3 Tujuan PenelitianBerdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:1. Menganalisis pengaruh faktor produksi yaitu tenaga kerja, bahan baku, dan mesin terhadap produksi industri pengawetan kayu2. Menganalisis faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi industri pengawetan kayu berdasarkan skala usahanya3. Menganalisis faktor produksi yang paling berpengaruh terhadap produksi industri pengawetan kayu4. Menganalisis nilai elastisitas produksi dan skala usaha industri pengawetan kayu5. Menganalisis nilai average product per variabel dan marginal product untuk setiap variabel

1.4 Manfaat PenelitianDiharapkan hasil dari penelitian ini dapat digunakan oleh seluruh stakeholder dalam mempertahankan dan memajukan produksi industri pengawetan kayu. Dalam hal ini stakeholder yang terkait diantaranya mencakup tiga pihak yaitu pemerintah sebagai pengambil kebijakan, pelaku ekonomi (produsen, konsumen), dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai data dasar (bench mark data) bagi penelitian selanjutnya yang terkait dalam bidang ini. Dan diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan produksi dan ketenagakerjaan.

BAB IILANDASAN TEORI

2.1 Kajian Teori2.1.1 IndustriMenurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan, pengertian industry adalah sebagai berikut : Industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi penggunaannya, tidak termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri (Departemen Perindustrian, UU No. 5 Tahun 1984, tentang Perindustrian).Menurut simposium hukum perindustrian, yang dimaksud dengan industry adalah rangkaian kegiatan usaha ekonomi yang meliputi pengolahan dan pengerjaan atau pembuatan, perubahan dan perbaikan bahan baku menjadi barang sehingga pada akhirnya akan lebih berguna dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat (Simanjuntak, 1998 : 47).Badan Pusat Statistik (2000) menyatakan bahwa industri adalah suatu unit (kesatuan) usaha yang melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa, dan terletak pada suatu bangunan atau suatu lokasi tertentu serta mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biayanya. Dalam teori ekonomi disebutkan bahwa industri merupakan kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang yang sama.Jadi, industry merupakan suatu unit yang melakukan kegiatan ekonomi meliputi pengolahan, pengerjaan, perubahan dan perbaikan bahan baku menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi, serta mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biayanya.

2.1.2 Jenis-jenis IndustriPengelompokan industri dilaksanakan oleh Departemen Perindustrian, industri Nasional Indonesia dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu:a. Industri Dasar, yang meliputi kelompok Industri Mesin dan Logam Dasar (IMLD) dan kelompok Industri Kimia Dasar (IKD). Yang termasuk dalam IMLD antara lain : industri mesin pertanian, elektronika kereta api, pesawat terbang, kendaraan bermotor, besi baja, dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk IKD antara lain : industri pengolahan kayu dan karet alam, industri pestisida, industry pupuk, industri semen, industri silikat, dan lain sebagainya.b. Industri Kecil, yang meliputi antara lain : industri pangan (makanan, minuman, tembakau), industri sandang dan kulit (tekstil, pakaian jadi, serta barang dari kulit), industri kimia dan bahan bangunan (industri kertas, percetakan, plastik, dan sebagainya), industri galian bukan logam, industri logam (mesin-mesin, alat-alat ilmu pengetahuan, barang dari logam, dan sebagainya).c. Industri Hilir, yaitu kelompok Aneka Industri (AI) yang meliputi antara lain : industri yang mengolah sumber daya hutan, industri yang mengolah hasil pertambangan, industri yang mengolah sumber daya pertanian secara luas, dan sebagainya.Sedangkan pengelompokan industri menurut jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan, menurut BPS pengelompokan industri ini dibedakan :1. Industri Besar, jika mempekerjakan 100 orang atau lebih2. Industri Sedang, jika mempekerjakan antara 20 99 orang3. Industri Kecil, jika mempekerjakan antara 5 19 orang4. Industri Kerajinan Rumah Tangga, jika memperkerjakan antara 3 4 orangDengan melihat perkembangan industri saatberdasarkan oengelompokkan jenisindustri dan julah tenaga kerja yang dipekerjakan, industri pengawetan kayu .merupakan industri hilir dan termasuk industri sedang dan besar.

2.1.3 ProduksiMenurut Bishop dan Toussaint (Wiwit, 2006) produksi adalah suatu proses dimana beberapa barang dan jasa yang disebut input diubah menjadi barang-barang dan jasa lain yang disebut output. Banyak jenis aktivitas yang terjadi dalam proses produksi, meliputi perubahan bentuk, tempat dan waktu penggunaan hasil-hasil produksi. Output perusahaan yang berupa barang-barang produksi tergantung pada jumlah input yang digunakan dalam produksi. Dalam ilmu ekonomi, terdapat tiga masalah pokok berupa mencari jawaban atas pertanyaan 1). Apa (what) yang akan diproduksi dan berapa jumlahnya. 2). Bagaimana (how) cara menghasilkan/memproduksi barang dan atau jasa tersebut. 3). Untuk siapa (for whom) barang dan atau jasa tersebut dihasilkan/diproduksi. Perusahaan yang akan menghasilkan suatu produk menghadapi keterbatasan sumber daya (faktor produksi), sehingga perusahaan memilih alternatif terbaik yang akan digunakan untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Cara perusahaan menghasilkan produk yang diinginkan tergambar dalam proses produksi. Setiap proses produksi memiliki elemen utama sistem produksi yaitu input, proses dan output. Input merupakan sumberdaya yang digunakan dalam proses produksi, proses merupakan cara yang digunakan untuk menghasilkan produk dan output merupakan produk yang ingin dihasilkan (Wiwit, 2006). Keterkaitan antara elemen sistem produksi digambarkan sebagai berikut:Gambar Skema Sistem ProduksiInputOutputProses

How?What? Menurut Herawati (2008) produksi tidak lepas dari penggunaan sumber-sumber yang ada untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa, sehingga barang atau jasa yang dihasilkan akan mempunyai nilai ekonomis untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba dari hasil usaha yang dilakukan.Di dalam suatu produksi tidak lepasdari adanya proses produksi. Pada produksi industri pengawetan kayu ini membutuhkan berbagai jenis factor produksi, diantaranya terdiri dari jumlah tenaga kerja, bahan baku utama, dan teknologi mesin. Dengan menggunakan faktor produksi pada setiap proses produksi, perlu kiranya dikombinasikan dalam jumlah dan kualitas tertentu. Definisi dari faktor produksi tersebut adalah jenis-jenis sumber daya yang digunakan dan diperlukan dalam suatu proses produksi guna menghasilkan barang dan jasa.

2.1.4 Faktor Produksi Tenaga KerjaSetiap perusahaan dalam melakukan proses produksi tidak dapat hanya mengandalkan pemanfaatan fasilitas dengan teknologi modern, karena sistem produksi membutuhkan jasa tenaga kerja untuk memperlancar proses produski yang akan bermanfaat bagi masyarakat. Tenaga kerja merupakan resources, tepatnya human resources atau sumber daya manusia yang berperan dalam kegiatan pembangunan masyarakat. Peranan tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi sangat besar terhadap sektor industri yang banyak berorientasi pada sektor padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja.Menurut Herawati (2008), tenaga kerja adalah orang yang melaksanakan dan menggerakkan segala kegiatan, menggunakan peralatan dengan teknologi dalam menghasilkan barang dan jasa yang bernilai ekonomi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Skala usaha akan mempengaruhi besar kecilnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Biasanya perusahaan kecil akan membutuhkan jumlah tenaga kerja yang sedikit, dan sebaliknya perusahaan besar akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja.Faktor produksi tenaga kerja berpengaruh positif terhadap suatu industry karena faktor tenaga kerja sangat dibutuhkan dalam proses produksi. Produsi akan berhenti jika tenaga kerja yang diperlukan mengalami gangguan, sehingga berdampak pada penjualan yang akan diterima perusahaan. Dengan demikian tenaga kerja akan berpengaruh terhadap pertumbuhan industri pengawetan kayu di Indonesia.

2.1.5 Faktor Input Bahan BakuBahan baku merupakan bahan dasar yang dibutuhkan dalam proses pengolahan/industri. Bahan baku penting artinya dalam mempertinggi efisiensi pertumbuhan ekonomi. Di dalam masyarakat yang kurang maju sekalipun bahan baku sangat besar peranannya dalam kegiatan ekonomi, pada dasarnya bahan baku merupakan hal mendasar dalam meningkatkan hasil produktivitas disektor industri, pemilihan bahan baku yang bermutu tinggi dan pengolahan maksimal akan menghasilkan produksi yang dapat memuaskan masyarakat atau konsumen.Faktor input bahan baku sangat dibutuhkan dalam proses kegiatan produksi. Kegiatan produksi akan berhenti jika bahan baku tidak tersedia ataupun harga bahan baku mengalami kenaikan, sehingga berdampak pada penjualan yang akan diterima perusahaan. Dengan demikian faktor input bahan baku akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan industri.Dalam industri pengawetan kayu, bahan baku yang dipakai tentunya adalah kayu. Kayu yang merupakan hasil hutan dari kekayaan alam merupakan bahan mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang jadi dengan menggunakan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.

2.1.6 Faktor Produksi MesinMesin adalah suatu peralatan yang digerakkan oleh suatu kekuatan atau tenaga yang digunakan untuk membantu proses dalam mengerjakan produk atau bagian-bagian produk tertentu (Mardiyana, 1998; 78).Mesin merupakan faktor produksi yang jumlah penggunaannya tidak tergantung pada jumlah produksi (faktor produksi tetap). Ada tidaknya kegiatan produksi, faktor produksi harus tetap tersedia. Sampai tingkat interval produksi tertentu jumlah mesin perlu ditambah. Tapi jika tungkat produksi menurun bahkan sampai nol unit (tidak berproduksi), jumlah mesin tidak bisa dikurangi.

2.1.7 Fungsi ProduksiFungsi produksi merupakan fungsi yang menunjukkan output terbesar yang dihasilkan suatu perusahaan untuk setiap kombinasi input tertentu ( Pindyck & Rubinfeld. 2009). Fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara berbagai kombinasi input yang digunakan untuk menghasilkan output. Fungsi produksi yang menunjukkan hubungan antara jumlah produk dengan input yang digunakan daam proses produksi, dapat diformulasikan secara matematis sebagai berikut:Q = f (X1, X2, , Xn) . (2.1)Dimana :Q= jumlah ouput yang dihasilakn selama periode tertentuX1, X2, , Xn= berbagai input yang digunakanDalam pembahasan teori ekonomi produksi, fungsi produksi merupakan cara yang paling banyak diminati dan dianggap penting. Hal tersebut disebabkan karena beberapa hal, antara lain:a. Dengan fungsi produksi, maka peneliti dapat mengetahui hubungan antara faktoer produksi (input) dan produksi (output) secara langsung dan hubungan tersebut dapat lebih mudah dimengerti.b. Dengan fungsi fungsi produksi, maka peneliti dapat mengetahui hubungan antara variabel yang dijelaskan (dependent variable), Y, dan variabel yang menjelaskan (independen variable), X, serta sekaligus mengetahui hubungan antar variabel penjelas.Fungsi produksi yang diperoleh dapat dipakai untuk menguji serta mengukir efisiensi dari suatu proses produksi. Dalam proses produksi sejumlah produk tertentu daoat diperoleh dengan menggunakan beberapa factor produksi yang berbeda-beda kombinasinya. Dalam usaha produksi perusahaan berusaha untuk memadukan berbagai factor produksi agar tercapai suatu kondisi yang efisien. Kondisi tersebut dapat digambarkan oleh fungsi produksi yang melihat hubungan antara tingkat produksi dengan penggunaan factor produksi.

2.1.8 Fungsi Produksi Cobb-DouglassFungsi produksi Cobb-Douglass merupakan suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel satu disebut variable dependen (Y) dan yang lain disebut variabel independent (X), penyelesaian hubungan antara X dan Y adalah biasanya dengan cara regresi, dimana variasi dari Y akan dipengaruhi variasi X, dengan demikian kaidah-kaidah pada garis regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsi Cobb-Douglas (Soekartawi, 1990). Secara sistematik, fungsi Cobb-Douglas dapat dituliskan seperti persamaan sebagai berikut : Y = X11 X22 X33 Xii Xnn eu = Xii eu (2.2)Fungsi Cobb-Douglas tersebut dinyatakan oleh hubungan Y dan X, maka :Y = f(X1, X2, , Xi, , Xn)Untuk memudahkan pendugaan terhadap persamaan di atas, maka persamaa tersebut diubah menjadi bentuk linier berganda dengan melogaritma-naturalkan persamaan tersebut, yaitu : ln Y = + b1 ln X1 + b2 ln X2 + b3 ln X3 + bn ln Xn + e . (2.3)dimana: Y= output produksiX1, , Xn= faktor produksi= konstantab1, , bn= koefisien regresie= kesalahan pengganggupada persamaan tersebut terdapat b1, , bn yang merupakan konstanta walaupun variable yang terlibat telah dilogaritmanaturalkan, hal ini menunjukkan elastisitas X terhadap Y dan jumlah elastisitas yang merupakan return to scale.Dalam penelitian ini digunakan fungsi produksi model Cobb-Douglas, dengan pertimbangan bahwa dengan model Cobb-Douglas ini relatif mudah untuk melakukan analisis. Keuntungan lain dari fungsi produksi model Cobb-Douglas ini elastisitas produksi dari masing-masing faktor dapat sekaligus diketahui dari koefisien masing-masing faktor produksi tersebut.

2.1.9 Return to Scale (RTS)Return to scale (RTS) adalah tingkat dimana output meningkat karena input meningkat secara proporsional. Dalam Return to scale terdapat tiga kemungkinan yaitu increasing, constant, atau decreasing return to scale. Jika output yang dihasilkan lebih dari dua kali lipat ketika input dilipat gandakan, maka terjadi Increasing return to scale. Contant return to scale terjadi ketika penambahan satu satuan faktor produksi menyebabkan kenaikan hasil yang tetap. Artinya bila input dinaikkan dua kali lipat, output juga akan naik dua kali lipat. Dan decreasing return to scale terjadi ketika penambahan satu unit faktor produksi menyebabkan pertambahan produksi menjadi berkurang. Untuk menjelaskan hal ini digunakan jumlah besaran elastisitas b1, , bn yang mempunyai kemungkinan lebih besar dari satu, sama dengan satu atau lebih kecil dari satu. Kemungkinan tersebut yaitu:a. Increasing return to scale, apabila (b1 + b2 + + bn) > 1, artinya bahwa proporsi penambahan faktor produksi (input) akan menghasilkan tambahan produksi (output) dengan proporsi yang lebih besar. b. Constant return to scale, apabila (b1 + b2 + + bn) = 1, artinya bahwa proporsi penambahan faktor produksi (input) sama dengan penambahan produksi (output) yang dihasilkan. c. Decreasing return to scale, apabila (b1 + b2 + + bn) < 1, artinya bahwa proporsi penambahan faktor produksi (input) akan melebihi penambahan produksi (output).Hasil di atas secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut:1 b1 + b2 + + bn 1 (2.4)

2.2 Penelitian TerkaitPenelitian yang dilakukan oleh Rahmat Mustofa (2008) yang bertujuan untuk menganalisis pendapatan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tahu. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan model fungsi produks Cobb-Douglass. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor-faktor produksi pada usaha skala besar yang memberikan pengaruh nyata pada output produksi tahu adalah variabel kedelai sedangkan yang tidak berpengaruh nyata yaitu variabel bahan coko dan tenaga kerja. Pada faktor produksi pada skala kecil yang berpengaruh nyata adalah variabel kedelai, tenaga kerja dan air, sedangkan yang kurang berpengaruh nyata adalah variabel coko.Penelitian yang dilakukan Panca Kurniasari (2011) melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis faktor produksi yang paling berpengaruh terhadap jumlah produksi genteng press dan menganalisis tingkat efisiensi industri kecil genteng press di Desa Meteseh. Analisis data dilakukan dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas, pengujian skala usaha, dan pengujian efisiensi, baik efisiensi teknis, efisiensi harga dan efisiensi ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel tanah liat, tenaga kerja, dan kayu bakar berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah produksi genteng press, sedangkan variabel pendidikan pengusaha berpengaruh negatif dan tidak signifikan. Variabel yang paling berpengaruh terhadap jumlah produksi genteng press adalah tanah liat.

2.3 Kerangka PikirProduksi merupakan suatu proses transformasi input menjadi output. Input dalam industri pengawetan kayu terdiri dari bahan baku yaitu kayu, tenaga kerja, mesin, sementara outputnya adalah jumlah kayu yang diawetkan. Produksi akan tercapai secara optimal jika tercapai suatu efisiensi produksi.Gambar 2.1Kerangka Pemikiran TeoritisProduksi Pengawetan Kayu (Y)Mesin (X3)Tenaga Kerja (X2)Bahan Baku (X1)

2.4 HipotesisBerdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terkait sebelumnya, maka hipotesis yang akan dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Pengaruh bahan baku, tenaga kerja, dan mesin terhadap produksi pengawetan kayu.H0 : 1 = 2 = 3 = 0artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara bahan baku, tenaga kerja, dan mesin terhadap produksi pengawetan kayu.H1 : i 0, dimana i = 1, 2, 3Artinya minimal ada satu variable independen yaitu bahan baku, tenaga kerja, dan mesin yang berpengaruh terhadap produksi pengawetan kayu.2. Pengaruh bahan baku terhadap produksi pengawetan kayuH0 : 1 = 0,Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara bahan baku terhadap produksi pengawetan kayu.H1 : 1 0Artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara bahan baku terhadap produksi pengawetan kayu.3. Pengaruh tenaga kerja terhadap produksi pengawetan kayuH0 : 2 = 0Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara tenaga kerja terhadap produksi pengawetan kayu.H1 : 2 0Artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara tenaga kerja terhadap produksi pengawetan kayu.4. Pengaruh mesin terhadap produksi pengawetan kayuH0 : 3 = 0Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara mesin terhadap produksi pengawetan kayu.H1 : 3 0Artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara mesin terhadap produksi pengawetan kayu.

BAB IIIMETODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup PenelitianPenelitian ini merupakan studi kasus yang dilaksanakan di wilayah Indonesia sehubungan dengan tujuan penelitian, yaitu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri pengawetan kayu di Indonesia (Y). Faktor-faktor yang dianggap berpengaruh yaitu tenaga kerja (L), bahan baku (K), dan mesin (M).

3.2 Metode Pengumpulan DataData yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang bersumber dari subdirektorat Industri Besar dan Sedang Badan Pusat Statistik (BPS). Data yang digunakan antara lain data produksi, bahan baku, data mesin dan tenaga kerja. Data yang digunakan merupakan data hasil survey IBS tahun 2010.

3.3 Metode Analisis DataMetode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis inferensia. Analisis deskriptif dengan menggunakan tabel. Analisis inferensia dengan menggunakan analisis regresi linear berganda.Analisis DeskriptifAnalisis deskriptif merupakan bentuk analisis sederhana yang bertujuan untuk mempermudah penyajian data dengan menganalisis data tabel. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum mengenai suatu fenomena pada penelitian yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui gambaran umum kondisi industri pengawetan kayu IndonesiaAnalisis Inferensia3.3.1 Analisis Regresi Linear BergandaUntuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi produksi industri pengawetan kayu di Indonesia digunakan model fungsi Cobb-Douglass dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Adapun alat bantu yang digunakan untuk mengolah data tersebut adalah program SPSS versi 20.0.Analisis regresi digunakan untuk memprediksi hubungan sebab akibat antara variable independen dengan variable dependen. Dalam analisis regresi tersebut, selain mengukur kekuatan hubungan juga menunjukkan arah hubungan antara variable independen dengan variable dependen.Selain itu, alasan dipakainya analisis regresi adalah bahwa antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya dalam mengelola usaha berbeda-beda dalam jumlah penggunaan input baik dalam jumlah bahan baku, mesin dan jumlah tenaga kerja.Dalam penelitian ini variable independen yang digunakan yaitu bahan bahu, tenaga kerja dan mesin, maka spesifikasi model fungsi Cobb-Douglasnya yaitu:Prod = 0 L1 K2 M 3 eu(2.3)Selanjutnya agar dapat diestimasi, maka model penelitian ini dilakukan log terhadap variable yang digunakan. Maka spesifikasi model penelitian ini sebagai berikut:ln Prod = ln 0 + 1 ln L + 2 ln K + 3 ln M + u..(2.4)Dimana: Prod = jumlah output yang dihasilkanL= input tenaga kerjaK= input bahan bakuM= input nilai dari mesin 0= konstanta1= elastisitas input bahan baku2= elastisitas input tenaga kerja3= elastisitas input nilai dari mesinu= elastisitas factor produksi lain yang tidak diteliti

3.3.2 Uji Asumsi KlasikUji asumsi klasik digunakan untuk menguji, apakah model regresi yang digunakan dalam penelitian ini layak diuji atau tidak. Uji asumsi klasik digunakan untuk memastikan bahwa multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas tidak terdapat dalam model yang digunakan dan data yang dihasilkan terdistribusi normal. Jika keseluruhan syarat tersebut terpenuhi, berarti bahwa model analisis telah layak digunakan. Uji penyimpangan asumsi klasik, dapat dijabarkan sebagai berikut:

3.3.2.1 Uji NormalitasUji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan variabel independen memiliki data yang terdistribusi normal atau tidak. Data yang terdistibusi normal menunjukkan bahwa tidak terdapat nilai ekstrem yang nantinya dapat mengganggu hasil data penelitian. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal/mendekati normal. Untuk mendeteksi normalitas data maka dilakukan analisis statistik yang salah satunya dapat dilihat melalui uji Kolmogorov-Smirnov (K-S). Dalam uji KS terdapat nilai asymp. sig (2-tailed) yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Jika nilai asymp. sig. (2-tailed) lebih besar dari nilai pada tingkat signifikansi 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data terdisribusi normal. Namun sebaliknya apabila nilai asymp. sig (2-tailed) < pada tingkat signifikansi 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data tidak terdistribusi normal.

3.3.2.2 Uji MultikolinearitasUji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikoliniearitas didalam model ini adalah sebagai berikut : Jika nilai tolerance < 1 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi. Jika nilai tolerance > 1 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

3.3.2.3 Uji HeteroskedastisitasUji heteroskedasitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah yang terjadi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala heteroskedastisitas dalam model penelitian yang dianalisis dapat dilakukan melihat plot antara i dengan , jika menunjukkan pola acak maka tidak terdapat heteroskedastisitas atau asumsi kesamaan varians (homoskedastisitas) terpenuhi.

3.3.2.4 Uji AutokorelasiUji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada masalah autokorelasi. Model regresi yang baik adalah yang bebas autokorelasi.Untuk mendeteksi autokorelasi, dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson (dW test). Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi ditentukan sebagai berikut: Jika nilai durbin Watson (dW) berada di antara nilai dU hingga 4-dU berarti asumsi tidak terjadinya autokorelasi terpenuhi. Sementara apabila nilai dW4-dL terjadi autokorelasi negatif. Sementara apabila nilai dW berada di antara dL sampai dengan dU (dL


Recommended