Home >Documents >HIV AIDS direktur_P2ML.ppt

HIV AIDS direktur_P2ML.ppt

Date post:21-Oct-2015
Category:
View:237 times
Download:15 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • Dr. Slamet, MHPDirektur PPMLDITJEN PP & PL, KEMENKES

    *

    MDG 5 : Menurunkan angka kematian ibu melahirkanMDG 6 : Mengendalikan dan mulai menurunkan jumlah infeksi baru HIVMDG 1: Menurunkan prevalensi balita dengan berat badan rendah / kekurangan gizi MDG 4: Menurunkan Angka kematian bayi & balita MDG 6: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan kasus baru malariaMDG 6: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan kasus baru TuberkulosisTarget yang telah tercapai

    Target yang menjadi perhatian khususTarget yang diperkirakan akan dicapai

  • *Laporan dari Dinkes provinsiAIDS lebih besar, kasus ditemukan sudah sakit

    Chart1

    8594987

    71953514

    60484425

    103624943

    97935483

    215916845

    210317004

    215115686

    10210780

    Jumlah Kasus HIV

    Jumlah Kasus AIDS

    Tahun

    Jumlah Kasus

    859

    7.195

    6.048

    10.362

    9.793

    21.591

    21.031

    21.511

    10.210

    aids umur

    Kategori UmurKategori Umur

    PercentFrequencyPercentValid PercentCumulative Percent

    Valid=603.9.984.4

    Tidak Melaporkan Umur15.6tak diketahui5015.615.6100.0

    Total100.0Total320100.0100.0

    aids umur

    aids sex

    jenis kelamin

    Percent

    ValidLaki - Laki55.3

    Perempuan29.1

    Tidak Melaporkan Jenis Kelamin15.6

    Total100.0

    jenis kelamin

    FrequencyPercentValid PercentCumulative Percent

    ValidLaki - Laki17755.355.355.3

    Perempuan9329.129.184.4

    Tidak diketahui5015.615.6100.0

    Total320100.0100.0

    aids sex

    aids pekerjaan

    pekerjaanpekerjaan

    FrequencyFrequency

    ValidSeniman/artis/aktor/pengrajin1ValidTenaga non profesional (karyawan)54

    Anggota ABRI/POLRI1Seniman/artis/aktor/pengrajin1

    Pelaut1Buruh kasar23

    Anak sekolah/mahasiswa3Pegawai Negeri Sipil12

    Penjaja sex4Supir8

    Supir8Ibu rumah tangga63

    Pegawai Negeri Sipil12Anak sekolah/mahasiswa3

    Petani/peternak/nelayan18Wiraswasta/usaha sendiri33

    Buruh kasar23Petani/peternak/nelayan18

    Wiraswasta/usaha sendiri33Anggota ABRI/POLRI1

    Tenaga non profesional (karyawan)54Penjaja sex4

    Ibu rumah tangga63Pelaut1

    Tidak diketahui44Tidak diketahui44

    Lain-lain55Lain-lain55

    Total320Total320

    aids pekerjaan

    10 provinsi terbanyak

    prov unit pemeriksa

    FrequencyPercentValid PercentCumulative Percent

    ValidNanggroe Aceh Darussalam72.22.22.2

    prov unit pemeriksaLampung5015.615.617.8

    FrequencyKepulauan Bangka Belitung123.83.821.6

    ValidSulawesi Selatan80Banten319.79.731.3

    Nusa Tenggara Timur76Nusa Tenggara Timur7623.823.855.0

    Lampung50Sulawesi Utara226.96.961.9

    Banten31Sulawesi Selatan8025.025.086.9

    Sulawesi Tenggara25Sulawesi Tenggara257.87.894.7

    Sulawesi Utara22Gorontalo41.31.395.9

    Kepulauan Bangka Belitung12Sulawesi Barat1.3.396.3

    Maluku12Maluku123.83.8100.0

    Nanggroe Aceh Darussalam7Total320100.0100.0

    Gorontalo4

    Sulawesi Barat1

    Total320

    10 provinsi terbanyak

    aids faktor risiko

    hirarki faktor resikohirarki faktor resiko

    PercentFrequencyPercentValid PercentCumulative Percent

    Validtak diketahui0.6Validtak diketahui2.6.6.6

    IDU14.1IDU4514.114.114.7

    Heterosex78.4Heterosex25178.478.493.1

    Homosex2.5Homosex82.52.595.6

    Bisex0.3Bisex1.3.395.9

    Perinatal4.1Perinatal134.14.1100.0

    Total100.0Total320100.0100.0

    aids faktor risiko

    HIV AIDS per tahun

    TahunJumlah Kasus HIVJumlah Kasus AIDS

    1s.d. 2005$859$4,987

    22006$7,195$3,514

    32007$6,048$4,425

    42008$10,362$4,943

    52009$9,793$5,483

    62010$21,591$6,845

    72011$21,031$7,004

    82012$21,511$5,686

    92013*$10,210$780

    Total103759$43,667

    HIV AIDS per tahun

    Jumlah Kasus HIV

    Jumlah Kasus AIDS

    adis per tahun

    No.TahunJumlah Kasus AIDS

    1sd 2005$4,987

    22006$3,514

    32007$4,425

    42008$4,943

    52009$5,483

    62010$6,845

    72011$7,004

    82012$5,686

    92013$780$1,016

    Total$43,667

    aids per umur

    Tahun

  • Prevalensi HIV usia 15-49 tahun
  • NoINDIKATORTARGET 2014Target 2012Capaian2012CAPAIAN(%)1Prevalensi HIV

  • Permenkes 21/2013Tugas dan tanggungjawab Pemerintah Provinsi (Pasal 7)Tugas dan tanggungjawan Pemerintah Kabupaten/Kota (Pasal 8)Pemeriksaan diagnosis HIV : KTS dan TIPK (Pasal 22, 23, 24)Fasilitas Pelayanan Kesehatan, termasuk Rumah sakit (41 dan 42)SE Menkes Pelaksanaan Pengendalian HIV-AIDS dan IMS no 129/2013SE Menkes No.1/2013 ttg PPIASE Dirjen P2PL ttg Alokasi Pembiayaan Logistik P2 HIV-AIDS 27 Maret 2013

  • Estimasi dan Proyeksi Prevalensi HIV pada Populasi Usia 15-49 Tahun di Indonesia Tahun 2011-2016

    Chart1

    0.38

    0.41

    0.43

    0.46

    0.48

    0.5

    Column2

    Tahun

    Prevalensi HIV (%)

    Sheet1

    Column1Column2

    20110.38

    20120.41

    20130.43

    20140.46

    20150.48

    20160.5

    *

    Telah diadakan pertemuan dengan 33 propinsi terkait revitalisasi program IMS di fasyankes primer agar Dinkes propinsi dan kab/kota memperluas/mengaktifkan kembali layanan IMS di fasyankes primerMelalui dukungan BUKD telah diintegrasikan materi LKB dalam TOT Managemen Puskesmas Telah tersusun modul pelatihan LKB dalam kurikulum pelatihan manajemen di Puskesmas Dokumentasi good practice layanan IMS di 5 kab/kota (Tj Pinang, Kota Malang, Surabaya, Denpasar, Kota Jayapura

    *

    Revisi pedoman Tes dan Konseling HIVToT konselor (33 provinsi) saat ini sedang berlangsung Integrasi pemeriksaan HIV pada pilot project penapisan Hepatitis B pada bumil di DKI Jakarta Penyediaan media KIE untuk peningkatan pengetahuan KomprehensifPelatihan SIHA di 33 propinsi Pelatihan petugas monev dan pelatihan integrasi sero sentinel + SCP

  • Melakukan kegiatan review PMTS bersama KPANRevisi modul pelatihan IMS, dengan memasukkan materi terkait LSLPenyusunan pedoman manajemen program IMS Update pedoman klinis IMSKondom sebagai dual protection : alat kontrasepsi dan pencegahan HIV dan IMSPenguatan PPIA dan Eliminasi sifilis kongenital di kab/kota pada 5 propinsi sebagai fokus awal Integrasi pemeriksaan IVA dengan pemeriksaan IMS (kolaborasi dengan Subdit Kanker)

  • Pengembangan LKBPeningkatan cakupan tes HIV dan cakupan pengobatan ARV melalui Penggunaan strategi ARV sebagai Pengobatan dan PencegahanPelaksanaan Demonstration site PPIA (semua ibu hamil ke layananan KIA dilakukan tes HIV dan Sifilis)Penguatan sistim informasi melalui SIHA dan survey lainnya

  • *KOMISI PENANGGULANGAN AIDS (KPA)KELUARGA

    *

    Layanan Komprehensif HIV dan IMS berkesinambungan (LKB)KomprehensifLayanan terintegrasi dengan layanan yang adaPromotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatifMelibatkan seluruh sektor terkait, masyarakat termasuk swasta, LSM, TOMA, TOGA dsb.BerkesinambunganLayanan sejak dari rumah atau komunitas, hingga ke fasyankes dan kembali ke rumah/masyarakatSehingga:Retensi pada perawatan dan pengobatan meningkatKualitas hidup meningkatPenularan menurun

    *

    Meningkatkan peran rumah sakit dalam pengendalian HIV dan IMS baik di dalam maupun di luar RS Hospital without wallMeningkatkan partisipasi masyarakat/komunitas dalam pemanfaatan layanan melalui LKBMengembangkan jejaring mentoring klinis horizontal maupun vertikal

  • RS Rujukan Tersier (RS Provinsi)Mentoring eksternal berpasangan dengan mentor lokal pada awal kunjungan bila perluKunjungan mentoring berkala oleh dokter/ mentor berpengalamanKunjungan supervisi berkala oleh tim Dinkes Kab/Kota RS Kab/Kota Tingkat Kabupaten/KotaPuskesmasPuskesmasPuskesmasPENDEKATAN Kunjungan mentor ke lokasiMentoring jarak jauhKonsultasi melalui telefonHot line serviceInternet based mentoring

  • Kota DenpasarKab BadungKota Jakarta BaratKota SurabayaKota MakassarKota BandungKota ManadoKota MedanKab SorongKab JayapuraKota Tanjung PinangKota PekanbaruKota PadangKota JambiKota Palembang

    JaktimJakselKota BogorKota SemarangKota Surakarta

    Kab IndramayuKab SemarangKab BulelengKab JayawijayaKab Fak-fak

    Kab GarutKab TasikmalayaKab CiamisKab KuninganKab KendalKab TegalKota TegalKab KediriKab PaniaiKab NabireKota BanjarmasinKab Pare-PareKab JemberKab MajalengkaKab. JombangBandar LampungKab TangerangKota CilegonJakarta PusatJakarta Utara

    Kota BekasiKab BekasiKab CirebonKab BandungKota DepokKab BogorKota TasikmalayaKab SubangKab SumedangKab BanyumasKab. Batang Kab Cilacap Kab Banyuwangi Kab Sidoarjo Kota Kediri

    Kota YogyakartaKota MalangKab Malang Kota MataramKota PontianakKota SingkawangKota JayapuraMeraukeKota SorongManokwariKota TimikaKab DeliserdangKota BatamKab KarawangKota Cirebon

    Sep - Des 2012Jan - Jun 2013Juli - Sep 2013Sep - Des 2013

  • NoKegiatanWaktuPelaksana1.Rekrutment Koordinator core facilitator dan fasilitator kab/kotaOktoberUNAIDS, WHO, KPAN, KemkesPertemuan nasional stakeholderNovember2. Gap analisis di 10 kab/kotaNov-DesFasilitator3. Intensifikasi LKB untuk akselerasi tes dan inisiasi ARV di 10 kab/kotaDesember - Maret10 fasilitator4.Monitoring dan EvaluasiTr 1 2014KPAN dan Kemkes5.Finalisasi Dokumen Roadmap OktoberKPAN dan Kemkes 6.Dokumentasi lesson learntTr 1 2013KPAN dan Kemkes7. Pengembangan di 65 kabupaten/kota lainnyaTr 2 2014KPAN, Kemkes, WHO

  • Penawaran tes HIV secara sistematis pada:ibu hamil di daerah dengan prevalensi HIV tinggi, pasien IMS, pasangan ODHA, pasien TB, pasien Hepatitis, LSL, WPS dan WBP Konseling pasca tes untuk akses layanan LKB Tes ulang bagi populasi kunci (retesting) setiap 6 bulan jika hasil negatifPemberian konseling keluarga (family counseling) dan konseling pasangan (couple counseling) bagi ODHA

  • Pengadaan reagen dengan dana GF sebanyak 37.566 tes (2013) dan 95.171 tes (2014)

  • Tes dan Konseling HIV

    *

    Pemeriksaan Diagnosis HIV dilakukan untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penularan atau peningkatan kejadian infeksi HIV.Pemeriksaan Diagnosis HIV sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan berdasarkan prinsip konfidensialitas, persetujuan, konseling, pencatatan, pelaporan dan rujukan.

  • Prinsip konfidensial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berarti hasil pemeriksaan harus dirahasiakan dan hanya dapat dibuka kepada :yang bersangkutan;tenaga kesehatan yang menangani; keluarga terdekat dalam hal yang bersangkutan tidak cakap;pasangan seksual; danpihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

  • Pemeriksaan Diagnosis HIV harus dilakukan dengan persetujuan pasien.Pengecualian pada ketentuan ayat (1) dapat dilakukan:pada penugasan tertentu dalam kedinasan Tentara/Polisi; dalam keadaan gawat darurat medis untuk tujuan pengobatan pada pasien yang secara klinis telah menunjukan gejala yang mengarah kepada AIDS; danatas permintaan pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

  • KonselingProses interaksi antara dua orang dalam pembelajaran mematangkan pilihan untuk mengambil keputusanTest HIVPemeriksaan status HIVSukarelaTanpa paksaan atas keputusan matang sesudah mendapat informasi faktual dengan menimbang risiko & konsekuensi

  • KTS dilakukan dengan langkah-langkah meliputi:konseling pra tes;tes HIV; dankonseling pasca tes.KTS hanya dilakukan dalam hal pasien memberikan persetujuan secara tertulis.

  • Konseling pra tes sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dengan tatap muka atau tidak tatap muka dan dapat dilaksanakan bersama pasangan (couple counseling) atau dalam kelompok (group counseling).Konseling pasca tes sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c harus dilakukan tatap muka dengan tenaga kesehatan atau konselor terlatih.

  • Dicari oleh klien secara aktif dan individual menekankan pengkajian dan penanganan faktor risiko Strategi untuk mengurangi faktor risiko

  • TIPK dilakukan dengan langkah-langkah meliputi:pemberian informasi tentang HIV-AIDS sebelum tes;pengambilan darah untuk tes;penyampaian hasil tes; dan konseling.Tes HIV pada TIPK tidak dilakukan dalam hal pasien menolak secara tertulis.

  • TIPK harus dianjurkan sebagai bagian dari standar pelayanan bagi:setiap orang dewasa, remaja dan anak-anak yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan tanda, gejala, atau kondisi medis yang mengindikasikan atau patut diduga telah terjadi infeksi HIV terutama pasien dengan riwayat penyakit tuberculosis dan IMS;asuhan antenatal pada ibu hamil dan ibu bersalin;bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan infeksi HIV;anak-anak dengan pertumbuhan suboptimal atau malnutrisi di wilayah epidemi luas, atau anak dengan malnutrisi yang tidak menunjukan respon yang baik dengan pengobatan nutrisi yang adekuat; danlaki-laki dewasa yang meminta sirkumsisi sebagai tindakan pencegahan HIV.Pada wilayah epidemi meluas, TIPK harus dianjurkan pada semua orang yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan sebagai bagian dari standar pelayanan.

  • Pada wilayah epidemi terkonsentrasi dan epidemi rendah, TIPK dilakukan pada semua orang dewasa, remaja dan anak yang memperlihatkan tanda dan gejala yang mengindikasikan infeksi HIV, termasuk tuberkulosis, serta anak dengan riwayat terpapar HIV pada masa perinatal, pada pemerkosaan dan kekerasan seksual lain.TIPK sebagaimana dimaksud pada ayat (7) terutama diselenggarakan pada:pelayanan IMS;pelayanan kesehatan bagi populasi kunci/orang2 yang berperilaku resiko tinggi;fasiltas pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan pemeriksaan ibu hamil, persalinan dan nifas; danpelayanan tuberculosis

    *

    *

    Harus merupakan bagian dari layanan HIV-AIDSBertujuan :Untuk meningkatkan utilisasi fasilitas layananDukungan sebayaDukungan kepatuhan berobatMengembangkan layanan nyaman bagi klienMemfasilitasi rujukan vertikal maupun horizontal kesinambungan layanan

  • Laporan Bulanan Perawatan HIV, 2005-2013. KemenkesCascade of Treatment di Indonesia, 2005 - Agustus 2013Estimasi ODHA 2012 : 591.823

    *

    Estimasi dan pemodelan 2012 akan dipublikasi pada Desember 2013Telah dilakukan Pilot project estimasi dan modeling pada tingkat di 3 propinsi ( DKI Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan)Pelaksanaan sero sentinel + SCP pada bulan November 2013Draft awal STBP populasi risti 2012 dan STBP tanah Papua pada bulan Tr I 2014Pelatihan SIHA pada tingkat propinsi dan Kab/Kota

    *

    Desentralisasi ARV di 9 provinsi dan akan dikembangkan ke 33 propinsiUntuk obat IMS dan IO serta reagen sudah desentralisasi melalui pengiriman ke 33 propinsi Masih lemahnya sistim pelaporan bulanan ARV (petugas sering hy copy paste stok bulan sebelumnya)Masing seringnya penggunaan rapid tes HIV sebagai survey di LBT belum fokus pada peningkatan cakupan di populasi kunci

  • LAYANANJUMLAHKonseling dan Tes HIV752 (RS, PKM, LSM, Rutan/Lapas)Perawatan, Dukungan dan Pengobatan394 (RS Pengampu dan RS Satelit)Program Terapi Rumatan Metadon77 (RS, PKM, Rutan/Lapas)Layanan Jarum dan Alat Suntik Steril194 PKMIMS631 (RS dan PKM)PPIA114 (RS dan PKM)

    *

    No PropinsiTr1 2013Tr2 2013Tr 3 20131BabelVVV2BaliVVV3BantenVV4BengkuluVVV5DIY6DKIVVV7GorontaloVV8JabarVVV9JambiVVV10Jateng11JatimVV

    *

    No PropinsiTr1 2013Tr2 2013Tr 3 201312KalbarV13KalselVV14Kalteng15KaltimVV16KepriV17LampungVVV18MalukuVVV19MalutV20NADVV21NTBV22NTTV

    *

    No PropinsiTr1 2013Tr2 2013Tr 3 201323Papua Barat24PapuaVV25RiauVVV26Sulsel27SultengVVV28Sultra29SulutVVV30SumbarV31SumselVV32SumutVV

  • NOPROVINSIAPBN 2013APBN-P 2013Total 20131 Dinkes Prop. NAD 2,8006,6009,4002 Dinkes Prop. Sumut 22,00051,80073,8003 Dinkes Prop. Sumbar 2,8006,6009,4004 Dinkes Prop. Riau 13,70032,20045,9005 Dinkes Prop. Jambi 4,20010,00014,2006 Dinkes Prop. Sumsel 9,40022,10031,5007 Dinkes Prop. Bengkulu 1,8004,2006,0008 Dinkes Prop. Lampung 6,60015,50022,1009 Dinkes Prop. Bangka Belitung 2,1004,9007,00010 Dinkes Prop. Kep. Riau 13,30031,30044,60011 Dinkes Prop. DKI Jakarta 50,000117,600167,60012 Dinkes Prop. Jawa Barat 47,300111,300158,60013 Dinkes Prop. Jawa Tengah 22,00051,80073,80014 Dinkes Prop. DI Yogyakarta 4,50010,60015,100

  • NOPROVINSIAPBN 2013APBN-P 2013JUMLAH15 Dinkes Prop. Jawa Timur 60,100141,400201,50016 Dinkes Prop. Banten 8,90021,00029,90017 Dinkes Prop. Bali 17,20040,50057,70018 Dinkes Prop. NTB 5,00011,80016,80019 Dinkes Prop. NTT 3,0007,10010,10020 Dinkes Prop. Kalbar 7,80018,40026,20021 Dinkes Prop. Kalteng 2,3005,4007,70022 Dinkes Prop. Kalsel 2,3005,4007,70023 Dinkes Prop. Kaltim 11,60027,30038,90024 Dinkes Prop. Sulut 5,10012,00017,10025 Dinkes Prop. Sulteng 1,8004,2006,00026 Dinkes Prop. Sulsel 11,60027,30038,90027 Dinkes Prop. Sultra 2,9006,8009,70028 Dinkes Prop. Gorontalo 1,0002,4003,400

  • NOPROVINSIAPBN 2013APBN-P 2013JUMLAH29 Dinkes Prop. Sulbar 1,0002,4003,40030 Dinkes Prop. Maluku 6,10014,40020,50031 Dinkes Prop. Maluku Utara 1,3003,1004,40032 Dinkes Prop. Papua Barat 6,00014,10020,10033 Dinkes Prop. Papua 60,000141,200201,20034 Stok PUSAT 92,500217,300309,800

  • SELAMAT BERTUGAS*

    *Jumlah HIV-AIDS pertahun dapat dilihat pada grafik ini. Sejak 1987-2005, jumlah HIV yang dilaporkan lebih kecil daripada AIDS. Hal ini menunjukkan orang yang sudah masuk dalam stadium AIDS lebih banyak dilaporkan daripada yang baru terinfeksi HIV. Mulai tahun 2006 sampai dengan 2012, jumlah infeksi HIV dilaporkan lebih banyak daripada AIDS, yang menunjukkan bahwa sudah lebih banyak orang yang belum masuk stadium AIDS ditemukan. L:P = 2:1* **Pada Layanan Komprehensif Berkesinambungan ketiga unsur utama yaitu layanan kesehatan ( Primer, sekunder dan tersier) termasuk layanan swasta maupun pemerintah, serta unsur koordinasi melalui KPAD dan unsur masyarakat termasuk LSM, Ormas, Organisasi keagamaan dan dukungan sebaya merupakan jejaring yang harus terkait bersama. Sehingga Conitnuum of Care mulai dari preventif, kuratif, rehabilitatif dapat terlaksana yang pada akhirnya diharapkan akan menurunkan prevalensi HIV/AIDS**Untuk dapat mewujudkan capaian ideal di atas dan sesuai arahan Dirjen saat pembukaan maka perlu dikembangkan sistem mentoring klinis dimana Rumah sakit bersama Dinkes membimbing fasyankes di sekitarnya, baik mentoring secara vertikal maupun horisontal seperti terpapar dalam slide berikut ini.TDF: Tenofovir3TC: LamivudinEFV: Efavirens*Pada saat ini ART juga merupakan salah satu upaya dalam mengurangi laju penularan di masyarakat. Dampak tersebut akan terwujud jika dapat menjangkau 80% odha yang memerlukan ART.Grafik ini menggambarkan cascade treatment di Indonesia. Maka upaya untuk menjangkau ODHA agar masuk dalam perawatan harus terus ditingkatkan dan idealnya semua odha yang memenuhi syarat ART menjalankan pengobatan. Diharapkan Rumah Sakit dapat berperan mewujudkan pencapaian tersebut. Grafik pernah menerima ART dan masih dalam ART sama dengan grafik yang memenuhi syarat ART. Pada saat sekarang kesenjangan pemberian ART ini masih tinggi dengan berbagai alasan.

    *

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended