Home >Documents >HIPERTENSI KOMPLIT

HIPERTENSI KOMPLIT

Date post:09-Jul-2016
Category:
View:236 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Description:
kdkdmdkdkd
Transcript:

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hipertensi merupakan salah satu penyakit system kardiovaskuler yang banyak dijumpai di masyarakat. Hipertensi bukanlah penyakit menular, namun harus senantiasa diwaspadai. Tekanan Darah tinggi atau Hipertesi dan arteriosclerosis ( pengerasan arteri ) adalah dua kondisi pokok yang mendasari banyak bentuk penyakit kardiovaskuler. Lebih jauh, tidak jarang tekanan darah tinggi juga menyebabkan gangguan ginjal.Sampai saat ini, usaha-usaha baik mencegah maupun mengobati penyakit hipertensi belum berhasil sepenuhnya, karena adanya factor-faktor penghambat seperti kurang pengetahuan tentang hipertensi (pengertian, tanda dan gejala, sebab akibat, komplikasi ) dan juga perawatannya. Saat ini, angka kematian karena hipertensi di Indonesia sangat tinggi. Jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia diperkirakan 972 juta jiwa atau setara dengan 26,4 persen populasi orang dewasa. Angka prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 mencapai 30 persen dari populasi. Dari jumlah itu, 60 persen penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Sementara di dunia Barat, hipertensi justru banyak menimbulkan gagal ginjal, oleh karena perlu di galakkan pada masyarakat mengenai pengobatan dan perawatan Hipertensi. Data survey dari Tim Kesehatan Pada tanggal 24 Januari 2005 jumlah pasien 5 rumah sakit di Kota Banda Aceh Menunjukkan Tingkat Penderita Hipertensi Mencapai 3%. Sisanya ISPA 30%, Gatal-gatal 25%, Nyeri lambung 12%, Kejiwaan 10%, Luka-luka 9%, Malaria 5%, Diare 3%, Radang paru-paru 1%, Sakit kepala 1%, Penyakit lain 1 %.

Diharapkan dengan di buatnya Asuhan Keperawatan keluarga resiko tinggi hipertensi ini dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian karena hipertensi dalam masyarakat khususnya dalam keluarga. B. TUJUAN PENULISAN1. Tujuan umumMenganalisis asuhan keperawatan yang diberikan pada klien (lansia) dengan penyakit hipertensi.2. Tujuan khususa. Mengidentifikasi proses terjadinya hipetensi pada lanjut usiab. Mengetahui definisi, tanda dan gejala, komplikasi pada hipertensi, penatalaksanaan, dan evaluasi dalam asuhan keperawatan pada klien (lansia) dengan hipertensi BAB II

TINJAUAN TEORIA. PENGERTIAN

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan konsisten diatas 140/90 mmHg.1 Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg.Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.( Smith Tom, 1995 )

Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg ( Kodim Nasrin, 2003 ).

Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan diastolic karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik ( Smith Tom, 1995 ).

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer,2000 : 144)

Hipertensi adalah keadaan menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolic lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostic ini dapat dipastikan dengan mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (FKUI, 2001 : 453)

Patologi utama pada hipertensi adalah peningkatan tekanan vesikalis perifer arterior (Mansjoer, 2000 : 144)

Tabel 2.1

Kategori Hipertensi pada DewasaKategoriTekanan sistolik (mmHg)Tekanan Diastolik (mmHg)

Normal

Prahipertensi

Hipertensi :

Derajat 1 Derajat 2 < 120

120 139

140 159

>160< 80

80 89

90 99

> 100

Sumber : Gunawan, Lany. 2001B. ETIOLOGI

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : 1. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Faktor resiko hipertensi esensial yaitu :

a. Faktor keturunan

Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.b. Ciri perseorangan

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur (jika umur bertambah maka TD meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan) dan ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih).c. Kebiasaan hidup

Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr), kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan (ephedrine, prednison, dan epineprin).d. Usia

Pada Usia lanjut, penyebab perubahan tekanan darah adalah karena adanya ateroslerosis, hilangnya elastisitas pembuluh darah, menurunnya distensi dan daya regang pembuluh darah.2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lainTabel 2.2

Penyebab Hipertensi SekunderArea yang tergangguMekanisme

Ginjal

a. Penyakit parenkim ginjal (glomerulonefritis, gagal ginjal)

b. Penyakit renovaskular

Kelenjar adrenal

a. Sindrom cushing

b. Aldosteronisme primer

c. Fenokromositoma

Koarktasi Aorta

Trauma kepala atau tumor kranial

Hipertensi akibat kehamilana. Sering kali menyebabkan hipertensi dependen renin atau natrium. Perubahan fisiologis dipengaruhi insufisiensi ginjal

b. Berkurangnya perfusi ginjal karena aterosklerosis atau fibrosis yang membuat arteri renalis menyempit; menyebabkan tahanan vaskular perifer meningkat.

a. Meningkatnya volume darah

b. Aldosteron menyebabkan retensi natrium dan air, yang membuat volume darah meningkat

c. Sekresi yang berlebihan dari katekolamin (norepinefrin membuat tahanan vaskular perifer meningkat)

Menyebabkan tekanan darah meningkat pada ekstermitas atas dan berkurangnya perfusi pada ekstermitas bawah.

Meningkatnya takanan intrakranial akan mengakibatkan perfusi serebral berkurang; iskemia yang timbul akan merangsang pusat vasomotor medula untuk meningkatkan tekanan darah

Penyebab umum belum diketahui. Ada teori bahwa vasospasme umum bisa menjadi faktor penyebab.

Sumber: Kodim, Nasrin. 2003.

C. PATOFISIOLOGI Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi untuk pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer ( Brunner & Suddarth, 2002 ).PATHWAY

Umur

Jenis kelamin

Gaya hidup

Obesitas

Stimulasi baroreceptor dari sinus korotis & arkus aorta

Saraf simpatis ( pelepasan kolekolamin)

Aktivitas epineprin dan norepineprin

Vasokonstriksi

Peningkatan tekanan darah

Gangguan sirkulasi

Otak

Retina

Sistemik

Resistensi Suply O2

Spasme artrioleVasokontriksi

Pembuluh

Darah otak Sinkop

Diplopia

after load

Nyeri kepala Gangguan Resti injury/ciedra COP

Perfusi

jaringanD. TANDA DAN GEJALA (MANIFESTASI KLINIS)

1. Tanda dan gejala Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Tidak ada gejalaTidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanandarah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berartihipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

b. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

2. Manifestasi klinis

Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah,Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.6

Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala, bila ada biasanya menunjukkan kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai system organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah yang bersangkutan. penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang paling menyertai hipertensi. Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan beban kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yang meningkat. Apabila jantung tidak mampu lagi menahan peningkatan beban kerja maka terjadi gagal jantung kiri. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azotemia (peningkatan nitrogen urea darah dan kretinin). Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik trasien yang termanifestasi sebagai paralysis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan ketajaman penglihatan. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh

2. Pemeriksaan retina

3. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan jantung

4. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri

5. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa

6. Pemeriksaan : renogram, pielogram intravena arteriogram renal, pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urine.

7. Foto dada dan CT scan

F. PENGKAJIAN PRIMER

1. Airway

Adakah sumbatan atau penumpukan sekret

2. Breathing

a. Sesak napas pada saat aktifitas

b. Tachipnea, orthopnea, PND

c. Batuk dengan atau tanpa sputum

d. Riwayat merokok

a. Distress pernapasan atau penggunaan otot bantu pernapasan

b. Bunyi napas tambahan

c. Sianosis

3. Circulation

a. Peningkatan Tekanan darah

b. Postural hipotensi

c. Nadi : kuat pada karotis, jugural dan radial.

d. Tachicardi

e. Bunyi jantung III atau IV.

f. JVP meningkat

g. Ekstermitas : dingin, capillary refill meningkat, pucat, sianosis, diaporesis.

4. Disability

Kecemasan, depresi, euphoria, mudah marah. (+ kesadaran, kemampuan beraktifitas).5. Exposure

Adanya jejas atau luka pada seluruh permukaan kulit.6. Aktifitas

Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.7. Sirkulasi Gejala:

Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.Tanda:Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda.

8. Integritas Ego Gejala:

Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.Tanda:

Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.9. Eliminasi Gejala:

Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu).10. Makanan/cairan Gejala:

Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diureticTanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.11. Neurosensori Genjala:Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis).Tanda:

Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.12. Nyeri/ ketidaknyaman Gejala:Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakitkepala.

13. Pernafasan Gejala:

Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.Tanda:

Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.

14. Keamanan Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.G. PENGKAJIAN SEKUNDER

1. Kepala

Wajah pucat

2. Mata

a. Konjungtiva anemis

b. Reflek pupil ada atau tidak ada

c. Reflek kornea postif atau negative

d. Adakah edema papil

e. Pupil isokor atau anisokor

3. Telinga

Terdapat serumen atau sekret atau tidak

4. Mulut

a. Terdapat perdarahan di mulut atau tidak

b. Bibir sianosis atau tidak

c. Membran mukosa bibir kering atau lembab

d. Gigi lengkap atau tanggal

e. Lidah jatuh kebelakang atau tidak

5. Leher

a. Terdapat fraktur leher atau tidak

b. Terdapat pembesaran kelenjar tiroid atau limfe atau tidak

c. Adakah deviasi trakea atau tidak6. Dada

a. Jantung : bunyi tambahan

b. Paru : bunyi tambahan

c. Penggunaan otot bantu dada

d. Sesak nafas ( diipnea )

7. Ekstremitas

a. Akral dingin

b. Capiraly refil > 2 detik

c. Kelemahan

d. Pucat

8. Genitaurinarius

Riwayat obstruksi atau penyakit ginjal.H. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Gangguan rasa nyaman : nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan pembuluh darah otak.b. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload vasokontriksi.c. Resiko injuri berhubungan dengan kesadaran menurun.d. Resiko ketidakefektifan perpusi jaringan otak berhubungan dengan sirkulasi darah yang kurang ke otakINTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa TujuanIntervensiRasional

Gangguan rasa nyaman : nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan pembuluh darah otak.

Rasa nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam dengan KH :

Pasien mengatakan nyeri berkurang.

Ekspresi wajah klien rileks.

a. Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya, lokasinya dan lamanya.

b. Pertahankan tirah baring selama fase akut.

c. Minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.

d. Kolaborasi pemberian analgetik.

a. Mengidentifikasi karakteristik nyeri merupakan faktor yang penting untuk menentukan terapi yang cocok serta mengevaluasi kefektifan dari terapi.b. Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.c. Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral.d. Menurunkan/ mengontrol nyeri.

Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload vasokontriksi.

TD dalam rentang normal setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam.

a. Pantau tekanan darah.

b. Amati warna kulit, kelembaban dan suhu.

c. Berikan lingkungan tenang dan nyaman.

d. Pertahankan pembatasan aktivitas.

e. Anjurkan teknik relaksasi.

f. Kolaborasi pemberian obat antihipertensi.

a. Untuk mengetahui derajat hipertensi.

b. Adanya pucat, dingin, kulit lembab mungkin berkaitan dengan vasokontriksi/ mencerminkan penurunan COP.c. Membantu menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan relaksasi.d. Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah.e. Mengontrol tekanan darah.f. Menurunkan resiko injuri.

Resiko injuri berhubungan dengan kesadaran menurun.

Resiko injuri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam dengan KH:

Pasien merasa tenang dan tidak takut jatuh.

a. Atur posisi pasien agar aman.

b. Batasi aktivitas.

c. Bantu dalam ambulasi.

a. Mengetahui respon fisiologi terhadap stress aktivitas.

b. Mengurangi penggunaan energi juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.c. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba.

Resiko ketidakefektifan perpusi jaringan otak berhubungan dengan sirkulasi darah yang kurang ke otak

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 jam resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak dengan kriteria hasil :

a. kesadaran baik

b. tanda vital stabil

c. Nyeri kepala berkurang/hilagd. Tidak ada tanda PTIKa. Bedrest dengan posisi kepala terlentang atau posisi elevasi 15-45 sesuai indikasib. Monitor tanda-tanda vital tiap 2 jamc. Monitor adanya diplopia, pandangan kabur, nyeri kepalad. Monitor level kebingungan dan orientasie. Monitor tonus otot pergerakanf. Monitor tekanan intrkranial dan respon neurologisg. Catat perubahan pasien dalam merespon stimulush. Monitor status cairana. Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan draimage vena dan memperbaiki sirkulasi serebralb. Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepatf. untuk mengetahui perubahan nilai GCS, mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentekan lokasi.

h. pembatasan cairan dapat menurunkan edema serebral.

LAMPIRAN GAMBAR

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN

Tanggal masuk

: 29 Desember 2013 Pukul 17.30 WIBTanggal pengkajian: 30 Desember 2013 pukul 09.25 WIB

Identitas Pasien

1. Nama

: Ny. M

2. Usia

: 50 Tahun3. Jenis kelamin

: Perempuan

4. Alamat

: Ledok, Salatiga5. Agama

: Islam

6. Diagnose medis: Hipertensi dan Vomitus

7. No. register

: 12-13-228893

8. Bahasa

: Bahasa Jawa

9. Pendidikan

: SD

10. Suku

: Jawa

11. Status marital : Menikah

Identitas Penanggung Jawab

1. Nama

: Ny. F2. Usia

: 30 Tahun3. Hub dgn pasien: Anak pasien

4. Alamat

: Ledok, Salatiga5. No. Yag bisa dihub: -Pengkajian Primer

1. Airway

Jalan nafas Ny. M tampak patensi jalan nafas baik, tidak terdapat penumpukan sekret dan benda asing yang menyumbat jalan nafas.

2. Breathing

Ny. M tidak mengalami sesak nafas, bernafas seperti biasa dan spontan, tidak menggunakan alat bantu pernafasan, RR = 18 kali/menit dengan kekuatan normalmnya 16- 24 kali / menit.3. Circulation

Nadi = 105x/menit kekuatan takikardi. Normal nadi 60-100x / menitSuhu = 37,5 Tekanan DarahJamTekanan Darah

08.34216/100 mmHg

09.20190/60 mmHg

09.27184/80 mmHg

10.16191/62 mmHg

11.22166/75 mmHg

11.50150/80 mmHg

Tidak terdapat edema, capilarry refill

of 72/72
1 Hipertensi merupakan salah satu penyakit system kardiovaskuler yang banyak dijumpai di masyarakat. Hipertensi bukanlah penyakit menular, namun harus senantiasa diwaspadai. Tekanan Darah tinggi atau Hipertesi dan arteriosclerosis ( pengerasan arteri ) adalah dua kondisi pokok yang mendasari banyak bentuk
Embed Size (px)
Recommended