Home >Documents >Hip Not Era Pi

Hip Not Era Pi

Date post:04-Jul-2015
Category:
View:137 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

REFERAT

HIPNOTERAPI

Disusun oleh: Putu Tarita Susanti Sophia Yustina Reni Septa Anggraeni (062011101022) (062011101011) (062011101050)

Dokter Pembimbing: dr. Justina Evy Tyaswati, Sp.KJ Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya Lab/SMF Ilmu Kesehatan Jiwa FK Unej - RSD dr.Soebandi Jember

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

1

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... DAFTAR ISI....................................................................................................

i ii

BAB I. PENDAHULUAN............................ .................................................. . 1 BAB II. HIPNOTERAPI................................................................................. 3 II.1. Teori Hipnotis.................................................................... ............... 5 BAB III. PROSES HIPNOTERAPI............................................................... 8 BAB IV. TEKNIK HIPNOSIS........................................................................ 11 IV.1. Pre Induksi/ Pre Talk....................................................................... 11 IV.2. Induksi............................................................................................ 13 IV.3. Depth Level Test...................................... ....................................... 16 BAB V. POST HYPNOTIC SUGGESTION................................................ 17 V.1. Anchoring......................................................................................... 17 V.2. Terminasi........................................................................................... 18 V.3. Post Hypnotic.................................................................................... 18 BAB VI. ABREAKSI SPONTAN......................................... .......................... 20 BAB VII. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI HIPNOSIS...................... 22 VII.1. Indikasi Hipnosis............................................................................ 22 VII.2. Kontra Indikasi Hipnosis................................................................ 23 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 24

2

BAB I PENDAHULUAN

Fobia adalah perasaan takut yang irasional yang menyebabkan kesadaran untuk menghindar dari obyek ketakutan spesifik, aktivitas atau situasi. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya. Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek fobia lainnya dan

3

intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, pola respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya. Salah satu terapi yang digunakan untuk penderita saat ini adalah dengan hipnoterapi. Hipnosis berasal dari kata Yunani hypnos yang berarti tidur. Hipnosis merupakan suatu keadaan setengah sadar yang jika dilihat

penampakannya mirip dengan tidur, disebabkan oleh suatu sugesti relaksasi dan perhatian yang terkonsentrasi pada sebuah objek tunggal. Dalam kondisi hipnosis seseorang tetap sadar. Bahkan tidak jarang banyak orang merasa sadar tapi sebenarnya terhipnotis. Setiap orang bisa saja merasakan sensasi kondisi hipnosis yang berbeda-beda, tapi pada umumnya ketika seseorang dalam kondisi hipnosis, dia hanya akan merasakan relaksasi pikiran dan tubuh, serta tetap bisa mendengar semuanya dengan jelas. Individu tersebut menjadi tersugesti dan responsif terhadap pengaruh orang yang menghipnosis dan dapat mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah dilupakan serta dapat meredakan gejala psikologis (WHO, 1994). Dibanding metode psikoterapi yang lain, hipnoterapi merupakan metode yang paling cepat dalam menyembuhkan fobia. Untuk sebagian besar kasus fobia yang kami tangani, fobia bukanlah masalah yang sulit diatasi dengan hipnoterapi. Sebagian besar fobia bisa disembuhkan dalam waktu satu jam saja. Kesembuhan tersebut pun bertahan lama atau permanen. Jadi, hipnoterapi merupakan salah satu terapi yang efektif pada penderita fobia dengan melihat syarat-syarat seperti yang akan dijelaskan dalam referat ini.

4

BAB II HIPNOTERAPI

II.

HIPNOTERAPI Hipnosis berasal dari kata Yunani hypnos yang berarti tidur. Hipnosis

merupakan suatu keadaan setengah sadar yang jika dilihat penampakannya mirip dengan tidur, disebabkan oleh suatu sugesti relaksasi dan perhatian yang terkonsentrasi pada sebuah objek tunggal. Dalam kondisi hipnosis seseorang tetap sadar. Bahkan tidak jarang banyak orang merasa sadar tapi sebenarnya terhipnotis. Setiap orang bisa saja merasakan sensasi kondisi hipnosis yang berbeda-beda, tapi pada umumnya ketika seseorang dalam kondisi hipnosis, dia hanya akan merasakan relaksasi pikiran dan tubuh, serta tetap bisa mendengar semuanya dengan jelas. Individu tersebut menjadi tersugesti dan responsif terhadap pengaruh orang yang menghipnosis dan dapat mengingat kembali kejadiankejadian yang telah dilupakan serta dapat meredakan gejala psikologis (WHO, 1994). Definisi lain hipnosis adalah perubahan kesadaran buatan, dengan ciri khas sugestibilitas yang meningkat dari seseorang. Sedangkan sugesti adalah suatu respon yang patuh dan tidak bersifat mengkritik terhadap gagasan atau suatu pengaruh (Nuhriawangsa, 2004). Hipnoterapi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik terapi pikiran dan penyembuhan yang menggunakan metode hipnotis untuk memberi sugesti atau perintah positif kepada pikiran bawah sadar untuk penyembuhan suatu gangguan psikologis atau untuk mengubah pikiran, perasaan, dan perilaku menjadi lebih baik. Orang yang ahli dalam menggunakan hipnotis untuk terapi disebut hypnotherapist. Hipnoterapi menggunakan pengaruh katakata yang disampaikan dengan teknik - teknik tertentu. Satu - satunya kekuatan dalam hipnoterapi adalah komunikasi (Kahija, 2007). Sugestibilitas adalah kerentanan seseorang untuk menerima sugesti. Beberapa teori menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat sugestibilitas, maka semakin mudah seseorang untuk dihipnotis. Menurut Stanford Hypnotic

5

Susceptibility Scale, dalam hal mudah-tidaknya dihipnotis, manusia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : a. 10% Sugestibilitas Tinggi, artinya sangat mudah dihipnotis. b. 85% Sugestibilitas Sedang, artinya bisa dihipnotis tapi butuh waktu dan situasi yang tepat. c. 5% Sugestibilitas Rendah, artinya sulit atau tidak bisa dihipnotis.

Sugestibilitas seseorang dipengaruhi tiga faktor berikut ini: 1. Kemauan Untuk Menerima Sugesti. Hal ini berkaitan erat dengan prinsip bahwa hipnosis tidak bisa dipaksakan. Sugestibilitas subyek akan menjadi tinggi ketika subyek dengan senang hati bersedia mengikuti perintah Anda, apalagi ketika seseorang membutuhkan. 2. Kemantapan Subyek Terhadap Hypnotist. Semakin tinggi tingkat kemantapan subyek terhadap Anda, semakin mudah Anda

menghipnotisnya. Sebaliknya, apabila subyek merasa curiga atau ragu dengan kemampuan Anda, maka tingkat sugestibilitasnya jadi rendah. 3. Rasa Aman & Nyaman. Semakin subyek merasa aman dengan hipnosis dan merasa nyaman dengan Anda, maka tingkat sugestibilitasnya semakin tinggi. Hambatan terbesar dalam hipnosis adalah rasa takut dari subyek. Ketika seseorang takut terhadap hipnosis atau takut terhadap Anda, maka saat itu juga tingkat sugestibilitasnya sangat rendah.

Dalam ruang lingkup psikoterapi, hipnosis digunakan bukan saja dalam psikoterapi penunjang, tetapi lebih dari itu, hipnosis merupakan alat yang ampuh dalam psikoterapi penghayatan dengan tujuan membangun kembali

(rekonstruktif) sehingga perlu pengkajian yang lebih mendalam agar tercapai suatu pendekatan holistik elektik (IBH, 2002). Dalam kondisi hipnosis orang akan mengalami salah satu atau beberapa gejala berikut ini: - Bernafas dengan diafragma (pernafasan perut). - Relaksasi seluruh badan yang sempurna.

6

- Suhu badan meningkat (Terasa Hangat) - Produksi air mata meningk

Embed Size (px)
Recommended