Home > Documents > HE Diare = Rudi Terbaruuu

HE Diare = Rudi Terbaruuu

Date post: 29-Dec-2015
Category:
Author: mandoganteng
View: 24 times
Download: 6 times
Share this document with a friend
Description:
yahdajdakdakdiakaaddak
Embed Size (px)
of 32 /32
BAB I PENDAHULUAN Penyakit diare adalah penyebab utama morbiditas dan kematian anak di negara berkembang, dan penyebab penting kekurangan gizi. Pada tahun 2003 diperkirakan 1.87 juta anak-anak di bawah 5 tahun meninggal karena diare. Delapan dari 10 kematian ini terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan. Rata-rata, anak-anak di bawah usia 3 tahun pada negara-negara berkembang mengalami tiga episode diare setiap tahun. Diare yang terjadi pada banyak negara, termasuk kolera, juga merupakan penyebab penting morbiditas di antara anak-anak dan orang dewasa. (1,2,3) Menurut data World Health Organization(WHO) pada tahun 2009, diare adalah penyebab kematian kedua pada anak dibawah 5 tahun. Secara global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka kematian 1.5 juta pertahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia dibawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak. (4) Untuk skala nasional berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008, penderita diare pada tahun tersebut adalah 8.443 orang dengan angka kematian akibat diare adalah 2.5%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 1.7% dengan jumlah penderita diare adalah 3.661 orang. Untuk tahun 2006, penderita diare di Indonesia adalah 10.280 orang dengan angka kematian 2.5%. (4) Banyak kematian diare disebabkan oleh dehidrasi. Sebuah perkembangan penting telah menemukan bahwa dehidrasi akibat diare akut dari setiap etiologi dan pada usia berapa pun, kecuali bila parah, dapat dengan aman dan secara efektif diobati dengan metode sederhana oral
Transcript

BAB IPENDAHULUAN

Penyakit diare adalah penyebab utama morbiditas dan kematian anak di negara berkembang, dan penyebab penting kekurangan gizi. Pada tahun 2003 diperkirakan 1.87 juta anak-anak di bawah 5 tahun meninggal karena diare.Delapan dari 10 kematian ini terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan. Rata-rata, anak-anak di bawah usia 3 tahun pada negara-negara berkembang mengalami tiga episode diare setiap tahun. Diare yang terjadi pada banyak negara, termasuk kolera, juga merupakan penyebab penting morbiditas di antara anak-anak dan orang dewasa.(1,2,3)Menurut data World Health Organization(WHO) pada tahun 2009, diare adalah penyebab kematian kedua pada anak dibawah 5 tahun. Secara global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka kematian 1.5 juta pertahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia dibawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama malnutrisi pada anak.(4)Untuk skala nasional berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008, penderita diare pada tahun tersebut adalah 8.443 orang dengan angka kematian akibat diare adalah 2.5%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 1.7% dengan jumlah penderita diare adalah 3.661 orang. Untuk tahun 2006, penderita diare di Indonesia adalah 10.280 orang dengan angka kematian 2.5%.(4)Banyak kematian diare disebabkan oleh dehidrasi. Sebuah perkembangan penting telah menemukan bahwa dehidrasi akibat diare akut dari setiap etiologi dan pada usia berapa pun, kecuali bila parah, dapat dengan aman dan secara efektif diobati dengan metode sederhana oral rehidrasi menggunakan cairan tunggal pada lebih dari 90% kasus. Glukosa dan beberapa campuran garam yang dikenal sebagai Garam Rehidrasi Oral (Oral Rehidration Salts (ORS) atau oralit) yang dilarutkan dalam air untuk membentuk larutan ORS atau oralit. (1,4)Unsur penting dalam pengelolaan anak dengan diare adalah penyediaan terapi rehidrasi oral dan terus menyusui, dan penggunaan antimikroba hanya untuk anak dengan diare berdarah, kasus kolera yang parah, atau infeksi non-usus serius. Para pengasuh anak-anak yang masih muda juga harus diajarkan tentang praktek-praktek cara pemberian makanan dan kebersihan yang dapat mengurangi morbiditas diare.(1,7,8)

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 DEFINISIDiare ialah buang air besar dengan konsistensi lebih encer/cair dari biasanya, 3 kali per hari, dapat/tidak disertai dengan lendir/darah yang timbul secara mendadak dan berlangsung kurang dari 2 minggu.(2,3)Diare adalah buang air besar yang sering dan cair, biasanya paling tidak tiga kali dalam 24 jam. Namun, lebih penting konsistensi tinja daripada daripada jumlah. Seringkali, buang air besar yang berbentuk bukanlah diare. Hanya bayi yang diberi ASI sering buang air besar, buang air besar yang "pucat" juga bukan diare.(1,2,3).2.1.1 Jenis-Jenis DiareDiare terdiri dari beberapa jenis yang dibagi secara klinis, yaitu :(1,4,9)a.Diare cair akut (termasuk kolera), berlangsung selama beberapa jam atau hari. mempunyai bahaya utama yaitu dehidrasi dan penurunan berat badan juga dapat terjadi jika makan tidak dilanjutkan.b.Diare akut berdarah, yang juga disebut disentri, mempunyai bahaya utama yaitu kerusakan mukosa usus,sepsis dan gizi buruk, mempunyai komplikasi seperti dehidrasi.c.Diare persisten, yang berlangsung selama 14 hari atau lebih, bahaya utamanya adalah malnutrisi dan infeksi non-usus serius dan dehidrasi.d.Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor) mempunyai bahaya utama adalah infeksi sistemik yang parah, dehidrasi, gagal jantung dan kekurangan vitamin dan mineral.2.1.2 EtiologiMenurutWorld Gastroenterology Organization Global Guidelines2005, etiologi diare akut dibagi atas empat penyebab:1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas.2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus.3. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis.4. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas, imunodefisiensi, kesulitan makan, dll.2.1.3 Cara Penularan Diare Diare dapat ditularkan dengan berbagai cara yang mengakibatkan timbulnya infeksi antara lain:1. Makanandan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.2. Bermaindengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.3. Pengunaansumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar.4. Pencuciandan pemakaian botol susu yang tidak bersih.5. Tidakmencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang2.1.4 Manifestasi klinisPenderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik, dan hipovolemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau dehidrasi berat.Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air. Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan Ph darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.2.2 DIAGNOSIS2.2.1 AnamnesisBertanya kepada ibu atau pengasuh anaknya tentang:Adanya darah dalam tinjaDurasi diareJumlah kotoran berair per hariJumlah episode muntahAdanya demam, batuk, atau masalah-masalah penting lainnya (misalnya kejang-kejang, baru-baru ini campak)Jenis dan jumlah cairan (termasuk ASI) dan makanan yang diberikan selama sakitObat atau solusi lainnya yang diambilRiwayat imunisasi2.2.2 Pemeriksaan FisikPertama, periksa tanda-tanda dan gejala dehidrasi. Cari tanda-tanda berikut:Kondisi Umum: adalah anak waspada; gelisah atau pemarah; lesu atau tidak sadar?Mata Apakah normal atau cekung?Ketika air atau larutan oralit ditawarkan untuk minum, apakah diambil atau dinolak, diambil dengan penuh semangat, atau anak tidak bisa minum karena kelesuan atau koma? Rasakan anak untuk menilai:oTurgor kulit. Ketika kulit di atas perut dicubit dan dilepaskan, segera merata, perlahan-lahan, atau sangat lambat (lebih dari 2 detik)?Kemudian, periksalah tanda-tanda masalah penting lainnya. Cari tanda-tanda ini:Apakah tinja anak mengandung darah merah?Apakah anak kekurangan gizi? Buka seluruh pakaian bagian atas anak untuk melihat bahu, lengan, bokong dan paha, untuk bukti dari tanda berkurangnya otot (marasmus). Cari juga untuk edema pada kaki, jika ada disertai pengurangan otot, artinya anak menderita gizi buruk. Jika memungkinkan, nilai berat badan anak-untuk-umur, dengan menggunakan grafik pertumbuhan, atau berat badan-untuk-panjang. Atau, mengukur lingkar lengan pertengahan.Apakah anak batuk? Jika demikian, hitung jumlah pernapasan untuk menentukan apakah pernafasannya cepat dan mencari tidak simetris. Periksa suhu anak:oDemam dapat disebabkan oleh dehidrasi parah, atau oleh infeksi non ususseperti malaria atau pneumonia.(1)2.2.3 Derajat DehidrasiPenilaianABC

1.Lihat :Keadaan UmumMataRasa HausBaik, sadarNormalMinum biasatidak haus* GelisahCekung* Haus, ingin minum banyak* Lesu, lunglai atau tidak sadarSangat cekung dan kering* Malas minum atau tidak bisa minum

2.Periksa turgor kulitKembali cepat* Kembali lambat* Kembali sangat lambat

3.Derajat dehidrasiTanpa dehidrasiDehidrasi ringan/sedangbila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lainDehidrasi beratBila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lain

4.TerapiRencana terapi ARencana terapi BRencana terapi C

Tabel 2.1Cara menilai derajat dehidrasi(1)Derajat dehidrasi dinilai sesuai dengan tanda dan gejala yang mencerminkan jumlah cairan yang hilang:(1)Pada tahap awal dehidrasi, tidak ada tanda-tanda atau gejala.Sesuai dehidrasi yang meningkat, tanda-tanda dan gejala berkembang. Awalnya termasuk: rasa haus, gelisah atau perilaku pemarah, turgor kulit menurun, mata cekung, dan Fontanel cekung (pada bayi).Pada dehidrasi berat, efek ini menjadi lebih jelas dan berkembang menjadi tanda-tanda syok hipovolemik, termasuk: hilang kesadaran, kurangnya urin, lembab dingin ekstremitas, denyut nadi yang cepat dan lemah denyut (nadi a. radialis mungkin tidak terdeteksi), rendah atau tidak terdeteksinya tekanan darah, dan Sianosis perifer. Dapat terjadi kematian yang cepat jika tidak dimulai rehidrasi dengan cepat.(1)Kekurangan cairan pada anak dapat diperkirakan sebagai berikut :PengukuranKekurangan Cairan (%) Berat BadanKekurangan Cairan dalam ml/Kg Berat Badan

Tidak Dehidrasi10%>100 ml/kg

Tabel 2.2Hubungan Derajat Dehidrasi Dengan Perkiraan Jumlah Cairan yang Hilang(1)2.2.4 Diagnosis Masalah Penting LainnyaMendiagnosis disentri: jika tinja mengandung darah merah atau ibu mengatakan dia melihat darah.(1,3,7)Mendiagnosis diare persisten: jika diare mulai setidaknya 14 hari yang lalu (dan setiap periode tanpa diare telah tidak melebihi dua hari).(1,3)Mendiagnosis gizi buruk: jika berat badan-untuk-panjang, atau berat badan-untuk-umur, dengan menggunakan berat badan anak setelah rehidrasi, menunjukkan kekurangan gizi sedang atau berat, atau ada edema dengan membuang-buang otot atau anak telah jelas marasmus.(1,5)Mendiagnosis serius usus non-infeksi: berbasis, misalnya, pada tanda-tanda pneumonia atau sepsis; di daerah dengan falciparum malaria, demam atau riwayat demam baru-baru ini cukup untuk menjadikan pasien tersangka dan diobati malaria. Jika dicurigai sepsis atau meningitis, anak harus dirujuk ke rumah sakit.(1,7)2.3 PENATALAKSANAAN DIARE AKUT (TANPA DARAH)Tujuan daripada pengobatan diare akut secara objektif ialah :(1,5)Mencegah dehidrasi, jika tidak ada tanda-tanda dehidrasiMengobati dehidrasi, jika adaMencegah kerusakan nutrisi, dengan memberi makanan selama dan setelah dehidrasi,danmengurangi durasi dan keparahan diare, dan timbulnya pada episode mendatang, dengan memberikan suplemen zinc.2.3.1 Rencana Terapi A : Terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisiAnak-anak tanpa tanda-tanda dehidrasi memerlukan tambahan cairan dan garam untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare. Jika ini tidak diberikan, tanda-tanda dehidrasi dapat terjadi.(1,6)Ibu harus diajarkan cara untuk mencegah dehidrasi di rumah dengan memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya, bagaimana mencegah kekurangan gizi dengan terus memberi makan anak, dan mengapa tindakan-tindakan ini penting. Mereka harus juga tahu apa tanda-tanda menunjukkan bahwa anak harus dibawa ke petugas kesehatan. Langkah-langkah tersebut dirangkum dalam empat aturan Rencana Terapi A.(1,6)Aturan 1 : Memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya, untuk mencegah dehidrasiCairan yang diberikan adalah cairan yang mengandung garam (oralit), dapat juga diberikan air bersih yang matang.(1)Komposisi larutan oralit baru :Natrium klorida 2,6 gram/literGlukosa 13,5 gram/literKalium klorida 1,5 gram/literTrisodium sitrat 2,9 gram/literKomposisi larutan oralit lama :Natrium klorida 3,5 gram/literGlukosa 20 gram/literKalium klorida 1,5 gram/literTrisodium sitrat 2,55 gram/literDengan menurunkan osmolaritas dengan mengurangi konsentrasi glukosa dan garam (NaCl) dimaksudkan untuk menghindari hipertonisitas cairan selama absorpsi cairan oralit.(1)Cairan yang mengandung garam, seperti oralit, minuman asin (seperti minuman youghert), atau sayuran dan sup ayam dengan garam. Ajari ibu untuk memasukan garam (kurang lebih 3g/L) pada minuman yang tidak bergaram (seperti air matang, air teh, jus buah-buahan yang tidak diberi gula) atau sup selama diare.(1)Larutan oralit yang dapat dibuat dirumah mengandung 3g/L garam dapur (1 sendok teh penuh garam) dan 18g/L dari gula dapur (sukrosa) sangat efektif namun tidak dianjurkan karena seringkali lupa resepnya.Minuman yang tidak boleh diberikan ialah minuman bersoda, teh manis, jus buah-buahan yang manis. Minuman tersebut dapat menyebabkan diare osmotik dan hipernatremia. Sedangkan kopi tidak boleh diberikan karena bersifat diuretik.(1)Umur (tahun)Jumlah Cairan Yang Harus Diberikan

50-100 ml cairan

2-10100-200 ml

> 10> 200 atau sebanyak yang mereka mau

Tabel 2.3Jumlah Cairan yang Harus Diberi Sesuai Umur Menurut WHO 2005Aturan 2 : Berikan tambahan zinc (10 - 20 mg) untuk anak, setiap hari selama 10 -14 hariZinc dapat diberikan sebagai sirup atau tablet, dimana formulasinya tersedia dan terjangkau. Dengan memberikan zinc segera setelah mulai diare, durasi dan tingkat keparahan episode serta risiko dehidrasi akan berkurang. Dengan pemberian zinc selama 10 sampai 14 hari, zinc yang hilang selama diare diganti sepenuhnya dan risiko anak memiliki episode baru diare dalam 2 sampai 3 bulan ke depan dapat berkurang.(1)Aturan 3 yaitu berikan anak makanan untuk mencegah kurang giziDiet bayi yang biasanya harus dilanjutkan selama diare dan ditingkatkan setelahnya. Makanan tidak boleh ditahan dan makanan anak yang biasa tidak boleh diencerkan. pemberian ASI harus dilanjutkan. Tujuannya adalah untuk memberikan makanan yang kaya nutrisipada anak. Sebagian besar anak-anak dengan diare cair mendapatkan kembali nafsu makan mereka setelah dehidrasi diperbaiki, sedangkan orang-orang dengan diare berdarah seringkali nafsu makan tetap buruk sampai penyakitnya sembuh. Anak-anak ini harus didorong untuk mau makan secara normal sesegera mungkin.(1)Ketika makanan diberikan, gizi yang cukup biasanya diserap untuk mendukung pertumbuhan dan pertambahan berat badan. Makan juga mempercepat pemulihan fungsi usus normal, termasuk kemampuan untuk mencerna dan menyerap berbagai nutrisi. Sebaliknya, pada anak-anak yang dibatasi makannya dan makanan yang diencerkan dapat menurunkan berat badan, menyebabkan diare lebih lama dan lebih lambat memulihkan fungsi usus.(1)Secara umum, makanan yang sesuai untuk anak dengan diare adalah sama dengan yang diperlukan oleh anak-anak yang sehat.(1)oBayi segala usia yang menyusui harus tetap diberi kesempatan untuk menyusui sesering dan selama mereka inginkan. Bayi sering menyusui lebih dari biasanya dan ini harus didukung.(1)oBayi yang tidak disusui harus diberikan susu biasa mereka makan (atau susu formula) sekurang-kurangnya setiap tiga jam, jika mungkin dengan cangkir.(1)oBayi di bawah usia 6 bulan yang diberi makan ASI dan makanan lain harus diberikan ASI lebih banyak. Setelah anak tersebut sembuh dan meningkatnya pasokan ASI, makanan lain harus diturunkan.(1)Jika anak usia minimal 6 bulan atau sudah diberikan makanan lunak, ia harus diberi sereal, sayuran dan makanan lain, selain susu. Jika anak di atas 6 bulan dan makanan tersebut belum diberikan, maka harus dimulai selama episode diare atau segera setelah diare berhenti. Daging, ikan atau telur harus diberikan, jika tersedia. Makanan kaya akan kalium, seperti pisang, air kelapa hijau dan jus buah segar akan bermanfaat.(1)Berikan anak makanan setiap tiga atau empat jam (enam kali sehari). Makan porsi kecil yang Sering, lebih baik daripada makan banyak tetapi lebih jarang. Setelah diare berhenti, dapat terus memberi makanan dengan energi yang sama dan membrikan satu lagi makan tambahan daripada biasanya setiap hari selama setidaknya dua minggu. Jika anak kekurangan gizi, makanan tambahan harus diberikan sampai anak telah kembali berat badan normal-untuk-height.(1)Aturan 4 Bawa anak ke petugas kesehatan jika ada tanda-tanda dehidrasi atau masalah lainnyaIbu harus membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak: Buang air besar cair sering terjadi Muntah berulang-ulang Sangat haus Makan atau minum sedikit Demam Tinja Berdarah Anak tidak membaik dalam tiga hari.2.3.2 Rencana Terapi B: Terapi rehidrasi oral untuk anak-anak dengan dehidrasi ringan-sedangJika berat badan anak diketahui maka hal ini harus digunakan untuk menentukan jumlah larutan yang tepat. Jumlah larutan ditentukan dari berat badan (Kg) dikalikan 75 ml. Jika berat badan anak tidak diketahui maka penentuan jumlah cairan ditentukan berdasarkan usia anak. Seperti yang terlihat pada tabel 2.5.Jumlah Cairan yang Harus Diberikan Dalam 4 Jam Pertama

Usiaa4 11 bulan12 23 bulan2 4 tahun5 14 tahun> 15 tahun

Berat Badan57.9 kg8-10.9 kg11-15.9kg16-29.9kg> 30 kg

Jumlah (ml)200-400400-600600-800800-12001200-22002200-4000

aDigunakan apabila tidak diketahui berat badan pasienTabel 2.5Pedoman Pengobatan Dehidrasi Pada Anak dan Dewasa dengan Dehidrasi Sedang(1)Jika pasien menginginkan lebih banyak oralit, maka dapat diberikan.Dorong ibu untuk terus menyusui anaknya.Untuk bayi di bawah 6 bulan yang tidak menyusui, jika menggunakan larutan oralit WHO yang lama yang mengandung 90 mmol / L natrium, juga memberi 100-200ml air bersih selama periode ini. Namun, jika menggunakan larutan oralit osmolaritas rendah yang baru mengandung 75mmol / L natrium, hal ini tidak perlu menambah air bersih.(1)Edema (bengkak) kelopak mata adalah tanda dari over-hidrasi. Jika hal ini terjadi, hentikan penggunaan oralit, tapi dapat diberi ASI atau air putih, dan makanan. Jangan beri diuretik. Bila edema telah hilang, lanjutkan pemberian oralit atau cairan rumah sesuai dengan Rencana Terapi A.(1)Keluaraga harus diajarkan cara memberikan larutan oralit. Larutan dapat diberikan pada anak-anak menggunakan sendok atau cangkir. Botol minum tidak boleh digunakan. Untuk bayi dapat digunakan pipet atau syringe. Untuk anak (1)Jika tanda-tanda dehidrasi parah telah muncul, terapi intravena (IV) harus dimulai sesuai Rencana Terapi C.(1)Jika anak masih memiliki tanda-tanda yang menunjukkan dehidrasi beberapa, teruskan terapi rehidrasi oral dengan mengulangi Rencana Terapi B. Pada saat yang sama dimulai pemberian makanan, susu dan cairan lain, seperti yang dijelaskan dalam Rencana Terapi A, dan terus menilai kembali anak.(1)Jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi, harus dipertimbangkan rehidrasi telah lengkap. Bila rehidrasi adalah lengkap:Turgor kulit normalTidak hausUrinAnak menjadi tenang, tidak lagi mudah marah dan seringkali tertidur.Ajarkan ibu cara untuk merawat anaknya di rumah dengan larutan oralit dan makanan seperti pada Rencana Terapi A.(1)Dengan larutan oralit yang sebelumnya, tanda dehidrasi dapat menetap atau muncul kembali selama pemberian oralit pada 5% anak-anak. Namun dengan larutan oralit osmolaritas rendah yang baru, diperkirakan kegagalan pengobatan sebelumnya dapat berkurang menjadi 3%, atau kurang.(1)Penyebab kegagalan tersering ialah:Intake larutan oralit yang kurang (lebih dari 15-20 ml/kg/jam), seperti yang terjadi pada beberapa anak-anak dengan koleraTidak cukup asupan larutan oralit karena kelelahan atau kelesuanSering terjadi muntah-muntah yang parah.(1)Anak-anak tersebut harus diberikan larutan oralit dengan selang nasogastric (NG) atau larutan Ringer laktat intravena (IV) (75 ml/kg/4jam), biasanya dilakukan di rumah sakit.(1)Mulailah untuk memberikan tambahan zinc, seperti dalam Rencana terapi A, segera setelah anak dapat makan setelah 4 jam pertama periode rehidrasi.(1)Kecuali untuk ASI, makanan tidak boleh diberikan selama empat jam pertama periode rehidrasi. Namun, anak-anak yang terus dalam Rencana Terapi B lebih dari empat jam harus diberikan makanan setiap 3-4 jam seperti yang dijelaskan dalam Rencana terapi A. Semua anak yang lebih tua dari 6 bulan harus diberikan makanan sebelum pulang. Ini membantu untuk menekankan kepada para ibu pentingnya terus makan selama diare.(1)2.3.3 Rencana Terapi C : untuk Pasien dengan Dehidrasi BeratAnak-anak yang masih dapat minum, walaupun buruk, harus diberikan oralit secaraperoral sampai infus berjalan. Selain itu, ketika anak dapat minum tanpa kesulitan, semua anak harus mulai menerima larutan oralit (sekitar 5 ml/kg/jam), yang biasanya dalam waktu 3-4 jam (untuk bayi) atau 1-2 jam (untuk pasien yang lebih tua). Ini memberikan tambahan dasar dan potasium, yang mungkin tidak dapat secara memadai disediakan oleh cairan infus.2.3.4 Gangguan Elektrolit2.3.4.1 HipernatremiaBeberapa anak diare terjadi dehidrasi hipernatraemia, terutama ketika diberi minuman yang hipertonik karena mengandung gula yang berlebihan (misalnya minuman ringan) atau garam. Ini menarik air dari jaringan dan darah anak ke dalam usus, menyebabkan konsentrasi natrium dalam cairan ekstra-selular meningkat. Jika zat terlarut dalam minuman ini tidak sepenuhnya terserap, air tetap berada dalam usus, dan menyebabkan diare osmotik.(1)2.3.4.2 HiponatremiaAnak-anak diare yang kebanyakan minum air, atau air minum yang mengandung sedikit garam, dapat terjadi hiponatremia (Na serum (1)2.3.4.3 HipokalemiaPenggantian yang inadekuat dari kehilangan kalium selama diare dapat menyebabkan berkurangnya kalium dan hipokalemia (serum K + (1)2.4 PENATALAKSANAAN PASIEN TERSANGKA KOLERAKolera dibedakan dengan diare akut penyebab lain dalam tiga cara: Terjadi dalam wabah besar yang melibatkan anak-anak dan orang dewasa Diare cair yang banyak, dengan cepat mengarah ke dehidrasi berat dengan syok hipovolemik Untuk kasus-kasus dehidrasi berat antibiotik yang tepat dapat mempersingkat durasi penyakit.(1)Pengobatan awal dehidrasi dari kolera mengikuti rencana terapi dehidrasi seperti yang sudah dijelaskan. Untuk pasien dengan dehidrasi berat dan shock, infus intravena harus diberikan segera untuk memulihkan volume darah, dan perbaikan dinilai dari tekanan darah yang normal dan denyut nadi radial yang kuat.(1)2.5PENATALAKSANAAN DIARE AKUT BERDARAHSelain itu, mereka harus dirawat selama tiga hari dengan ciprofloxacin, atau selama lima hari dengan antimikroba oral lainnya yang sensitif terhadap Shigella. Hal ini karena Shigella menyebabkan episode diare berdarah pada anak-anak, dan hampir semua episode parah. Tabel 2.6Antibiotik yang Digunakan Untuk Mengobati Penyebab DiarePenyebabAntibiotik PilihanAlternatif

KoleraDoxycyclineDewasa: 300 mg sekaliatauTetracyclineAnak-anak: 12.5 mg/kg4 kali per harix 3 hariDewasa: 500 mg4 kali per harix 3 hariErythromycinAnak-anak: 12.5 mg/kg4 kali per harix 3 hariDewasa : 250 mg4 kali per harix 3 hari

Disentri ShigellaCiprofloxacinAnak: 15 mg/kg2 kali per harix 3 hariDewasa: 500 mg2 kali per harix 3 hariPivmecillinamAnak-anak: 20 mg/kg4 kali per harix 5 hariDewasa: 400 mg4 kali per harix 5 hariCeftriaxoneAnak-anak: 50-100 mg/kg1 kali per hari IM x 2 to 5 hari

AmobiasisMetronidazoleAnak-anak: 10 mg/kg3 kali per harix 5 hari (10hari pada kasus berat)Dewasa: 750 mg3 kali per harix 5 hari (10hari pada kasus berat)

GiardiasisMetronidazoledAnak-anak: 5 mg/kg3 kali per harix 5 hariDewasa: 250 mg3 kali per harix 5 hari

2.5.1 AmobiasisAmoebiasis merupakan penyebab yang jarang untuk diare cair berdarah pada anak-anak, insidensinya kurang dari 3%. Anak-anak dengan diare berdarah tidak boleh diobati amobiasis secara rutin. Pengobatan tersebut dilakukan jika pemeriksaan mikroskopis faeses ditemukan tropozoit dari E. histolytica yang mengandung sel-sel darah merah. Pengobatan antiamoeba dapat dilihat pada Tabel 2.6.(1)2.6 Penatalaksanaan Diare PersistenDiare dengan atau tanpa darah yang dimulai secara akut dan berlangsung selama paling tidak 14 hari. Biasanya berhubungan dengan penurunan berat badan dan sering dengan infeksi non intestinal. Diare persisten hampir tidak pernah terjadi pada anak yang diberi ASI eksklusif. Anak-anak yang menderita diare persisten seringkali sudah malnutrisi sebelum diare.(1)Tujuan pengobatannya yaitu mengembalikan berat badan dan fungsi normal usus. Terapi diare persisten meliputi :Cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi sesuai dengan rencana terapi A, B,dan C.Nutrisi agar tidak memperparah diareSuplemen vitamin dan mineral, termasuk pemberian zinc untuk 10-14 hariAntimikroba untuk mengobati infeksi.2.6.1 Memberikan Nutrisi yang CukupIni merupakan pengobatan yang esensial bagi anak dengan diare persisten. Pasien yang diobati di rumah harus diobati dengan diet yang cukup sesuai usianya, namun dengan kadar laktosa yang dibatasi. Anak yang diobati di rumah sakit membutuhkan diet yang khusus sampai diarenya reda dan berat badannya naik. Tujuannya yaitu 110 kalori/Kg/hari.(1)Mengobati Pasien di Rumah(1)oLanjutkan ASIoJika yoghurt tersedia, berikan pada anak menggantikan susu hewan yang biasa diberikan pada anak, yoghurt dengan kadar laktosa yang rendah lebih mudah ditoleransi. Jumlahnya 50 ml/KgBB/hari. Dapat dicampur dengan sereal anak.oBerikan makanan lain pada anak sesuai aturan 3 rencana terapi A.oMemberikan makanan kecil yang sering, minimal 6 (enam) kali per hari.Makanan untuk Rumah Sakit(1)Lanjutkan ASI sebanyak anak mau. Makan lainnya harus diberikan setidaknya setelah 4-6 jam setelah rehidrasi dimulai mengikuti rencana terapi B dan C.Anak di bawah 6 bulanLanjutkan ASI. Dorong ibu untuk memberikan ASIJika susu hewan harus diberikan maka gantilah dengan yoghurt yang diberikan dengan menggunakan sendok, dengan kadar laktosa yang rendah atau tidak ada.Bayi yang lebih besar atau anak-anakGunakan standar diet menggunakan bahan-bahan lokal. Ada dua contoh diet. Diet yang pertama mengandung laktosa yang rendah. Kedua, untuk anak-anak yang tidak membaik dengan diet yang pertama, tidak mengandung laktosa dan rendah tepung.(1)Diet pertama: rendah laktosaDiet ini harus dimulai secepatnya setelah anak dapat makan dan diberikan 6 (enam) kali per hari. Beberapa anak membutuhkan NGT pada awalnya. Diet ini menyediakan 83 Kkal/100g, 3,7 g laktosa/KgBB/hari dan 11% kalori seperti protein :(1)Susu rendah lemak 11g (atau 85 ml)Nasi 15 g (nasi yang belu dimasak)Minyak sayur 3,5 gGula pasir 3 gAir matang 200 mlDengan diet ini, 130ml/Kg menyediakan 110Kkal/Kg.(1)Diet Kedua : Bebas laktosan rendah tepungHampir 65% anak-anak membaik setelah diberikan diet pertama. Namun bagi anak-anak yang tidak sembuh maka dapat diberikan diet yang kedua ini.(1)Telur 64gNasi 3 gMinyak sayur 4 gGlukosa 3 gAir matang 200mlDengan diet ini, 145 ml/Kg menyediakan 11 kal/Kg.(1)2.6.2 Suplemen Multivitamin dan MineralAnak-anak degan diare persisten haru menerima tambahan gizi berupa multivitamin dan mineral setiap hari untuk 2 (dua) minggu. Harus mencakup sebagian besar vitamin dan mineral meliputi anjuran dosis harian dan diberikan minimal 2 (dua) kali sehari, yaitu :(1)Asam folat 50 ugZinc 10 mgVitamin A 400 ugTembaga 1 mgMagnesium 80 mg2.6.3 Evaluasi Respon Terhadap PengobatanAnak-anak yang Diobati di Rumah SendiriAnak harus dievaluasi setelah 7 hari, atau saat diare memburuk atau saat timbulnya masalah lain. Pada penderita yang berat badannya naik dan diare kurang dari 3 (tiga) kali perhari, dianjurkan mendapat diet secara normal kembali. Mereka yang berat badannya tidak meningkat atau pada pasien diare yang tidak membaik harus dirujuk kerumah sakit.(1)Anak-anak yang Diobati di Rumah SakitPenderita diare persisten harus diperiksakan setiap hari, hal-hal yang diperiksa ialah berat badan, tempertur, intak makanan, dan jumlah diare.(1)Pengobatan yang berhasil akan menunjukkan intak makanan yang cukup, berat badan meningkat, jumlah diare yang sedikit, dan demam turun.(1)Kegagalan diet disebabkan karena :Peningkatan frekuensi diare (biasanya > 10 kali per hari), sering ditandai dengan munculnya tanda dehidrasi, segera setelah diet baru diberikan.Kegagalan untuk mendapatkan berat badannya kembali dalam 7 (tujuh) hari.Diet pertama harus diberikan dalam 7 (tujuh) hari, kecuali terjadi kegagalan diet yang muncul lebih awal, sehingga hentikan diet pertama dan berikan diet kedua untuk 7 (tujuh) hari.(1)2.7 Penatalaksanaan Diare Dengan Malnutrisi BeratStatus hidrasi sulit dinilai disebabkan sering tampak dalam keadaan yang normal. Turgor kulit muncul pada anak-anak dengan marasmus yang tidak memiliki lemak subkutan, mata tampak cekung. hilangnya turgor kulit dapat ditutupi oleh edema pada anak kwashiorkor. Sehingga tanda-tanda yang dapat dinilai ialah : kemauan untuk minum, lesu, kedinginan, dan kelembaban ekstrimitas, kelemahan dari a. radialis, dan urin output yang sedikit (tanda dehidrasi berat). Pada anak dengan malnutrisi berat sering tidak mungkin untuk membedakan antar dehidrasi sedang dan berat.(1)2.7.1 Penatalaksanaan DehidrasiPasien harus dirawat d rumah sakit. Rehidrasi diberikan peroral, jika sulit maka dapat menggunakan NGT. Infus secara IV mudah menimbulkan overhidrasi dan gagal jantung, hanya digunakan pada saat syok saja.(1)Rehidrasi oral dilakukan perlahan-lahan, memberikan 70-100ml/Kg selama 12 jam. Mulai berikan 10 ml/Kg/jam selama 2 (dua) jam pertama. Dapat diteruskan atau dikurangi sesuai dengan kehilangan cairan lewat diare dan kehausan anak. Meningkatnya timbulnya edema menandaka overhidrasi. Cairan diberikan untuk menjaga hidrasi setelah dehidrasi dikoreksi, dan harus berdasarkan jumlah kehilangan cairan, sesuai rencana terapi A.(1)Larutan oralitlengkap tidak boleh diberikan peroral atau melalui NGT karena terlalu banyak mengandung natrium dan sedikit kalium. Sehingga harus diberikan dengan cara lain, yaitu ketika menggunakan larutan oralit baru yang mengandung 75 mEq/l natrium :(1)Bagi satu paket larutan oralit ke dalam 2 (dua) liter air bersihTambahkan 45 ml larutan kalium klorida (dari larutan berisi 100 g KCl/L)Tambahkan dan bagi 50g sukrosa.Larutan ini menyediakan natrium yang lebih sedikit (37.5 mmol/l), lebih banyak kalium (40 mmol/L) dan tambahan gula (25g/l), dimana efektif pada anak diare dengan malnutrisi berat.(1)2.7.2 Memberi MakanIbu harus memberikan ASI dan makanan tambahan lainnya pada anak mereka, yang dimulai seceptnya, dalam 2-3 jam setelah rehidrasi dimulai. Makanan harus diberikan setiap 2-3 jam sekali siang dan malam.(1)Diet awal diberikan sejak awal sampai nafsu makan anak kembali normal. Beberapa anak makan dengan baik sejak awal terapi namun banyak penderita mendapatkan nafsu makannya kembali setelah 3-4 hari, setelah infeksi diobati. Diet mengandung 75 Kkal/100ml dan meliputi :(1)Bubuk skim milk 25 gramMinyak sayur 20 gramGula 60 gramBubuk nasi 60 gramAir bersih 1000 mlKombinasikan resep dan rebus selama 5 (lima) menit untuk memasak sereal. Anak harus menerima 130 ml/Kg/hari. Bagi anak yang tidak dapat terpenuhi kebutuhan dietnya harus diberikan menggunakan NGT dibagi dalam 6 (enam) kali pemberian.2.7.3 Vitamin, Mineral, dan GaramZat di bawah ini harus ditambahkan setiap 2 (dua) liter cairan yang dijelaskan di atas.KCl 3.6 gK3 sitrat1.3 gMgCl2.6H2O 1.2 gZn asetat.2H20 130 mgCuSO4.7H2O 22 mgNaSeO4.10H2O 0.44 mgKI 0.20 mgVitamin A diberikan sesuai dengan bagian 2.8.2.2.7.4 AntimikrobaSemua anak malnutrisi harus menerima antibiotik spektrum luas, seperti gentamicin dan ampicillin, untuk beberapa hari setelah dimasukkan ke RS. Kombinasi ini atau kombinasi lainnya yang berspektrum luas harus diberikan kepada anak dengan tanda syok septik. Anak harus dicek setiap hari untuk infeksi lain dan kemudian diobati.(1)2.8 Masalah Lain yang Terkait Dengan Diare2.8.1 DemamDemam pada anak diare dapat disebabkan oleh infeksi lain (misalnya pneumonia, bakteremia, ISK atau otitis media). Anak-anak kecil mungkin juga demam karena dehidrasi. Kehadiran demam seharusnya mendorong pencarian penyebab infeksi lain. Hal ini penting terutama bila demam tetap ada setelah seorang anak telah sepenuhnya terrehidrasi.(1)Anak-anak dengan demam tinggi (39 C atau lebih) harus ditangani segera dengan menurunkan suhunya. Cara terbaik dilakukan dengan mengobati setiap infeksi dengan antibiotik yang sesuai serta antipiretik (misalnya parasetamol). menurunkan demam juga meningkatkan nafsu makan dan mengurangi iritasi.(1)2.8.2 Defisiensi Vitamin ADiare mengurangi penyerapan, dan meningkatkan kebutuhan, vitamin A. Pada daerah penyimpanan vitamin A seringkali rendah, anak-anak dengan diare akut atau diare persisten dapat dengan cepat terbentuk lesi kekurangan vitamin A pada mata yaitu xerophthalmia dan bahkan menjadi buta.(1)Pada daerah seperti ini, anak-anak diare harus diperiksa secara rutin adanya kekeruhan kornea dan lesi conjunctiva (Bitot's spot). Jika terdapat salah satu, vitamin A per oral harus diberikan sekaligus dan pada hari berikutnya: 200 000 unit/dosis untuk usia 12 bulan sampai 5 tahun, 100 000 unit untuk usia 6 bulan sampai 12 bulan, dan 50 000 unit untuk usia kurang dari 6 bulan.2.9 Obat Antimikroba dan Obat "antidiare"2.9.1 Obat AntimikrobaAntimikroba jangan diberikan secara rutin. Karena sulit untuk membedakan antara episode yang secara klinis berespon, seperti diareyang disebabkan enterotoxicE. coli, dengan penyebab lain yang tidak berespon terhadap antimikroba, seperti rotavirus atau Cryptosporum. Bahkan untuk infeksi yang berespon secara potensial, memilih antimikroba yang selektif membutuhkan pengetahuan tentang sensitivitas dari agen penyebab diare, dan informasi tentang ini biasanya sulit didapat. Lebih lagi, penggunaan anti mikroba menambah biaya pengobatan, dan berisiko menimbulkan efek samping dan meningkatkan resistensi bakteri.(1)2.9.2 Obat AntidiareObat anti diare, walaupun sering digunakan, tidak memiliki manfaat praktis dan tidak pernah diindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak-anak. Beberapa dari oabat-obat ini berbahaya. Produk dalam kategori ini meliputi:Adsorbents (misalnya kaolin, attapulgite, smectite, arang aktif, cholestyramine). Obat ini dipromosikan untuk perawatan diare dengan cara mengikat dan menonaktifkan racun bakteri atau zat lain yangmenyebabkan diare, dan obat ini dianggap untuk "melindungi" mukosa usus. Namun, Tidak ada bukti nilai praktis dalam pengobatan rutin diare akut pada anak-anak.(1)Obat-obatan antimotilitas (misalnya loperamide hidroklorida, diphenoxylate dengan atropin, tingtur opium, mengandung kapur barus tingtur opium, obat penghilang rasa sakit, kodein). Obat-obatan ini yaitu opiat atau seperti opiat dan inhibitor motilitas usus lain dapat mengurangi frekuensi diare pada orang dewasa. Namun, obat ini tidak memperkecil volume tinja pada anak-anak. Selain itu, mereka dapat menyebabkan ileus paralitik yang parah, yang dapat berakibat fatal, dan mereka mungkin memperpanjang infeksi dengan menunda menghilangkan organisme penyebab. Sedasi mungkin dapat terjadi pada dosis terapi biasa dan keracunan sistem saraf pusat telah dilaporkan untuk beberapa obat. Tidak satu pun dari agen ini harus diberikan bayi atau anak-anak dengan diare.(1)Bismut subsalisilat. Bismut subsalisilat mengurangi jumlah diare dan keluhan diare travellers pada orang dewasa. Ketika diberikan setiap empat jam, dilaporkan terjadi penurunan diare pada anak-anak dengan diare akut sekitar 30%. Namun, pengobatan ini jarang dipraktekan.(1)Kombinasi obat-obatan. Banyak produk menggabungkan adsorbents, antimikroba, obat antimotilitas obat. Produsen dapat mengklaim bahwa formulasi ini sesuai untuk berbagai penyakit diare, namun, obat kombinasi ini tidak rasional serta mempunyai biaya dan efek samping yang jauh lebih tinggi. Sehingga obat-obat seperti ini tidak diperbolehkan untuk diare pada anak-anak.(1)2.9.3 Obat LainnyaAntiemetik. Obat-obatan ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine, dapat menyebabkan sedasi yang dapat mengganggu pemberian oralit. Untuk alasan ini antiemetik tidak boleh diberikan kepada anak-anak dengan diare. Terlebih lagi, muntah akan berhenti bila anak sudah terrehidrasi.(1)Steroid. Steroid tidak memiliki manfaat dan tidak pernah diidikasikan.(1)Obat pencahar. Obat ini dapat membuat diare dan dehidrasi semakin parah, obat-obat ini tidak boleh digunakan.(1)2.10 Pencegahan DiarePengobatan penyakit diare sangat efektif dalam mencegah kematian, tetapi tidak memiliki dampak pada insidensi diare. Staf kesehatan yang bekerja di fasilitas perawatan untuk mengajar anggota keluarga dan memotivasi mereka tentang langkah-langkah pencegahan. Ibu dari anak-anak yang dirawat karena diare cenderung sangat menerima pesan-pesan tersebut. Untuk menghindari kelebihan informasi yang didapatkan ibu, yang terbaik adalah dengan menekankan hanya satu atau dua saja dari poin-poin berikut, memilih yang paling sesuai untuk ibu dan anaknya.(1)2.10.1 Air Susu IbuSelama 6 bulan pertama kehidupan, bayi harus mendapatkan ASI eksklusif. Ini berarti bahwa bayi yang sehat harus diberi ASI dan tidak boleh menerima makanan atau cairan lainnya, seperti air, teh, jus, sereal minuman, susu hewan atau formula. Bayi dengan ASI eksklusif sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan diare atau meninggal karena diare daripada bayi yang tidak mendapatkan ASI atau ASI sebagian. Menyusui juga melindungi terhadap risiko alergi pada awal kehidupan, memberikan jarak dan perlindungan terhadap infeksi selain diare (misalnya pneumonia). Menyusui harus terus diberikan sampai minimal 2 tahun. Cara terbaik untuk praktek adalah dengan meletakkan bayi ke payudara segera setelah lahir dan tidak memberikan cairan lain.(9,10,11)2.10.2 Memperbaiki Cara Mempersiapkan MakananMakanan pelengkap biasanya harus dimulai ketika anak berusia 6 bulan. Hal ini dapat dimulai setiap saat setelah berusia 4 bulan. Namun, jika anak tidak tumbuh memuaskan. Memberikan makanan yang baik, memilih makanan bergizi dan menggunakan praktek-praktek yang higienis ketika mempersiapkan makanan. Pilihan makanan pelengkap akan tergantung pola diet lokal dan pertanian, serta pada kepercayaan dan praktek-praktek yang ada. Selain ASI (atau susu hewan), makanan lunak (seperti sereal) harus diberikan. Bila mungkin, telur, daging, ikan dan buah-buahan harus diberikan juga. Makanan lain, seperti kacang-kacangan matang dan sayuran harus diberikan, terutama yang ditambahkan beberapa minyak nabati (5-10 ml / porsi).(1,11)2.10.3 Penggunaan Air BersihRisiko diare dapat dikurangi dengan menggunakan air bersih yang tersedia dan melindunginya dari kontaminasi.(1,12)Keluarga harus:Kumpulkan air dari sumber terbersih yang tersedia.Tidak mandi, mencuci, atau buang air besar di dekat sumbernya. WC harus ditempatkan lebih jauh 10 meter dan menuruni bukit.Jauhkan binatang jauh dari sumber air.Mengumpulkan dan menyimpan air ke dalam wadah yang bersih; kosong dan bilas keluar wadah setiap hari, menjaga penyimpanan dengan wadah tertutup dan tidak membiarkan anak-anak atau hewan untuk minum dari tempat tersebut, mengambil air menggunakan gagang yang panjang dengan tujuan agar tangan tidak menyentuh air.Masak air yang digunakan untuk membuat makanan atau minuman untuk anak-anak.(1)2.10.4 Cuci TanganSemua agen penyebab diare dapat ditularkan melalui tangan yang telah terkontaminasi oleh feses. Risiko diare secara substansial berkurang jika anggota keluarga melakukan praktek cuci tangan dengan benar. Semua anggota keluarga harus mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar, setelah membersihkan seorang anak yang buang air besar, setelah membuang faeses anak, sebelum menyiapkan makanan, dan sebelum makan. Cuci tangan yang baik memerlukan penggunaan sabun atau pengganti lokal (seperti abu atau tanah), dan air yang cukup untuk mencuci tangan dengan bersih.(1,12)2.10.5 Keamanan MakananMakanan dapat terkontaminasi oleh penyebab diare pada semua tahapan produksi dan persiapan, termasuk: selama masa pertumbuhan bahan makanan (dengan menggunakan pupuk hewani), di tempat-tempat umum seperti pasar, selama persiapan di rumah atau di restoran, dan setelah terus disiapkan tanpa didinginkan. Masing-masing praktek-praktek keselamatan makanan juga harus ditekankan. Pendidikan kesehatan untuk masyarakat umum harus menekankan pesan-pesan kunci berikut mengenai persiapan dan konsumsi makanan:(1,12)oJangan makan makanan mentah, kecuali rusak buah-buahan dan sayuran yang dikupas dan dimakan langsung.oCuci tangan dengan bersih dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan atau makan.oMasak makanan sampai panas.oMakanlah makanan saat itu masih panas, atau panaskan secara menyeluruh sebelum makan.oCuci dan keringkan semua peralatan memasak setelah digunakan.oJauhkan makanan yang dimasak dan peralatan bersih secara terpisah dari makanan mentah dan alat-alat yang berpotensi terkontaminasi.oLindungi makanan dari lalat terbang.2.10.6 Penggunaan Jamban dan Pembuangan Kotoran yang AmanFeses dapat mencemari air tempat anak-anak bermain, ibu mencuci pakaian, dan tempat sumber air untuk pemakaian keperluan rumah tangga. Setiap keluarga harus mempunyai jamban yang bersih dan berfungsi dengan baik. Jika tidak tersedia, keluarga harus buang air besar di tempat yang ditunjuk dan menguburkan kotoran segera. Kotoran anak-anak cenderung mengandung patogen diare, kotoran tersebut harus dikumpulkan segera setelah buang air besar dan dibuang di jamban atau dikubur.(1,12)2.10.7 Imunisasi CampakImunisasi campak secara substansial dapat mengurangi insiden dan tingkat keparahan penyakit diare. Setiap bayi harus diimunisasi terhadap campak pada usia yang dianjurkan.(1,12)

BAB IIIKESIMPULAN

Diare adalah perubahan pola defekasi (buang air besar) yakni pada bentuk atau frekuensinya dimana bentuk feses (tinja) berubah menjadi lunak atau cair, atau frekuensinya yang bertambah menjadi lebih dari tiga kali dalam sehari.Bila hal ini terjadi maka tubuh anak akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.Diare ini bisa menyebapkan beberapa komplikasi yaitu dehidrasi, renjatan hivopolemik, kejang, bakterimia, malnutrisi, hipoglikemia, intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

DAFTAR PUSTAKA1. M.K. Bhan, D. Mahalanabis, N.F. Pierce, N. Rollins, D. Sack, M. Santosham. 2005.TheTreatment of Diarrhoea A manual for physicians and other senior health workers.Web Site :http://whqlibdoc.who.int/publications/2005/9241593180.pdf [cited 2014 jan 16]2. Payne-Dalby J, Elliot E. Gastroenteritis in Children. Am Fam Physician.2008Feb1;77(3):353-354.3. Churgay CA, Aftab Z. Gastroenteritis in Children: Part I. Diagnosis. Am Fam Physician.2012Jun1;85(11):1059-1062.4. Subdit pengendalian diare Kemenkes RI. Situasi diare di Indonesia. Buletin jendela data dan informasi kesehatan. Jakarta. 2011.5. Simadibrata,M, Setiati S..Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen. 2006.6. Hery Garna, Emelia Suroto, Hamzah, Heda Melinda D Nataprawira, Dwi Prasetyo. 2005.Diare Akut Dalam: Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi Ke-3. Bandung: Bagian /SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Padjajaran/ RSUP Hasan Sadikin Bandung. Hal.271-278(2)7. Gastroenteritis in Children: Treating Dehydration. Am Fam Physician.2012Jun1;85(11):online. [cited 2014 jan 16] 8. Soegijanto S.Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan Penatalaksanaan. Surabaya: Airlangga University Press. 2006.9. Buku Ajar Diare. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. 1999.Hal. 81,154.10. Buku Saku Lintas Diare untuk Petugas Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Jakarta : 2010.11. Denno DM, Shaikh N, Stapp JR, et al. Diarrhea Etiology in a Pediatric Emergency Department: A Case Control Study. CID 2012;55:897-904. [cited 2014 jan 16] available from (http://cid.oxfordjournals.org/ )12. Churgay CA, Aftab Z. Gastroenteritis in Children: Part II. Prevention and Management. Am Fam Physician.2012Jun1;85(11):1066-1070.


Recommended