Home >Documents >HASIL PENELITIAN

HASIL PENELITIAN

Date post:04-Jul-2015
Category:
View:363 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Transcript:

1

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai suatu negara agraris sebagian besar masyarakatnya hidup dari hasil produksi dilapangan pertanian atau sekitar 70% masyarakat hidup sebagai petani. Untuk tujuan pembangunan pertanian yang senantiasa diarahkan kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka sektor pertanian mendapat prioritas utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Dalam rangka pembangunan nasional tersebut, tujuan pembangunan pertanian yaitu terus menerus meningkat produksi pertanian, baik untuk memenuhi komsumsi masyarakat yang terus meningkat maupun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku untuk industri dalam negeri yang terus berkembang, dan disamping itu untuk senantiasa berupaya meningkatkan devisa dan ekspor hasil hasil pertanian (Anonim, 1993). Memasuki era globalisasi, era pasar bebas, Indonesia sudah melakukan berbagai strategi pembangunan. Salah satu sektor pembangunan yang menjadi andalan Indonesia adalah pertanian. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya produksi pertanian yang dilakukan termasuk didalamnya usaha usaha bidang perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Pembangunan sub sektor perkebunan adalah sebagian komponen dari pembagunan pertanian yang merupakan bagian integral dari pembangunan, akan terus ditingkatkan berperan aktif dan meningkatkan sumbangannya dalam rangka memecahkan berbagai masalah nasional, masalah ekonomi, tenaga kerja, sosial maupun wawasan nusantara. Oleh karena itu arah serta kebijaksanaan senantiasa memacu pada pencapaian tujuan dan sasaran seperti yang dirumuskan da lam Tri

2

Dharma perkebunan yaitu 1). meningkatkan pendapatan petani dan penerima devisa negara, 2). menciptakan lapangan dan kesempatan kerja, 3). memelihara dan meningkatkan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan perkebunan seperti tersebut di atas beberapa usaha pokok yang dilaksanakan yaitu intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi (Anonim, 1999). Tanaman kakao merupakan salah satu komoditi yang sangat penting baik sebagai sumber penghasilan bagi jutaan petani maupun sebagai salah satu bahan penyedap yang sangat diperlukan untuk produksi makanan, kue kue dan berbagai jenis minuman, semakin banyak diperlukan biji kakao untuk bahan makanan dan minuman di negara negara pengimpor dan pabrik pabrik yang menghasilkan macam produksi biji kakao sangat memerlukan persediaan bahan baku kakao dari negara negara produsen. Di Sulawesi Tenggara, yang mempunyai lahan kering sekitar 3,7 ribu hektar atau 98,37% dari seluruh wilayah daratan yang berjumlah 3,814 ribu hektar merupakan daerah yang sangat potensial untuk pengembangan komoditi kakao. Peningkatan produksi tanaman kakao akan menimbulkan masalah dalam pemasaran apabila ketidak sesuaian antara permintaan dan penawaran petani yang mengusahakan tanaman kakao. Akibatnya dapat menyebabkan turunya harga biji kakao dalam keadaan demikian berakibat pula pada penurunan pendapatan petani kakao, Anonim (1999). Menurut Mubyarto (1986) pemasaran produksi pertanian di negara kita merupakan bagian yang paling lemah dalam mata rantai pemasaran atau dalam aliran barang barang. Dengan pernyataan demikian dimaksudkan bahwa

3

efisiensi dibidang ini masih rendah, sehingga kemungkinan untuk ditingkatkan masih besar. Nurland (1986) menjelaskan bahwa sistem pemasaran yang tidak efisien akan mengakibatkan kecilnya bagian harga yang diterima petani sehingga dapat pula dijadikan ukuran efisiensi dalam pemasaran. Untuk mencapai pendapatan yang diharapkan petani, dalam memasarkan produk yang dihasilkan perlu memperhitungkan banyaknya produksi, lokasi pemasaran, biaya pengangkutan, saluran serta sifat persaingan. Petani bebas memasarkan hasil usaha tani sesuai pilihannya misalnya dapat dipasarkan ke pedagang pengumpul, pedagang besar ataupun koperasi unit desa. Bila produk tersedia cukup banyak petani akan lebih untung apabila menjual langsung kepedangang besar untuk memperoleh harga yang layak. Sebaliknya jika jumlah barang sedikit, maka akan menguntungkan bagi petani bila menjual pada pedagang pengumpul atau pedagang lokal. Karena keterbatasan keterbatasan dalam pengolahan maka petani belum mampu memperhitungkan hal hal seperti besarnya produksi, lokasi pemasaran, biaya pengangkutan dan saluran pemasaran. Akibatnya harga yang diterima oleh petani sering tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Berpindahnya barang barang niaga dari pusat produksi kepusat konsumsi kadang kadang membutuhkan waktu yang cukup lama. Adanya jarak ini memungkinkan timbulnya resiko yang perlu ditangani dan berhubungan dengan masalah biaya biaya pemasaran yang harus dikeluarkan. Selama tenggang waktu tersebut, haruslah ada lembaga pemasaran yang dapat menjembatani pemasaran komoditi kakao, dengan begitu pemasaran akan berpengaruh pada harga eceran ditingkat konsumen. Hal ini disebabkan karena masing masing lembaga

4

pemasaran ingin mendapatkan keuntungan yang dianggap wajar sesuai dengan jasa yang diberikan, sehingga harga masing masing lembaga pemasaran berbeda pula (Swastha, 1979). Secara umum di Kecamatan Lasusua terdapat berbagai lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran antara lain pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang besar dan koprasi unit desa yang secara keseluruhan berperan sebagai perantara hasil kakao dari produsen ke konsumen. Dalam proses kegiatannya lembaga lembaga tersebut cukup memegang peranan penting dalam mata rantai aliran barang barang tersebut, hal ini menyebabkan perbedaan tingkat harga ditiap tiap lembaga pemasaran, sehingga memungkinkan bekerjanya sistem pemasaran yang kurang efisien. Berdasarkan pertimbangan ini maka penulis ingin mengetahui bagaimana Margin pemasaran dan lembaga lembaga pemasaran kakao yang ada di Kecamatan Lasusua. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut : a. Bagaimana margin pemasaran kakao di Kabupaten Kolaka Utara khususnya di Desa Babusalam Kecamatan Lasusua ? b. Apakah Pemasaran biji kakao telah efisien ? c. Lembaga lembaga pemasaran apa saja yang terlibat dalam proses pemasaran atau saluran pemasaran yang ada ?

5

1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui Margin Pemasaran Kakao di Desa Babusalam Kecamatan Lasusua. b. Untuk mengetahui saluran pemasaran biji kakao yang lebih efisien. c. Untuk mengetahui Lembaga lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran atau saluran pemasaran. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan imformasi bagi petani tentang lembaga pemasaran yang ada dan tingkat harga di masing masing lembaga lembaga tersebut, sehingga petani dapat memilih di lembaga (pedagang) mana yang lebih menguntunkan dalam penjualan produksinya. 2. Sebagai bahan penentu kebijakan bagi pemerintah khususnya dalam proses perbaikan mutu dan proses tataniaga kakao. 3. Sebagai bahan acuan lebih lanjut bagi penelitian serupa untuk mengetahui perkembangan pemasaran kakao di Desa Babusalam Kecamatan Lasusua. 1.5 Hipotesis 1. Diduga sistem pemasaran kakao di Desa Babusalam Kecamatan Lasusua cukup efesien. 2. Diduga margin pemasaran tertinggi diperoleh oleh pedagang pengumpul Desa.

6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Agribisnis Istilah agribisnis diserap dari bahasa inggris yaitu agribusines, yang merupakan portman atau dari agriculture (pertanian) dan business (bisnis). Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, berupa tumbuhan, hewan, ataupun organisme lainnya. Dalam subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya penyediaan bahan baku, pasca panen, proses pengelohan, hingga tahap pemasaran. Agribisnis merupakan suatu konsep yang utuh mulai dari proses produksi, pengolahan hasil dan pemasaran hasil serta aktifitas lain yang berkaitan dengan kegiatan pertanian dalam arti luas, menurut Arsyad dkk, 1985. Pengembangan agribisnis disuatu daerah harus mengacu pada keadaan yang nyata dilapangan, salah satunya adalah pemanfaatan lahan secara optimal dengan berbagai jenis tanaman dalam pola tanam dengan menggunakan sumber daya yang tersedia. Pembangunan pertanian pada hakekatnya diarahkan pada pembangunan

pusat pusat produksi yang semakin berorientasi kepada agribisnis. Perwujudan pusat tersebut, lahan yang harus dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Oleh karena keberhasilan dan pengembangan lahan petani diperlukan pengolahan yang tepat melalui pemilihan komoditi yang sesuai dengan kondisi wilayah (tanah dan iklim) setempat, yang berorientasi pasar se teknik budidaya yang rta tepat (Anonim, 2001) Reorientasi dari pendekatan produksi ke pendapatan petani berbasis konsep agribisnis adalah bagian dari pembangunan pertanian nasional, dengan

7

implementasi konsep ini maka tujuan utama agribisnis yaitu mendorong usaha pertanian yang berwawasan bisnis yang mampu menghasilkan produk pertanian dan industri pertanian perimer yang berdaya saing, menghasilkan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan, tenaga kerja pertanian, pengembangan ekonomi wilayah, meningkatkan kesejahteraan para petani dan produsen. 2.2 Komoditi Kakao Theobroma cacao L, atau coklat, sejak ditemukannya oleh suku bangsa Aztek (Indian) di Mexiko (Amerika Tengah) sekitar abad ke 14 hingga sekarang pada abad ke - 20 adalah tetap mempunyai nilai yang tinggi. Sejak diketemukannya, sesuai namanya di atas, dianggap sebagai makanan para dewa (Theos = para dewa; Broma = santapan), demikian tinggi nilanya, selain itu di kerajaan MONTEZUMA (Kerajaan suku Aztek) dijadikan pula sebagai alat pembayaran yang sah. Tanaman coklat selanjutnya dikembangkan diberbagai negara di dunia akan tetap memiliki nilai yang tinggi. Di Tanah air kita coklat merupakan tanaman perdagangan yang menghasilkan devisa cu kup besar (Kartasapoetra,

Embed Size (px)
Recommended