Home >Documents >HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Obyek Penelitian Kondisi .PNPM Mandiri Perdesaan yang disebut dengan

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Obyek Penelitian Kondisi .PNPM Mandiri Perdesaan yang disebut dengan

Date post:28-Mar-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

59

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Obyek Penelitian

Kondisi Geografis dan Administrasi

Kelurahan Kenanga terletak di Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon

Provinsi Jawa Barat. Jarak dengan pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon kurang

lebih 2 km. Jarak dengan ibu kota provinsi kurang lebih 120 km dan jarak dengan

ibu kota negara mencapai 220 km. Dilihat dari batas wilayah Kelurahan Kenanga

berbatasan dengan desa atau kelurahan sebagai berikut:

Sebelah Utara : Desa Kejuden Kecamatan Depok

Sebelah Timur : Kelurahan Tukmudal Kecamatan Sumber

Sebelah Selatan : Desa Sindang Jawa Kecamatan Dukuhpuntang

Sebelah Barat : Desa Karang Wangi Kecamatan Depok

Luas wilayah Kelurahan Kenanga mencapai 186,65 ha. Dilihat dari

peruntukkan lahan, terdiri dari berbagai peruntukkan yaitu sebagai berikut:

Jalan : 9,33 ha

Sawah dan Ladang : 139,98 ha

Bangunan Umum : 1,86 ha

Pemukiman/perumahan : 31,75 ha

Pemakaman : 3,73 ha

Secara administratif pembagian wilayah, Kelurahan Kenanga terdiri dari

tujuh RW dan 25 RT. Setiap RT terbagi menjadi beberapa blok atau kampung.

Pembagian wilayah ini dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Pembagian wilayah RW Jumlah RT Blok yang Tergabung 01 4 RT Karang Gayam dan Blok Desa 02 3 RT Pesantren, Lebak Jambu dan Karang Mingkrik 03 4 RT Tengah dan Jorogan 04 3 RT Lebak dan Kedung Mara 05 3 RT Kenanga Sari, Tuan Rante dan Tanjung Sari 06 5 RT Palsanga, Kranten, Jamsari dan Pontas 07 3 RT Cigugur dan Warung Kidul

Sumber: Kelurahan Kenanga, 2010

60

Kondisi Demografis

Kondisi demografis terdiri dari jumlah penduduk, jumlah penduduk

menurut jenis kelamin, tingkat pendidikan masyarakat, dan mata pencaharian

masyarakat.

Jumlah penduduk Kelurahan Kenanga pada tahun 2010 mencapai 7.809

jiwa dengan 1.561 kepala keluarga (KK). Berdasarkan jenis kelamin penduduk

laki-laki 3.946 jiwa dan perempuan mencapai 3.863 jiwa. Adapun tingkat

penyebaran penduduk berdasarkan rukun warga (RW), dapat dilihat pada Tabel 3

berikut ini.

Tabel 3. Penduduk berdasarkan sebaran tingkat RW

Lokasi Jumlah

Laki-Laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Total (jiwa) RW 01 684 708 1392 RW 02 683 491 1174 RW 03 527 572 1099 RW 04 410 402 812 RW 05 517 526 1043 RW 06 713 720 1433 RW 07 412 444 856 Jumlah 3946 3863 7809

Sumber: Kelurahan Kenanga, 2010

Berdasarkan tingkat pendidikan sebagaian besar penduduk Kelurahan

Kenanga berpendidikan sekolah dasar yang mencapai 2.985 orang. Hal ini

menunjukkan bahwa sumberdaya manusia di Kelurahan Kenanga masih rendah.

Sedangkan masyarakat yang pernah mengecap pendidikan tinggi sampai tahun

2010 mencapai 69 orang.

Berdasarkan sebaran tingkat rukun warga dilihat dari tingkat pendidikan

dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Tingkat pendidikan penduduk berdasarkan sebaran tingkat RW

Lokasi Tingkat Pendidikan SD SMP SMA Pendidikan Tinggi RW 01 532 331 177 13 RW 02 449 279 149 9 RW 03 420 261 140 8 RW 04 310 193 103 6 RW 05 399 248 133 8 RW 06 548 341 182 12 RW 07 327 203 109 7 Jumlah 2985 1856 933 69

Sumber: Kelurahan Kenanga, 2010

61

Dilihat dari jenis mata pencaharian, sebagian besar penduduk Kelurahan

Kenanga berprofesi sebagai buruh yang mencapai 2.244 orang. Sebagaian besar

diserap pada sektor usaha atau industri rotan. Keadaan ini disebabkan tingkat

pertumbuhan industri yang sangat tinggi di wilayah sekitar Kelurahan Kenanga

pada era 90an. Pada tahun tersebut pembangunan pabrik-pabrik di sekitar

Kelurahan Kenanga begitu pesat dengan konsep padat karya.

Perubahan mata pencaharian masyarakat, berimplikasi terhadap kegiatan

ekonomi lainnya seperti halnya di bidang pertanian. Usaha pertanian sekarang ini

hanya dilakukan oleh kelompok masyarakat dari golongan tua hanya sebagian

kecil saja kelompok muda menjadi petani. Rendahnya masyarakat menggeluti

usaha pertanian dikarenakan tawaran usaha di sekor industri lebih menjanjikan

dan lebih praktis.

Dilihat dalam kajian gender, jumlah masyarakat yang bekerja tidak

didominasi oleh kaum laki-laki. Industrialisasi di bidang usaha rotan, telah

membuka peluang yang sangat luas bagi kaum perempuan untuk bekerja pada

sektor publik. Sebagaian besar mereka bekerja sebagai buruh kasar seperti bagian

ampelas (proses penghalusan produk hasil rotan), packing (mengemas produk

rotan yang sudah jadi).

Adapun tingkat penyebaran penduduk berdasarkan mata pencaharian atau

pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Jumlah penduduk Kelurahan Kenanga berdasarkan mata pencaharian

Lokasi

Jenis Mata Pencaharian atau Pekerjaan

PNS / BUMN Petani Pedagang /

Wiraswasta / Jasa

Buruh

RW 01 11 259 295 355 RW 02 9 237 275 332 RW 03 9 247 287 347 RW 04 8 200 232 280 RW 05 7 187 217 262 RW 06 11 282 327 395 RW 07 7 194 225 273 Jumlah 62 1606 1858 2244

Sumber: Kelurahan Kenanga, 2010

62

Pelapisan Masyarakat dan Kegiatan PNPM Mandiri

Pelapisan masyarakat adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke

dalam kelas-kelas secara bertingkat. Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan

kelas-kelas rendah. Dasar dan inti lapisan masyarakat tidak adanya keseimbangan

dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai

sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat. (Sorokin dalam

Soekanto 1990).

Pelapisan masyarakat menunjukkan adanya diferensiasi masyarakat.

Dalam konteks masyarakat Kelurahan Kenanga, dipetakan menjadi beberapa

diferensiasi, antara lain; (1). Kelompok alim ulama. (2). Kelompok kaya (3).

Kelompok masyarakat berpendidikan (4). Kelompok masyarakat biasa. Peran dan

kontribusi setiap kelompok bersifat khas dan memiliki keajegan. Artinya setiap

kelas ini memiliki job area tersendiri, khususnya dalam pembangunan

masyarakat.

Dari kelompok yang ada, alim ulama merupakan kelompok yang paling

dihormati dan paling banyak didengar suaranya. Karakter alim ulama di

Kelurahan Kenanga, dibangun sistem trah keluarga. Artinya kelompok ini hanya

muncul dari keluarga tertentu. Di Kelurahan Kenanga terdapat empat keluarga

besar alim ulama dan dominasi simbol-simbol ulama masih dipegang oleh

masyarakat dari empat keluarga tersebut.

Peran ulama di masyarakat cenderung memposisikan diri untuk bidang

pendidikan terutama pendidikan agama baik formal atau informal. Kegiatan

pendidikan lazimnya diselenggarakan di madrasah atau mushola. Mereka

mengelola majelis taklim dan kelompok jamiyah yang telah eksis sangat lama.

Peran mereka telah menciptakan kultur beragama masyarakat Kelurahan Kenanga

dalam kultur beragama nahdliyin.

Peran alim ulama pada bidang lainnya masih sangat terbatas. Hal ini dapat

dilihat kiprah mereka pada lembaga formal seperti Lembaga Pemberdayaan

Masyarakat Kelurahan (LPMK) masih sangat rendah, termasuk dalam kegiatan

PNPM Mandiri.

Kelompok kedua adalah kelompok masyarakat kaya. Mereka terdiri dari

petani dan pedagang. Kelompok ini memiliki simbol atau ciri gelar keagamaan

63

seperti haji. Karakter mereka dalam pembangunan bersifat reaktif. Bahkan ada

kecenderungan kepedulian mereka terhadap refleksi kemiskinan sangat rendah.

Dalam konteks PNPM Mandiri, peran mereka masih sebatas sebagai

penyedia dana (donatur) dan tidak tidak terlibat secara teknis di lapangan. Salah

satu alasan yang pokok adalah kesibukan. Hal ini menunjukkan kesadaran

kelompok ini, masih bersifat kesadaran naif. Artinya kiprah mereka tidak didasari

atas kepedulian terhadap refleksi kemiskinan masyarakat melainkan akibat

stimuli-stimuli oleh relawan.

Kelompok ketiga adalah masyarakat berpendidikan tinggi. Mereka

memiliki kriteria yaitu gelar akademik yang dimilikinya. Kelompok masyarakat

pendidikan tinggi terpilah dalam dua kelompok yaitu kelompok tua dan muda.

Pembagian kelompok masyarakat pendidikan ini akan memiliki korelasi terhadap

peran mereka dalam pembangunan.

Sementara ini, kelompok masyarakat berpendidikan tinggi memiliki citra

positif dari masyarakat sebagai agen pembangunan. Masyarakat memiliki harapan

yang besar pada kelompok ini, karena mereka diyakini mampu untuk mengelola

berbagai program termasuk PNPM Mandiri. Dalam kegiatan PNPM Mandiri

kelompok masyarakat berpendidikan tinggi terutama dari kalangan muda,

memiliki peran yang sangat besar. Mereka terdistribusi di berbagai elemen yang

menggerakkan PNPM Mandiri salah satunya Badan Keswadayaan Masyarakat

(BKM). Dari 13 anggota BKM enam di antaranya memiliki jenjang pendidikan

tinggi. Selain itu, peran mereka banyak terdistribusi pada Kelompok Swadaya

Masyarakat (KSM). Namun dalam tinjauan kritis, peran mereka masih sebatas

dalam catatan administrasi. Dalam langkah praktis, kelompok masyarakat

pendidikan tinggi belum menunjukkan kinerja sebagai agen pembangunan. Hal ini

bisa terlihat dari kiprah mereka di BKM. Dari enam orang hanya seorang yang

memiliki kiprah yang aktif dalam kegiatan PNPM Mandiri.

Kelompok keempat adalah ma

Embed Size (px)
Recommended