Home > Documents > HARGA DIRI SUAMI YANG TINGGAL DI RUMAH MERTUA · PDF filesesuai dengan harga diri yang rendah....

HARGA DIRI SUAMI YANG TINGGAL DI RUMAH MERTUA · PDF filesesuai dengan harga diri yang rendah....

Date post: 06-Feb-2018
Category:
Author: vuxuyen
View: 405 times
Download: 27 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 21 /21
HARGA DIRI SUAMI YANG TINGGAL DI RUMAH MERTUA Indarwati Anjar Prabaningrum ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan harga diri seorang suami yang tinggal di rumah mertua, dimana dalam penelitian ini seorang suami yang sudah lama menikah dan bahkan sudah memiliki anak, namun masih tinggal di rumah mertua, pria yang demikian dikatakan tidak berhasil dalam memberikan nafkah dan kebebasan bagi istri dan anaknya. Dalam kehidupan masyarakat, hal tersebut masih dianggap sebagai sesuatu hal yang melanggar norma masyarakat, karena pasangan yang sudah lama menikah seharusnya sudah dapat hidup mandiri tanpa terus menerus membutuhkan bantuan dari orangtua. Keberadaan seorang suami yang tinggal di rumah mertua tersebut dapat menimbulkan penurunan harga diri pada seorang suami dikarenakan sebagian besar seorang suami menginginkan untuk memiliki keluarga yang mandiri tanpa ada orangtua ataupun mertua. Dari penjelasan diatas, maka bisa terjadi permasalahan hubungan antara mertua dan menantu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tidak berstruktur yang dikemukakan oleh Moleong (2004), yaitu wawancara yang dilakukan bersifat bebas dalam interviewee memberikan respon, dan observasi non partisipan yang dikemukakan oleh Riyanto (1996), dimana observer tidak berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan observee. Dalam wawancara ini, peneliti menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara, alat perekam, dan catatan kecil beserta alat tulis. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang subjek dan masing-masing subjek terdapat 3 orang terdekatnya (significant other), dengan karakteristik seorang suami berusia minimal 30 tahun, memiliki anak minimal satu orang anak, dan memiliki pekerjaan. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi adalah dilihat dari komponen harga diri (Rice, 1981) ketiga subjek memiliki perasaan diterima (feeling of belongingness) di rumah mertua. Pada perasaan mampu (feelings competent) pada subjek pertama masih belum mampu memiliki tempat tinggal sendiri karena ekonomi yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, pada subjek kedua sudah mampu memiliki tempat tinggal sendiri namun mertua menentukan dimana subjek dan istri tinggal, dan pada subjek ketiga masalah ekonomi yang cenderung masih kurang, membuat subjek ketiga belum mampu memiliki tempat tinggal sendiri. Pada perasaan berharga (feeling of worth) subjek pertama dan kedua memiliki perasaan berharga di rumah mertua dikarenakan merupakan anak laki-laki satu-satunya, dan pada subjek ketiga merasa berharga karena keberadaan dirinya sering dibutuhkan di rumah mertua. Pada karakteristik harga diri (Coopersmith dalam Wulan, 1997), pada subjek pertama dan kedua cenderung memiliki karakter yang sesuai dengan karakteristik harga diri tinggi. Sedangkan pada subjek ketiga cenderung memiliki karakter yang sesuai dengan harga diri yang rendah. Pada hubungan mertua dan menantu (Purnomo, 1994), ketiga subjek memiliki hubungan yang dekat dengan mertua, dan pada subjek subjek kedua, mertua cenderung menguasai dan ikut campur dalam urusan rumah tangga subjek. Kata Kunci : Harga Diri, Suami, Mertua
Transcript
  • HARGA DIRI SUAMI YANG TINGGAL DI RUMAH MERTUA

    Indarwati Anjar Prabaningrum ABSTRAK

    Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan harga diri seorang suami

    yang tinggal di rumah mertua, dimana dalam penelitian ini seorang suami yang sudah lama menikah dan bahkan sudah memiliki anak, namun masih tinggal di rumah mertua, pria yang demikian dikatakan tidak berhasil dalam memberikan nafkah dan kebebasan bagi istri dan anaknya. Dalam kehidupan masyarakat, hal tersebut masih dianggap sebagai sesuatu hal yang melanggar norma masyarakat, karena pasangan yang sudah lama menikah seharusnya sudah dapat hidup mandiri tanpa terus menerus membutuhkan bantuan dari orangtua. Keberadaan seorang suami yang tinggal di rumah mertua tersebut dapat menimbulkan penurunan harga diri pada seorang suami dikarenakan sebagian besar seorang suami menginginkan untuk memiliki keluarga yang mandiri tanpa ada orangtua ataupun mertua. Dari penjelasan diatas, maka bisa terjadi permasalahan hubungan antara mertua dan menantu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tidak berstruktur yang dikemukakan oleh Moleong (2004), yaitu wawancara yang dilakukan bersifat bebas dalam interviewee memberikan respon, dan observasi non partisipan yang dikemukakan oleh Riyanto (1996), dimana observer tidak berperan serta ikut ambil bagian dalam kehidupan observee. Dalam wawancara ini, peneliti menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara, alat perekam, dan catatan kecil beserta alat tulis. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang subjek dan masing-masing subjek terdapat 3 orang terdekatnya (significant other), dengan karakteristik seorang suami berusia minimal 30 tahun, memiliki anak minimal satu orang anak, dan memiliki pekerjaan. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi adalah dilihat dari komponen harga diri (Rice, 1981) ketiga subjek memiliki perasaan diterima (feeling of belongingness) di rumah mertua. Pada perasaan mampu (feelings competent) pada subjek pertama masih belum mampu memiliki tempat tinggal sendiri karena ekonomi yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, pada subjek kedua sudah mampu memiliki tempat tinggal sendiri namun mertua menentukan dimana subjek dan istri tinggal, dan pada subjek ketiga masalah ekonomi yang cenderung masih kurang, membuat subjek ketiga belum mampu memiliki tempat tinggal sendiri. Pada perasaan berharga (feeling of worth) subjek pertama dan kedua memiliki perasaan berharga di rumah mertua dikarenakan merupakan anak laki-laki satu-satunya, dan pada subjek ketiga merasa berharga karena keberadaan dirinya sering dibutuhkan di rumah mertua. Pada karakteristik harga diri (Coopersmith dalam Wulan, 1997), pada subjek pertama dan kedua cenderung memiliki karakter yang sesuai dengan karakteristik harga diri tinggi. Sedangkan pada subjek ketiga cenderung memiliki karakter yang sesuai dengan harga diri yang rendah. Pada hubungan mertua dan menantu (Purnomo, 1994), ketiga subjek memiliki hubungan yang dekat dengan mertua, dan pada subjek subjek kedua, mertua cenderung menguasai dan ikut campur dalam urusan rumah tangga subjek. Kata Kunci : Harga Diri, Suami, Mertua

  • PENDAHULUAN

    Bagi kebanyakan orang, perkawinan merupakan suatu kejadian penting dalam hidup. Memilih pasangan hidup dan mempersiapkan kehidupan perkawinan merupakan salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa muda. Jika pasangan suami istri masih memiliki umur antara 15 dan 20 tahun, maka mereka dianggap masih terlalu muda untuk dapat mengurus rumah tangga sendiri, karena itu mereka biasanya tetap tinggal bersama orangtua salah seorang dari keduanya, sampai mereka dianggap mampu mengurus diri sendiri (Koentjaraningrat, 1984). Namun, jika pasangan suami istri yang sudah lama menikah dan bahkan sudah memiliki anak, hal tersebut seharusnya tidak terjadi dalam membina keluarga, apalagi jika pasangan tersebut tinggal dengan orangtua dari pihak istri (Koentjaraningrat, 1984). Menurut John (dalam Sukirya, www.e-psikologi.com) suami atau lelaki, jika meminta bantuan pada orang lain dapat diartikan sebagai lelaki yang lemah dan tidak dapat mandiri.

    Mungkin masih bisa dikatakan baik jika pasangan suami istri tinggal bersama orangtua dari pihak suami, karena jika tinggal bersama orangtua dari pihak istri, mungkin akan terjadi penurunan harga diri pada suami dikarenakan tidak adanya penghargaan keberadaan atau penerimaan di rumah tersebut. Menurut Rosenberg (dalam Wulan, 1997) harga diri juga merupakan penilaian yang diberikan oleh orang lain. Jadi, harga diri bisa dikatakan rendah oleh orang lain, jika seseorang dianggap melanggar norma masyarakat. Begitu juga harga diri seorang suami yang masih tinggal di rumah mertua, yang dipandang oleh masyarakat khususnya mertua, yang dianggap melanggar norma masyarakat, karena setiap pasangan suami istri yang sudah lama menikah, seharusnya sudah dapat hidup mandiri tanpa membutuhkan bantuan yang terus menerus dari orangtua.

    Bagi suami, sebagian dari mereka memiliki pemikiran ingin memiliki keluarga yang mandiri tanpa ada orangtua atau mertua. Namun, sebagian lagi memiliki pemikiran masih membutuhkan orangtua atau mertua untuk membantu mengurus rumah tangganya. Perasaan yang dimiliki oleh suami yang tinggal dengan mertua, jika mereka menginginkan untuk mempunyai keluarga yang mandiri adalah perasaan menginginkan menjadi seorang kepala keluarga yang bijaksana dan bertanggung jawab pada keluarganya.

    Dari gambaran harga diri seorang suami di atas, maka bisa saja terjadi masalah antara mertua dan menantu. Memang, kadang ada mertua yang dapat menerima anak dan menantunya tinggal bersama atau bahkan sikap yang tidak perhatian dari mertua. Awalnya sikap tersebut mungkin bisa berhasil atau mungkin dianggap sebagai hal yang biasa, tetapi jika tidak segera disadari dan diambil tindakan nyata, maka cepat atau lambat permasalahan ini tentu akan memiliki dampak yang tidak menyenangkan baik bagi mertua dan menantu maupun bagi seluruh anggota keluarga besar (dalam Sukirya, www.e-psikologi.com).

    Dari penjelasan yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini ingin mengetahui bagaimana gambaran harga diri seorang suami yang tinggal di rumah mertua ?, mengapa suami yang tinggal di rumah mertua memiliki harga diri yang demikian ?, dan bagaimana proses perkembangan harga diri suami yang tinggal di rumah mertua ?. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk melihat harga diri suami yang tinggal di rumah mertua, faktor-faktor yang menyebabkan

  • harga diri suami yang tinggal di rumah mertua, dan proses perkembangan harga diri suami yang tinggal di rumah mertua. Manfaat dari penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberi masukan yang berguna, bahwa suami yang tinggal di rumah mertua dapat memiliki harga diri yang tinggi jika seorang suami mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Selain itu juga penelitian ini dapat memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa suami yang tinggal di rumah mertua juga memiliki hubungan yang cukup baik dengan mertua. Sedangkan manfaat teoritis diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi sosial. Kemudian penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penelitian selanjutnya mengenai harga diri suami yang tinggal di rumah mertua. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat pada pembaca dan menggambarkan berbagai permasalahan guna meningkatkan harga diri pada suami yang tinggal di rumah mertua.

  • TINJAUAN PUSTAKA

    1. Definisi Harga Diri Definisi harga diri menurut Rosenberg (dalam Wulan, 1997) harga diri

    adalah penilaian seseorang terhadap dirinya yang ditampilkan melalui sikap positif atau negatif terhadap dirinya. Coopersmith (dalam Adler, 1997) berpendapat bahwa harga diri sebagai suatu penelitian diri yang dilakukan oleh seorang individu dan biasanya berkaitan dengan dirinya sendiri, penilaian tersebut mencerminkan sikap penerimaan atau penolakkan dan menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil dan berharga.

    Dari penjelasan definisi harga diri di atas, dapat disimpulkan bahwa harga diri adalah penilaian terhadap diri sendiri yang mencerminkan sikap penerimaan atau penolakkan dan menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil dan berharga.

    2. Komponen Harga Diri

    Menurut Rice (1981), penilaian diri positif atau negatif ini ditentukan oleh tiga hal yaitu : a. Perasaan diterima (feeling of belongingness) dalam suatu kelompok

    dimana individu berada. Apabila seseorang merasa menjadi bagian atau diterima dalam kelompoknya maka ia akan menilai dirinya positif.

    b. Perasaan mampu (feeling competent) yaitu keyakinan akan kemampuan dirinya sendiri.

    c. Perasaan berharga (feeling of worth) yaitu perasaan seseorang yang sering ditampilkan dari kenyataan-kenyataan pribadi seperti kebaikan, kecerdasan, dan lain-lain.

    3. Karakteristik Harga Diri

    Harga diri seseorang (Coopersmith dalam Wulan, 1997) dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : a. Harga diri yang tinggi pada seseorang, memiliki pengaruh terhadap

    orang lain, mampu mengontrol keadaan, aktif dan dapat mengekspresikan diri dengan baik, dapat menerima kritik dengan baik, percaya kepada persepsi dan dirinya sendiri, dapat menyesuaikan diri dengan mudah pada suatu lingkungan yang kurang jelas.

    b. Harga diri moderat pada seseorang, mempunyai gambaran pengalaman yang disukai individu. Individu yang mempunyai harga diri moderat, memiliki banyak persamaan dengan individu yang memiliki harga diri tinggi.

    c. Harga diri yang rendah pada seseorang, takut mengalami kegagalan dalam mengadakan hubungan sosial sehingga merasa tidak yakin bahwa orang lain akan menyukai dirinya, dan terlihat sebagai orang yang mudah putus asa.


Recommended