Home >Documents >Glycyne max (L) Merr.) di Lahan Kering*) YUDHIARTI DAN I MADE SUDANTHA-TOPI  Dengan adanya...

Glycyne max (L) Merr.) di Lahan Kering*) YUDHIARTI DAN I MADE SUDANTHA-TOPI  Dengan adanya...

Date post:23-Aug-2019
Category:
View:221 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1

    *) Topik Kusus Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Program Pascasarjana Unram Periode 10 Januari 2017

    Penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA), Bioaktivator, dan Biokompos

    Terhadap Pertumbuhan dan Peningkatan Produksi Tanaman Kedelai

    (Glycyne max (L) Merr.) di Lahan Kering*)

    Siwi Sudhiarti dan **)I Made Sudantha

    Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Program Pascasarjana

    Universitas Mataram

    **)Corresponding author: imade_sudantha@yahoo.co.id

    ABSTRAK

    Fungi Mikoriza Arbuskular merupakan suatu kelompok jamur tanah biotrof obligat

    yang tidak dapat hidup apabila terpisah dari inangnya. Bioaktivator tanaman adalah bahan

    yang mengandung mikroorganisme, yang bersifat menguntungkan dan apabila diaplikasikan

    dalam budidaya tanaman dapat berpengaruh pada perbaikan tanaman tersebut. Biokompos

    adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoselulolitik yang tetap bertahan

    di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman dan

    agensia pengurai bahan organic Penggunaan mikoriza, biokompos serta bioaktivator pada

    tanaman kedelai secara terpisah dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan

    tanaman kedelai yang dapat dilihat dari penambahan jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah

    bintil akar serta berat berangkasan kering tanaman. Peningkatan pertumbuhan dan

    perkembangan yang baik akan menghasilkan peningkatan produktivitas hasil tanaman

    kedelai selain itu, pengaplikasian mikoriza pada akar tanaman dapat meningkatkan

    ketahanan tanaman terhadap patogen khususnya patogen tular tanah. ___________________________________________________________

    Kata Kunci: Jamur mikoriza, bioaktivator, biokompos, Trichoderma spp., mikoriza, kedelai

    BAB I. PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Pertambahan penduduk selalu mengakibatkan peningkatan pertumbuhan industri

    baik dalam skala besar maupun industri rumahan yang menggunakan bahan pokok kedelai

    yang tetap meningkat. Namun hal tersebut diiringi oleh peningkatan produksi kedelai tiap

    tahunnya, sehingga pemerintah akan mengambil kebijakan impor kedelai. Menurut data

    mailto:imade_sudantha@yahoo.co.id

  • 2

    *) Topik Kusus Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Program Pascasarjana Unram Periode 10 Januari 2017

    Badan Pusat Statistik (2011), produksi kedelai dalam negeri pada tahun 2010, hanya 910,5

    ton, sedangkan kebutuhan akan konsumsi kedelai dalam negeri sebesar 1653,6 ton. Dari

    jumlah tersebut perlu diadakan kebijakan impor kedelai yang jumlahnya mencapai sekitar

    750 ton.

    Rendahnya produktivitas pertanaman kedelai, seperti yang dikutip dari Antara news

    (2011), yakni berkisar 1-1,5 ton/ha, yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain

    60% penanaman kedelai yang ditanam di lahan sawah baik itu sawah tadah hujan, irigasi

    semi teknis, maupun sawah yang beririgasi teknis, dan 40% lainnya ditanam pada lahan 40-

    65% selain gangguan hama dan penyakit tanaman.

    Di Nusat Tenggara Barat (NTB) pengembangan pertanian lahan kering merupakan

    unggulan dan andalan masa depan karena mengingat sebagian besar wilayah NTB yaitu 84%

    dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif untuk berbagai komoditi

    tanaman pangan terutama tanaman kedelai (Suwardji et al, 2003)

    Berbagai cara dilakukan untuk dapat meningkatkan produktivitas kedelai baik

    peningkatan mutu dari benih kedelai tersebut ataupun dengan melakukan penambahan bahan

    organic kedalam tanah seperti penggunaan biokompos serta bioaktivator ataupun

    pengaplikasian mikoriza pada tanaman kedelai tersebut.

    Tanaman akan memberikan hasil yang baik apabila semua unsur hara yang

    dibutuhkan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

    Unsur hara tersebut dapat diperoleh baik secara organic maupun anorganik dan salah satunya

    dengan pemupukan. Pemberian pupuk organic lebih dianjurkan karena akan meningkatkan

    porositas tanah sehingga keseimbangan udara dan kelembaban tanah akan jauh lebih baik

    Seperti yang kita ketahui kompos adalah salah satu sumber nutrisi penting yang

    dibutuhkan tanaman yang dapat kita gunakan dalam bentuk padat, yang penggunaannya

    dicampurkan disekitar mulsa, ataui dalam bentuk cair yang disebut dengan istilah teh kompos

    yang akan memberikan nutrisi instan yang bermanfaat bagi tanaman (Subhi, 2016). Menurut

    Dr. Elaine Ingham seorang ahli mikroba dalam sebuah blog, mengemukakan beberapa

    manfaat dari penggunaan teh kompos pada tanaman antar lain : meningkatkan kesehatan

    tanaman, memberikan larutan nutrisi instant yang dapat segera diserap oleh tanaman, serta

    dapat memperbaiki struktur tanah.

  • 3

    *) Topik Kusus Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Program Pascasarjana Unram Periode 10 Januari 2017

    Pemanfaatan pupuk hayati mikoriza merupakan salah satu alternative untuk

    meningkatkan produktivitas lahan. Mikoriza dapat berasosiasi secara simbiotik dengan akar

    tanaman yang dapat menyebabkan terbentuknya serapan akar yang luas dan lebih besar

    karena jamur mikoriza memiliki hifa yang dapat menembus ruang pori tanah yang berukuran

    sangat kecil, yang akan meningkatkan kemampuan tanaman untuk dapat menyerap lebih baik

    unsur hara, terutama unsur hara yang relative tidak mobile seperti P, Cu, dan Zn (Pujiyanto,

    2001)

    1.2. Perumusan Masalah

    Dari uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah yaitu : seberapa jauh

    pemanfaatan Jamur Mikoriza (FMA) dan biokompos serta bioaktivator terhadap kesehatan

    pertumbuhan tanaman Kedelai di lahan kering.

    1.3. Tujuan Penulisan

    Untuk mengetahui pemanfaatan Jamur Mikoriza (FMA) dan biokompos serta

    bioaktivator yang tepat terhadap kesehatan pertumbuhan tanaman kedelai di lahan kering.

    1.4. Manfaat Penulisan

    Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut :

    1. Untuk dapat mengetahui pemanfaataan jamur mikoriza (FMA) dan biokompos

    serta bioaktivator yang sesuai untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman kedelai

    di lahan kering.

    2. Untuk dapat mengetahui sejauh mana aplikasi jamur mikoriza (FMA) dan

    biokompos serta bioaktivator dapat menekan perkembangan pathogen pada

    tanaman kedelai di lahan kering.

    3. Sebagai bahan referensi bagi para pelaku usaha komersial, baik pelaku usaha

    FMA komersial, pelaku biokompos serta bioaktivator komersial dan atau pelaku

    usaha tanaman hortikultura dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan

    sesuai dengan kondisi lingkungan tempat dilakukannya usaha tani.

  • 4

    *) Topik Kusus Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Program Pascasarjana Unram Periode 10 Januari 2017

    BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Botani Tanaman Kedelai

    2.1.1 Klasifikasi tanaman kedelai :

    Kingdom : Plantae

    Divisi : Magnoliophyta

    Kelas/Classis : Magnoliopsida

    Ordo : Fabales

    Famili/Suku : Fabaceae (polong-polongan)

    Genus/Marga : Glycine

    Spesies : Glycine Max (L.) Merr

    2.1.2. Morfologi Tanaman Kedelai

    1. Akar

    Tanaman kedelai mempunyai akar tunggang yang membentuk akar-akar yang

    menyamping (horizontal) dengan pertambahan panjang dapat mencapai 40 cm dengan

    kedalaman hingga 120 cm. Perkembangan akar dipengaruhi oleh kelembaban tanah, dimana

    akar akan jauh lebih masuk ke dalam untuk menyerap unsur hara dan air apabila kelembaban

    tanah turun. Pada akar tanaman kedelai terdapat nodul atau bintil akar yang terbentuk dari

    koloni bakteri pengikat nitrogen yang bersimbiosis secara mutualisme dengan kedelai.

    Dengan adanya simbiosis terrsebut maka, bakteri bintil akar dapat mengikat nitrogen

    langsung dari udara dalam bentuk gas N2 (nitrogen) yang akan diosidasi menjadi nitrat

    (NO3 +).

    2. Batang

    Batang tanaman kedelai dapat tumbuh dengan tinggi 30-100 cm. selain itu, dapat

    membentuk 3-6 cabang,namun tergantung dari kerapatan antar tanaman. Tipe pertumbuhan

    batang dapat dibedakan menjadi 3 tipe : 1. Tipe pertumbuhan batang terbatas, dengan ciri

    khas berbunga serentak serta mengakhiri pertumbuhan meninggi, 2. Tipe pertumbuhan

    batang tidak terbatas dengan memiliki ciri berbunga secara bertahap dari bawah ke atas dan

  • 5

    *) Topik Kusus Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering Program Pascasarjana Unram Periode 10 Januari 2017

    tumbuhan terus akan tumbuh, 3. Tipe pertumbuhan batang setengah terbatas, yang memiliki

    karakteristik antara kedua tipenya

    3. Bunga

    Kedelai memiliki jenis bunga yang sempurna, dimana setiap bunga memiliki alat

    jantan dan betina. Bunga pada kedelai terletak pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau

    putih. Namun tidak semua bunga dapat menjadi polong walaupun telah mengalami

    penyerbukan sempurna.

    4. Daun

    Daun kedelai berbentuk oval, tipis dan berwarna hijau dengan buku (nodus) pertama

    tanaman akan terbentuk daun tunggal, kemudian diikuti pada semua buku diatasnya yang

    membentuk daun majemuk selalu dengan tiga

Embed Size (px)
Recommended