Home > Documents > Fix Bab i, II, III, IV, V

Fix Bab i, II, III, IV, V

Date post: 10-Feb-2016
Category:
Author: balqisnaurasusanto
View: 23 times
Download: 2 times
Share this document with a friend
Description:
green mood booster
Embed Size (px)
of 37 /37
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang memerlukan perawatan terhadap kesehatan, baik ketika dalam kondisi sakit maupun dalam kondisi sehat seutuhnya. Dalam pemberian perawatan kesehatan tentu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, melainkan harus dilakukan oleh perawat yang telah menempuh pendidikan dalam kurun waktu tertentu. Tenaga keperawatan merupakan The caring profession yang memiliki peranan penting dalam menghasilkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan yang diberikan berdasarkan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual yang dilaksanakan selama 24 jam dan berkesinambungan merupakan kelebihan tersendiri dibandingkan pelayanan yang lainnya (Departemen Kesehatan RI ,2001). Di dalam rumah sakit terdapat berbagai jenis pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan umum, darurat, maupun intensive. Bagian pelayanan kesehatan intensive yaitu Intensive Care Unit (ICU) menjadi salah satu bagian pelayanan sentral bagi rumah sakit. Intensive Care Unit (ICU) adalah bagian pelayanan di rumah sakit dengan staf khusus, perlengkapan 1
Transcript

BAB I

PENDAHULUAN1.1Latar Belakang

Setiap orang memerlukan perawatan terhadap kesehatan, baik ketika dalam kondisi sakit maupun dalam kondisi sehat seutuhnya. Dalam pemberian perawatan kesehatan tentu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, melainkan harus dilakukan oleh perawat yang telah menempuh pendidikan dalam kurun waktu tertentu. Tenaga keperawatan merupakan The caring profession yang memiliki peranan penting dalam menghasilkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan yang diberikan berdasarkan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual yang dilaksanakan selama 24 jam dan berkesinambungan merupakan kelebihan tersendiri dibandingkan pelayanan yang lainnya (Departemen Kesehatan RI ,2001).

Di dalam rumah sakit terdapat berbagai jenis pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan umum, darurat, maupun intensive. Bagian pelayanan kesehatan intensive yaitu Intensive Care Unit (ICU) menjadi salah satu bagian pelayanan sentral bagi rumah sakit.

Intensive Care Unit (ICU) adalah bagian pelayanan di rumah sakit dengan staf khusus, perlengkapan khusus, yang memberikan pelayanan intensive bagi pasien-pasien yang menderita penyakit akut, cedera yang mengancam jiwa atau potensial mengancam nyawa. Saat ini, ICU modern telah menjadi cabang ilmu sendiri yaitu Intensive Care Medicine dan tidak terbatas pada menangani pasien pasca bedah maupun ventilasi mekanis saja. Ruang lingkup pelayanannya meliputi dukungan fungsi organ-organ vital seperti pernapasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, ginjal dan lainnya baik pada pasien dewasa atau pasien anak (Kepmenkes No 1778/MENKES/SK/XII/2010). Pelayanan yang diberikan di ICU sangatlah kompleks apalagi ICU yang khusus pada pasien gangguan kardovaskular. Keberhasilan perawatan di pelayanan ICU yang melayani pasien gangguan kardovaskular didukung oleh adanya peran perawat dimana mereka harus memiliki kemahiran dalam melakukan asuhan keperawatan terhadap pasien kritis.

Memberikan perawatan di pelayanan ICU apalagi pada pasien dengan gangguan kardovaskular bukan hal yang mudah. Diperlukan kondisi fisik, kognitif dan emosional yang selalu prima dalam memberikan perawatan karena berkaitan dengan masalah perawtan yang komplek. Ada berbagai kegiatan yang dilakukan diantaranya yaitu penilaian terhadap kondisi yang mengancam jiwa pasien dengan kelainan kardovaskular, deteksi awal terjadinya tanda dan gejala komplikasi akibat penyakit kardovaskular, perawatan pasien dengan kondisi kritis akut yang memerlukan tindakan segera (Life Saving) atau pasien kritis dengan kondisi sakit kronik, pemantauan hemodinamik secara terus menerus setiap jam, interpretasi dan intervensi tes diagnostic pada pasien, pemberian terapi sesuai dengan program terapi, dan tindakan-tindakan lainnya. Dinamika perawatan ICU yang kompleks dan kondisi pasien kritis inilah yang sering memicu stresor terjadinya stress di ICU (Hudak & Gallo, 2010). Berdasarkan survei awal tanggal 28 Februari 2008 pada 5 perawat yang bertugas di Ruang ICU Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan didapatkan perawat yang merasakan pekerjaan di Ruang ICU sebagai beban kerja berat sebesar 60% atau 3 perawat, beban kerja sedang sebesar 20% atau 1 perawat, dan beban kerja ringan sebesar 20% atau 1 perawat. Perawat tidak ada yang mengalami stres kerja berat, stress kerja sedang sebesar 40% atau 2 perawat, dan stres kerja ringan sebesar 60% atau 3 perawat.

Perawat Intensive Care Unit juga lebih rentan mengalami Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) di bandingkan dengan perawat umum(Mealer, 2007). Berdasarkan penelitian Mealer di dapatkan hasil bahwa dari 230 perawat Intensive Care Unit, terdapat 54 responden yang mengalami PTSD (24%), sedangkan dari 121 responden dari perawat umum terdapat 17 responden yang mengalami PTSD (14%).

Stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan dan situasi social, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol (Morgan dan King dalam Waluyo 2008). The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) mendefinisikan stress kerja sebagai suatu kondisi fisik dan emosional yang berbahaya yang terjadi ketika pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan kemampuan, sumber daya dan kebutuhan pekerjaan (NIOSH, 2008).

Menurut Survey nasional di Prancis (Frasser 1997) ditemukan bahwa presentase kejadian stress sekitar 74% dialami oleh perawat. Sedangkan di Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (2006) terdapat 50,9% perawat Indonesia di empat provinsi mengalami stress kerja. Selain faktor penyebab stress yang bersumber dari tekanan psikologis tersebut, rentannya kondisi perawat terhadap stress kerja dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor yang bersumber pada pekerjaan itu sendiri, faktor yang bersumber dari organisasi tempat bekerja dan faktor eksternal di luar pekerjaannya seperti faktor lingkungan, keluarga, peristiwa krisis dalam kehidupan dan lain-lain (Greenberg, 2002). Ada berbagai faktor yang bersumber pada pekerjaan, salah satu diantaranya ialah beban kerja.

Selain menimbulkan gejala fisik dan psikologis, stress kerja juga menimbulkan perilaku absenteisme, turnover, dan kesalahan dalam melakukan pengobatan atau perawatan (NIOSH, 2008). Stress tentu saja dapat mempengaruhi motivasi serta energy fisik pekerja untuk melakukan tugas dengan baik. Hal ini dapat mengakibatkan rendahnya kualitas kerja serta meningkatkan eror dan kecelakaan (Handayani, 2003). Terjadinya komunikasi yang kurang efektif akibat hubungan interpersonal yang kurang baik serta suasana lingkungan kerja yang kurang menunjang dapat menjadi faktor penyebab terjadinya stres kerja (NIOSH, 2008; Hudak & Gallo, 2010). Stres kerja banyak dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang tidak nyaman (Evan & Johnson, 2000).

Stres kerja yang dialami perawat ICU dapat memberikan banyak dampak tidak hanyak pada kondisi perawat sendiri tetapi juga pada performa kerjanya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Meltzer, L. S. et al., (2004) dari 60 perawat ICU pada dua buah rumah sakit di California Selatan terhadap kejadian stress kerja yang dialami oleh beberapa perawat yang bekerja di ruangan perawatan ICU, setelah diidentifikasi diperoleh bahwa sebagian perawat sebanyak 17 perawat (56,7%) mengalami stress kerja berat, 46,7% memiliki tingkat kepuasan kerja yang kurang dengan 20 perawat (66,7%) dengan kinerja buruk.

Semakin banyak stressor dan pengalaman yang dialami dan mampu menghadapinya, maka semakin baik dalam mengatasinya sehingga kemampuan adaptif akan semakin baik pula (Hidayat, 2007). Pengelolaan stress tersebut dapat dilakukan dengan terapi farmakologi yang meliputi penggunaan obat cemas (axiolytic) dan anti depresi (anti depressant), serta terapi non farmakologi yang meliputi pendekatan perilaku, pendekatan kognitif, serta relaksasi.

Ada bebagai jenis terapi nonfarmakolgi, salah satu diantaranya ialah terapi warna. Salah satu jenis terapi yang dapat menimbulkan relaksasi sehingga dapat mengurangi stress dan belum banyak di terapkan di Indonesia adalah terapi warna (Kusuma, 2010). Warna yang digunakan untuk terapi pun beraneka ragam, salah satunya yaitu watna hijau. Salah satu warna yang dapat dimanfaatkan dan memiliki efek positif yaitu warna hijau (Kusuma, 2010). Warna hijau dapat menimbulkan rasa nyaman, rileks, mengurangi stres, menyeimbangkan, dan menenangkan emosi (Kusuma, 2010).

Mengingat beban kerja yang dapat menimbulkan stress kerja, stress kerja yang dapat memberikan dampak bagi kinerja perawat dan manfaat positif dari warna hijau serta kurangnya penerapan warna hijau untuk mengadaptasi stress kerja perawat, maka Tim Penulis menyusun karya tulis ilmiah dengan judul: Green Mood Booster (GEMBOOST) Efek Terapi Warna Hijau pada Wallpaper di Nurse Station Sebagai Proses Adaptasi Stres Beban Kerja Perawat dalam Pemberian Pelayanan Pasien dengan Gangguan Cardiovascular Disease di Ruang Intensive Care1.2Perumusan MasalahBerdasarkan uraian latar belakang diatas, permasalahan yang diangkat dalam karya tulis ini adalah: Bagaimana warna hijau pada Wallpaper di ruang perawat berperan terhadap proses adaptasi stress beban kerja perawat dalam pemberian pelayanan pasien dengan gangguan kardiovaskular di ruang Intensive Care?

1.3Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan karya ini adalah: Mengetahui serta mampu menerapkan bagaimana warna hijau pada Wallpaper di ruang perawat berperan terhadap proses adaptasi stress beban kerja perawat dalam pemberian pelayanan pasien dengan gangguan kardiovaskular di ruang Intensive Care.

1.4Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan karya tulis ini antara lain:

1. Pemerintah

Dalam hal ini khususnya adalah Dinas Kesehatan. Bagi Dinas Kesehatan diharapakan karya tulis ini mampu menjadi sebuah pandangan maupun harapan baru akan sebuah upaya-upaya dalam peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup perawat yang selama memiliki peran penting dari pelayanan kesehatan.

2. Rumah Sakit

Mampu memberikan wacana bagi rumah sakit dalam upaya mensejahterakan para tenaga kesehatan khususnya perawat. Jika perawat sejahtera maka dalam memberikan perawatan kesehatan kepada pasien pun dapat optimal. Dengan perawatan kesehatan optimal tentu dapat meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang ada di rumah sakit tersebut. Hal tersebut akan menarik lebih banyak pasien untuk mengunjungi rumah sakit tersebut baik untuk berobat maupun hanya untuk merawat kesehatan.

3. Akademisia. Sebagai upaya meningkatkan kreatifitas dan ketrampilan mahasiswa untuk menemukan metode baru dalam terapi nonfarmakologi. b. Sebagai upaya menggali potensi diri dari mahasiswa yang diharapkan potensi-potensi tersebut mampu menjadikan para mahasiswa menjadi manusia yang cerdas dan unggul. Kecerdasan dan keunggulan tersebut tentunya juga diharapkan mampu dimanfaatkan oleh para mahasiwa dengan baik dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup manusia menjadi lebih baik. Dengan demikian potensi tersebut tidak akan terbuang sia-sia tetapi mampu menjadikan sosok mahasiswa menjadi sosok manusia yang berharga karena potensi yang dimilkinya bermanfaat bagi sesama.1.5Batasan Masalah

Untuk menghindari meluasnya permasalahan maka perlu ditetapkan batasan masalah. Sasaran dari subjek penulisan ini adalah perawat dengan stress beban kerja yang dialami selama pemberian pelayanan pasien dengan gangguan kardovaskular di ICU. Proses adapatasi stress karena beban kerja tersebut dilakukan dengan memanfaatkan warna hijau pada Wallpaper alam yang diaplikasikan di ICU khususnya pada ruang perawat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA2.1Stres

2.1.1Definisi Stres

Stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan dan situasi social, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol (Morgan dan King dalam Waluyo 2008). Menurut Cooper (1994) dalam Perry & Potter (2005) Stres didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subjek.

2.1.2Tahapan Stres

Stres yang dialami seseorang dapat melalui beberapa tahapan, menurut Van Amberg (1979 dalam Alimul 2008), tahapan stres dapat terbagi menjadi enam tahap diantaranya :

a. Tahap Pertama

Merupakan tahap yang ringan dari stres yang ditandai dengan adanya semangat bekerja besar, penglihatannya tajam tidak seperti pada umumnya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan yang tidak seperti biasanya, kemudian merasa senang akan pekerjaannya akan tetapi kemampuan yang dimiliknya semakin berkurang.

b. Tahapan Kedua

Pada stres tahap kedua ini seseorang memiliki ciri sebagai berikut, adanya perasaan letih sewaktu bangun pagi yang semestinya segar, terasa lelah setelah makan siang, cepat lelah menjelang sore, sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman, denyut jantung berdebar-debar lebih .

c. Tahap Ketiga

Pada tahap ketiga ini apabila seseorang mengalami gangguan seperti pada lambung dan usus seperti adanya keluhan gastritis, buang air besar tidak teratur, ketegangan otot semakin terasa, perasaan tidak tenang, gangguan pola tidur seperti sukar mulai untuk tidur, terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur, lemah, terasa seperti tidak memiliki tenaga.

d. Tahap Keempat

Tahap ini seseorang akan mengalami gejala seperti segala pekerjaan yang menyenangkan terasa membosankan, semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara adekuat, tidak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan pola tidur, sering menolak ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengingat dan konsentrasi menurun karena adanya perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak diketahui penyebabnya.

e. Tahap Kelima

Stres tahap ini ditandai adanya kelelahan fisik secara mendalam, tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang ringan dan sederhana, gangguan pada sistem pencernaan semakin berat dan perasaan ketakutan dan kecemasan semakin meningkat.

f. Tahap Keenam

Tahap ini merupakan tahap puncak dan seseorang mengalami panik dan perasaan takut mati dengan ditemukan gejala seperti detak jantung semakin keras, susah bernapas, terasa gemetar seluruh tubuh dan berkeringat, kemungkinan terjadi kolaps atau pingsan.

2.1.3Stres Kerja

Greenberg (2002) mendefinisikan stress kerja sebagai kombinasi antara sumber-sumber stress pada pekerjaan, karakteristik individual, dan stresor di luar organisasi. Stres kerja (Selye, dalam Behr et al., 1992, dalam Waluyo, 2009) dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa rekasi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Faktor-faktor yang menyebakan stress kerja menurut Greenberg (2002) meliputi kombinasi dari: (1) faktor pekerjaan yang bersumber pada pekerjaan(2) faktor stress kerja yang bersumber pada karakteristik individu

(3) faktor stress kerja yang bersumber di luar organisasi.

2.1.4Gejala Stres Kerja

Respon tertentu dapat mengindikasikan adanya stress kerja pada seseorang atau kelompok. Hal tersebut dapat berupa keluhan sakit kepala, gangguan tidur, sulit untuk berkonsentrasi, gangguan pada lambung, dan ketidakpuasan kerja (NIOSH, 2008).Dalam penelitiannya, Mojoyinola (2008) menyatakan bahwa terdapat efek yang signifikan antara stress kerja dengan kesehatan fisik dan mental perawat di rumah sakit dan terdapat perbedaan signifikan dalam pribadi dan perilaku perawat yang mengalami stress kerja yang tinggi dengan perawat dengan tingkat stress yang rendah. Pada penelitian tersebut disebutkan bahwa perawat yang mengalami stress kerja yang tinggi (55,5%) menunjukkan masalah pribadi dan perilaku kerja seperti perilaku intimidasi, absenteisme, mengundurkan diri, dan turn over.

2.1.5Dampak Stres Kerja

Stres yang timbul akibat akibat ketidakjelasan sasaran dalam pekerjaan akhirnya mengarah ketidakpuasan pekerjaan, kurang memiliki percaya diri, rasa tidak berguna, rasa harga diri yang menurun, depresi, motivasi rendah untuk bekerja, peningkatan tekanan darah dan detak nadi, dan kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan (Munandar, 2008).Dari hasil penelitian Indriyani (2009) menunjukkan bahwa semakin tinggi stress kerja akibat tingginya konflik keluarga-pekerjaan atau pekerjaan-keluarga, maka semakin rendah kinerja perawat tersebut. Arnold (1986) dalam Waluyo (2009) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stress kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan.

2.2Intensive Care Unit (ICU)

ICU atau ICCU (Intensive care unit/ Intensive cardiac care unit) adalah layanan rumah sakit yang memberikan asuhan keperawatan secara terkonsentrasi dan lengkap. Unit ini memiliki tenaga perawat yang terlatih khusus dan berisi peralatan pemantauan dan dukungan khusus untuk pasien yang membutuhkan perawatan dan observasi intensif dan komprehensif, karena syok, trauma, atau kondisi yang mengancam jiwa.Bekerja di ruang ICU membutuhkan kecekatan, keterampilan dan kesiagaan setiap saat (Nuraini, 2004). Hal ini dikarenakan kondisi pasien di ruang ICU kritis, di mana pasien merupakan pasien dengan tingkat ketergantungan total sehingga membutuhkan bantuan pada semua atau hampir semua kebutuhan. Pasien harus selalu diobservasi setiap jam bahkan lebih sering lagi. Keadaan tersebut dapat menyebabkan stres kerja di ruang ICU. Tugas dan tanggung jawab atau beban kerja perawat ICU cukup kompleks, antara lain : melakukan observasi pasien secara ketat, banyaknya dan beragamnya pekerjaan yang harus dilakukan demi keselamatan pasien,perawat juga harus melakukan kontak langsung dengan pasien secara terus menerus selama jam kerja, dan lain sebagainya (Nursalam, 2003).2.3Kardiovaskular

Fungsi sistem kardiovaskular adalah untuk memberikan dan mengalirkan suplai oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan serta organ tubuh yang diperlukan untuk proses metabolisme. Normalnya setiap jaringan dan organ tubuh akan menerima aliran darah yang cukup serta penuh dengan nutrisi yang adekuat.Sistem kardiovaskular memerlukan banyak mekanisme yang bervariasi agar fungsi regulasinya dapat merespons seluruh aktivitas tubuh, salah satunya adalah mekanisme meningkatkan suplai darah agar aktivitas jaringan dapat terpenuhi. Pada keadaan berat, maka aliran darah tersebut lebih banyak diarahkan pada organ organ vital seperti jantung dan otak yang berguna untuk memelihara dan mempertahankan sistem sirkulasi itu sendiri.Sistem kardiovaskular merupakan suatu sistem transport tertutup yang terdiri atas beberapa komponen berikut ini.1. Jantung: sebagai organ pemompa darah2. Komponen darah: sebagai pembaw materi oksigen dan nutrisi3. Pembuluh darah: sebagai media atau jalan dari komponen darah

2.3.1Jantung

Jantung adalah sebuah organ berotot dengan empar ruang yang terletak di rongga dada, dibawah perlindungan tulang iga, sedikit ke sebelah kiri sternum. Ruang jantung terdiri atas dua ruang yang berdinding tipis disebut atrium (serambi) dan dua ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel (bilik).Jantung terdapat di dalam sebuah kantung longgar berisi cairan yang disebut pericardium. Keempat ruang jantung tersebut adalah atrium kiri dan kanan serta ventrikel kiri dan kanan. Atrium terletak di atas ventrikel dan saling berdampingan. Atrium dan ventrikel dipisahkan satu dari yang lain oleh katup satu-arah. Sisi kiri dan kanan jantung dipisahkan oleh sebuah dinding jaringan yang disebut septum. Dalam keadaan normal tidak terjadi pencampuran darah antara kedua atrium, kecuali pada masa janin, dan tidak pernah terjadi pencampuran darah antara kedua ventrikel pada jantung yang sehat. Semua ruang tersebut dikelilingi oleh jaringan ikat. Jantung juga mendapat suplai persarafan yang luas.

2.3.2 Macam-Macam Kelainan Jantung

1. Gagal Jantung adalah berkurang atau hilangnya sebagian fungsi miokardium yang menyebabkan penurunan curah jantung.2. Infark Miokardium adalah nekrosis miokardium yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat sumbatan akut arteri koroner.3. Endokarditis adalah peradangan pada katup dan permukaan endotel jantung.4. Perikarditis adalah peradangan perikardium parietal, perikardium viseral, atau kedua-duanya.5. Miokarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokard.6. Kardiomiopati adalah suatu penyakit miokardium yang menyerang otot jantung (miokard) dan penyebabnya tidak diketahui.7. Stenosis Mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah bilah katup mitral yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan progresif aliran darah. 8. Stenosis Aorta menghalangi aliran darah dari venrikel kiri ke aorta pada waktu sistolik ventrikel.9. Insufisiensi Mitral adalah daun katup mitral yang tidak dapat menutup dengan rapat, sehingga darah dapat mengalir balik atau akan mengalami kebocoran (sinonimnya adalah regurgitasi katup mitral dan inkompetensi katup mitral).2.4Warna Hijau

Warna hijau memiliki efek penenang, mengurangi iritasi dan kelelahan, serta dapat menenangkan gangguan emosi dan sakit kepala (Vernolia, 1988 dalam Edge, 2003). Warna ini menimbulkan rasa nyaman, rileks, mengurangi stres, menyeimbangkan, dan menenangkan emosi (Kusuma, 2010).

a. Hijau daun

Memudahkan relaksasi,menyeimbangkan emosi dan member rasa aman.b. Hijau muda

Penuh ketenangan, menghadirkan keseimbangan dan menciptakan keyakinan.

c. Hijau Pupus

Menciptakan suasana tenang, hening dan elegan .

2.4.1Terapi Warna

Terapi warna adalah teknik mengobati penyakit melalui penerapan warna agar tubuh tetap sehat dan memperbaiki ketidakseimbangan di dalam tubuh sebelum hal itu menimbulkan masalah fisik maupun mental. Terapi warna yang dikenal juga dengan nama chromatherapy merupakan terapi yang didasarkan pada pernyataan bahwa setiap warna tertentu mengandung energi-energi penyembuh. Dalam bidang kedokteran, menurut Kusuma (2010) terapi warna digolongkan sebagai electromagnetic medicine atau pengobatan dengan gelombang elektromagnetik.

2.4.2Terapi Warna Hijau

Terapi warna hijau ini dapat mempengaruhi hipotalamus dalam mengeluarkan berbagai neurohormon sehingga dapat mengurangi stres. Jalur utama dari mekanisme transmisi warna menuju sistem limbik dan sistem endokrin adalah Retinohypothalamic tract yang merupakan salah satu jalur dimana hipotalamus menghubungkan sistem saraf dengan Autonomic Nervous System (ANS) dan sistem endokrin (Holzberg & Albrecht, 2003 dalam Honig, 2007).Berdasarkan studi percontohan yang dilakukan oleh Shealy dkk (1996) dalam Honig (2007), yang mengukur perubahan dalam berbagai zat kimia saraf dan neurohormonnya sebagai respon terhadap cahaya berwarna, ditemukan bahwa warna hijau menyebabkan terjadinya peningkatan rata-rata kadar serotonin hingga 104%, oksitosin hingga 45,5%, beta endorfin hingga 33%, dan growth hormone hingga 150%. Warna hijau juga menyebabkan terjadinya penurunan kadar norepinefrin hingga 29%. Perubahan kadar zat kimia saraf dan neurohormon tersebut memiliki pengaruh dalam menurunkan stres.Pemberian terapi warna hijau akan merangsang pelepasan serotonin, sehingga peningkatan kadar serotonin dapat meningkatkan mood seseorang sehingga dapat menciptakan rasa bahagia dan menurunkan stres (Psychother, 2005).2.5WallpaperWallpaper dinding atau kertas dindingmerupakan jenisbahanyang digunakan untuk menutupi dan menghiasi dindingrumah,gedungdan lain-lain.Kertas dinding juga merupakan sejeniskertasyang digunakan sebagaibahanbangunanpelapis dinding. Kertas dinding menjadi salah satu yang sangat digemari karena memiliki keunggulan yaitu pilihan corak yang ditawarkan cukup banyak sehingga banyak pilihan yang diberikan. Untuk melekatkan kertas dinding pada dinding, digunakanbahanperekat khusus. Kertas dinding diperdagangkan dalam bentuk roll denganlebartertentu, yaitu 50 centi meter sampai 130 centi meter dengan panjang roll 10 meter sampai 50 meter. Kertas dinding merupakanmaterialyang cukup rentan dengan kelembapan. Ketika seseorang ingin memasang kertas dinding pastikan permukaan dinding bener-bener kering karena kertas dinding tidak akan bisa benar-benar merekat sempurna pada permukaan dinding yang lembab sehingga dapat mengakibatkan kertas dinding cepat rusak. Ada beberapa jenis kertas dinding yaitu vinni Wallpaper, pre-pasted walpaper, lining paper. Vinni Wallpaper merupakan kertas dinding berlapisPVCyang membuatnya lebih kuat dan tahanair. Pre-pasted walpaper merupakan kertas dinding yang dibuat dengan lapisan belakang bahanadesif koring. Lining paper merupakan kertas dinding yang digunakan di bawah kertas dinding untuk memberi tampilan yang lebih baik.

Gambar 2.1 Pilihan Warna dan Motif WallpaperBAB III

METODE PENULISAN3.1

Tahapan penulisan

Penyusunan karya tulis ini menggunakan metode deskriptif untuk mengolah dan menganalisis data yang diperoleh serta memilki tahapan-tahapan dalam proses penulisanya yang dilakukan sebagai landasan untuk mengembangkan konsep dasar dalam perumusan masalah yang diangkat. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tahapan perumusan tema dan permasalahan

b. Tahapan pengumpulan landasan teori dan data

c. Tahapan analisis

d. Tahapan kesimpulan dan rekomendasi3.2Metode Pengumpulan DataPengumpulan data yang dilakukan dalam penyusunan karya tulis ini, mengunakan beberapa metode yaitu:

a. Tinjauan pustaka

Data-data yang diperoleh, diambil dari jurnal ilmiah serta reverensi buku yang didapat dari perpustakaan yang memiliki relevansi dengan pembahasan.b. Tinjauan mediaAdanya informasi-informasi lain yang diperoleh sebagai input dalam penyusunan karya ini melalui internet, media cetak dan media elektronik.

3.3Metode Analisa DataAdapun metode pendekatan pada proses analisis yang dilakukan adalah:

a. Metode analisis deskriptif untuk mengolah dan menafsirkan data yang diperoleh sehingga dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya pada objek yang dikaji.b. Metode analisis komparatif untuk melihat perbandingan gagasan yang ditawarkan dengan beberapa teori yang relevan dengan gagasan.

3.4Kerangka Konsep

Tulisan ini memiliki kerangka konsep dalam proses penulisannya. Kerangka atau alur pikir digunakan untuk mempermudah proses penulisan. Adapun kerangka konsep dalam tulisan ini akan dijelaskan pada gambar 2.1 di bawah ini :

Gambar 3.1 Kerangka Konsep PenulisanBAB IV

PEMBAHASAN

4.1Efektivitas Terapi Warna Hijau sebagai Proses Adaptasi Stres Pelaksanaan tersebut berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha Wana Seraya Denpasar.Metode penerapan terapi warna hijau untuk mengadaptasi stres beban kerja perawat diawali dengan menentukan populasi dari penelitian dan diperoleh populasi 52 lansia. Kemudian peneliti mengambil sampel berjumlah 30 orang sesuai dengan kriteria sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling Non Probability Sampling, yaitu Purposive Sampling. Identifikasi stres yang dilakukan sebelum penerapan terapi warna hijau untuk mengetahui pengaruh warna hijau untuk adaptasi stres. Tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan terapi warna hijau dengan prosedur sebagai berikut: 1. Satu hari sebelum terapi, kaji tingkat stress melalui wawancara dan pengukuran stress menggunakan Depression Anxiety Stress Scale (DASS 42) sebagai amatan awal atau pre-test2. Kondisikan tempat dan suasana ruangan dengan nuansa warna hijau 3. Persiapkan responden untuk menuju ruang terapi4. Responden masuk kedalam ruangan dengan nuansa hijau dan diberikan paparan slide berwarna hjjau selama 10 menit 5. Terapi dilakukan selama satu kali sehari selama satu minggu6. Hari kedelapan dilakukan post-test dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner DASS 427. Analisa hasilBerdasarkan hasil penelitian didapatkan gambaran stres responden kelompok kontrol sebelum terapi warna hijau yaitu rata-rata skor didapatkan sebesar 27,13 dengan standar deviasi sebesar 8,66, berdasarkan pembagian kategori stres, didapatkan dari 15 orang responden 46,7% mengalami tingkat stres ringan dan 53,3% mengalami tingkat stres sedang. Gambaran stres responden kelompok kontrol setelah terapi warna hijau yaitu rata-rata skor didapatkan sebesar 25,93 dengan standar deviasi sebesar 8,24, berdasarkan pembagian kategori stres, didapatkan dari 15 orang responden 46,7% mengalami tingkat stres ringan dan 53,3% mengalami tingkat stres sedang. Gambaran stres responden kelompok eksperimental sebelum terapi warna hijau yaitu rata-rata skor didapatkan sebesar 31 dengan standar deviasi sebesar 5,21, berdasarkan pembagian kategori stres, didapatkan dari 15 orang responden 6,7% mengalami tingkat stres ringan dan 93,3% mengalami tingkat stres sedang. Gambaran stres responden kelompok eksperimental setelah terapi warna hijau yaitu rata-rata skor didapatkan sebesar 19,2 dengan standar deviasi sebesar 5,16. Berdasarkan pembagian kategori stres, didapatkan dari 15 orang responden 86,7% mengalami tingkat stres ringan dan 13,3% mengalami tingkat stres sedang. Keefektifan penerapan warna hijau pada dalam mengadaptasi stres ini berdasarkan terapi warna hijau ini dapat mempengaruhi hipotalamus dalam mengeluarkan berbagai neurohormon sehingga dapat mengurangi stres. Jalur utama dari mekanisme transmisi warna menuju sistem limbik dan sistem endokrin adalah Retinohypothalamic tract yang merupakan salah satu jalur dimana hipotalamus menghubungkan sistem saraf dengan Autonomic Nervous System (ANS) dan sistem endokrin (Holzberg & Albrecht, 2003 dalam Honig, 2007). Berdasarkan studi percontohan yang dilakukan oleh Shealy dkk (1996) dalam Honig (2007), yang mengukur perubahan dalam berbagai zat kimia saraf dan neurohormonnya sebagai respon terhadap cahaya berwarna, ditemukan bahwa warna hijau menyebabkan terjadinya peningkatan rata-rata kadar serotonin hingga 104%, oksitosin hingga 45,5%, beta endorfin hingga 33%, dan growth hormone hingga 150%. Warna hijau juga menyebabkan terjadinya penurunan kadar norepinefrin hingga 29%. Perubahan kadar zat kimia saraf dan neurohormon tersebut memiliki pengaruh dalam menurunkan stres.Serotonin disekresikan oleh nukleus yang berasal dari medial batang otak dan berproyeksi di sebagian besar daerah otak, khususnya yang menuju radiks dorsalis medula spinalis dan hipotalamus. Setelah dilepaskan, serotonin mampu mengaktifkan reseptor serotonin pre-sinaps maupun post-sinaps. Serotonin dalam kondisi normal mempunyai peran penting untuk mengontrol tidur-bangun, perilaku makan, pengendalian transmisi sensoris, mood, dan sejumlah perilaku. Pemberian terapi warna hijau akan merangsang pelepasan serotonin, sehingga peningkatan kadar serotonin dapat meningkatkan mood seseorang sehingga dapat menciptakan rasa bahagia dan menurunkan stres (Psychother, 2005). Di hipotalamus, oksitosin dibuat di magnocellular neurosecretory cells di supraoptik and nukleus paraventrikular. Oksitosin dapat menginduksi anti stres serta memberikan efek dalam penurunan tekanan darah dan kadar kortisol (Psychother, 2005). Tingkat oksitosin endogen berhubungan dengan kecemasan dan stres secara dua arah, yaitu oksitosin memberikan efek ansiolitik, tetapi oksitosin juga dirilis dalam respon terhadap stres. Pemberian terapi warna hijau dapat meningkatan kadar oksitosin dalam darah, sehingga efek ansiolitik yang dikeluarkan dapat menurunkan stres. Terapi warna hijau juga meningkatkan beta endorfin yang merupakan hormon antistres yang tentunya juga dapat menurunkan stres (John Hughes, 1975 dalam Liza 2010).Norepinefrin merupakan hormon stres yang mempengaruhi hipotalamus. Sama dengan epinefrin, norepinefrin juga mendasari respon fight-or-flight yang bekerja meningkatkan denyut jantung, memicu pelepasan glukosa dari penyimpanan energi, dan meningkatkan aliran darah ke otot rangka (Heneka et al, 2010). Pemberian terapi warna hijau dapat menurunkan kadar norepinefrin dalam darah, sehingga stres dapat berkurang.

4.2Penggunaan Wallpaper dengan Nuansa Warna Hijau sebagai Proses Adaptasi Stres Beban Kerja PerawatAda berbagai cara dalam menerapkan warna hijau sehingga rasa stress dapat teradaptasi, salah satunya yaitu menggunakan media Wallpaper yang diaplikasikan pada dinding suatu ruangan, berikut pilihan motif wallpaper seperti pada gambar dibawah:

Gambar 4.1 Macam-Macam Motif Wallpaper Dalam Tehnik Pemasangan Wallpaper pada dinding dibutuhkan beberapa alat yaitu antara lain: alas plastik, tangga, cutter, pensil, penggaris dan meteran, benang dengan pemberat, lem wallpaper dinding, bak untuk adukan lem (2 buah), spons, kuas lem, roller,amplas, dan kape untuk meratakan dinding.Aplikasi wallpaper pada dinding dilakukan dengan berbagai tahap yaitu:

1. Pengukuran panjang dan lebar bidang yang akan dilapisi wallpaper dinding. 2. Pemotongan Potong panjang wallpaperdinding menjadi panel-panel, namun disesuaikan dengan kebutuhan. 3. Tandai posisi wallpaperdinding dengan pensil. Gunakan alat bantu berupa benang dengan alat pemberat agar lurus dan rapi.4. Menempel wallpaperdinding dengan hati-hati. 5. Sambungan Pada bagian sambungan, gunakan lem yang lebih kental. Sapukan dengan kuas khusus pada bagian ini.6. Meratakan wallpaperdinding yang telah terpasang dengan penggaris akrilik. Potong sisa wallpaper dinding dengan cutter. Gunakan spons untuk menyerap kelebihan lem. Proses ini juga berfungsi untuk meratakan wallpaper dinding.Gambar 4.2 Aplikasi Wallpaper Warna Hijau didalam Interior RuanganSetiap ruang perawat ICU yang ada di rumah sakit dapat menerapakan warna hijau pada Wallpaper pada seiap dinding ruang perawat tersebut sesuai dengan ketentuan yang disepakati dengan pihak-pihak terkait. Praktis, ekonomis, dan Estetika merupakan hal utama yang dijadikan alasan penggunaan Wallpaper dalam menerapkan warna hijau untuk mengadaptasi stress beban kerja perawat ICU.Penerapan warna hijau pada Wallpaper pada ruang perawat ini lebih menekankan kepada: Pertama; peningkatan performa kerja perawat ICU, Ke-dua; mengoptimalkan kesehatan perawat ICU, Ke-tiga; meningkatkan kesejahteraan perawat ICU. Sedangkan melalui proses adaptasi stress perawat didalam ruangan lebih diarahkan kepada peningkatan perfoma kerja, pengetahuan serta keterampilan perawat dalam memanfaatkan media Wallpaper atau kertas dinding dengan menampilkan nuansa warna hijau yang telah terbukti dapat memberikan efek relaksasi. Perawat memiliki hak untuk sejahtera dan bebas dari rasa stress yang sering dirasakannya akibat beban kerja nya. Oleh karena itu, suatu pendekatan nonfarmakologi dalam proses pengadaptasian stress beban kerja perawat merupakan hal yang penting. Perawat ICU memiliki beban kerja yang cukup berat jika dibandingkan dengan perawat di ruangan lain. Beban kerja inilah yang menjadi faktor utama terjadinya stress pada perawat. Stres yang dirasakan perawat dapat berdampak buruk tidak hanya pada lingkungan kerjanya tetapi juga kondisi kesehatan perawat itu sendiri. Ada banyak sekali dampak buruk yang dapat ditimbulkan akibat stress mulai dari terjadinya kecelakaan kerja pada perawat maupun penyakit yang menyerang perawat seperti penyakit jantung serta masih banyak yang lainnya. Partisipasi perawat, rumah sakit, dinas kesehatan, serta pihak-pihak terkait dalam perancangan, perencanaan dan penerapan warna hijau akan mewarnai dunia kesehatan, sehingga dengan demikian dapatlah dijamin bahwa persepsi setempat, pola sikap, dan pola pikir serta nilai-nilai pengetahuannya ikut mendapat perhatian secara penuh.BAB VKESIMPULAN5.1Simpulan

Jadi, terapi warna hijau terbukti mampu mengadaptasi stress beban kerja perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien dengan gangguan kardiovaskuler di ruang intensive care.5.2Saran

Penulisan karya tulis ini diharapkan akan berguna bagi beberapa pihak yang terkait antara lain :1. Pemerintah

Dalam hal ini Dinas Kesehatan yang merupakan lembaga pemerintah yang bergerak dalam bidang kesehatan termasuk dalam permasalahan peningkatan performa kerja dan kualitas hidup perawat.2. Rumah Sakit

Dalam hal ini khususnya pihak pihak yang terkait dalam pengelolaan rumah sakit seperti direktur dapat menjadikan karya ini sebagai wacana dalam meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit tersebut.3. Akademisi

Sebagai usaha dalam peningkatan keterampilan mahasiswa untuk penemuan baru dalam terapi pengobatan nonfarmakologi.IDE TULISAN

Dinamika perawatan ICU yang kompleks dan kondisi pasien kritis sering memicu terjadinya stress di ICU (Hudak & Gallo, 2010).

Stres kerja banyak dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang tidak nyaman (Evan & Johnson, 2000)

EKSPLORASI PERMASALAHAN

Rendahnya kualitas kerja perawat akibat stres

Terjadinya eror dan kecelakaan kerja yang berdampak buruk pada pasien

Diperlukan upaya adaptasi stress beban kerja perawat

Pemanfaatan warna hijau pada Wallpaper bertemakan alam yang diaplikasikan di ruang perawat ICU untuk proses pengadaptasian stress beban kerja perawat

Stres teradaptasi dibuktikan dengan perfoma kerja perawat meningkat setelah dilakukan proses adaptasi diruang perawat ICU

KESIMPULAN DAN SARAN

24


Recommended