Home >Documents >fikosianin_ratna rahayuningtyas_13.70.0138_D5_UNIKA SOEGIJAPRANATA

fikosianin_ratna rahayuningtyas_13.70.0138_D5_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Date post:03-Dec-2015
Category:
View:15 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan pewarna bubuk dari Spirulina
Transcript:
  • Acara IV

    ISOLASI DAN PEMBUATAN POWDER

    FIKOSIANIN : PEWARNA ALAMI DARI

    BLUE GREEN SPIRULINA

    LAPORAN RESMI PRATIKUM

    TEKNOLOGI HASIL LAUT

    Disusun oleh :

    Ratna Rahayuningtyas

    13.70.0138

    Kelompok : D5

    PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

    FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

    UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

    SEMARANG

    2015

  • 1

    1. MATERI dan METODE

    1.1. Materi

    Bahan yang digunakan adalah Biomassa Spirulina basah atau kering, aquades dan

    dekstrin. Serta alat yang digunakan yaitu Sentrifuge, pengaduk/stirrer, alat

    pengering(oven), plate stirrer.

    1.2. Metode

    Biomassa Spirulina ditimbang dalam cawan

    Dimasukkan dalam Elenmenyer.

    Dilarutkan dalam aqua destilata (1 : 10).

  • Disentrifugasi 5000 rpm, 10 menit hingga didapat endapan dan supernatant.

    Supernatan diencerkan sampai pengenceran 10-1 dan diukur kadar fikosianinnya

    pada panjang gelombang 615 nm dan 652 nm

    Diaduk dengan stirrer 2 jam

  • 3

    Dicampur merata dan dituang ke wadah

    Dioven pada suhu 50C hingga kadar air 7%

    Supernatan diambil 8 ml dan ditambah dekstrin dengan perbandingan supernatan :

    dekstrin = 1 : 1.

  • 4

    Didapat adonan kering yang gempal

    Dihancurkan dengan penumpuk hingga berbentuk powder

    Kadar Fikosianin (mg/g) diukur dengan rumus :

  • 5

    2. HASIL PENGAMATAN

    Keterangan warna :

    + :biru muda

    ++ :biru

    +++ :biru tua

    Dari hasil pengamatan pada tabel diatas, maka diperoleh data untuk kelompok D1 menggunakan berat biomassa kering sebanyak 8 gr serta

    aquades yang ditambahkan sebanyak 80 ml dan total filtrate yang diperoleh sebanyak 55 gr maka nilai OD615 sebesar 0,1854 , nilai OD652

    sebesar 0,1733 , konsentrasi fikosianin sebesar 0,193 mg/ml , yield fikosianin sebesar 1,327 mg/ml dan warna sebelum pengovenan

    berwarna biru serta setelah pengovenan berwarna biru muda. Untuk kelompok D2 menggunakan berat biomassa kering sebanyak 8 gr serta

    aquades yang ditambahkan sebanyak 80 ml dan total filtrate yang diperoleh sebanyak 55 gr maka nilai OD615 sebesar 0,1914 , nilai OD652

    sebesar 0,1797 , konsentrasi fikosianin sebesar 0,199 mg/ml , yield fikosianin sebesar 1,368 mg/ml dan warna sebelum pengovenan

    berwarna biru serta setelah pengovenan berwarna biru muda. Untuk kelompok D3 menggunakan berat biomassa kering sebanyak 8 gr serta

    aquades yang ditambahkan sebanyak 80 ml dan total filtrate yang diperoleh sebanyak 55 gr maka nilai OD615 sebesar 0,1863 , nilai OD652

    sebesar 0,1843 , konsentrasi fikosianin sebesar 0,185 mg/ml , yield fikosianin sebesar 1,272 mg/ml dan warna sebelum pengovenan

    berwarna biru serta setelah pengovenan berwarna biru muda. Untuk kelompok D4 menggunakan berat biomassa kering sebanyak 8 gr serta

    aquades yang ditambahkan sebanyak 80 ml dan total filtrate yang diperoleh sebanyak 55 gr maka nilai OD615 sebesar 0,1980 , nilai OD652

    sebesar 0,1803 , konsentrasi fikosianin sebesar 0,211 mg/ml , yield fikosianin sebesar 1,451 mg/ml dan warna sebelum pengovenan

    berwarna biru serta setelah pengovenan berwarna biru muda. Untuk kelompok D5 menggunakan berat biomassa kering sebanyak 8 gr serta

    Kel

    Berat

    Bio

    Massa

    Kering(g)

    Jumlah Aquades

    yang

    ditambahkan(ml)

    Total

    Filtrat

    yang

    diperoleh

    OD

    615

    OD

    652

    KF

    (mg/ml)

    Yield

    (mg/ml)

    Warna

    Sebelum

    dioven

    Sesudah

    dioven

    D1 8 80 55 0,1854 0,1733 0,193 1,327 ++ +

    D2 8 80 55 0,1914 0,1797 0,199 1,368 ++ +

    D3 8 80 55 0,1863 0,1843 0,185 1,272 ++ +

    D4 8 80 55 0,1980 0,1803 0,211 1,451 ++ +

    D5 8 80 55 0,1687 0,2029 0,136 0,935 ++ +

  • 6

    aquades yang ditambahkan sebanyak 80 ml dan total filtrate yang diperoleh sebanyak 55 gr maka nilai OD615 sebesar 0,1687 , nilai OD652

    sebesar 0,2029 , konsentrasi fikosianin sebesar 0,136 mg/ml , yield fikosianin sebesar 0,935 mg/ml dan warna sebelum pengovenan

    berwarna biru serta setelah pengovenan berwarna biru muda.

  • 7

    3. PEMBAHASAN

    Praktikum kali membahas mengenai pewarna alami dari Blue Green Micoalga Spirulina

    yang mempunyai pigmen fikosianin. Pigmen ini yang dibutuhkan dalam pembuatan

    pewarna alami. Seiring berkembangan jaman makanan yang mengandung warna-warna

    yang menarik konsumen. Oleh karena itu pemberian warna pada makanan dapat

    menarik minat konsumen, dengan penampakan produk makanan yang memikat para

    konsumen (Candra, 2011). Umumnya, pewarna memiliki 2 jenis yaitu perwarna

    buatan/sintetis dan pewarna alami/biopigmen (Mohammad, 2007).

    Pewarna alami/biopigmen sangatnya banyak digunakan oleh masyarakat karena untuk

    membuatnya gampang bisa menggunakan bagian-bagian tanaman seperti daun, buah,

    batang atau umbi-umbian. Sifat yang tidak memberikan efek samping negative jika

    dikonsumsi dan dapat diuraikan merupakan daya ikat banyak penggunaan pewarna

    alami. Namun, pewarna alami memiliki kelemahan seperti ketersediaanya terbatas,

    kurangnya stabilitas terhadapat panas, pH dan cahaya. Dengan demikian, perlu adanya

    sumber pewarna alami lain yang memiliki ketersediaannya melimpah. Mikroalga

    merupakan salah satu sumber pewarna alami yang dapat jadikan solusi. Produksi

    mikroalga sangat mudah, waktu tumbuhnya yang cepat sehingga dalam waktu singkat

    dapat dipanen, memproduksi secara terus-menerus, serta dapat dikendalikan sesuai

    dengan kebutuhan dan keinginan, juga memiliki berbagai fungsi kesehatan seperti anti

    kanker, anti hiperkolestrol serta dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Arylza, 2005).

    Mikroalga yang dapat digunakan untuk pewarna adalah spesies Spirulina. Spirulina

    merupakan spesies sering dijadikan pewarna alami dengan adanya pigmen fikosianin

    yang menghasilkan biru (Spolaore et al, 2006). Spirulina atau Arthrospira adalah

    mikroalga yang masuk dalam kelompok ganggang hijau biru (blue-green algae). Bentuk

    tubuhnya yang berupa filament selinder serta tidak bercabang berwarna hijau-biru

    (Richmond, 1988). Seperti juga yang diterangkan dalam jurnal Maximising

    phycocyanin extraction from a newly identified Egyptian cyanobacteria strain:

    Anobaena oryzae SOS13 bahwa sel vegetative dari mikroalga yang mengandung

    fikosianin berbentuk silinder dan berdiametr berkisar 1,5-3,0 um dan panjangnya

    berkisar 3,0-5,0 pM. Dalam koloni besar Spirulina berwarna hijau tua yang didapat dari

    klorofil jumlah tinggi. Spirulina sangat mudah dicerna karena membrane sel yang tipis

  • 8

    dan lembut (Tieze, 2004). Spirulina banyak mengandung protein sekitar 60%

    terkandung asam amino esensial, vitamin, dan memberikan khasiat sebagai obat

    (therapeutic). Pigmen fikosianin yang terdapat pada Spirulina merupakan antioksidan

    dan antiinflamatori serta berguna untuk menurunkan kolestrol (Desmorieux, 2006).

    Pada jurnal yang berjudul Study of Phycocyanin Production from Spirulina plantesis

    Under Different Light Spectra menerangkan bahwa Spirulina banyak mengandung

    protein serta ada beberapa senyawa dan pigmen alami yang memiliki sifat fungsional.

    Seperti yang ditemukan pada Spirulina yaitu phycobiliproteins, phycoerythrin (PE) dan

    allophycocyanin (AP) dalam jumlah yang kecil. Namun pigmen fikosianin lebih

    mendominasi yang menghasilkan warna biru, juga tergantung dari kemurnian pigmen

    tersebut.

    Fikosianin merupakan pigmen yang banyak ditemui pada ganggang hijau-biru dengan

    jumalh 20% dari berat kering (Richmond, 1988). Merupakan pigmen dominan pada

    Spirulina. Dalam 500 mg tables Spirulina mengandung fikosianin sebanyak 333,0 mg

    (Tietze, 2004). Mempunyai absorbansi cahaya pada panjang gelombang 546 nm.

    Fikosianin yaitu salah satu dari tiga pigmen (klorofil dan karatenoid) yang dapat

    menangkap radiasi sinar matahari (Hall and Rao, 1999). Fikosianin adalah kumpulan

    kompleks protein-protein yang berhubungan dan berperan untuk mendapatkan cahaya

    serta energi transduksi. Pigmen ini dapat larut dapat pelarut polar seperti air. Toeri El-

    Baky (2003) menyatakan bahwa pemakaian fikosianin sebagai pewarna alami pada

    makanan sudah lama dilakukan. Umumnya fikosianin digunakan pada industri makanan

    seperti telah diterapkan pada permen karet, minuman ringan, dairy product. Tidak

    hanya digunakan dalam bidang industri makanan, fikosianin dapat diterapkan pada

    produk kosmetik yang memiliki daya jual tinggi. Pengaplikasian telah dilakukan yaitu

    pada lipstick dan eyeliners (Spolaore et al, 2006).

    Pada jurnal yang terakhir dengan judul Extraction and Separation of Phycocyanin from

    Spirulina using Aqueous Two-Phase Systems of Ionic Liquid and Salt menunjukan

    dengan budidaya mikroalga Spirulina merupakan proses yang efektif untuk memperoleh

    beberapa biokimia yang berharga seperti polisakarida, asam -linolenat, -karoten ,

    klorofil dan pikobiliprotein. Pikobiliprotein merupakan pigmen yang berwarna. Pigmen

    dominan dalam keluarga pikobiliprotein adalah fikosianin. Umumnya fikosianin

  • 9

    digunakan sebagai pewarna alami dalam makanan dan dapat digunakan dalam industri

    kosmetika.

    Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan pewarna biru yaitu dimulai

    dengan biomassa Spirulina dimasukan dalam Erlenmeyer dan melarutkan dengan

    aquades dengan perbandingan 1:10. Kemudian dilakukan pengadukan menggunakan

    stirrer dalam waktu kurang lebih 2 jam. Adanya pengadukan ini berperan untuk dapat

    tercampur rata Spirulina dengan aquades sehingga proses pengekstrakan fikosianin

    berjalan secara optimal. Selanjutnya dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm

    selama 10 menit hingga memperoleh endapan dan supernatant yang berupa cairan berisi

    fikosianin. Tujuan dilakukan sentrifugasi ini menurut Silveira et al, 2007 yaitu untuk

    mendapatkan mengendapkan debris sel serta memperoleh pigmen fikosianin yang

    terlarut dalam aquades. Sedangkan prinsip utama dari sentrifugasi yaitu untuk pelakuan

    pemisahan antara substansi berdasarkan berat jenis molekul dibantu oleh gaya sentrigal

    sehingga subtansi yang miliki ukuran besar akan berada di dasar, sedangkan substanti

    yang berukuran kecil akan terletak di atas (Kimball,1992). Setelah itu supernatant yang

    didapatkan diukur kadar fikosianinnya menggunakan spektrofotometer dengan panjang

    gelombang 615 nm dan 652 nm. Supernatant ditambahan dekstrin perbandingan 1:1.

    Kemudian supernatant yang sudah tercampur rata dituangkan dalam wadah yang dapat

    digunakan sebagai alas untuk proses penuangan. Perlakuan penuangan ini dilakukan

    dengan menuangankan dekstrin ke alas pengering terlebih dahulu, dilanjutkan dengan

    supernatant yang didapatkan dituang secara perlahan-lahan. Lalu masukkan dalam oven

    bersuhu 450C hingga kering yang memiliki kurang lebih kadar air sekitar 7%. Tidak

    perlu pengukuran kadar air hanya cukup dengan menggunakan spatula dan dilihat sudah

    kering atau masih gempal. Selanjutnya setelah benar-benar kering maka akan terlihat

    adonan kering yang gempal. Oleh itu dilakukan penumbukan atau penghancuran adonan

    hingga didapatkan dalam bentuk bubuk. Seperti tujuan dilakukan praktikum ini untuk

    membuat pewarna bubuk dari Spirulina.

    Penambahan dekstrin pada produk bermaksud untuk mengurangi terjadinya kerusakan

    pigmen akibat oksidasi. Fennema (1976) berpendapat bahwa dekstrin merupakan

    susunan unit glukosa yang bisa mengikat air, maka dari itu oksigen yang terlarut dapat

    dikurangi, sehingga proses oksidasi bisa dicegah. Sifat dari dekstrin yang bisa larut

    dalam air serta lebih stabil pada panas dapat melindungi senyawa volatile dan senyawa

  • 10

    yang rentan panas atau oksidasi yang ada pada masalah ini yaitu untuk melindungi

    fikosianin.

    Tujuan adanya pengeringan untuk memperkecil kadar air pada bahan. Pengkontrolan

    tekanan dan temperature selama pengeringan berperan untuk meningkatkan

    konduktivitas panas dan daya menebus (permeabilitas) uap air bahan yang kering.

    Desmorieux dan Dacaen (2006) mengatakan bahwa, jika temperature pengeringan

    fikosianin menggunakan diatas 600C, maka akan menyebabkan degradasi fikosianin

    serta akan menimbulkan reaksi maillard. Dengan demikian, temperature yang

    digunakan untuk proses pengeringan dibawah 600C.

    Setelah dilakukan proses pembuatan fikosianin diperoleh hasil pengamatan dengan

    peroleh data pada setiap kelompok seperti pengukuran optical density (OD615 dan

    OD652), konsentrasi fikosianin, yield fikosianin dan warna yang berbeda-beda pada

    setiap kelompok. Maka hasil dari tabel pengamatan mulai dari kelompok D1

    memperoleh hasil nilai OD615 yakni 0,1854 , nilai OD652 yakni 0,1733 , nilai KF yakni

    0,193 , yield fikosianin 1,327 , serta warna sebelum pengovenan berwarna biru dan

    sesudah pengovenan berwarna biru muda. Untuk kelompok kelompok D2 memperoleh

    hasil nilai OD615 yakni 0,1914 , nilai OD652 yakni 0,1797 , nilai KF yakni 0,199 , yield

    fikosianin 1,368 , serta warna sebelum pengovenan berwarna biru dan sesudah

    pengovenan berwarna biru muda. Untuk kelompok D3 memperoleh hasil nilai OD615

    yakni 0,1863 , nilai OD652 yakni 0,1843 , nilai KF yakni 0,185 , yield fikosianin 1,272 ,

    serta warna sebelum pengovenan berwarna biru dan sesudah pengovenan berwarna biru

    muda. Untuk kelompok D1 memperoleh hasil nilai OD615 yakni 0,1980 , nilai OD652

    yakni 0,1803 , nilai KF yakni 0,211 , yield fikosianin 1,3451 , serta warna sebelum

    pengovenan berwarna biru dan sesudah pengovenan berwarna biru muda. Sedangkan

    pada kelompok D1 memperoleh hasil nilai OD615 yakni 0,1687 , nilai OD652 yakni

    0,2029 , nilai KF yakni 0,136 , yield fikosianin 0,935 , serta warna sebelum

    pengovenan berwarna biru dan sesudah pengovenan berwarna biru muda. Pada

    kelompok D5 memperoleh nilai yield yang tekecil, dikarenakan nilai OD652

    mendapatkan nilai yang tertinggi. Hasil absorbansi biasanya dipengaruhi oleh

    konsentrasi serta tingkatan kejernihan larutan (Fox, 1991). Sehingga semakin pekat

    serta keruh dari suatu larutan, maka akan diperoleh nilai absorbansi yang tinggi.

    Selanjutnya untuk warna yang dihasilkan setelah pengeringan pada setiap kelompok

  • 11

    sama yaitu biru muda. Hal ini menunjukan bahwa dengan adanya penambahan dekstrin

    berkonsentrasi tinggi akan mengakibatkan bubuk fikosianin yang menjadi pudar atau

    cenderung pucat.

    Pada jurnal dengan judul Effect of Hg(II) and Pb(II) Ions on C-Phycocyanin (Spirulina

    plantesis) menunjukan bahwa efek dari penambahan ion Hg(II) dan Pb(II) pada

    Spirulina plantesis diukur dengan menggunakan spektroskopi fluoresensi. Penyerapan

    maksimum pada C-PC sekitar 620 nm dan maksimum emisi fluorensensi pada 640 nm.

    Adanya SPDP sebagai crosslinker heterobifunctional sangatlah baik untuk

    mempengaruhi peran amina. Rasio molar yang berbeda memiliki pengaruh yang

    signifikan pada penyerapan dan fluorensensi spectrum C-phycocyanin. Maksimun

    penyerapan dan fluorensensi maksimum dari kedua ion menurun dan bergeser dari 640

    nm sampai 630 nm sebagai rasio molar SPDP yang meningkat.

    Pada jurnal Blue Light Enhance the Pigment Synthesis in Cyanobacterium Anabaena

    ambigua Rao (Nostacales) menerangkan bahwa faktor lingkungan mempengaruhi

    pertumbuhan dan metabolisme mikroalga. Lingkungan tersebut digunakan untuk

    mengontrol metabolisme dan optimalisasi produk biosintesis tertentu. Anabaena

    merupakan cyanobacterium yang digunakan untuk menghambat ninches pada ekologi

    yang beragam, umumnya sawah sebagai tempat pengamatan. Untuk semua

    mikroorganisme mempunyai fotosintetik cahaya yang berperan penting dalam

    pertumbuhan, perbanyakan sel dan fisiologi cyanobacteria.

  • 12

    4. KESIMPULAN

    Mikroalga Spirulina menghasilkan fikosianin yang berwarna biru.

    Pengaplikasian fikosianin tidak hanya digunakan dalam industry pangan namun

    bisa digunakan industry bidang kosmetika.

    Mikroalga fikosianin sangat mudah diproduksi dengan waktu panen yang singkat.

    Fikosianin mudah larut pada pelarut polar seperti air.

    Fikosianin adalah kumpulan kompleks protein-protein yang berhubungan dan

    berperan untuk mendapatkan cahaya serta energi transduksi.

    Fikosianin sering digunakan dalam industry pangan seperti industry permen karet,

    dairy product, minuman ringan.

    Tujuan dilakukan sentrifugasi yaitu untuk mendapatkan mengendapkan debris sel

    serta memperoleh pigmen fikosianin yang terlarut dalam aquades.

    Proses pengadukan berguna untuk mencampurkan rata antara spirulina dengan

    aquades.

    Penambahan dekstrin pada produk bermaksud untuk mengurangi terjadinya

    kerusakan pigmen akibat oksidasi.

    Proses pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air dari fikosianin yang

    dihasilkan.

    Dilakukan penumbukan atau penghaluskan fikosianin setelah pengeringan untuk

    memperoleh bubuk fikosianin.

    Penambahan dekstrin dengan kadar konsentrasi tinggi dapat menyebabkan warna

    fikosianin menjadi pudar atau pucat.

    Fikosianin juga memiliki fungsi kesehatan seperti anti kanker, anti hiperkolestrol

    serta dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

    Panjang gelombang yang digunakan untuk spektrofotometer adalah 615 nm dan

    652 nm.

  • 13

    Semarang, 28 Oktober 2015

    Praktikan , Asisten Dosen

    Deanna Suntoro

    Ratna Rahayuningtyas Ferdyanto Juwono

    13.70.0138

  • 14

    5. DAFTAR PUSTAKA

    Alfredo Walter, Jlio Cesar de Carvalho, Vanete Thomaz Soccol, Ana Brbara Bisinella de

    Faria, Vanessa Ghiggi and Carlos Ricardo Soccol. 2011. Study of Phycocyanin

    Production from Spirulina plantesis Under Different Light Spectra. Brazilian

    Archives of Biology and Technology: Aninternational Journal.

    Arylza, IS. 2003. Isolasi pigmen biru fikosianin dari mikroalga Spirulina plantesis. Journal

    Osenalogi dan Limnologi di Indonesia, 38:79-92.

    Candra, Budi Atrika. 2011. Karakteristik Pigmen Fikosianin dari Spirulina fusiformis yang

    dikeringkan dan diamobilisasi [skripsi]. Dapertemen Teknologi Hasil Perairan,

    Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.

    Desmorieux H. Dacaen N. 2006. Convective drying of Spirulina in thin layer. Journal Of

    Food Engineering, 77:64-70.

    El-Baky HHA. 2003. Over production of phycocyanin pigment in blue green alga Spirulina

    sp. And its Inhibitory effect on growth of Ehrlich Aschites Carcinoma Cells

    Journal Medical Science.

    Fennema, D.R. 1976. Principles of Foods Science. Marcel Dekker. Inc. New York.

    Fox, P. F. 1991. Food Enzymologi Vol 1. Elsevier Applied Sciences, London.

    Gelagutashvili, Eteri; Tsakadze, Ketevan. 2012. Effect of Hg(II) and Pb(II) Ions on C-

    Phycocyanin (Spirulina plantesis). Optics and Photonics Journal.

    Hall DO, Rao KK. 1999. Photosynthesis Six Edition. Cambridge: Cambridge University

    Press.

    Kimball, J.W. 1992. Biologi jilid 1 edisi 5. Erlangga. Jakarta.

    Mohammad, Johan. 2007. Produksi dan Karakteristik Biopigmen Fikosianin dari Spirulina

    fusiformis serta Aplikasinya Sebagai Pewarna Minuman. Program Studi Teknologi

    Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.

  • 15

    Richmond A.1988. Spirulina. Di dalam Borowitzka MA dan Borowitzka LJ, editor.

    Microalga biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press.

    Salama, A., Abdel Ghany, A., Osman, A. and Sitohy, M. 2014. Maximizing phycocyanin

    extraction from a newly identified Egyptian Cyanobacteria strain: Anabaena

    oryzae SOS13. Internation Food Research Journal 22(2): 517-525.

    Silveira, S. T.; Burkert, J. F. M.; Costa, J. A. V.; Burkert, C. A.V.; Kalil, S. J.; Bioresour.

    Technol. 2007, 98, 1629.

    Spolaroe, P et al. 2006. Commercial Application of Microalgae Review. J Biosci and

    Bioeng.

    Teitze HW. 2004. Spirulina Micro Food Macro Blessing. Ed ke-4. Australia: Haralz W

    Tietze Publishing.

  • 16

    6. LAMPIRAN

    6.1 Perhitungan

    Rumus perhitungan :

    Konsentrasi Fikosianin / KF (mg/ml) = x

    Yield (mg/g) =

    Kelompok D1

    KF = = 0,193 mg/ml

    Yield = = 1,327 mg/g

    Kelompok D2

    KF = = 0,199 mg/ml

    Yield = = 1,368 mg/g

    Kelompok D3

    KF = = 0,185 mg/ml

    Yield = = 1,272 mg/g

    Kelompok D4

    KF = = 0,211 mg/ml

    Yield = = 1,451mg/g

    Kelompok D5

    KF = = 0,136 mg/ml

    Yield = = 0,935 mg/g

  • 17

    6.1. Laporan Sementara

    6.2. Diagram Alir

    6.3. Abstrak Jurnal

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended