Home >Documents >Fikosianin_Liem_Pamela_Lukito_13.70.0014_E3_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Fikosianin_Liem_Pamela_Lukito_13.70.0014_E3_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Date post:04-Feb-2016
Category:
View:36 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
Fikosianin adalah pigmen biru yang dapat menggantikan posisi pewarna sintetik yang berbahaya bagi kesehatan.
Transcript:

18

FIKOSIANINPEWARNA ALAMI DARI BLUEGREEN MICROALGAE SPIRULINA

LAPORAN RESMI PRAKTIKUMTEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh:Nama: Liem Pamela LukitoNIM: 13.70.0014Kelompok: E3

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGANFAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIANUNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATASEMARANG

Acara IV

2015

materi metode

1.1. ALAT DAN BAHAN1.1.1. AlatAlat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sentrifuge, pengaduk/stirrer, alat pengering (oven), dan plate stirrer.

1.1.2. BahanBahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah biomassa Spirulina kering, aquades, dan dekstrin.

1.2. METODE

Biomassa Spirulina kering dimasukkan dalam erlenmenyer.

Spirulina dilarutkan dengan aquades (perbandingan 1:10)

Diaduk menggunakan stirrer selama kurang lebih 2 jam.

Disentrifugasi 5000 rpm selama 10 menit lalu supernatan dipindah ke gelas ukur.

1

Setelah tercampur rata lalu dituangkan ke dalam wadah yang dapat digunakan sebagai alas untuk proses pengeringan.Sisa supernatan pada gelas ukur ditambahkan desktrin dengan perbandingan supernatan:desktrin = 8:9 (kelompok E1, E2, dan E3) dan 1:1 (kelompok E4 dan E5). Sebagian supernatan pada gelas ukur diencerkan hingga 10-2 kemudian diukur kadar fikosianinnya dengan spektrofotometer (615 nm dan 652 nm).

4

Dioven pada suhu 45C hingga kering kurang lebih kadar air sekitar 7% (cukup diambil dengan spatula dan dilihat kering atau masih gempal).

Adonan yang telah dikeringkan, dihancurkan dengan alat penumbuk hingga berbentuk powder.

Kadar fikosianin diukur dengan rumus:Konsentrasi Fikosianin/KF (mg/ml) = Yield (mg/g) =

Hasil pengamatan

Hasil pengamatan fikosianin dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan FikosianinKelompokBerat Biomassa Kering(g)Jumlah aquades yang ditambahakan (ml)Total filtrat yang diperoleh (ml)OD 615OD 652KF (mg/ml)Yield (mg/ml)Warna

Sebelum diovenSesudah dioven

E1880560,05510,01640,8866,202+++

E1880560,05750,01640,9316,517+++

E3880560,06470,01591,0707,493++

E4880560,06130,01441,0207,140++

E5880560,06240,01761,0127,084+++++

Keterangan : Warna += biru muda ++= biru tua +++= biru sangat tua

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dapat dilihat bahwa ada variasi nilai optical density (OD) dengan perlakuan yang sama. Selain itu dapat dilihat juga bahwa konsentrasi fikosianin berbanding lurus terhadap yield yang dihasilkan. Kemudian parameter warna bubuk fikosianin juga diamati, yang mana tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dari warna bubuk fikosianin sebelum dan setelah dikeringkan.

6

Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan proses isolasi pigmen fikosianin dan pembuatan pewarna bubuk dari fikosianin yang berasal dari mikroalga Spirulina platensis. Pada jaman sekarang ini banyak sekali pewarna sintetis yang digunakan. Meskipun pada kenyataannya pewarna sintetis lebih mudah didapat dengan harga terjangkau, namun seringkali konsumen bertanya-tanya apakah pewarna tersebut aman atau tidak. Oleh karena itu ditemukan cara lain untuk menanggapi keinginan konsumen, yaitu dengan memproduksi pewarna alami. Menurut Sutomo (2005) mikroalga dapat menghasilkan senyawa berpotensi antara lain pigmen, asam lemak, dan faktor tumbuh. Astawan (2008) menambahkan bahwa mikroalga sudah sering dimanfaatkan sebagai pewarna alami karena kelebihan-kelebihannya di bidang kesehatan. Salah satu mikroalga yang dapat dimanfaatkan dalam hal tersebut adalah Spriulina platensis yang menurut Richmond (1988) tergolong dalam organisme alga hijau biru.

3.1. Spirulina platensis, Fikosianin dan Dekstrin

Berdasarkan Zahroojian et al. (2013) Spriulina platensis adalah kelompok organisme yang masuk dalam golongan alga hijau-biru, yang memiliki jumlah sel yang banyak. Mikroalga ini sering digunakan untuk bahan pangan karena sifatnya yang bernutrisi dengan kandungan protein yang tinggi. Tietze (2004) melanjutkan bahwa pada tubuh mikroalga tersebut ada filamen-filamen berwarna hijau-biru dan berbentuk silinder linear. Ukuran dari tubuh mikroalga ini adalah 100 kali lipat ukuran sel darah merah manusia. Warna hijau-biru yang ada pada mikroalga ini disebabkan karena adanya kandungan pigmen klorofil dan fikosianin yang dominan. Menurut Saranraj dan Sivasakthi (2014) Spirulina sp ini biasanya hidup dalam habitat alkali dengan suhu hangat atau kolam yang dangkal di wilayah tropis. Berdasarkan Soundarandian dan Vasanthi (2008) dalam Diaa A.M. et al. (2013) pH 10 adalah batas maksimal untuk pertumbuhan dari S.platensis. Menurut Ray dan Sengupta (2007) dan Belay (2002) dalam Sudha dan Kavimani (2011) Spirulina sp memiliki kandungan protein 50-70% dan beta-karoten, vitamin B12 dan vitamin E. Selain itu ada juga kandungan karbohidrat seperti fruktosa, ribosa, manosa dan rhamnosa. Spirulina sp ini juga dikatakan mengandung 7% fikosianin dari berat kering dan juga polisakarida yang memiliki sifat antioksidan yang dapat mengkelat ion bebas atau logam. Jumlah fikosianin di dalam Spirulina platensis ini dipengaruhi dari kadar nitrogen di dalamnya. Semakin rendah konsentrasi nitrogen maka kadar fikosianin akan semakin menurun juga (Diaa A.M. et al., 2013). Oleh karena kandungan nutrisinya yang tinggi, tidak toksik dan memiliki peran dalam mencegah anemia, pertumbuhan tumor dan malnutrisi maka Spirulina dianggap sebagai makanan yang sangat baik (Saranraj dan Sivasakthi, 2014).

Richmond (1988) menambahkan bahwa di dalam spesies ini terkandung pigmen klorofil sebesar 1,7%; karotenoid dan xantofil sebesar 0,5%; dan fikobilliprotein sebesar 20% dari berat sel. Fikobilliprotein ini biasanya terdapat dalam struktur granula fikobillisom yang berguna untuk menyerap cahaya dan untuk melindungi pigmen fotosintesis terhadap cahaya yang dapat mengoksidasi. Saranraj dan Sivasakthi (2014) serta Sarada et al. (1998) menambahkan bahwa penyusun fikobilliprotein adalah allophcocyanin, phycoerythrin dan yang paling banyak adalah phycocyanin. Perbedaannya adalah pada gugus proestetik tertrapirol linear yang berbeda pada ikatan rangkapnya. Oleh karena itu digunakan Spirulina platensis sebagai penghasil pigmen fikosianin penghasil warna biru alami. Pigmen tersebut memiliki karakteristik larut dalam air (pelarut polar) (Spolaore et al., 2006; Saranraj dan Sivasakthi, 2014). Ketika Spirulina sp yang digunakan berbentuk koloni besar, maka warna yang dihasilkan adalah biru kehijauan (agak gelap) yang disebabkan karena kandungan klorofil yang besar.

Colla (2005) menambahkan bahwa Spirulina platensis dapat membentuk populasi yang besar di dalam air, di mana ia mengandung banyak karbonat dan pH nya berkisar di angka 11 (basa). Mikroalga ini selain mengandung pigmen yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami, juga mengandung nutrisi lain seperti provitamin, mineral, protein, lemak tidak jenuh hingga asam amino esensial berupa gamma-linoleat (Hanaa et al., 2004).

Menurut Carra & heocha (1976) fikosianin yang dapat ditemukan pada Spirulina platensis ini memiliki sifat tidak tahan panas karena dapat mengalami kerusahakan ketika terekspos suhu tinggi. Larutan fikosianin mampu mengalami degradasi warna hingga mencapai 30% setelah disimpan selama 5 hari. Selanjutnya jika diteruskan hingga penyimpanan hari ke-15 pada suhu ruang, maka warna larutan menjadi bening. Berikut adalah gambar struktur fikosianin:

Gambar 1. Struktur fikosianin

Berdasarkan pendapat Romay et al. (1998) bahwa fikosianin terdiri dari struktur tertrapirol terbuka yang mampu mengikat atau mengangkap radikal oksigen. Fikosianin ini mampu menangkap radiasi sinar matahari yang mana tergolong paling efisien jika dibanidngkan dengan klorofil dan karotenoid. Estrada et al. (2001) dan Eriksen (2008) menambahkan bahwa fikosianin memiliki kelebihan sebagai pewarna biru yaitu sifatnya yang tahan terhadap oksidasi sehingga aman untuk manusia dan dapat menetralisir radikal bebas. Warna biru dari fikosianin ini berasal dari adanya ikatan kovalen pada rantai kromofors tetrapirol terbuka dengan cincin fikobillin sehingga memiliki kemampuan dalam mengikat radikal oksigen (Saranraj dan Sivasakthi, 2014). Selain itu menurut Prasanna et al. (2007) dan Saranraj dan Sivasakthi (2014) fikosianin memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat dibandingkan dengan alpha-tocoferol atau zeaxanthin sehingga mampu menekan terjadinya kanker pada manusia. Kelebihan lainnya terkait dengan aktivitas antioksidan adalah tidak hilangnya kemampuan tersebut meskipun Spirulina sp dikeringkan. Thompson (2011) menambahkan bahwa aktivitas antioksidan tersebut didasarkan pada adanya ikatan pada rantai tetrapirol terbuka yang memiliki struktur mirip dengan bilirubin dimana struktur terbuka tersebut memungkinkan adanya pengikatan terhadap senyawa radikal bebas.

Ditinjau dari kestabilannya terhadap cahaya dan panas, fikosianin merupakan pigmen yang tidak tahan panas dan cahaya, serta asam. Fikosianin mengalami pemudaran warna (degradasi warna) pada suhu lebih dari 45C atau pada pH di bawah 4. Fikosianin cenderung stabil pada kisaran pH 4-9. Namun disamping kelemahannya terhadap cahaya dan panas serta asam, fikosianin merupakan pigmen penghasil warna biru yang paling cerah dan cemerlang (Yan et al., 2011).

Menurut Thompson (2011) untuk memperpanjang umur simpan dari fikosianin sehingga warnanya tetap terjaga adalah dengan penambahan dekstrin ke dalam larutan Spriulina. Desktrin adalah polisakarida yang dihasilkan dari hidrolisa pati, yang produksinya ditentukan oleh enzim tertentu dan berwarna putih hingga kuning. Dekstrin dapat juga dihidrolisis oleh larutan asam. Dekstrin bersifat larut dalam air, mudah terdispersi, dan cair. Cara kerja dekstrin dalam menghambat penurunan intensitas warna dari fikosianin adalah dengan melindungi atau memerangkap pigmen fikosianin. Fennema (1985) menambahkan bahwa dekstrin sangat larut dalam pelarut polar, seperti air namun sukar larut dalam pelarut non-polar seperti alkohol. Hal tersebut terjadi karena unit penyusun dekstrin adalah glukosa yang bersifat hidrofilik. Suparti (2000) menambahkan bahwa dekstrin cenderung stabil pada suhu tinggi dan mampu melindungi komponen volatil dari penguapan akibat pemanasan, dan kestabilannya itu lebih tinggi daripada pati. Hal tersebut dibuktikan dari jarang terjadinya pengendapan dekstrin ketika dilarutkan di dalam air. Berdasarkan paparan di atas maka dekstrin dapat digunakan sebagai penstabil dalam bahan pangan, terkhusus dalam praktikum ini adalah pigmen fikosianin. Ketika di dalam larutan fikosianin ditambahkan dekstrin maka fikosianin akan terenkapsulasi atau terperangkap sehingga pigmen terlindungi. Dekstrin juga mampu meningkatkan presentase berat produk bubuk.

3.2. Ekstraksi Fikosianin Isolasi fikosianin ini diawali dengan pelarutan biomassa Spirulina platensis dalam aquades dengan perbandingan 1:10. Penggunaan Spirulina platensis ini menurut Belay (2008) dan Mani et al. (2008) dalam Diaa A.M. et al. (2013) dikarenakan mudah dikultur, dipanen dan dikeringkan. Menurut Syah et al. (2005) aquades digunakan sebagai pelarut polar yang dapat melarutkan fikosianin yang ada di dalam Spirulina sp. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa fikosianin merupakan pigmen yang larut dalam pelarut polar seperti air atau aquades. Jumlah fikosianin dalam biomassa tersebut ditentukan oleh jumlah suplai nitrogen yang ada di dalam Spirulina sp yang digunakan. Kemudian dilakukan pengadukan mengunakan stirrer selama 2 jam. Menurut Silveira et al. (2007) pengadukkan berfungsi untuk menghomogenkan larutan Spirulina sp dengan aquades dan memberikan peningkatan kontak antara aquades dengan fikosianin sehingga ekstraksi berlangsung optimal. Setelah itu disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 5000 rpm hingga didapatkan endapan dan supernatan atau cairan berisi fikosianin. Silveira et al. (2007) menambahkan bahwa sentrifugasi dilakukan supaya larutan Spirulina sp dan fikosianin dapat dipisahkan, dimana fikosianin sendiri terdapat pada bagian cairannya.

Cairan diambil dan diencerkan hingga pengenceran 10-2. Pengenceran ini bertujuan agar larutan tidak terlalu pekat sehingga absorbansi tidak akurat. Supernatan yang sudah diencerkan diukur absorbansinya (kadar fikosianin) menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm. Menurut Prabuthas et al. (2011) pengukuran tingkat kemurnian dari fikosianin dievaluasi berdasarkan rasio absorbansi. Lorenz dalam Saranraj dan Sivasakthi (2014) menambahkan bahwa selama proses spektrofotometer, energi cahaya akan tertangkap dan ditransfer menuju klorofil a oleh bantuan c-phycocyanin. Sarada et al. (1998) menambahkan bahwa memang untuk mengetahu konsentrasi fikosianin dilakukan pengukuran absorbansi pada panjang gelombang 615 nm dan 652 nm.

Selanjutya supernatan tadi ditambahkan dengan dekstrin dengan perbandingan supernatan:dekstrin 8:9 (kelompok E1, E2, E3) dan perbandingan 1:1 (kelompok E4 dan E5). Menurut Thompson (2011) dekstrin berperan dalam mencegah kerusakan pigmen akibat panas, memperbesar volume produk bubuk dan mempercepat pengeringan, dan juga meningkatkan total padatan. Kerusakan pigmen dapat dihambat oleh penambahan dekstrin karena ketika di dalam larutan fikosianin ditambahkan dekstrin maka fikosianin akan terenkapsulasi atau terperangkap sehingga pigmen terlindungi dari proses pengeringan. Dekstrin dapat membawa bahan pangan aktif seperti flavor dan pewarna karena sifatnya yang sangat mudah larut dalam air. Peningkatan berat bubuk dengan adanya dekstrin disebabkan karena dekstrin bersifat sebagai filler atau bahan pengisi. Setelah tercampur rata, lalu dituangkan ke wadah untuk alas dalam proses pengeringan. Kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 45C. Menurut Chandra (2011) pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air di dalam produk sehingga diperoleh produk yang kering. Penggunaan suhu di bawah 60C menurut Desmorieux dan Dacaen (2006) disebabkan karena pada suhu di atas 60C fikosianin dapat terdegradasi dan memunculkan reaksi Maillard. Selain itu menurut Metting dan Pyne (1986) pengeringan dengan oven sudah tepat dibandingkan dengan menggunakan matahari langsung. Hal ini dikarenakan ketika dikeringkan secara langsung dengan matahari maka akan terbentuk aroma yang tidak enak dan menimbulkan kontaminasi bakteri. Adonan kering yang terbentuk dihancurkan dan dihaluskan hingga terbentuk bubuk pewarna. Pada dasarnya menurut Suhartono (2000) fikosianin berupa bubuk atau serbuk memiliki umur simpan yang lebiht inggi daripada wujudnya yang cair. Sehingga dapat dimanfaatkan lagi untuk digunakan sebagai pewarna. Menurut Saranraj dan Sivasakthi (2014) kondisi optimal untuk mengekstraksi Spirulina platensis adalah pada suhu 25C. Konsentrasi fikosianin yang dihasilkan dapat dihitung dengan rumus:Konsentrasi fikosianin (KF) =

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, didapatkan nilai OD (optical density) yang berbeda. Hal ini disebabkan karena menurut Fox (1991) nilai OD ditentukan oleh kejernihan dan konsentrasi dari larutan yang diuji. Ketika larutan uji semakin pekat dan tinggi konsentrasinya maka nilai OD akan semakin tinggi. Namun ketika dicermati dapat dilihat bahwa nilai OD antar kelompok tidak jauh berbeda satu sama lain. Sedangkan jika ditinjau dari nilai konsentrasi fikosianin didapatkan kisaran 0,886 mg/ml hingga 1,070 mg/ml. Kemudian setelah dikeringan dan ditumbuk dihasilkan serbuk fikosianin (yield) dengan kisaran 6,202 mg/g hingga 7,493 mg/g. Berdasarkan paparan tersebut diketahui bahwa konsentrasi fikosianin berbanding lurus dengan yield yang dihasilkan, di mana semakin tinggi konsentrasi fikosianin yang didapatkan maka yield yang dihasilkan akan semakin tinggi. Menurut Abalde et al. (1998) dan Reis et al. (1998) dalam Prabuthas et al. (2011) yield fikosianin yang dihasilkan ditentukan oleh metode penggangguan selular (disrupsi sel), tipe dari larutan yang digunakan dan lamanya proses ekstraksi. Prabuthas et al. (2011) menyatakan bahwa pelarut yang baik untuk proses ekstraksi fikosianin adalah kalsium klorida dengan bantuan ultrasound.

Selain itu dilakukan pengamatan terhadap warna sebelum dioven dan setelah dioven. Secara keseluruhan warna yang dihasilkan adalah warna biru. Hal ini sudah sesuai dengan teori Romay et al. (2003) bahwa fikosianin yang ada di dalam Spriulina sp memiliki warna biru. Dapat diamati bahwa setelah dioven, warna yang dihasilkan cenderung lebih muda daripada sebelum dioven. Hal ini menurut Angka dan Suhartono (2000) adanya penambahan dekstrin yang terlalu tinggi akan menghasilkan bubuk fikosianin yang semakin muda atau pucat. Namun dijumpai juga ada beberapa kelompok yang setelah pengovenan tidak terjadi perubahan warna. Hal ini menurut Thompson (2011) dikarenakan adanya dekstrin dengan konsentrasi yang tinggi mampu melindungi fikosianin dengan cara membungkus atau mengenkapsulasi fikosianin sehingga pemudaran warna dapat dihambat. Perbedaan dari hasil yang diperoleh antar kelompok disebabkan karena menurut Day & Underwood (1992) ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses penelitian ini, yaitu kotornya kuvet sehingga akan berpengaruh terhadap OD yang dihasilkan, dan juga adanya kesalahan pada tahap awal penimbangan.

12

Kesimpulan

Spirulina sp merupakan mikroalga yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami karena di dalamnya terkandung pigmen fikosianin berwarna biru. Fikosianin memiliki karakteristik larut dalam air, mudah rusak karena cahaya, pH dan suhu tinggi. Karena karakteristiknya yang larut dalam air maka ekstraksi dilakukan dengan menggunakan aquades. Perlakuan stirrer dilakukan untuk menghomogenkan larutan dan meningkatkan optimalisasi dalam pengekstrakkan fikosianin. Dekstrin ditambahkan untuk mencegah kerusakan fikosianin akibat suhu tinggi saat pengovenan karena fikosianin terenkapsulasi oleh dekstrin. Sentrifugasi dilakukan untuk mendapatkan fikosianin. Proses penurunan kadar air berguna supaya fikosianin berada dalam bentuk bubuk yang mana umur simpannya menjadi lebih lama. Konsentrasi fikosianin berbanding lurus dengan yield yang dihasilkan. Adanya penambahan dekstrin yang melindungi fikosianin terbukti dari tidak adanya perubahan yang terlalu jauh dari warna sebelum dan sesudah pengovenan.

Semarang, 30 Oktober 2014Liem, Pamela Lukito13.70.0014Asisten Dosen:Deanna SuntoroFerdyanto Juwono

13

Daftar Pustaka

Angka,S.I.dan Suhartono MT.(2000). Bioteknologi Hasil-hasil Laut. Bogor : PKSPL-IPB.

Astawan M, Kasih AL. (2008). Khasiat Warna-Warni Makanan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 161-184.

Chandra, Budi Atrika. (2011). Karakteristik Pigmen Fikosianin dari Spirulina fusiformis yang Dikeringkan dan Diamobilisasi [skripsi]. Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.

Colla, L. M . (2005). Production of Biomass and Nutraceutical Compounds by Spirulina platensis under Different Temperature and Nitrogen Regimes. Journal of Bioresource Technology. Elsevier. Brazil.

Day, R.A. & A.L. Underwood. (1992). Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.

Desmorieux H. Decaen N. (2006). Convective drying of Spirulina in thin layer. Journal Of Food Engineering, 77:64-70.

Diaa A.M., Mohamed M.N., Yousef Y.S., Zakaria Y.D., Aziz M.H. (2013). Impact of Culturing Media on Biomass Production and Pigments Content of Spirulina platensis. International Journal of Advanced Research. Volume 1 Issue 10: 951-961.

Eriksen, N.T. (2008). Production of phycocyanin-a pigment with application in biology, biotecnology, food and medicine (abstract). J. Appl. Microbiol. Biotechnol. 80 (1): 1-14.

Estrada, J,E.P., P.B. Bescos, & A.M. V. Fresno. (2001). Anti oxidant activity of different fractions of Spirulina platensis protean extract. Il Farmaco 56: 497- 500.

Fennema, D. R. (1985). Food Chemistry, Third Edition. Marcel Dekker Inc. New York.

Fox, P. F. (1991). Food Enzymologi Vol 1. Elsevier Applied Sciences. London.

Hanaa H. Abd El-Baky, Farouk K. El Baz And Gamal S. El-Baroty. (2004). Production of Antioxidant by the Green Alga Dunaliella salina. International Journal of Agriculture and Biology.

14

Metting, B. and Pyne, J.W. (1986). Biologically Active Compounds from Microalgal.

Carra P, hEocha C. (1976). Algal Biliproteins and Phycobilins. Goodwin TW, editor. Chemistry and Biochemistry of Plant Pigments. Academic press inc. London.

Prabuthas, P., Majumdar S., Srivastav P.P., & Mishra H.N. (2011). Standarization of rapid and economical method for nutraceuticals extraction from algae. J. Stored Products and Post Harvest Res. 2(25): 93-96.

Saranraj dan Sivasakthi. (2014). Spirulina platensis Food For Future: A Review. Asian Journal of Pharmaceutical Science and Technology. Volume 4 Issue 1: 26-33.

Sudha M., Kavimani S. (2011). The Protective Role of Spirulina on Doxorubicin Induced Genotoxicity in Germ Cells of Rats. International Journal of Pharma and Bio Sciences. Vol 2 Issue 3 ISSN 0975-6299. Zahroojian N., Moravej H., Shivazad M. (2013). Effects of Dietary Marine Algae (Spirulina platensis) on Egg Quality and Production Performance of Laying Hens. Journal of Agricultural Science Technology. Volume 15: 1353-1360.Prasanna, R., A. Sood, A. Suresh, S. Nayak, & B.D. Kaushik. (2007). Potential and aplications of algal pigment in biology. .Acta Botan. Hungaria 49 (1- 2): 131-156.

Richmond A. (1988). Spirulina. Di dalam Borowitzka MA dan Borowitzka LJ, editor. Micro-algal biotechnology. Cambridge University Press. Cambridge.

Romay C, Gonzlez R, Ledn N, Remirez D, Rimbau V.(2003). C-phycocyanin: a biliprotein with antioxidant, anti-inflammatory and neuroprotective effects. Current Protein and Peptide Science 4:207-216.

Romay C, Armesto J, Remirez D, Gonzlez R, Ledn N, Garca I. (1998). Antioxidant and anti-inflammatory properties of c-phycocyanin from blue-green algae.Inflammation Research 47:36-41.

Sarada, R, Manoj G. Pillai, G. A. Ravishankar. (1998).Phycocyanin from Spirulina sp: influence of processing of biomass on phycocyanin yield, analysis of efficacy of extraction methods and stability studies on phycocyanin. Process Biochemistry 34: 795 801.

Silveira, S. T.; Burkert, J. F. M.; Costa, J. A. V.; Burkert, C. A.V.; Kalil, S. J.;(2007). Bioresour. Technol. 2007, 98, 1629.Spolaroe P, Joanis CC, Duran E, Isambert A. (2006). Comercial Application of Microalgae Review.J Biosci and Bioeng. 101 (2): 87-96.

Suhartono TS. (2000). Bioteknologi Hasil Laut. Bogor: Pusat. Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor.

Suparti, W. (2000). Pembuatan Pewarna Bubuk dari Ekstrak Angkak: Pengaruh Suhu, Tekanan dan Konsentrasi Dekstrin. Tesis. Program Pascasarjana. Universitas Brawijaaya. Malang.

Sutomo. (2005). Kultur Tiga Jenis Mikroalga (Tetraselmis sp., Chlorella sp.dan Chaetoceros gracilis) dan Pengaruh Kepadatan Awal Terhadap Pertumbuhan C. Gracilis di Laboratorium. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia; 37:43-58. Pusat Penelitian Oseanografi.

Syah, Dahrul; S. Utama & Z. Mahrus. (2005). Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.

Thompson, Caroline. (2011). What Is Wheat Dextrin? http://www.livestrong.com/article/499266-what-is-wheat-dextrin/ Diakses pada 29 Oktober 2015 pukul 21.37 WIB.

Tietze HW. (2004). Spirulina Micro Food Macro Blessing. Ed ke-4. Australia: Haralz W Tietze Publishing.

Yan, S., Zhu LP, Su HN, Zhang XY, Chen XL, Zhou BC, Zhang YZ. (2011). Single-step chromatography for simultaneous purification of C-phycocyanin and allophycocyanin with high purity and recovery from Spirulina (Arthrospira) platensis. J. Appl. Phycol. 23: 1-6.

16

Lampiran

6.1. PerhitunganKonsentrasi Fikosianin (mg/ml)=

Yield (mg/g)=

E1Konsentrasi Fikosianin ==

Yield

E2Konsentrasi Fikosianin ==

Yield

E3Konsentrasi Fikosianin ==

Yield

E4

17

Konsentrasi Fikosianin ==

Yield

E5Konsentrasi Fikosianin ==

Yield

6.2. Laporan Sementara6.3. Diagram Alir6.4. Abstrak Jurnal

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended