Home >Documents >FIKOSIANIN_ARYA_13.70.0049_A1_UNIKA SOEGIJAPRANATA

FIKOSIANIN_ARYA_13.70.0049_A1_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Date post:09-Jan-2016
Category:
View:214 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
FIKOSIANIN ARYA MIAW MIAW
Transcript:

Acara IV

FIKOSIANIN:PEWARNA ALAMI DARI BLUE GREEN MICROALGA SPIRULINALAPORAN RESMI PRAKTIKUM

TEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh :

Nama : Anselmus Anggi Aryacahyaka

NIM : 13.70.0049

Kelompok A1

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

2015

1. MATERI DAN METODE1.1. Alat dan BahanAlat yang digunakan pada praktikum ini adalah sentrifuge, pengaduk/stirrer, alat pengering (oven), plate stirrer. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah biomassa Spirulina basah atau kering, aquades serta dekstrin.1.2. Metode

2. HASIL PENGAMATANHasil pengamatan mengenai Pengukuran OD, Konsentrasi Fikosianin, Yield, serta Warna dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Pengukuran OD, Konsentrasi Fikosianin, Yield, dan serta Warna Fikosianin

KelBerat

BioMassa Kering(g)Jumlah Aquades

(ml)Total Filtrat

(ml)OD 615OD 652KF

(mg/ml)Yield

(mg/ml)Warna

Sebelum diovenSesudah dioven

A1880580,05440,02250,8195,938++++

A2880580,05690,02230,8686,293++++

A3880580,05680,02270,8626,250++++

A4880580,05690,02260,8656,271+++

A5880580,05740,02260,8746,337++++

Keterangan Warna

+Biru Muda

++ Biru

+++Biru Tua

Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 1, diperoleh bahwa setiap kelompok memiliki biomassa kering 8 gram, jumlah aquades sebanyak 80 ml dan total filtrat sebanyak 58 ml. Pada kelompok A1 menghasilkan data pengukuran OD (Optical Density) dengan panjang gelombang 615 sebesar 0,0544 dan pada panjang gelombang 652 nm sebesar 0,0225 sedangkan nilai KF sebesar 0,819 mg/ml dan yield sebesar 5,938 mg/ml. Pada kelompok A2 menghasilkan data pengukuran OD dengan panjang gelombang 615 sebesar 0,0569 dan pada panjang gelombang 652 nm sebesar 0,0223 sedangkan nilai KF sebesar 0,868 mg/ml dan yield sebesar 6,293 mg/ml. Pada kelompok A3 menghasilkan data pengukuran OD dengan panjang gelombang 615 sebesar 0,0568 dan pada panjang gelombang 652 nm sebesar 0,0227 sedangkan nilai KF sebesar 0,862 mg/ml dan yield sebesar 6,250 mg/ml. Pada kelompok A4 menghasilkan data pengukuran OD dengan panjang gelombang 615 sebesar 0,0569 dan pada panjang gelombang 652 nm sebesar 0,0226 sedangkan nilai KF sebesar 0,865 mg/ml dan yield sebesar 6,271 mg/ml. Pada kelompok A5 menghasilkan data pengukuran OD dengan panjang gelombang 615 sebesar 0,0574 dan pada panjang gelombang 652 nm sebesar 0,0226 sedangkan nilai KF sebesar 0,874 mg/ml dan yield sebesar 6,337 mg/ml. Dapat disimpulkan bahwa nilai

OD615 tertinggi pada kelompok A5 sebesar 0,0574 dan nilai terendah pada kelompok A1 sebesar 0,0544 sedangkan nilai OD652 tertinggi pada kelompok A3 sebesar 0,0227 dan nilai terendah pada kelompok A2 sebesar 0,0223. Untuk nilai KF dan yield tertinggi terdapat pada kelompok A5 dengan nilai sebesar 0,874 mg/ml dan 6,337 mg/ml sedangkan nilai terendah terdapat pada kelompok A1 dengan nilai sebesar 0,819 mg/ml dan 5,938 mg/ml. Untuk warna fikosianin dilakukan dengan uji sensori dan diperoleh hasil sebagian besar kelompok tidak mengalami perubahan kecuali kelompok A4 yang terjadi perubahan dari warna biru menjadi lebih muda. 3. PEMBAHASANSpirulina merupakan kelompok alga hijau-biru yang tergolong organisme multiseluler. Menurut Seo, Y.C., et al. (2013), menambahkan bahwa mikroalga tersebut dapat ditemukan di laut dan perairan air tawar. Ciri-ciri dari Spirulina yaitu tubuhnya berfilamen yang berbentuk silinder terdapat warna hijau-biru serta tidak memiliki cabang. Menurut Belay (1996), Spirulina mengandung banyak protein sekitar 60-70% dari beratnya, selain itu mengandung vitamin terutama vitamin B12, provitamin A (-karoten), dan mineral terutama zat besi. Spirulina menghasilkan fikosianin yang didapatkan melalui sistem pemanenan. Tetapi menurut Saleh et al., (2011), Spirulina dapat hidup pada suasana basa dengan rentang pH 8 sampai 11. Selain itu, Spirulina dapat menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesisnya serta dapat menghasilkan 60 sampai 70 ton/ hektar kolam biomassa kering bila tumbuh pada lingkungan yang sesuai (Sutomo, 2005). Spirulina plantensis memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat. Spirulina plantensis temasuk jenis cyanobacterium yang mengandung fenolat, gula (12%-25%), protein (55%-75%), asam amino (18%), lemak tidak jenuh, serta provitamin (Bertolin et al., 2009).Menurut Mohammad (2007), ada dua macam pewarna makanan yaitu pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami tidak memiliki efek samping bila dikonsumsi, serta dapat diuraikan. Namun, pewarna alami tersebut memiliki beberapa kelemahan antara lain kurangnya stabilitas terhadap panas, pH, serta cahaya, terbatasnya ketersediaan pigmen dan lebih mahal sehingga kurang cocok untuk produksi massal. Untuk mengatasi masalah ketersediaan yang terbatas dapat digunakan pigmen dari mikroalga sebab memiliki waktu tumbuh yang cepat sehingga dapat dipanen dalam waktu secara singkat, serta produksinya dapat dikendalikan sesuai kebutuhan dan keinginan. Spirulina merupakan salah satu mikroalga penghasil fikosianin yang relatif cepat bereproduksi dan mudah dalam sistem pemanenannya. Dalam bidang kesehatan mikroalga memiliki peran sebagai antikanker, anti hyperkolesterol, dan mampu meningkatkan daya tahan tubuh (Arylza, 2003). Fikosianin merupakan pigmen yang berasal dari Spirulina yang berpotensi digunakan sebagai pewarna untuk produk

pangan. Menurut Abuzer & Mehmet (2008), pigmen fikosianin berasal dari mikroalga Spirulina. Pigmen fikosianin ini menghasilkan warna biru serta mudah larut dalam air. Spolaore et al. (2006), menambahkan bahwa pigmen fikosiannin dapat digunakan sebagai pewarna alami. Fikosianin merupakan pigmen yang paling dominan pada Spirulina. Keberadaan fikosianin digunakan Spirulina sebagai komponen penyimpan nitrogen (Richmond, 1988). Fikosianin memiliki kemampuan sebagai antioksidan karena di dalam struktur fikosianin terdapat rantai tertraphyrroles terbuka sehingga dapat menangkap radikal oksigen (El Baky et al., 2003). Selain itu, fikosianin termasuk golongan biliprotein. Fikosianin sebagai biliprotein dapat digunakan pada bidang kesehatan sebagai antioksidan serta anti kanker (Antelo, F.S., et al., 2010).Pada praktikum ini dilakukan pembuatan pewarna bubuk serta mengisolasi pigmen fikosianin. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah biomassa Spirulina. Pertama sebanyak 8 gram biomassa dimasukkan kedalam erlenmeyer kemudian dilarutkan dengan aqua destilata dengan perbandingan 10:1. Menurut Syah et al. (2005), bahwa pigmen fikosianin yang dihasilkan Spirulina akan larut pada pelarut polar seperti air. Sedangkan menurut Sharma, G., et al. (2014), penambahan aquades sebagai pelarut polar untuk mengekstraksi pigmen fikosianin pada biomasa Spirulina karena fikosianin larut air. Setelah itu, dilakukan pengadukan menggunakan stirrer selama 2 jam. Pengadukan dilakukan bertujuan untuk menghomogenkan Spirulina dengan aquades sehingga proses ekstraksi fikosianin dapat maksimal (Becker, 1994). Kemudian larutan tersebut disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 10 menit sampai didapatkan endapan dan supernatan. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Sivasankari, S., et al. (2014), bahwa metode yang digunakan untuk mengekstrak fikosianin adalah dengan cara sentrifugasi 5000 rpm. Menurut Silveira et al., (2007), tujuan dari dilakukannya sentifugasi untuk mengendapkan debris sel dan mengambil pigmen fikosianin yang larut dalam pelarut polar atau air. Lalu supernatan diencerkan hingga pengenceran 10-2. Kemudian supernatan yang telah diencerkan, diukur kadar fikosisaninnya menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm. Menurut Achmadi et al. (1992), tujuan dari pengukuran abosrbansi adalah untuk mengetahui kelarutan fikosianin pada larutan. Sedangkan Antelo et al. (2010), menambahkan bahwa supernatan hasil dari ekstraksi fikosianin dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 615 nm dan 652 nm. Pengenceran dilakukan agar larutan tidak terlalu pekat sehingga memudahkan dalam pengukuran absorbansi. Setelah itu, ditambahkan dekstrin dengan perbandingan 1:1. Setelah tercampur rata, lalu dituangkan kedalam wadah yang dapat digunakan sebagai alas untuk proses pengeringan. Menurut Murtala (1999), penambahan dekstrin bertujuan untuk mempercepat pengeringan serta mencegah kerusakan karena pemanasan, melapisi komponen flavour, meningkatkan total padatan, dan memperbesar volume. Dekstrin merupakan polisakarida hasil dari hidrolisis pati yang diatur oleh enzim-enzim tertentu atau hidrolisis oleh asam, biasanya berwarna putih sampai kuning (Reynold, 1982). Ciriciri dari dekstrin yaitu cepat terdispersi, lebih stabil, larut dalam air, serta tidak kental (Rogers, 1986). Dekstrin tersusun atas unit glukosa yang dapat mengikat air sehingga oksigen yang larut dapat dikurangi, akibatnya proses oksidasi dapat dicegah (Fennema, 1976). Dekstrin bersifat mudah larut dalam air, lebih cepat terdispersi, tidak kental serta lebih stabil dibandingkan pati. Penambahan dekstrin ke dalam produk dapat mengurangi kerusakan pigmen akibat oksidasi (Reynold, 1982). Menurut Arief (1987), dekstrin mempunyai kemampuan menjaga stabilitas flavor selama pemanasan karena struktur molekul dekstrin berbentuk spiral, sehingga molekul-molekul flavor akan terperangkap di dalam struktur tersebut.Kemudian dioven dengan suhu 50oC hingga kadar air yang dihasilkan 7%. Setelah dikeringkan maka akan terbentuk seperti adonan kering yang gempal sehingga perlu dihancurkan menggunakan penumbuk sampai berbentuk powder. Menurut Chandra, (2011), proses pengeringan bertujuan untuk mencegah kerusakan pada fikosianin dari bakteri dengan menghilangkan air bebas yang terkandung. Henrikson (1989), menambahkan bahwa pengeringan dilakukan dibawah suhu 60oC, karena apabila suhu yang digunakan terlalu tinggi maka akan menyebabkan reaksi maillard dan terdegradasinya fikosianin. Penambahan dekstrin juga berfungsi untuk melindungi stabilitas flavor selama pengeringan dengan menggunakan spray dryer (Suparti, 2000).Berdasarkan hasil pengamatan diatas diperoleh bahwa nilai OD615 tertinggi pada kelompok A5 sebesar 0,0574 dan nilai terendah pada kelompok A1 sebesar 0,0544 sedangkan nilai OD652 tertinggi pada kelompok A3 sebesar 0,0227 dan nilai terendah pada kelompok A2 sebesar 0,0223. Untuk nilai KF dan yield tertinggi terdapat pada kelompok A5 dengan nilai sebesar 0,874 mg/ml dan 6,337 mg/ml sedangkan nilai terendah terdapat pada kelompok A1 dengan nilai sebesar 0,819 mg/ml dan 5,938 mg/ml. Hasil diatas sesuai dengan teori dari Fox (1991), bahwa metode absorbansi dipengaruhi oleh konsentrasi dan kejernihan larutan sehingga semakin pekat dan keruh suatu larutan maka nilai absorbansinya semakin tinggi. Jadi semakin tinggi nilai OD maka konsentrasi fikosianin dan yield akan semakin tinggi karena konsentrasi fikosianin serta yield memilki hubungan yang berbanding lurus dengan nilai OD. Berdasarkan hasil pengamatan warna fikosianin sebelum dan sesudah dioven diperoleh bahwa sebagian kelompok tidak mengalami perubahan kecuali kelompok A4 yang terjadi perubahan warna dari biru menjadi biru muda. Perubahan warna yang terjadi karena terdegradasinya konsentrasi fikosianin dengan suhu optimal 35-38oC sedangkan suhu yang digunakan pada proses pengeringan 50oC. Menurut Mishra et al., (2008), fikosianin akan mengalami pemudaran warna setelah penyimpanan 5 hari sebesar 30% dan menjadi bening kembali setelah 15 hari pada suhu 35oC. Menurut Martelli, G., et al. (2014), bahwa penggunaan suhu tinggi dapat memudarkan warna biru dari fikosianin hingga 90%. Penambahan dekstrin juga mempengaruhi warna fikosianin yang dihasilkan. Semakin tinggi konsentrasi dekstrin yang ditambahkan maka akan membuat bubuk fikosianin menjadi pudar / cerah. Hal tersebut dikarenakan dekstrin berwarna putih sehingga penambahan dekstrin membuat bubuk fikosianin memudar (Wiyono, 2007). 4. KESIMPULAN Pigmen fikosianin larut pada pelarut polar seperti air. Pengadukan dilakukan bertujua untuk menghomogenkan Spirulina dengan aquades. Tujuan sentifugasi untuk mengendapkan debris sel dan mengambil pigmen fikosianin yang larut dalam pelarut polar atau air. Pengukuran abosrbansi bertujuan untuk mengetahui kelarutan fikosianin pada larutan. Pengenceran dilakukan agar larutan tidak terlalu pekat sehingga memudahkan dalam pengukuran absorbansi. Supernatan hasil dari ekstraksi fikosianin diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 615 nm dan 652 nm.

Penambahan dekstrin bertujuan untuk mempercepat pengeringan serta mencegah kerusakan karena pemanasan, melapisi komponen flavour, meningkatkan total padatan, dan memperbesar volume. Proses pengeringan bertujuan untuk mencegah kerusakan pada fikosianin dari bakteri dengan menghilangkan air bebas yang terkandung. Suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan reaksi maillard dan terdegradasinya fikosianin. Penambahan dekstrin berfungsi untuk melindungi stabilitas flavor selama pengeringan dengan menggunakan spray dryer. Metode absorbansi dipengaruhi oleh konsentrasi dan kejernihan larutan.

Semakin tinggi nilai OD maka konsentrasi fikosianin dan yield akan semakin tinggi. Konsentrasi fikosianin serta yield memilki hubungan yang berbanding lurus dengan nilai OD. Perubahan warna yang terjadi karena terdegradasinya konsentrasi fikosianin dengan suhu optimal 35-38oC. Fikosianin akan mengalami pemudaran warna setelah penyimpanan 5 hari sebesar 30% dan menjadi bening kembali setelah 15 hari pada suhu 35oC. Semakin tinggi konsentrasi dekstrin yang ditambahkan maka akan membuat bubuk fikosianin menjadi pudar / cerah. Semarang, 25 September 2015

Praktikan,

Asisten Dosen

Deanna Suntoro

Ferdyanto Juwono

Anselmus Anggi Aryacahyaka

13.70.00495. DAFTAR PUSTAKAAbuzer, C. & Mehmet Y. (2008). Predictive Modeling of Biomass Production by Spirulina platensis as Function of Nitrate And NaCl Concentrations. Bioresource Technology 100 (2009) 18471851. doi:10.1016/J.biortech.2008.09.042. 2008 Elsevier Ltd.Achmadi SS, Jayadi, Tri-Panji. (2002). Produksi pigmen oleh Spirulina platensis yang ditumbuhkan pada media limbah lateks pekat. Hayati. 9(3):80-84.Antelo, F. S., Andreia A., Jorge A. V. C. and Susanna J. K. (2010). Extraction and Purification of C-phycocyanin from Spirulina platensis in Conventional and Integrated Aqueous Two-Phase Systems. Journal Brazil Chem. Soc. Vol.21, No.5, 921-926.Brazil.Arief, M. (1987). Ilmu Meracik Obat Berdasar Teori Dan Praktek. Universitas Gajahmada Press. Yogyakarta.

Arylza, IS. (2003). Isolasi pigmen bru fikosianin dari mikroalga Spirulina plantesis. Journal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 38:79-92.Becker, E.W. (1994). Microalgae: Biotechnology and Microbiology. Cambridge University press. Cambridge.

Belay A, Kato T, Ota Y. Spirulina (Arthrospira): potential application as an animal feed supplement. J Appl Phycol. (1996). 8:303-311.

Bertolin, T. E., Dayane P., Ana C. V., Caren S. B., Luciane M. C., & Jorge A. V. (2009). Effect Of Microalga Spirulina platensis (Arthrospira platensis) on Hippocampus Lipoperoxidation and Lipid Profile in Rats with Induced Hypercholesterolemia. Brazilian Archives of Biology and Technology. Vol.52, N. 5: pp. 1253-1259, September-October 2009. ISSN 1516-8913.Chandra, Budi Atrika. (2011). Karakteristik Pigmen Fikosianin dari Spirulina fusiformis yang Dikeringkan dan Diamobilisasi [skripsi]. Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.El-Baky HHA. (2003). Over production of phycocyanin pigment in blue green alga Spirulina sp. And its Inhibitory effect on growth of Ehrlich Aschites Carcinoma Cells Journal Medical Science 3(4):314-324.Fennema, O.R. (1976). Principles of Foods Science. Marcel Dekker. Inc. New York.

Fox, P. F. (1991). Food Enzymologi Vol 1. Elsevier Applied Sciences. London.Henrikson, R. (1989). Earth Food Spirulina. Ronore Enterprises, California

Martelli, G., Folli, C., Visai, L., Daglia, M., & Ferrari, D. (2014). Thermal Stability Improvement of Blue Colorant C-Phycocyanin from Spirulina platensis for Food Industry Applications. Elsevier Ltd. Italy.

Mishra SK, Shrivastav A, Mishra S. (2008). Effect of preservatives for food grade C-PC from Spirulina platensis. Process Biochemistry 43:339345. Mohammad, Johan. (2007). Produksi dan Karakteristik Biopigmen Fikosianin dari Spirulina fusiformis serta Aplikasinya Sebagai Pewarna Minuman. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.Murtala, S. S. (1999). Pengaruh Kombinasi Jenis Dan Konsentrasi Bahan Pengisi Terhadap Kualitas Bubuk Sari Buah Markisa Siul (Passiflora edulis F. Edulis). Tesis. Pasca Sarjana Universitas Bawijaya Malang. 70 hal.Reynold, James E.F. (1982). Martindale The Extra Pharmacopolia, Edition Twenty Eigth. The Pharmacentical Press. London.

Richmond A. (1988). Spirulina. In Borowitzka MA dan Borowitzka LJ, editor.Micro-algal biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press. Rogers, E.P. (1986). Fundamental of Chemistry. Books/Cole Publishing Company. California.Science Published Ltd., England.Saleh, A. M., D.W. Dhar, & P. K. Singh. (2011). Comparative pigment profiles of different Spirulina strains. Research in Biotechnology, 2(2): 67-74, 2011. ISSN: 2229-791X.Seo, Y.C., Choi, W.S., Park, J.H., Park, J.O., Jung, K.H., & Lee, H.Y. (2013). Stable Isolation of Phycocyanin from Spirulina platensis Associated with High-Pressure Extraction Process. International Journal of Molecular Sciences. Korea.

Sharma, G., Kumar, M., Ali, M.I., & Jasuja, N.D. (2014). Effect of Carbon Content, Salinity and pH on Spirulina platensis for Phycocyanin, Allophycocyanin and Phycoerythrin Accumulation. Journal of Microbial & Biochemical Technology 6:4. India.

Silveira, S. T.; Burkert, J. F. M.; Costa, J. A. V.; Burkert, C. A.V.; Kalil, S. J.; Bioresour. Technol. (2007). 98, 1629.

Sivasankari, S., Naganandhini, & Ravindran, D. (2014). Comparison of Different Extraction Methods for Phycocyanin Extraction and Yield from Spirulina platensis. International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences. Vol. 3 No. 8: 904-909. India.

Spolaore P, Joanis CC, Duran E, Isambert A. (2006). Comercial Application of Microalgae Review.J Biosci and Bioeng. 101 (2): 87-96. Diakses pada tanggal 19 September 2013.

Suparti, W. (2000). Pembuatan Pewarna Bubuk dari Ekstrak Angkak: pengaruh Suhu, Tekanan dan Konsentrasi Dekstrin. Tesis. Program Pascasarjana. Universitas Brawijaaya. Malang.

Sutomo. (2005). Kultur Tiga Jenis Mikroalga (Tetraselmis sp., Chlorella sp.dan Chaetoceros gracilis) dan Pengaruh Kepadatan Awal Terhadap Pertumbuhan C. Gracilis di Laboratorium. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. No. 37 :43-58. Pusat Penelitian Oseanografi.Syah et al. (2005).Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Wiyono, R. (2007). Studi Pembuatan Serbuk Effervescent Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Kajian Suhu Pengering, Konsentrasi Dekstrin, Konsentrasi Asam Sitrat dan Na-Bikarbonat.6. LAMPIRAN

6.1. PerhitunganKF(mg/ml)= Yield (mg/g)= Kelompok A1

KF(mg/ml)=

= 0,819mg/ml

Yield (mg/g)=

= 5,938 mg/g

Kelompok A2

KF(mg/ml)=

= 0,868mg/ml

Yield (mg/g)=

= 6,293 mg/g

Kelompok A3

KF(mg/ml)=

= 0,862mg/ml

Yield (mg/g)=

= 6,250 mg/g

Kelompok A4

KF(mg/ml)=

= 0,865mg/ml

Yield (mg/g)=

= 6,271 mg/g

Kelompok A5

KF(mg/ml)=

= 0,874mg/ml

Yield (mg/g)=

= 6,337 mg/g6.2. Laporan sementara

6.3. Diagram alir

6.4. Abstrak jurnal

Biomassa Spirulina dimasukkan dalam erlenmeyer

Dilarutkan dalam aqua destilata (1:10)

Diaduk dengan stirrer 2 jam

Disentrifugasi 5000 rpm, 10 menit hingga didapat endapan, Kemudian supernatan diencerkan sampai pengenceran 10-2.

Supernatan diukur kadar fikosianin pada panjang gelombang 615 nm dan 652 nm

Ditambah dekstrin dengan perbandingan supernatan : dekstrin 1 : 1

Dicampur merata dan dituang ke wadah

Dioven pada suhu 50C hingga kadar air 7%

Didapat adonan kering yang gempal

Dihancurkan dengan penumbuk hingga berbentuk powder

of 21/21
Acara IV FIKOSIANIN: PEWA RNA A LAMI DARI “  BLUE GREEN MICROALGA” SPIRULINA LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNOLOGI HASIL LAUT Disusun oleh :  Nama : Anselmus An i A r!acah!a"a  NIM : #$%&'%''() Kelom*o" A# PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN +AKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGI,APRANATA SEMARANG -'#.
Embed Size (px)
Recommended