Home >Documents >Fikosianin_Agustina Cloudia_13.70.0092_B3_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Fikosianin_Agustina Cloudia_13.70.0092_B3_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Date post:08-Dec-2015
Category:
View:220 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Description:
praktikum ini dilaksanakan pada 25 september 2015. fikosianin adalah pigmen dari spirulina yang memberikan warna biru dan dapat digunakan sebagai pewarna alami
Transcript:

FIKOSIANIN: PEWARNA ALAMI DARI BLUE GREEN MICROALGAE SPIRULINA

LAPORAN RESMI PRAKTIKUMTEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh:Agustina Cloudia13.70.0092Kelompok B3

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGANFAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIANUNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATASEMARANG

2015Acara III

6

materi metode

0. Materi0. AlatAlat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sentrifuge, pengaduk/stirrer, oven, dan plate stirrer.

0. BahanBahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah biomasa Spirulina basah, aquades, dan dekstrin.

0. Metode8 gram biomasa Spirulina dimasukkan dalam Erlenmeyer

Dilarutkan dalam aquades (biomasa : aquades = 1 : 10)

Diaduk dengan stirrer selama 2 jam

Disentrifugasi 5000 rpm selama 10 menit hingga diperoleh endapan dan supernatan

Supernatan diencerkan dan divortex hingga pengenceran 10-2

Diukur kadar fikosianinnya dengan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm

8 ml supernatan ditambah dekstrin (supernatan : dekstrin = 1 : 1)

Dicampur rata dan dituang ke wadah

Dioven pada suhu 45C hingga kadar air 7%

Diperoleh adonan kering yang gempal

Dihancurkan dengan alat penumbuk hingga berbentuk powder

9

hasil pengamatanHasil pengamatan OD, Konsentrasi Fikosianin, Yield dan Perubahan warna pada Fikosianin dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengukuran OD, Konsentrasi Fikosianin (KF), Yield, dan Warna FikosianinKelBerat Biomassa (gram)Jumlah Akuades (ml)Total Filtrat (ml)OD 615OD 652KF (mg/ml)Yield (mg/g)Warna

Sebelum di ovenSetelah dioven

B1880560,15210,10941,87713,139++

B2880560,14810,10941,80012,600++++

B3880560,13930,17321,0717,497++

B4880560,16760,17491,58611,103++

B5880560,12170,17430,7325,124++

Keterangan :Warna :+: biru muda++: biru+++: biru tua

Berdasarkan hasil pada tabel 1, data berat biomassa, jumlah aquades dan total filtrat pada semua kelompok sama. Berat biomassaa sebesar 8 gram, jumlah aquades yang digunakan 80 ml dan total filtrat yang didapatkan sebesar 56 ml. Rata-rata nilai OD 615 lebih rendah dibandingkan OD 652. Konsentrasi fikosianin dan yield yang diperoleh berbanding lurus. KF tertinggi pada kelompok B1 sebesar 1,877 mg/ml dan yield tertinggi juga terdapat pada kelompok B1 sebesar 13,139 mg/g. Untuk warna, tidak ada perubahan warna pada semua kelompok sebelum dan sesudah pengeringan.

pembahasan

Terdapat spesies alga memiliki pewarna alami di dalam tubuhnya. Selain pigmen, asam lemak dan klorofil dalam mikroalga dapat diolah untuk industri bidang pangan (Sutomo,2005). Aplikasi mikroalga diluar industri pangan adalah sebagai bahan farmasi dan kedokteran hal ini disebabkan di dalam mikroalga terkandung komponen bioaktif (Metting & Pyne,1986). Pigmen dibagi menjadi dua jenis, yaitu pigmen alami dan pigmen sintesis. Pigmen alami dapat ditemukan di tanaman atau alga. Kelebihan penggunaan pigmen alami adalah dapat diuraikan dan tidak bersifat karsinogen. Kelemahannya adalah tidak sesuai untuk diproduksi massal, tidak stabil pada pH, cahaya dan panas (Aryzla,2003).

Kelompok Cyanobacteria termasuk dalam kelompok bakteri gram negatif. Fikosianin dapat digunakan sebagai pewarna makanan dan pewarna kosmestik. Fikosianin pigmen warna alami yang sangat dibutuhkan untuk industri karena warnanya yang cerah, tingkat anti oksidan dan tingkat fluorescence-nya (Kumar, 2014). Jenis mikroalga yang digunakan dalam praktikum ini adalah Spirulina yang menghasilkan pigmen fikosianin berwarna biru. Hal ini sesuai dengan pendapat Colla et al (2007) bahwa Spirulina plantesis banyak menghasilkan fikosianin. Ciri-ciri pigmen ini adalah larut pada pelarut polar, bentuk filamen spiral, suhu optimal pertumbuhannya adalah 35-37oC dan termasuk dalam kelompok mesofilik (Spolaore et al,2006).

Jenis C-fikosianin dapat diekstrak dari kelompok cyanobacteria seperti Spirulina plantesis yang akan menghasilkan warna biru. Ekstraksi pada fikobiliprotein akan membuat dinding sel menjadi rusak sehingga protein dalam di ambil dengan mudah. Proses ekstraksi c-fikosianin dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain penghalusan dengan mortar, freezing thwaing dan sonifikasi (Moraes,2011). Proses sonifikasi dalam proses ekstraksi spirulina efektif untuk merusak dinding sel. Ekstraksi fikosianin juga dapat dilakukan dengan menggunakan larutan buffer pada suhu 44oC selama 2 jam. Untuk mendapatkan struktur fikosianin yang stabil, dalam proses ekstraksi dapat diatur pH dan suhunya (Duangsee,2009). Spirulina termasuk dalam organisme multiseluler dan salah satu blue green algae. Kandungan di dalam spirulina antara lain 60% protein, asam amino esensial dan vitamin (Richmond,1988). Kandungan asam lemak esensial dalam Spirulina adalah 4-7% dengan bentuk linoleat dan asam linolenat. Kandungan proteinnya sekitar 50%-70% dari berat kering. Spirulina secara alami mengandung kolesterol yang rendah, kalori, lemak, dan sodium. Kandungan dalam spirulina antara lain sembilan vitamin penting dan empat belas mineral yang terikat dengan asam amino. Sehingga proses asimilasi dengan tubuh lebih cepat dan mudah (Tietze, 2004). Spirulina mampu menghasilkan fikosianin dalam waktu yang cepat, dapat hidup pada kondisi basa (pH 8-11), hidup di suhu hangat proses pemanenan yang mudah, dan mengalami fotosintesis (Tri Panji et al,1996). Pengolahan spirulina mudah dilakukan karena memiliki membran sel yang tipis dan lembut (Richmond 1988).

Spirulina mnghasilkan 3 jenis pigmen, yaitu klorofil a; karotenoid dan xantofil; serta fikobiliprotein. Pigmen di Klorofil a sekitar 1,7% dari berat sel. Pigmen karotenoid dan xantofil jumlahnya adalah 0,5% dari berat sel sedangkan fikobiliprotein terdiri atas fikosianin dan allofikosianin (20% protein seluler) (Richmond,1988). Pigmen yang mendominasi Spirulina adalah fikobiliprotein dimana di dalamnya terkandung komponen c-fikosianin (Song, 2013). Hemlata (2011) menambahkan bahwa fikobiliprotein terdiri atas empat kelas, yaitu allophycocyanin (alga hijau biru), phycocyanin (alga biru), phycoerythrin (alga merah) dan phycocyanobilin (alga merah kekuningan). Fikobiliprotein merupakan bagian dari fikobilisom yang berbentuk granula. Fikobiliprotein dapat melindungi pigmen dan menyerap cahaya dari proses oksidasi cahaya. Cara kerja fotosintesis spirulina adalah fikosianin menyerap cahaya dari lingkungan dan diteruskan ke allofikosianin dan ke klorofil a. Pigmen klorofil a diperoleh dari fotosintesis alga Spirulina. Letak pigmen klorofil a berada di kromoplasma (membran tilakoid) (Diharmi,2001).

Fikosianin adalah pigmen yang mampu memancarkan warna merah tua tetapi warna asli dari pigmen ini adalah biru tua. Fikosianin memiliki jumlah 20% dari berat kering dan merupakan jenis pigmen yang paling banyak ditemukan di alga hijau biru (Richmond,1988). Fikosianin memiliki beberapa kelebihan antara lain mampu menyimpan nitrogen, dapat menangkap cahaya dan menangkap radikal bebas. Struktur dari fikosianin sendiri terdiri atas rantai tetraphyrroles terbuka yang memilliki kesamaan struktur dengan bilirubin (Hall & Rao,1999). Adanya klorofil yang tinggi akan membuat warna dari spirulina berwarna hijau tua atau biru kehijauan (agak gelap) saat berbentuk koloni besar (Tietze,2004). Berikut ini adalah contoh struktur fikosianin

Aplikasi fikosianin dapat dilihat pada produk minuman ringan, wasabi, permen karet, permen dan popsicles. Kelemahan dari pigmen fikosianin ini adalah mudah mengalami perubahan warna dan kerusakan pada suhu tinggi. Adanya pemudaran warna terjadi setelah 5 hari sekitar 30%, saat kondisi suhu lingkungan 35oC dan penyimpanan fikosianin mencapai 15 hari maka larutan fikosianin akan mengalami perubahan warna menjadi bening (Mishra et al,2008). Jumlah fikosianin yang terbentuk dipengaruhi oleh suplai nitrogen. Di dalam 500 mg tablet Spirulina terkandung 333,0 mg fikosianin. (Tietze,2004). Kelebihan lain fikosianin yang bermanfaat bagi tubuh manusia yaitu dapat mencegah pembentukan kanker, sebagai antioksidan, anti inflamasi dan bersifat neuroprotective (Richmond,1988).

Langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah biomassa spirulina yang telah disiapkan dimasukkan dalam Erlenmeyer sebanyak 8 gram dan kemudian dilarutkan dengan aquadestilata pengan perbandingan 1:10, sehingga aquadestilata yang digunakan sebanyak 80 ml. Selanjutnya dilakukan pengadukan dengan stirrer sekitar 2 jam. Pengadukan bertujuan untuk menghomogenkan campuran bahan serta untuk mendapatkan ekstrak dari spirulina. Pelarutan biomassa spirulina dengan aquades sesuai dengan pendapat Tietze (2004) dimana fikosianin dalam spirulina lebih mudah diekstrak atau dilarutkan dengan larutan buffer fosfat pH 7 dan termasuk dalam salah satu metode ekstraksi polar. Dilakukan sentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 5000 rpm hingga didapatkan supernatan (fikosianin) dan endapan. Supernatan yang didapat kemudian diencerkan hingga pengenceran ke 10-2 dengan melarutkan 1 ml supernatan (pada pengenceran 100 sampai 10-1) dengan 9 ml aquades lalu campuran larutan divortex. Sentrifugasi dilakukan agar didapatkan supernatan yang terlah terpisah dari padatannya (Silviera et al, 2007). Supernatan diencerkan hingga pengenceran 10-2 dikarenakan supernatan yang dihasilkan warnanya masih pekat. Pengenceran juga dilakukan agar supernatan dapat dihitung kadar fikosianinnya dengan spektrofotometer. Hasil yang diperoleh kemudian diukur kadar fikosianinnya dengan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm pada spektrofotometer. Penggunaan panjang gelombang pada praktikum ini sesuai dengan pendapat Antelo et al (2010), dimana untuk mengukur ekstrak fikosianin menggunakan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm.

Supernatan kemudian ditambahkan dengan dekstrin dengan perbandingan 1 : 1 (supernatan 8ml dengan dekstrin 8 gram). Dekstrin adalah senyawa polisakarida yang tingkat kelarutaannya dalam air tinggi. Dekstrin juga berasal dari hasil modifikasi pati dengan asam. Dekstrin dapat melindungi fikosianin dari oksidasi atau suhu tinggi. Ciri-ciri dekstrin antara lain lebih cepat terdispersi, lebih stabil, tingkat kelarutan dalam air tinggi, lebih stabil pada suhut tinggi, tingkat stabilitas yang baik dibandingkan pati (Fennema,1985). Dekstrin berfungsi untuk mengurangi proses oksidasi, sebagai bahan pengisi, sebagai pembawa bahan flavor dan pewarna, serta untuk mengurangi oksigen yang dapat larut (Ribut & Kumalaningsih,2004). Suparti (2000) menambahkan bahwa dekstrin memiliki warna yang putih kekuningan. Murtala (1999) juga menambahkan fungsi lain dekstrin adalah melapisi flavor, mencegah denaturasi, mempersingkat lamanya pengeringan dan memperbesar volume dan total padatan.

Setelah tercampur merata dan warnanya menjadi biru muda, campuran tersebut dimasukkan dalam wadah dengan cara mengoleskan secara merata di wadah. Wadah tersebut kemudian digunakan sebagai alas dalam proses pengeringan. Proses selanjutnya dimasukkan dalam oven dengan suhu 45oC hingga kering, dimana kadar air dalam bahan sekitar 7%. Pengukuran kadar air bahan dilakukan dengan melihat apakah adonan fikosianin masih gempal atau sudah kering menggunakan spatula. Setelah kering, olesan fikosianin dihancurkan hingga menghasilkan bubuk fikosianin. Suhu pengeringan yang dilakukan telah sesuai dengan pendapat Metting & Pyne (1986) dan Desmorieux & Decaen (2006) bahwa suhu pengeringan optimal fikosianin adalah 40oC-60oC, jika suhu yang digunakan diatas 60oC maka akan merusak ekstrak fikosianin dan menyebabkan reaksi Maillard atau kegosongan pada bahan. Pengeringan dilakukan di dalam oven juga untuk mencegah kontaminasi dari fikosianin yang dihasilkan.

OD (Optical Density) digunakan untuk mengetahui kadar fikosianin dari bahan yang dihasilkan. OD dipengaruhi oleh dua faktor yaitu konsentrasi dan kejernihan larutan itu sendiri (Fox,1991). Antara OD, konsentrasi fikosianin dan yield memiliki hubungan, dimana jika larutan yang dihasilkan warnanya gelap, maka OD yang diperoleh juga tinggi serta yield dan konsentrasi fikosianin juga tinggi (Antelo et al,2010) Berdasarkan hasil pengamatan, dilakukan pengukuran OD pada panjang gelombang 615nm dan 652 nm, konsentrasi fikosianin, yield serta perubahan warna. Pada semua kelompok, data berat biomassa, total filtrat yang didapatkan nilainya sama, tetapi OD yang diperoleh berbeda-beda. Untuk OD615 tertinggi diperoleh kelompok B4 (0,1676) sedangkan yang terendah adalah kelompok B5 (0,1217). Untuk OD652 tertinggi diperoleh kelompok B4 (0,1749) serta terendah pada kelompok B1 dan B2 (0,1094).

Untuk nilai KF (konsentrasi fikosianin) tertinggi diperoleh kelompok B1 (1,877 mg/ml) dan terendah pada kelompok B5 (0,732 mg/ml). sedangkan nilai yield tertinggi pada kelompok B1 (13,139 mg/g) dan terendah pada kelompok B5 (5,124 mg/g). Hal ini dapat dilihat bahwa nilai KF dan yield berbanding lurus dan sesuai dengan teori Fox (1991) bahwa jika nilai yield tinggi maka nilai konsentrasi fikosianin juga tinggi. Tetapi jika dibandingkan antara OD, KF dan yield terjadi ketidaksesuai hasil dan teori dari Antelo et al. (2010), seharusnya OD tinggi, KF dan yield juga tinggi. Pada kelompok B1, KF dan yield yang dihasilkan tinggi tetapi OD nya tidak tinggi. Hal ini disebabkan karena tingkat kejernihan larutan.

Untuk perubahan warna, pada semua kelompok tidak terjadi perubahan warna. Pada kelompok B2 sebelum dan sesudah pengeringan warna fikosianin yang dihasilkan adalah biru, sedangkan untuk kelompok lainnya (B1,B3,B4 dan B5) sebelum dan sesudah pengeringan warna fikosianin yang dihasilkan adalah biru muda. Perbedaan warna yang dihasilkan dapat disebabkan karena bahan dekstrin yang ditambahkan. Menurut pendapat Suparti (2000) dan Wiyono (2007) penambahan dekstrin akan membuat warna fikosianin menjadi lebih pucat karena warna bahan dari dekstrin sendiri adalah putih kekuningan. Sehingga setelah dikeringkan seharusnya warna bubuk yang dihasilkan lebih muda atau pucat. Perbedaan warna biru dapat disebabkan jumlah dekstrin yang ditambahkan juga berbeda, perncampuran dekstrin dan fikosianin yang tidak merata dan penilaian panelis yang bersifat subjektif sehingga hasil yang diperoleh kurang akurat.

kesimpulan

Pigmen dibagi menjadi dua jenis, yaitu pigmen alami dan pigmen sintesis. Kelompok Cyanobacteria termasuk dalam kelompok bakteri gram negatif Spirulina plantesis banyak menghasilkan fikosianin Spirulina termasuk dalam organisme multiseluler dan salah satu blue green algae Pengolahan spirulina mudah dilakukan karena memiliki membran sel yang tipis dan lembut Spirulina menghasilkan 3 jenis pigmen, yaitu klorofil a; karotenoid dan xantofil; serta fikobiliprotein. Fikobiliprotein terdiri atas empat kelas, yaitu allophycocyanin (alga hijau biru), phycocyanin (alga biru), phycoerythrin (alga merah) dan phycocyanobilin (alga merah kekuningan). Kelemahan dari pigmen fikosianin ini adalah mudah mengalami perubahan warna dan kerusakan pada suhu tinggi spirulina lebih mudah diekstrak atau dilarutkan dengan larutan buffer fosfat pH 7 dan termasuk dalam salah satu metode ekstraksi polar. Mengukur ekstrak fikosianin menggunakan panjang gelombang 615nm dan 652nm. Dekstrin berasal dari hasil modifikasi pati dengan asam Suhu pengeringan optimal fikosianin adalah 40oC-60oC OD dipengaruhi oleh dua faktor yaitu konsentrasi dan kejernihan larutan Jika larutan yang dihasilkan warnanya gelap, maka OD yang diperoleh juga tinggi serta yield dan konsentrasi fikosianin juga tinggi Nilai KF dan yield berbanding lurus Dekstrin membuat warna fikosianin menjadi lebih pucat

Semarang, 5 Oktober 2015Praktikan, Asisten Dosen, Deanna SuntoroFerdyanto Juwono

Agustina Cloudia13.70.0092

daftar pustaka

Antelo, F. S., Andreia A., Jorge A. V. C. and Susanna J. K. (2010). Extraction and Purification of C-phycocyanin from Spirulina platensis in Conventional and Integrated Two-Phase Systems. J. Braz. Chem. Soc., Vol. 21, No. 5, 921-926.

Arylza, IS. (2003). Isolasi pigmen bru fikosianin dari mikroalga Spirulina plantesis. Journal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 38:79-92.

Colla, Luciane M., Eliana Badiale F., Jorge A. V. (2007). Antioxidant Properties of Spirulina platensis Cultivated Under Different Temperatures and Nitrogen Regimes. Z. Naturforsch 59c: 55-59.

Desmorieux H. Decaen N. (2006). Convective drying of Spirulina in thin layer. Journal Of Food Engineering, 77:64-70.

Diharmi A. (2001). Pengaruh pencahayaan terhadap kandungan pigmen bioaktif mikrolaga Spirulina platensis strain Lokal (INK). [Tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Duangsee, R. et al.,(2009). Phycocyanin extraction from Spirulina plantensis and extract stability under various pH and temperature. Asian Journal of Food and Agro-Industry. Vol2 (04) :819-826

Fennema, C. R. (1985). Food Chemistry. Marcel Dekker. Inc. Cleveland.

Fox, P. F. (1991). Food Enzymologi Vol 1. Elsevier Applied Sciences. London.

Hall DO, Rao KK. (1999). Photosynthesis Six edition. Cambridge: ,Cambridge university press.

Hemlata. G. Pandey. (2011). Studies on Anabaena Sp. NCCU-9 with Special Reference to Phycocyanin. J Algal Biomass Utln. 2(1). 30-51.

Kumar. D., D.W. Dhar. (2014). Extraction and purification of C-phycocyanin from Spirulina platensis (CCC540). Ind J Plant Physiol. 19(2). 184-188.

Metting B dan Pyne JW. (1986). Biologically Active Compounds from Microalga. Journal of Enzyme Microb. Tech. Vol. 8. Butterworth and Co Publish.

Mishra SK, Shrivastav A, Mishra S. 2008. Effect of preservatives for food grade C-PC from Spirulina platensis. Process Biochemistry 43:339345.

Moraes, C.C., Sala, L., Cerveira, G.P., S.J. Kalil. (2011). C-Phycocyanin Extraction From Spirulina Platensis Wet Biomass. Brazilian Journal of Chemical Engineering. Vol 28. No 1. 45-49.

Murtala, S. S. (1999). Pengaruh Kombinasi Jenis Dan Konsentrasi Bahan Pengisi Terhadap Kualitas Bubuk Sari Buah Markisa Siul (Passiflora edulis F. Edulis). Tesis. Pasca Sarjana Universitas Bawijaya Malang. 70 hal.

Carra P, hEocha C.(1976).Algal Biliproteins and Phycobilins. Goodwin TW, editor.1976. Chemistry and Biochemistry of Plant Pigments. London: Academic press inc. Hal 328-371.

Ribut, S. dan S. Kumalaningsih. (2004). Pembuatan bubuk sari buah sirsak dari bahan baku pasta dengan metode foam-mat drying. Kajian Suhu Pengeringan, Konsentrasi Dekstrin dan Lama Penyimpanan Bahan Baku Pasta.

Richmond A. (1988). Spirulina. Di dalam Borowitzka MA dan Borowitzka LJ, editor. Micro-algal biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press.

Silveira, S. T.; Burkert, J. F. M.; Costa, J. A. V.; Burkert, C. A.V.; Kalil, S. J.; Bioresour. Technol. (2007). 98, 1629.

Song. W., Zhao, C., S. Wang. (2013). A Large-Scale Preparation Method of High Purity C-Phycocyanin. International Journal of Bioscience, Biochemistry and Bioinformatic. Vol 3. No 4.

Spolaroe P, Joanis CC, Duran E, Isambert A. (2006). Comercial Application of Microalgae Review. J Biosci and Bioeng. 101 (2): 87-96.

Suparti, W. (2000). Pembuatan Pewarna Bubuk dari Ekstrak Angkak: pengaruh Suhu, Tekanan dan Konsentrasi Dekstrin. Tesis. Program Pascasarjana. Universitas Brawijaaya. Malang.

Sutomo. (2005). Kultur Tiga Jenis Mikroalga (Tetraselmis sp., Chlorella sp.dan Chaetoceros gracilis) dan Pengaruh Kepadatan Awal Terhadap Pertumbuhan C. Gracilis di Laboratorium. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. No. 37 :43-58. Pusat Penelitian Oseanografi.

Tietze HW. (2004). Spirulina Micro Food Macro Blessing. Ed ke-4. Australia: Haralz W Tietze Publishing.

Tri Panji S, Achmadi, Tjahjadarmawan E. (1996). Produksi asam gammalinolenat dari ganggang mikro Spirulina platensis menggunakan limbah lateks pekat. Menara Perkebunan 64 (1): 34-44.

Wiyono, R. (2007). Studi Pembuatan Serbuk Effervescent Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Kajian Suhu Pengering, Konsentrasi Dekstrin, Konsentrasi Asam Sitrat dan Na-Bikarbonat.

lampiran

1.1. Perhitungan

Rumus perhitungan :Konsentrasi Fikosianin / KF (mg/ml) = Yield (mg/g) =

Kelompok B1KF==1,877mg/mlYield==13,139mg/g

Kelompok B2KF==1,800mg/mlYield = = 12,600mg/g

Kelompok B3KF = = 1,071 mg/mlYield = = 7,497 mg/g

Kelompok B4KF==1,586mg/mlYield==11,103mg/g

Kelompok B5KF==0,732mg/mlYield = = 5,124 mg/g

1.2. Laporan Sementara1.3. Diagram Alir1.4. Abstrak Jurnal

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended