Home >Documents >Ffws Das Sampean

Ffws Das Sampean

Date post:14-Dec-2014
Category:
View:97 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Transcript:

FFWS DAS SampeanPeramalan banjir berkaitan erat dengan proses hidrologi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor meteorologi. Proses dari hujan sampai menjadi debit banjir membutuhkan waktu yang sangat dipengaruhi oleh karakteristik daerah pengaliran sungai (DAS), lokasi terjadinya hujan pada suatu daerah pengaliran, serta kondisi kebasahan tanah pada saat terjadinya hujan tersebut. Peramalan banjir dan peringatan dini memanfaatkan waktu tenggang (time lag) dari jatuhnya hujan hingga terjadinya limpasan di sungai.

a. Tujuan Peramalan Banjir Untuk pengendalian banjir dan mengurangi kerugian masyarakat akan harta dan benda serta jiwanya. Untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat akan datangnya banjir. b. Variabel peramalan banjir dapat diperkirakan dengan: memperkirakan tinggi muka air banjir yang akan datang beberapa saat lagi; memperkirakan debit banjir yang akan datang beberapa saat setelah jatuhnya hujan; memperkirakan volume banjir yang akan datang; dan peramalan untuk pengoperasian pintu/bangunan air saat banjir.

c. Periode Peramalan Banjir dapat diklarifikasikan menjadi: peramalan banjir untuk jangka pendek adalah peramalan nilai debit/muka air di sungai untuk suatu periode yang lebih pendek dari 6 jam semenjak peramalan dibuat; peramalan banjir untuk jangka menengah adalah peramalan suatu harga debit/muka air yang akan datang untuk suatu periode antara 6 jam sampai 1 hari; peramalan banjir jangka panjang adalah peramalan suatu harga debit/muka air yang akan datang untuk suatu periode yang lebih dari 1 hari; Faktor-faktor yang mempengaruhi periode peramalan ini adalah karakteristik DAS dan karakteristik alirannya. Karakteristik DAS dan aliran yang dimaksud adalah bentuk DAS, luas DAS, panjang sungai, kemiringan DAS, kerapatan sungainya, jenis penutup lahan dan tanahnya, dan lain-lain.

d. Metode Peramalan Metode yang digunakan dalam peramalan dapat dikasifikasikan sebagai berikut. Metode yang didasarkan pada perubahan muka air di sepanjang sungai. Metode hidrodinamis dan semua teknik dari penelusuran banjir ini dapat digunakan untuk peramalan. Metode yang didasarkan pada analisis hidrologi dan proses meteorologi dan karakteristik DAS. Metode yang didasarkan pada korelasi serta kombinasi diantaranya. e. Organisasi dari Peramalan Banjir Organisasi dari peramalan banjir memerlukan informasi/pengetahuan dan sangat bergantung pada: ketersediaan jaringan hidrologi dan stasiun meteorologi; ketersediaan fasilitas komunikasi dan desiminasi dari informasi hidrologi dan meteorologi; ketersediaan pusat pengolahan dan peramalan dan pusat pemantauan data; Tersedianya/terdokumentasinya data hidrologi dan meteorologi untuk pengolahan data; ketersediaan tenaga ahli/peramal yang terampil; dan ketersediaan informasi tentang pola operasi untuk sarana dan prasarana yang ada.

Sistem Pengumpulan Data dan Penentuan Stasiun Hidrologi Telemeteri Dua tipe pendekatan untuk pengumpulan data operasional peramalan banjir adalah manual dan otomatik. Metode manual membutuhkan kerjasama dengan operator untuk membawa data observasi dan mengirimkan data tersebut ke pusat peramalan. Pengiriman data secara manual dapat dilakukan dengan menggunakan telepon/radio atau menggunakan telegrap/faksimili. Diperlukan waktu yang lama untuk mengumpulkan dan mengirimkan data, terutama untuk DAS yang luas. Pengumpulan data secara otomatik dengan suatu perangkat telemetri diperlukan bila pengumpulan dan waktu pengiriman sangat lama, sehingga tidak tersedia waktu yang cukup untuk melakukan peramalan. Sistem telemeteri ini memungkinkan data dapat dikumpulkan secara cepat dan tepat waktu, sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan akurasi dari peramalan karena masih tersedia waktu yang cukup untuk membuat peramalan dan menginformasikannya secara dini. Pemilihan metode dalam pengiriman data sangat tergantung pada biaya, ketersediaan sarana/prasarana (seperti telepon), kondisi topografi dan kondisi iklim, serta lokasi pusat peramalan.

Sistem Pengumpulan Data secara Tepat Waktu Sistem pengumpulan data untuk peramalan banjir dan peringatan dini perlu tepat waktu (real time) dengan menggunakan sistem telemetri. Sistem ini dapat digunakan untuk mengumpulkan data untuk peringatan besaran banjir, pengendalian debit di bendungan, pengoperasian bangunan-bangunan air, dan lain sebagainya. Melalui sistem ini, data curah hujan, muka air sungai, dan muka air waduk dapat dikumpulkan secara tepat waktu dengan menggunakan jaringan radio. Dalam pengembangan sistem telemetri untuk pengendalian stasiun hidrologi, yang diperlukan adalah data/informasi muka air, curah hujan, dan data pengamatan pintu/bangunan air. Data-data ditransmisikan dengan menggunakan jaringan radio. Terdapat dua sistem dalam sistem pengumpulan data tepat waktu, yaitu: sistem dimana data dari pos-pos (hujan, muka air) dipanggil secara berurutan dari Pusat Peramal dan informasinya dapat dikirimkan kembali ke pos-pos telemetri di lapangan; dan sistem dimana data secara periodik untuk waktu tertentu dikirim/dilaporkan dari pos-pos telemetri ke Pusat Peramal.

Setelah data diperoleh dari lapangan, terdapat dua tipe/jenis data yang diperlukan dalam peramalan: data yang dibutuhkan untuk pengembangan atau yang diperlukan untuk merencanakan sistem peramalan (kalibrasi); dan data yang dibutuhkan untuk peramalan atau dibutuhkan untuk operasional sistem peramalan. Data yang diperlukan untuk pengembangan dan kalibrasi adalah data yang digunakan untuk mendapatkan parameter dari model-model yang akan digunakan dalam operasional peramalan. Data yang diperlukan terdiri dari: data curah hujan yang dapat mewakili suatu DAS yang akan diramal data debitnya; data muka air/debit yang diakibatkan oleh hujan yang jatuh dalam suatu DAS; dan data karakteristik DAS (bentuk DAS, luas DAS, panjang sungai, kemiringan, dan lain-lain).

Data curah hujan yang dibutuhkan adalah data curah hujan pada pos-pos yang dominan di DAS. Permasalahan yang sering ditemui yaitu data curah hujan yang dipantau tidak dapat mewakili DAS tersebut, sehingga sangat mempengaruhi akurasi dari peramalan yang dibuat. Kerapatan jaringan pos hidrologi dan besarnya curah hujan sangat menentukan rata-rata curah hujan yang akan digunakan sebagai input pada peramalan banjir. Untuk DAS yang kecil dan terjal serta mempunyai intensitas curah hujan yang tinggi, seringkali banjir terjadi hanya dalam perioda waktu yang relatif singkat 12 jam setelah terjadinya hujan, sehingga meskipun telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana pengumpulan data secara tepat waktu (sistem telemetri), namun masih sulit untuk dapat meramalkan dan menginformasikan kapan terjadinya banjir. Hal ini disebabkan karena tidak tersedianya waktu yang cukup dan sarana yang baik untuk melakukan peramalan dan peringatan dini.

Dalam kondisi demikian, maka diperlukan suatu usaha untuk meramalkan kejadian hujan yang akan terjadi dengan menggunakan radar atau satelit, sehingga masih tersedia waktu yang lebih lama untuk dapat melakukan peramalan, yaitu dari saat peramalan hujan sampai terjadinya hujan dan aliran banjir di sungai. Ketidakakuratan suatu peramalan banjir seringkali disebabkan karena jaringan pos hujan yang ada dalam suatu DAS tidak/belum dapat menggambarkan kondisi sebenarnya dari hujan yang jatuh dalam DAS tersebut. Untuk suatu DAS yang relatif besar, maka peramalan dapat dilakukan dengan membandingkan/ mengkorelasikan muka air/debit pada beberapa lokasi (di hulu dan di hilir), sehingga permasalahan alokasi dari pos duga muka air sangat penting untuk dapat mengoptimalkan hubungan hujan yang jatuh di masingmasing pos hujan dengan rata-rata penurunan akurasi dengan hujan di DAS serta mengefisienkan peningkatan jumlah pos pengamatan.

Lokasi Penentuan lokasi harus memperhatikan ketentuan berikut: Mengikuti ketentuan yang diuraikan pada standar metode pemilihan lokasi pos hidrologi seperti pos duga air, (SKSNI M101, 1990.03) pos hujan, pos klimatologi dan lain-lain; Lokasi stasiun memenuhi syarat sebagai stasiun komunikasi yang menggunakan radio frekwensi; Lokasi stasiun hidrologi telemetri harus dipertimbangkan secara hati-hati guna kesinambungan operasional, bukan saja menghadapi suatu bencana tetapi juga pengoperasian jangka panjang; Cukup luas untuk perumahan, antena dan lain-lain; Cukup aman menghadapi bencana seperti banjir, longsoran dan lain-lain; Penggunaan lokasi mendapat ijin dari pemilik tanah; Tersedia sumber tenaga listrik PLN yang cukup; Apabila harus menggunakan solar sel sebagai sumber tenaga listrik maka harus tersedia kekuatan dan durasi pengukuran matahari yang cukup; Apabila sumber tenaga listrik menggunakan tenaga angin, maka harus tersedia tenaga angin dengan kekuatan dan durasi yang cukup; Lokasi memungkinkan dipilihnya salah satu alternatif sumber tenaga listrik seperti ditentukan pada butir 7) hingga 9) di atas; Tersedia jalan masuk ke lokasi; Apabila ketentuan butir 1) sampai dengan butir 11) di atas sulit terpenuhi secara lengkap, ahli hidrologi dan ahli komunikasi harus melakukan studi perencanaan kembali agar persyaratan minimal stasiun hidrologi telemetri dapat terpenuhi.

Cara Penentuan Lokasi Tahapan yang harus dilakukan dalam pelaksaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut: 1. lakukan survei pendahuluan antara lain: kumpulkan data pendukung seperti peta topografi skala 1:50.000 dan 1:250.000 kumpulkan data stasiun hidrologi yang telah ada kumpulkan informasi sistem komunikasi yang ada kunjungan ke rencana lokasi stasiun pengendali, stasiun monitor ,stasiun pengumpul data lapangan, stasiun pengulang sesuai kebutuhan mempelajari kualitas dan kuantitas data hidrologi yang akan melewati sistem transmisi koordinasi dengan instansi yang terkait 2. lakukan studi persiapan antara lain : tentukan rencana lokasi stasiun hidrologi telemetri pada peta, dan rencanakan konfigurasi hubungan radio dengan frekuensi yang akan dipergunakan pelajari berbagai aspek teknis dan non teknis yang