Home >Documents >Faktor Internal Eksternal Fix Yunita

Faktor Internal Eksternal Fix Yunita

Date post:16-Nov-2015
Category:
View:56 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
faktor internal dan eksternal perkecambahan
Transcript:

LAPORAN RESMI PRAKTIKUMFISIOLOGI TUMBUHANDIFUSIKeterkaitan Faktor Eksternal dan Faktor Internal

Disusun oleh:Nama: Tutik WulandariNIM: K4312065Kelas: BKelompok: 7

PENDIDIKAN BIOLOGIFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2014I. JUDULPengaruh Perbedaan Jenis Larutan sebagai Faktor Eksternal dan Jenis Biji sebagai Faktor Internal Terhadap Panjang RadikulaII. RUMUSAN MASALAHBagaimanakah pengaruh perbedaan jenis larutan sebagai faktor eksternal dan jenis biji sebagai faktor internal terhadap panjang radikula ?III. TUJUANMengetahuibagaimanakah pengaruh perbedaan jenis larutan sebagai faktor eksternal dan jenis biji sebagai faktor internal terhadap panjang radikula ?IV. DASAR TEORIPerkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen benih yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru (Ashari, 2006). Tipe perkecambahan ada dua jenis dan yang membedakannya adalah letak posisi keping benih (kotiledon) pada permukaan tanah. Tipe pertama adalah epigeal (epygeal germination) dan kedua adalah tipe hipogeal (hypogeal germination). Apabila keping benih terangkat di atas permukaan tanah dinamakan tipe epigeal. Namun bila keping benih tersebut tetap tinggal di dalam tanah disebut hipogeal. Menurut Sutopo (2002) tipe perkecambahan epigeal adalah dimana munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah.hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di bawah tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum).(Pratiwi. 2006). Tipe perkecambahan pada biji sebagai berikut :

Bewley & Black (1985) menyatakanperkecambahan yang sempurna ditandai dengan penetrasi struktur embrio beruparadikula dari testa benih. Plumula dan radikula yang tumbuh diharapkan dapatmenghasilkan kecambah yang normal, jika faktor lingkungan mendukung. Padatingkat sel, tahapan metabolisme dan imbibisi terjadi pada benih dorman danbenih non-dorman saat sebelum perkecambahan. Proses metabolisme perkecambahan benih ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih adalah sifat dormansi dan komposisi kimia benih. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih adalah air, gas, suhu dan cahayaSalah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan perkecambahan ialah faktor kedalaman tanam. Semakin dalam kedalaman tanam maka benih yang ditanam akan semakin sulit tumbuh. Sebaliknya apabila benih ditanam pada kedalaman tanam yang dangkal, benih akan mudah tumbuh. Hal ini disebabkan oleh kadar oksigen yang terdapat di dalam tanah. Kadar oksigen akan semakin menurun dengan semakindalam lapisan tanah (Ashari, 2006). Menurut Sutopo (2002) pada saat proses perkecambahan berlangsung proses respirasi akan meningkat disertai pula dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida, air dan energi. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan mengakibatkan proses perkecambahan benih.Benih merupakan hasil perkembangbiakan secara generatif namun ada pula yang mengatakan bahwa benih merupakan hasil dari perkembangbiakan secara vegetatif. Terkait dengan hal itu pengertian benih lebih cenderung kepada hasil perkembangbiakan tanaman secara vegetatif maupun generatif (Kamil, 1985). Kualitas benih dapat dilihat dari persentase perkecambahan, salah satu uji konvensional yaitu mengecambahkan biji dan ditunggu sampai waktu tertentu sampai biji -biji berkecambah (Saupe, 2009)Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman, sebelum berkecambah tanaman relatif kecil dan dorman. Perkecambahan ditandai dengan munculnya radicle dan plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih, terus ke bawah dan membentuk sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini proses respirasi mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan diubah agar dapat dilarutkan, hormon auxin terbentuk pada endosperm dan kotiledon. Hormon tersebut dipindah ke jaringan meristem dan digunakan untuk pembentukan sel baru dan membebaskan energi kinetik (Sadjad, 1975).Perkecambahan (germination) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang sedang tumbuh tergantung pada variabilitas benih, kondisi lingkungan yang cocok dan pada beberapa tanaman tergantung pada usaha pemecahan dormansi. Perkecambahan benih yang mengandung kulit biji yang tidak permeabel dapat dirangsang dengan skarifikasi, yaitu pengubahan kulit biji untuk membuatnya menjadi permeabel terhadap gas-gas dan air, dan Cara mekanik. (Harjadi, 1986). Biji akan bekecambah setelah mengalami masa dorman yang disebabkan berbagai faktor internal, seperti embrio masih berbentuk rudiment atau belum masak (dari segi fisiologis), kulit biji yang tahan atau impermeabel, atau adanya penghambat tumbuh (Hidayat, 1995). Daya hidup biji cukup tinggi. Persentase daya kecambahnya dalam 8 hari mencapai 80%, bila biji yang dikecambahkan itu sebelumnya direndam dalam air panas (80o C) selama 2-3 menit. Persentase ini dapat ditingkatkan lagi dengan melakukan pengocokan dengan air panas.Dormansi digambarkan sebagai peristiwa benih yang berkecambah, tidak akan berkecambah walaupun faktor lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan (Kuswanto,1996).Proses Perkecambahan Biji (Jann dan Amen dalam Khan, 1984)1. Penyerapan air. Air masuk secara imbibisi dan osmosis melalui kulit biji yang menyebabkan pengembangan embrio dan endosperm hingga kulit biji pecah dan radikula keluar.2. Pencernaan. Merupakan proses terjadinya pemecahan zat atau senyawa bermolekul besar dan kompleks menjadi senyawa bermolekul lebih kecil, sederhana, larut dalam air dan dapat diangkut melalui membran dan dinding sel. Makanan cadangan utama pada biji yaitu pati, hemiselulosa, lemak, protein. Aaktivasi enzim dilakukan oleh air setelah terjadinya imbibisi. Enzim yang telah diaktivasi masuk ke dalam endosperm atau kotiledon untuk mencerna cadangan makanan3. Pengangkutan zat makanan. Hasil pencernaan diangkut dari jaringan penyimpanan makanan menuju titik-titik tumbuh pada embrionik axis, radicle dan plumulae. Biji belum punya jaringan pengangkut, sehingga pengangkutan dilakukan secara difusi atau osmosis dari satu sel hidup ke sel hidup lainnya4. Asimilasi. Merupakan tahapan terakhir dalam penggunaan cadangan makanan. Merupakan proses pembangunan kembali, misalnya protein yang sudah dirombak menjadi asam amino disusun kembali menjadi protein baru. Tenaga atau energi berasal dari proses pernapasan5. Pernafasan (Respirasi). Merupakan proses perombakan makanan (karbohidrat) menjadi senyawa lebih sederhana dengan membebaskan sejumlah tenaga. Pertama kali terjadi pada embrionik axis setelah cadangan habis baru beralih ke endosperm atau kotiledon. Aktivasi respirasi tertinggi adalah pada saat radicle menembus kulit.6. Pertumbuhan Ada dua bentuk pertumbuhan embrionik axis: Pembesaran sel-sel yang sudah ada, Pembentukan sel-sel yang baru pada titik-titik tumbuh Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Skema proses perkecambahan sebagai berikut :

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji yaitu sebagai berikut: 1. Faktor dalam a. Tingkat kemasakan benih Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna. b. Ukuran benih Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan. c. Dormansi Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai. d. Penghambat perkecambahan Menurut Kuswanto (1996), penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju respirasi. 2. Faktor Luar a. Air Perkembangan benih tidak akan dimulai apabila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80 sampai 90 persen ( Darjadi, dkk.1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55 persen (Kamil. 1979)b. Suhu Suhu optimal adalah suhu yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5 sd 35C (Sutopo, 2002). c. Oksigen Oksigen juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dimana pada Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan benih (Sutopo, 2002). d. Cahaya Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya berfariasi tergantung pada jenis tanaman (Sutopo, 2002). Adapun besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran (Kamil, 1979). e. Medium Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan (Sutopo, 2002).Kacang merah atau kacang jogo (kacang buncis tipe tegak) termasuk famili Leguminosa genus Phaseolus, dan spesies Vulgaris (Rachmawan, 2001). Kacang merah merupakan tanaman semak yang tegak dan ada yang merambat. Tinggi tanaman kacang merah sekitar 3,5 4,5 meter, warna biji bertotol-totol merah tua dan buahnya berbentuk polong memanjang, sedikit lebih panjang dibandingkan buncis. Jumlah biji kacang merah sekitar 2-3 biji dalam satupolongnya (Zebua, 2009).Struktur biji kacang merah pada umumnya kacang merah tidak mempunyai endosperma. cadangan makanan disimpan dalam kotiledon (daun embrio) pada saat berkecambah , plumula (ujung embrio) / ujung calon berkecambah diselubungi oleh koleorhiza . bagian batang pada kecambah diatas kotiledon disebut hipokotil.Kacang merah memiliki struktur kulit yang licin dan halus.Kacang merah kering merupakan sumber protein nabati, karbohidrat kompleks, serat, vitamin B, tiamin, kalsium, fosfor, dan zat besi. Kacang merah memiliki kandungan lemak dan natrium yang sangat rendah, mengandung sedikit lemak jenuh, serta bebas kolesterol Kandungan gizinya, dalam 100 gram kacang merah terdapat energi sebesar 336 kilokalori, protein 23,1 gram; karbohidrat 59,5 gram; lemak 1,7 gram; kalsium 80 miligram; fosfor 400 miligram; dan zat besi 5 miligram. Selain itu juga terdapat vitamin B1 0,6 miligram. Itu artinya, kacang merah memiliki kandungan karbohidrat kompleks yang lebih tinggi dari pada kandungan protein. Kacang merah mengandung lebih dari 50% dari protein globulin, 30% protein albumin dan 30% protein glutein dari total protein.Struktur biji kacang hijau terluar terdiri atas kulit, hilum, mikrofil, dan khalaza. Kulit biji (testa) merupakan karakter morfologi penting biji kacang hijau karena menentukan proses fisiologis embrio, sekaligus menjadi penutup dan pelindung embrio. Kulit biji berperan dalam menentukan derajat dan kecepatan imbibisi air. Jumlah air yang diserap benih menentukan kecepatan berkecambah benih. Hsu et al. (1983) melaporkan suhu, konsentrasi larutan, dan kadar air awal benih berkorelasi kuat dengan laju penyerapan air maksimal pada biji kacang- kacangan dan jaringan palisade menjadi faktor penentu permeabilitas kulit biji. Sifat lain yang turut menentukan mutu biji kacang hijau adalah ukuran dan warna biji. Ukuran biji berhubungan erat dengan kandungan biji keras. Varietas kacang hijau yang berbiji kecil mengandung biji keras lebih tinggi daripada varietas berbiji besar, makin besar ukuran biji maka kandungan biji keras makin. Oleh karena itu, kacang hijau yang berbiji besar dan biji berwarna hijau kusam lebih disenangi petani karena rasanya lebih enak (pulen) serta harga jualnya lebih tinggi daripada yang berbiji kecil. Karakterisasi terhadap kacang hijau berbiji besar 7073 g/1.000 biji (Hakim, 2008).Warna biji merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi mutu bijikacang hijau. Kacang hijau yang berwarna hijau kusam mempunyai mutu lebihkarena rasanya lebih enak (pulen) dan bila dibuat bubur lebih tahan basidaripada yang berwarna hijau mengkilat (Hakim, 2008).Pada perbanyakan secara generatif, masalah utama yang dihadapi adalah lamanya waktu yang diperlukan biji untuk berkecambah. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain keadaan biji (keadaan khusus yang menghambat perkecambahan biji kacang hijau adalah tidak mempunyai endosperm sebagai cadangan makanan pada awal perkecambahan biji), permeabilitas kulit biji, dan tersedianya air di sekeliling biji (Abidin, 1991)Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapi ada pula yang bundar atau bulat agak pipih. Tanaman kedelai mempunyai akar tunggang yang membentuk akar-akar cabang yang tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Biji kedelai terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu kulit biji dan janin (embrio). Pada kulit biji terdapat bagian yang disebut pusar (hilum) yang berwarna coklat, hitam, atau putih. Pada ujung hilum terdapat mikrofil, berupa lubang kecil yang terbentuk pada saat proses pembentukan biji. Warna kulit biji bervariasi, mulai dari kuning, hijau, coklat, hitam, atau kombinasi campuran dari warna-warna tersebut. Biji kedelai tidak mengalami masa dormansi sehingga setelah proses pembijian selesai, biji kedelai dapat langsung ditanam. Namun demikian, biji tersebut harus mempunyai kadar air berkisar 12-13%.Kulit biji kedelai hitam sendiri cukup impermiabel dikarenakan beberapa faktor antara lain karena keberadaan kutikula berlilin, konsentrasi kalsium yang inggi dan fosfor yang rendah pada kulit biji, adanya lapisan fenolik, tingginya kadar xilosa, sedikitnya pori pada kulit biji, adanya substansi berlilin antar sel- sel palisade kulit biji, dan lignifikasi pada sel- sel palisade tersebut. Menurut Futura et. al., (2002) bahwa kedelai berkulit hitam mengandung banyak anthosianin. Anthosianin tinggi mempunyai aktivitas antioksidan besar, juga mempunyai kandungan 1,1 diphenyl 2- picrylhydrazyl (DPPH) dan O2. Ekstrak kedelai hitam yang direbus mengandung liver tert-butyl hydroperoxide (t-BuOO) yang tinggi dan mencegah kuat generasi dari thiobarbituric acid-reactive substances (TBARS) yang menyebabkan gangguan pada hati. Sehingga kedelai berkulit hitam penting untuk diperhatikan karena merupakan bahan dari produk makanan sehat dari kedelai. Wang dan Prior (1997) dan Tsuda et. al., (1994) cit. Futura et. al., (2002) menerangkan bahwa pigment anthosianin mempunyai antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan tocoperol.Kacang tunggak (Vigna unguiculata {L.} Walp) termasuk keluarga Leguminoceae. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Afrika Barat yang didasarkan atas keberadaan tetuanya, baik yang dibudidayakan maupun jenis liar. Kacang tunggak tergolong tanaman bahan pangan, pakan, dan bahan baku industri. Potensi hasil biji kacang tunggak cukup tinggi yaitu dapat mencapai 1,5 2 ton/ha tergantung varietas, lokasi, musim tanam, dan budidaya yang diterapkan. Kacang tolo mempunyai kulit ari yang relatif sulit dipisahkandibandingkan dengan kulit ari kacang kedelai sehingga diperlukanpengupasan kulit ari secara kering dengan menggunakan mesinkulit kedelai dan secara basah dengan perendaman dalamair selama semalam. Buah kacang berbentuk polong dengan panjang rata-rata antara 7.5-45 cm. Biji kacang tunggak berbentuk bulat panjang, berwarna merah tua, hitam atau putih dan mempunyai kelekukan di tengahnya ( Andarwulan dan Hariyadi, 2005 ). Kacang tunggak kaya akan asam amino lisin tetapi defisiensi akan asam amino sulfur. Kandunganprotein kacang tolo relatif tinggi, yaitu sebesar 22,9 g/100 g danmengandung lisin yang tinggi, sehingga dapat menyempurnakankualitas protein biji-bijian (Sadikin Somaatmadja, 1990).Biji kacang tanah terdapat di dalan polong. Kulit luar (testa) bertekstur keras, berfungsi untuk melindungi biji yang berada di dalamnya. Biji terdiri atas lembaga dan keeping biji, diliputi oleh kulit ari tipis (tegmen). Biji berbentuk bulat agak lonjong atau bulat dengan ujung agak datar karena berhimpitan dengan butir biji yang lain selagi di dalam polong (Adisarwanto dan Wudianto, 1998).Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental yang minimal mengandung 50% sakarosa. (Ansel et al., 2005).Bahan utama sirup adalah gula pasir atau sukrosa dan air. Gula pasir atau sukrosa memiliki fungsi utama sebagai pemanis. Sedangkan fungsi lainnya adalah sebagai pengawet dan penambah citarasa karena karena bersifat mengental. Pada pembuatan sirup dibutuhkan suatu bahan pengikat yang juga berfungsi sebagai pembentuk dan pemantap sistem dipersi homogen, agar tidak terjadi pengendapan pada waktu penyimpanan. Bahan tambahan yang biasa digunakan adalah Carboxy Methil Cellulosa (CMC). (Zatnika & Bachtiar, 1996)Siklamat biasanya tersedia dalam bentuk garam natrium dari asam siklamat dengan rumus molekul C6H11NHSO3NA. Nama lain dari siklamat adalah natrium sikloheksisulfamat atau natrium siklamat. Dalam perdagangan, siklamat dikenal dengan mana assugin, sucaryl atau sucrosa. Tidak seperti sakarin, siklamat berasa manis tanpa rasa ikutan yang kurang disenangi. Garam siklamat berbentuk kristal putih, tidak berbau, tidak berwarna, dan mudah larut dalam air dan etanol, intensitas kemanisannya 30 kali kemanisan sukrosa. Kombinasi penggunaan siklamat dengan sakarin bersifat sinergis, dan kompatibel dengan pencitarasa dan sebagai bahan pengawet ( Indri Ambarsari. 2008)(Cahaya Wisnu, 2005 :67-77)Siklamat dalam bentuk garam Ca- dan Na- siklamat mempunyai kelarutan tinggi dalam air (1 g/4-5 ml), bersifat elektrolit kuat, terionisasi kuat dalam larutan encer, serta mempunyai Sedikit kapasitas bufer (Furia, 1980). Dalam industri pangan natrium siklamat dipakai sebagai bahan pemanis yang tidak mempunyai nilai gizi (non-nutritive) untuk pengganti sukrosa. Siklamat bersifat tahan panas, sehingga sering digunakan dalam pangan yang diproses dalam suhu tinggi misalnya pangan dalam kaleng. Meskipun memiliki tingkat kemanisan yang tinggi dan rasanya enak (tanpa rasa pahit) tetapi siklamat dapat membahayakan kesehatan.Asam askorbat atau vitamin C merupakan salah satu bentuk antioksidan yang secara alami terdapat pada tumbuhan. Askorbat merupakan senyawa metabolit utama pada tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai antioksidan, yang melindungi tanaman dari kerusakan oksidatif yang dihasilkan dari metabolisme aerobik, fotosintesis dan berbagai polutan. Askorbat juga merupakan kofaktor untuk beberapa enzim hidroksilase (misalnya prolyl hidroksilase) dan violaxanthin de-epoxidase. Askorbat berada di dinding sel di mana ia adalah baris pertama pertahanan terhadap ozon (Smirnoff, 1996).Asam askorbat mempunyai peranan penting dalam perkecambahan dan pertumbuhan tanaman. Khan et al. (2006) menyatakan bahwa aplikasi asam askorbat dapat membantu meningkatkan perkecambahan dengan menetralisasi radikal superoksida atau oksigen tunggal.Asam askorbat, berlimpah, molekulnya relatif kecil dalam tanaman, memainkan peran ganda dalam pertumbuhan tanaman, berfungsi dalam pembelahan sel, perluasan dinding sel, dan proses perkembangan lainnya. Selain itu, asam askorbat adalah substansi kunci dalam jaringan antioksidan tanaman, termasuk glutathione dan antioksidan enzimatik yang mendetoksi H2O2 untuk menangkal radikal oksigen yang dihasilkan oleh reaksi Mehler dan fotorespirasi (Noctor dan Foyer, 1998 dalam Behairy, 2012)Air adalah kebutuhan dasar untuk perkecambahan benih yang penting untuk aktivasi enzim, perombakan cadangan makanan, translokasi dan penggunaan cadangan makanan. Proses pertama yang terjadi selama perkecambahan adalah pengambilan air melalui proses imbibisi. Copeland & Mc.Donald (2001) menyatakan imbibisi tergantung pada komposisi kimia benih,permeabilitas kulit benih dan ketersediaan air.

V. HIPOTESISJenis larutan dan jenis biji berpengaruh terhadap panjang radikula

VI. Alat dan BahanAlat :1. Gelas ukur( 1 buah )2. Pinset( 2 buah )3. Kertas label (secukupnya)4. Cawan Petri (6 buah)5. Mistar (1 buah)Bahan :1. larutan gula ( 100 ml )2. larutan MSG( 100 ml )3. larutan garam( 100 ml )4. larutan KCL( 100 ml )5. larutan sakarin( 100 ml )6. larutan KNO3( 100 ml )7. larutan sirup( 100 ml )8. larutan NPK( 100 ml )9. larutan vanili( 100 ml )10. larutan ZA( 100 ml )11. larutan vitamin C( 100 ml )12. biji kacang kedelai putih( 6 biji )13. biji kacang hijau( 6 biji )14. biji kacang tanah( 6 biji )15. biji kacang merah( 6 biji )16. biji kacang kedelai hitam( 6 biji )17. biji kacang tolo( 6 biji)18. air kran(100 ml)19. kapas( 9 gram)VII. CARA KERJA1. Mencatat panjang radikula masing-masing biji pada H0, dihitung dari panjang radikula pertama setelah dinyatakan patah dormansi.2. Menghitung pertambahan panjang radikula setiap hari selama 1 minggu pada masing-masing biji.3. Merata-rata pertambahan panjang radikula di setiap harinya pada jenis biji yang sama.4. Mencatat hasil perhitungan pertambahan panjang radikula di setiap harinya pada tabel pengamatan kelompok.5. Memasukkan data pada setiap kelompok di tabel data angkatan.6. Menganalisis data yang diperoleh

VIII. DATA PENGAMATANJenis larutanPertambahan panjang radikula dalam 7 hari (mm)

Kacang kedelai putih

Hari ke

1234567

Larutan Sirup 1%4,215,46,241,41,81,33

Larutan Vitamin C 1%8,520,173,837,781818,331,67

Kontrol1226.517.1722.832290

Jenis larutanPertambahan panjang radikula dalam 7 hari (mm)

Kacang hijau

Hari ke

1234567

Larutan Sirup 1%4145,86,53,72,80

Larutan Vitamin C 1%11,413,49,57,55,56,673,17

Kontrol21,6722,52527000

Jenis larutanPertambahan panjang radikula dalam 7 hari (mm)

Kacang tanah

Hari ke

1234567

Larutan Sirup1%22,32,744,37,52

Larutan Vitamin C 1%3,511,57,51134,251,33

Kontrol5,514,6711,83155,75103,3

Jenis larutanPertambahan panjang radikula dalam 7 hari (mm)

Kacang merah

Hari ke

1234567

Larutan Sirup 1%012,754,55,54,253,215,6

Larutan Vitamin C 1%07,7621,1711,59,678,172,67

Kontrol616,3316,335,673,97,30

Jenis larutanPertambahan panjang radikula dalam 7 hari (mm)

Kacang kedelai hitam

Hari ke

1234567

Larutan Sirup 1%0000000

Larutan Vitamin C1%0000000

Kontrol0000000

Jenis larutanPertambahan panjang radikula dalam 7 hari (mm)

Kacang tolo

Hari ke

1234567

Larutan Sirup 1%2,764,26,72,21,85

Larutan Vitamin C 1%9,411,649,8312,87,62,33

Kontrol17,432,816,1720,17000

Grafik

Biji Kedelai Putih

Biji Kacang Hijau

Biji kacang tanah

Biji Kacang Merah

Biji Kedelai Hitam

Biji Kacang Tolo

IX. PEMBAHASANPraktikum yang berjudul Pengaruh Perbedaan Jenis Larutan sebagai Faktor Eksternal dan Jenis Biji sebagai Faktor Internal Terhadap Panjang Radikula ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis larutan sebagai faktor eksternal dan jenis biji sebagai faktor internal terhadap panjang radikula.Prinsip kerja dari praktikum ini adalah mencatat panjang radikula masing-masing biji pada H0, dihitung dari panjang radikula pertama setelah dinyatakan patah dormansi, dilanjutkan dengan menghitung pertambahan panjang radikula setiap hari selama 1 minggu pada masing-masing biji. Setelah mendapat data, membuat rata-rata pertambahan panjang radikula di setiap hari pada jenis biji yang sama. Mencatat hasil perhitungan pertambahan panjang radikula di setiap harinya pada tabel pengamatan kelompok.Menganalisis data yang diperoleh.Berdasarkan data pengamatan yang telah ditransformasikan ke grafik menunjukkan bahwa :a. Kacang HijauPerkecambahan kacang hijau pada perlakuan dengan pemberian larutan vitamin C 1% pada hari pertama panjang radikulanya sebesar 11,4 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 13,4 mm, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 9,5 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 7,5 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 5,5 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 6,67 mm, dan hari ketujuh radikulanya bertambah panjang sebesar 3,17 mm.Perkecambahan kacang hijau pada perlakuan dengan pemberian larutan sirup 1% pada hari pertama panjang radikulanya sebesar 4 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 14 mm,, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 5,8 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 6,5 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 3,7 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 2,8 mm, dan hari ketujuh radikulanya radikulanya sudah tidak dapat dihitung karena sudah tumbuh plumula. Kecambah yang sudah muncul plumulanya dinamakan tanaman baru/ individu baru dan tidak termasuk perhitungan dalam praktikum yang dilaksanakan.Perkecambahan kacang hijau pada perlakuan dengan pemberian air kran pada hari pertama radikulanya tumbuh sepanjang 21,67 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 22,5 mm, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 25 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 27 mm, hari kelima sampai hari ketujuh radikulanya sudah tidak dapat dihitung karena sudah tumbuh plumula. Kecambah yang sudah muncul plumulanya dinamakan tanaman baru/ individu baru dan tidak termasuk perhitungan dalam praktikum yang dilaksanakan.b. Kacang TanahPerkecambahan kacang tanah pada perlakuan dengan pemberian larutan sirup 1% pada hari pertama panjang radikulanya sebesar 2 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 2,3 mm,, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 2,7 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 4 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 4,3 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 7,5 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 2 mm.Perkecambahan kacang tanah pada perlakuan dengan pemberian larutan vitamin C 1% pada hari pertama panjang radikulanya sebesar 3,5 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 11,5 mm,hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 7,5 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 1 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 13 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 4,25 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 1,33 mm.Perkecambahan kacang tanah pada perlakuan dengan pemberian air kran pada hari pertama radikulanya tumbuh sepanjang 5,5 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 14,67 mm, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 11,83 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 15 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 5,75 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 10 mm dan hari ketujuh radikulanya bertambah panjang sebesar 3,3 mm.

c. Kacang MerahPerkecambahan kacang merah pada perlakuan dengan pemberian larutan sirup 1% pada hari pertama biji kacang merah belum berkecambah , hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 12,75 mm,, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 4,5 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 5,5 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 4,25 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 3,2 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 15,6 mm.Perkecambahan kacang merah pada perlakuan dengan pemberian larutan vitamin C 1% pada hari pertama biji kacang merah belum berkecambah, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 7,76 mm,hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar21,17 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 11,5 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 9,67 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 8,17 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 2,67 mm.Perkecambahan kacang merah pada perlakuan dengan pemberian air kran pada hari pertama radikulanya tumbuh sepanjang 6 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 16,33 mm, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 11,83 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 16,33 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 5,67 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 7,3 mm dan hari ketujuh radikulanya sudah tidak dapat dihitung karena sudah tumbuh plumula. Kecambah yang sudah muncul plumulanya dinamakan tanaman baru/ individu baru dan tidak termasuk perhitungan dalam praktikum yang dilaksanakan.

d. Kacang Kedelai PutihPerkecambahan kacang kedelai putih pada perlakuan dengan pemberian larutan sirup 1% pada hari pertama radikulanya bertambah panjang sebesar 4,2 mm , hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 15,4 mm,, hari ketiga radikulanya bertambah panjang 6,2 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 4 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 1,4 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 1,8 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 1,33 mm.Perkecambahan kacang kedelai putih pada perlakuan dengan pemberian larutan vitamin C 1% pada hari pertama radikulanya bertambah panjang sebesar 8,5 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 20,17 mm,hari ketiga radikulanya bertambah panjangsebesar3,83 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 7,78 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 18 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 18,33 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 1,67 mm.Perkecambahan kacang kedelai putih pada perlakuan dengan pemberian air kran pada hari pertama radikulanya tumbuh sepanjang 12 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 26,5 mm, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 17,17 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 22,83 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 2 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 29 mm dan hari ketujuh radikulanya sudah tidak dapat dihitung karena sudah tumbuh plumula. Kecambah yang sudah muncul plumulanya dinamakan tanaman baru/ individu baru dan tidak termasuk perhitungan dalam praktikum yang dilaksanakan.

e. Kacang ToloPerkecambahan kacang tolo pada perlakuan dengan pemberian larutan sirup 1% pada hari pertama radikulanya bertambah panjang sebesar 2,7 mm , hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 6 mm,, hari ketiga radikulanya bertambah panjang 4,2 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 6,7 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 2,2 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 1,8 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 5 mm.Perkecambahan kacang tolo pada perlakuan dengan pemberian larutan vitamin C 1% pada hari pertama radikulanya bertambah panjang sebesar 9,4 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 11,6 mm,hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 4 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 9,83 mm, hari kelima radikulanya bertambah panjang sebesar 12,8 mm, hari keenam radikulanya bertambah panjang sebesar 7,6 mm, dan hari ketujuh radikulannya bertambah panjang sebesar 2,33 mm.Perkecambahan kacang tolo pada perlakuan dengan pemberian air kran pada hari pertama radikulanya tumbuh sepanjang 17,4 mm, hari kedua radikulanya bertambah panjang sebesar 32,8 mm, hari ketiga radikulanya bertambah panjang sebesar 16,17 mm, hari keempat radikulanya bertambah panjang sebesar 20,17 mm, hari kelima sampai hari ketujuh radikulanya sudah tidak dapat dihitung karena sudah tumbuh plumula. Kecambah yang sudah muncul plumulanya dinamakan tanaman baru/ individu baru dan tidak termasuk perhitungan dalam praktikum yang dilaksanakan.f. Kacang Kedelai HitamPada biji kacang kedelai hitam baik yang diberi perlakuan dengan larutan sirup 1% ,larutan vitamin C 1% dan air kran biji tidak mengalami perkecambahan.Analisis hasil pengamatan dari data diatas adalah sebagai berikut :Secara umum faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji ada dua yaitu faktor eksternal dan faktor internal. a. Faktor eksternalDalam percobaan ini faktor eksternal yang mempengaruhi perkecambahan biji adalah jenis larutan. Larutan yang digunakan dalam percobaan ini berupa larutan sirup 1% dan larutan vitamin C 1%. Sirup merupakanlarutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental yang minimal mengandung 50% sakarosa. (Ansel et al., 2005).Bahan utama sirup adalah gula pasir atau sukrosa dan air. Gula pasir atau sukrosa memiliki fungsi utama sebagai pemanis. Kandungan dalam sirup terdapat sakarosa, sakarosa merupaka gula majemuk yang terdiri dari gabungan gula sederhana (glukosa dan fruktosa). Gula memiliki kemampuan menghambat perkecambahan pada biji, hal ini disebabkan karena ukuran molekul gula besar dimana berkaitan dengan daya absorbsi air, semakin tinggi konsentrasi larutan gula maka daya absorpsi airnya semakin kecil atau rendah. Larutan vitamin C terdiri dari asam askorbat, asam askrobat senyawa metabolit utama pada tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai antioksidan, yang melindungi tanaman dari kerusakan oksidatif yang dihasilkan dari metabolisme aerobik, fotosintesis dan berbagai polutan. Askorbat juga merupakan kofaktor untuk beberapa enzim hidroksilase (misalnya prolyl hidroksilase) dan violaxanthin de-epoxidase. Asam askorbat mempunyai peranan penting dalam perkecambahan dan pertumbuhan tanaman. Khan et al. (2006) menyatakan bahwa aplikasi asam askorbat dapat membantu meningkatkan perkecambahan dengan menetralisasi radikal superoksida atau oksigen tunggal.Faktor eksternal lain yang mempengaruhi perkecambahan biji dalam percobaan ini adalah kelembaban, cahaya dan oksigen. Dalam percobaan ini biji untuk perkecambahan disimpan di lemari yang gelap dan tertutup sehingga mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk ke dalam tempat penyimpanan biji, hal tersebut juga mempengaruhi kelembaban di dalam tempat penyimpanan biji terlihat dari beberapa biji yang ditumbuhi oleh jamur. Mikroorganisme jamur pada umumnya tumbuh pada tempat yang memilki kelembaban rendah. Banyak sedikitnya oksigen dipengaruhi oleh kelembaban dan intensitas cahaya.b. Faktor internalFaktor internal dalam percobaan ini berupa jenis biji, setiap biji memiliki masa dormansi yang berbeda tergantung pada tingkat kematangan biji tersebut. Selain masa dormasi struktur biji juga mempengaruhi perkecambahan biji, misalnya pada biji kedelai hitam dan kacang merah memiliki kulit biji yang keras tersusun atas empat lapisan lignin sehingga diperlukan perlakukan khusus untuk mematahkan masa dormansi biji dan melanjutkan perkembangan selanjutnya. Pada percobaan ini selain biji kedelai hitam juga menggunakan biji kacang hijau, kedelai putih, kacang merah, kacang tanah dan kacang tolo. Untuk biji kacang hijau, kacang tolo dan kacang kedelai putih cenderung memiliki lapisan kulit ari yang lunak apabila direndam dalam air dalam waktu yang singkat, lapisan kulit ari mudah mengelupas hal ini disebabkan karena proses imbibisi yang cepat dibanding biji yang memiliki struktur lapisan kulit ari yang keras.Untuk biji kacang tanah cenderung memiliki masa dormansi yang lama, hal ini disebabkan karena kandungan lemak lebih banyak di banding dengan kandungan proteinnya. Peran protein dalam proses dormansi sangat penting, karena mempengaruhi daya absorbsi air yang sangat penting dalam proses imbibisi, dimana proses imbibisi merupakan salah satu tahap dalam perkecambahan.X. KESIMPULAN

XI. ReferensiAbidin, Z. 1991. Dasar Pengetahuan Ilmu Tanaman. Bandung: Angkasa Adisarwanto, T. dan R. Wudianto, 1999. Meningkatkan Hasil Panen Kedelai di Lahan Sawah Kering dan Pasang Surut. Jakarta :Penebar SwadayaAshari, S. 2006. Hortikultura Aspek Budidaya. UI press. Jakarta. 490 pp.Bewley, J.D dan M. Black. 1978.Physiology and biochemistry ofseeds in relation to germinate.Berlin Heidelberg. New YorkDarjadi, dkk., 1972. Sendi-Sendi Silvikultur. Jakarta: Dirjen KehutananSutopo, L. 2002. Teknologi Benih. CV.Rajawali. Jakarta. 237pp.Kamil, J. 1979. Teknologi benih. Angkasa Raya. Padang.Hakim, L.,2008. Konservasi dan Pemanfaatan Sumberdaya Kacang Hijau. Jurnal Penelitian. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Tanaman Pangan BogorKuswanto, H. 1996. Dasar- dasar teknologi, produksi, dan sertifikasi benih. Andi Offset. YogyakartaSadjad, S. 1975. Proses Metabolisme Perkecambahan Benih dalam dasar- dasar Teknologi benih. Capita selekta. Departemen AgronomiBuku. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 138 pSchmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Suptropis Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Departemen Kehutanan. Buku Gramedia Jakarta. 185 pSomaatmadja, S., M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S.O. Manurung dan Yuswadi, 1985. Morfologi Tanaman Kedelai. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor

g. Lampiran 1 Lembar laporan sementara 1 Lembar perencanaan 1 lembar dokumentasi Jurnal yang mendukung

Surakarta, 08 November 2014Praktikan

Yunita Nur A.NIM.K4132078

of 44/44
LAPORAN RESMI PRAKTIKUMFISIOLOGI TUMBUHAN DIFUSI “Keterkaitan Faktor Eksternal dan Faktor Internal” Disusun oleh: Nama : Tutik Wulandari NIM : K4312065 Kelas : B Kelompok : 7 PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
Embed Size (px)
Recommended