Home > Documents > FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ...lib.unnes.ac.id/30174/1/1511410038.pdfi FAKTOR - FAKTOR YANG...

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ...lib.unnes.ac.id/30174/1/1511410038.pdfi FAKTOR - FAKTOR YANG...

Date post: 20-Jul-2019
Category:
Author: vodang
View: 226 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 45 /45
i FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KENAKALAN REMAJA (TAWURAN PELAJAR) DI KOTA SEMARANG SKRIPSI diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Oleh Firma Bekti Nugrahaini 1511410038 JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2017
Transcript
  • i

    FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

    KENAKALAN REMAJA (TAWURAN PELAJAR)

    DI KOTA SEMARANG

    SKRIPSI

    diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I

    untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi

    Oleh

    Firma Bekti Nugrahaini

    1511410038

    JURUSAN PSIKOLOGI

    FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

    2017

  • ii

    ii

  • iii

    MOTTO DAN PERUNTUKAN

    Motto:

    Tak perlu menyesali hal yang sudah terlewat, lakukan yang terbaik sekarang

    (Penulis)

    PERUNTUKAN :

    Karya sederhana inipenulis persembahkan kepada

    Bapak Kurdi dan Ibu Maryatun

  • iv

    MOTTO DAN PERUNTUKAN

    Motto:

    Tak perlu menyesali hal yang sudah terlewat, lakukan yang terbaik sekarang

    (Penulis)

    PERUNTUKAN :

    Karya sederhana ini penulis persembahkan kepada

    Bapak Kurdi dan Ibu Maryatun

  • v

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat ALLAH SWT atas limpahan rahmatnya sehingga

    skripsi yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kenakalan

    Remaja (Tawuran Pelajar) Di Kota Semarang dapat penulis selesaikan

    dengan baik.

    Penyusunan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk memperoleh gelar

    Sarjana Psikologi di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

    Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai

    pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

    1. Prof. Dr. Fakhruddin, M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

    Negeri Semarang selaku Ketua Panitia Sidang Skripsi.

    2. Drs. Sugeng Hariyadi, S.Psi., M.S Ketua Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu

    Pendidikan Universitas Negeri Semarang sekaligus sekretaris dalam Sidang

    Skripsi.

    3. Dr Sri Maryati Deliana, M.Si. sebagai dosen penguji III sekaligus

    pembimbing utama yang dengan sabar telah membimbing dan memberikan

    petunjuk serta arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan.

    4. Andromeda, S. Psi., M.Si sebagai penguji I dalam penulisan penelitian ini

    yang telah memberikan masukan dan penilaian.

    5. Amri Hana Muhammad S.Psi., M.A sebagai penguji II dalam penulisan

    penelitian ini yang telah memberikan masukan dan penilaian.

  • vi

    6. Bapak Kurdi, ibu Maryatun, Fatimah Wulandari yang telah memberikan

    motivasi, serta doa kepada penulis. Selesainya skripsi ini adalah sebuah

    hadiah kecil dari penulis untuk kalian.

    7. Seluruh staf pengajar Jurusan Psikologi yang telah memberikan ilmu dan

    pengalaman selama proses kuliah.

    8. Sahabat-sahabat penulis yang telah memberikan dorongan semangat dan

    membantu penulis (Anggi, Nita, Fuad, Erna, Riris, Hafzah, Annisa, Renti

    Riko) yang terus memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi.

    9. Teman-teman Psikologi Universitas Negeri Semarang Angkatan 2010 terima

    kasih atas kebersamaan kita selama ini, tetaplah berjuang kawan.

    10. Semua pihak yang turut membantu penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat

    penulis sebutkan satu per satu.

    Semoga segala kebaikan dan keikhlasan mendapat balasan dan rahmat Allah

    SWT. Akhir kata semoga karya ini bermanfaat.

    Semarang, 16 Juni 2017

    Penulis

  • vii

    ABSTRAK

    Nugrahaini, Firma Bekti. 2017. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kenakalan

    Remaja (Tawuran Pelajar) Di Kota Semarang. Skripsi. Jurusan Psikologi Fakultas

    Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Dosen Pembimbing Utama Dr Sri

    Maryati Deliana, M.Si

    Remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak kemasa

    dewasa. Berkaitan dengan masa ini, remaja mengalami perkembangan untuk

    mencapai kematangan fisik, mental, sosial maupun emosional. Remaja yang tidak

    mendapatkan pendampingan akan kebingungan dan mengambil keputusan sendiri

    tak jarang banyak remaja menampilkan perilaku menyimpang. Salah satu bentuk

    perilaku menyimpang adalah melakukan kenakalan (juvenile). Kenakalan yang

    dilakukan oleh remaja bisa dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal

    pada remaja. Kenakalan yang masih marak dan banyak ditemui di kota besar

    termasuk Kota Semarang adalah tawuran antar pelajar. Penelitian ini bertujuan

    untuk mengetahui faktor yang paling berkontribusi dalam tingginya kasus tawuran

    di Kota Semarang.

    Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif yang

    dilaksanakan di Kota Semarang, dengan sampel penelitian berjumlah 40 orang,

    dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian diambil

    menggunakan skala kenakalan remaja yang disusun berdasarkan faktor-faktor

    kenakalan remaja yaitu rational choice, social disorganization, strain, differential

    association, labelling, dan male phenomenon. Skala terdiri dari 27 item dengan

    koefisien validitas antara 0,325-0,902 dan koefisian reliabilitas sebesar 0.941.

    Hasil Penelitian ini menunjukkan , sebanyak 45% responden menyatakan strain

    merupakan faktor yang paling berkontribusi dalam maraknya kasus tawuran di

    Kota Semarang. Strain (ketegangan) menjadi faktor yang banyak berkontribusi

    karena pada masa remaja terjadi banyak perkembangan secara biologis, psikologis

    maupun tuntutan dari lingkungan sosial, sehingga remaja mengalami banyak

    tekanan.

    Kata kunci: remaja, faktor-faktor kenakalan, tawuran pelajar

  • viii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

    PERNYATAAN .............................................................................................. ii

    PENGESAHAN .............................................................................................. iii

    MOTTO DAN PERUNTUKAN ..................................................................... iv

    KATA PENGANTAR .................................................................................... v

    ABSTRAK ...................................................................................................... vii

    DAFTAR ISI ................................................................................................... viii

    DAFTAR TABEL ........................................................................................... xii

    DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiv

    DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xv

    BAB

    1 PENDAHULUAN ............................................................................ 1

    1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1

    1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 7

    1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................. 7

    1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................ 7

    2 LANDASAN TEORI ........................................................................ 8

    2.1 Remaja .............................................................................................. 8

    2.1.1 Definisi Remaja ................................................................................ 8

    2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja ........................................................... 9

    2.1.3 Perkembangan Pada Masa Remaja ................................................... 10

    2.1.3.1 Perkembangan Fisik .......................................................................... 10

  • ix

    2.1.3.2 Perkembangan Psikologis ................................................................. 11

    2.1.4 Perilaku Menyimpang Pada Remaja ................................................. 15

    2.2 Kenakalan Remaja ............................................................................ 16

    2.2.1 Definisi Kenakalan Remaja .............................................................. 16

    2.2.2 Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja ................................................... 17

    2.2.2.1 Delinkuensi Telisolir ......................................................................... 17

    2.2.2.2 Delinkuensi neurotik ......................................................................... 18

    2.2.2.3 Delinkuensi psikopatik ...................................................................... 19

    2.2.2.4 Delinkuensi Defek Mental ................................................................ 20

    2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja .................. 20

    2.2.4 Jenis-Jenis Kenakalan Remaja .......................................................... 23

    2.3 Kerangka Berfikir ............................................................................. 24

    3 METODE PENELITIAN .................................................................. 25

    3.1 Jenis Penelitian .................................................................................. 25

    3.2 Variabel Penelitian ............................................................................ 25

    3.3 Definisi Operasional ......................................................................... 26

    3.4 Populasi Dan Sample ........................................................................ 26

    3.4.1 Populasi ............................................................................................. 26

    3.4.2 Sample ............................................................................................... 27

    3.5 Metode Pengumpulan Data ............................................................... 28

    3.6 Validitas Dan Reliabilitas ................................................................. 29

    3.6.1 Validitas ............................................................................................ 29

    3.6.2 Reliabilitas ........................................................................................ 30

  • x

    3.7 Metode Analisis Data ........................................................................ 31

    4 HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 32

    4.1 Persiapan Penelitian .......................................................................... 32

    4.1.1 Orientasi Kancah Penelitian .............................................................. 32

    4.1.2 Penentuan Subjek Penelitian ............................................................. 33

    4.1.3 Penyusunan Instrumen ...................................................................... 33

    4.2 Pelaksanaan Penelitian ...................................................................... 34

    4.2.1 Pengumpulan Data ............................................................................ 34

    4.2.2 Pelaksanaan Skoring ......................................................................... 34

    4.3 Deskripsi Data Hasil Penelitian ........................................................ 35

    4.3.1 Validitas Instrument .......................................................................... 35

    4.3.2 Reliabilitas Instrumen ....................................................................... 37

    4.4 Analisis Deskriptif ............................................................................ 38

    4.4.1 Gambaran Umum Kenakalan Remaja Di Kota Semarang ................ 39

    4.4.2 Gambaran Kenakalan Remaja Berdasarkan Tiap Faktor .................. 41

    4.4.2.1 Faktor Rational Choice ..................................................................... 41

    4.4.2.2 Faktor Social Disorganization .......................................................... 44

    4.4.2.3 Faktor Strain ..................................................................................... 46

    4.4.2.4 Faktor Differential Assosiation ......................................................... 48

    4.4.2.5 Faktor Labelling ................................................................................ 51

    4.4.2.6 Faktor Male Phenomenon ................................................................. 53

    4.4.3 Perbedaan Tingkat Kenakalan Remaja Di Kota Semarang

    Berdasarkan Tiap Faktor ................................................................... 55

  • xi

    4.5 Pembahasan ....................................................................................... 56

    5 PENUTUP ......................................................................................... 61

    5.1 Simpulan ........................................................................................... 61

    5.2 Saran ................................................................................................. 61

    DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 63

    LAMPIRAN .................................................................................................... 67

  • xii

    DAFTAR TABEL

    Tabel

    1.1 : Data Komisi Perlindungan Anak ......................................................... 3

    3.1 : Kriteria Dan Nilai Jawaban Skala Kenakalan Remaja ........................ 28

    3.2 : Blue Print Skala Kenakalan Remaja ................................................... 29

    4.1 : Sebaran Item Pada Skala Faktor-Faktor Kenakalan Remaja ............... 36

    4.2 : Sebaran Item Valid Pada Skala Faktor-Faktor Kenakalan Remaja ..... 37

    4.3 : Interpretasi Nilai Reliabilitas ............................................................... 38

    4.4 : Penggolongan Kriteria Analisis Berdasarkan Mean Hipotetik ........... 38

    4.5 : Descriptive Statistics ............................................................................ 39

    4.6 : Distribusi Frekuensi Kenakalan Remaja Di Kota Semarang................ 40

    4.7 : Descriptive Statistics ............................................................................ 42

    4.8 : Distribusi Frekuensi Kenakalan Remaja Berdasarkan Faktor

    Rational Choice ................................................................................... 43

    4.9 : Descriptive Statistics ........................................................................... 44

    4.10 : Distribusi Frekuensi Kenakalan Remaja Berdasarkan Faktor Social

    Disorganization ................................................................................... 45

    4.11 : Descriptive Statistics ............................................................................ 46

    4.12 : Distribusi Frekuensi Kenakalan Remaja Berdasarkan Faktor Strain .. 47

    4.13 : Descriptive Statistics ............................................................................ 49

    4.14 : Distribusi Frekuensi Kenakalan Remaja Berdasarkan Faktor

    Differentian Association ...................................................................... 50

    4.15 : Descriptive Statistics ............................................................................ 51

  • xiii

    4.16 : Distribusi Frekuensi Kenakalan Remaja Berdasarkan Faktor

    Labelling .............................................................................................. 52

    4.17 : Descriptive Statistics ........................................................................... 53

    4.18 : Distribusi Frekuensi Kenakalan Remaja Berdasarkan Faktor Male

    Phenomenon ........................................................................................ 54

    4.19 : Ringkasan Deskripsi Faktor-Faktor Kenakalan Remaja ..................... 55

  • xiv

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar

    2.1 : Kerangka Berfikir Kenakalan Pada Remaja ........................................ 24

    4.1 : Diagram Gambaran Umum Kenakalan Remaja .................................. 41

    4.2 : Diagram Gambaran Faktor Kenakalan Remaja (Rational Choice) ..... 43

    4.3 : Diagram Gambaran Faktor Kenakalan Remaja (Social Disorganization) .................................................................................. 46

    4.4 : Diagram Gambaran Faktor Kenakalan Remaja (Strain) ..................... 48

    4.5 : Diagram Gambaran Faktor Kenakalan Remaja (Different

    Association) ......................................................................................... 50

    4.6 : Diagram Gambaran Faktor Kenakalan Remaja (Labelling) ................ 53

    4.7 : Diagram Gambaran Faktor Kenakalan Remaja (Male Phenomenon)

    .............................................................................................................. 55

  • xv

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran Halaman

    1. Skala Kenakalan Remaja ............................................................................ 68

    2 Tabulasi Try Out .......................................................................................... 74

    3 Uji Validitas 1 ............................................................................................ 75

    4. Uji Validitas 2 ............................................................................................. 77

    5 Uji Reliabilitas ............................................................................................ 79

    6 Tabulasi Kenakalan Remaja ....................................................................... 80

    7. Tabulasi Faktor Rational Choice ................................................................ 81

    8. Tabulasi Faktor Social Disorganization ...................................................... 82

    9. Tabulasi Faktor Strain ................................................................................. 83

    10. Tabulasi Faktor Differential Association .................................................. 84

    11. Tabulasi Faktor Labelling ......................................................................... 85

    12. Tabulasi Faktor Male Phenomenon .......................................................... 86

    13. Tabel Kategori ........................................................................................... 88

    14. Surat Penelitian ......................................................................................... 92

    15. Surat Keterangan Melakukan Analisis Data ............................................. 93

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak kemasa

    dewasa. Berkaitan dengan masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai

    kematangan fisik, mental, sosial maupun emosional. Pada umumnya masa remaja

    ini berlangsung pada masa dimana individu duduk dibangku sekolah menengah.

    Monks (2006) menyatakan bahwa masa awal perkembangan remaja

    menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi dan peralihan. Peralihan tidak

    berarti terputus dari apa yang terjadi di masa anak-anak, melainkan masa dimana

    individu berkembang menuju masa dewasa. Dalam masa peralihan individu

    mengalami perubahan-perubahan jasmani, kepribadian, intelektual dan

    peranannya dalam keluarga maupun lingkungan, sebagian besar remaja

    mengalami ketidakstabilan sebagai konsekuensi dari masa peralihan atau masa

    transisi ini.

    Perubahan-perubahan selama masa awal remaja terjadi dengan pesat, salah

    satunya adalah meningginya emosi. Hurlock (1980) menyatakan bahwa keadaan

    emosi remaja berada pada periode badai dan tekanan (strom and stress) yaitu

    masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan

    kelenjar. Meningginya emosi pada masa remaja diakibatkan perubahan tuntutan

    dan adanya tekanan dari lingkungan sosialnya. Tekanan yang dialami remaja

  • 2

    menyebabnya remaja kesulitan dalam menghadapi maupun menyelesaikan

    masalah-masalah yang dihadapinya, hal ini yang menyebabkan masa remaja

    disebut sebagai masa bermasalah. Masalah-masalah yang terjadi pada remaja

    sering menjadi masalah yang sulit untuk diatasi, karena para remaja merasa

    mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri dan menolak

    bantuan keluarga, orang tua, dan guru. Selain itu, remaja dituntut untuk

    bertanggung jawab terhadap pengendalian perilaku sosialnya sendiri, sesuai

    dengan harapan sosial (Hurlock, 1980).

    Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam-

    macam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, teman

    sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Masa

    remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat remaja berinteraksi, dan

    menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri. Aktivitas-aktivitas yang dijalani

    seperti di sekolah (sebagian besar remaja menghabiskan waktu di sekolah) tidak

    cukup memadai untuk memenuhi gejolak energi remaja, sehingga remaja

    seringkali meluapkan kelebihan energinya kearah perilaku yang negatif.

    Aktivitas-aktivitas remaja berhubungan dengan lingkungan sosial, yang

    mana di dalam lingkungan sosial terdapat bahaya-bahaya dan hal-hal yang

    beresiko untuk remaja. Masa remaja yang penuh dengan keingintahuan dan

    keinginan untuk mencoba-coba hal yang baru membuat remaja sulit mengabaikan

    godaan-godaan dari lingkungan sosialnya. Ada remaja yang dapat mengatasi

    godaan-godaan dari lingkungan sosialnya tetapi banyak pula yang tidak dapat

    bertahan dari godaan-godaan tersebut sehingga menyebabkan masalah, remaja

  • 3

    yang tidak dapat bertahan dari godaan-godaan tersebut sehingga membuat mereka

    putus sekolah, mempunyai masalah seksual, penyalahgunaan obat-obatan

    (Santrock, 2007). Masalah-masalah tersebut biasanya dikenal sebagai kenakalan

    remaja (juvenile delinguency).

    Kenakalan remaja (juvenile delinguency) menurut Kartono (2010) lebih

    mengacu pada perbuatan suatu bentuk perilaku menyimpang yang merupakan

    hasil dari pergolakan mental serta emosi yang labil. Salah satu kenakalan remaja

    yang sering terjadi dan sekarang sedang menjadi topik berbincangan adalah

    perkelahian antar pelajar atau yang kita kenal dengan tamuran. Tawuran pelajar

    merupakan bentuk perilaku kenakalan pada remaja.

    Data sementara KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia),

    memperlihatkan banyaknya tawuran dikalangan pelajar pada enam tahun terakhir.

    Tabel 1.1 Data Komisi perlindungan anak

    No Pendidikan Tahun

    Jumlah 2011 2012 2013 2014 2015 2016

    1 Anak korban tawuran

    pelajar

    20 49 52 113 96 33 363

    2 Anak pelaku tawuran

    pelajar

    64 82 71 46 126 52 441

    Tawuran banyak terjadi di kota-kota besar karena kehidupan kota yang

    serba individualis, materialistis, dengan kontak-kontak sosial yang sangat longgar

    juga kontak dengan orang tua dan saudara-saudara sendiri yang mengakibatkan

    banyak disintegrasi sosial ditengah masyarakat, hal itu menyebabkan banyak

    terjadi disintegrasi pada pribadi remaja, karena mereka tidak mampu mencernakan

    segala hiruk-pikuk kejadian tersebut (Kartono, 2010). Kota yang sering terjadi

    tawuran adalah Jakarta, pada tahun 2015 Polda Metro Jaya mancatat sebanyak 26

    kasus tawuran terjadi di Jakarta Timur, 8 kasus di Jakarta Pusat, 13 kasus di

  • 4

    Jakarta Selatan, 2 kasus di Jakarta Utara, dan 8 kasus di Jakarta Barat

    (megapolitan.kompas.com/read/2015/07/27/15520581/Jumlah.Kasus.Tawuran.Ter

    tinggi.Kini.di.Jakarta.Timur#page1). Bukan hanya di Jakarta kasus tawuran juga

    terjadi di Kota Semarang. Pada tahun 2013 sebanyak 67 pelajar dari sejumlah

    SMK di Semarang diamankan petugas Polsekta Ungaran Jateng

    (tribunnews.com/2013/12/19/tawuran-puluhan-pelajar-semarang-diamankan-

    polsek-ungaran).

    Pada rabu (10/9/2014) pukul 15.45, di Jalan Pahlawan dan daerah Taman

    KB Semarang terjadi tawuran antar pelajar. Kedua kelompok yang terlibat

    tawuran diketahui dari SMK swasta dan gabungan tiga SMK negeri di Semarang

    (news.detik.com/berita-jawa-tengah/2686741/tawuran-dibubarkan-pelajar-ini-

    ayunkan-sabuk-tantang-polisi). Rabu (11/11/2015) 37 pelajar yang dua

    diantaranya berjenis kelamin wanita diamankan pihak Polrestabes Semarang.

    mereka merupakan pelaku aksi tawuran di depan SMK Muhammadiyah 2

    Semarang pada selasa (10/11). Selain tawuran, mereka juga melakukan

    pelemparan terhadap gedung sekolah tersebut hingga menyebabkan kerusakan

    pada sejumlah titik (berita.suaramerdeka.com/tertangkap-tawuran-puluhan-

    pelajar-smk-digunduli).

    Perilaku-perilaku yang ditampilkan remaja tersebut bukan merupakan

    warisan bawaan dari lahir akan tetapi sebagai akibat dari proses belajar di

    lingkungan. Arnaldi dan Suzy (2013) menemukan bahwa faktor individual (effect

    of depression, self regulation control, and characteristics of ADHD) memiliki

    http://news.detik.com/berita-jawa-tengah/2686741/tawuran-dibubarkan-pelajar-ini-ayunkan-sabuk-tantang-polisihttp://news.detik.com/berita-jawa-tengah/2686741/tawuran-dibubarkan-pelajar-ini-ayunkan-sabuk-tantang-polisi
  • 5

    pengaruh yang rendah terhadap perilaku menyimpang, pengaruh kelompok lebih

    signifikan.

    Penelitian yang dilakukan Kurniawan dan Mutho (2005) mendapatkan

    hasil adanya perbedaan prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara

    siswa yang terlibat dan tidak terlibat tawuran. Siswa yang terlibat tawuran

    memiliki prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain yang lebih tinggi

    dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat tawuran.

    Hanurawan, Endang dan Budi (2013) dalam penelitiannya menemukan

    perilaku yang negatif tentang perkelahian sekelompok siswa. Perilaku negatif

    dapat dilihat dalam 7 aspek yaitu : pengetahuan mereka tentang perkelahian antar

    siswa, dampak perkelahian antar siswa, metode pencegahan, metode penanganan,

    peran seseorang atau institusi untuk pencegahan, peran seseorang atau institusi

    untuk penanganan. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat melakukan

    perkembangan dan mencegah perkelahian kelompok siswa.

    Peneliti melakukan studi pendahuluan dengan tema perkelahian antar

    pelajar (tawuran). Dalam studi awal penelitian melibatkan 16 pelajar Kota

    Semarang. Studi awal dilakukan dengan metode wawancara sederhana, mengenai

    penyebab melakukan tawuran. Studi pendahuluan dilakukan pada 16 pelajar, 5

    pelajar dari SMK Setya Budi, 7 pelajar dari SMK 4 Semarang dan 4 pelajar dari

    SMK 10 Semarang.

    Studi pendahuluan pertama dilakukan terhadap 5 pelajar dari SMK Setya

    Budi pada tanggal 27 januari 2015, dimana 5 pelajar sedang duduk-duduk di 18+

    (nama tempat di jl.Abdurahman Saleh, Semarang Barat). Dari ke 5 pelajar

  • 6

    tersebut mengungkapkan bahwa mereka tidak tahu kenapa melakukan tawuran,

    dulu hanya mengikuti kakak kelas mereka. Tawuran dilakukan untuk

    menunjukkan eksistensi sekolah mereka, sehingga tidak terlihat remeh di mata

    sekolah lain.

    Tanggal 28 januari 2015 dilakukan wawancara pada 7 pelajar dari SMK

    4 yang baru pulang sekolah dan sedang bergerombol di taman KB Semarang. Dari

    ke 7 pelajar tersebut terungkap alasan terjadi tawuran. September 2013 sempat

    terjadi tawuran karena SMK 10 melempari batu ke SMK 4, karena tidak terima

    dilempari batu SMK 4 melawan dan terjadilah tawuran. Selain karena dilempari

    batu alasan lain adalah karena itu sudah turun temurun selalu bermusuhan dengan

    SMK 10. Wawancara selanjutnya dilakukan pada siswa SMK 10. Diketahui

    alasan melakukan tawuran karena sudah turun temurun dan mengikuti kakak

    kelas, alasan lainnya adalah karena dari SMK lain sering mengejek dan

    melakukan pemalakan terhadap SMK 10, jika ada pelajar putra dari SMK 10

    melewati SMK 5 mereka akan dilempari batu ataupun diejek.

    Berdasarkan latar belakang yang dijelaskan diatas, maka penulis

    menganggap perlu adanya penelitian mengenai kenakalan remaja (tawuran

    pelajar). Tawuran pelajar menimbulkan keresahan dalam dunia pendidikan dan

    masyarakat, belum adanya penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

    remaja yang melakukan tawuran di Kota Semarang akan menyebabkan kurangnya

    referensi untuk mengenali faktor faktor penyebab terjadinya tawuran.

  • 7

    1.2 Rumusan Masalah

    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang

    menyebabkan kenalakan remaja (tawuran pelajar) di Kota Semarang

    1.3 Tujuan Penelitian

    Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan data secara langsung

    mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja (tawuran pelajar) di

    Kota Semarang

    1.4 Manfaat Penelitian

    1.4.1 Manfaat teoritis

    Memperkaya kajian empiris mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

    perilaku tawuran pada pelajar.

    1.4.2 Manfaat praktis

    a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan

    orang tua dalam mendidik dan mengarahkan perilaku anak.

    b. Guru sebagai pendidik di sekolah diharapkan lebih peka terhadap

    permasalahan anak didiknya dan melakukan tindakan pencegahan.

  • 8

    BAB 2

    LANDASAN TEORI

    2.1 Remaja

    2.1.1 Definisi Remaja

    Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere yang

    berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Piaget dalam Hurlock (1980)

    mengatakan bahwa secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu

    berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa

    dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan

    yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Masa remaja merupakan

    masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang

    mengandung perubahan besar, fisik, kognitif, dan psikososial (Papalia dkk, 2008).

    Santrock (2007) mendefinisikan masa remaja sebagai periode transisi

    perkembangan antara masa anak-anak dengan masa dewasa yang melibatkan

    perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Masa remaja

    menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi dan peralihan karena remaja

    belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status anak-

    anak (Monks, 2006). World Health Organization dalam Sarwono (2013)

    mendefinisikan remaja merupakan masa dimana: 1) Individu berkembang dari

    saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai

    mencapai kematangan seksual. 2) Individu mengalami perkembangan psikologis

  • 9

    dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. 3) Terjadi peralihan dari

    ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih

    mandiri.

    Berdasarkan pada beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan

    bahwa masa remaja (adolensce) merupakan masa transisi dari anak-anak menuju

    dewasa yang mandiri dengan melibatkan perubahan-perubahan fisik, emosi, sosial

    dan kognitif.

    2.1.2 Tahap Perkembangan Remaja

    Masa remaja merupakan masa transisi menjadi dewasa, ada beberapa tahap

    remaja untuk mencapai kedewasaan. Blos dalam Sarwono (2013) berpendapat ada

    3 tahap perkembangan remaja dalam proses menyesuaikan diri menuju

    kedewasaan yaitu: Remaja awal (early adolescence), berlangsung pada usia 12-15

    tahun, dimana dalam rentang usia tersebut masih masuk dalam usia pubertas.

    Pubertas dianggap sebagai masa pemasakan seksual, anak merasakan suatu

    rangsangan hormonal yang menyebabkan suatu rasa tidak tenang dalam diri anak,

    suatu rasa yang belum pernah dialami sebelumnya dan tidak dimengerti oleh anak

    (Monk, 2006). Perubahan yang terjadi pada tubuhnya serta dorongan-dorongan

    yang menyertai perubahan-perubahan yang terjadi membuat remaja bingung.

    Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat terangsang secara erotis.

    Kepekaan yang berlebihan serta kurangnya kendali terhadap ego menyebabkan

    para remaja awal ini sulit mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa.

    Tahap kedua remaja madya (middle adolescence), tahapan ini terjadi

    dalam rentang usia 15-18 tahun, dalam tahap ini remaja membutuhkan teman-

  • 10

    teman sebayanya. Remaja menyesuaikan diri dengan standar kelompok dan

    senang jika banyak teman yang menyukainya. Ada kecenderungan narcistic

    yaitu menyukai dirinya sendiri dengan menyukai teman-teman yang mempunyai

    sifat sama dengannya. Selain itu remaja dalam kondisi kebingungan karena ia

    tidak tahu harus memilih peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri,

    optimistis atau pesimistis, idealis atau materialis.

    Tahapan terakhir yang disebut dengan remaja akhir (late adolescene),

    terjadi dalam rentang usia 18-21 tahun, dimana periode menuju dewasa ditandai

    dengan pencapaian lima hal yaitu: a) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-

    fungsi intelektual, b) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-

    orang lain dalam pengalaman-pengalaman baru, terbentuk identitas seksual yang

    tidak akan berubah lagi, c) Egosentrisme diganti dengan keseimbangan antara

    kepentingan diri sendiri dengan orang lain, d) tumbuh dinding yang

    memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).

    2.1.3 Perkembangan Pada Masa Remaja

    Dalam proses menuju kedewasaan terjadi beberapa perkembangan pada

    diri seseorang, perkembangan tersebut antara lain:

    2.1.3.1 Perkembangan Fisik

    Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke dewasa bukan

    hanya dalam artian psikologis tetapi juga fisik. Perubahan fisik merupakan gejala

    primer dalam pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan psikologis muncul

    sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik itu. Perubahan fisik berhubungan

    dengan aspek fisiologis, dimasa remaja kelenjar hipofesa menjadi masak dan

  • 11

    mengeluarkan beberapa hormon, yang mempengaruhi pertumbuhan anak sehingga

    terjadi percepatan pertumbuhan (Monks, 2006).

    Perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada remaja adalah pertumbuhan

    tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat

    reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki),

    dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2013).

    2.1.3.2 Perkembangan Psikologis

    Pada masa remaja tidak hanya terjadi perkembangan fisik tetapi juga

    terjadi perubahan psikologis, perkembangan psikologis remaja meliputi beberapa

    segi yaitu:

    1. Konsep diri

    Remaja memiliki penghayatan mengenai siapakah mereka dan apa yang

    membedakan dirinya dengan orang lain. Penghayatan remaja dalam memahami

    diri tidak sepenuhnya bersifat internal, namun merupakan konstruksi sosial

    kognitif dimana perkembangan kapasitas kognitif remaja berinteraksi dengan

    pengalaman sosio-budaya dan mempengaruhi pemahaman dirinya (Santrock,

    2007).

    Pemahaman tentang diri berperan dalam persiapan remaja menuju

    kedewasaan. Secara psikologis kedewasaan adalah keadaan di mana sudah ada

    ciri-ciri psikologis tertentu pada seseorang. Allport (dalam Sarwono, 2013)

    menyebutkan ciri-ciri psikologis itu adalah : a) Pemekaran diri sendiri (extension

    of the self. b) Kemampuan untuk melihat diri secara objektif (self objectivication),

    ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai wawasan tentang diri sendiri (self

  • 12

    insight) dan menangkap humor (sense of humor). c) Memiliki falsafah hidup

    tertentu (unifying philosophy of life.)

    2. Intelegensi

    Wechsler (dalam Sarwono 2013) mendefinisikan intelegensi sebagai

    keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta

    mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Intelegensi mengandung

    unsur pikiran atau rasio, semakin banyak unsur rasio yang harus digunakan dalam

    suatu tindakan atau tingkah laku, semakin berintelegensi tingkah laku tersebut.

    Dalam usia remaja dan seterusnya seseorang sudah mampu berfikir abstrak dan

    hipotesis.

    Remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman-pengalaman yang aktual atau

    konkrit sebagai titik tolak pemikirannya, mereka dapat menciptakan situasi-

    situasi fantasi, peristiwa-peristiwa yang murni berupa kemungkinan-kemungkinan

    hipotesis atau hanya berupa proposisi abstrak dan mencoba bernalar secara logis

    mengenainya (Santrock, 2007).

    3. Emosi

    Remaja adalah masa yang penuh emosi, salah satu ciri periode topan dan

    badai dalam perkembangan jiwa manusia ini adalah adanya emosi yang meledak-

    meledak dan sulit untuk dikendalikan. Emosi yang menggebu-gebu ini memang

    menyulitkan bagi orang lain, namun emosi yang menggebu juga bermanfaat untuk

    remaja untuk mencari identitas dirinya. Pola emosi pada masa remaja sama

    dengan pola emosi pada masa anak-anak. Pola-pola emosi itu berupa marah, takut,

    cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih dan kasih sayang. Perbedaan terletak

  • 13

    pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan pengendalian dalam

    mengekspresikan emosi. Remaja umumnya memiliki kondisi emosi yang labil

    pengalaman emosi yang ekstrem dan selalu merasa mendapatkan tekanan. Bila

    pada akhir masa remaja mampu menahan diri untuk tidak mengekspresikan emosi

    secara ekstrim dan mampu mengekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan

    situasi, kondisi lingkungan dan dengan cara yang dapat diterima masyarakat,

    dengan kata lain remaja yang mencapai kematangan emosi akan memberikan

    reaksi emosi yang stabil (Hurlock, 1987).

    Emosi yang tak terkendali juga disebabkan oleh konflik peran yang sedang

    dialami remaja, ia ingin bebas tetapi masih bergantung kepada orang tua. Ia ingin

    dianggap dewasa sementara ia masih diperlakukan seperti anak kecil. Dengan

    adanya emosi-emosi itu, secara bertahap remaja mencari jalannya sendiri menuju

    kedewasaan, karena reaksi orang-orang disekitarnya terhadap emosinya akan

    menyebabkan remaja belajar dari pengalaman untuk mengambil langkah-langkah

    yang terbaik.

    4. Peran sosial

    Gejolak emosi remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan

    oleh adanya konflik peran sosial. Disatu pihak remaja sudah ingin mandiri sebagai

    orang dewasa, dilain pihak ia masih harus terus mengikuti kemauan orang tua.

    Ditengah gejolak perubahan yang terjadi di masa ini, banyak remaja yang

    mengalami kekecewaan dan frustasi mendalam terhadap orang tua karena tidak

    kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian (Sarwono, 2013).

  • 14

    Havighurst dalam Fatimah (2008) menyebutkan kemandirian terdiri dari

    beberapa aspek, yaitu : 1) Emosi, kemampuan mengontrol emosi dan tidak

    tergantung kepada orang tua, 2) Ekonomi, kemampuan mengatur ekonomi dan

    tidak bergantung pada orangtua, 3) Intelektual, kemampuan untuk mengatasi

    berbagai masalah yang dihadapi, 4) Sosial, kemampuan untuk mengadakan

    interaksi dengan orang lain tidak bergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

    5. Peran gender

    Peran gender pada hakikatnya adalah bagian dari peran sosial pula, sama

    halnya dengan anak yang harus mempelajari perannya sebagai anak terhadap

    orang tua, atau murid terhadap guru, maka ia pun harus mempelajari perannya

    sebagai anak dari jenis kelamin tertentu terhadap jenis kelamin lawannya

    (Sarwono, 2013).

    Santrock (2007) menyebutkan faktor yang dapat mempengaruhi perubahan

    gender yaitu : 1) Biologis, para peneliti menemukan bahwa perilaku seksual

    berkaitan dengan perubahan hormonal yang berlangsung pada masa remaja.

    Ketika tubuh dialiri hormon, anak perempuan mulai berperilaku feminim,

    sementara laki-laki berperilaku maskulin. 2) Sosial, perbedaan gender diakibatkan

    oleh perbedaan yang ekstrim antara perempuan dan laki-laki, dimana perempuan

    dianggap memiliki kekuasaan dan status yang lebih rendah dibandingkan laki-

    laki, dan perempuan juga memiliki kontrol yang lebih kecil terhadap sumber daya.

    3) Kognitif, tipe gender terjadi setelah anak-anak memikirkan dirinya sendiri

    sebagai laki-laki dan perempuan, pada saat mereka secara konsisten memandang

  • 15

    dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, anak-anak memilih aktivitas-aktivitas,

    benda-benda, dan sikap yang konsisten dengan label.

    6. Moral dan Religi

    Mores atau moral untuk remaja merupakan suatu kebutuhan tersendiri

    karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk

    dalam rangka mencari jalannya sendiri. Moral berkaitan dengan kemampuan

    seseorang untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah,

    dengan demikian moral juga mendasari dan mengendalikan seseorang dalam

    bersikap dan bertingkah laku (Fatimah, 2008).

    Di Indonesia salah satu mores yang penting adalah agama. Agama bisa

    merupakan salah satu faktor pengendali tingkah laku remaja, hal ini dapat

    dimengerti karena agama mewarnai kehidupan masyarakat setiap hari (Sarwono,

    2013).

    2.1.4 Perilaku Menyimpang Pada Remaja

    Remaja merupakan masa dalam mencari identitas diri, dalam pencapaian

    identitas diri remaja mengalami banyak tekanan dan hambatan dari lingkungan

    maupun dirinya sendiri sehingga menimbulkan permasalahan yang sulit ditangani

    remaja. Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut remaja cenderung tidak mau

    meminta pendapat dan bantuan dari orang tua maupun orang dewasa, mereka

    merasa sudah bisa menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Sarwono (2013)

    menyebutkan perilaku menyimpang yang dialami pada masa remaja mencakup: a)

    kenakalan remaja, b) hipoaktivisme, c) kultisme, d) penyalahgunaan narkoba

    (narkotika dan obat) dan alkoholisme.

  • 16

    2.2 Kenakalan Remaja

    2.2.1 Definisi Kenakalan Remaja

    Istilah kenakalan remaja (juvenile delinquency) merupakan gabungan kata

    yang berasal dari bahasa latin yaitu juvenilis yang artinya anak-anak atau anak

    muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada masa remaja dan

    delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan, kemudian diperluas artinya

    menjadi jahat, a-sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau,

    peneror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila, dan lain-lain (Kartono,

    2010).

    Santrock (2007) menyebutkan bahwa kenakalan remaja merujuk pada

    berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial

    (seperti berbuat onar di sekolah), status pelanggaran (melarikan diri dari rumah),

    hingga tindakan kriminal (seperti pencurian). Menurut Merril (dalam Gerungan,

    2002) A child is a classified as a delinquent when his antisocial tendencies

    appear to be so grave that he becomes or ought to become or ought to become the

    subject of official action . Seorang anak dikatakan nakal apabila dirinya

    menampakkan kecenderungan-kecenderungan antisosial yang tinggi sehingga

    yang berwajib hendaknya mengambil tindakan terhadapnya dengan melakukan

    penahanan maupun pengasingan. Kartono (2010) menyebutkan bahwa juvenile

    delinquency ialah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan/kenakalan anak-anak

    muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja

    yang disebabkan oleh satu bentuk mengabaian sosial, sehingga mereka itu

    mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Gold dan Petronio

  • 17

    (dalam Sarwono, 2010) mendefinisikan penyimpangan perilaku remaja dalam arti

    kenakalan remaja (juvenile deliquency) adalah tindakan seseorang yang belum

    dewasa yang sengaja melanggar hukum diketahui oleh anak itu sendiri bahwa

    perbuatannya itu diketahui oleh petugas hukum dan ia bisa dikenai hukuman.

    Berdasarkan urian diatas dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja

    maupun juvenile delinquency merupakan kecenderungan anak-anak remaja

    mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang dan tidak dapat diterima

    lingkungan sosial.

    2.2.2 Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja

    Menurut kartono (2005) bentuk-bentuk kenakalan remaja berdasarkan

    ciri kepribadian dibedakan menjadi empat yaitu:

    2.2.2.1 Delinkuensi Terisolir

    Pada umumnya mereka menderita kerusakan psikologis, perbuatan

    kejahatannya didorong oleh faktor berikut:

    a. Motivasi kecemasan dan konflik batin yang tidak dapat diselesaikan, dan

    motif yang mendalam, akan tetapi lebih banyak dirangsang oleh keinginan

    meniru ingin conform dengan norma gangnya, biasanya kegiatan mereka

    dilakukan secara bersama-sama dengan bentuk kegiatan kelompok.

    b. Kebanyakan berasal dari daerah-daerah kota yang sifatnya transisional dan

    memiliki subkultural kriminal. Nilai, norma dan kebiasaan kelompok

    subkultural kriminal dialihkan dengan serta-merta. Jadi proses pengkondisian

    dan proses differential association.

  • 18

    c. Pada umumnya anak delinkuensi tipe ini berasal dari keluarga berantakan,

    tidak harmonis, tidak konsekuen dan mengalami banyak frustasi. Situasi

    keluarga dipenuhi dengan konflik hebat diantara sesama anggota keluarga dan

    ada suasana penolakan oleh orang tua, sehingga anak-anak merasa disia-

    siakan dan kesepian.

    d. Dalam situasi tidak mendapatkan kehangatan emosional dari keluarga, anak

    memuaskan semua kebutuhannya ditengah-tengah lingkungan anak-anak

    kriminal. Gang memberikan alternatif hidup yang menyenangkan. Mereka

    akhirnya mengadopsi etik dan kebiasaan gangnya, dan dipakai sebagai sarana

    untuk meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya adalah penting, menonjol dan

    cukup berarti. Gang tersebut memberikan perasaan aman, diterima, bahkan

    bisa mendapatkan bimbingan untuk menonjolkan egonya.

    e. Dibesarkan dalam keluarga yang sedikit mendapatkan latihan kedisiplinan

    dan keteraturan mengakibatkan anak tidak sanggup menginternalisasikan

    norma hidup orang normal. Bahkan banyak dari mereka menjadi kebal

    terhadap nilai kesusilaan dan lebih peka terhadap pengaruh jahat.

    2.2.2.2 Delinkuensi Neurotik

    Pada umumnya anak-anak dengan delinkuensi seperti ini menderita

    gangguan kejiwaan yang cukup serius, antara lain berupa: kecemasan, merasa

    selalu tidak aman, merasa terancam, tersudut dan terpojok, merasa bersalah atau

    berdosa dan lain-lain. ciri-ciri tingkah laku mereka antara lain:

    a. Perilaku delinkuensi disebabkan oleh masalah psikologis yang sangat dalam.

  • 19

    b. Perilaku delinkuensi merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum

    terselesaikan. Kejahatan mereka sebagai alat untuk melepaskan ketakutan,

    kecemasan, dan kebingungan batin yang tidak bisa dipikul oleh egonya.

    c. Melakukan kejahatan sendiri, dan melakukan jenis kejahatan tertentu.

    d. Umumnya berasal dari keluarga yang sosial-ekonominya menengah namun

    mengalami banyak ketegangan emosional. Orang tua biasanya juga neorotik

    dan psikotik.

    e. Memilki ego yang lemah, kecenderungan untuk mengisolir diri dari

    lingkungan orang dewasa maupun teman sebaya.

    f. Memiliki motivasi kejahatan yang berbeda-beda.

    g. Perilakunya memperlihatkan kualitas kompulsif.

    2.2.2.3 Delinkuensi Psikopatik

    Merupakan oknum kriminal yang paling berbahaya, ciri-ciri tingkah laku

    mereka adalah:

    a. Dibesarkan dalam keadaan keluarga yang ekstrim, brutal, diliputi banyak

    pertikaian keluarga, berdisiplin keras namun tidak konsisten dan selalu

    menyia-nyiakan anaknya. Sebagai akibatnya anak tidak mengalami atau

    kapasitas untuk menumbuhkan afeksi, kehidupan perasaannya menjadi

    tumpul dan mati.

    b. Mereka tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa atau melakukan

    pelanggaran mereka sering meledak tidak terkendali.

    c. Melakukan kejahatan tergantung pada suasana hati, mereka pada umumnya

    sangat agresif dan impulsif.

  • 20

    d. Mereka gagal dalam menyadari dan melakukan perilaku sesuai dengan

    norma-norma sosial yang berlaku.

    e. Seringkali mereka juga menderita gangguan neurologis sehingga mengurangi

    kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.

    2.2.2.4 Delinkuensi Defek Mental

    Melakukan tindakan a-sosial dan anti sosial, walaupun pada dirinya tidak

    terdapat penyimpangan dan gangguan kognitif, namun ada disfungsi pada

    intelegensinya. Kelemahan dan kegagalan para remaja delinkuensi tipe ini tidak

    mampu mengenal dan memahami tingkah lakunya yang jahat. Tidak mampu

    mengendalikan, selalu saja mereka ingin melakukan perbuatan kekerasan,

    penyerangan, dan kejahatan. Relasi kemanusiaannya sangat terganggu, sikapnya

    sangat dingin dan beku tanpa afeksi (perasaan) jadi ada kemiskinan afeksi dan

    sterilitas emosional. Mereka tidak memiliki harga diri dan lemah dalam

    mendorong instingtif yang primer, sehingga pembentukan superegonya sangat

    lemah.

    2.2.3 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja

    Lingkungan sosial merupakan faktor penting dalam mempengaruhi

    tingkah laku seseorang karena kita hidup sebagai makhluk sosial. Setiap aktivitas

    membutuhkan interaksi sosial, begitu juga kenakalan yang dilakukan oleh remaja.

    Remaja mengembangkan perilaku menyimpang dari lingkungan sosialnya, akan

    tetapi Jensen (dalam Sarwono, 2013) menyebutkan bukan hanya faktor sosial saja

    yang dapat menyebabkan remaja menjadi nakal, beberapa faktor yang dapat

  • 21

    menyebabkan remaja menjadi nakal diantaranya: rational choice, social

    disorganization, strain, differential association, labelling, male phenomenon.

    1. Rational choice

    Teori ini mengutamakan faktor individu daripada faktor lingkungan.

    Kenakalan yang dilakukan atas pilihan, interes, motivasi atau kemauannya

    sendiri. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia adalah makhluk

    rasional dan didorong oleh kepentingan pribadi dalam tindakan sehari-hari

    mereka.

    2. Social disorganization

    Teori menyebutkan kenakalan terjadi karena kurangnya atau hilangnya pranata-

    pranata masyarakat yang selama ini menjaga keseimbangan atau harmoni dalam

    masyarakat. Orang tua yang sibuk dan guru yang kelebihan beban merupakan

    penyebab dari berkurangnya fungsi keluarga dan sekolah sebagai pranata kontrol.

    Remaja yang nakal sering kali berasal dari keluarga yang orang tuanya jarang

    mengawasi anaknya dan memberikan dukungan pada anak serta menerapkan

    disiplin pada anak secara efektif. Pengawasan orang tua terhadap remaja sangat

    penting dalam menentukan tingkah laku remaja, semakin sedikit yang diketahui

    orang tua mengenai anaknya, semakin besar kecenderungan anak akan terjerumus

    pada perilaku nakal. Penelitian Gerald Patterson, dkk (dalam Santrock, 2003)

    menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang tidak memadai, meliputi

    rendahnya pengawasan terhadap remaja, dan penerapan disiplin yang tidak

    efektif serta sesuai, keluarga merupakan faktor utama dalam menentukan

    munculnya kenakalan.

  • 22

    3. Strain

    Ketegangan ikut andil dalam mempengaruhi kenakalan remaja, teori strain

    mengemukakan bahwa tekanan yang besar dalam masyarakat misalnya

    kemiskinan, menyebabkan sebagian dari anggota masyarakat yang memilih jalan

    rebellion melakukan kejahatan atau kenakalan remaja. Kelompok remaja dengan

    sosial ekonomi rendah memiliki kesempatan untuk mengembangkan

    keterampilan yang diterima oleh masyarakat, mereka mungkin saja merasa bahwa

    mereka bisa mendapatkan perhatian dan status dengan cara melakukan tindakan

    antisosial. Menjadi tangguh dan maskulin adalah contoh status yang tinggi

    bagi anak-anak dari kelas sosial yang rendah, dan status seperti ini sering

    ditentukan oleh keberhasilan remaja dalam melakukan kenakalan dan berhasil

    meloloskan diri setelah melakukan kenakalan (Santrock, 2007).

    4. Differential association

    Faktor yang menyebabkan kenakalan remaja adalah salah pergaulan.

    Remaja selalu berinteraksi dengan teman sebayanya, menghabiskan lebih banyak

    waktu dengan teman sebayanya daripada keluarga. Memiliki teman-teman yang

    nakal akan cenderung membuat remaja menjadi nakal. Teman sebaya dimasa

    remaja bisa positif dan negatif, rekan sebaya berperan sebagai jembatan utama

    antara peran keluarga dan sosial dewasa (Berk, 2012).

    5. Labelling

    Teori ini menyebutkan remaja menjadi nakal karena diberi label. Ketika

    orangtua memberikan label nakal kepada anaknya secara terus-menerus, anak

    akan menangkap label tersebut sebagai dukungan atas perilaku nakal yang dan

  • 23

    kemudian dijadikan identitasnya, sehingga remaja menjadi anak yang nakal,

    karena remaja masih dalam proses mencari identitas. Orang tua adalah tokoh

    yang berpengaruh dalam proses pencarian identitas remaja karena pembentukan

    identitas ditingkatkan melalui relasi keluarga (Santrock, 2007).

    6. Male phenomenon

    Male phenomenon menjadi faktor yang penting dalam mempengaruhi

    kenakalan remaja, teori ini percaya bahwa anak laki-laki lebih nakal daripada

    perempuan. Alasannya karena kenakalan memang adalah sifat laki-laki atau

    karena budaya maskulinitas menyatakan bahwa wajar kalau laki-laki bertingkah

    laku nakal. Joseph (dalam Santrock, 2003) berpendapat bahwa pengertian

    maskulinitas dibeberapa budaya melibatkan berbagai perilaku yang tidak dapat

    diterima oleh masyarakat, remaja laki-laki akan dianggap lebih maskulin apabila

    pernah melakukan hubungan seks pra-nikah, mengkonsumsi alkohol dan

    memperlihatkan perilaku membandel.

    2.2.4 Jenis - Jenis Kenakalan Remaja

    Jensen dalam Sarwono (2013) membagi kenakalan remaja menjadi empat

    jenis yaitu: 1) kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain:

    perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain 2) kenakalan

    yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan

    dan lain-lain. 3) kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang

    lain: pelacuran, penyalahgunaan obat, hubungan seks sebelum menikah. 4)

    kenakalan yang melawan status, mengingkari status anak sebagai pelajar dengan

    cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara melarikan diri dari

  • 24

    rumah atau membantah perintah mereka. pada usia remaja perilaku memang

    belum melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya karena yang dilanggar

    adalah status-status dalam lingkungan primer (keluarga) dan sekunder (sekolah)

    yang memang tidak diatur oleh hukum secara rinci.

    2.3 Kerangka Berfikir

    Bagan 2.1 Kerangka Berfikir

    REMAJA 1) Fisik 2) Psikologis

    - Konsep diri - Intelegensi - Emosi - Peran sosial - Peran gender - Moral & religi

    Disebabkan oleh?

    DEWASA

    ANAK-ANAK

    Problematika Masa Remaja

    1. Penyalahgunaan obat & alkohol

    2. Kenakalan remaja 3. Masalah-masalah

    berkaitan dengan

    sekolah

    4. Perilaku seksual beresiko tinggi

    5. Depresi & bunuh diri

    6. Gangguan makan - Obesitas - Anorexia nervousa - Bulimia nervousa

  • 61

    BAB V

    SIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Simpulan

    Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat

    disimpulkan bahwa lebih dari sepertiga responden termasuk dalam kategori

    kenakalan sedang sampai dengan sangat tinggi. Kenakalan pada remaja dapat

    dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa

    faktor yang banyak berkontribusi pada kenakalan remaja di Kota Semarang adalah

    strain, faktor selanjutnya rational choice, differential assosiation, labelling,

    social disorganization, male phenomenon

    5.2 Saran

    Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran sebagai berikut:

    1. Bagi remaja

    Remaja diharapkan dapat lebih mempertimbangkan perilaku yang akan

    dilakukan. Melakukan berbagai kegiatan yang positif sehingga tidak ada waktu

    untuk melakukan perkelahian. Sama halnya dalam menjalin pertemanan, remaja

    diharapkan lebih memilih teman yang baik dan dapat memberikan dampak positif,

    sehingga remaja tidak mengalami tekanan dan terjerumus pada perilaku

    menyimpang.

  • 62

    2. Bagi sekolah

    Sekolah sebagai media kontrol sosial remaja diharapkan lebih tegas dalam

    membuat peraturan dan memberikan sanksi tegas bagi yang melanggar. Selain

    sebagai kontrol, sekolah lewat guru BK dapat melakukan pendekatan dengan

    siswa yang melakukan kenakalan sehingga kita dapat mengetahui faktor yang

    membuat siswa melakukan kenakalan, kemudian dapat dicari solusi untuk

    masalah tersebut.

    3. Bagi peneliti selanjutnya

    Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian

    mengenai faktor-faktor kenakalan pada remaja bisa menggunakan data penelitian

    ini untuk mengembangkan penelitian terkait baik untuk perluasan teori maupun

    penerapan metode lain (kualitatif, kuantitatif maupun eksperimen).

  • 63

    DAFTAR PUSTAKA

    Alboukordi, Sajad, Et.Al. 2012. Predictive Factors For Juvenile Delinquency: The

    Role Of Family Structure, Parental Monitoring And Delinquency Peer.

    International Journal Of Criminology And Sociological Theory. Vol.5

    No. 1: 770-777

    Adhitya. Angling P. 2014. Tawuran dibubarkan, pelajar ini ayunkan sabuk tantang

    polisi. Online .http://news.detik.com/berita-jawa-

    tengah/2686741/tawuran-dibubarkan-pelajar-ini-ayunkan-sabuk-tantang-

    polisi [ diakses 3 maret 2015]

    Alnasir, Faisal Abdullatif, Al-Falaij, Abdulrahman Ali. 2016. Factors Affecting

    Juvenile Delinquency In Bahrain. Journal Of General Practice 4:1

    Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik.

    Yogyakarta : PT Rineka Cipta.

    Arnadi, M. & Suzy, Y.W . 2013. Effect Of Depression, Self-Regulation Control

    And Characteristics Of ADHD As The Cause Of School Brawl In

    Jakarta, Indonesia. World Academy Of Science, Engineering And

    Technology Vol:7 2013-03-27

    Aulya, Annisa, dkk. 2016. Perbedaan Perilaku Agresif Siswa Laki-Laki Dan

    Siswa Perempuan. Jurnal Educatio. Vol.5 No. 1 92-97

    Azwar, Saifuddin. 2011. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

    ______________. 2010. Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

    Offset.

    Barus, Cristedi Permana. 2012. Sosial Ekonomi Keluarga Dan Hubungannya

    Dengan Kenakalan Remaja Di Desa Lantas Baru Kecamatan Patumbak

    Kabupaten Deli Serdang. Skripsi

    Benburg, Jon Gunnar, Marvin D. Krohn, Craig J. Rivera. 2006. Official Labelling,

    Criminal Embeddedness And Subsequent Delinquency: A Longitudinal

    Test Of Labelling Theori. Journal Of Research In Crime And

    Delinquency 43(1): 67-88

    Berk, Laura E. 2012. Development Though The Lifespan. Yogyakarta: Pustaka

    Pelajar

    http://news.detik.com/berita-jawa-tengah/2686741/tawuran-dibubarkan-pelajar-ini-ayunkan-sabuk-tantang-polisihttp://news.detik.com/berita-jawa-tengah/2686741/tawuran-dibubarkan-pelajar-ini-ayunkan-sabuk-tantang-polisihttp://news.detik.com/berita-jawa-tengah/2686741/tawuran-dibubarkan-pelajar-ini-ayunkan-sabuk-tantang-polisi
  • 64

    Bernard, T.J., Snipes, J.B., Gerould, A.L. 2009. Volds Theoretical Criminology

    (6th Ed). NY: Oxford University Press.

    Brezina, T. F. (1998). Adolescent Maltreatment And Delinquency: A Question Of

    Intervening Processes. Journal Of Research In Crime And Delinquency,

    35, 71-99.

    Burns, Tom, Roszkowska,Ewa. 2016. Rational Choice Theory: Thoward A

    Psychological, Social And Material Contextualization Of Human Choice

    Behavior. Theoretical Economic Letters, 6: 195-207

    Ekpo, Teresa Etim, Ajake, Uchenna Egodi. 2013. Family Socio-Economic Status

    And Delinquency Among Senior Secondary School Student In Calabar

    Sout, Cross River State, Nigeria. American International Journal Of

    Contempory Research. Vol.3 No.4

    Fatimah, Enung. 2008. Psikologi Perkembangan. Bandung: CV Pustaka Setia

    Gerungan, W.A. & Psych, Dipl. 2002. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama

    Hanurawan, Fattah,dkk. 2013. Students Attitude On Students Group Fighting.

    Interdisciplinary Journal Of Contemporary Research In Business. Vol.5

    No.7

    Hurlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang

    Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

    Karimu, Olusola, Akintayo, Michael Alubusayo. 2012. Understanding Juvenile

    Violence In America Society. International Journal Of Humanities And

    Social Science. Vol.2 No.20

    Kartono, Kartini. 2010. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Raja

    Grafindo Persada.

    Kartono, Kartini. 2014. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Raja

    Grafindo Persada.

    Kurniawan, S dan A. Mutho M.R. tawuran, prasangka terhadap kelompok siswa

    sekolah lain, serta konformitas pada kelompok teman sebaya. Proyeksi,

    vol.4 85-94

    Ling, Man Oi. 2013. The Relationship Between Family Socioeconomi Status And

    Lifestyle Among Youth In Hongkong. Discovery-Ss Student E-Journal

    :135-168

  • 65

    Malihah, Elly, Maftuh, Bunyamin, Amalia, Rizki. 2014. Tawuran Pelajar,

    Solidarity In The Student Group And Influence On Brawl Behavior.

    Jurnal Komunitas: 189-196

    Mambende, Benjamin, Et.Al. 2016. Factor Influencing Youth Juvenile

    Delinquency At Blue Hills Children,S Prison Rehabilitation Centre In

    Gweru, Zimbabwe: An Explorative Study. International Journal Of

    Humanities Social Sciences And Education. Vol.3: 27-34

    Mohideen, Rosaliwati Sultan, Et. Al. 2016. Social Factors That Contribute

    Juvenile Delinquency At Malaka. Journal Of Education And Social

    Sciences. Vol.3: 2289-9855

    Monks,F.J, Knoers, A.M.P., Haditono, S.R. 2006. Psikologi Perkembangan

    Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada

    University Press.

    Nisar, Muhammad, Et.Al. 2015. Juvenile Delinquency: The Influence Of Family,

    Peer And Economic Factors On Juvenile Delinquency. Applied Science

    Reports. 37-48

    Papalia, Daniel E., Old, & Feldman. 2008. Human Development (Psikologi

    Perkembangan). Jakarta: Kencana.

    Priliawito.Eko, Ruqoyah, Siti. 2012. Sederet Tawuran Pelajar Di Jabodetabek

    Sejak Awal 2012. Online.http://metro.news.viva.co.id/news/read/354946-

    sederet-tawuran-pelajar-di-jabodetabek-sejak-awal-2012 [Diakses 3

    Maret 2015]

    Putranto, Puthut Dwi. 2013. Diduga hendak tawuran Polsekta ungaran sita pedang

    pelajar semarang. Online.

    http://jateng.tribunnews.com/2013/12/19/tawuran-puluhan-pelajar-

    semarang-diamankan-polsek-ungaran [diakses 3 maret 2015]

    Rachman, Taufik. 2013. Angka kekerasan pelajar di yogyakarta meningkat.

    Online.http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-

    diy%20nasional/13/05/22/mn6wwr-angka-kekerasan-pelajar-di-

    yogyakarta-meningkat [diakses 3 maret 2015]

    Rachmawati, Ika, dkk. 2011. Dampak Labelling Pada Remaja Di SMP Islam

    Raudlatul Falah Bermi Gembong Pati. Manuscript.Universitas

    Muhammadiyah Semarang

    Santrock, John W. 2003. Adolescence. Jakarta: Erlangga.

    Santrock, John W. 2007. Remaja. Jakarta: Erlangga.

    Sarwono, Sarlito W. 2013. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers

    http://metro.news.viva.co.id/news/read/354946-sederet-tawuran-pelajar-di-jabodetabek-sejak-awal-2012http://metro.news.viva.co.id/news/read/354946-sederet-tawuran-pelajar-di-jabodetabek-sejak-awal-2012http://jateng.tribunnews.com/2013/12/19/tawuran-puluhan-pelajar-semarang-diamankan-polsek-ungaranhttp://jateng.tribunnews.com/2013/12/19/tawuran-puluhan-pelajar-semarang-diamankan-polsek-ungaranhttp://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy%20nasional/13/05/22/mn6wwr-angka-kekerasan-pelajar-di-yogyakarta-meningkathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy%20nasional/13/05/22/mn6wwr-angka-kekerasan-pelajar-di-yogyakarta-meningkathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy%20nasional/13/05/22/mn6wwr-angka-kekerasan-pelajar-di-yogyakarta-meningkat
  • 66

    Shamin, A., Batool, Z., Zafar, M.I., Hashmi, N., 2009. A Study Of Juvenile

    Crimes In Borstal Jail. The Journal Of Animal & Plant Sciences. 19(2):

    101-103

    Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito

    Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

    Wen, Hsu Lin. 2011. General Strain Theory And Juvenile Delinquency A Cross

    Curtural Study. Graduated Theses And Desertations. University South

    Florida


Recommended