Home > Documents > EFEKTIVITAS INOVASI LAYANAN DRIVE THRU SAMSAT … · EFEKTIVITAS INOVASI LAYANAN DRIVE THRU SAMSAT...

EFEKTIVITAS INOVASI LAYANAN DRIVE THRU SAMSAT … · EFEKTIVITAS INOVASI LAYANAN DRIVE THRU SAMSAT...

Date post: 29-Oct-2020
Category:
Author: others
View: 13 times
Download: 1 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 103 /103
EFEKTIVITAS INOVASI LAYANAN DRIVE THRU SAMSAT KELILING KEDAI SAMSAT DALAM MENINGKATKAN PENERIMAAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DI PROVINSI SULAWESI SELATAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Ekonomi Syari’ah (S.H) Pada Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar Oleh : Rara Erika 105 25 0329 15 PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1441 H/ 2020 M
Transcript
  • EFEKTIVITAS INOVASI LAYANAN DRIVE THRU SAMSAT KELILING KEDAI SAMSAT DALAM MENINGKATKAN PENERIMAAN PAJAK

    KENDARAAN BERMOTOR DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Ekonomi Syari’ah (S.H) Pada Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah

    Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

    Oleh :

    Rara Erika 105 25 0329 15

    PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS AGAMA ISLAM

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1441 H/ 2020 M

  • vii

    ABSTRAK

    Rara Erika. 105 2503 2915. 2020. Efektivitas Inovasi Layanan Drive Thru Samsat Keliling Kedai Samsat Dalam Meningkatkan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Di Provinsi Sulawesi Selatan. Dibimbing oleh Hurriah Ali Hasan dan Mustahidang Usman.

    Penelitian ini adalah tentang inovasi layanan unggulan penerimaan pajak kendaraan sebagai salah satu sumber pajak di Provinsi Sulawesi Selatan penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana inovasi layanan unggulan dapat meningkatkan penerimaan pajak di kendaraan di Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilaksanakan di kota Makassar pada kantor Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang berlangsung mulai dari April sampai Juni 2019. Data yang digunakan dalam penelitian ini hasil wawancara dengan wajib pajak yang menggunakan layanan drive thru, Samsat keliling dan kedai Samsat, pejabat Samsat dan tokoh Agama. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa masyarakat atau wajib pajak merasa senang dengan adanya layanan unggulan seperti drive thru, kedai Samsat dan Samsat keliling karena ketiga layanan tersebut mudah dijangkau oleh masyarakat pelayanananya juga ramah nyaman dan yang terpenting wajib pajak tidak perlu mengantri terlalu lama untuk membayar pajak kendaraannya.

    Kata Kunci : Pajak Kendaraan, Layanan Unggulan,Penerimaan pajak.

  • vii

    ABSTRACT

    Rara Erika. 105 2503 2915. 2020. The Effectiveness Of The Innovative Drive Thru Samsat Service Around The Samsat Shops In Increasing Motor Vehicle Tax Revenue In The Province Of South Sulawesi. Guided by Hurriah Ali Hasan and Mustahidang Usman.

    This research is about service innovation favored vehicle tax receipts as one of provinces South Sulawesi tax source it’s to know how to innovate exellent service can increase the tax revenues in the provinces South Sulawesi. The research was using Qualitative methods that’s Makassar city in the office Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. That goes from April to June 2019. The data used in this study is from interview with tax payers which uses the drives service, DMV around, and DMV place, DMV officer and clergyman. Data analytics show that people or tax payers pleased to find such exellent service drive services, DMV around and DMV place because those three service are easily accessible to the masses also friendly and convenient and most importanty unnecessary tax payers stayed in line too long to pay the dues. Password : Vehicle Tax, Exellent Service, Tax Revenues.

  • viii

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillahirabbilalamin, puji dan syukur senantiasa teriring

    dalam setiap hela nafas atas kehadirat Allah Swt serta salam dan

    shalawat tercurah kepada kekasih Allah, Nabiullah Muhammad Saw, para

    sahabat dan keluarganya serta ummat yang senantiasa istiqamah dijalan-

    Nya.

    Tiada jalan tanpa rintangan, tiada puncak tanpa tanjakan, tiada

    kesuksesan tanpa perjuangan. Dengan kesungguhan dan keyakinan

    untuk terus melangkah, akhirnya sampai dititik akhir penyelesaian skripsi

    ini. Namun, semua tak lepas dari uluran tangan berbagai pihak lewat

    dukungan, arahan, bimbingan, serta bantuan moril dan materil.

    Maka melalui kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima

    kasih kepada yang terhormat:

    1. Bapak Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., M.M. selaku Rektor

    Universitas Muhammadiyah Makassar.

    2. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I, selaku Dekan Fakultas

    Agama Islam.

    3. Bapak Dr. Ir. Muchlis Mappangaja, MP selaku ketua Jurusan

    Hukum Ekonomi Syariah dan Bapak Hasanuddin S.E, Sy., M.E

    selaku sekretaris jurusan Hukum Ekonomi Syariah.

    4. Ibu Hurriah Ali Hasan, ST, M.E., PhD dan Ibu Dra.Mustahidang

    Usman,M,Si selaku pembimbing penulis dalam menyelesaikan

    skripsi ini.

    5. Bapak/ibu para dosen Fakultas Agama Islam Universitas

    Muhammadiyah Makassar.

    6. Kedua orang tua saya tercinta Mustakim dan Dewi Bunga yang

    tiada henti-hentinya mendoakan, memberi dorongan moril maupun

    materi selama menempuh pendidikan. Terima kasih atas doa,

  • viii

    motivasi dan bantuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan

    skripsi ini.

    7. Kakak saya satu-satunya Ravita Wulandary yang selalu

    memberikan supportnya kepada saya dan semua keluarga saya

    yang ada di Pinrang dan Tolitoli.

    8. Bapak/ibu para pegawai dan staf di Badan Pendapatan Daerah

    Provinsi Sulawesi Selatan .

    9. Teman dan sahabat penulis yang selalu memberi dukungan dalam

    menyelesaikan skripsi ini.

    10. Terakhir ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada mereka

    yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu tetapi

    banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

    Penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai

    pihak yang sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu

    persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-

    mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca,

    terutama bagi diri pribadi penulis. Amin

    Makassar, 10 Jumadil Akhir 1441 H 3 Februari 2020 M

    Penulis

    Rara Erika

  • x

    DAFTAR ISI

    HALAMAN SAMPUL ........................................................................... i

    HALAMAN JUDUL ............................................................................... ii

    PENGESAHAN SKRIPSI ..................................................................... iii

    BERITA ACARA MUNAQASYAH ........................................................ iv

    PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................................... v

    SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ..................................... vi

    ABSTRAK ............................................................................................ vii

    KATA PENGANTAR ............................................................................ viii

    DAFTAR ISI ......................................................................................... x

    DAFTAR TABEL .................................................................................. xiii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1

    B. Rumusan Masalah ....................................................................... 4

    C. Tujuan Penelitian.......................................................................... 4

    D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 4

    1. Manfaat Untuk Peneliti ............................................................. 4

    2. Manfaat Untuk Pemerintah/Samsat .......................................... 4

    3. Manfaat Untuk Peneliti Selanjutnya .......................................... 4

    4. Manfaat Untuk Masyarakat ...................................................... 5

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    A. Inovasi Layanan ........................................................................... 6

    a. Teori inovasi......................................................................... 6

  • xi

    b. Pengertian inovasi menurut para ahli ................................... 7

    c. Bagian-bagian inovasi .......................................................... 8

    B. Teori layanan ............................................................................... 8

    a. Pengertian layanan menurut para ahli .................................. 8

    b. Pengertian pelayan publik .................................................... 13

    c. Dasar dan tujuan inovasi layanan ........................................ 15

    d. Kelompok pelayanan publik ................................................. 15

    e. Faktor-faktor pendukung pelayanan ..................................... 15

    f. Penjelasan inovasi layanan .................................................. 18

    g. Teori partisipasi masyarakat ................................................ 18

    C. PAJAK .......................................................................................... 19

    a. Pengertian pajak .................................................................. 19

    b. Fungsi pajak......................................................................... 20

    c. Teori-toeri yang mnendukung penerimaan pajak ................. 22

    d. Pajak menurut para ulama ................................................... 24

    e. Prinsip penerimaan pajak dalam Islam ................................. 25

    f. Karakteristik pajak menurut Islam ........................................ 34

    g. Dasar pengenaan pajak dalam Islam ................................... 35

    D. Zakat sebagai pengganti pajak ..................................................... 36

    E. Macam-macam pajak kendaraan bermotor di indonesia............... 38

    F. Penelitian terdahulu ...................................................................... 39

    BAB III METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian .......................................................................... 40

  • xii

    B. Lokasi dan waktu penelitian ....................................................... 40

    C. Fokus dan deskripsi penelitian ................................................... 41

    D. Instrumen Penelitian .................................................................. 42

    E. Jenis Data .................................................................................. 42

    F. Teknik Analisis Data ................................................................... 43

    G. Teknik Pengumpulan Data........................................................... 45

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Hasil Penelitian .......................................................................... 46

    a. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................... 46

    1. Sejarah Badan Pendapatan Daerah ........................................... 46

    2. Pajak Daerah .............................................................................. 48

    3. Nama-Nama Kepala Badan Pendapatan Daearah ..................... 49

    4.Layanan Unggulan Badan Pendapatan Daerah Prov. Sulsel ....... 50

    5.Instansi Yang Bekerja Sama ....................................................... 54

    B. Deskripsi Narasumber ................................................................ 55

    C. Pembahasan .............................................................................. 61

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ................................................................................ 66

    B. Saran ......................................................................................... 66

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 68

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    LAMPIRAN

    DOKUMENTASI

  • xiii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ........................................................... 39

    Tabel 4.1 Deskripsi Narasumber ......................................................... 55

    Tabel 4.2 Peningkatan Pembayaran Unit Kendaraan ........................ 61

    Tabel 4.3 Peningkatan Penerimaan .................................................... 61

    Tabel 4.4 Peningkatan layanan Unit Kendaraan ................................. 62

    Tabel 4.5 Peningkatan Penerimaan .................................................... 63

    Tabel 4.6 Peningkatan layanan Unit Kendaraan ................................. 64

    Tabel 4.7 Peningkatan Penerimaan .................................................... 65

  • 41

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran umum lokasi penelitian

    1. Sejarah Badan Pendapatan Daerah

    Dinas Pendapatan Daerah sebagai Satuan Kerja Daerah (SKPD) Pemerintah

    Provinsi Sulawesi Selatan yang diberikan kewenangan mengamban tugas di bidang

    Pendapatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004

    tentang Pemerintahan Daerah dimana Pemerintah Daerah mempunyai hak mengelola

    Pendapatan Daerah, antara Iain memungut Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,

    mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya

    Lainnya yang barada di Daerah, mendapatkan sumber-sumber pendapatan yang sah

    guna pambiayaan kegiatan Pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan48

    Pada awalnya sekitar tahun 1972 ke bawah Dinas Pendapatan Daerah

    merupakan salah satu bagian pada Biro Keuangan Setwilda Provinsi Sulawesi

    Selatan dengan nama Bagian Penghasilan Daerah. Dalam perkembangan

    selanjutnya dengan luasnya Daerah kerja urusan-urusan yang menyangkut

    Pendapatan daerah baik meliputi Pendapatan Asli daerah sendiri (Pajak, Retribusi

    dan Pendapatan-pendapatan Daerah lainnya yang sah maupun Pendapatan Negara

    yang diserahkan ke daerah

    48 UU No.32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Indonesia memiliki banyak sekali pengelolaan Lembaga di

    antaranya adalah Lembaga perpajakan sejak tahun 1983 pemerintah

    Indonesia telah mengubah sistem pemungutan pajak yang semula

    menggunakan official assessment (dipakai saat era kolonial belanda

    menjadi self assessment).

    Perpajakan di Indonesia diatur melalui pasal 23 A UUD 1945 yang

    isinya adalah pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk

    keperluan negara diatur dengan undang-undang1 dan peraturan lainnya

    seperti UU No. 28 Tahun 2007 pasal 1 perubahan ketiga atas undang-

    undang nomor 6 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara

    perpajakan2.

    Pelayanan publik adalah segala kegiatan dalam rangka

    pemenuhan kebutuhan dasar sesuai hak-hak dasar setiap warga negara

    dan penduduk atas suatu barang, jasa dan atau pelayanan administrasi

    yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan yang terkait dengan

    kepentingan publik. Penyelenggara pelayanan publik adalah lembaga dan

    petugas pelayanan publik baik Pemerintah Daerah maupun Badan Usaha

    Milik Daerah (BUMD) yang menyelenggarakan pelayanan publik.

    1 UUD 1945 pasal 23 A tentang perpajakan. 2 UU No.28 pasal 1 tahun 2007 perubahan ketiga atas uu no.6 tahun 1983

    tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan

  • 2

    Penerima Layanan Publik adalah Menurut keputusan menteri

    Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:Kep/25M.Pan/2/2004 dari pasal

    1 sampai pasal 5 Tentang Pedoman

    Umum Penyusunan indeks kepuasan masyarakat unit pelayanan

    instansi pemerintah3. Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan

    yang dilaksankan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya

    pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan, maupun dalam rangka

    pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Masyarakat merupakan pelanggan dari pelayanan publik, juga

    memiliki kebutuhan dan harapan pada kinerja penyelenggara pelayanan

    publik yang profesional. Sehingga tugas pemerintah pusat maupun.

    Pemerintahan daerah adalah bagaimana memberikan pelayanan publik

    yang mampu memuaskan masyarakat. Adanya implementasi kebijakan

    desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia yang tertuang dalam UU

    No. 23 tahun 2014 pasal 1 ketentuan umum tentang pemerintahan daerah

    menyebutkan bahwa pemerintah mempunyai tanggung jawab,

    kewenangan dan menentukan standar pelayanan minimal, hal ini

    mengakibatkan setiap daerah (Kotamadya/Kabupaten) di Indonesia harus

    melakukan pelayanan publik yang sebaik-baiknya dengan standar

    minimal.4

    3 Keputusan menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: Kep/25M.Pan/2/2004 dari

    pasal 1-5 Tentang Pedoman Umum Penyusunan indeks kepuasan masyarakat unit pelayanan instansi pemerintah.

    4 UU No. 23 pasal 1 tahun tentang ketentuan umum pemerintahan daerah.

  • 3

    Pelayanan publik menjadi suatu tolok ukur kinerja pemerintah yang

    paling kasat mata masyarakat dapat langsung menilai kinerja pemerintah

    berdasarkan kualitas layanan publik yang diterima, karena kualitas

    layanan publik dirasakan masyarakat dari semua kalangan, dimana

    keberhasilan dalam membangun kinerja pelayanan publik secara

    profesional, efektif, efisien, dan akuntabel akan mengangkat citra positif

    Pemerintah di mata warga masyarakatnya.

    Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik,

    sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Republik Indonesia

    Nomor 25 Tahun 2000 tentang program pembangunan nasional

    (PROPENAS), perlu disusun studi mengenai kepuasan masyarakat dan

    menyususn indeks kepuasan masyarakat sebagai tolak ukur untuk menilai

    tingkat kualitas pelayanan.5 Di samping itu data indeks kepuasan

    masyarakat akan dapat menjadi bahan penilaian terhadap unsur

    pelayanan yang masih perlu perbaikan dan menjadi pendorong setiap unit

    penyelenggara pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya.

    Pelayanan publik oleh aparatur pemerintah dewasa ini masih

    banyak dijumpai kelemahan sehingga belum dapat memenuhi kualitas

    yang diharapkan masyarakat. Hal ini ditandai dengan masih adanya

    berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan melalui media massa,

    sehingga dapat menimbulkan citra yang kurang baik terhadap aparatur

    Pemerintah. Mengingat fungsi utama pemerintah adalah melayani

    5 UU Republik Indonesia no. 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional.

  • 4

    masyarakat maka pemerintah perlu terus berupaya meningkatkan kualitas

    pelayanan.

    B. Rumusan Masalah

    Dengan adanya latar belakang di atas dapat dirumuskan

    permasalahan penelitian sebagai berikut:

    1. Bagaimana inovasi layanan unggulan dapat meningkatkan

    penerimaan pelayanan kepada wajib pajak kendaraan bermotor

    di provinsi Sulawesi Selatan?

    2. Bagaimana layanan unggulan dalam meningkatkan penerimaan

    pajak kendaraan bermotor di Provinsi Sulawesi Selatan?

    C. Tujuan Penelitian

    Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk

    mengetahui:

    1. Untuk mengetahui bagaimana inovasi layanan unggulan dapat

    meningkatkan pelayanan pajak kendaraan bermotor di provinsi

    Sulawesi selatan.

    2. Untuk mengetahui bagaimana peran layanan unggulan dalam

    meningkatkan penerimaan pajak di Provinsi Sulawesi Selatan.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat untuk peneliti

    Untuk menambah refrensi kajian ilmu tentang bagaimana

    pengelolaan pajak daerah di provinsi Sulawesi selatan.

  • 5

    Untuk mengetahui pendapat masyarakat terhadap layanan

    unggulan yang di buat oleh Samsat.

    2. Manfaat untuk pemerintah/samsat

    Bagi pemerintah atau samsat diharapkan penelitian ini dapat

    memberikan informasi bagaimana inovasi layanan yang dibuat

    dapat meningkatkan pajak asli daerah (PAD).

    3. Manfaat untuk peneliti selanjutunya

    Dapat memberikan refrensi ilmu pengetahuan tentang pembayaran

    pajak dan pemungutan pajak kendaraan bermotor dari layanan

    unggulan.

    4. Manfaat untuk masyarakat

    a. Dapat memberikan informasi kepada pihak-pihak yang

    membutuhkan dan sebagai bahan masukan, pertimbangan,

    panduan untuk mengetahui cara pembayaran pajak kendaraan

    bermotor di provinsi Sulawesi selatan.

    b. Dapat memberikan info penting tentang pajak kendaraan

    bermotor yang umumnya dilakukan masyarakat setiap

    tahunnya.

  • 6

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Inovasi layanan

    a. Teori Inovasi

    Kata inovasi berasal dari kata latin, “innovation” yang berarti

    pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya “innova” yang artinya

    memperbaiki dan mengubah. Inovasi dapat diartikan sebagai “proses” dan

    atau “hasil” pengembangan dan pemanfaatan atau mobilisasi

    pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan

    pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang

    dan/atau jasa), proses, dan sistem yang baru, yang memberikan nilai yang

    berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial).

    Inovasi dapat dikatakan juga suatu perubahan yang baru menuju

    kearah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang sudah ada

    sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana atau tidak

    secara kebetulan.

    Inovasi adalah suatu alat, atau gagasan yang baru di mana hal

    tersebut belum pernah ada sebelumnya, di mana dengan terciptanya hal

    baru tersebut diharapkan dapat menjadi sesuatu yang menarik dan

    berguna.

    Pengertian Inovasi menurut UU No. 18 tahun 2002 pasal 1 ayat 9,

    tentang sistem nasional penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu

    pengetahuan teknologi. Inovasi adalah kegiatan penelitian,

  • 7

    pengembangan, dan perekayasaan yang bertujuan mengembangkan

    penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau

    cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah

    ada ke dalam produk atau proses produksi.6

    b. Pengertian inovasi menurut para ahli

    Sedangkan menurut para ahli inovasi adalah sebagai berikut:

    1. Everett M. Rogers mendefinisikan bahwa inovasi adalah suatu ide,

    gagasan, praktek atau objek/benda yang di dasari dan diterima

    sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk

    diadopsi.7

    2. Peter F. Drucker di dalam bukunya Innovation and

    enterpeneurship mengatakan inovasi wirausahawan menciptakan

    baik sumber daya produksi baru maupun pengeloahan sumber

    daya yang ada dengan peningkatan nilai potensi untuk

    menciptakan modal.8

    3. Hurley and Hult mendefinisikan inovasi sebagai sebuah

    mekanisme perusahaan untuk dapat beradaptasi dalam

    lingkungan yang dinamis, oleh karena itu perusahaan dituntut

    untuk mampu menciptakan pemikiran-pemikiran baru, gagasan-

    gagasan baru, dan menawarkan produk yang inovatif serta

    peningkatan pelayanan yang memuaskan pelanggan.9

    6 UU No. 18 Pasal 1 Ayat 9 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional Penelitian,

    Pengembangan, Dan Penerapan Ilmu. 7 Rogers, Everett M. Difussion Of Innovations (New York : Free Pass, 1983).h.419 8 Drucker, F. Peter. Innovations And Enterpenurship (New York : Harper Collins

    Publishers, 2002).h.177 9 Hurley, Rober Dan Hult Thomas. Innovation Market Orientation And Organizational

    Leraning (Amerika Serikat : Michigan State University, 1998).h.45

  • 8

    c. Bagian-bagian inovasi

    Jenis Inovasi, inovasi terdiri dar 4 jenis, yakni:

    1. Penemuan (invention)

    2. Pengembangan (extension)

    3. Duplikasi (duplication)

    4. Sintesis (synthesis)

    Sementara itu dalam inovasi mempunyai 4 (empat) ciri yaitu:

    1. Memiliki keikhlasan

    2. Memiliki ciri atau unsur kebaruan

    3. Program inovasi dilaksanakan melalui program yang

    terencana

    4. Inovasi yang digulirkan memiliki tujuan

    Sifat perubahan dalam inovasi ada 6 kelompok yaitu:

    1. Penggantian (substitution)

    2. Perubahan (alternation)

    3. Penambahan (addition)

    4. Penyusunan kembali (restructhuring)

    5. Penghapusan (elimination)

    6. Penguatan (reinforcement)

    B. Teori Layanan

    Agus Dwiyanto layanan adalah suatu tindakan sukarela dari satu

    pihak lain dengan tujuan hanya sekedar membantu atau adanya

  • 9

    permintaan kepada pihak lain untuk memenuhi kebutuhannya secara

    sukarela.10

    Pelayanan menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) adalah

    sebagai suatu usaha untuk membantu menyiapkan atau mengurus apa

    yang diperlukan orang lain. Sedangkan menurut Moenir pelayanan adalah

    kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan

    landasan faktor materi melalui sistem, prosedur dan metode tertentu

    dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan

    haknya.11

    Pelayanan hakikatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu

    pelayanan merupakan sebuah proses. Sebagai proses, pelayanan

    berlangsung secara rutin dan berkesinambungan, meliputi seluruh

    kehidupan orang dalam masyarakat.

    Menurut Supranto pelayanan atau jasa merupakan suatu kinerja

    penampilan, tidak terwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan dari

    pada dimiliki, serta pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses

    mengonsumsi jasa tersebut.12

    Berdasarkan berbagai pendapat di atas maka peneliti mengambil

    kesimpulan bahwa pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh

    sesorang maupun sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan orang

    10 Dwiyanto. Agus. Reformasi Pelayanan Publik Apa Yang Harus Dilakukan (Yogyakarta : Pusat Studi Kependudukan Dan Kebijakan UGM, 2013).h.54

    11 Moenir, H.A.S. Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia (Jakarta : Bumi Aksara 2010).h.26

    12 Supranto, J. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan (Jakarta : Rineka Cipta 2006).h.227.

  • 10

    lain sesuai dengan prosedur dan sistem yang telah ditetapkan

    sebelumnya.

    a. Pengertian layanan menurut para ahli

    Loina dalam bukunya “Hubungan Masyarakat Membina

    Hubungan Baik Dengan Publik” mengatakan bahwa

    pelayanan merupakan suatu proses keseluruhan dari

    pembentukan citra perusahaan, baik melalui media berita,

    membentuk budaya perusahaan secara internal, maupun

    melakukan komunikasi tentang pandangan perusahaan

    kepada para pemimpin pemerintahan serta publik lainnya

    yang berkepentingan.13

    Pelayanan publik diibaratkan sebagai sebuah proses, dimana

    ada orang yang dilayani, melayani, dan jenis dari pelayanan

    yang diberikan. Sehingga kiranya pelayanan publik memuat

    hal-hal yang subtansial yang berbeda dengan pelayanan

    yang diberikan oleh swasta. Pelayanan publik adalah

    pelayanan yang diberikan oleh pemerintah dalam rangka

    memenuhi segala kebutuhan masyarakat, sehingga dapat

    dibedakan dengan pelayanan yang dilakukan oleh swasta.14

    Citizen Charter (CC) adalah standar pelayanan yang

    ditetapkan berdasarkan aspirasi dari pelanggan, dan birokrasi

    berjanji untuk memenuhinya. Citizen Charter (CC) merupakan

    13 Perangin-Angin, Loina. Hubungan Masyarakat Membina Hubungan Baik Dengan

    Publik (Jakarta : Pt. Araja Grafindo 2001).h.38 14 Ratminto, Manajemen Pelayanan,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2006).h.23

  • 11

    sebuah pendekatan dalam menyelenggarakan pelayanan

    publik yang menempatkan pengguna layanan atau pelanggan

    sebagai pusat perhatian. Dalam hal ini, kebutuhan dan

    kepentingan pengguna layanan harus menjadi pertimbangan

    utama dalam proses pelayanan.15

    Faktor yang mempengaruhi pelayanan

    1) Tangibles/bukti langsung merupakan bukti nyata dari

    kepedulian dan perhatian yang diberikan oleh penyedia jasa

    kepada konsumen.

    2) Reliability/keandalan merupakan kemampuan perusahaan

    untuk melaksanakan jasa sesuai dengan apa yang telah

    dijanjikan secara tepat waktu.

    3) Responsivenes/ketanggapan merupakan kemampuan

    perusahaan yang dilakukan langsung oleh karyawan untuk

    memberikan pelayanan dengan cepat dan tanggap.

    4) Assurance/jaminan merupakan pengetahuan dan perilaku

    employee untuk membangun kepercayaan dan keyakinan

    pada diri konsumen dalam mengkonsumsi jasa yang

    ditawarkan.

    5) Emphaty/empati merupakan kemampuan perushaan yang

    dilakukan langsung oleh karyawan untuk memberikan

    perhatian kepada konsumen secara individu.

    15AG. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik: Konsep Teori dan Aplikasi,(Yogyakarta:

    Pustaka Pelajar).h. 45.

  • 12

    Masyarakat yang merupakan pelanggan dari pelayanan publik, juga

    memiliki kebutuhan dan harapan pada kinerja penyelenggara pelayanan

    publik yang professional. Sehingga yang sekarang menjadi tugas

    Pemerintah Pusat maupun. Pemerintahan daerah adalah bagaimana

    memberikan pelayanan publik yang mampu memuaskan masyarakat.

    Adanya implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di

    Indonesia yang tertuang dalam UU nomor 23 tahun 2014 pasal 1 tentang

    Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa Pemerintah mempunyai

    tanggung jawab, kewenangan dan menentukan standar pelayanan

    minimal, hal ini mengakibatkan setiap Daerah (Kotamadya/Kabupaten) di

    Indonesia harus melakukan pelayanan publik yang sebaik-baiknya dengan

    standar minimal.16

    Pelayanan publik menjadi suatu tolok ukur kinerja Pemerintah yang

    paling kasat mata Masyarakat dapat langsung menilai kinerja pemerintah

    berdasarkan kualitas layanan publik yang diterima, karena kualitas

    layanan publik dirasakan masyarakat dari semua kalangan, di mana

    keberhasilan dalam membangun kinerja pelayanan publik secara

    profesional, efektif, efisien, dan akuntabel akan mengangkat citra positif

    pemerintah di mata warga masyarakatnya.

    Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik,

    sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Republik Indonesia

    Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional

    16 UU No. 23 Pasal 1 Tahun 2014 Tentang Ketentuan Umum Pemerintah Daerah.

  • 13

    (PROPENAS)17, perlu disusun studi mengenai kepuasan masyarakat dan

    menyususn indekskepuasan masyarakat sebagai tolok ukur untuk menilai

    tingkat kualitas pelayanan. Di samping itu data indeks kepuasan

    masyarakat akan dapat menjadi bahan penilaian terhadap unsur

    pelayanan yang masih perlu perbaikan dan menjadi pendorong setiap unit

    penyelenggara pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya.

    Pelayanan publik oleh aparatur Pemerintah dewasa ini masih banyak

    dijumpai kelemahan sehingga belum dapat memenuhi kualitas yang

    diharapkan masyarakat. Hal ini ditandai dengan masih adanya berbagai

    keluhan masyarakat yang disampaikan melalui media massa, sehingga

    dapat menimbulkan citra yang kurang baik terhadap aparatur Pemerintah.

    Mengingat fungsi utama pemerintah adalah melayani masyarakat maka

    Pemerintah perlu terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan.

    b. Pengertian pelayanan publik

    Pelayanan publik sangat erat kaitannya dengan pemerintah,

    karena salah satu tanggung jawab pemerintah ialah memberikan

    pelyanan kepada masyarakat. Kualitas pelayanan publik yang

    diterima masyarakat secara langsung dapat dijadikan tolak ukur

    dalam menilai kualitas pemerintah.

    Pelayanan publik memiiliki peran penting dalam kehidupan

    masyarakat saat ini dikarenakan tidak semua jasa atau pelayanan

    disediakan oleh pihak swasta, oleh karena itu pemerintah memiliki

    17 UU No. 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional (PROPERNAS).

  • 14

    kewajiban untuk memenuhi kebutuhan palayanan masyarakat yang

    tidak disediakan swasta tersebut.

    Sedangkan di dalam Undang-undang No. 25 tahun 2009 pasal 1

    tentang pelayanan publik, mendefinisikan bahwa pelayanan adalah

    kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan

    kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-

    undangan bagi setiap warga dan penduduk atas barang, jasa, dan

    atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara

    pelayanan publik.18 Adapun asas-asas pelayanan publik yang

    termuat dalam undang-undang tersebut meliputi:

    1. Kepentingan umum

    2. Kepastian hukum

    3. Kesamaan hak

    4. Keseimbangan hak dan kewajiban

    5. Keprofesionalan

    6. Partisipatif

    7. Persamaan perlakuan/tidak diskriminatif

    8. keterbukaan

    9. Akuntabilitas

    10. Fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelomok rentan

    11. Ketepatan waktu

    12. Kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan

    18 UU No. 25 Pasal 1 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.

  • 15

    Berdasarkan deifnisi di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa

    pelayanan publik adalah serangkaian proses atau usaha yang

    dilakukan perorangan maupun instansi publik untuk mencapai tujuan

    tertentu atau melaksanakan ketentuan perundang-undangan.

    c. Dasar dan Tujuan inovasi layanan

    Dasar inovasi layanan adalah:

    1. Mempermudah masyarakat dalam membayar pajak

    kendaraan.

    2. Mempersingkat waktu wajib pajak dalam hal pemabayaran

    pajak.

    Tujuan inovasi layanan adalah:

    1. Dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD)

    2. Menambah pemasukan bagi daerah.

    d. Kelompok pelayanan publik

    Di dalam undang-undang No. 25 tahun 2009 pasal 1 tentang

    pelayanan publik terdapat tiga kelompok dalam ruang lingkup

    pelayanan publik meliputi:19

    1. Pelayanan barang publik

    2. Pelayanan atas jasa publik

    3. Pelayanan administratif

    e. Faktor-faktor pendukung pelayanan

    Terdapat enam faktor yang mendukung terlaksananya pelayanan

    publik yang baik dan memuaskan antara lain:

    19 UU No. 25 Pasal 1 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.

  • 16

    1. Faktor kesadaran

    Faktor kesadaran ini mengarah pada keadaan jiwa seseorang

    yang merupakan titik temu dari beberapa pertimbangan sehingga

    diperoleh suatu keyakinan, ketenangan, ketetapan hati dan

    keseimbangan jiwa. Dengan adanya kesadaran akan membawa

    seseorang kepada kesungguhan dalam melaksanakan

    pekerjaan.

    2. Faktor aturan

    Aturan sebagai perangkat penting dalam segala tindakan

    pekerjaan seseorang. Oleh karena itu, setiap aturan secara

    langsung atau tidak langsung akan berpengaruh. Dengan

    adanya aturan ini seseorang akan mempunyai pertimbangan

    dalam menentukan langkahnya. Pertimbangan pertama manusia

    sebagai subjek aturan ditunjukan oleh hal-hal penting:

    1) Kewenangan

    2) Pengetahuan dan pengalaman

    3) Kemampuan bahasa

    4) Pemahaman pelaksanaan

    5) Disiplin dalam melaksanakan diantaranya disiplin waktu

    dan disiplin kerja.

    3. Faktor organisasi

    Faktor organisasi tidak hanya terdiri dari susunan organisasi

    tetapi lebih banyak pada pengaturan mekanisme kerja. Sehingga

  • 17

    dalam organisasi perlu adanya sarana pendukung yaitu sistem,

    prosedur, dan metode untuk memperlancar mekanisme kerja.

    4. Faktor pendapatan

    Faktor pendapatan yang diterima oleh seseorang merupakan

    inbalan atas tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan orang lain.

    Pendapatan dalam bentuk uang, iuran atau fasilitas dalam

    jangka waktu tertentu.

    5. Faktor kemampuan dan keterampilan

    Faktor kemampuan merupakan titik ukur untuk mengetahui

    sejauh mana pegawai dapat melakukan suatu pekerjaan

    sehingga menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan apa

    yang diharapkan.

    6. Faktor sarana pelayanan

    Faktor sarana yang dimaksud yaitu segala jenis peralatan,

    perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat

    pendukung utama dalam mempercepat pelaksanaan

    penyelesaian pekerjaan. Adapun fungsi sarana pelayanan,

    antara lain: Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan

    sehingga dapat menghemat waktu Meningkatkan produktivitas

    baik barang atau jasa Ketetapan susunan yang baik dan terjamin

  • 18

    Menimbulkan rasa nayaman bagi orang yang berkepentingan.

    Menimbulkan perasaan puas pada orang-orang yang

    berkepentingan sehingga dapat mengurangi sifat emosional.20

    f. Penjelasan Inovasi Layanan

    Inovasi layanan dimaksudkan untuk memberikan layanan yang

    lebih baik lagi (layanan prima) kepada masyarakat baik mengenai

    persyaratan, prosedur, waktu maupun biaya layanan, serta

    terwujudnya transfaransi dan akuntanbilitas layanan unggulan

    Samsat.

    g. Teori partisipasi masyarakat

    Banyak ahli memberikan pengertian mengenai konsep

    partisipasi. Partisipasi berarti peran serta seseorang atau kelompok

    masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk

    pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi

    masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi,

    serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil -hasil pembangunan21.

    Menurut Sundariningrum mengklasifikasikan partisipasi menjadi 2

    (dua) berdasarkan cara keterlibatannya, yaitu :

    a. Partisipasi Langsung Partisipasi yang terjadi apabila individu

    menampilkan kegiatan tertentu dalam proses partisipasi.

    Partisipasi ini terjadi apabila setiap orang dapat mengajukan

    20 Moenir, H. A.S. Manajemen Pelayanan Umum di Indoneisa (Jakarta:Bumi

    Aksara) h.88-119 21 Sumardi I Nyoman, sosiologi pemerintahan: dari perspektif pelayanan,

    pemberdayaan, interaksi, dan sistem kepemimpinan pemerintahan indonesia (Indonesia : ghalia 2010).h.46.

  • 19

    pandangan, membahas pokok permasalahan, mengajukan

    keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap

    ucapannya.

    b. Partisipasi tidak langsung Partisipasi yang terjadi apabila individu

    mendelegasikan hak partisipasinya.22.

    Jenjang partisipasi masyarakat dapat direncanakan sesuai

    dengan konteks dan kebutuhan tertentu. Definsi dari “partisipasi

    masyarakat” adalah sebuah bentuk pemaknaan tentang praktek

    yang baik. Individu atau kelompok dapat di ikut sertakan untuk

    membangun partisipasi mereka sendiri. Jenjang partisipasi

    masyarakat menunjukkan bahwa kata “partisipasi” dapat digunakan

    untuk aktivitas dan hubungan yang berbeda. Jenjang partisipasi

    masyarakat juga dapat menunjukkan bahwa masing-masing model

    partisipasi merupakan semuanya berbicara tentang kekuasaan. Hal

    ini dapat mengurangi ketergantungan dan memperbaiki kebiasaan

    masyarakat untuk lebih baik.

    C. Pajak

    a. Pengertian pajak

    Beberapa ahli mengemukakan definisi tentang pajak, di antaranya

    adalah:

    1. Menurut Adrian Sutedi pajak adalah iuran rakyat kepada kas

    negara berdasarkan undang–undang sehingga dapat dipaksakan

    dengan tidak mendapatkan balas jasa secara langsung. Pajak di

    22 Sundariningrum, partisipasi masyarakat (Yogyakarta : pelajar 2001).h.38

  • 20

    pungut penguasa berdasarkan norma–norma hukum untuk

    menutupi biaya produksi barang–barang dan jasa kolektif untuk

    mencapai kesejahteraan umum.23

    2. Menurut Rochmat Soemitro sebagaimana dikutip Brotodihardjo

    mendefinisikan pajak adalah Iuran rakyat kepada kas negara

    berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan

    tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi yang langsung

    dapat ditunjukkkan dan yang di gunakan untuk membayar

    pengeluaran umum.24

    3. Menurut Felment bahwa pajak adalah prestasi yang dapat

    dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada penguasa (menurut

    norma-norma yang ditetapkannya secara umum), tanpa adanya

    kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup

    pengeluaran-pengeluaran umum.25

    b. Fungsi Pajak

    Dilihat dari definisi pajak diatas, pajak mempunyai fungsi untuk

    membiayai pengeluaran-pengeluaran umum Pajak adalah iuran rakyat

    kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan)

    dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung

    23 Adrian sutedi. Hukum pajak cetakan ke-2. ( Jakarta : sinar grafika 2013). h. 2. 24 Haulana rosdiana & Edi Slamet Irianto. Pengantar ilmu pajak. Cetakan ke. 3. (Jakarta :

    Rajawali pers 2014 ) h. 3 25 Siti Resmi. Perpajakan : teori dan kasus (Jakarta : Salemba Empat 2003) h. 1.

  • 21

    dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran

    umum26.

    Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat

    dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut

    peraturan-peraturan umum (Undang-Undang) dengan tidak mendapat

    prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan gunanya adalah untuk

    membiayai pengeluaran-pengeluran umum berhubung tugas negara

    menyelenggarakan pemerintahan27.

    Menurut Resmi pajak memiliki 2 fungsi yaitu fungsi budgetair

    (sumber keuangan negara) dan fungsi regularend (pengatur).

    1. Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara) Pajak mempunyai

    fungsi budgetair, artinya pajak merupakan salah satu sumber

    penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin

    maupun pembangunan. Sebagai sumber keuangan negara,

    pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya

    untuk kas negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara

    ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui

    penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti pajak

    penghasilan 7 (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak

    Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan

    Bangunan (PBB), dan lain-lain.

    26 Prof. Dr. Mardiasmo, Mba., Ak, perpajakan (jakarta : gramedia 2011).h.1

    27 Dr. Waluyo, M.sc., Ak perpajakan indonesia (Jakarta : salemba empat 2011).h.2.

  • 22

    2. Fungsi Regularend (pengatur) Pajak mempunyai fungsi

    pengatur, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau

    melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan

    ekonomi, serta mencapai tujuan-tujuan tertentu diluar bidang

    keuangan28.

    c. Teori-Teori Yang Mendukung Penerimaan Pajak

    Sekalipun sudah ada teori-teori yang mendasari, tetapi tetap saja

    pembayaran pajak yang dilakukan oleh seseorang akan dirasakan

    sebagai suatu beban semata. Menyadari kondisi yang demikian,

    pemahaman yang mendalam akan teori- teori pemungutan pajak berikut

    ini diharapkan membawa satu kesadaran akan pentingnya pemungutan

    pajak. Yang bukan lagi menjadi beban semata tetapi menjadi suatu

    kewajiban yang menyenangkan dalam hidup bermasyarakat dan

    bernegara.

    Teori-teori tersebut antara lain:

    a) Teori Asuransi

    Negara melindungi keselamatan jiwa, harta benda, dan hak-

    hak rakyatnya. Oleh karena itu rakyat harus membayar pajak

    yang diibaratkan sebagai sebagai premi asuransi karena

    memperoleh jaminan perlindungan tersebut.

    b) Teori Kepentingan

    Pembagian beban pajak kepada rakyat didasarkan pada

    kepentingan (misalnya perlindungan) masing-masing orang.

    28 Siti Resmi. Perpajakan : teori dan kasus (Jakarta : salemba empat 2011).h.3.

  • 23

    Semakin besar kepentingan seseorang terhadap negara,

    semakin tinggi pajak yang harus dibayar.

    c) Teori Daya Pikul

    Beban pajak untuk semua orang harus sama beratnya,

    artinya pajak harus dibayar sesuai dengan daya pikul

    masing-masing orang. Untuk mengukur daya pikul dapat

    digunakan 2 pendekatan yaitu:

    a. Unsur obyektif, dengan melihat besarnya penghasilan

    kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.

    b. Unsur subyektif, dengan memperhatikan besarnya

    kebutuhan materil yang harus dipenuhi.

    d) Teori Asas Daya Beli

    Dasar keadilan terletak pada akibat pemungutan pajak.

    Maksudnya memungut berarti menarik daya beli rumah

    tangga masyarakat untuk rumah tangga negara selanjutnya

    negara akan menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam

    bentuk pemeliharaan kesejahteraan masyarakat. Dengan

    demikian kepentingan seluruh masyarakat lebih

    diutamakan.29

    29 Ahmad Akhyar abdul ahad. “Kontribusi pajak kendaraan bermotor terhadap

    peningkatan pendapatan asli daerah provinsi sulawesi selatan (studi pada kantor dispenda provinsi sulawesi selatan)”skripsi : universitas negeri makassar fakultas ilmu sosial 2016.h.19

  • 24

    d. Pajak Menurut Para Ulama

    Ada pun beberapa ulama yang memberikan definisi tentang pajak dalam

    Islam di antaranya:

    1. Yusuf Qardhawi berpendapat: pajak adalah kewajiban yang

    ditetapkan terhadap wajib pajak, yang harus disetorkan kepada

    Negara sesuai dengan ketentuan, tanpa mendapat prestasi

    kembali dari Negara, dan hasilnya untuk membiayai

    pengeluaran-pengeluaran umum di satu pihak dan untuk

    merealisasikan tujuan ekonomi, sosial, politik, dan tujuan-tujuan

    lain yang ingin dicapai oleh Negara30

    2. Gazi Inayah berpendapat: pajak adalah kewajiban untuk

    membayar tunai yang ditentukan oleh pemerintah atau pejabat

    berwenang yang bersifat mengikat tanpa adanya imbalan

    tertentu. Ketentuan pemerintah ini sesuai dengan kemampuan

    si pemilik harta dan dialokasikan untuk mencukupi pangan

    secara umumdan untuk memenuhi tuntuan politik keuangan

    bagi pemerintah31

    3. Abdul Qadim Zallum berpedapat: pajak adalah harta yang

    diwajibkan Allah swt kepada kaum untuk membiayai berbagai

    30 Yusuf al-Qaradhawi, Fiqh az-Zakah, (Beirut: Muasssasah al-Risalah, 1973), h. 998. 31 Gazi Inayah, al-Iqtishad al-Islami az-Zakah wa ad-dharibah, Dirasah Muqaranah,

    h.31

  • 25

    keutuhan dan pos-pos pengeluaran yang memang diwajibkan

    atas mereka, pada kondisi di baitul mal tidak ada uang/harta32

    Dari berbagai definisi tersebut, penulis mendefinisikan bahwa Abdul

    Qadim Zallum, menyatakan definisinya terdapat lima unsur pokok yang

    merupakan unsur penting yang harus ada dalam ketentuan pajak menurut

    syariah, yaitu:

    1. Diwajibkan oleh Allah Swt.

    2. Objeknya adalah harta (al mal).

    3. Subjeknya kaum muslimin yang kaya (ghaniyyun), tidak termasuk

    non- Muslim.

    4. Tujuannya untuk membiayai kebutuhan mereka (kaum muslimin).

    5. Diberlakukannya karena adanya kondisi darurat (khusus), yang

    harus segera diatasi oleh Ulil Amri.

    e. Prinsip Penerimaan Pajak Dalam Sejarah Islam

    Kegiatan ekonomi Islam bermula ketika Nabi Muhammad Saw

    diutus menjadi seorang Rasul atau utusan Allah. Rasulullah Saw

    mengajarkan sekaligus mencontohkan berbagai hal yang berkaitan

    dengan masalah kemasyarakatan, hukum, politik, dan juga masalah

    ekonomi. Masalah ekonomi menjadi salah satu pusat perhatian utama

    Rasulullah Saw, karena ekonomi merupakan salah satu pilar penyangga

    keimanan yang penting.33

    32 Abdul Qadim, al-Amwal fi daulah al-Khilafah, (Dar al-ilmi lilmalayin, 1988), Edisi

    terjemah oleh Ahmad dkk, Sistem Keuangan di Negara Khilafah. (Bogor: Pustaka Thariq alIzzah, 2002), h. 138. 33 Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta: The

  • 26

    Dalam fiqih Islam disebutkan bahwa pemerintah memiliki

    kekuasaan untuk memaksa warga negara membayar pajak, bila jumlah

    zakat tidak mencukupi untuk menjalankan semua kegiatan pemerintahan.

    Hak negara untuk meningkatkan sumber daya lewat pajak di samping

    zakat telah dipertahankan oleh sejumlah fuqaha yang pada prinsipnya

    mewakili semua mazhab fiqih. Hal ini disebabkan karena pada prinsipnya

    dana zakat dipergunakan untuk kesejahteraan kaum miskin padahal

    negara memerlukan sumber dana lain agar dapat melakukan fungsi

    alokasi, distribusi, dan stabilisasi secara efektif. Hal ini ditegaskan oleh

    para fuqaha berdasarkan hadits Rasulullah Saw bahwa: Pada hartamu

    ada kewajiban lain selain zakat34

    Dalam literatur islam dapat ditemukan prinsip pemungutan pajak yang

    antara lain:

    a. Negara islam berhak menaikkan atau menurunkan pajak.

    b. Besar pajak ditetapkan sesuai dengan status si pembayar dan

    tidak boleh melebihi kesanggupannya.

    c. Pajak ditarik setahun sekali.

    d. Sebuah pendapatan yang minim bebas dari pajak.

    e. Biaya-biaya perusahaan dikurangi terlebih dahulu ketika menilai

    besar pajak.

    f. Utang-utang dikurangi terlebih dahulu ketika menilai pajak. International Institue of Islamic Thought Indonesia (IIIT) 2001),h.19-20.

    34 Hadits riwayat al-Darimiy. Lebih jauh penjelasan hadits ini lihat Yusuf alQaradhawi, Fiqh az-Zakah, vol.2. h. 963

  • 27

    g. Yang tidak dikenakan pajak adalah:

    1) Tanaman-tanaman yang rusak karena banjir dan sebagainya.

    2) Dalam hal tertentu, perempuan-perempuan, anak-anak kecil,

    orang-orang yang ditanggung, orang-orang cacat, dan

    pendeta-pendeta beserta rahib-rahib yang tidak beragama

    Islam.

    h. Menghindari pajak adalah penipuan.

    i. Pengeluaran pribadi (yaitu sedekah yang melebihi jumlah pajak

    yang ditetapkan hukum) tidak dipaksa oleh hukum.

    j. Orang-orang asing akan dikenakan pajak berdasarkan prinsip

    berbalasan.

    Dalam Islam telah dijelaskan dalil-dalil baik secara umum atau

    khusus masalah pajak itu sendiri, adapun dalil secara umum,

    sebagaimana firman Allah swt dalam surat

    At Taubah ayat 41:

    ِلكُم اْوِفُسوا ِخفَافًا َوثِقَاًًل َوَجاِهُدوا بِاْمَىاِلكُم َواْوفُِسكُم فِ ي َسبِيِل اِ ذََٰ

    َخْيٌس لَكُم اْن كىُتُْمتَْعلَمىنَ Terjemahan: ‘‘Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(QS. At Taubah: 41)35.

    35 Departemen Agama RI. Al-Quran dan terjemahan (Bandung : cv. Darus sunnah 2015).

  • 28

    Tafsir Al-Muyasar

    Keluarlah kalian (wahai kaum Mukminin), untuk berjihad di jalan

    Allah, baik para pemuda maupun orang-orang yang sudah tua, dalam

    kondisi sulit maupun mudah, dalam seperti apapun keadaan kalian. Dan

    infakkanlah harta benda kalian di jalan Allah dan perangilah oleh kalian

    dengan tangan-tangan kalian untuk meniggikan kalimat Allah. Keluar dan

    infak tersebut lebih baik bagi kalian dalam keadaan kalian dan harta

    kalian daripada merasa berat, tidak berinfak serta tidak tidak ambil bagian

    dalam perang, bila kalian memang termasuk orang-orang yang

    mengetahui keutamaan jihad dan pahalanya da sisi Allah, maka

    laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian dan penuhilah

    seruan Allah dan RasulNya36.

    Tafsir Hidayatul Insan Yakni baik dalam keadaan semangat atau tidak, dalam keadaan

    kuat atau lemah, dalam keadaan kaya atau miskin dan dalam semua

    keadaan. Menurut penyusun Tafsir Al Jalaalain ayat ini dimasukkan

    dengan ayat, “Laisa „aladh dhu‟afaa…dst” (At Taubah: 91). Berjihad

    dengan jiwa dan harta lebih baik dari berdiam di tempat, karena di sana

    terdapat keridhaan Allah, memperoleh derajat yang tinggi di sisi-Nya,

    membela agama Allah, dan masuk ke dalam barisan tentara-Nya37.

    36 Tafsir al-Muyassar / Dr. Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh et al., Menteri

    Agama Saudi Arabia. 37 Tafsir Hidayatul Insan / Ust. Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

  • 29

    Tafsir Kemenag

    Setelah Allah mengecam sekaligus mengancam mereka yang

    enggan berperang, serta menegaskan bahwa Allah akan senantiasa

    menolong orang-orang mukmin, maka ayat ini menguatkan perintah

    berperang yang semata-mata demi kemaslahatan. Berangkatlah kamu ke

    medan perang dengan penuh semangat, baik dengan rasa ringan

    maupun dengan rasa berat, kondisi kuat atau lemah, kondisi longgar

    maupun sempit, masing-masing sesuai dengan kadar kemampuannya,

    dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu

    adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui tujuan berjihad di jalan

    Allah itu, antara lain, terlindunginya kaum lemah, melawan kezaliman,

    juga menjaga jalan dakwah dari perilaku zalim musuh-Musuh islaayat

    sebelumnya mendorong kaum mukmin untuk berjihad, sekaligus

    mengecam mereka yang merasa keberatan, maka ayat ini turun

    berkenaan dengan sikap kaum munafik yang enggan berangkat ke

    perang tabuk. Sekiranya yang kamu serukan kepada kaum munafik,

    dalam perkiraan mereka, ada keuntungan duniawi yang jelas serta mudah

    diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh lagi tidak sulit, juga

    ditambah udara yang tidak terlalu panas, niscaya mereka akan

    mengikutimu meskipun tidak dengan sepenuh hati. Akan tetapi, mereka

    akan enggan berangkat perang jika tempat yang dituju itu terasa sangat

    jauh bagi mereka. Bahkan untuk membangun alasan agar

    ketidakberangkatan mereka ke medan perang dianggap benar, mereka

  • 30

    tanpa merasa bersalah akan bersumpah dengan nama Allah, padahal

    sebenarnya bohong, jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat

    bersamamu. Padahal sumpah palsu mereka untuk tidak turut berperang

    itu telah membinasakan diri sendiri, karena kebohongan yang ditutup-

    tutupi padahal Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang

    yang berdusta. Inilah salah satu karakter orang munafik, yaitu tidak siap

    menanggung derita dalam melaksanakan perintah Allah38.

    At Taubah ayat 91 :

    ليََس َعلَى الضعَفَاِء َوًَل َعلَى اْلَمْسَضى َوًَل َعلَى الِريَه ًَل

    يَِجُدوَن َما يُْىِفقُىَن َحَسٌج اذَا وََصُحىا ِ ِ َوَزسُىِلِه َما َعلَى

    ا َغفُىٌزَز ِحيمٌ اْلُمْحِسىِيَه ِمْه َسبِيٍل وَ Terjemahan: Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At.taubah 91)39.

    Disebutkan bahwa sebagian orang-orang munafik guna melarikan

    diri dari kewajiban jihad fi salibillah mereka mengetengahkan berbagai

    alasan yang dibuat-buat. Sementara Allah Swt telah menganggap

    perbuatan mereka itu sebagai sumber kekufuran dan keluar dari iman

    kepada-Nya.

    38 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

    39 Departemen Agama RI. Al-Quran dan terjemahan (Bandung : cv. Darus sunnah 2015).

  • 31

    Pada ayat ini dan ayat berikutnya al-Quran telah menyinggung

    beberapa kelompok muslimin yang dimaafkan untuk tidak mengikuti jihad

    dan perang, sehingga tidak lagi ada kelompok lain yang membuat-buat

    alasan dan justifikasi untuk tidak berpartisipasi dalam jihad. Kaum wanita

    dan anak-anak sudah barang tentu diterima alasan mereka tidak

    mengikuti perang dan jihad fi sabilillah.

    Selain kedua kelompok oang itu, disebutkan pula orang-orang yang

    dari segi fisik tidak mampu, atau dikarenakan sakit sehingga mereka tidak

    mungkin bisa berperang, atau orang-orang yang tidak memiliki apapun

    dirumahnya, yang apabila mereka tinggal ke medan tempur pastilah

    keluarga dan rumah tangga mereka akan kelaparan.

    Orang-orang semacam ini diampuni untuk tidak mengikuti perang.

    Tentu dalam hal ini orang-orang semacam tersebut masih bisa diberi

    tugas dengan sebatas kemampuannya yaitu mereka tinggal di front

    terbelakang, sehingga tidak menimbulkan iri hati.

    Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

    1. Dalam Islam tidak pernah ada perintah yang melampaui batas

    kemampuan manusia. Karena undang-undang Islam selalu

    didasarkan pada perasaan dan keadilan. Untuk itu, setiap

    pekerjaan dan kewajiban yang manusia tidak mampu

    melaksanakannya, terlepas dari tanggung jawabnya.

    2. Mereka yang punya alasan tidak bisa pergi ke medan tempur,

    meski sebenarnya mereka berkeinginan untukikut pergi. Mereka

  • 32

    tersebut selalu berdoa kepada Allah Swt dengan hati dan lisannya

    agar pasukan Islam memperoleh kemenangan, atau mereka

    memberikan dukungan apapun yang bisa mereka lakukan sebagai

    perbuatan baik.

    An Nisa ayat 29 :

    يَا ايَها الِريَه آََمىُىا ًَل تَاكلُىاِ اْمَىالَكُم بَْيَىكُم بِاْلبَاِطِل اًل اْن تَكُىَن

    تََساٍض ِمْىكُم َوًَلتَْقتُلُىا اْوفَُسكُم ان ا َ كاََن بكُم َزِحيمً َعهْ تَِجاَزةً Terjemahan:

    ‘‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, Allah maha penyayang kepadamu.”(QS. An Nisa: 29)40.

    Tafsir Al-Muyasar

    Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya serta

    melaksanakan syariatnya, tidak halal bagi kalian untuk memakan harta

    sebagian kalian kepada sebagian yang lainnya tanpa didasari Haq,

    kecuali telah sejalan dengan syariah dan pengahasilan yang dihalalkan

    yang bertolak dari adanya saling rido dari kalian.

    Dan janganlah sebagian kalian membunuh sebagian yang lain,

    akibatnya kalian akan membinasakan diri kalian dengan melanggar

    larangan-larangan Allah dan maksiat-maksiat kepadanya. Sesungguhnya

    Allah maha penyayang kepada kalian dalam setiap perkara yang Allah

    40 Departemen Agama RI. Al-Quran dan terjemahan (Bandung : cv. Darus sunnah 2015).

  • 33

    memerintahkan kalian untuk mengerjakannya dan perkara yang Allah

    melarang kalian melakukannya41.

    Tafsir Kemenag

    Ayat dia atas berbicara tentang bagaimana manusia beriman

    mengelola harta sesuai dengan keridaan Allah. Wahai orang-orang yang

    beriman janganlah sekali-kali kamu saling memakan atau memperoleh

    harta di antara sesamamu yang kamu perlukan dalam hidup dengan jalan

    yang batil, yakni jalan tidak benar yang tidak sesuai dengan syariat,

    kecuali kamu peroleh harta itu dengan cara yang benar dalam

    perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu

    yang tidak melanggar ketentuan syariat.

    Dan janganlah kamu membunuh dirimu atau membunuh orang lain

    karena ingin mendapatkan harta. Sunggul Allah maha penyayang

    kepadamu dan hamba-hambanya yang beriman dan barang siapa berbuat

    demikian, dalam memperoleh harta, dengan cara melanggar hukum dan

    dengan berbuat zalim, maka akan kami masukkan dia ke dalam neraka.

    Yang demikian itu, yakni menjatuhkan hukumann dengan siksaan neraka,

    adalah sesuatu hal yang sangat mudah bagi Allah42.

    Dalam ayat tersebut di atas Allah swt melarang hamba-Nya saling

    memakan harta sesamanya dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dan

    pajak adalah salah satu jalan yang batil untuk memakan harta sesamanya

    apabila di pungut tidak sesuai aturan.

    41 Tafsir Al-Muyassar / Dr. Shalih bin Abdul Aziz Syaikh et al,. Menteri Agama Saudi Arabia.

    42 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI.

  • 34

    f. Karakteristik pajak menurut Islam

    Karakteristik Pajak menurut syariah. Ada beberapa ketentuan

    tentang pajak (dharibah) menurut syariah Islam, yang sekaligus

    membedakannya dengan pajak dalam sistem kapitalis (non-Islam)

    karakteristik pajak menurut syariah, yaitu:

    a. Pajak (dharibah) bersifat temporer, tidak bersifat kontinyu, hanya boleh

    dipungut ketika di baitul mal tidak ada harta atau kurang. Ketika baitul

    mal sudah terisi kembali, maka kewajiban pajak bisa dihapuskan.

    Berbeda dengan zakat, yang tetap dipungut, sekalipun tidak ada lagi

    pihak yang membutuhkan (mustahik). Sedangkan pajak non-Islam (tax)

    adalah abadi.

    b. Pajak (dharibah) hanya boleh dipungut untuk pembiayaan yang

    merupakan kewajiban bagi kaum muslimin dan sebatas jumlah yang

    diperlukan untuk pembiayaan wajib tersebut, tidak boleh lebih.

    Sedangkan pajak menurut non-Islam (tax) ditujukan untuk seluruh

    warga tanpa membedakan agama.

    c. Pajak (dharibah) hanya diambil dari kaum muslim, tidak kaum non-

    Muslim. Sebab dharibah dipungut untuk membiayai keperluan yang

    menjadi kewajiban bagi kaum Muslim.

    d. Pajak (dharibah) hanya dipungut dari kaum muslim yang kaya, tidak

    dipungut dari selainnya.

    e. Pajak (dharibah) hanya dipungut sesuai dengan jumlah pembiayaan

    yang diperlukan, tidak boleh lebih.

  • 35

    f. Pajak (Dharibah) dapat dihapus bila sudah tidak diperlukan.43

    g. Dasar pengenaan pajak dalam Islam

    a. Pajak dipungut setelah zakat ditunaikan. Zakat merupakan rukun Islam

    yang ketiga dan memiliki dasar hukum yang sangat kuat karena

    barlandaskan AlQur‟an dan hadits sehingga wajib ditunaikan dahulu,

    baru kemudian menunaikan pajak yang berdasarkan perintah ulil amri

    (pemerintah).

    b. Kewajiban pajak bukan karena adanya harta, melainkan karena adanya

    kebutuhan mendesak, sedangkan baitul maal kosong atau tidak

    mencukupi.

    c. Ada beban-beban selain zakat yang memang dibebankan Allah atas

    kaum muslim. Penggunaan dana zakat telah ditentukan untuk delapan

    golongan, sehingga untuk kebutuhan lain seperti pembangunan fasilitas

    umum, penanggulangan bencana, pertahanan negara, dan lain

    sebagainya dapat dibebankan kepada kaum muslim melalui pajak.

    d. Hanya orang kaya atau mampu yang dibebani kewajiban tambahan,

    orang kaya adalah orang yang telah terpenuhi segala kebutuhan

    pokoknya dengan baik. Yaitu orang yang memiliki kelebihan harta dari

    keperluan pokok bagi dirinya, anak istrinya seperti makan, minum,

    pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat bekerja yang sangat

    diperlukan.44

    43 Gusfahmi, Pajak Menurut Syariah. Edisi Revisi. (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h.34. 44 Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani Press,

    2002), h.26

  • 36

    e. Pemberlakuan pajak adalah situsional, tidak terus menerus dan bisa

    saja dihapuskan apabila baitul mal telah terisi kembali.

    D. Zakat Sebagai Pengganti Pajak

    Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang kewajibannya

    bersifat mutlak atas harta kekayaan seseorang menurut aturan tertentu

    yang telah di atur dalam AlQur‟an dan Hadits. Dalam konteks negara

    modern, zakat bukanlah pajak yang merupakan salah satu sumber

    pendapatan Negara. Zakat di pandang sebagai sarana komunikasi utama

    antara orang kaya dengan orang miskin, yang memiliki peranan sangat

    penting sebagai sarana distribusi penghasilan dalam menyusun

    kehidupan yang sejahtera yang berkeadilan di dalam sebuah Negara.

    Kedudukan zakat dalam Islam merupakan suatu keunggulan dalam

    sistem ekonomi Islam. Zakat menggambarkan perwujudan kekuatan

    seorang muslim terhadap Sang Khaliq. Hal ini merupakan suatu

    penjelmaan dari solidaritas seorang muslim dalam kehidupan

    bermasyarakat. Solidaritas itu sendiri merupakan hasil dari persetujuan-

    persetujuan di dalam masyarakat sebagai keanekaragaman yang ada

    dalam kehidupan bermasyarakat. Keanekaragaman dalam hal ini

    misalnya dari sisi nasib, kepandaian dan keterampilan manusia.

    Jadi jika shalat berusaha membentuk keshalehan pribadi individu,

    maka zakat berperan membentuk keshalehan sosial dalam diri individu.

    Hikmah zakat adalah mengurangi kesenjangan sosial antara golongan

  • 37

    mampu dengan golongan tidak mampu, disinilah fungsi distribusi

    berperan45.

    Fakta bahwa subjek pajak terbesar adalah kaum muslim yang

    jumlahnya 87% dari total penduduk Indonesia, pemerintah berupaya untuk

    meminimalkan kewajiban-kewajiban ganda yang memberatkan. Untuk

    mengatasinya dilakukan upaya titik temu antara pajak dan zakat sehingga

    kedua kewajiban tersebut dapat dilaksanakan oleh ummat Islam tanpa

    memberatkannya. Pemerintah membuat aturan yang dapat menjadi solusi

    bagi kewajiban ganda yaitu zakat dan pajak yang dialami oleh ummat

    Islam. Hal ini dicantumkan dalam pasal 22 Undang-Undang No.23 Tahun

    2011 atas perubahan pasal 14 ayat (3) Undang-Undang No.38 tahun 1999

    Tentang Pengelolaan Zakat46.

    Undang-undang di atas menunjukkan bahwa pemerintah mencoba

    untuk berperan aktif dalam menciptakan pelaksanaan kewajiban

    keagamaan masyarakatnya dengan menjadikan unsur zakat sebagai

    salah satu tax relief (keringanan pajak) dalam pemungutan Pajak

    Penghasilan (PPh) di Indonesia.

    Saat ini undang-undang menjadikan zakat sebagai salah satu

    faktor pengurang penghasilan neto Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP)

    dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak.

    45 Apriliana, “Analisis Komparatif Antara Perlakuan Zakat Sebagai Pengurang

    Penghasilan Kena Pajak Dengan Perlakuan Zakat Sebagai Pengurang Lang sung Pajak Penghasilan”, Skripsi (Jakarta:Fak.Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah, 2010), h.18.

    46 UU No. 23 tahun 2011 atas perubahan Uu no. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat.

  • 38

    Hal ini diharapkan dapat meminimalkan beban ganda yang di pikul

    oleh ummat Islam sebagai Wajib Pajak dan muzakki.

    E. Macam-macam pajak kendaraan bermotor di Indonesia

    Berdasarkan Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 pasal 1 ayat

    12 Pajak kendaraan bermotor adalah pajak atas kepemilkan dan atau

    penguasaan kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua

    kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis

    jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau

    peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya

    energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang

    bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar dalam

    operasinya menggunakan roda dan motor yang tidak melekat secara

    permanen serta kendaraan motor yang dioperasikan di air.47

    Macam-macam pajak kendaraan bermotor di Indonesia adalah:

    1. Pajak kendaraan bermotor (PKB) beroda beserta gandengannya,

    yang dioperasikan di semua jenis jalan darat.

    2. Kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran isi

    kotor GT 5 (Lima Gross Tonnage) sampai dengan GT 7 (tujuh

    Gross Tonnage).

    3. Pajak biaya balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) atau BBN 1.

    4. Pajak negara bukan pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan

    pemerintah pusat yang tidak berasal dari pemerintah perpajakan

    47 UU No. 28 pasal 1 ayat 12 tahun 2009 tentang pajak kendaraan bermotor.

  • 39

    5. SWDKLLJ adalah sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas

    mendaftarkan diri pada asuransi yang dikelola oleh negara (BUMN)

    yakni Jasa Raharja.

    F. Penelitian Terdahulu

    Tabel 2.1

    Penelitian terdahulu

    NO. Peneliti Dan Judul Metode Hasil

    1. Ikra Rahardian Permadi Arsy Kualitas pelayanan pembuatan izin mendirikan bangunan (IMB) di kantor perizinan terpadu (KPPT) kota cimahi48

    Kualitatif kualitas pelayanan yang diberikan oleh KPPT kota cimahi dari prosedur yang dikatakan belum baik.

    2. Delza Abdul Hafizh Inovasi pelayanan publik Studi deskriptif tentang penerapan layanan e-health dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di puskesmas pucang sewu kota Surabaya49

    Kualitatif Layanan e-health di puskesmas pucang sewu, sudah berjalan dengan baik, sarana dan prasarana dan yang mudah diakses masyarakat.

    48 Permadi Rahardian Ikra, Kualitas Pelayanan Pembuatan Izin Mendirikan Bangunan

    (IMB) Di Kantor Perizinan Terpadu (KPPT) Kota Cimahi (Cimahi : Universitas Komputer Indonesia 2010).h.36.

    49 Hafizh Abdul Delza, Inovasi Pelayanan Public Studi Deskriptif Tentang Penerapan Layanan E-Health Dalam Meningkatkan Kualitas Pelyanan Kesehatan Di Puskesmas Pucang Sewu Kota Surabaya (Surabaya : Universitas Airlangga 2010).h.38.

  • 40

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, karena proses dan

    makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif

    landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian

    sesuai dengan fakta dilapangan. Maka dapat disimpulkam bahwa

    penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif.

    Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat

    deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dalam penelitian kualitatif

    peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan

    penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

    Penelitian kualitatif lebih subjektif dan menggunakan metode sangat

    berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam

    menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus sifat dari

    jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjajahan terbuka berkahir

    dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara

    mendalam.

    B. Lokasi Penelitian Dan Waktu Penelitian

    Peneltian ini dilakukan di Badan Pendapatan Daerah Provinsi

    Sulawesi Selatan yang beralamatkan di Jl. Andi Pangeran Pettarani No. 1

    Makassar Sulawesi selatan. penelitian ini akan dilakukan selama 2 bulan.

  • 41

    C. Fokus Dan Deskripsi Penelitian

    Berikut ini adalah pengertian tentang defenisi operasional variabel:

    1. Fokus penelitian

    Fokus dalam penelitian ini adalah:

    a. Layanan unggulan yang tediri dari layanan drive thru, samsat

    keliling dan kedai samsat.

    b. Penerimaan pajak kendaraan bermotor dari layanan drive

    thru, samsat keliling dan kedai samsat.

    2. Deskripsi penelitian

    a. Penjelasan tentang layanan unggulan:

    I. Drive Thru adalah layanan pengesahan STNK, pembayaran

    pajak kendaraan bermotor (PKB), dan SWDKLLJ yang tempat

    pelaksanaannya di luar gedung Kantor Bersama Samsat dan

    memungkinkan wajib pajak melakukan transaksi tanpa harus

    turun dari kendaraan bermotor yang dikendarainya.

    II. Samsat Keliling adalah layanan pengesahan STNK setiap

    tahun, pembayaran PKB dan SWDKLLJ di dalam kendaraan

    dengan metode jemput bola yaitu dengan mendatangi pemilik

    kendaraan/wajib pajak yang jauh dari pusat pelayanan samsat

    induk.

    III. Kedai Samsat adalah layanan pengesahan STNK setiap

    tahun, pembayaran PKB dan SWDKLLJ di luar Samsat induk

  • 42

    yang dilengkapi dengan fasilitas tambahan berupa wi-fi dan

    minuman kepada wajib pajak.

    b. Penerimaan Pajak merupakan salah satu pendapatan

    terbesar dan sangat berpengaruh di indonesia, melalui pajak

    tersebut pemerintah mampu membiayai pengeluaran dalam

    rangka pembangunan nasional. Sesuai dengan undang-

    undang dasar 1954 alinea IV yaitu melindungi segenap

    bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan

    seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesehjahteraan

    umum.

    D. Instrumen Penelitian

    Instrumen penelitian sebagai alat pengumpulan data yang harus

    betul-betul direncanakan yang dapat dibuat sedemikian rupa sehingga

    menghasilkan data empiris sebagaimana adanya sebab penelitian akan

    berhasil apabila banyak menggunakan instrumen agar data tersebut dapat

    menjawab pertanyaan.

    Peneliti menggunakan beberapa instrumen penelitian seperti:

    peneliti itu sendiri sebagai intstrumen wawancara, pedoman dokumentasi,

    alat recorder dan camera.

    E. Jenis Data

    Data adalah sekumpulan informasi atau nilai yang diperoleh dari

    pengamatan (observasi) suatu objek. Adapun 4 jenis-jenis dalam

  • 43

    pengumpulan data antara lain, data menurut sifatnya, sumbernya, cara

    memperolehnya dan waktu pengumpulannya.

    Jenis data dalam penelitian ini adalah:

    1. Masyarakat yang menggunakan jasa layanan Drive Thru.

    2. Masyarakat yang menggunakan jasa layanan Samsat

    Keliling.

    3. Masyarakat yang menggunakan jasa layanan Kedai

    Samsat.

    4. Penanggung jawab dari layanan unggulan di atas adalah

    kepala seksi penerimaan dan penetapan.

    5. Penanggung jawab dari semua layanan unggulan yang telah

    diteliti adalah kepala Upt Pendapatan Wilayah Makassar 1

    Selatan.

    6. Pendapat MUI tentang pajak kendaraan bermotor (anggota

    Majelis Ulama Indonesia).

    F. Teknik Analisis Data

    Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan

    data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat

    ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang

    disarankan oleh data. Pekerjaan analisis data dalam hal ini ialah

    mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode dan

    mengkategorikannya. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut

    bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat

    menjadi teori substantif.

  • 44

    a. Reduksi Data

    Reduksi data bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisis.

    Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian

    pada penyederhanaan, pengabstraksian, dan transformasi data kasar

    yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Kegiatan reduksi

    data berlangsung terus-menerus, terutama selama proyek yang

    berorientasi kualitatif berlangsung atau selama pengumpulan data.

    Selama pengumpulan data berlangsung, terjadi tahapan reduksi,

    yaitu membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-

    gugus, membuat partisi, dan menulis memo.

    Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,

    menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan

    mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan

    akhirnya dapat ditarik dan disimpulkan. Reduksi data atau proses

    transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai

    laporan akhir lengkap tersusun. Jadi dalam penelitian kualitatif dapat

    disederhanakan dan ditransformasikan dalam aneka macam cara: melalui

    seleksi ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat, menggolongkan

    dalam suatu pola yang lebih luas, dan sebagainya.

    b. Display data

    Penyajian data (data display) peneliti mengembangkan sebuah

    deskripsi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan

    tindakan. Display data atau penyajian data yang lazim digunakan pada

    langkah ini adalah dalam bentuk teks naratif.

  • 45

    c. Menarik kesimpulan

    Kegiatan terakhir adalah menarik kesimpulan ketika kegiatan

    pengumpulan data dilakukan, seseorang penganalisis kualitatif mulai

    mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan,

    konfigurasi-konfigurasi yang mula-mulanya belum jelas akan meningkat

    menjadi lebih terperinci. Kesimpulan-kesimpulan “final” akan muncul

    bergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan,

    pengkodeannya, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang

    digunakan, kecakapan peneliti, dan tuntutan pemberi dana, tetapi sering

    kali kesimpulan itu telah sering dirumuskan sebelumnya sejak awal.

    G. Teknik Pengumpulan Data

    1. Observasi adalah aktivitas terhadap suatu proses atau objek

    dengan maksud merasakan atau memahami pengetahuan dari

    sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang

    sudah diketahui sebelumnya.

    2. Wawancara adalah percakapan antara dua orang atau lebih dan

    berlangsung antara narasumber dan pewawancara tujuan

    wawancara adalah untuk mendapatkan suatu informasi yang tepat

    dari narasumber yang terpercaya.

    3. Dokumen adalah sebuah tulisan penting yang memuat informasi.

  • 46

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran umum lokasi penelitian

    1. Sejarah Badan Pendapatan Daerah

    Dinas Pendapatan Daerah sebagai Satuan Kerja Daerah (SKPD)

    Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang diberikan kewenangan

    mengemban tugas di bidang pendapatan sebagaimana diatur dalam

    Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah,

    dimana pemerintah daerah mempunyai hak mengelola pendapatan

    daerah, antara Iain memungut pajak daerah dan retribusi daerah,

    mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber

    daya lainnya yang barada di daerah, mendapatkan sumber-sumber

    pendapatan yang sah guna pambiayaan kegiatan pemerintahan,

    pembangunan dan kemasyarakatan.50

    Pada awalnya sekitar tahun 1972 ke bawah Dinas Pendapatan

    Daerah merupakan salah satu bagian pada biro keuangan setwilda

    Provinsi Sulawesi Selatan dengan nama Bagian Penghasilan Daerah.

    Dalam perkembangan selanjutnya dengan luasnya daerah kerja urusan-

    urusan yang menyangkut pendapatan daerah baik meliputi pendapatan

    asli daerah sendiri (Pajak, Retribusi dan pendapatan-pendapatan daerah

    lainnya yang sah maupun pendapatan negara yang diserahkan ke daerah

    50 UU No.32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.

  • 47

    Provinsi) dan setiap SKPD mendapatkan tugas khusus dari

    sekretariat pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

    Bagian pendapatan daerah pada biro keuangan menjadi urusan

    tersendiri dan merupakan Dinas Otonomi yang ditetapkan berdasarkan

    Surat keputusan Gubernur/ Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor:

    130/lV/1973 tanggal 17 April 1973 tentang pembentukan Dinas

    Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan51.

    Dengan semakin meningkatnya Upaya pembangunan Daerah yang

    merupakan salah satu tugas pokok pemerintah daerah sebagai

    perwujudan dari kegiatannya menuju kearah otonomi yang dinamis, nyata

    dan bertanggung jawab sehingga perlu dilakukan penyerasiannya usaha

    pemupukan dana guna membiayai pembangunan daerah, sehingga

    dengan demikian dalam rangka peningkatan daya guna dan hasil dan

    hasil guna Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Dari 1 Sulawesi Selatan.

    Perlu ditingkatkembangkan pengelolaannya baik pelayanan kepada

    masyarakat maupun peningkatan pendapatan daerah sehingga untuk

    kelancaran pelaksanaan kegiatan dimaksud ditetapkanlah susunan

    organisasi dan tata kerja Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi

    Selatan yang diatur berdasarkan peraturan pemerintah Provinsi Sulawesi

    Selatan Nomor 6 Tahun 1979 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja

    Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan52.

    51 Surat keputusan Gubernur/ Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor : 130/lV/1973

    tanggal 17 April 1973 tentang pembentukan Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. 52

    Peraturan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 1979 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

  • 48

    2. Pajak Daerah

    Pajak merupakan salah satu pendapatan terbesar dan sangat

    berpengaruh di indonesia, melalui pajak tersebut pemerintah mampu

    membiayai pengeluaran dalam rangka pembangunan nasional. Sesuai

    dengan undang-undang dasar 1954 alinea IV yaitu melindungi segenap

    bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan seluruh

    tumpah darah indonesia, memajukan kesehjahteraan umum.

    Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan

    ketertiban dunia sejak diberlakukannya otonomi daerah, daerah untuk

    dapat berkreasi dalam mencari sumber penerimaan daerah yang dapat

    mendukung pembiayaan pengeluaran daerah.

    Salah satunya adalah sumber pendapatan dari pajak kendaraan

    bermotor yang diharapkan menjadi peningkatan kesehjahteraan

    masyarakat. Pembangunan daerah sebagai dari pembangunan nasional

    dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber

    daya suatu daerah.

    Pemungutan pajak daerah merupakan salah satu cara

    peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dan pemungutan ini

    dikenakan pada anggota masyarakat wajib pajak sebagai pencerminan

    kewajiban di bidang perpajakan.

    Sumber pendapatan daerah menurut undang-undang nomor 18

    tahun 1998, kemudian diubah menjadi undang-undang nomor 34 tahun

    2000 tentang pajak daerah dan terakhir undang-undang nomor 28 tahun

  • 49

    2009, untuk pemungutan pajak kendaraan bermotor (PKB) saat ini

    didasari atas hukum yang jelas dan kuat53.

    Selanjutnya daerah dipacu untuk dapat berkreasi dalam mencari

    sumber dana penerimaan daerah yang dapat mendukung pembiayaan

    penggeluaran daerah salah satunya adalah pajak kendaraan bermotor

    (PKB) dan Samsat salah satu berfungsi sebagai tempat pelayanan

    pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB), dipungut dengan

    menggunakan pelayanan administratif kendaraan bermotor dan

    pembayaran pajak dalam satu gedung.

    3. Nama-nama kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi

    Selatan

    I. Drs. H. A. Palioi (1965-1968) Aktif

    II. Drs. H. Mekka Hayade (1968-1980) Aktif

    III. Mansyur A. Sulthan, BA (1980-1984) Aktif

    IV. Drs. H. Abdoel Azis Moesa (1984-1987) Aktif

    V. Drs. H. Hakamuddin Djamal (1987-1990) Aktif

    VI. Drs. H. M. Akib Patta (1990-1994) Aktif

    VII. Drs. H. M. Amiruddin Maula, SH (1994-1999) Aktif

    VIII. Drs. H. A. Yaksan Hamzah, MS (1999-2008) Aktif

    IX. Drs. H. Arifuddin Dahlan, MM (2008-2012) Aktif

    X. Drs. H. Tautoto T.R., M.SI (2013-2018) Aktif

    XI. H. Andi Sumardi Sulaiman S,sos.M,Si (sekarang) Aktif

    53. UU No.18 tahun 1998, kemudian diubah menjadi UU No.34 tahun 2000 tentang pajak

    daerah dan terakhir UU No.28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.

  • 50

    4. Layanan unggulan Badan Pendapatan Daerah Sulawesi Selatan

    1. Samsat Link

    Samsat Link merupakan pelayanan pembayaran pajak secara

    online yang terhubung antara samsat satu dengan samsat lainnya dalam

    wilayah Sulawesi Selatan. Misalnya pembayaran pajak kendaraan

    Makassar juga dapat dibayar melalui Samsat Gowa ataupun melalui

    Samsat Sidrap serta samsat lainnya. Samsat Link terdapat di 25 Samsat

    di Sulsel, yakni

    1. Samsat Makassar I

    2. Samsat Makassar II

    3. Samsat Gowa

    4. Samsat Bone

    5. Samsat Parepare

    6. Samsat Palopo

    7. Samsat Luwu

    8. Samsat Barru

    9. Samsat Maros

    10. Samsat Sinjai

    11. Samsat Wajo

    12. Samsat Bantaeng

    13. Samsat Jeneponto

    14. Samsat Takalar

    15. Samsat Pinrang

  • 51

    16. Samsat Pangkep

    17. Samsat Sidrap

    18. Samsat Enrekang

    19. Samsat Tana Toraja

    20. Samsat Luwu Timur

    21. Samsat Luwu Utara

    22. Samsat Soppeng

    23. Samsat Bulukumba

    24. Samsat Selayar

    25. Samsat Toraja Utara

    2. Gerai Samsat

    Gerai Samsat merupakan unit layanan Surat Tanda Nomor

    Kendaraan (STNK) yang tetap bersinergi dengan pelayanan samsat induk

    atau samsat stasioner, yang melayani pengesahan STNK satu tahunan

    dan pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB). Gerai samsat

    berlokasi di tempat umum seperti pasar, pusat pertokoan, dan pemukiman

    penduduk. Gerai samsat hadir untuk melayani wajib pajak yang

    berdomisili jauh dari samsat induk. Gerai Samsat tersebut antara lain:

    1. Gerai Bukit Khatulistiwa

    2. Gerai Bua

    3. Gerai Walenrang

    4. Gerai Tomang

    5. Gerai Lakessi

  • 52

    6. Gerai Siwa

    7. Gerai Bone Bone

    8. Gerai Takalalla

    9. Gerai Bonto Tangnga

    10. Gerai Manipi

    11. Gerai Kajuara

    12. Gerai Maiwa

    13. Gerai Bajeng

    14. Gerai Pallangga

    15. Gerai Pattalassang

    16. Gerai Romang Polong

    17. Gerai Galesong

    18. Gerai Tanralili

    19. Gerai Bara

    20. Gerai Tonasa

    21. Gerai Barombong

    22. Gerai Samsat Pasar Lakessi

    23. Dan 11 gerai di 11 kecamatan di Kota Makassar

    Gerai Samsat beroperasi mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00,


Recommended