Home >Documents >EBM CA fix danu

EBM CA fix danu

Date post:29-Sep-2015
Category:
View:231 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Description:
apadeh
Transcript:

BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

SUMMARY AND JOURNAL APPRAISAL ARTIKEL TERAPI

Oleh :Danu Ajimantara1102009069Kelompok A3

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS YARSI20114-2015

SKENARIOSeorang wanita 26 tahun, datang dengan keluhan sering mengalami nyeri tenggorokan sejak 2 hari yang lalu, disertai demam lebih dari 38oC, nyeri dirasakan terutama saat menelan. Batuk (-) , pilek (-), mengorok (-), setelah dilakukan anamnesa diketahui pasien mempunyai riwayat faringitis sejak 6 bulan yang lalu, dalam 6 bulan ini ia telah menderita faringitis sebanyak 3 kali. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya pembesaran KGB pada bagian leher anterior, dinding posterior faring hiperemis, edema, Tonsil palatina didapatkan pembesaran T2-T2 dan hiperemis. Dokter menyarankan dilakukan pemeriksaan kultur swab tenggorokan. Dari hasil pemeriksaan, faringitis yang diderita pasien diakibatkan infeksi Streptokokus grup A. Selama ini pasien hanya berobat ke dokter dan diberi antibiotik. Dokter kemudian memutuskan agar pasien menjalani tonsilektomi. Dokter ingin menunggu dulu sebelum mealakukan tonsilektomi sambil melihat perkembangan faringitisnya. Namun dokter mendengar saran dari rekannya untuk melakukan tonsilektomi segera.

Pertanyaan klinisApakah tonsilektomi segera pada kasus faringitis akibat infeksi Streptokokus grup A lebih baik dibanding dengan tonsilektomi dengan menunggu ?

Komponen PICO:P: wanita 26 tahun dengan faringitis berulangI: tonsilektomi segeraC: tonsilektomi dengan menunggu O: menurunnya risiko berulang dan dampak gejala faringitis

Keyword : recurrent streptococcal pharyngitis AND tonsillectomy AND watchful waiting Source/database : www.bmj.com Limitation : last 8 years Result : 1 artikel Selected article : Tonsillectomy versus watchful waiting in recurrent streptococcal pharyngitis in adults: randomised controlled trial. BMJ2007;334:939

Perbandingan tonsilektomi menunggu waspada pada faringitis akibat Streptokokus rekuren pada orang dewasa: uji coba terkontrol secara acak

Tujuan Untuk menentukan kemanjuran jangka pendek dan keamanan tonsilektomi untuk faringitis streptokokus berulang pada orang dewasa. DesainAcak terkontrol.SettingPusat rujukan akademik di Finlandia. Peserta70 orang dewasa dengan streptokokus faringitis grup A episode berulang Intervensi Tonsilektomi segera (n = 36) atau yang tersisa di daftar tunggu sebagai kontrol (n = 34). Hasil pengukuran utama Persentase perubahan dalam risiko episode faringitis streptokokus dalam 90 hari. Rasio dari semua episode faringitis dan hari dengan gejala dan efek samping. Hasil Mean (SD) tindak lanjut adalah 164 (63) hari pada kelompok kontrol dan 170 (12) hari pada kelompok tonsilektomi. Dalam 90 hari, faringitis streptokokus telah berulang dalam 24% (8/34) pada kelompok kontrol dan 3% (1/36) pada kelompok tonsilektomi (perbedaan 21%, 95% confidence interval 6% menjadi 36%). Jumlah yang dibutuhkan untuk menjalani tonsilektomi untuk mencegah satu kekambuhan adalah 5 (3 sampai 16). Selama seluruh tindak lanjut, tingkat episode lain dari faringitis dan hari dengan nyeri tenggorokan dan demam secara signifikan lebih rendah di kelompok tonsilektomi daripada di kelompok kontrol. Morbiditas yang paling umum yang terkait dengan tonsilektomi adalah nyeri tenggorokan pasca operasi (rata-rata panjang 13 hari, SD 4). Kesimpulan Orang dewasa dengan riwayat faringitis streptokokus episode berulang yang dicatatkan kurang cenderung memiliki infeksi tenggorokan streptokokus lanjut atau lainnya atau hari dengan nyeri tenggorokan jika tonsil diangkat.

I. VALIDITY: Apakah hasil penelitian ini valid?

Petunjuk Primer

1. Apakah penempatan pasien kedalam kelompok terapi dirandomisasi?Ya, dilakukan randomisasi, terlihat pada bagian Introduction halaman 1

dan pada bagian Study Design halaman 1-2 terlihat penempatan kelompok terapi dilakukan secara acak

Setelah randomisasi pasien dikelompokkan ke dalam kelompok terapi dan kontrol, terlihat pada bagian Intervention halaman 2

2. Apakah semua pasien yang dimasukkan ke dalam penelitian dipertimbangkan dan disertakan dalam pembuatan kesimpulan?a. Apakah follow-up lengkap?Ya, lengkap untuk semua pasien, terlihat di bagian Results di halaman 3

b. Apakah semua pasien dianalisis pada kelompok randomisasi semula?Ya, pada bagian Results di halaman 3

Petunjuk Sekunder

1. Apakah pasien, petugas kesehatan dan staf peneliti dibutakan terhadap terapi?Pasien dan klinisi tidak dibutakan, namun yang dibutakan hanya mikrobiolog yang memeriksakan hasil kultur pasien (untuk menilai primary outcome) sehingga bias dapat diperkecil (halaman 2 di bagian Surveillance protocol)

Peneliti juga yakin meskipun tanpa dibutakan dan ada beberapa bias informasi, tidak merusak hasil penelitian. (halaman 5 di bagian Strength and Weakness)

2. Apakah pada awal penelitian kedua kelompok sama?Ya, dijelaskan di bagian Results halaman 3

3. Disamping intervensi eksperimen, apakah kedua kelompok mendapat perlakuan yang sama?Keduanya harus sama-sama mencatat di catatan harian mengenai perkembangan penyakitnya sebagai indikator secondary outcome. (di bagian Outcome halaman 2)

II. IMPORTANCE: Apa hasilnya?

I. Berapa besar efek terapi?Keterangan: RRR (Relative Risk Reduction) : berapa persen terapi yang diuji memberi perbaikan dibanding kontrol ARR ( Absolute Risk Reduction) : beda proporsi kesembuhan atau kegagalan antara terapi eksperimen dan kontrol EER (Experimental Event Rate) : proporsi kegagalan pada kelompok eksperimental CER (Control Event Rate) : proporsi kegagalan pada kelompok kontrol NTT (Number needed to treat) : berapa jumlah pasien yang harus diterapi dengan obat eksperimental untuk memperoleh tambahan satu kesembuhan atau menghindari kegagalanEfek terapi:a. Hasil : Mengalami episode faringitis Streptokokus grup AYaTidakTotal

Kelompok Eksperimen13536

Kelompok Kontrol82634

EER = 1 / 36 = 0,028 = 2,8 %CER = 8 / 34 = 0,235 = 23,5%RR = EER / CER = 2,8% / 23.5% = 0,119RRR = 1 RR = 1 0,119 = 0,881 = 88,1%ARR = CER EER = 23,5 2,8 = 20,7%NNT = 1 / ARR = 1 / 20,7% = 4,831b. Hasil : Mengalami episode faringitis dengan konsultasi medisYaTidakTotal

Kelompok Eksperimen43236

Kelompok Kontrol143034

EER = 4 / 36 = 0,111 = 11,1%CER = 14 / 34 = 0,412 = 41,2%RR = EER / CER = 11,1 / 41,2 = 0,269RRR = 1 RR = 1 0,269 = 0,731 = 73,1%ARR = CER EER = 41,2 11.1 = 30,1%NNT = 1 / ARR = 1 / 30,1% = 3,3

c. Hasil : Mengalami episode faringitis segala jenisYaTidakTotal

Kelompok Eksperimen112536

Kelompok Kontrol191534

EER =11 / 36 = 0,305 = 30,5%CER = 19 / 34 = 0,559 = 55,9%RR = EER / CER = 30,5 / 55,9 = 0,546RRR = 1 RR = 1 0,546 = 0,454ARR = CER EER = 55,9 30,5 = 25,4%NNT = 1 / ARR = 1 / 25,4% = 3,937

Efek terapi juga dijelaskan pada bagian Discussion halaman 4.

II. Bagaimana presisi estimasi efek terapi?Dijelaskan di bagian Results halaman 4

III. APPLICABILITY: Apakah hasil tersebut akan membantu saya dalam melayani pasien?1. Apakah hasil ini dapat diterapkan untuk pasien saya?Ya, karena ada kriteria inklusi dan ekslusi yang dapat diterapkan.

Metode tonsilektomi, proses uji mikrobiologi, dan pemeriksaan serta pencatatan perkembangan penyakit dapat dilakukan dan tidak memerlukan peralatan-peralatan yang sangat modern (masih ada di Indonesia)2. Apakah semua hasil yang penting sudah dipertimbangkan?Ya, seperti efek pasca operasi tonsilektomi sudah dipertimbangkan (halaman 2 di bagian Surveillance protocol)

3. Apakah manfaat terapi tersebut melebihi kerugian dan biayanya?Tidak, karena terapi yang diterapkan bukan berupa obat yang berbahaya, dan biaya yang diperlukan juga tidak seberapa banyak (tonsilektemi, kultur, dan follow-up ke dokter). Nilai NNT nya dari penelitian ini juga kecil berarti tidak membahayakan pasien.

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended