Home >Documents >Doni Kabo | Opera Cahaya, Pintu, Kursi

Doni Kabo | Opera Cahaya, Pintu, Kursi

Date post:11-Mar-2016
Category:
View:215 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Description:
Katalog Pameran Tunggal Doni Kabo "Opera Cahaya, Pintu, Kursi 1-6 Agustus 2012 Bentara Budya Yogyakarta, Indonesia
Transcript:
  • OPERA CAHAYA, PINTU, KURSI

    DONI KABO

  • Presentasi file katalog ini diproduksi sebagai suplemen; Pameran Tunggal Seni Lukis DONI KABO

    Opera Cahaya, Pintu, Kursi

    1-6 Agustus 2012Bentara Budaya YogyakartaJln. Suroto 2, Kotabaru Yogyakarta 55224

    KuratorSudjud Dartanto

    Desain & fotografiFitri Kristiyoarti

    OrganizerFitri KristiyoartiBentara Budaya Yogyakarta

    Disebarluaskan untuk kepentinganPublikasi 2012.

  • PAMERAN TUNGGAL SENI LUKIS DONI KABO

    OPERA CAHAYA, PINTU, KURSI1-6 AGUSTUS 2012

  • Opera Cahaya, Pintu, Kursi

    di mana sebuah karya seni hadir, maka kegilaan tidak pernah ada.

    Michel Foucault, Madness and Civilization (1961)

    Doni Kabo punya minat besar pada perihal suspens. Dalam narasi, sus-pens hadir sebagai blok kalimat yang membuat pembaca mengalami, misalnya transformasi emosi dari keadaan sedih ke situasi sumrigah dan sebaliknya, dari hati gundah gulana ke perasaan tenang dan damai, dan sebaliknya, dari suasana powerless menuju kondisi power-ful, dan sebaliknya. Dalam film suspens mutlak diperlukan, tanpa sus-pens scene akan berjalan tanpa sedu-sedan, tanpa gejolak. Kita juga tak membayangkan bila sebuah musik minus suspens. Dalam momen peralihannya suspens memakai simbol-simbol yang bergantung pada kategori narasinya, dalam hal ini karya-karya Kabo berada dalam kat-egori narasi visual.

    Dalam proyek pameran ini realitas dilihat sebagai sebuah opera, atau dalam khazanah folklor adalah pertunjukkan wayang. Tema Opera Ca-haya, Pintu, Kursi ini merupakan suspens-suspens dari penghayatan Kabo mengenai wacana kegilaan. Visualisasi suspens ternyata Ia wak-ilkan pada tiga terma, yaitu cahaya, pintu dan kursi. Skema tiga terma itu Ia konsepsikan secara linear, yang pertama adalah cahaya, kemudian pintu dan terakhir kursi. Tiga terma itu merupakan respons atas pen-galamannya dalam menghayati diskursus kegilaan dalam masyarakat, dimana logika biner masih menjadi nalar dominan, logika biner/oposi-sional itu menghasilkan kategori dikotomis: orang waras/orang gila

    Cara pandang oposisional itu menutupi orang untuk melihat adanya retakan kebenaran yang lain. Dapat dikatakan dengan gamblang, bahwa kita tidak tahu persis apa itu gila, terutama dalam hubungan-nya dengan seni, relasinya diantaranya sesungguhnya ambigu. Peneli-tian panjang Michel Foucault mengenai wacana kegilaan dalam Mad-

  • and Civilisation: A History of Insanity in the Age of Reason (1961) mis-alnya menunjukkan bahwa wacana kegilaan ternyata adalah produk dari rezim akal (rasionalitas). Termasuk didalamnya adalah ilmu penge-tahuan yang terlanjur diterima sebagai kebenaran objektif yang steril dari kepentingan dan relasi kuasa. Wacana kegilaanlah yang melahir-kan teknologi medis dan disiplin ilmu psikiatri yang selanjutnya dipakai untuk mendefinisikan dan mengontrol tubuh gila.

    Kabo (saat ini) bukan seniman naturalis, yang mengglorifikasi kein-dahan, atau sisi elok suatu tempat atau kejadian, sebagaimana seni klasik. Alumnus studio lukis, FSRD ITB, yang kini menempuh studi di sekolah Pasca Sarjana ISI Yogyakarta ini juga sedang tidak dalam se-mangat memindahkan kisah-kisah biblikal, tragedi-tragedi besar, atau cerita-cerita kanonik kedalam media kanvasnya, sebagaimana pada karya-karya seniman klasik. Ia sepertinya akan acuh apabila dihadap-kan pada pertanyaan paradigmatis yaitu apakah seni dilahirkan dari rasio (seni klasik), atau jiwa (seni romantik). Lalu dimana Kabo? Meli-hat kecenderungannya yang terpikat pada suspens, karya-karya Kabo mengingatkan saya pada bagaimana suspens menjadi hal yang diingini dalam sejarah seni rupa (barat). Terutama apabila kita menyimak ba-bak seni klasik hingga ekspresionisme (masa renaisans).

    Suspens jenis apa pada kecenderungan karya-karya Kabo? Inilah enig-manya. Dengan hanya mengatakan suspens, maka kita akan kehilangan momen memahami kekhasaan dari karya-karya Kabo. Suatu hal yang tidak mungkin bahwa karya-karya Kabo lahir dari suatu penghayatan yang kosong, tanpa makna, atau diluar sejarah. Suatu pengalaman yang mengerikan pula apabila hidup itu sendiri bertumpu pada keko-songan makna atau fondasi. Kabo ada dalam kenyataan yang objektif, dimana didalamnya pergulatan kebermaknaan terjadi, kabo juga bera-da pula dalam ruang dan waktu sosial dan historis. Dengan demikian, betapapun ungkapan-ungkapannya berkebalikan dengan keadaan ob-jektif, tetap saja cahaya, pintu dan kursi-nya adalah anak kandung dari situasi objektif, maka pertanyaanya, lalu ada apa dengan yang objek-tif? Mengapa rumah sakit jiwa itu memicu Kabo melahirkan sejumlah metafora itu?

    Suspens pada karya-karya Kabo perlu kita bandingkan dengan pen-galaman-pengalaman suspens yang lain, setidaknya pada ba-gaimana suspens dicari dan ditempuh oleh para penghayat seni pada masa sebelumnya, dan masa yang sama. Para ekspresionis misalnya, memerlukan kehadiran langsung pada sebuah fokus pengamatan.

  • Metode kerja induktif itu mengakibatkan sang ekspresionis perlu kelu-ar dari studio kerja, menuju jalanan, halaman-halaman gedung, pinggi-ran danau, pematang sawah, misalnya. Kabo beberapa kali melakukan kerja pengalamatan semacam itu. Ia mendatangi sebuah panti sosial yang berada dibawah kuasa pengetahuan psikiatri. Kabo datang meli-hat, berkenalan dengan para ahli disitu dan berbincang dengan para penghuninya. Kepada pasien Kabo meminta mereka untuk menggam-bar imajinasi mereka tentang rumah.

    Pada apa yang digambar pasien itu menunjukkan sistem tandanya yang acak. Pada teks yang demikian itu orang akan frustasi: betapa su-litnya menghubungkan antara tanda satu dengan lainnya. Frustasi itu terjadi dikarenakan kita dibesarkan dalam keadaan objektif. Pengama-tan tersebut direnungi Kabo. Diruang pesakitan itu Kabo tidak meng-gambar, namun Ia intens mengamati. Pada titik ini kami berdiskusi, dengan memunculkan pertanyaan: mengapa ilmu seni tidak menda-pat perhatian dalam insitusi rumah sakit jiwa ? Sebaliknya, mengapa, wacana kegilaan langka atau bahkan tidak mendapat tempat dalam akademi seni? Topik mengenai kedudukan inspirasi atau halusinasi (sebagaimana yang diproblematisir Foucoult dalam melihat hubungan seni dan kegilaan) terjadi dalam serangkaian diskusi-diskusi kecil pada masa pra-pameran ini.

    Konsepsi Kabo atas cahaya, pintu dan kursi tidak lepas dari pemikiran, permenungan dan observasinya pada masa pra-pameran ini. Proyek pameran ini pada mulanya berangkat dari pertanyaan awalnya menge-nai konsepsi rumah. Apa arti rumah bagi seseorang ? Kabo tertarik un-tuk menjelajahi perihal rumah. Secara umum, kita tentu tahu apa arti rumah bagi kita, selain ia melindungi kita dari panas dan hujan, rumah juga tempat kita beristirahat dan memberlangsungkan berbagai ritus domestik. Sebagaimana yang telah disinggung di atas mengenai logika oposisional, maka rumah juga tidak lepas dari logika itu. Rumah ter-bagi mengikuti tema-tema wacana. Misalnya, penamaan rumah sakit, yang pada gilirannya terbagi menjadi tema-tema wacana yang lebih kecil, dalam hal ini sampai pada rumah sakit jiwa.

    Pertanyaan awal Kabo terus berlanjut menjadi serangkaian diskusi ke-cil yang mempertanyakan arti dan fungsi kedudukan rumah sakit jiwa dalam masyarakat. Sebagaimana yang telah diurai di atas, seni dan ke-gilaan dalam pameran ini sengaja dipersoalkan. Dilihat dari objek ilmu-nya, ilmu seni dapat dikatakan sebagai nama lain dari ilmu manusia. Sama halnya dengan disiplin ilmu psikiatri yang juga berurusan dengan pengetahuan atas manusia. Apa yang menjadi ujung diskusi itu adalah

  • adalah fungsi imajinasi dalam kaitannya dengan inspirasi dan halusi-nasi. Sejauh mana imajinasi dipakai untuk mengungkapkan berbagai kebenaran pengalaman hidup, termasuk dalam hal ini adalah wilayah non-objektif. Yang menarik adalah mengapa Kabo kemudian tertarik pada wacana kegilaan ? Ada apa dengan seni itu sendiri? Apakah kini seni sekarang tidak bisa dipakai lagi sebagai cara berimajinasi ? Saya kira inilah poin refleksi yang menarik dari pameran tunggal kesembi-lannya saat ini.

    Kabo mengajak kita untuk menikmati suspens atas Opera Cahaya, Pin-tu, Kursi dalam bahasa estetik grotesque, kode estetik yang lahir dari the age of reason. Esai ini tidak ingin menutup seluruh potensi makna dari karya-karyanya. Oleh sebab itu, untuk terus membukanya maka kita perlu membangun pertanyaan-pertanyaan ini untuk memperpan-jang suspens: darimana dan bagaimana cahaya itu datang dan men-erangi (akal) ? Suasana atau kenyataan seperti apakah sebelum dan sesudah pintu itu ditutup? Apa atau siapa gerangan yang kemudian akan duduk dikursi itu?

    Yogyakarta, 27 Juli 2012Sudjud Dartanto, Kurator Pameran

  • ARTWORKS

  • OCPK I 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas120 x 150 cm

  • OCPK II 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas120 x 150 cm

  • OCPK III 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas120 x 150 cm

  • OCPK IV 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas120 x 150 cm

  • OCPK V 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas120 x 150 cm

  • OCPK VI 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas150 x 120 cm

  • OCPK VII 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas120 x 150 cm

  • OCPK VIII 2012Pastel, Marker, Oil and Bitumen on canvas150 x 120 cm

  • OPERA 12012Marker, Oil and Bitumen on canvas40 x 50 cm

  • 14

    OPERA 22012Marker, Oil and Bitumen on canvas40 x 50 cm

  • 15

    OPERA 32012Marker, Oil and Bitumen on canvas40 x 50 cm

  • OPERA 42012Marker, Oil and Bitumen on canvas40 x 50 cm

  • OPERA 52012Marker, Oil and Bitumen on canvas40 x 50 cm

  • OPERA 62012Marker, Oil and Bitumen on canvas50 x 40 cm

  • OPERA 72012Marker, Oil and Bitumen on canvas40 x 50 cm

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended